Young and Wild and Free Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 20

Start Young and Wild and Free Part 20 | Young and Wild and Free Part 20 Start

MENGURAI BENANG MERAH,

MEMINTAL BENANG KUSUT

(bagian 1)​

“Bim ada yang perlu gue omongin sama lu.”

“Ya udah lu ngomong aja.”

“Nggak disini.”

Bimbim menatap Guntur dengan tajam, coba menebak isi kepala sahabatnya itu.

“Ada apa sih kayanya serius banget.” Tiba-tiba Jati masuk ke dalam rumah. “Gue makin yakin yang mau kalian omongin bukan sekedar masalah percintaannya bimbim.”

Bimbim dan Guntur saling memandang seakan meminta persetujuan masing-masing. Beberapa saat kemudian Guntur angkat bicara.

“Bimbim ngerasa kalo gue sama Siska punya hubungan khusus.”

“Hubungan khusus gimana maksudnya, Guntur nikung lu Bim?”

“Elu yakin mau ngomongin masalah ini di depan Jati?”

“Cepat atau lambat dia akan tahu juga, lagian kita berteman. Sudah waktunya juga kalian harus tahu siapa gue sebenernya, termasuk identitas lu juga Bim.”

“Emangnya lu tahu latar belakang gue?”

“Sebelum gue ngomong lebih jauh, elu dulu yang jelasin kecurigaan lu.”

Jati memperhatikan dengan seksama kedua sahabatnya itu. Walau masih bingung kemana arah pembicaraan ini tapi ia merasa ada sebuah rahasia besar yang akan segera terungkap.

“Kemaren di tempat bang Riko waktu elu banyak ngomong seolah lu tahu banget isi kepala dari Fredy sampai Bram membuat gue berpikir siapa elu sebenernya… umur lu sepantaran gue tapi daya analisa lu bahkan lebih tajam dari orang yang berpengalaman kaya bang Riko. Gue coba hubung-hubungin sama semua kejadian yang kita alami, akhirnya gue narik kesimpulan kalau elu nggak sesempurna yang gue bayangin.

Elu nggak mungkin tahu sampai sedetail itu hanya dari sebuah analisa, perlu ditunjang data yang akurat serta penyelidikan yang dalam hingga mendapat Informasi yang elu sampaikan kemarin. Tentunya lu nggak bisa kerja sendirian hingga ketahap itu.”

“Maksud lu selama ini ada orang lain yang kasih info ke Guntur…”

“Bener Je, dan lebih dari pada itu Guntur juga ngasih Informasi yang dia dapat tentang kelompok kita ke atasannya.”

“Atasan??? Maksud lu Guntur itu…. “

“Polisi…. inget kejadian waktu kita disuruh ngambil kokain, dari awal selalu Guntur yang tahu lebih dulu kalo kita diawasi polisi. Siapa yang bisa ngasih tahu lokasi pengambilan kokain selain salah satu dari kita bertiga ditambah fredy dan ryan.”

“Tapi Guntur juga yang bantu kasih solusi agar kita lolos.” Bela Jati.

“Justru itu, karna dia tahu jalan yang seolah-olah aman kita lewati.”

“Seolah-olah aman?”

“Sepertinya malam itu polisi memang tidak benar-benar ingin menangkap kita, coba lu pikir malam itu sama sekali tidak ada pemblokiran jalan padahal transaksi sudah terjadi. Kita cuma kucing-kucingan sepanjang malam.”

“Lalu tujuan polisi malam itu untuk apa?”

“Ada dua, pertama mereka hanya ingin menggagalkan transaksi. Dalam hal ini agar kokain tidak sampai di trima fredy. Membuang kokain satu tas penuh kelaut bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat, lu harus nyobek satu persatu bungkus kokain sebelum dibuang. Tapi elu berhasil buang semua sebelum ketangkep padahal jarak polisi yang ngejar elu tidak terlalu jauh.

