Young and Wild and Free Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 18

Start Young and Wild and Free Part 18 | Young and Wild and Free Part 18 Start

BAGIAN 18

THE DEVIL INSIDE​

POV Ella

Seperti biasanya sepulang sekolah aku langsung lanjut magang di kantor ayahnya Joe, aku ditempatkan di bagian sekertariat direksi membantu para sekertaris menyiapkan segala keperluan para direksi di perusahaan ini. Cukup melelahkan, namun banyak pengalaman yan kuterima saat magang tersebut.

“La, nanti malam kamu temenin aku yah…” Ucap Sinta, sekertaris Pak Pranoto.

“Temenin kemana, mbak?”

“Pak Pranoto ada meeting sama klien, lokasinya di klub malam. Aku takut karna cewek sendirian disana, biasanya kalau meeting ditempat gitu aku ngajak sekertaris yang lain cuma hari ini pada nggak bisa nemenin aku. Aku kan nggak mungkin nolak Pak Pranoto.”

“Aku disana nanti ngapain mbak?”

“Kamu belum pernah ke klub malam?”

Aku menggelengkan kepalaku tanda mengiyakan pertanyaan Sinta.

“Yah, kamu duduk-duduk manis saja disana kalau gitu. Yang penting kamu temenin aku, please…..”

“Gimana ya, mbak…” Aku bingung harus menyanggupi permintaan Sinta atau menolaknya.

“Nanti dihitung lembur, aku tambahin deh. Mau yah, please……” Sinta kembali memohon padaku.

Kutatap wanita berusia sekitar akhir 20-an itu, sepertinya dia memang sebenarnya enggan datang ketempat itu namun terpaksa karena tuntutan pekerjaan. Aku merasa tidak enak menolak permintaannya karena selama ini Sinta banyak mengajariku mengenai apa yang harus kukerjakan hingga akhirnya akupun menyanggupi permintaannya.

“Makasih yah La, kamu sudah makan? Aku traktir deh.”

“Hmm, giliran ada maunya aja baik bener.” Godaku.

Kamipun berjalan menuju cafetaria yang berada di bagian belakang gedung kantor tersebut. Kami bercakap-cakap sambil menyantap makanan siang itu.

“Kok aneh yah mbak, meeting urusan kantor kok di tempat kayak gitu.”

“Sebenernya bukan meeting seperti yang kamu bayangkan, lebih tepatnya ngelobi client penting. Permintaan client itu macem-macem, kadang untuk ‘deal-nya’ suatu kontrak musti dilakukan ditempat seperti itu bahkan nggak jarang sampai ketempat tidur.”

“HAAHH!?!? Jadi nanti kita…..”

“Nggak, bukan gayanya bos kita kalau sampai kesitu. Paling nemenin minum-minum aja, Pak Pranoto nggak akan biarin rekannya minta service terlalu jauh. Dia selalu ngelindungin karyawannya dari hal-hal yang kaya begitu.”

“Tapi aku nggak biasa minum minuman beralkohol, pernah nyobain tapi nggak suka terus nggak pernah lagi.”

“Santai aja, La. Nanti kamu minum softdrink aja, yang nemenin mereka minum-minum biar aku aja. Itu makanya aku butuh ditemenin, kalau aku sampai mabuk berat kamu bisa nemenin sekaligus jagain aku. Kalau nggak ada temen cewek repot, aku butuh ke toilet nggak ada yang nganter. Kan nggak mungkin Pak Pranoto nemenin aku ke toilet.”

“Memangnya kalau mabuk nggak kuat jalan ke toilet sendiri?”

“Bukan begitu, nanti kalo ada orang iseng yang ngambil kesempatan gimana? Namanya lagi mabok pasti nggak sadar diapa-apain. Yah mudah-mudahan sih malem ini nggak sampai mabuk berat, tapi kan aku tetep harus jaga-jaga.”

“Oooh gitu, kalau gitu aku temenin deh mbak. Nanti kalau mbak kenapa-napa nggak ada lagi yang sesabar mbak ngebimbing aku disini.”

“Nah itu ngerti.”

Kami melanjutkan acara makan siang, setelah menghabiskan makan siang aku dan Sinta kembali ke ruangan kami. Saat sedang menyiapkan berkas-berkas untuk keperluan meeting nanti malam, seorang pria berusia pertengahan 40-an menghampiri kami.

“Siang, Pak…” Aku dan Sinta memberi salam bersamaan.

“Siang…. Sin, sudah kamu siapkan kontrak untuk nanti malam?”

“Tinggal sedikit lagi, Pak. Masih saya siapkan.”

“Sudah dapat orang yang bisa nemenin kamu?”

“Ini Pak, Ella. Nanti malam dia yang nemenin saya, yang lain sedang tidak bisa nemenin saya hari ini.”

