Young and Wild and Free Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 3

Start Young and Wild and Free Part 3 | Young and Wild and Free Part 3 Start

PAST CONTINUOUS​

POV Riko

“Tii… Diiiitttt….. Tii… Diiiitttt…..”

Sebuah suara notifikasi terdengar ditelingaku hingga membuatku terbangun dari tempat tidur. Aku segera mengambil sebuah alat komunikasi berbentuk kotak kecil yang memiliki layar untuk mengabarkan sebuah informasi. Setelah membaca info tersebut aku segera keluar kamar menuju pesawat telpon yang ada di ruang tengah. Kutelpon operator yang memberiku informasi melalui kotak kecil yang biasa disebut pager tersebut. Setelah mendapatkan berita dari operator tersebut aku segera menghubungi 2 orang anak buah kepercayaanku.

Ketika malam sudah semakin larut, aku sudah berada disebuah kafe yang menjadi tempat pertemuanku dengan orang yang mengirimkan berita melalui pager tadi. Pria berumur sekitar setengah abad sehingga rambutnya mulai menipis dan didominasi oleh warna putih. Tubuhnya masih terlihat tegap walau mulai mengendur termakan usia. Wajahnya mulai keriput namun sorot matanya masih menandakan sisa-sisa kebuasannya di masa lalu.

Kami bercengkrama cukup lama, bernostalgia sekaligus menanyakan kondisi masing-masing saat ini. Suaranya masih terdengar lantang saat berbicara, mengingatkanku pada masa lalu ketika suara tersebut bagaikan auman singa bagi lawan-lawannya.

“Jadi tujuan abang ngajakin kita kemari untuk apa?”

“Elu tahu anak angkat gue, si Bimbim?”

Aku menatap Agung yang duduk di sebelah kananku sejenak. Anak buahku tersebut memberikan tanda dengan menganggukkan kepalanya. Pandanganku kualihkan pada Mimin yang duduk sebelah kiri Pak Ali. Ia pun memberi tanda yang sama kepadaku.

“Iya, gue tahu dan gue juga udah mantau dia.”

“Gimana menurut lu?”

“Jujur gue sempet kepikiran untuk ngerekrut dia sama temen-temennya. Tapi kalo abang emang keberatan nanti gue atur agar dia nggak usah gabung.”

“Itu yang jadi keinginan gue, tapi bukan keinginan anak itu.Tadinya gue berharap bisa bener-bener keluar dari masa lalu, nggak akan bersinggungan lagi dengan dunia hitam. Tapi apa boleh buat, remaja yang gue anggap sebagai anak gue sendiri sudah menentukan jalan hidupnya sendiri. Gue titip dia ke elu, Ko.”

“Ntar gue omongin ke anak itu biar nggak usah ikutan temen-temennya.”

“Nggak usah, biar dia ngerasain sendiri jalan hidup yang dipilihnya. Gue cuma minta untuk sementara jangan diajak terlalu dalam dulu, gue pingin liat dia lulus SMA.”

“Nggak masalah kalo cuma itu. Tapi…. abang punya informasi jelas tentang asal-usulnya?”

Pak Ali memandangku dengan heran. Aku tahu dipikirannya pasti bertanya-tanya mengapa aku ingin mengetahui asal-usul anak angkatnya. Hal itu tak lazim aku lakukan saat merekrut anak buah. Namun entah mengapa keberadaan masa lalu anak tersebut yang tidak jelas membuat seperti ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku.

“Dari cerita anak itu ke gue, dia dibuang sama keluarganya dari kecil. Sempet beberapa kali pindah panti asuhan sampai akhirnya gue nemuin dia ngerusuh di warung gue. Dari penyelidikan gue sih nggak ada yang boong ceritanya, semua panti asuhan yang dia sebut udah gue cek. Ceritanya sesuai sama apa yang Bimbim ceritain ke gue. Dia dikeluarin dari panti asuhan karena jadi biang masalah.”

“Hmmm…. info yang gue terima juga sama, mudah-mudahan anak itu emang nggak jadi masalah kedepannya.”

“Bukan berarti lu terima gitu aja cerita gue, insting kitalah yang membuat kita bisa bertahan selama ini. Jangan abaikan insting lu. Biarpun Bimbim anak angkat gue, elu harus tetap cari tahu dan waspada sama anak itu.”

“Siap, bang.”

Kami terus berbincang-bincang hingga akhirnya bang Ali meninggalkan kami terlebih dahulu.

“Gung, Min, nanti waktu ketemu anak itu kita pura-pura nggak tahu apa-apa tentang dia. Selidikin terus sampai ada kepastian.”

