Young and Wild and Free Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 21

Start Young and Wild and Free Part 21 | Young and Wild and Free Part 21 Start

MENGURAI BENANG MERAH,

MEMINTAL BENANG KUSUT

(bagian 2)

Menjelang sore sepasang suami istri berjalan mendekati kediaman mereka. Saat tersisa beberapa langkah lagi sampai di tujuan, sang suami menghentikan langkahnya.

“Ada apa mas?”

“Firasatku nggak enak… “

Sang istri memperhatikan suaminya dengan seksama. Ia melihat ada raut yang berbeda dari biasanya dari sang suami. Namun sebelum ia sempat menanyakan perihal yang membuat sang suami gelisah, terdengar suara dari arah rumah menyambut kedatangan mereka.

“Sore Pa… Ma… Kok cuma berdiri disitu?”

Sepasang suami istri itu melanjutkan langkahnya lalu disambut pelukan dari remaja yang baru saja menyapa. Mereka segera masuk ke dalam rumah.

“Kakakmu sudah pulang, Win?”

“Sudah Pa, sekarang lagi ngobrol sama kak Bram.”

“Bram?!?” Perasaan sang ayah kembali gelisah ketika nama itu disebut.

“Pemuda yang mama ceritakan tadi, pa.” Sahut sang istri.

“Dimana mereka sekarang?” Raut gelisah semakin jelas terlihat di wajah pria itu.

“Di kamar belakang… ” Jawab Windi yang bingung dengan perubahan raut wajah sang ayah.

Wijaya segera bergegas menuju kamar belakang lalu disusul istri dan anaknya. Pria itu bahkan mengacuhkan Wanda, anaknya yang lain, ketika gadis itu mwnyambutnya dengan salam. Setibanya di kamar belakang ia mendapati putri sulungnya sedang asik berbicara dengan seorang pemuda. Ditatapnya pemuda itu, kini ia menemukan apa yang tadi membuat dirinya khawatir.

“Ela, jauhi pemuda itu!” Seru Wijaya kepada putrinya.

Bram dan Ela langsung menoleh ke arah datangnya suara. Sementara si gadis masih terpaku pada posisinya dengan wajah bingung, sang pemuda segera berdiri kemudian mengambil jarak dari Ela sambil tersenyum getir menatap Wijaya.

“Selamat sore om Wi…. senja mempertemukan kita kembali. Sama seperti terakhir kali kita bertemu.”

“Bram, elu kenal sama bokap?” Tanya Ela yang terkejut dengan ucapan Bram.

“Kemari La, pemuda itu bisa mencelakaimu sewaktu-waktu.”

Dengan ragu Ela berjalan kearah ayahnya, ditatapnya Bram dengan perasaan penuh pertanyaan. Sejenak kemudian samg ibu sampai ditempat itu diikuti si kembar, mereka sama bingungnya seperti Ela dengan apa yang sedang terjadi.

“Ada apa sebenarnya pa? Papa kenal sama Bram?” Tanya sang istri antara penasaran bercampur khawatir.

“Dia anak tunggal Glen dan Victoria yang akan balas dendam padaku. Kalian semua minggir dan biarkan kami menyelesaikan masalah ini.”

Suasana didalam kamar itu berubah mencekam, Wijaya dan Bram saling menatap tajam sementara istri dan ketiga anak Wijaya memperhatikan dengan seksama dengan rasa cemas. Ada keinginan dari keempat wanita itu untuk melerai kedua pria yang ada di hadapan mereka, namun aura kedua pria tersebut membuat mereka seakan tak mampu bergerak apalagi Wijaya sempat menyuruh mereka agar tidak turut campur. Intonasi yang keluar dari kepala keluarga rumah itu terdengar tegas dan serius, hingga para wanita tersebut tidak berani bertindak dan hanya menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Om harap masalah ini hanya antara kita berdua. Jangan ganggu keluargaku, mereka tidak ikut andil atas kematian ayahmu.”