Boleh dibilang kita sengaja dilepas, ini tujuan kedua. Guntur sebagai polisi yang menyusup dalam organisasi semakin dapat kepercayaan dari pimpinan.”

“Analisa yang bagus… ” Puji Guntur sambil bertepuk tangan.

“Lalu hubungannya apa dengan Siska?” Tanya Jati penasaran.

“Siska juga polisi Je, cuma beda atasan jadi beda tugas. Ini yang gue nggak tahu mulai kapan mereka sadar kalo sama-sama polisi. Awalnya gue juga heran darimana dia bisa tahu banyak tentang Siska, apalagi pas di hotel dia ngalangin gue nolongin Siska. Mungkin waktu itu Siska emang lagi jalanin tugas.”

“Seperti dugaan gue, elu bisa merangkai kepingan puzzle yang ada. Kalau gitu lu ikut gue sekarang, biar atasan gue yang jelasin semua termasuk identitas lu yang sebenarnya.”

“Gue boleh ikut?”

“Tentu aja boleh. Kita kan tetep berteman sampai kapan pun, kecuali lu udah bosen temenan sama kita.”

**********​

Bram POV

Sore itu om Wi datang kerumah, aku segera menyambutnya karena biasanya dia suka membawa oleh-oleh untukku.

“Sore om…”

Om Wi tersenyum melihatku menyambutnya, tapi kurasakan senyumannya kali ini agak dipaksakan.

“Papamu ada, Bram.”

“Ada om, tuh lagi baca koran di ruang tengah.”

“Kalau gitu om masuk dulu yah…” Ucap Om Wi sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.

Keanehan kedua yang kutangkap, biasanya ia akan mengajakku bermain atau paling tidak ngobrol denganku sejenak untuk menebus kesalahannya jika tidak membawa oleh-oleh. Sepertinya ia terburu-buru menemui ayahku, apakah ada hal penting yang ingin ia bicarakan? Karena penasaran aku segera menuju ke balik jendela samping rumah, tempat dimana aku suka menguping pembicaraan orang tuaku.

Aku kurang mengerti apa yang mereka bicarakan, hanya ada beberapa kata-kata yang aku mengerti. Sepertinya ayahku marah pada om Wi yang dianggapnya Yudas karena sudah menjual dirinya. Aku mulai berpikir kenapa ayahku menyamakan om Wi dengan Yudas? Seorang murid yang tega menghianati Sang Guru. Tak lama kemudian kudengar ayah memanggilku juga ibuku. Akupun segera menuju ruangan tengah. Setelah kami semua duduk ayahku mendekati om Wi lalu memegang wajahnya dengan tangan kiri.

“Bram, liat wajah ini… ” ucap ayahku sambil tangannya memegang wajah om Wi lebih keras.”Jangan pernah kamu lupakan wajah ini sampai kapanpun.”

Sambil berbicara seperti itu tangan kanan ayah menampar-nampar wajah om Wi, namun dia tidak melawan ayah. Mata om Wi mulai berkaca-kaca.

“Nggak usah cengeng, air matamu tidak akan menghapus dosamu. Aku semakin jijik melihatmu.” Hardik ayahku sambil mendengus sinis.

“Mas……” Ibuku menyahut diantara ketidak mengertian apa yang sedang terjadi juga rasa tidak suka dengan apa yang diucapkan ayah dihadapanku.

“Sahabatku sendiri yang menjadi orang kepercayaanku tega menjualku.” Ayahku berdiam diri sejenak memikirkan sesuatu. “Wi, bisa lu keluar sebentar. Gue mau ngomong sama keluarga gue.”

“Gue ke belakang aja, kalo gue keluar sekarang mereka akan segera datang.” Jawab om Wi lalu berjalan ke bagian belakang rumah.

“Ada apa sebenarnya mas…?” Tanya ibuku yang terlihat khawatir.

“Kita berdoa dulu, saat ini aku sangat takut… “

Kali ini ku lihat wajah ayahku mulai pucat, matanya memerah menahan tangis. Ayahku pun memulai doanya.