“Paham, bang!”

**********​

POV Bimbim

Aku masih saja berdiri pada posisi yang sama sejak tadi. Bahkan ketika tubuh gadis itu tidak terlihat lagi olehku, hal itu tidak membuatku bergeser dari posisi semula. Pikiranku kembali membayangkan wajah gadis yang baru saja dikenalkan Joe. Matanya yang berbinar-binar, hidungnya yang mancung, pipinya yang merah merona secara alami serta bibirnya yang tipis dan berwarna merah alami membuatku seperti berada di dunia yang berbeda dengan sekelilingku.

Seorang gadis terlihat dengan wajah cemberut menggandengku masuk ke rumahnya. Saat itu wajahku dalam kondisi babak belur akibat berkelahi melawan 4 orang pemuda yang tadi menggodanya. Dengan masih memasang wajah cemberut ia mempersilahkanku duduk di sofa ruang tamu lalu ia menuju ke arah dapur. Tak lama kemudian ia keluar sambil membawa minuman dingin beserta makanan kecil dalam toples.

“Kenapa cemberut terus sih? Nanti cantiknya ilang loh…”

Gadis itu seperti tidak memperdulikan ucapanku, ia kembali meninggalkanku menuju ruangan lain di rumahnya. Ketika kembali lagi, kulihat ia membawa sebuah kotak putih berlogo P3K ditangannya.

“Kenapa tadi pake berantem? Bisa kan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan?” Ucap gadis itu ketika ia duduk didekatku.

“Namanya juga cowok, nggak rela lah cewek gue disuitin kaya tadi.”

“Bisa kan diajak omong baik-baik dulu…”

“Mana bisa anak-anak kaya gitu diomongin baik-baik. Mereka cuma ngerti bahasa pukul dan tendang.”

“Nggak semua anak laki-laki kelakuannya seperti kamu….”

“Ya udah, maafin gue. Jangan cemberut terus dong, elu masih tetep sayang kan sama gue meskipun gue kaya begini?”

“Harusnya aku yang nanya gitu, kamu masih sayang nggak sama aku? Mau dengerin aku nggak?”

“Iya maaf, gue ngaku salah. Tadi kelepasan.” Ucapku sambil tersenyum.

“Jelek tahu senyuman kamu…. Sini aku obatin dulu lukanya.”

“Nggak mau ah, susternya judes.”

Gadis itu merubah mimik wajahnya, walaupun masih ada guratan kekesalan namun wajahnya terlihat menggemaskan. Akupun membaringkan kepalaku di pangkuannya lalu gadis itu mulai membersihkan serta mengobati luka-luka diwajahku. Sambil mengobatiku gadis itu terus mengajakku berbicara.

“Yang jadi penghalang hubungan kita itu kelakuan kamu yang suka berantem. Kalau kelakuan kamu nggak berubah, aku susah meyakinkan papa mamaku.”

“Iya… gue akan berusaha ngendaliin emosi gue.” Ucapku sambil meringis menahan sakit akibat cairan alkohol yang mengenai bagian kulitku yang terluka.

“Kekhawatiran papa mamaku kan wajar. Mereka nggak mau anak tunggal mereka dekat-dekat dengan bahaya.”

“Tapi elu nggak akan ninggalin gue, kan? Gue sayang banget sama elu dan akan jagain elu selamanya.”

“Aku percaya kalau kamu itu anak yang baik. Aku akan seneng banget kalau suatu saat kamu bisa berubah.”

“Iya, gue akan berusaha apapun agar elu tetep dideket gue. Mungkin gue akan jauh lebih liar kalo elu jauh dari gue.”

Aku melangkahkan kakiku kembali menuju tempat tongkrongan.

”Gimana Bim, kita bisa ketempat Siska malam ini?”

“Malam ini dia ada janji. Katanya minggu depan aja karena besok dia mau ke Thailand sama bosnya.”

“Aaahh…. Emang enak kalo udah jadi bos, mau ngentot aja bisa milih-milih tempat.”

“Bener Je, kapan ya gue bisa jadi bos kaya gitu?” Sahut Sakti.

Teman-temanku terus bercengkrama satu sama lain sedangkan aku hanya sekali-sekali saja menimpali. Seharian itu pikiranku terus tertuju pada Grace. Teman-temanku pun akhirnya menyadari perubahan sikapku hari ini.

“Bim, lu kenapa sih. Abis balik dari wartel gue perhatiin elu kebanyakan bengong. Elu kesambet, ya?” Tanya Jati.

