Young and Wild and Free Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 19

Start Young and Wild and Free Part 19 | Young and Wild and Free Part 19 Start

BAGIAN 19

CERITA RUWET​

3rd POV

“Gue kecewa sama lu Bram, kita sudah sepakat kalau lu tunggu instruksi dari gue dulu baru bertindak. Tapi kenapa lagi-lagi elu mempermalukan gue di depan Fredy?”

Dengan santainya Bram berdiri diposisinya saat ini tanpa menoleh pada lawan bicaranya, ia seolah tidak perduli dengan yang dibicarakan oleh Ryan.

“Bapak berhari-hari cari saya cuma mau ngomong begitu…..?”

“Elu bener-bener udah nggak mandang gue?!?!”

“Apa yang mau Bapak lakukan ? Menghajar saya seperti di tempat penampungan dulu? Saya bukan anak kecil lagi!”

“Sudah merasa hebat lu sekarang?!?!”

“Bukan! Tapi saya muak diperalat terus sama teman Bapak, dan sepertinya Bapakpun punya kepentingan yang sama hingga menjadikan saya seperti sekarang ini.”

“Maksud lu?”

“Saya tidak bodoh Pak! Saya belajar dan menyelidiki semuanya diam-diam. Bapak bukan kasian pada saya seperti yang bapak bilang dulu, Bapak punya kepentingan lain dengan menjadikan saya seperti sekarang.”

“Sepertinya pertemuan lu sama pemuda itu membuat otak lu rusak lagi.”

“Terserah….. Tapi saya tidak mau menuruti permintaan Bapak lagi! Sudah cukup apa yang saya lakukan selama ini.”

“Elu nggak bisa keluar begitu saja dari kelompok kita…”

Bram memandang kearah Ryan dengan sinis.

“Siapa yang Bapak ajak kali ini…. Mad Dog? Crazy Lion? Barracuda ? Atau ketiganya?”

Kemunculan tiga orang laki-laki dengan perawakan yang sama menyeramkannya dengan Bram muncul di tempat itu sebagai jawaban dari pertanyaan pemuda tersebut. Melihat itu Bram hanya tertawa, namun diam-diam dia juga bersiap-siap menghadapi ketiga orang tersebut. Ketiga orang tersebut tak lain pemuda seperti Bram, anak yang dilatih oleh Ryan menjadi pembunuh bayaran bahkan mereka juga ‘senior’ Bram di tempat penampungan.

“Gue sangat terhormat sampai harus menghadapi kalian bertiga sekaligus… Artinya saat ini gue jauh lebih baik dari kalian, Hehehehehehe…..”

“Jangan banyak omong….. Tangan gue udah gatel gebukin lu kaya dulu lagi.” Ucap laki-laki yang berjuluk Barracuda, tubuhnya besar dan kekar walau tidak sebesar tubuh Bram namun lebih tinggi, tampangnya sangat menyeramkan dengan dua bola mata besar yang seakan terus melotot setiap saat serta rahang yang besar dan panjang kedepan.

“Kalian beri dia pelajaran!” Suruh Ryan dengan emosi pada ketiga orang tersebut.

Mula-mula hanya seorang yang maju menghadapi Bram. Dia yang sering dipanggil Mad Dog, tubuhnya paling kecil dan pendek dibanding rekannya yang lain tapi dari gerakannya dia yang paling lincah dan brutal.

Bram yang memang sudah mempersiapkan dirinya, langsung meladeni serangan dari Mad Dog. Dengan kejeliannya Bram mampu menghindari serta menangkis semua serangan yang dilancarkan Mad Dog bahkan beberapa kali ia mampu balik menyerang orang itu dengan sama ganasnya.

Melihat belum satupun serangannya yang menemui sasaran membuat Mad Dog menjadi kesal, iapun segera melipat gandakan serangannya. Brampun segera mengimbangi serangan yang dilancarkan Mad Dog bahkan pemuda itu melakukan hal itu sambil tertawa-tawa memancing emosi Mad Dog.

Ryan yang terus mengamati pertarungan tersebut berdecak kagum dalam hatinya, ia tidak mengira kemampuan Bram telah meningkat sedemikian hebatnya.

Bram segera melancarkan satu pukulan ke arah kepala Mad Dog, sambil mendengus yang diserang menangkis dan balas memukul. Dua kepalan beradu mengeluarkan suara keras. Mad Dog terpekik, tubuhnya terdorong hingga empat langkah. Ketika pria bertubuh kecil itu memperhatikan tangannya yang terasa sakit, ia melihat tiga jari tangan kanannya telah membengkak. Sepertinya tulang ketiga jari tersebut retak akibat adu pukulan tadi.

“Sialan! Gue bales lu, rasain nih!” Seru Mad Dog sambil mendengus kesal.