Wijaya sadar dirinya bukan tandingan dari pemuda dihadapannya sekalipun kondisi pemuda itu belum pulih benar. Ia memang sudah lama tidak pernah berjumpa dengan pemuda dihadapannya namun selalu berusaha mencari informasi tentang pemuda itu. Dari beberapa informasi yang dia dapat, Wijaya mendengar mengenai reputasi Bram belakangan ini. Ditambah aura yang saat ini keluar dari pemuda itu, Wijaya yakin bahwa Bram akan menghabisinya saat ini.

“Jika terjadi sesuatu denganku aku mohon 2 hal darimu, lindungi keluargaku dan perlakukan jasadku dengan manusiawi.”

“Permintaanmu terlalu banyak, seekor binatang tidak layak mendapat perlakuan seperti manusia.”

Mendengar ucapan pemuda itu membuat ngeri semua orang yang ada dalam kamar itu. Istri dan anak-anak Wijaya mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertindak namun seluruh tubuh mereka seolah kaku, di dalam hatinya mereka berdoa agar diberikan kekuatan untuk menggagalkan pertikaian yang sebentar lagi akan terjadi di hadapan mereka. Tanpa disadari mata mereka mulai berkaca-kaca.

Sementara itu Wijaya yang sadar tidak akan ada pengampunan baginya memberanikan diri untuk menyerang lebih dulu. Diayunnya pukulan lurus ke arah kepala Bram, yang diserang dengan dingin menunggu waktu yang tepat untuk menghindari pukulan.

Setelah mampu menghindari pukulan Wijaya dengan mudah, Bram langsung bergerak ke sisi kanan Wijaya dengan cepat. Sesaat Wijaya kehilangan posisi Bram, namun karena pengalamannya ia bisa merasakan bahwa pemuda itu sudah berpindah ke sisi kanannya. Segera pria itu melancarkan pukulan selanjutnya.

Kali ini Bram berhasil mencekal pergelangan tangan Wijaya lalu dengan gerakan cepat menariknya hingga tubuh pria itu mendekat kemudian mencengkram bahu pria itu untuk selanjutnya mendorong tubuh Wijaya ke arah dinding.

“Uuugghhhh….” Lenguh Wijaya saat tubuhnya menghantam dinding kamar.

Terdengar pekik kecil dari arah pintu kamar, Ela terlihat menutup mulutnya. Kedua adik kembarnya saling berpelukan dengan wajah pucat. Melihat hal itu ibu mereka ingin segera berteriak melerai perkelahian, namun mulutmya terasa kelu bahkan tenggorokan seperti tercekik hingga tak keluar sepatah katapun.

Setelah sejenak berdiri mengumpulkan kekuatan, Wijaya kembali menyerang ke arah Bram. Namun setiap gerakannya bisa diantisipasi pemuda itu dengan dingin. Justru saat ini setiap kali Bram berhasil menahan pukulan Wijaya, tangannya yang lain dengan cepat menghajar wajah pria paruh baya itu hingga akhirnya kembali terdesak di dinding. Wijaya berusaha dengan segala cara untuk dapat mengimbangi Bram.

Saat pukulannya berhasil diredam pemuda itu, Wijaya coba meenggunakan kakinya untuk menendang. Namun Bram dengan santai mennggunakan kakinya untuk menahan tendangan itu. Tiap usaha serangan Wijaya jadi terlihat sia-sia, sebaliknya tubuh dan wajahnya kini menjadi bulan-bulanan serangan balik Bram. Bahkan disatu kesempatan Bram berhasil melakukan serangan kombinasi yang tidak bisa dihindari oleh Wijaya sama sekali.

Serangan cepat pukulan tangan kanan dan kiri dari Bram masuk secara beruntun di wajah Wijaya hingga pria itu terhuyung mundur, disusul dengan pukulan hook yang telak mengenai bagian perut yang membuat tubuh Wijaya membungkuk. Segera Bram menekuk lututnya lalu mengarahkan ke bagian kepala.

Seketika itu juga tubuh Wijaya tersungkur, namun pria paruh baya itu belum mau begitu saja menyerah. Sejenak ia menyeka lelehan darah yang keluar disudut bibirnya lalu segera bangkit berdiri dan menerjang pemuda dihadapannya hingga merapat ke dinding. Wijaya kembali menyerang Bram dengan pukulan, pemuda itu menggerakkan kepalanya menghindari pukulan tersebut.

