Young and Wild and Free Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 22

Start Young and Wild and Free Part 22 | Young and Wild and Free Part 22 Start

APA YANG LU LAKUIN ITU JAHAT…​

Setelah selesai makan malam Wijaya dan Bram menuju ruang tengah, sedangkan para wanita secara gotong royong membereskan sisa-sisa makan malam tadi. Kedua pria itu ngobrol santai sampai akhirnya para wanita di rumah itu ikut bergabung setelah selesai membereskan pekerjaan dapur.

“Loh kalian nggak belajar?”

“Sekali-sekali ikut ngobrol boleh dong pa.” Jawab Wanda.

“Memangnya nggak ada tugas dari sekolah?”

“Tadi siang sudah selesai kita kerjain kok.” Kali ini Windi yang menjawab pertanyaan ayahnya.

“Hmmmm… ya sudah kalau begitu, kebetulan papa juga mau ngomongin sesuatu yang sepertinya perlu tanggapan dari kalian juga.”

“Mau ngomongin apa Pa?”

“Papa punya rencana untuk mengembalikan usaha mebel kepada Bram, karena dia yang lebih layak meneruskan usaha ayahnya. Tapi nggak mungkin papa balikin dalam kondisi usaha yang sedang hancur seperti sekarang ini. Jadi papa berencana mau jual rumah ini untuk nambah modal, kita akan pindah le rumah baru yang tentunya lebih kecil dari rumah ini.”

Ada raut kesedihan di wajah anak-anak Wijaya.

“Apa nggak ada cara lain pa?” Sahut Wanda yang sepertinya berat untuk meninggalkan rumah yang sudah ia huni sejak lahir.

“Kita butuh dana yang besar, papa nggak tahu mau pinjem kemana lagi. Urusan papa sama Maikel juga belum selesai sepenuhnya. Walaupun papa mendengar kalau orang itu sudah meninggal, tapi sewaktu-waktu kerabat orang itu akan muncul. Papa harus melunasi hutangnya. Nilai usaha mebel ditambah uang simpanan papa cukup untuk membayar hutang itu beserta bunganya, tapi itu berarti papa nggak bisa balikin usaha itu ke Bram.”

“Om nggak usah mikirin balikin usaha mebel itu ke Bram. Ayah sudah menyerahkan sepenuhnya usaha itu ke om.”

“Tapi kan usaha itu dirintis ayahmu dari awal, dikasih ke om karena ada niatan kami mau besanan. Tapi bukannya jadi besan, om malah jadi penyebab kematian ayahmu.”

“Kan tadi Bram udah ngomong kalau ayah sudah ikhlas, jadi om nggak usah pusing mikirin balikin usaha itu. Lagipula ayah juga sudah warisin usaha lainnya ke Bram.”

“Usaha pergudangan deket stasiun tua maksud kamu… Gimana perkembangannya sekarang? Siapa yang bantuin kamu?”

“Bagus om usahanya, setelah ayah nggak ada mas Budi yang ngelola usaha itu. Sampai sekarang masih dia yang ngelola sambil aku belajar menggantikannya. Nanti diserahin ke aku semua setelah aku bener-bener bisa ngelola sendiri…”

“Budi yang polisi itu… Jadi selama ini dia yang nyembunyiin kamu.”

“Bukan nyembunyiin sih, tapi emang dia banyak bantuin aku sampai sekarang.”

“Oooo begitu….”

“Kalo menurut Windi daripada papa balikin usaha mebel ke kak Bram karena merasa nggak layak nerimanya, gimana kalo kita buat papa layak nerima usaha itu.”

“Maksud kamu Win?”

“Kan papa tadi cerita kalo usaha itu dikasih buat besannya om Glen, kenapa papa nggak mewujudkannya.” Jawab Windi sambil melirik ke arah Ela.

“Hahahahaha…. Makaud kamu papa harus nikahin kakakmu Ela sama Bram. Kalau papa sih setuju, tapi terserah mereka berdua… Hahahaha…”

Bram dan Ela kompak melongo mendengar pembicaraan itu. Sementara si kembar tampak kegirangan usulnya didukung oleh samg ayah.

“Mama juga setuju usul itu, tapi nggak sekarang juga nikahnya. Biar Ela nyelesaiin dulu sekolahnya sampai lulus perguruan tinggi. Bram juga belajar bisnis dulu yang bener kalau perlu ikut kuliah juga. Setelah itu baru kalian nikah.”