“Kenapa kalian diam saja? Gue mengajak kalian kesini bukan untuk menonton pertarungan. Cepat, kalian beresin pemuda yang susah diatur itu.” Hardik Ryan yang mulai agak khawatir melihat jalannya pertarungan sejauh ini.

Kedua pemuda lainnya pun segera maju mengeroyok Bram setelah mendengar perintah dari Ryan. Mereka langsung menyerang dengan jurus-jurus andalannya. Tanpa memberi jeda waktu untuk Bram menarik nafas ketiganya terus menggempur dengan serangan kombinasi yang mematikan. Namun Bram bukan lagi remaja kecil yang dulu sering di buly oleh mereka, sejauh ini pemuda itu masih mampu meredam serangan ketiganya.

Barracuda membentak buas lalu tangan kanannya dipukulkan ke arah Bram, dengan gerakan yang cepat pemuda itu segera mengelakan serangan tersebut. Angin pukulan yang dilancarkan Barracuda terasa menyambar wajah pemuda berjuluk Lone Wolf itu. Sedikit saja pemuda itu terlambat, pukulan tadi pasti akan mendarat telak di wajahnya.

Wuusshh!

Sekelebat pukulan datang lagi menyapu dengan ganas dari arah lainnya tertuju pada tubuh pemuda tersebut. Kembali Lone Wolf menghindari serangan tersebut, kali ini ia lakukan sambil melompat menjauhi para pengeroyoknya.

Ketiga pemuda yang mengeroyok Bram segera memburunya, mereka tidak memberi kesempatan sedetikpun buat pemuda itu mengambil nafas. Menghadapi tiga orang lawannya sekaligus membuat Bram kewalahan, dia harus bertindak cepat dan hati-hati. Sekali salah gerakan maka tak ampun lagi serangan lawan pasti akan mencelakakannya, bahkan mungkin bisa membunuhnya!

Serangan yang dilakukan ketiga pembunuh bayaran itu semakin ganas hingga walaupun Bram sudah bertahan mati-matian akhirnya pemuda itupun tampak mulai terdesak. Dua kali pemuda itu terpaksa menerima pukulan yang cukup keras bersarang di tubuhnya. Gerakan Bram mulai terlihat terhuyung-huyung, keningnya mengerenyit menandakan dia tengah menahan rasa sakit. Jika dirinya hanya terus bertahan seperti saat ini, cepat atau lambat maka tubuhnya akan menjadi bulan-bulanan bagi lawannya bahkan mungkin hingga merenggut nyawanya. Menyadari itu Bram berusaha bertahan sambil mengintai kelengahan lawan agar dapat melancarkan serangan sehingga dirinya mampu menerobos keluar dari kurungan mereka.

Pada sebuah kesempatan dengan cepat Bram melakukan tendangan sapuan sambil memutar tubuhnya ke arah tiga lawannya sekaligus, lalu disusul tendangan separuh lingkaran menggunakan kaki yang lainnya. Ketiga lawannya pun terpaksa melompat untuk menghindari serangan beruntun tersebut.

Namun Ketiga lawannya tersebut bukan orang-orang biasa, begitu melihat Bram mengambil ancang-ancang untuk melancarkan serangan lainnya, ketiganya sudah langsung bersiap dengan jurusnya masing-masing.

“Berhati-hatilah!” Ryan memberi peringatan kepada ketiga anak didiknya.

Mendengar Ryan khawatir, Bram tertawa mengejek. “Sepertinya kalian bertiga tidak pantas lagi menyandang julukan yang seram-seram!”

“Baru punya kemampuan segitu sudah sombong! Hadapi pukulan ku ini!” Seru Crazy Lion sambil menghantamkan tangan kananya ke arah Bram.

Ketika pukulan tersebut tinggal sejengkal lagi dari tubuhnya, Bram segera melancarkan pukulan balasan. Tidak mau bernasib sama seperti Mad Dog sebelumnya, Crazy Lion menarik tangannya lalu merubah serangannya menggunakan kakinya yang ia arahkan ke lengan Bram. Tangan tidak akan menang melawan kaki pikir Crazy Lion.

Betapa terkejutnya Crazy Lion saat tubuhnya terpental akibat benturan kakinya dengan tinju lawan walaupun dilain pihak ia juga melihat Bram tersurut mundur. Kehebatan Bram si Lone Wolf sudah jauh diatas perkiraannya. Ia sadar kali ini mereka harus mengeluarkan seluruh kemampuannya menghadapi pemuda yang dulu menjadi bulan-bulanan pukulan mereka.