Dinding yang terkena pukulan Wijaya retak, menunjukkan betapa kerasnya pukulan yang dilancarkan. Tidak sampai disitu, Wijaya kembali mengayunkan pukulan yang sama bahayanya dengan yang sebelumnya. Namun dengan cepat Bram bereaksi, setelah berhasil menghindari kedua pukulan tersebut tangan kanannya meraih kerah baju Wijaya lalu menariknya menjauh kemudian sebuah hook kiri mendarat di wajah Wijaya hingga wajahnya memutar kesamping.

Disaat Wijaya berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh, pukulan beruntun kembali dilancarkan Bram diakhiri dengan jejakan tendangan pemuda itu ke arah tubuh Wijaya hingga tubuh pria paruh baya itu menabrak meja kecil disamping tempat tidur.

Meja tersebut terbalik sedangkan tubuh Wijaya perlahan merosot hingga tergeletak di lantai. Bram segera mendekati pria paruh baya tetsebut. Wijaya memejamkan matanya, ia sudah pasrah menerima apa yang akan dilakukan Bram selanjutnya.

“Bangun om Wi….”

Wijaya membuka matanya, ia tatap mata pemuda yang berdiri dihadapannya sambil mengulurkan tangan seolah ingin membantunya berdiri. Wijaya melihat senyuman dari bibir pemuda itu, auranya pun terlihat berbeda. Tidak terasa lagi aura pembunuh, justru ia melihat tatapan yang sama seperti tatapan anak kecil yang dulu begitu dekat dengannya. Dengan sedikit ragu ia menyambut uluran tangan itu lalu berdiri.

“Lambat sekali gerakan om sekarang.” Bisik Bram ketika ia memeluk Wijaya. Setelah ia melepas pelukannya, Bram menoleh ke arah pintu kamar. “Kemarilah, nggak usah takut. Main-mainnya udah selesai kok.”

Mala, istri Wijaya, segera mendekat lalu ikut memapah suaminya hingga duduk di tepi tempat tidur.

“Kenapa tidak kamu teruskan?” Tanya Wijaya.

Bram tidak langsung menjawab, ia justru meminta Ela melakukan sesuatu.

“La, ambilin minum buat bokap lu.”

“Sebenarnya apa yang terjadi Bram?” Tanya Mala.

“Terus terang awalnya aku memang ingin menghabisi suami ibu, tapi aku tidak akan tega menjadikan orang sebaik ibu dan anak-anak ibu menjadi janda dan yatim.”

Sejenak kemudian Ela masuk membawakan segelas air untuk ayahnya, langkahnya diikuti oleh kedua adiknya.

“Ternyata elu babam, pantes tadi gue ngerasa nyaman waktu curhat sama elu. Lu udah banyak berubah, bukan anak kecil kurus penyakitan kaya dulu.” Ucap Ela.

“Iya, ibu tadi siang juga ngerasa kenal sama kamu. Ternyata kamu anak kecil yang ibu sering rawat kalo lagi mimisan.”

“Bram juga agak lupa sama ibu dan Aan, tapi setelah liat foto itu baru inget lagi. Lu juga banyak berubah An. Seinget gue lu juga dulu kurus, rambut bondol, bau matahari…”

“Aan?” Tanya Wanda.

“Kakak lu dulu sama sekali kaga ada manis-manisnya jadi cewek. Udah dandanannya absurd, kelakuannya pecicilan kaya cowok.”

Ela cemberut mendengarkan ucapan Bram, sedangkan anggota keluarga lainnya justru tertawa geli.

“La, memangnya tadi kamu curhat apa ke Bram? Kok tumben curhatnya bukan sama mama?”

“Eh itu, bukan apa-apa kok. Pa gimana ceritanya sampai Bram mau membunuh papa? Bukannya dulu papa temen baiknya om Glen dan kasih modal untuk buat usaha yang sekarang papa punya…” Ela berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Jadi om selama ini ngomong ke keluarga om kalo usaha om itu dimodali oleh ayah sebelum meninggal?”