“Bener kata mamamu. La, kalau kamu setuju kayanya lebih baik kamu nggak usah kerja sambilan lagi. Mending serius belajar sambil sesekali bantuin usaha calon suamimu.” Tambah Wijaya.

Ela semakin melongo mendengar ucapan kedua orang tuanya, sementara Bram hanya garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.

“Diajak ngomong kok malah cuma bengong sih kak.” Windi kembali usil menggoda kakaknya.

“Eh iya…. Eh bukan…. Anu, itu, maksudnya boleh nggak Ela mikir-mikir dulu.”

“Mikirin apa lagi sih Kak, daripada mikirin cowok yang nggak bales cintanya kakak mending nerima tawaran dari papa.”

Tiba-tiba raut wajah suami istri Wijaya dan Mala berubah. Tetlihat guratan kecewa diwajah keduanya.

“Kamu masih mikirin Joe? Atau bahkan kamu masih berhubungan dengan dia?”

Ela hanya terdiam mendengar pertanyaan ayahnya.

“Sepertinya om Wi sama mama Mala harus jelasin ke Ela alasan kalian melarang dia untuk berhubungan dengan Joe. Jangan salahin Ela kalau diam-diam dia masih berhubungan dengan laki-laki itu, karena dia nggak tahu alasan kalian melarangnya. Mungkin setelah jelas situasinya Ela lebih bisa bersikap.”

“Baiklah, sepertinya usul Bram masuk akal juga…. La, mungkin Joe memang anak baik seperti yang kamu anggap tapi biar bagaimanapun juga dia anak dari Pranoto, dia orang yang sama dengan Pranoto dalam cerita ayah tadi. Selain itu dia juga yang menyebabkan kondisi keluarga kita seperti sekarang ini. Walaupun tidak secara terang-terangan, tapi ayah sudah tahu bahwa dialah dalangnya.

Kamu bayangkan apakah mungkin papa dan mama berbesan dengan orang seperti itu.”

Ela tertunduk mendengar penjelasan ayahnya. Ia merasa tertekan karena kini harapan untuk bisa bersama Joe sudah tertutup, kedua orang tuanya tidak mungkin merestui hubungan tersebut.

“Mama harap hubungan-mu dengan Joe belum terlalu jauh…”

“Wan… Win… Kayanya kalian sudah waktunya harus belajar, masuk kamar gih.” Potong Bram sebelum Mala bicara lebih banyak.

Walau sedikit kecewa kedua gadis itu menuruti anjuran Bram, mereka tahu obrolan ini sudah masuk dalam tahap konsumsi orang dewasa sehingga keduanya harus tahu diri untuk menyingkir. Setelah kedua gadis itu masuk ke dalam kamar mereka, pembicaraan itu dilanjutkan kembali. Kali ini Bram yang mulai berbicara.

“Aku harap om dan mama tidak memarahi Ela untuk apa yang akan aku jelaskan.”

Setelah mendapatkan persetujuan dari sepasang suami istri itu Bram mulai bercerita semua yang tadi siang diceritakan Ela padanya. Ada raut kecewa terlihat dari wajah kedua orang tua tersebut.

“Maafin Ela pa… ma…”

“Mama yang salah La, karena nggak berhasil mendidik kalian….”

“Kalau mau salah-salahan, seharusnya papa yang paling merasa bersalah karena tidak bisa melindungi kalian dengan benar. Tapi sekarang bukan waktunya untuk kita merasa paling bersalah, yang paling penting gimana kita memperbaiki keadaan keluarga ini.”

“Mama setuju, apalagi sekarang ada anggota keluarga baru.” Ucap Mala yang kata-katanya merujuk pada Bram.

“Oiya Bram, apa rencana kamu selanjutnya…”

“Sepertinya besok aku bisa pergi…”

“Loh mama kira kamu akan tinggal lebih lama disini.”

“Semakin lama aku disini akan semakin membahayakan keluarga ini. Cepat atau lambat, orang-orang yang mengeroyokku akan menemukanku. Tapi aku akan tetap mengawasi dan sesekali menjumpai kalian.”