Crazy Lion segera memberi isyarat pada kedua rekannya. Ketiga pemuda itu segera mencabut senjata yang mereka bawa. Bram segera membuka jaket training yang biasa ia gunakan lalu dibebatkan pada lengan kirinya. Didahului dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menyerbu Bram secara bersamaan, Crazy Lion datang dari samping kiri membawa potongan besi panjang yang berbentuk seperti pentungan, Barracuda menyerang dari sebelah kanan dengan memegang double stick dan Mad Dog menyerbu dari depan seraya menggenggam golok panjang.

Bram segera menghantamkan pukulannya ke arah Mad Dog yang jaraknya paling dekat, namun sebelum serangannya sampai Mad Dog segera menebaskan goloknya ke arah lengan itu namun dengan cerdik Bram merubah arah serangannya. Belum sempat pukulan Bram mencapai sasarannya, serangan dari Barracuda dengan senjatanya sudah menderu ke arahnya dengan dahsyat. Segera saja pemuda itu mengibaskan pukulannya memapas serangan itu, namun disaat bersamaan itu pula angin lesatan dari senjata yang dipegang Crazy Lion memburunya dengan ganas.

Kali ini Bram salah perhitungan dan berakibat fatal untuknya. Pemuda tersebut berhasil menangkis lengan Barracuda namun ia tak sempat menghindari gerakan menusuk yang dilancarkan oleh Crazy Lion menggunakan pentungan besi, pentungan tersebut mendarat telak dirusuknya. Tubuh Bram tampak limbung, namun serangan lawan belum berhenti sampai disitu. Secara berturut-turut ketiga lawannya kembali menghujani tubuh Bram dengan pukulan serta lesatan senjata yang mereka bawa dengan ganas.

Bram berusaha sebisa mungkin melindungi tubuhnya agar tidak menjadi bulan-bulanan ketiga pengeroyoknya, ia terus bergerak kesana-kemari mencoba menghindari serangan lawan sambil coba mencari celah untuk bisa menerobos kepungan lawan. Namun rusuknya sudah terlanjur sakit. Sesaat kemudian sebuah pukulan dari Barracuda mendarat telak diwajahnya, darah mengalir keluar dari sela bibirnya. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang.

“Bagaimana sekarang?! Masih berani berlagak dihadapan kami?!” Ucap Crazy Lion.

Bram membuang ludahnya yang bercampur darah dari mulutnya ke hadapan ketiga orang itu.

“Sialan! Masih berani menantang rupanya!” Hardik Barracuda.

Tanpa mengeluarkan suara Bram langsung menyerang ke arah Mad Dog yang berdiri dihadapannya.

“Bocah tolol! Benar-benar cari mati!” Teriak Mad Dog sambil menyambut serangan Bram.

Akan tetapi Mad Dog yang jari tangannya sudah retak bukan ingin mengadu pukulan kembali dengan Bram, dengan gerakannya yang lincah tiba-tiba saja kakinya melesat ke arah pemuda berambut gondrong tersebut. Tanpa bisa mengelak menjerit panjang saat tendangan Mad Dog menghantam tepat di keningnya hingga ia terjengkang roboh.

Ryan memberi isyarat pada ketiga anak didiknya untuk segera menghabisi Bram lalu meninggalkan tempat itu. Ketiganya pun segera mendekati Bram lalu menghujani pemuda yang sudah tergeletak itu dengan tendangan serta pukulan.

(“Gue nggak boleh mati hari ini, masih ada urusan yang belum gue selesaiin.”)

Bram segera menghimpun seluruh tenaganya yang masih tersisa. Pemuda itu mencoba bangkit berdiri ditengah hujaman pukulan serta tendangan lawan. Selanjutnya ia menyeruduk kedepan guna menerobos kepungan lawan. Ketiga orang pemuda yang mengeroyoknya tidak membiarkan pemuda itu bisa melarikan diri begitu saja.

Kembali terjadi pertarungan, Bram yang sudah kepayahan mencari celah untuk dapat melarikan diri. Hingga akhirnya kesempatan itu datang, dengan sisa tenaganya ia melakukan gerakan moon kick ke arah Mad Dog. Pemuda tersebut tidak menduga Bram masih mampu menyerangnya seganas itu sehingga ia terlambat menghindar. Walau tendangan tersebut tidak mengenai sasaran secara telak namun bisa memaksa Mad Dog tersurut hingga memberi ruang bagi Bram untuk bisa melarikan diri. Pemuda itupun segera berlari menghindari pengeroyoknya dengan tubuh babak belur.

**********

Sambil meminum teh hangat yang diberikan Pak Pranoto, Ella mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam sehingga ia bisa berada di kamar ini. Di pikirannya mulai terlintas kilasan-kilasan kejadian yang agak samar, ia tidak menyangka jika semua kejadian itu benar terjadi bukan sekedar bunga tidur. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca.