Wijaya menghembuskan nafas dengan keras seolah melepas beban yang ada, setelah sejenak mengumpulkan keberaniannya ia pun mulai bercerita tentang kejadian yang sebenarnya terjadi

“Apa yang lu bawa Wi?”

“Sedikit oleh-oleh dari luar kota.”

Glen memeriksa botol minuman yang dibawa oleh sahabatnya itu, saat memegang tutupnya ia tahu bahwa tutup botol itu sudah direkondisi. Ditatapnya pria yang selama ini jadi orang kepercayaannya, terlihat ada raut kegelisahan di wajah sahabatnya itu.

“Kita minum ini sama-sama…”

“Nggak usah, buat lu aja….”

Ada nada suara yang berbeda dari biasanya terdengar dari mulut Wijaya.

“Kenapa lu cemas Wi?! Elu takut ketahuan coba ngeracunin gue atau lu merasa bersalah udah coba nghianatin gue?!”

Seketika itu juga Wijaya tercekat mendengar apa yang baru dikatakan Glen. Ia merasa bersalah dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini.

“Kenapa elu yang harus melakukan ini? Elu mau ambil alih usaha gue? Berapa banyak yang dijanjiin sama Pranoto?”

Tidak ada jawaban dari Wijaya, ia tidak tahu harus menjawab apa bahkan saat ini ia sedang berpikir bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang ia buat.

“Gue sudah bilang jangan coba mengambil sesuatu sebelum waktunya. Kita sudah pernah janji akan menjodohkan anak-anak kita suatu hari kelak, saat itu apa yang gue punya akan bisa elu nikmatin juga. Kenapa elu nggak sabar? Waktunya terlalu lama atau elu merasa kurang puas kalau sekedar bisa nikmatin? Elu mau minta bagian dari usaha gue?”

“Maafin kekhilafan gue, Glen…”

“Gue tahu suatu saat Pranoto akan deketin salah satu orang gue untuk berkhianat. Tapi gue nggak nyangka kalo itu elu…”

Setelah mengucapkan hal itu Glen segera membuka penutup botol tersebut lalu meneguk isi botol itu hingga lebih dari separuhnya. Wijaya kaget melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu.

“Kenapa elu tetep minum kalo tahu minuman itu sudah gue racunin.”

“Kapan gue pernah nolak minuman yang disodorin oleh sahabat gue?! Lagipula tadi gue sudah ngomong kalo gue udah tahu suatu saat Pranoto akan ngirim orang untuk berbuat ini ke gue. Tapi yang membuat gue kecewa kenapa harus elu orangnya….”

Sejenak suasana menjadi hening kedua pria itu seperti sedang berpikir masing-masing.

“Sebenernya gue udah nyiapin hadiah ulang tahun buat calon besan gue… Gue sudah tanda tangan pengalihan hak kepemilikan untuk usaha mebel gue ke elu, tapi sepertinya gue nggak punya kesempatan ngasih berkas itu sendiri ke tangan lu. Nanti elu bisa ngambil hak lu itu ke pengacara gue… Kalo elu emang masih punya sedikit rasa penyesalan tolong selamatin istri dan anak gue.”

Suasana dalam kamar itu menjadi hening mendengar pengakuan dari Wijaya.

“Om nggak usah merasa bersalah berlebihan… Ayah sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Aku juga tahu sebenernya om yang sudah merancang agar ibu dan aku bisa selamat, itu juga yang jadi salah satu pertimbangan aku tidak jadi membunuh om.”

“Makasih Bram sudah mau maafin suami ibu,” Mala segera memeluk pemuda itu, air mata haru yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir.

Melihat itu Wanda dan Windi ikut memeluk Bram sambil terisak. Setelah beberapa saat momen itu terjadi merekapun melepaskan pelukannya dari pemuda itu lalu menyeka air mata yang membasahi pelupuk mata hangga pipi.

“Bram boleh ibu minta sesuatu, tadi siang kamu sempet manggil ibu dengan panggilan mah. Boleh mulai sekarang kamu manggil mama ke ibu? Jadi biar sama seperti adik-adikmu manggil ibu.”