“Hu-uh, bengong terus dari tadi. Lagi ada masalah? Mikirin bayaran sekolah?” Tambah Sakti.

“Kalo gue perhatiin sih bengongnya Bimbim bukan karena lagi ada masalah, tapi lebih kaya orang jatuh cinta. Elu abis ngeliat cewek cakep tadi di wartel?” Ucap Guntur.

“Hah? Bener Bim?”

“Eh… Itu. Iya tadi gue liat cewek cantik pas lagi di wartel.”

“Cakep mana sama Siska?”

“Beda, Je. Siska itu setan, kalau yang ini bidadari. Kalo ketemu Siska bawaanya pingin ngajak ngentot, sedangkan Grace pingin gue ajak ke pelaminan.”

“Anjir, udah ngomongin pelaminan. Jadi penasaran gue kaya gimana anaknya. Eh, elu tadi nyebut namanya berarti udah kenalan dong? Ajakin kemari, kenalin sama kita-kita.”

“Itu dia masalahnya, gue di kenalin ke cewek itu sama si Joe. Mereka pacaran.”

“Bwahahahahaha……. Apes lu Bim.”

Ketiga temanku menertawaiku, mereka tahu sifatku yang tidak suka merebut cewek orang lain. Apalagi kalo cewek itu pacar temen sendiri. Aku hanya bisa tersenyum kecut ditertawai seperti itu. Selang beberapa lama kemudian aku melihat bang Agung menghampiri kami. Laki-laki berubuh kurus namun jangkung itu datang seorang diri mengendarai motor 2 tak yang terkenal sebagai motornya para penjambret.

“Siang, bang. Tumben abang ke sini siang-siang, sendirian lagi…” Sambut Jati.

“Kalian ada acara malam ini? Bisa kumpul di tempat gue ntar malam?”

Kami berempat saling berpandangan menanyakan kesanggupan masing-masing.

“Bisa, bang! Kita belum punya rencana malam ini.” Ucap Jati mewakili kami.

“Bagus! Datang jam delapan, bang Riko mau ngomong sama kalian.”

Setelah berbincang-bincang sebentar akhirnya bang Agung meninggalkan kami. Karena cuaca menjelang sore itu cukup sejuk, aku memilih untuk tidur-tiduran di salah satu bangku panjang yang kosong.

Siang itu aku sedang duduk bersama gadis itu dipinggir tempat tidurnya, suasana terasa amat canggung bagi kami. Sesekali kulirik gadis itu seolah meminta kepastian atas apa yang akan kami lakukan sementara gadis itu tampak gelisah menandakan dipikirannya sedang berkecamuk perdebatan atas langkah yang akan diambilnya. Setelah berdiam diri cukup lama akhirnya gadis itupun angkat bicara.

“Harus ya kita melakukan ini?” Tanyanya dengan suara bergetar meminta kepastian dariku.

“Kalau kamu nggak mau ngapapa kok, aku maklum.” Ucapku dengan gaya bahasa yang lain dari biasanya agar gadis itu merasa nyaman.

“Tapi kamu akan cari perempuan lain untuk melakukannya…..”

“Aku nggak bisa bohong sama kamu…… “

“Eh, kok kamu sekarang cara ngomongnya beda?” Tanya gadis itu keheranan.

“Aku kan pernah ngomong akan berusaha apapun agar kamu tetep dideketku. Aku mau agar saat ini kamu merasa nyaman. Kalau kamu memang belum mau melakukannya saat ini, kita batalin saja.”

Sejenak gadis itu terdiam, ia terlihat berfikir mencoba menyelami perasaan serta pikiranku.

“Boleh tahu alasannya kenapa harus melakukan hal itu?”

Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir kata-kata apa yang tepat diucapkan agar keinginanku bisa terlaksana. Akal jahatku membisikkan berbagai macam kata-kata indah dan bualan untuk menaklukkan gadis itu, namun disisi lain nuraniku mengingatkan agar aku tidak bertindak jauh terhadap gadis yang terlihat polos itu.

“Kamu sebagai perempuan mengalami proses mengeluarkan cairan setiap bulannya, kan? Laki-laki juga sama, harus ada cairan yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya. Istilahnya regenerasi sel.”

“Kamu bohong, kan? Guru biologiku nggak pernah bahas itu.”