“Ada apa cantik? Kenapa kamu menangis?” Ucap Pak Pranoto sambil duduk disebelah Ella lalu berusaha merangkul gadis itu.

Ella menggerakkan tubuhnya menolak pelukan Pak Pranoto di tubuhnya, Pria separuh baya itu hanya tersenyum melihat reaksi penolakan gadis itu atas apa yang dilakukannya.

“Apa yang kita lakukan semalam itu sebuah kesalahan, Om…” Suara Ella terdengar lirih.

“Kesalahan? Kalau itu kesalahan kita tidak akan melakukannya berkali-kali. Kita sama-sama memperoleh kepuasan, bahkan kamu sampai bangun kesiangan sekarang ini.”

“Tapi saat itu saya tidak sadar sepenuhnya om, saya sedang mabuk.”

“Justru di saat sedang mabuk seseorang selalu berkata sejujurnya. Kamu yang menginginkan persetubuhan semalam, kamu yang mulai menggoda om.”

Ella tidak bisa berkata apa-apa lagi, semuanya memang bermula dari dirinya sendiri. Kini ia hanya bisa menyesali keputusan yang telah diambil tadi malam. Sebuah keputusan yang berbuntut hubungan badan dengan ayah dari pemuda yang dicintainya..

“Om tahu kamu tidak ingin hal ini berlanjut, tapi lain halnya buat om. Semalam kamu telah membangkitkan lagi gairah om yang lama terpendam, dan om tidak akan munafik karena om menginginkan apa yang kita lakukan semalam terus berlanjut.”

Ella kaget mendengar kata-kata Pak Pranoto barusan. Pria yang sangat dia hormati punya pemikiran seperti itu terhadapnya. Dalam hatinya gadis itu mulai membenci pria tersebut. Ia juga membenci dirinya sendiri hingga terperosok seperti saat ini.

“Om sanggup memenuhi apapun yang kamu butuhkan selama kamu bersedia memenuhi keinginan om.”

“Om sadar apa yang om katakan barusan?” Ella memandang pria itu dengan tatapan jijik.

“Sepenuhnya… Om menginginkanmu, cantik.”

“Nggak om, cukup apa yang terjadi semalam.”

“Kamu yakin akan ucapanmu kali ini?”

**********​

POV Bimbim

Aku bergegas menuju wartel 24 jam yang tak jauh dari tempat kontrakanku. Aku harus mengabari Siska agar nanti malam kami dapat bertemu. Semalam aku sudah memikirkan kelanjutan hubunganku dengan gadis itu dan rencananya malam ini kami akan berdiskusi sebelum aku membuat keputusan. Kuhubungi operator agar mengirim pesanku pada nomor pager gadis itu. Selanjutnya aku menunggu balasan jawaban dari Siska.

Setelah menunggu cukup lama, pagerku pun berbunyi. Kubaca pesan singkat di pager lalu kembali menghubungi operator untuk mengetahui jawaban dari Siska. Setelah kami selesai berkomunikasi dengan cara yang cukup rumit itu aku kembali ke kontrakanku.

Saat sampai di kontrakkan, aku hanya melihat Guntur sedang duduk sambil mendengarkan radio ditemani secangkir kopi.

“Jati kemana Gun?”

“Nyari sarapan.”

“Yah, udah gue beliin nasi uduk padahal.”

“Santai saja ada gue, masih banyak ruang kosong kok di perut gue.”

“N’tar malem lu belum ada rencana pergi keluar kan?”

“Belum ada sih Bim, emangnya kenapa?”

“Temenin gue nemuin Siska yuk.”

“Ngapain gue nemenin orang pacaran?”

“N’tar elu bantuin gue jelasin ke Siska apa yang elu omongin kemarin.”

“Emangnya elu nggak bisa ngomong sendiri?” Guntur memandangku dengan tatapan serius, sepertinya ia sedang coba menebak isi pikiranku.

“Biar nggak salah paham… Elu kan bisa lebih detail jelasin ke dia tentang dugaan lu terhadap dirinya. Kalau gue yang ngomong takut ada yang kelewatan terus jadi salah paham.”

Guntur tersenyum lalu sesaat menyeruput kopinya sebelum melanjutkan obrolan.

“Elu sudah bisa nebak hubungan kami?” Ucapnya dengan santai.

“Gue belajar banyak dari elu, Gun. Kata-kata lu kemarin membuat gue berpikir sebenernya ada hubungan khusus di antara kalian.”

Setelah pembicaraan kami kemarin lalu kupikirkan semua ucapan Guntur, aku menduga jika sebenarnya Guntur dan Siska sudah saling mengenal. Namun aku belum tahu seperti apa hubungan mereka yang sebenarnya. Aku harus mengetahuinya malam ini juga sebelum aku membuat keputusan.