“Tuhan maafkan hamba-MU yang berlumuran dosa ini. Aku merasa tidak layak untuk memohon ampunan dari-MU agar nyawaku diselamatkan, tapi tolong selamatkanlah keluargaku.” Sejenak ayah menatapku lalu melanjutkan doanya. “Aku tahu pembalasan adalah hak-MU, tapi kumohon jadikanlah anakku menjadi alat-MU untuk menghancurkan orang-orang yang berbuat jahat terhadap keluarga kami. Jadikan anakku kuat seperti orang-orang pilihan-MU.”

Setelah ayah menutup doanya, ibu kembali bertanya dengan rasa khawatir.

“Ada apa sebenarnya mas…?”

“Sebentar lagi aku akan mati. Orang-orang yang mau mengeroyokku sudah menunggu di luar. Kalian harus kuat. Bram jaga mamamu, jadilah anak yang kuat. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, pergilah ke rumah tua yang pernah kita kunjungi. Ayah sudah membelinya, tadinya itu akan menjadi rumah kita setelah ayah keluar sepenuhnya dari pekerjaan ayah sebenarnya yang belum ayah beritahukan padamu.”

“Kenapa tidak ayah lawan mereka semua… “

“Ayah tidak mungkin melawan mereka sendirian. Lagipula orang yang selama ini jadi orang kepercayaan ayah sudah menghianati ayah. Minuman yang dibawanya sudah dibubuhi racun sehingga tubuh ayah menjadi lemah.”

Sekarang aku baru mengerti kenapa tadi ayah menyamakan om Wi seperti Yudas. Dan untuk pertama kalinya aku melihat ayahku mulai menangis.

“Kita lapor polisi saja mas… “

“Percuma, mereka sudah merencanakan ini dengan baik tentunya mereka juga sudah melakukan antisipasi terhadap hal yang bisa menggagalkan rencana yamg sudah mereka susun. Termasuk menyogok aparat keamanan yang sedang bertugas.”

Sejenak ayahku menyeka air matanya lalu berbicara padaku. “Bram, menjadi laki-laki yang kuat bukan berarti kamu tidak pernah merasa takut. Satu waktu ketakutan itu akan datang bahkan membuatmu gemetar, tapi jangan pernah lari dari ketakutan itu. Hadapi! Lawan! Taklukkan, itu yang menunjukkan bahwa kamu laki-laki kuat.”

“Mbak Ela cantik yah kak… ” Ucapan Windi seketika membuyarkan lamunanku.

Belum habis rasa terkejutku, ku lihat Wanda ikut masuk kedalam kamar sambil menarik tangan seorang gadis.

“Ada apa Win kok kamu senyum-senyum?” Tanya Wanda.

“Ini dari tadi kak Bram liatin fotonya mbak Ela sampai nggak kedip…” Goda Windi yang sepertinya sudah dari tadi ada di ruang ini memperhatikanku.

“Cie… Cie… Ada yang terpesona sama mbakku yang paling cantik sedunia. Ini kak aku bawain aslinya. Silahkan diteliti lebih lanjut, hati-hati nanti matanya lompat keluar.” Sahut Wanda yang ikut menggodaku.

“Jangan diem aja dong kak, tadi ngeliatin fotonya terus. Sekarang yang aslinya udah ada malah didiemin.”

“Kenalan kek, ajak ngobrol siapa tahu jodoh… ” Tambah Wanda.

Gadis yang dibawa Wanda tiba-tiba mendelik ke arah Wanda seolah memarahinya. Bukannya merasa takut justru Wanda ganti menggoda kakaknya.

“Tuh liat, kalo lagi marah gini tambah keliatan cantik kan.”

“Mungkin mereka masih malu, Da. Kita tinggalin aja mereka berdua. Kak Bram aku titip Mbak Ela yah, jangan cuma diliatin. Tangannya boleh dipegang kok waktu kenalan, tapi jangan lebih dari itu kalau nggak mau dicakar.”