Mereka terus berbincang hingga tidak terasa hampir larut malam. Selanjutnya keempat orang itu pergi ke kamar masing-masing. Akan tetapi pikiran Ela masih bimbang. Di satu sisi ia sangat mencintai Joe dan bertekad akan melakukan segala cara untuk dapat bersama pemuda itu, namun disisi lainnya ia sadar hal itu akan menambah kekecewaan kedua orang tuanya terhadap dirinya. Ela memilih kembali keluar kamar untuk dapat menenangkan diri, ia berjalan menuju dapur lalu mengambil semangkuk ice cream dari kulkas kemudian menuju meja makan.

Secara perlahan Ela menyuap ice cream kedalam mulutnya, gadis itu masih saja terus memikirkan pembicaraan tadi malam.

“Makan ice cream malam-malam nggak takut gendut lu… “

Ela menoleh kearah datangnya suara.

“Elu nggak bisa tidur juga?”

“Kebiasaan, kalo jam segini gue biasa patroli ngecek kondisi rumah.”

“Oooo….. “

“Keliatannya lu suntuk banget, masih mikirin obrolan tadi? Segitu cintanya lu sama Joe, sampai susah bener lupain dia.”

“Huuuufftt…..” Ela menghela nafas membuang beban pikiran yang sedang memenuhi otaknya.

Bram berjalan menuju meja makan lalu duduk disebrang posisi duduk Ela.

“Gue mau ngomongin sesuatu, mungkin bisa bantu elu buat keputusan….. Dulu gue pernah nyelidikin Joe, walau saat itu gue belum ngenalin elu tapi gue tahu elu salah satu ceweknya Joe.”

“Ngapain lu nyelidikin Joe?”

“Yang mau gue omongin ini emang sengaja nggak gue sampein tadi, biar elu aja yang tahu. Kalo lu emang segitu besar mencintai Joe, gue akan dukung lu. Tapi elu mesti tahu dulu seperti apa sebenernya kelakuan dia…..”

“Lu serius mau bantuin nyatuin gue sama Joe!?” Potong Ela dengan perasaan girang.

“Makanya dengerin dulu omongan gue…. Elu masih inget temen-temen masa kecil kita?”

“Sedikit samar… Yang gue inget kita dulu berlima. Elu, gue, Bima, Nathan, Grace… eh Grace, kenapa tiba-tiba gue keinget sama sahabat deket gue yang sekarang.”

“Karena emang orang yang sama…”

“Kok bisa tahu, elu udah nyelidikin temen-temen kecil lu? Tapi tadi sore bukannya elu bilang baru inget sama gue setelah liat foto keluarga di kamar?”

“Nggak inget bukan berarti nggak pernah liat lu sebelumnya, kan? OK gue terusin cerita gue biar lu jelas. Lu masih inget satu persatu temen-temen kita pergi gitu aja. Itu semua ada sangkut pautnya sama bokap gue. Orang tua kita berada dalam satu ‘keluarga besar’.

Bima diculik sama bokap gue setelah kedua orang tuanya meninggal, maksudnya untuk nyelamatin dia karena saat itu ada konflik besar dalam ‘keluarga besar’. Bokap gue sering memindahkan Bima dari satu tempat ke tempat lainnya bahkan beberapa kali merubah namanya. Terakhir sebelum bokap gue meninggal nama anak itu menjadi Abimanyu Pramoedya Putra, elu mengenalnya sebagai bimbim. Gue nggak pernah nyelidikin elu sama Grace secara langsung, tapi karena dalam wasiat bokap gue disuruh untuk jagain bimbim maka sedikit banyak gue tahu orang-orang yang bersinggungan sama dia.”

“Tapi itu belum jawab pertanyaan gue, kenapa lu bisa tahu kalo Grace itu temen kecil lu, tapi elu masih belum inget kalo gue juga temen kecil lu.”

“Karena gue nggak nyelidikin lu lebih jauh. Yang gue tahu elu itu temen deket Grace di kota ini, sedangkan Grace bukan prioritas gue.”

“Di kota ini? Berarti lu sudah lama tahu Grace.”

“Tepat. Untuk memenuhi wasiat bokap, dulu gue pernah sangat deket sama Bimbim, otomatis gue juga deket sama Grace. Sayang karena emosi secara nggak sengaja gue dorong Grace sampai jatuh yang menyebabkan dia mengalami amnesia.”

“Jadi Grace sama Bimbim dulu pernah deket? Mereka sempet pacaran?”