“Jangan diomongin disini, setelah sarapan kita cari tempat buat ngobrol.”

“Apa yang mau kalian omongin? Pake main rahasia-rahasiaan segala dari gue…” Ucap Jati yang tiba-tiba muncul di pintu kontrakan.

“Eh, elu sudah sampe. Bawa apaan tuh Je?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Nggak usah ngalihin pembicaraan, Bim. Apa gue bukan lagi sahabat kalian sampe pake rahasia-rahasiaan segala.”

“Sabar Je, Bimbim cuma mau curhat ke gue soal hubungannya sama Siska. Kan nggak enak kalo ngomongin masalah pacaran sama banyak orang.”

Jati memandangi kami satu per satu penuh selidik.

“Awas kalo ternyata kalo elu bohong! Nih gue bawain nasi uduk buat kita sarapan…”

“Jiah, nasi uduk lagi…..” Ucapku dan Guntur bersamaan.

**********​

3rd POV

Siang itu 2 orang gadis remaja berjalan beriringan dibawah teriknya matahari. Kedua wajah mereka terlihat sangat mirip, sekilas sangat sulit dibedakan bahkan warna kulitnya pun hampir sama. Mungkin hanya tinggi badan yang terpaut hanya sekitar 5 cm yang bisa sedikit membedakan mereka secara sekilas.

Tidak biasanya mereka berjalan pulang dari sekolah berjalan kaki seperti saat ini. Setiap harinya selalu ada saja siswa pria disekolahnya yang menawarkan untuk mengantar mereka pulang, namun keduanya selalu menolak secara halus ajakan tersebut. Kedua gadis itu lebih memilih pulang dengan angkutan umum, namun hari ini mereka memilih untuk berjalan kaki. Entah apa yang mendasari pilihan mereka kali ini.

“Win, kira-kira kenapa yah kak Ella nggak pulang semalam?” Ucap Windi si kembar yang lebih tinggi.

“Mungkin lagi ada acara sama temen-temennya terus takut pulang karena kemaleman.” Jawab Wanda si kembar yang berumur 5 menit lebih tua.

“Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa sama kak Ella…. Eh, kita lewat jalan itu yuk.” Lanjut Windi.

Wanda tampak menimbang-nimbang sejenak, diperhatikannya situasi jalan yang ditunjuk Windi, jalan tersebut terlihat sepi namun terlihat sejuk karena banyaknya pohon yang rimbun di sepanjang jalan itu. Dibandingkan harus memotong jalan namun melewati lapangan luas yang gersang sepertinya ajakan adik kembarnya itu lebih menarik.

“Yuk Win… “

Keduanya berjalan melalui jalan yang tampak sejuk tersebut. Di tengah perjalanan mereka tiba-tiba saja mereka mendengar suara ribut-ribut seperti orang sedang berkelahi terjadi tak jauh dari mereka. Keduanya bergegas mendekati lokasi itu dengan hati-hati.

Dihadapan mereka tampak 3 orang pemuda dengan membawa senjata masing-masing sedang mengeroyok seorang pemuda yang tidak memegang senjata apapun ditangannya. Pemuda tersebut tampak kepayahan menghadapi lawan-lawannya, tak jarang tubuhnya terpaksa menerima hantaman pukulan, tendangan serta serangan senjata lawannya. Namun hebatnya pemuda itu masih mampu bertahan.

“Ada yang liat, cepet kabur! Lain kali elu nggak akan lolos Bram…” Tiba-tiba dari tempat berbeda terdengar suara dari pria yang sepertinya dari tadi terus memperhatikan pertarungan mereka.

Pria tersebut memberi kode pada 3 orang pemuda pengeroyok agar segera meninggalkan lokasi itu. Sepeninggal keempat orang tersebut, pemuda yang tadi di panggil Bram tampak terhuyung-huyung berjalan ke suatu tempat namun baru beberapa langkah saja tubuhnya sudah ambruk. Pemuda itu sudah tidak sanggup lagi berjalan.

“Win, kamu berani nggak nyamperin dia?” Tanya Wanda.

“Aku takut Wan, kamu aja yang nyamperin.” Jawab Windi.

“Kita sama-sama aja kalo gitu, aku juga takut…”

“Kalo takut kita biarin aja disitu….”

“Nggak bisa gitu Win, biar gimanapun juga sepertinya dia perlu pertolongan kita.”

Akhirnya setelah sejenak berargumen keduanya mendekati tubuh Bram.

“To-long-in gu-e….” Bram dengan susah payah mengucapkan kata-kata tersebut.