Kali ini giliran Windi yang mendapat pelototan dari Ela.

“Hiiiii seremmm….. Ayo kabur Da sebelum kita diterkam.”

Kedua gadis itu segera berlari-lari kecil seperti dua ekor kelinci sambil tertawa terkikik, meninggalkanku dan Ela berdua di kamar ini. Aku dan Ela hanya tersenyum melihat tingkah laku si kembar.

“Maafin kelakuan adik-adik gue… Oiya, nama gue Angela, tapi panggil aja gue Ela. Tadi mereka udah cerita semuanya mulai dari pertama liat elu sampai gimana elu sekarang bisa ada disini. Termasuk tanggapan nyokap yang menganggap lu kaya anak sendiri. Nyokap emang gitu orangnya selalu baik sama siapa aja. Tapi gue harap elu nggak ambil kesempatan atas sikap nyokap gue. Lu harus nepatin janji untuk segera pergi begitu kondisi lu membaik.”

Aku tersenyum mendengar kata-kata Ela, tampak sekali ia mencoba jadi pelindung bagi keluarganya. Cewek yang tangguh, mengingatkanku pada Niken. Tapi aku menangkap tatapan mata kosong dari gadis cantik itu, sepertinya ia menyimpan beban hingga hilang arah. Aku coba menggodanya, ingin tahu seperti apa reaksinya.

“Tadinya gue emang mau langsung cabut begitu kondisi gue membaik. Tapi sepertinya gue akan tinggal lebih lama untuk menikmati perawatan di rumah ini, apalagi sejak gue tahu ada cewek secantik lu tinggal disini.”

Aku memang berencana tinggal sedikit lebih lama, tapi bukan karna Ela. Laki-laki yang ada di foto itulah yang jadi penyebab, aku harus buat perhitungan dengannya. Tiba-tiba saja sorot mata Ela berubah, ia bagaikan induk bison yang bersedia bertarung nyawa untuk melindungi anaknya dari incaran singa.

“Jangan harap lu bisa macem-macem di rumah ini selama ada gue!”

“Hehehehe…. Tenang non, gue tadi bercanda. Gue cuma mau sedikit bangunin sifat lu yang sebenernya. Tadi gue nangkep kesedihan dari sorot mata lu walaupun elu terlihat galak dihadapan adik-adik lu. Sepertinya lu lagi menghadapi masalah tapi nggak tahu gimana nyelesaiinnya. Lu bisa cerita masalah lu ke gue, siapa tahu gue bisa bantu.”

Ela menatapku dalam, sepertinya dia menangkap ketulusan dari sorot mataku. Iapun mulai menceritakan masalahnya. Ternyata masalah dengan cowoknya.

“Gue bisa nebak kalo orang tua lu nggak setuju kalo lu berhubungan dengan cowok itu. Dan sebenernya cowok itupun sudah punya pacar yang kebetulan adalah sahabat lu sendiri.”

“Darimana lu tahu?”

“Setelah elu natap gue dan merasa yakin kalo gue tulus, elu langsung cerita semua beban lu ke gue padahal kita baru kenal. Itu berarti elu emang sedang tertekan dan mau menumpahkan semua beban lu. Tapi kenapa nggak nunggu nyokap lu untuk cerita? Karna lu nggak mau sampai nyokap lu tahu masalah ini. Tebakan gue karna nyokap lu nggak setuju kalo lu menjalin hubungan dengan cowok ini. Terus kenapa lu nggak cerita ke sahabat lu, tebakan gue karna cowok itu pacarnya sahabat lu. Sepertinya kedua tebakan gue bener.”

“Tolong jangan ceritain ini ke nyokap apalagi bokap gue… Terima kasih mau dengerin cerita gue, sekarang gue sedikit lega.”

“Nyokap lu udah nganggep gue anaknya, adik-adik lu juga nganggep gue sebagai kakaknya. Kalo lu nggak keberatan boleh kalo gue bertindak sebagai kakak lu?”