“Karena di negara kita hal itu dianggap tabu. Perempuanpun sebenarnya juga harus mengeluarkan cairan itu, tapi karena kalian sudah mengalami tamu bulanan hasrat mengeluarkannya lebih terpendam dibandingkan laki-laki. Coba kamu bayangkan betapa tersiksanya seorang laki-laki harus menahan gejolak yang begitu besar tapi tidak bisa menyalurkannya.”

“Tapi apa hanya dengan cara berbuat hal itu cairan tersebut bisa keluar.”

“Berbuat hal itu? Nggak jelas ah maksudnya….” Pancingku.

“Iya itu….” Ucapnya sambil mencoba menerangkan perbuatan yang dia maksud dengan mencucuk-cucukkan telunjuknya kedalam lingkaran kecil yang dibuat jari tangan yang lainnya.

“Apa itu……? Ngentot?”

“Jorok…..” Ucap gadis itu tersipu-sipu malu.

“Memang itu namanya, kok malu-malu. Ada sih cara lain, tapi kurang menyenangkan. Kamu mau kan bikin aku senang?”

Gadis itu kembali diam, pikirannya tambah bingung dengan rayuan yang didengarnya.

“Gini deh, kita coba pelan-pelan. Nanti kalau kamu merasa nggak nyaman kamu boleh minta berhenti dan aku akan menghentikan perbuatanku.”

Gadis itu kembali menimbang-nimbang namun kali ini aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Segera saja kugeser posisiku merapat ke tubuhnya. Kugerakkan tanganku memegang dagunya lalu kukecup lembut dahinya. Gadis itu terkejut namun tidak berbuat apa-apa. Aku kembali mengulangi perbuatanku sebelumnya, kukecup dahi gadis itu untuk kedua kalinya, kali ini sedikit lebih lama dibandingkan yang pertama tapi. Gadis itu masih tetap diam tidak melakukan apapun juga, justru beberapa saat kemudian ia memejamkan matanya. Merasa mendapat lampu hijau kecupanku berpindah berturut-turut ke kelopak mata, hidung, pipi hingga akhirnya bibirku mengecup bibirnya. Dari gerakkan dadanya aku tahu jantung gadis itu berdebar-debar merasakan pertama kali bibirnya disentuh bibir seorang laki-laki.

Melihat hal itu nuraniku kembali bergejolak, menimbang-nimbang antara menuruti hawa nafsuku atau menghentikan perbuatanku. Nuraniku kalah.

Aku kembali mencium gadis itu, aku merasakan bibir gadis itu gemetaran. Wajahnya agak pucat seperti orang yang ketakutan karena ketahuan melakukan kesalahan. Aku dilanda perasaan bersalah karena menggiring seorang gadis suci ke arah yang tidak benar.

Lagi-lagi nuraniku kalah.

Tanganku bergerak memegang pinggangnya, tubuh gadis itu terasa tegang sehingga secara spontan aku mengelus-elus tubuh ramping tersebut. Perlahan kurapatkan tubuh kami, tangan kiriku bergerak ke arah punggung gadis itu sambil terus mengelus-elus tubuhnya. Ketika aku merasakan tubuhnya bisa relax, aku kembali mencium bibirnya, walau masih terasa kaku namun sudah tidak gemetaran seperti tadi.

“Boleh gue pegang toket lu?” Tanyaku yang mulai hilang kendali sehingga gaya bicaraku kembali seperti biasanya.

Gadis itu segera memegangi leganku.

“Bim, aku…..” Gadis itu menundukkan wajahnya. “Kamu nggak ngangep aku perempuan gampangan, kan?” Lanjutnya dengan suara yang serak.

“Nggak kok sayang, gue nggak pernah nganggep lu kaya gitu.” Jawabku sambil mengangkat dagunya. “Lu percaya kan sama gue?”

Walaupun terlihat ragu, namun akhirnya gadis itu memberikan jawaban lewat anggukan kepalanya, sebuah anggukan yang terlihat sangat berat ia lakukan. Tangan kananku kembali bergerak. Sambil terus mengelus-elus, tangan itu bergerak turun ke pinggang lalu kembali naik keatas. Namun kali ini sasaran tangan tersebut adalah payudara gadis itu. Saat tanganku memegang pinggiran payudara gadis itu, aku berhenti sejenak. Aku merasa nuraniku sudah berada dibagian terluar dari perasaanku. Aku sudah tidak memikirkan lagi perasaan gadis itu, pikiranku hanya memikirkan untuk segera menguasai tubuh gadis itu seutuhnya.

Tanganku kini menangkup payudara gadis itu secara penuh lalu meremasnya perlahan. Entah kenapa sepertinya gadis itu sangat menikmati remasan tanganku di payudaranya, matanya terpejam seakan meresapi sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Desahan halus pun keluar dari mulutnya.