Seumur hidupnya setelah ibunya meninggal ia tidak pernah lagi mengucapkan kata-kata itu, bahkan ketika dulu ia di buly kata-kata tersebut tidak meluncur dari mulutnya. Namun situasi saat ini berbeda, pemuda itu belum mau hidupnya berakhir hari ini akan tetapi ia sudah tidak memiliki daya apa-apa lagi untuk bertahan hidup. Kemunculan 2 orang gadis yang tak dikenalnya serta telah membuat nyawanya terselamatkan memberinya setitik harapan.

Dengan susah payah kedua gadis itu membantu Bram untuk berdiri kembali.

“Kakak masih bisa jalan, kita nggak kuat kalo harus bawa kakak sampai rumah.”

“I-yah gu-e ma-sih bi-sa ja-lan…”

“Wan kenapa harus dibawa sampe rumah?” Tanya Windi.

“Kalau cuma kita anter sampai sekitar sini terus orang-orang yang tadi balik lagi, pasti kakak ini digebukin lagi.”

Bram berusaha berjalan pelan-pelan sambil dibantu kedua gadis itu hingga rumah mereka. Sesampainya dirumah mereka pemuda itu diminta untuk rebahan di sofa ruang tamu. Kedua gadis itu segera membagi-bagi tugas untuk menyiapkan keperluan pengobatan sementara pemuda itu. Dengan telaten keduanya mengobati luka-luka di tubuh pemuda yang baru pertama kali mereka lihat.

“Trima kasih… “ Ucap Bram.

“Luka kakak cukup parah, aku panggilin dokter yah.” Tawar Wanda.

“Jangan. Gue cuman butuh istirahat, nanti kalo badan gue udah enakan gue langsung pergi. Nggak usah ngerepotin kalian lagi.”

“Kalo gitu tidur di kamar belakang aja kak, biar istirahatnya lebih enak.” Tambah Windi.

Bram segera menuju kamar itu diantar Wanda dan Windi, langkahnya masih tertatih-tatih. Sekilas pemuda itu memperhatikan isi ruangan tersebut, banyak tumpukan barang-barang bekas yang tersusun rapi di kamar itu. Selain itu ada sebuah tempat tidur kecil dengan kasur yang tergulung diatasnya. Sepertinya ruangan itu memang dulunya sebuah kamar namun sudah lama tak terpakai sehingga jadi tempat menyimpan barang-barang bekas. Wanda segera merapikan tempat tidur agar bisa digunakan oleh Bram.

Setelah melihat Bram memejamkan matanya kedua gadis itu meninggalkan kamar tersebut.

“Win kamu ke tempat mama gih, kasih tahu ada yang luka di rumah. Biar aku yang jagain rumah.”

Windi memincingkan matanya memperhatikan kakak kembarnya tersebut.

“Kenapa nggak kamu aja yang nyamperin mamah, jangan-jangan…..” Ucap Windi sambil tersenyum jahil.

“Apaan sih Win, orang tampangnya aja serem gitu.” Tanpa disadari Wanda wajahnya memerah saat digoda oleh adik kembarnya.

“Serem kan kalo dilat sama mata, tapi kalo dilihat sama hati….. Mukanya aja sampe merah gitu, pantesan aja tadi ngotot pingin nolongin.” Windi kembali menggoda kakaknya. “Tapi kalo di perhatiin kayanya OK juga, badannya aja keliatan keker gitu. Mungkin kalo mukanya nggak babak belur kaya sekarang terus penampilannya dirapihin, Kak Joe gebetannya Kak Ella juga lewat gantengnya.”

“Iya, lewat terus sampe ketabrak truk… ancur jadinya. Udah sana samperin mamah.”

Windi hanya cekikikan melihat perubahan wajah kembarannya yang berusaha menutupi perasaan hatinya.

**********​

POV Joe

Perasaanku sungguh tidak enak sejak kemarin. Dengan egoisnya demi kepentinganku sendiri aku membuat kebohongan terhadap temanku sendiri. Kemarin dihadapan banyak orang aku minta Bimbim untuk mendekati Ella dengan alasan hal itu atas permintaan ayahnya Grace agar Bimbim menjauh dari Grace dan mereka percaya begitu saja. Padahal kalau mereka mau berpikir sedikit tentu saja akan timbul pertanyaan darimana ayahnya Grace tahu kalau Bimbim termasuk anggota dari kelompok yang akan kerjasama dengan mereka… Tahu dari mana ayahnya Grace kalau Bimbim kenal sama Ella…

(“Maafin gue Bim, tapi gue nggak mau kehilangan Grace lagi. Elu bisa ngomong nggak akan ngerebut Grace dari gue, tapi selama ini elu berani deketin dia walaupun tahu Grace itu pacar gue. Kali ini gue nggak akan biarin elu deket-deket cewek gue lagi.”)