“Bisa mah…”

Jawaban Bram disambut senyum bahagia Mala. Suasana kamar yang tadi sempat mencekam, lalu berubah menjadi haru, kini berganti lagi dengan suasana bahagia layaknya satu keluarga sedang berkumpul. Dan seperti biasa disaat suasana tampak ceria di rumah itu, sifat usil Windi kembali muncul.

“Mbak Ela kok nggak ikutan meluk kak Bram, calon suami loh itu….”

Ela mendelik kearah adiknya itu.

“Iya… Wanda juga setuju kalo Mbak Ela jadian sama Kak Bram. Tadi kan papa juga udah cerita kalo kalian mau dijodohin.”

“Mama juga setuju….” Ucap Mala sambil melirik Ela.

“Papa apalagi, kan papa sama om Glen yang punya ide menjodohkan kalian…”

Diserang seluruh keluarganya membuat Ela jadi salah tingkah.

“Emangnya nggak ada yang laper nih. Ela ke dapur dulu ya…” Ucap Ela kikuk lalu balik badan keluar kamar.

“Loh mbak dapur ada di sebelah kanan, kenapa mbak jalan kearah kamar?”

Ucapan Wanda disambut gelak tawa yang lain.

**********​

Sore hari yang sama di tempat lainnya,

Lima orang pria duduk melingkar di ruang tengah sebuah rumah yang ditata dengan asri. Mereka tampak santai walau yang dibicarakan adalah masalah yang serius.

“Gue nggak mau basa basi. Guntur ngajak gue kesini karena dia bilang anda mau jelasin identitas gue yang sebenernya….”

Budi segera mengambil berkas yang dibawanya. Dari dalam amplop besar yang ia bawa diambilnya beberapa lembar foto dan memperlihatkannya pada Bimbim.

“Kamu pernah lihat foto wanita ini…” Tanya Budi sambil memperlihatkan sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita muda sedang menggendong balita bertubuh montok.

Sekilas Bimbim melihat foto itu lalu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah foto yang memperlihatkan wanita yang sama sedang menggandeng anak kecil yang mirip dengan foto tadi namun anak itu sudah lebih besar. Kini gantian Budi yang memperhatikan foto yang dimiliki Bimbim.

“Yah tidak salah lagi, anak itu adalah kamu Bim dan wanita itu adalah ibumu. Namanya Veronika.”

Budi mengambil foto lainnya dari dalam amplop. Kali ini memperlihatkan gambar wanita tadi mengenakan gaun pengantin berdiri disamping seorang pria diatas pelaminan.

“Ini foto pernikahan kedua orang tuamu, nama pria itu Peter. Saat ini keduanya sudah tiada, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan yang direncanakan oleh adik dari ayahmu. Tentu kamu bisa menebak siapa orang itu…”

“Fredy….. Gimana anda bisa tahu semua hal itu.”

“Dalam kelompokmu dulu ada seorang pria bernama Glen. Dia orang kepercayaan kakekmu sekaligus sahabat dari ayahmu. Sama seperti Guntur, ia memiliki kepandaian membuat perencanaan serta menganalisa segala sesuatu. Pada suatu kesempatan ia memilih beberapa anak muda untuk disebar di berbagai jabatan. Tujuannya adalah untuk membuat jaringan organisasi bertambah kuat. Salah satunya aku yang ditaruh di kepolisian, tapi aku juga punya tugas lain.

Saat itu Glen sudah mulai curiga bahwa Fredy bermaksud mengambil alih kekuasaan. Sebagai anak kedua Fredy tahu bukan dirinya yang kelak akan memimpin menggantikan sang ayah, maka aku ditugaskan untuk mengawasi pergerakan Fredy.

Karena kelengahanku suatu ketika terjadilah peristiwa kecelakaan kedua orang tuamu. Untuk menyelamatkanmu kami seolah menculikmu lalu untuk menghilangkan jejak kami sering memindahkan dirimu dari satu panti ke panti lainnya. Glen sudah menyiapkan skenario ketika kamu dewasa kami akan membawamu kembali ke kota ini.”

“Dari cerita anda gue menduga kalau anak dari pria bernama Glen ini juga gue kenal.”