“Sssshhhhh….. mmmmmhhhhhh…..”

Ketika mulut gadis itu sedikit terbuka saat sedang mendesah, bibirku langsung kembali mencium bibirnya. Kusapukan lidahku di seluruh permukaan bibirnya, kemudian kuemut bibir bawahnya sambil sesekali menyedotnya.

Gadis itu mulai merespon apa yang kulakukan, walau awalnya ia hanya mengikuti apa yang kulakukan namun tak perlu waktu lama untuk dia mengerti apa yang harus diperbuat. Dia membalas ciumanku, lidah kami pun bergesekkan. Secara bergantian lidah kami masuk ke rongga mulut masing-masing, saling membelit serta tarik-menarik diantara mulut kami. Bukan hanya saling berciuman saja, tangan kami pun saling meremas dan membelai tubuh pasangannya.

Setelah sekitar tiga menitan, ciuman kami pun terlepas. Aku dan gadis itu sama-sama mencari udara segar, nafas kami sedikit tersengal-sengal. Kami saling beradu pandang, seakan menceritakan kepuasan dari apa yang barusan kami alami. Mulut kami sama-sama tersenyum lebar.

“Lanjut?”

“He-eh” Jawabnya malu-malu.

Kudekati gadis itu kembali kemudian kusibak rambutnya lalu kuendusi lehernya yang jenjang. Untuk beberapa saat aku meresapi wangi tubuh gadis itu. Kucium lehernya, gadis itu kembali mendesah. Kubalikkan badannya sehingga kini dia duduk membelakangiku. Kemudian kucium bagian belakang dan bawah telinga hingga lehernya. Gadis itu seperti kegelian.

Aku mencoba memegang bagian dadanya, secara reflek gadis itu menampik tanganku tersebut namun kemudian wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Aku coba lagi, tangannya diangkat untuk menahan tanganku namun belum sampai hal itu terjadi, gadis itu mengurungkan niatnya. Perlahan kuremasi payudaranya dari bagian luar kaosnya.

Tidak kusangka tiba-tiba gadis itu menciumku lebih dulu, kemudian dia menghisap bagian bawah bibirku. Kurespon ciumannya dengan gantian melumat bibirnya. Cukup lama kami berciuman hingga secara tanpa disadari nafsu kami sudah semakin naik. Tanganku bergerak untuk melucuti kaos warna jingga bergambar Pooh yang dikenakannya. Gadis itu kembali memegangi tanganku, namun kali ini dia bukan bermaksud menghalangi.

Kucampakkan kaos yang berhasil kulolosi dari tubuhnya ke lantai, selanjutnya kuangkat bra jingga yang dipakainya hingga kini dapat kulihat langsung payudara dengan puting berwarna coklat muda kemerahan. Kulitnya luar biasa mulus. Sejenak aku terkesima melihat payudara gadis itu.

“Bagus banget toket lu.” Secara spontan aku memuji bentuk payudara gadis itu.

“Kamu suka?” Tanyanya malu-malu sambil berusaha menutupinya namun segera kucegah.

“Iya, gue suka liatnya. Pas, nggak kegedean juga nggak kekecilan.”

Seketika kubaringkan tubuh gadis itu lalu kuraba kedua payudara tersebut, tubuhnya terlihat menggeliat. Langsung saja kuremas kedua payudara tersebut dengan lembut sambil kembali kucium bibirnya. Gadis itu mendesah diantara ciuman kami, dia sudah tidak lagi berusaha menahan desahan yang keluar dari mulutnya. Kumainkan jari-jariku di putingnya. Selanjutnya ciumanku bergerak turun keleher sampai akhirnya tiba di payudaranya. Payudara gadis itu kujilat dan kuhisapi. Sementara itu tangannya kini meremasi rambutku, dari mulutnya terus keluar suara desahan.

“Uuuuhhhhh………. Ooooooohhhhhh……….”

Tanganku perlahan bergerak kebawah, menyususur dari perut hingga masuk ke dalam roknya.

“Jangan…. Aku nggak mau.” Ucapnya tanpa berusaha menahanku.

“Santai aja, nanti elu bisa nikmatin kok.”