Memang deketin Bimbim sama Ella bukan ide dariku. Awalnya itu idenya Grace, dia pernah ngomongin kemungkinan itu sebelumnya. Tapi kebohongan kemarin adalah akal-akalanku, apalagi semenjak Grace cerita kalau Bimbim pernah bercanda ngomong kalau dia adalah teman masa lalunya Grace. Aku akui hal itu membuatku takut jika hal itu adalah kenyataan yang sebenarnya, terlepas akhirnya mereka akhirnya pisah namun itu tetap jadi beban pikiranku. Mudah-mudahan saja Bimbim dan kelompoknya benar-benar tidak menyadari kebohonganku itu.

TINGG!!!

Pintu lift dihadapanku terbuka dan membuyarkan lamunanku baru saja. Namun begitu aku melihat 2 orang yang baru saja keluar dari lift apartemen betapa terkejutnya diriku.

(“Papah…!!! Ella…!!!”)

Kedua orang dihadapanku sama terkejutnya seperti diriku, seketika itu juga Ella langsung menundukkan wajahnya tak berani menatapku. Ayahku terlihat tergagap namun tidak ada satu patah katapun yang terucap dari mulutnya. Tiba-tiba saja dihatiku timbul kebencian terhadap mereka berdua. Aku tak perlu melihat langsung apa yang sudah mereka lakukan di tempat ini, tapi aku sudah bisa menduganya!!!

Aku segera melupakan tujuanku datang ke tempat ini, segera kuputar tubuhku lalu berjalan cepat meninggalkan mereka. Tak ku hiraukan suara ayahku yang akhirnya bisa terucap dari mulutnya memanggil namaku berulang kali.

Ditengah kalutnya pikiranku kukemudikan kendaraanku membelah padatnya kota ini, aku tak tahu kemana arah tujuan yang ingin dicapai, aku tak perduli, aku hanya ingin secepatnya menjauh dari mereka dan untuk sementara waktu tidak mau melihat wajah mereka.

(“Kenapa Pah?… Gue benci elu La!!!”)

**********​

3rd POV

Windi beserta ibunya segera masuk kerumah lalu berjalan ke arah kamar belakang.

“Gimana kondisinya Wan?” Tanya Sang ibu.

“Dia masih tertidur mah…”

Sang ibu yang sehari-harinya bekerja sebagai perawat di klinik yang lokasinya tak jauh dari rumah segera mendekati Bram dan memeriksa kondisi pemuda itu, sementara itu didepan kamar Windi mendekati Wanda bermaksud menjahilinya kembali.

“Wan, udah berapa kali kamu bolak-balik ke kamar ini sampai jejak kakimu nyeplak di lantai.”

Wanda memeriksa seluruh permukaan lantai, ia tidak menemukan jejak kaki yang dimaksud Windi.

“Mana? Nggak ada ceplakan kakiku…”

“Hihihihihi….. Tapi benerkan kamu bolak balik kemari, buktinya panik gitu takut ketauan.”

Wanda baru sadar kalau kembarannya itu sedang menjahilinya, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak tadi dia memang bolak-balik untuk melihat kondisi Bram. Wajah cantiknya kembali memerah.

Tak lama kemudian ibu kedua gadis itu keluar dari kamar belakang lalu menghampiri keduanya.

“Gimana mah…” Ucap kedua gadis itu berbarengan, keduanya lalu saling berpandangan.

Sang Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kedua putri kembarnya. “Luka-lukanya memang cukup parah, tapi pertolongan pertama yang kalian berikan sangat baik. Nggak percuma mamah ngajarin kalian selama ini. Ngomong-ngomong kalian sudah lapor Pak RT?”

Kedua gadis itu hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari ibunya.

“Kenapa nggak lapor? Kalau ada apa-apa gimana?”

“Jangan mah kasian, sepertinya kakak itu preman jalanan tapi keliatannya sebenernya dia orang baik. Nanti kalo ditangkep polisi gimana.” Ucap Wanda.

“Iya mah kasian, kakak itu juga janji kok kalo udah baikan dia mau langsung pergi.” Tambah Windi.

Sang ibu memperhatikan kedua putrinya tersebut, sebagai ibu kandung mereka ia mengerti apa yang sedang mereka rasakan.

“Memangnya kalian nggak keberatan kalo kakak itu langsung pulang nanti?”

Kedua gadis itu langsung salah tingkah.

“Aduh anak mamah udah pada gede-gede sekarang, mesti diawasin bener-bener. Mamah nggak keberatan kalian bergaul sama siapa saja tapi kalian mesti hati-hati. Kan kalian sudah bisa nebak kalau yang kalian tolong itu preman.”

“Tapi kan mamah sama papah yang ngajarin supaya kita ikhlas nolongin orang siapapun dia…” Ucap Wanda.

“Bener, tapi kan juga harus lihat-lihat dulu siapa yang ditolong, kalau ternyata dia nyelakain kita gimana?”