“Betul, Glen tak lain adalah ayah dari Bram. Mungkin kamu agak lupa karena kamu kami culik sejak kecil, Bram sebenarnya teman bermainmu sejak kecil. Kemunculan dirinya di kotamu dulu juga bagian dari rencana kami. Rencana awalnya ia akan jadi pelindungmu, sama seperti ayahnya yang bertugas menjaga ayahmu. Sayangnya peristiwa kematian dari kekasih Bram membuyarkan rencana itu.”

“Tapi setahu gue Bram ada di penampungan anak nakal sebelum dia ke kota gue.”

“Peristiwa kaburnya Bram dari penjara anak sampai dia muncul di kotamu sebenarnya ada jarak waktu yang cukup lama dan kami bisa meyakinkannya bahwa kami di pihak yang sama dan ayahnya sudah menyusun rencana jauh sebelum ia meninggal. Karena ini semua adalah rencana besar ayahnya tentu saja Bram mau ikut dalam rencana itu, sayangnya kematian kekasihnya membuat skenario harus berbelok. Semenjak itu sisi buas Bram muncul, ia menjadi sulit dikendalikan bahkan nafsu balas dendamnya begitu besar.”

“Lalu rencana kalian apa?”

“Mengembalikan tahta kerajaan pada pewaris yang sesungguhnya…”

“Itu makanya gue tadi ngomong ke elu kalo lu nggak mungkin meninggalkan kota ini. Lu punya kewajiban mengambil alih pimpinan dari tangan Fredy.” Tambah Guntur.

“Kewajiban? Gue nggak merasa harus memikul tanggung jawab itu. Kalo kalian mau menggulingkan Fredy, kenapa tidak mengangkat bang Riko untuk menggantikannya. Lagipula elu itu polisi Gun, kenapa elu mau diperalat sama Budi?”

“Karena gue juga bagian dari organisasi, bokap gue dulu adalah salah satu pengawal bokap lu. Dia salah satu orang yang dibantai Fredy dengan alasan gagal menjaga kakaknya. Alasan munafik yang tujuan sebenernya nyingkirin orang-orang yang setia sama bokap lu. Gue bisa jadi polisi juga berkat bantuan dari Pak Budi.”

“Tapi maaf sepertinya gue sama sekali nggak tertarik dengan rencana kalian. Tekad gue udah bulat akan pergi dari kota ini sama Siska.”

Mendengar itu gantian Riko yang angkat bicara.

“Bim, gue tahu elu nggak mau kehilangan lagi orang yang lu sayang. Tapi apa elu pikir Fredy akan ngelepas lu begitu aja. Cepat atau lambat dia akan tahu kalo elu itu anak dari kakaknya, dan pada saat itu dia pasti akan memburu elu. Bukan cuma elu yang dalam bahaya, orang-orang yang paling lu sayang juga dalam kondisi bahaya.

Elu tahu kenapa gue tiba-tiba semangat mimpin perlawanan ke Fredy? Gue dari dulu nggak bernafsu jadi pimpinan tertinggi, gue lakukan ini hanya untuk mengantar seorang pangeran duduk di singgasana menjadi seorang raja. Itu aja tugas gue, makanya waktu Budi datengin gue dan menceritakan semuanya, gue jadi antusias.

Dulu waktu elu mau masuk jadi anak buah gue, perasaan gue udah ngerasa ada sesuatu yang spesial dari diri elu. Itu semua sudah terjawab ketika Budi menjelaskan siapa elu sebenernya.”

Bimbim menatap Budi, Guntur dan Riko satu persatu. Dia merenungkan sejenak semua informasi yang diterimanya hari ini.

“OK, gue ikut rencana kalian. Tapi dengan syarat kalian harus memastikan keselamatan Siska. Kalau terjadi sesuatu dengannya, gue akan tuntut pertanggung jawaban kalian.”

**********​

Disebuah kamar di salah satu sudut kota…..