“Hehehehe…… Elu keliatan girang bener dengernya, kayanya elu udah punya rencana.”

Ela hanya tersenyum mendengar ucapan Bram. Ia membenarkan ucapan Bram, cerita Bram barusan seakan membuka sedikit celah dari pintu yang seakan sudah tertutup. Masih ada harapan buatnya untuk mendapatkan Joe yaitu dengan menyatukan kembali Bimbim dan Grace.

“Terus lanjutin cerita lu… ” Ucap Ela bersemangat.

“Cerita tentang Bimbim sama Grace kayanya sampai situ aja. Sekarang tentang Nathan. Elu masih inget nama lengkap dia?”

Ela coba mengingat sejenak lalu menyebut nama itu.

“Jo… Nathan!!!” Seru Ela seolah tak percaya.

“Yup Jonathan… Hanya kebetulan? Gue rasa bukan, feeling gue bilang dia emang milih sendiri nama panggilan itu. Kenapa? Karna itu mengingatkan akan masa lalunya, ada yang spesial pada masa lalunya lebih tepatnya seseorang yang spesial.”

“Maksud lu….?”

“Buat sebagian orang cinta pada saat kanak-kanak adalah cinta monyet, tapi tidak buat sebagian orang lainnya. Karena itu adalah cinta pertama mereka, first love never dies. Inget kalo dulu Nathan lebih seneng kalo ada deket lu.”

“Itu kan karna cuma gue yang belain dia waktu kalian ngata-ngatain dia anak pungut, walaupun pada kenyataannya dia memang anak pungut dari orang tua Bima. “

“Mungkin saja, tapi yang jelas dia udah nganggep lu spesial dari dulu….. Karna lu udah nyinggung masalah anak pungut gue lanjutin dulu cerita gue. Nathan sebenernya sama seperti Bima, dia anak yang diculik sama bokap gue. Bedanya Nathan diculik untuk misahin dia dari orang tuanya. Sebenernya Nathan adalah anak dari musuh organisasi orang tua kita. Tapi karena makin besar wajahnya dan tingkahnya makin mirip sama ayah biologisnya, maka suatu hari sang ayah balik menculik anaknya lalu dia sembunyikan ke luar negri. Namanyapun diganti jadi Joko Unggul Pranoto, sesuai sama keinginan ayah biologisnya.”

“Jadi maksud lu Joe punya perasaan spesial ke gue dan sebenernya dia nggak pernah ngelupain gue.”

“Sepertinya gitu, itu salah satu alesan gue mau bantuin lu dapetin Joe. Karena pada kenyataannya kalian berdua sudah saling menyukai sejak kecil.”

“Tapi kenapa sekarang Joe justru berusaha ngelupain gue dan takut kehilangan Grace. “

“Itu kuncinya, dia takut kehilangan Grace bukan nggak mau kehilangan gadis itu. Karena itu adalah misinya kembali ke negri ini. Makanya dia berusaha ngelupain elu, tapi sepertinya gagal.

Ayah Grace adalah salah satu pengacara dari kakeknya Bima. Dan sampai saat ini dia banyak mengetahui aset-aset keluarga yang masih disembunyiin. Yang tahu masalah ini cuma 5 orang, kakek dan ayahnya Bimbim, bokap gue, bokapnya Grace dan seorang lagi pengacara keluarga. Bahkan pimpinan organisasi yang sekarang pun,walau berstatus sebagai pamannya Bimbim nggak tahu akan hal ini. Sayangnya ternyata si pengacara yang lain adalah kaki tangan dari Pranoto.

Singkatnya Pranoto pingin menguasai harta itu dengan cara menjalin hubungan dengan orangtua Grace, tapi tentu aja dia punya rencana cadangan jika ayah Grace tidak mau memberikan informasi tentang harta itu. Kemungkinan Grace akan dijadikan sandera oleh mereka.”

“Jadi Joe sebenernya nggak mencintai Grace?”

“Awalnya…. Nggak tahu kalo sekarang, tapi kalo keinginan untuk bisa menaklukkan Grace pasti ada. “

“Kalau memang mereka mau berbuat jahat pada keluarga Grace kenapa perlu mengulur waktu? “

“Nggak seperti keluarga besar Bimbim yang terang-terangan menjalakan organisasi hitam, Pranoto memilih jalur lain. Dia punya julukan “Black Hand Gentleman”, dia menjalankan organisasinya secara halus, menghindari kekerasan di muka umum. Mungkin cuma saat membunuh ayah gue aja dia ikut turun tangan langsung karena dianggap sebagai musuh terbesarnya.