“Maksud lu?”

“Lu mau gue berbuat apa sama cowok itu. Dia udah nikmatin tubuh lu, sekarang mau pergi? Perlu gue patahin tangannya atau kakinya? Atau kalau perlu sekalian gue permak mukanya? Atau gue ancurin kontolnya yang seenaknya keluar masuk, udah puas terus ditinggal….”

“Eh jangan…. Itu bukan salahnya dia.”

“Hmmmm….. sepertinya lu bener-bener sayang sama cowok itu, beruntung sekali dia. Kalo gitu biar om-om genit itu yang gue hajar.”

“Tapi jangan sampai terlalu parah, gue nggak mau sampai Joe sedih.”

“Tenang non, gue cuma pingin ngasih pelajaran agar dia nggak manfaatin gadis lugu kaya lu lagi. Kasih tahu siapa namanya, biar gue cari om-om genit itu.”

“Pranoto Adiguna… pemilik Rajawali Anugrah Development.”

Seketika aku terkejut nama itu disebut.

“Kebetulan sekali gue juga ada urusan sama bajingan itu.” Ucapkan dengan tegas. Ela terlihat kaget mendengar ucapanmu, ia mulai khawatir terhadap apa yang akan ku lakukan selanjutnya.

**********​

Ditempat terpisah sebuah mobil land cruisser series 70 baru saja masuk kehalaman rumah mewah. Sejenak kemudian si pengendara segera turun dari mobilnya membawa berkas berisi penyelidikannya belakangan ini. Si pria berkumis tipis ini berharap isi berkas tersebut bisa mengurangi emosi dari pria yang akan ditemuinya. Setelah mengatur nafas sejenak pria itupun memberikan diri untuk maduk kedalam rumah.

“Abang sudah ditunggu bos di ruangannya.” Sambut salah seorang penjaga rumah tersebut.

“OK, gue langsung keruangannya.”

“Mau dibawain minum apa?”

“Ntar aja abis dari ruangan bos… “

“Yakin kali ini masih diampunin sama bos?”

Si kumis tipis hanya tersenyum kecut mendengar perkataan si penjaga rumah, sesaat kemudian ia kembali melangkah menuju ruang kerja sang bos. Setibanya di ruamg itu ia disambut dingin oleh pria berkepala botak.

“Kenapa baru nyampe, lu mau kabur dari gue.”

“Maapin gue… Tadi gue nyiapin laporan ini dulu sebelum kemari.” Ucap si kumis tipis sambil menyerahkan berkas yang dibawanya.

“Gue harap isinya bagus… “

“Gue jamin informasi kali ini akan bikin lu seneng, apa yang lu harapkan selama ini ternyata sudah terwujud. Elu tinggal menjemputnya.”

Si pria botak mulai melihat isi berkas itu dengan seksama, sesekali terlihat senyum tipis diujung bibirnya menandakan ia menyukai hasil laporan si kumis tipis kali ini.

“Lu yakin dengan yang elu katakan tadi…” Ucap pria itu tanpa memandang lawan bicaranya.

Matanya terus tertuju pada berkas yang saat ini ia pegang, diperhatikannya tiap informasi yang tercantum dalam berkas itu, foto-foto yang ada juga dilihatnya dengan seksama.

“Berkas itu dari sumber yang sangat gue percaya, beberapa diantaranya gue juga terlibat langsung untuk dapetin info itu. ” Sahut pria yang satunya.

“Hmmmmm……”

Ada berbagai macam perasaan berkecamuk dalam pikiran serta hati pria yang sedang memeriksa berkas. Bahagia, emosi, kesal, kecewa bercampur menjadi satu. Setelah selesai memeriksa semua isi berkas tersebut pria itu memejamkan matanya, ia memikirkan sejenak langkah apa yang akan diambilnya.

“Siapa aja yang tahu masalah ini…”

“Selain gue sama si bule, ada seorang informan gue.”