Aku meneruskan menggerakkan tanganku. Ketika akhirnya tanganku meraba vagina dari luar celana dalamnya, kuhentikan sejenak aksiku sambil menahan nafas sejenak. Kususupkan tanganku masuk celana dalamnya lalu segera ku gesek-gesekkan jariku ke bibir vaginanya, hal itu membuat gadis itu merem melek. Sesaat kemudian vaginanya sudah terasa basah, aku langsung memberanikan diri menurunkan rok serta celana dalam yang dipakainya. Kembali kugesekkan jariku pada bagian vaginanya. Desahan dari mulutnya semakin jelas kudengar seirama dengan gerakan jariku yang mengesek vaginanya, nafasnya mulai tersengal-sengal. Remasan tangannya di rambutku semakin kencang.

Kuperhatikan sejenak wajah gadis itu, ekspresinya begitu menggairahkan, membuat penisku terasa semakin tegang hingga celana dalamku terasa sesak.

“Bim, kayanya itu-nya nyundul-nyundul.”

“Itu? Yang jelas ah ngomongnya.”

“Itu yang dibawah.”

“Yang dibawah? Ooohhh, maaf ya dengkul gue nyundul elu. Sakit?”

“Bukan dengkul, tapi itu….. ade kamu nakal.”

“Ade? Sejak kapan gue punya ade?”

“Iiihhh, jahat…” Rajuk gadis itu yang tahu aku sedang mengerjainya.

Penisku semakin tegang melihat wajahnya yang sedang terangsang yang kini sedang merajuk manja khas gadis remaja.

“Itu-tuh yang lagi nyoba berdiri.” Ucap gadis itu malu-malu sambil menunjuk daerah selangkanganku.

“Itu namanya kontol, jangan panggil itu-itu lagi.”

“Jorok kamu….”

“Loh emang itu namanya, hehehehe… Mau nyoba pegang?”

“Eh, mmmm……”

Gadis itu seperti ingin menjawab tawaranku tapi malu. Dia hanya menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya, mukanya memerah. Menahan malu sekaligus nafsu. Dengan cepat kubuka pengait celanaku lalu berturut-turut menurunkan resleting kemudian celana dalamku hingga penisku menyembul keluar. Gadis itu terperangah melihat ukuran penisku yang besar. Tanpa menunggu gadis itu tersadar dari keterkejutannya, tanganku langsung membimbing tangannya agar menggenggam penisku. Kurasakan tangannya yang halus tersebut agak gemetar. Kembali kubimbing tangan gadis itu untuk mengocok penisku. Ketika kurasa tangannya sudah bergerak sendiri mengocoki penisku, tanganku kembali mengerayangi selangkangan gadis itu. Sementara itu tangaanku yang lain bergantian dengan mulutku bermain-main di payudaranya. Ku kulum sambil kujilat puting sebelah kanannya, sedangkan payudara kirinya kuremas sambil sesekali memilin putingnya. Lalu bergantian.

“Ngggghh….. Aaaahh….. Iiyaaaahh….. teruussshh…” Gadis itu mulai meracau, menandakan dirinya sudah amat terangsang.

Kumainkan lidahku di putingnya dengan liar, remasanku di payudaranya semakin kasar, gesekkan jariku di vaginanya semakin intens. Merasakan hal tersebut gadis itu semakin kelojotan. Tangannya kini sudah tidak lagi mengocoki penisku namun sekarang mencengkram lenganku.

“Aaaahh… Ada… yang… mau… uuhh… keluaaarrr!” Racau gadis itu putus-putus, nafasnya terdengar tidak beraturan.

“Iya, keluarin aja nggapapa.”

Sesaat kemudian tubuhnya menggeliat lalu menegang. Cengkeraman tangan gadis itu pada lenganku semakin kuat, bahkan kuku-kukunya menancap di kulit tubuhku sehingga melukai tanganku.

“A-apa itu?” Tanyanya setelah gelombang orgasmenya berlalu, nafasnya masih terlihat tersengal-sengal.

“Itu yang namanya orgasme. Gimana rasanya?” Aku balik bertanya.

“Enak… Enak banget, nggak bisa dijelasin dengan kata-kata…”

“Kalo gitu kita lanjut lagi ya. Emmm….. Elu mau coba ngemut kontol gue?”

“Nggak ah jijik. Gimana kalo aku kocokin lagi aja?”