Seorang pemuda dengan penuh nafsu menyetubuhi seorang gadis sambil terus mencumbu tiap bagian tubuh pasangannya itu. Dia sebenarnya tak terlalu suka dengan buah dada kecil macam milik gadis ini, tapi kali ini tidak terlalu menjadi masalah buatnya karena pemuda itu hanya ingin mengeluarkan amarahnya. Diciuminya kedua buah dada itu dengan rakus, tak ketinggalan putingnya ia kulum dan sesekali digigit dengan gemas. Si gadis yang mendapat cumbuan seperti itu beberapa kali memekik saat gigitan si pemuda dirasa terlalu keras. Namun si pemuda seolah tidak peduli. Dia terus menggenjot tubuh gadis itu.

CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK… CPLOK…

Suara benturan pertemuan antara kelamin keduanya terus terdengar dalam kamar itu. Sementara itu mulut si pemuda belum beranjak dari buah dada si gadis. Putingnya menjadi mainan bagi lidah si pemuda. Akibatnya permukaan buah dada si gadis terlihat memerah bekas cupangan.

Penis si pemuda masih terus keluar masuk vagina si gadis, bergerak dengan tempo cepat. Tubuh si gadis ikut bergerak mengikuti irama genjotan si pemuda. Kadang suara lenguhan juga terdengar dari bibirnya walau sebenarnya gadis itu tidak menikmati momen kali ini, dia tahu saat ini tubuhnya hanya jadi pelampiasan kekesalan si pemuda.

Berlama-lama menikmati vagina gadis itu membuat si pemuda tak bisa lagi menahan gelombang ejakulasi. Diraihnya kepala gadis itu dan menariknya, mulutnya berpindah mencium bibir gadis itu. Si gadis pasrah membiarkan bibirnya begitu saja dilumat oleh si pemuda, sementara pinggulnya masih saja bergerak mengimbangi goyangan dari si pemuda.

“Aaahhh Ela sayaang, gue keluar lagi… Gue hamilin lu sayaaaanngg… Aaaaaahhhhhh…”

Dan kembali ledakan sperma pemuda itu memenuhi rahim gadis itu untuk kesekian kalinya hari ini. Gadis itu memejamkan matanya, pikirannya menahan kesal karena si pemuda menyebut nama gadis lain ketika bercinta dengan dirinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-pa, dibiarkannya tubuh si pemuda menindih tubuhnya karena tidak bisa dipungkiri dirinya juga merasakan gelombang kenikmatan menghampirinya.

Setelah beberapa saat terdiam dalam posisi tersebut, pemuda itu mencabut penisnya yang mulai mengecil. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah meja untuk mengambil minuman. Sedangkan si gadis masih tak bergerak, membiarkan tubuh telanjangnya begitu saja.

“Makasih lu udah mau jadi pelampiasan kekesalan gue….”

“Gue harap mulai sekarang elu nggak ngacuhin gue lagi. Gue bersedia elu perlakuin apapun asal elu nggak ngacuhin gue lagi….”

“Jangan terlalu berharap banyak dari gue.”

“Lu jahat Joe…”

“Gue nggak pernah bilang kalo gue orang baik-baik.”

“Kalo gue nggak bisa dapetin perhatian lu, maka cewek yang bikin gue kaya gini nggak akan gue biarin.”

Joe menatap nanar gadis itu, sekejap kemudian tangannya melayang menampar wajah gadis itu.

PLAKKK !

“Jangan pernah nyoba nyakitin Ela kalo lu nggak mau gue buat menderita.”

“Sepertinya elu bener-bener jatuh cinta sama gadis itu. Gue nggak keberatan, yang gue minta perhatian dari elu ke gue. Jangan anggap gue nggak ada. Lu cuma datengin gue kalo mau ngentot doang.”

“Udahlah bila, gue nggak mau berdebat sama elu. Dari awal lu juga tahu kalo gue nggak punya perasaan lebih ke elu. Dan elu fine-fine aja selama gue bisa menuhin kebutuhan lu. Kenapa sekarang elu jadi melow kaya gini…”

“Gue juga perempuan Joe, gue punya hati. Gue nggak bisa terus-terusan mengingkari perasaan cemburu gue…”

“Cukup bila… Kita sudah punya kesepakatan, jangan minta lebih dari gue atau gue akan ninggalin elu selamanya.”

Nabila tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia takut Joe benar-benar mencampakannya. Akhirnya gadis itu memutuskan bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Sementara itu Joe memilih mengenakan kembali baju dan celananya lalu berjalan keluar kamar.