Tiba-tiba pria paruh baya itu membuka matanya, raut wajahnya terlihat emosi.

“Kenapa kerjaan lu akhir-akhir ini nggak pernah beres! Habisi mereka semua!”

“Rahasia ini gue jamin aman…”

“G*BL*K!!! Nggak bisa apa lu kerjain aja yang gue suruh?!?!”

Si pria berkumis tipis tersentak dari posisinya. Kepalanya tertunduk dengan wajah yang ketakutan. Sudah sangat lama sahabatnya itu tidak memaki dirinya seperti tadi. Ingatannya kembali mengenang disaat sahabatnya itu begitu marah pada dirinya, setelah selesai memaki-maki sahabatnya itu langsung menghajarnya tanpa belas kasihan hingga dirinya mengalami patah tulang hidung, pipi, hingga beberapa ruas rusuk. Untung saja nyawanya tidak ikut melayang pada saat itu.

Untuk sejenak ruangan itu menjadi hening kembali, walau bagi si kumis tipis suasana ruang itu masih terasa mencekam. Bahkan desiran angin yang keluar dari pendingin ruangan seperti simponi backsound film horor.

“Jangan ganggu yang cowok….. Urusan sama yang cewek biar gue tanganin sendiri.”

**********​

“Duduk dulu, Bim. Sebentar lagi atasan gue sampai sini. Dia yang akan jelasin semuanya. Lu mau minum apa?”

“Terserah lu…”

“Kalo elu Je?”

“Samain sama punyanya Bimbim…. “

Guntur segera masuk ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak lama kemudian Guntur kembali ke ruang depan membawa 2 gelas kosong dan sebotol air dingin tanpa ada warnanya.

“Jiah gue kira lu punya minuman spesial pake gegayaan nawarin minum segala.”

“Hehehehe, sori Je. Ternyata gue lupa nyetok keperluan rumah. Maklum bujangan, nggak ada yang ngurus rumah.”

“Jadi ini rumah lu yang sebenarnya Gun, keren juga terasa sejuk.”

“Iya Bim, kerjaan gue kan nuntut gue selalu waspada, jadi gue design rumah yang bisa membuat gue rileks melupakan sejenak ketegangan saat bekerja.”

“Sebelum atasan lu dateng, gue mau tau kondisi Siska sebenernya gimana. Gue nggak mau bahas masalah itu sama orang lain kecuali sama temen sendiri.”

“Saat ini Siska aman, maaf tentang kejadian di hotel tapi itu satu-satunya jalan keluar buat dia.”

“Maksud lu?”

“Apa yang terjadi di hotel antara Siska sama Dani kita rekam, itu bertujuan untuk memaksa Dani memberikan dokumen latar belakang Siska, kita udah jalanin hal itu, tinggal tunggu hasil. Mungkin dalam 2-3 hari ini dokumen itu sudah ada ditangan komandan gue. Setelah itu terserah Siska mau milih jalan apa dan elu juga bisa bales perbuatan Dani.”

“Syukurlah kalo gitu, tinggal nunggu beberapa hari kedepan akhirnya Siska bisa lepas dan gue bisa ngajak Siska kabur dari kota ini.”

“Gue ragu untuk hal yang terakhir lu bilang. Sepertinya elu nggak akan ninggalin kota ini begitu saja.” Sahut Guntur.

Sesaat kemudian masuklah dua orang pria ke dalam rumah itu. Yang pertama adalah Inspektur Budi Alfaridzi, pria yang sudah ditunggu kedatangannya. Sedangkan pria yang lainnya membuat terkejut Bimbim dan Jati, karena pria tersebut adalah Riko. Keduanya mulai menduga-duga apa maksud pertemuan ini sebenarnya. Ada hubungan apa antara Bang Riko dan Inspektur Budi.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 20 | Young and Wild and Free Part 20 – END

(Young and Wild and Free Part 19)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 21)