Sama seperti ayahnya, Joe pun melakukan hal yang sama. Dia bertindak seolah adalah pangeran idaman walau sebenernya adalah seorang bajingan. Coba lu pikir dulu waktu kalian masih satu sekolah siapa bajingan paling disegani? Farid bukan. Apakah Farid pernah gangguin lu sama Grace seperti dia gangguin cewek-cewek yang lain di sekolah. Kenapa dia nggak pernah ngelakuin itu? Takut sama Joe? Kenapa musti takut lawan seorang Joe padahal Farid punya banyak pengikut. Lu pasti udah bisa jawab sendiri pertayaan itu.

Ini alasan kedua gue dukung elu jadian sama Joe. Gue berharap elu bisa balikin Joe seperti dulu lagi. Kayanya cuma elu yang bisa ngelunakin hatinya.”

**********​

Sore hari di tempat berbeda di hari yang sama,

“Jujur sama gue Gun, sebenernya lu dulu tahu kan kalo sebenernya Bram ngincer Pak Ali.”

“Maapin gue Bim… Ketika seorang raja merebut singgasana untuk naik tahta, maka akan ada prajurit yang dikorbankan.”

“TA* retorika lu. Apa yang lu lakuin itu jahat, suatu hari lu akan nanggung akibatnya.”

“Udah Bim, yang udah lewat nggak usah diributin.”

“Lu bisa ngomong gitu karena Pak Ali bukan ayah angkat lu, Je. Biar gimana juga dia orang yang pernah sangat merhatiin gue.”

“Sekali lagi gue minta maaf Bim, sebagai temen nggak seharusnya gue bertindak gitu, tapi gue juga seorang prajurit yang harus ngikutin perintah atasan.”

“Berarti lu lebih respek ke atasan lu daripada loyal ke temen lu sendiri. Pantes lah lu jadi an**ng karena jago ngejilat.”

Panas hati Guntur mendengar ucapan Bimbim, tapi dia berusaha meredamnya karena ia tahu saat ini Bimbim sedang emosi dengan apa yang dihadapinya.

“Kalo sampe terjadi apa-apa sama Siska, elu yang gue mampusin duluan!”

“Santai Bim, kita nyari kopi dulu sekarang sambil ngerokok. Dari tadi kita cuma dapet air putih di tempatnya Guntur.” Ucap Jati coba meredakan suasana.

Mereka bertiga akhirnya jalan keluar menuju warung kopi terdekat. Setibanya di warung kopi mereka berbincang-bincang ringan sehingga ketegangan yang terjadi diantara Bimbim dan Guntur mencair.

“Yang masih jadi pikiran gue kenapa lu dulu cerita kalau Siska selama ini dilindungi sama keluarganya. Siapa mereka Gun?”

Perasaan Guntur kembali gelisah karena topik pembicaraan kembali mengenai Siska, sejenak matanya melirik ke arah Bimbim. Sepertinya pemuda itu masih tetap santai.

“Itu kan bisa-bisanya Guntur aja ngarang, yang jagain Siska ya anak buahnya Budi, merekalah keluarga Siska saat ini.” Jawab Bimbim.

“Oiya Bim, bukannya lu ada janjian ketemu sama Siska malam ini?” Guntur berusaha mengalihkan pembicaraan karena khawatir emosi Bimbim tersulut lagi.

“Bentar lagi, nunggu gelap.”

“Masih perlu gue temenin?”

“Nggak usah, gue masih marah sama elu.”

Guntur cemas mendengar jawaban tersebut. Dari raut wajahnya Bimbim terlihat tenang, namun ternyata dari tadi emosi Bimbim belum surut. Berarti ia harus terus waspada bila berada di dekat pemuda tersebut, karena sewaktu-waktu Bimbim bisa saja langsung menyerangnya.

Mereka tetap di warung itu hingga hari berubah menjadi gelap. Mereka pun berpisah ke tujuan masing-masing.