Aku berbaring disebelahnya, gadis itu memiringkan tubuhnya lalu mulai mengelus penisku dimulai dari kepala hingga pangkal batangnya. Selanjutnya gadis itu mulai mengocok penisku. Aku tidak tahu bahkan tidak mau tahu darimana dia belajar mengocok penis, yang jelas aku sangat menikmati kocokannya. Tidak hanya mengocok, aku merasakan tangan halusnya meremas lembut bahkan mengurut batang penisku. Ku rengkuh kepala gadis itu mendekati wajahku lalu kembali menciumnya sambil tanganku yang satunya meremas-remas payudara gadis itu. Setelah cukup lama kami bercumbu dengan posisi seperti itu, aku merasakan penisku mulai menegang sempurna, didalamnya seperti ada aliran yang ingin menyembur keluar. Segera kuhentikan kocokan tangannya pada penisku, dengan cepat aku melepaskan rok dan celana dalamnya yang masih menggantung dilututnya. Saat aku hendak melepaskan celanaku yang juga masih menggantung di pahaku, gadis itu tersadar akan apa yang akan ku lakukan.

“Mau ngapain kamu, Bim? Hiiks…”

“Loh kok nangis?”

“Aku takut, Bim. Hiiks… Jangan diterusin, ya? Hiiks…”

Ku tatap wajah polos gadis itu, perlahan hati nuraniku muncul kembali melihatnya seperti itu. Aku terdiam untuk jangka waktu yang cukup lama.

“Kamu… Kamu marah ya sama aku, Hiiks…”

“Nggak… Gue kan udah janji nggak akan maksa elu.”

“Tapi kan…”

“Ssssst….. Gue nggapapa, udah jangan nangis lagi.” Ucapku sambil menghapus butiran air matanya yang menggenangi kedua bola matanya yang indah.

Gadis itu menatapku. Seperti mengetahui apa yang ku rasakan sesungguhnya, tanpa banyak bicara gadis itu kembali mengokocokan penisku, semakin lama semakin cepat. Aku kembali merasakan sensasi kenikmatan yang tadi terputus. Akhirnya gelombang itu datang juga, penisku menyemprotkan sperma dengan hebat. Belum pernah aku merasakan sensasi senikmat ini saat hanya menerima hand job.

“Terima kasih sayang.” Ucapku sambil mengecup keningnya.

Gadis itu tersenyum, kemudian ia mengambil tissue lalu membersihkan penisku serta tubuhnya yang terkena muncratan spermaku. Setelah gadis itu selesai membersihkan muncratan spermaku, aku bangun lalu memakai kembali celanaku.

Sebelum aku meninggalkannya, kami sempat berciuman sebentar. Entahlah, namun ciuman kali ini kurasakan tanpa adanya nafsu. Ciuman kali ini terasa sebagai penanda aku baru saja mengalami momen-momen yang tak terlupakan.

Malam harinya kami sudah berada di tempat yang dimaksud bang Agung, sebuah sasana tinju yang dikelola oleh keluarganya bang Agung. Kami sempat mengobrol sambil menanti kedatangan bang Riko. Dari obrolan tersebut aku memperoleh informasi bahwa tempat ini adalah salah satu tempat berkumpulnya anak buah bang Riko untuk berlatih sekaligus sebagai gudang senjata kelompoknya. Tak berapa lama kemudian bang Riko tiba ditemani Mimin.

“Kalian masih sekolah, jadi gue emang sengaja belum ngasih banyak tugas. Tapi kali ini gue mau tahu sejauh mana kalian bisa nyelesaiin tugas lapangan. Kasih pelajaran sama orang ini.” Ucap bang Riko sambil memperlihatkan seorang laki-laki keturunan berusia sekitar 40-an dengan kumis tipis menghiasi wajahnya yang berlemak.

Kami mengamati foto tersebut dengan seksama.

“Dia bikin masalah apa sama kita bang?” Tanya Jati penasaran.

Bang Riko tidak segera menjawab pertanyaan Jati, justru matanya dengan tajam menatap temanku itu seolah berbicara ketidaksukaannya atas apa yang dilakukan Jati barusan. Menyadari dirinya ditatap seperti itu, Jati segera mengarahkan pandangannya kebawah namun tidak sedikitpun ia menundukkan kepalanya.

“Kalian masih baru disini, lakukan apa yang gue suruh! Jangan banyak nanya!” Bentak bang Riko dengan nada geram.

Untuk meredakan suasana bang Agung menuangkan bir dalam gelas bang Riko yang hampir kosong. Laki-laki dengan tinggi sedang namun tegap itu menerima gelas yang diberikan anak buahnya lalu meneguk isinya hingga separuh gelas.

“Kalian selidiki dulu kebiasaannya lalu tentukan lokasi dan waktu eksekusinya, jangan lebih dari seminggu. Jangan sampai ada saksi! Paham?!”

“Paham bang!” Ucap kami berempat kompak.