“Farid kemana…?” Tanya Joe pada seorang pemuda yang ia jumpai di ruang tengah.

Pemuda itu menunjuk ke salah satu kamar yang ada di rumah itu, Joe berjalan menuju kamar itu lalu masuk. Dalam kamar itu ia mendengar suara desahan tertahan seorang wanita beserta gumaman seorang pria. Di hadapannya nampak adegan panas seorang gadis yang sedang duduk menyamping di pangkuan Farid yang asik melumat payudara gadis itu. Si gadis hanya tinggal memakai bra yang telah terangkat ke atas dan rok yang juga sudah tersingkap, sementara Farid hanya tinggal memakai celananya saja. Sambil menyusu, tangan Farid mendekap tubuh gadis itu dan meremas salah satu payudaranya sedangkan tangan Farid yang lain sedang menyusup ke balik rok gadis itu. Si Gadis mengapitkan paha menahan geli ketika tangan Farid menggerayangi selangkangannya.

“Ssshhh… nngghh!” Erang gadis itu, tangannya memegangi tangan Farid yang merogoh masuk ke dalam roknya, namun tak bermaksud menahan gerakannya.

Lidah Farid menjilati seluruh permukaan payudara gadis itu hingga basah kuyup, lalu bergerak lagi menciumi samping tubuhnya, diangkatnya lengan gadis itu agar bisa menjilati ketiaknya yang tak berbulu dan menyebabkan gadis itu merinding geli karena sensasinya.

“Ngentot melulu kerjaan lu…!” Seru Joe tiba-tiba.

Keduanya pun terkejut, si gadis sempat memekik pelan dan refleks menutupi dadanya yang terbuka.

“Bangke lu Joe! Masuk nggak bilang-bilang terus langsung ngagetin….” Sungut Farid yang kaget.

“Udah sana terusin lagi aja, gua lagi nggak mau ikutan kok….”

Gadis dipangkuan Farid menatap kesal pada Joe, ia tidak akan pernah lupa bagaimana beberapa bulan yang lalu teman kampusnya itu memerasnya hingga ia terjerumus menjadi budak seks mereka seperti sekarang.

Farid kembali memeluk tubuh gadis itu, diangkatnya rok gadis itu lalu tangannya merogoh masuk lewat bagian atas celana dalam si gadis. Wajah gadis itu memerah dan desahan lirih keluar dari mulutnya ketika jari-jari Farid menyentuh bibir vaginanya sementara tangan Farid yang lain meremasi payudaranya. Joe hanya menyeringai melihat adegan didepannya, tak tahan melihat hal itu tangannya iseng ikut meremasi payudara si gadis yang menganggur.

“Katanya nggak mau ikutan.”

“Abis mukanya napsuin setelah gue liatin, hehehehehe…”

“Makannya gue demen banget ngentotin dia. Goyangannya asik kalo dia udah naik!”

Telinga gadis itu panas mendengar ejekan mereka yang merendahkannya, namun bagaimanapun ia tak sanggup berbuat apapun untuk melawan. Sebagai budak seks ia sudah terbiasa dengan semua itu walau nuraninya menjerit. Gadis itu memalingkan wajah ke samping, ia tidak kuasa menatap Joe yang memandanginya dalam kondisi demikian.

Farid terus menggerayangi tubuh gadis itu diiringi desahan si gadis yang semakin dilanda birahi. Joe mengangkat dagu gadis tersebut hingga wajahnya menengadah ke arahnya. Dilumatnya bibir gadis itu, lidah mereka saling beradu. Mereka bercumbu beberapa saat sambil tangan Joe terus meremas payudara gadis itu hingga akhirnya dia melepas pagutannya lalu berbalik badan.

“Gue cabut dulu, jangan lama-lama gue mau ngasih lu kerjaan.” Ucap Joe sambil berjalan keluar dari kamar tersebut.

Farid tidak menjawabnya karena ia kembali asik menggerayangi tubuh gadis itu.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 21 | Young and Wild and Free Part 21 – END

(Young and Wild and Free Part 20)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 22)