Sesampainya di rumah pertemuannya dengan Siska, Bimbim langsung disambut oleh gadis itu. Sejenak mereka bercumbu melepas rindu. Siska merasa ada ketegangan dalam diri kekasihnya tersebut.

“Ada apa Bim? Malem ini kayanya kamu tegang banget.”

Bimbim lalu menceritakan apa yang terjadi tadi siang, Siska mendengarkan seluruh cerita Bimbim dengan seksama. Gadis itu mengerti kegelisahan pemuda yang duduk di sebelahnya itu. Dipeluknya Bimbim sambil kepalanya disenderkan pada bahu pemuda tersebut.

“Kamu nggak perlu lagi ke kantor. Aku ngerasa nggak tenang kalau kamu masih berada disekitar Fredy.”

“Aku akan baik-baik saja Bim. Tapi kalau kamu merasa khawatir, besok merupakan hari terakhir aku pergi ke kantor. Setibanya di kantor akan kubuat surat pengunduran diri lalu langsung meninggalkan kantor tanpa menunggu persetujuan.”

Bimbim tersenyum mendengar ucapan Siska, namun tetap saja dalam hatinya merasa was-was. Siska tahu bahwa Bimbim masih memiliki ganjalan dalam hatinya, maka dia berusaha menenangkan kekasihnya itu.

Siska menatap tajam ke arah Bimbim, namun bagi pemuda itu tatapan Siska terasa teduh dan penuh kasih sayang. Merekapun berpelukan mencurahkan perasaan tanpa bicara sedikitpun. Tubuh mereka begitu erat hingga tiap debaran jantung bisa sama-sama mereka rasakan. Setelah Siska merasakan Bimbim mulai tenang, gadis itu melepaskan pelukannya. Untuk sesaat mereka saling menatap lekat.

”Kamu terlihat makin tambah cantik tau nggak?” Ucap Bimbim sambil mengusap wajah Siska.

“Kamu juga tambah hari tambah cakep.“ Balas siska sambil menggeser duduknya mendekat.

Siska meraih wajah Bimbim lalu mencium bibir pemuda itu dengan lembut. Mereka berciuman dengan lembut dan penuh kasih sayang, tanpa ada nafsu.

“Aku mencintai-mu Bim…” Ucap Siska sambil memeluk leher Bimbim.

Wangi tubuh Siska yang terhirup Bimbim mampu menenangkannya. Sesaat Bimbim merasa begitu bahagia, melupakan kekhawatiran yang sebelumnya memenuhi isi kepalanya.

“Malam ini aku milikmu seutuhnya… lakuin apa aja yang kamu mau.” Bisik Siska mendesah di telinga Bimbim.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut Bimbim segera menggendong tubuh Siska lalu membawanya ke kamar. Dibaringkannya tubuh gadis itu di atas ranjang secara perlahan lalu mengecup keningnya. Siska segera menarik tubuh Bimbim hingga rebah menindihnya di atas ranjang. Bimbim mencium bibir Siska dengan lembut, gadis itu menyambutnya dengan mesra. Lidah mereka saling membelit. Keduanya tampak sangat menikmati ciuman ini seakan sudah lama mereka tidak melakukannya.

“Mmmhhh….. Mmmppphhh…..” Lenguh tertahan keduanya meresapi ciuman mereka.

Bimbim meremas payudara Siska dengan lembut, membuat tubuh gadis itu sedikit bereaksi terhadap rangsangan itu. Selanjutnya Bimbim menyiibakkan rambut hitam Siska yang panjang, lalu mendaratkan ciumannya ke leher Siska yang membuat gadis itu mendesah kegelian.

Bimbim berhenti sejenak dan melepas kaosnya lalu dibuang begitu saja entah kemana. Tiba-tiba Siska bangkit dan mendorong tubuh Bimbim hingga terlentang. Mata gadis itu sayu menatap kekasihnya. Bimbim membalas tatapan itu sorot matanya seolah berbicara mengungkapkan perasaan sayang dan bahagia yang lebih mendominasi percumbuan kali ini. Selanjutnya mereka melakukan apa yang dikerjakan secara perlahan.