Setelah mendengar jawaban kami bang Riko menghabiskan minuman dalam gelas yang masih dipegangnya lalu pergi meninggalkan kami. Dibawah pengarahan bang Agung kami mulai mendiskusikan langkah apa yang akan kami lakukan. Setelah mematangkan rencana yang kami susun, kami segera meninggalkan tempat tersebut.

Ditengah perjalanan, kami menyempatkan diri untuk mampir di sebuah toko swalayan. Saat sedang memilih-milih barang mataku tertuju pada satu kotak permen.

Seorang gadis berjalan kearahku sambil tersenyum, dtangannya terdapat sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi. Saat kami sudah berhadapan, diulurkannya kotak tersebut padaku.

“Apa ini?”

“Lihat saja sendiri.”

Kubuka bungkus kotak tersebut, ternyata gadis itu menghadiahkanku sekotak permen karet. Aku memandang gadis itu dengan heran. Seolah mengetahui pertanyaan yang timbul di otakku, gadis itu tersenyum lalu menjelaskan maksudnya.

“Mulut kamu bau karena keseringan ngerokok, itu untuk bantu kamu ngurangin rokok.”

“Dulu nggak pernah protes.”

“Dulu kan nggak pernah cium-cium, sekarang …..” Ucapnya sambil menunjukkan mimik yang menggemaskan.

“Sekarang kenapa? Ketagihan? Sini abang cium….”

“Nggak mau, bau rokok!”

Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Kuambil kotak permen karet yang sejak tadi kuperhatikan lalu lanjut mencari barang lainnya yang akan kubeli.

**********​

3rd POV

Seorang laki-laki keturunan dengan wajah berlemak keluar dari sebuah klub malam. Langkahnya diikuti oleh 2 orang pengawalnya yang selalu setia menemaninya. Setelah cukup lama ditempat itu namun mobil yang seharusnya menjemputnya belum juga datang laki-laki berusia sekitar 40-an itu mulai jengkel.

“Don, cari tahu kenapa Tono belum juga kesini.”

Salah satu pengawalnya yang tadi namanya disebut segera menuju ke petugas parkir untuk bertanya apa yang terjadi. Kedua orang itu terlihat berbincang dengan serius. Setelah memperoleh informasi yang lengkap, pengawal tersebut kembali ke tempat bosnya lalu menceritakan apa yang terjadi.

“Ada mobil pecah ban yang menghalangi kendaraan yang menuju ke arah sini. Ada alternatif lain tapi bos harus jalan dulu kesana.” Ucap pengawal tersebut sambil menunjuk ke suatu lokasi penjemputan yang agak jauh dan terlihat remang.

“Ya udah lu susulin si Tono, suruh dia jemput gue disitu.”

Pengawal itupun segera menuju tempat mobil penjemput bosnya terjebak kemacetan, sementara itu si boss terpaksa berjalan ke lokasi penjemputan yang tadi ditujuk oleh pengawalnya. Kini ia hanya ditemani oleh seorang pengawalnya yang tersisa.

Saat memasuki sebuah lokasi yang gelap tiba-tiba saja muncul 4 orang laki-laki mengenakan hood panjang. Wajah mereka ditutupi masker bandana sedangkan bagian mata mereka memakai goggle motor. Keempat orang tersebut langsung menghajar mereka tanpa jeda. Si bos dan pengawalnya yang tersisa tidak sempat memberikan perlawanan, bahkan untuk berteriak minta pertolongan pun tak sempat. Keduanya menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan keempat laki-laki berpakaian hood panjang tersebut. Kepala kedua orang itu mulai mengucurkan darah segar, wajahnya babak belur, tubuh mereka terasa remuk.

Ketika si bos terlihat hampir pingsan, keempat orang penyerangnya menghentikan serangan padanya. Seorang berjongkok dekat wajah si boss sedangkan 3 orang lainnya terus menghajar si pengawal kedua tanpa ampun.

“Salam dari Riko….” Bisik laki-laki yang berjongkok di telingga si Boss dengan jelas.

Kemudian laki-laki itu bangun dan memberi kode pada yang lainnya untuk meninggalkan tempat itu. Dengan cepat keempat laki-laki berpakaian hood panjang itu menghilang dari tempat itu. Kedatangan pengawal pertama serta supir untuk menjemput si boss di lokasi tersebut sudah terlambat. Bayangan para penyerang bosnya sudah tidak kelihatan, sedangkan kondisi bos serta rekannya sudah sangat kritis.

BERSAMBUNG​

END – Young and Wild and Free Part 3 | Young and Wild and Free Part 3 – END

(Young and Wild and Free Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 4)