Kedua gadis itu hanya terdiam mendengar nasehat ibunya.

“Ya sudah, untuk lain kali kalian harus hati-hati yah walaupun maksud kalian itu baik.”

“Iya mah….” Jawab keduanya bersamaan.

“Kakak kalian belum pulang?”

“Belum mah, mungkin langsung ke tempat kerjaannya seperti biasa.”

“Tapi kan dia belum pulang dari kemarin, apa nggak ganti baju?” Sang ibu terlihat khawatir.

Tiba-tiba dari arah kamar belakang terlihat pemuda yang ditolong kedua anaknya berjalan dengan tertatih-tatih.

“Eh jangan jalan-jalan dulu mas nanti lukanya bisa kebuka lagi.” Ucap Sang Ibu.

“Saya sudah baikan Bu… Terima kasih untuk pertolongannya, saya mau langsung pergi seperti janji saya pada anak-anak ibu.”

“Tapi lukamu belum sembuh benar, kamu masih perlu perawatan… Siapa nama kamu?”

“Nama saya Bram bu, tapi saya nggak mau membuat ibu khawatir dengan keselamatan dari putri-putri ibu dengan adanya saya disini.”

Sang ibu mulai bisa merasakan apa yang dirasakan kedua anak gadisnya. Ia merasa Bram pada dasarnya pemuda yang baik hanya mungkin salah bergaul atau lingkungan sekitarnya yang telah membuat pemuda itu terlihat liar.

Disisi lain percakapan singkat dengan wanita dihadapannya membuat Bram teringat kembali pada ibunya. Ia merasa sangat diperhatikan dengan tulus dan penuh kasih sayang, masa-masa indah yang sebenarnya sangat dirindukannya.

“Sudah kamu jangan bandel, selama dirumah ini kamu anaknya ibu. Kamu harus denger kata-kata ibu.”

Bram terkejut mendengar ucapan wanita itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada orang yang menganggapnya seorang anak. Tanpa disadari ia mau menuruti kata-kata wanita tersebut, padahal selama ini tidak ada seorangpun yang bisa membuatnya menuruti kata-katanya kecuali permintaan itu sejalan dengan pikirannya.

“I-iya bu…”

“Kalau kamu perlu apa-apa tinggal panggil saja adik-adik mu. Yang ini namanya Wanda yang satunya lagi namanya Windi. Sekarang kamu balik ke kamar.”

(“Adik…. Sekarang aku punya adik???”) Dalam hatinya Bram sangat terharu, hanya karena tempaan Ryan yang membuatnya jadi keras hati sehingga tidak sampai menitikkan air mata saat ini.

“Ba-baik mah…”

Kata-kata tadi meluncur begitu saja dari mulut Bram. Pemuda itu berjalan kembali menuju kamar dengan tertatih-tatih.

“Wanda bantu kak….”

“Windi bantuin kak…”

Kedua gadis itu berjalan mendekati Bram lalu membantu pemuda itu berjalan, didalam hati mereka ada rasa haru bercampur suka cita. Kata-kata ibunya menyadarkan keduanya. Mereka bukan jatuh cinta pada pemuda tersebut, mereka merindukan sosok kakak laki-laki yang tidak mereka miliki. Maka ketika ibunya menyuruh Bram menganggap mereka sebagai adiknya, hati mereka sangat bahagia bercampur haru. Sekarang mereka punya kakak laki-laki. Kedua gadis itupun menuntun Bram hingga kembali rebahan di kamar belakang.

“Makasih yah…. Adek-adekku.”

“Iyah Kak…” Jawab keduanya bersamaan.

Setelah keduanya meninggalkan dirinya, Bram memperhatikan kembali sekeliling kamar tersebut, tadi ia hanya melihat sekilas. Kali ini ia memperhatikan kamar itu layaknya orang yang pertama kali masuk rumah yang baru saja ia tempati. Pemuda itu memperhatikan betul tiap sudut kamar dengan hati yang penuh kebahagiaan, hingga pandangannya terbentur pada sebuah foto keluarga yang tergantung pada dinding salah satu sisi kamar itu. Seorang pria berdiri disebelah wanita yang tadi berbicara dengannya, keduanya diapit oleh tiga orang gadis cantik, dua diantaranya adalah gadis-gadis yang telah menyelamatkan nyawanya. Namun kali ini matanya tertuju tajam pada sosok pria itu. Ia tak akan melupakan sosok pria tersebut.

Dalam hatinya Bram menjerit….

(“Tidak….. Jangan….. Pria itu bukan bagian dari keluarga ini.”)

Bersambung

END – Young and Wild and Free Part 19 | Young and Wild and Free Part 19 – END

(Young and Wild and Free Part 18)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 20)