Siska mengarahkan tangannya pelan-pelan membuka celana Bimbim berikut celana dalamnya. Seketika itu juga terlepaslah penis Bimbim yang dalam kondisi siap tempur. Siska segera meraih penis itu lalu menggenggamnya. Tangan Siska menyusuri batang penis Bimbim sambil wajahnya didekatkan pada penis itu

Pelan-pelan Siska mulai menjilati kepala penis Bimbim sambil terus mengerakkan tangannya menyusuri batang penis itu dari atas ke bawah. Sesaat kemudian Siska mulai memasukkan penis Bimbim kedalam mulutnya.

“Aaakkhh… Siska… Enak sayang… Ooouuhh…”

Siska mengeluarkan teknik blow-job terbaiknya. Lidahnya membelit penis pemuda itu sambil mengocoknya pelan-pelan dengan mulutnya.

”Siska… terus sayang… Oohh. ” Bimbim mengerang saat dirasa tubuhnya melayang.

Siska mempercepat kocokannya, sesekali dijalatnya lubang kencing Bimbim, membuat tubuh pemuda itu bergetar lalu mengejang.

Croott… Crrooottt…

Bimbim memuncratkan spermanya di dalam mulut Siska. Gadis itu berusaha menelan semua sperma Bimbim. Siska kembali menjilati penis Bimbim yang berleleran sisa sperma. Bimbim tertegun melihat apa yang dikerjakan Siska.

“Enak sayang…?” Goda Siska sambil mengocok penis Bimbim dengan tangannya, di bibirnya terurai senyuman.

“Enak banget, makasih yah sayang…”

Perlahan penis Bimbim yang memang belum melemas kembali siap tempur. Bimbim bangkit lalu memeluk Siska dari belakang. Tangannya melepas kaus yang dikenakan Siska beserta bra yang dikenakan gadis itu, sementara Siska mencopot sendiri rok beserta celana dalam miliknya hingga kini mereka sama-sama telanjang bulat. Setelah semua pakaian gadis itu terlepas, Bimbim merebahkan tubuh Siska sehingga kini punggung Siska menindih tubuh Bimbim.

Bimbim meremas lembut payudara Siska. Tangan kiri Bimbim menelusuri tiap jengkal tubuh mulus itu hingga ke daerah kemaluannya. Jari-jari Bimbim membuka bibir vagina Siska, dengan penuh perasaan Bimbim menggesek-gesekkan jarinya pada vagina Siska sementara tangan kanannya meremas kedua payudara gadis itu secara bergantian.

“Nngghh… terus Bim… aahh… aahh…”

Tubuh Siska mengejang setiap kali jari Bimbim bergesekan dengan klitorisnya. Bimbim dengan sengaja menggesek-gesek bagian itu hingga Siska kelojotan dan meracau. Apalagi saat putingnya turut dipermainkan oleh jari-jari tangan Bimbim yang lain, membuat gadis itu semakin menggila.

”Aaaaaaahhh!! Kamu apain ini Bim? Enak banget… Aaaaaarrgghh terusss!!! Aku sampe Bim…!! Ahh… ahh… aaaahhh!!” Kedua tangan Siska meremas kasur dengan kuat sementara tubuhnya kejang-kejang.

Bimbim merasakan tangannya disiram oleh sesuatu yang hangat, namun pemuda itu tidak menghentikan gesekan jarnya. Hal ini membuat Siska yang masih lemas karena baru saja mengalami orgasme pertamanya jadi kepayahan. Tubuh gadis itu terus mengalami kejang-kejang yang tak terkendali.

Siska mendapat multi orgasme hingga tubuhnya sangat lemas dan hanya bisa terkapar tak berdaya sambil mulutnya megap-megap tanpa mengeluarkan suara. Nafas Siska tersengal-sengal seperti kehabisan nafas. Bimbim masih saja menggesek-gesekkan jarinya pada klitoris dalam vagina Siska.

Siska menjerit keras sekali. Seketika itu tubuhnya menggelinjang hebat. Untuk kesekian kalinya gadis itu mengalami orgasme. Matanya mulai berkaca-kaca karena sudah tidak kuat lagi menahan serangan Bimbim. Tubuh Siska terkulai, tangan dan kakinya tidak bergerak. Bimbjm menghentikan perbuatannya, memberi waktu pada Siska untuk istirahat.

”Kamu jahat Bim… ” Ucap Siska ketika tenaganya berangsur-angsur pulih.

Bimbim hanya terkekeh melihat kekasihnya dalam keadaan seperti itu. Siska melengos sebagai jawaban.

”Kok marah sih? Katanya malam ini aku bebas melakukan apa aja…” Goda Bimbim sambil bersiap melakukan aksi berikutnya.

“Lain kali kubalas kamu…!”

“Aku masukin yaa?” Ucap Bimbim sambil menempelkan penisnya di bibir vagina Siska.

”Hm mh” Jawab Siska sambil mengangguk pasrah.

Bimbim mulai menekan penisnya sedikit demi sedikit. Vagina Siska berusaha menelan penis Bimbim secara bertahap. Sementara Bimbim terus berusaha memasukkan seluruh penisnya dalam vagina Siska, gadis itu hanya merem melek menahan nikmat proses penetrasi yang terjadi.

“Agh! Ahh… ahh… ahh… aagghh… memekku penuh Bim… Enak banget…” Siska mengerang ketika akhirnya seluruh penis Bimbim berhasil masuk.

Bimbim mulai menggenjot tubuh Siska, gadis itu mengimbangi dengan menggoyang pinggulnya seirama dengan tempo genjotan Bimbim. Otot-otot dinding vagina Siska turut meremas penis Bimbim yang membuat pemuda itu makin semangat menyetubuhi kekasihnya tersebut.

Selanjutnya Bimbim mengambil posisi duduk dan mengarahkan Siska berhadapan dengannya sementara penisnya terus memompa vagina gadis itu.

“Egghh!! Entotin aku Bim! Entot lebih keras! Iyaahh gitu!”

Mereka terus berada dalam posisi tersebut hingga Bimbim merasa punggungnya pegal, maka Bimbim mengajak Siska merubah posisi bercintanya, kali ini mereka melakukan posisi man on top Dengan posisi ini penis Bimbim lebih intens menggesek vagina Siska.

“Aku hampir keluar Bim! Aahh…!” Tubuh Siska kembali menggelinjang hebat.

”Sebentar sayang, aku juga hampir sampe… Uuhh…!” penis Bimbim mulai berkedut-kedut.

Beberapa menit kemudian Bimbim memuntahkan spermanya di dalam vagina Siska hampir bersamaan dengan keluarnya cairan orgasme gadis itu. Sperma Bimbim memenuhi rangga vagina Siska yang terasa hangat dan lembut. Begitu nikmatnya mereka bercinta hingga Bimbim melupakan sejenak kekhawatiran yang memenuhi isi kepalanya.

Bimbim mencium bibir Sisca dengan lembut.

“Kita akan terus bersama seperti ini kan Bim?”

Bimbim mengangguk mengiyakan. Bimbim menjilat puting Siska lalu diemut dengan gemas.

”Uugh! Istirahat sebentar sayang… Aku capek…”

Wajah Siska terlihat kelelahan, matanya sayu. Bimbim membiarkan kekasihnya itu istirahat sejenak .Selanjutnya mereka kembali bercinta sepanjang malam dengan penuh gelora.

Keesokan paginya mereka bangun lalu bersiap memulai aktifitas.

“Nanti aku tunggu diluar kantormu.”

“Iya sayang aku cuma sebentar.”

Bimbim keluar rumah lebih dulu, pemuda itu menuntun motornya keluar rumah lalu memarkir motor tersebut dipinggir jalan menunggu Siska. Dari tempat berdirinya Bimbim menunggu beberapa saat lalu melihat Siska keluar dari rumah dan menuju ke mobilnya. Waktu seakan berjalan lambat saat Bimbim memperhaikan setiap langkah Siska menuju ke halaman samping tempat Siska memarkir mobilnya. Sejenak Bimbim memperhatikan kondisi jalan memastikan tidak ada kendaraan yang melintas saat mobil Siska keluar dari rumah, setelah memastikan tidak ada kendaraan yang sedang melintas kawasan tersebut pandangan Bimbim kembali tertuju pada mobil Siska.

DHUAAARRR!!!

Tiba-tiba saja mobil yang dilihat Bimbim meledak. Bimbim segera berlari menuju mobil tersebut. Didapatinya mobil itu hangus terbakar, kepulan asap tebal menutupi pandangan Bimbim mencari sosok kekasihnya. Pemuda itu menjerit sekeras-kerasnya memanggil nama sang kekasih, air matanya tumpah tanpa bisa ia bendung lagi.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 22 | Young and Wild and Free Part 22 – END

(Young and Wild and Free Part 21)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 23)