Pak Pranoto memandang ke arahku, degh!!! Entah kenapa ada perasaan berbeda yang kurasakan saat ini. Tentu saja ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya, namun melihat pria itu saat ini tiba-tiba saja aku teringat pada Joe. Wajah mereka memang sangat mirip, bahkan cara berbicara dan gestur tubuhnya pun hampir sama. Walau usianya hampir menyentuh setengah abad, namun harus kuakui ayah dari Joe ini masih terlihat tampan bahkan memiliki nilai lebih karena terlihat lebih dewasa dan berwibawa.

(“Stop Ella! Elu musti sadar siapa yang ada dihadapan lu. Jangan terlalu terpesona dengannya, ia lebih pantas menjadi orang tua lu. Elu hanya teringat sama Joe, jadi hentikan tatapan lu itu…”)

“Kamu nggak apa-apa nemenin Sinta sampai malam?” Tanya Pak Pranoto.

(“Suara itu….. Joe, gue kangen sama elu.”)

“La… Ella, kamu kenapa La? Bos nanya kamu tuh…”

“Eh, iya… nggapapa kok, Pak.” Jawabku saat tersadar dari lamunanku.

“Kamu baik-baik saja kan, La. Kamu yakin mau nemenin Sinta? Besok nggak takut terlambat sekolah?”

“Nggapapa Pak, kasian mbak Sinta nggak ada yang nemenin.”

“Ya sudah kalau begitu.” Ucap Pak Pranoto sambil memandangiku.

Sejenak kemudian Pak Pranoto meninggalkan kami. Aku masih sempat memperhatikannya dari posisiku saat ini.

(“Ada apa dengan gue hari ini, kenapa bisa kaya gini liat Pak Pranoto.”)

**********​

3rd POV

“Apa yang elu ucapin bisa jadi bener, Je… Gimana menurut lu, Bim?” Ucap Bang Riko.

“Gue juga sempet mikir kesana, cuma kayanya hal itu nggak mungkin kecuali Fredy pernah operasi wajah karena Bram pasti akan ngenalin pembunuh ayahnya karena dia liat sendiri pembunuhan itu. Apa Fredy pernah operasi wajah, Bang?” Bimbim balik bertanya pada Bang Riko untuk memastikan pendapatnya.

“Nggak pernah… Je, kayanya elu masih perlu banyak belajar lagi dari Guntur dan Bimbim. Tapi bagus Je, elu sudah ada kemajuan. Lama-lama juga entar elu ketularan pinter.” Jawab Bang Riko.

“Iya bener Je…. tapi masih lama, lamaaaaa banget.” Timpal Guntur menggoda Jati.

“Sialan lu Gun, kalo menurut lu sendiri gimana?”

“Iya Gun, kalau menurut lu gimana?” Kali ini Riko minta pendapat Guntur.

“Pendapat Jati nggak sepenuhnya salah, kalau lihat orang-orang yang terlibat di dalamnya memang sepertinya Fredy ada kaitannya tapi bukan dia rekan bisnis bokapnya Bram. Selain alasan yang diungkapin Bimbim tadi, ada alasan lain lagi.

Selama kita gabung disini gue belum pernah liat Fredy turun langsung nyelesaiin masalah. Mulai dari nyuruh kita ngambil kokain di dermaga, nyingkirin Paman Rojak, sampai dukung Burhan jadi ketua cabang, semuanya dia lakukan dari balik layar. Konfrontasi sama kita saja sampai saat ini dia lakukan secara tertutup, Fredy selalu pinjem tangan orang lain untuk melakukan hal itu, jadi seandainya Fredy itu rekan bisnis bokapnya Bram dia juga hanya akan nyuruh orang dan lain dan nggak akan nemuin langsung bahkan ngebunuh bokapnya Bram dengan tangannya sendiri.”

“Kalau gitu darimana Fredy bisa tahu siapa saja orang-orang yang ngebunuh orangtuanya Bram?” Tanya Jati.

“Kejadian pembunuhan bokap dan nyokapnya Bram adalah 2 kejadian yang berbeda, ada jarak waktu yang cukup jauh diantara keduanya. Jadi menurut gue ada orang lain yang tahu semua kejadian itu walaupun dia tidak terlibat didalamnya, orang itulah yang kasih info ke Fredy dan orang itu tahu langsung informasi itu dari Bram.”

“Siapa orang itu Gun?” Bang Riko kembali penasaran dengan analisa Guntur.

“Gue perlu dapet jawaban dari Bang Riko dulu untuk mastiin dugaan gue…. Abang tahu latar belakangnya Ryan?”

“Apa hubungannya sama Ryan? Gue nggak terlalu tahu sih, tapi setahu gue dia temen sekolahnya Fredy.”

“Nanti gue jelasin hubungannya sama Ryan, gue justru menduga kalau Bram justru ngikutin kata-kata dari Ryan, bukannya Fredy. Apa dia pernah masuk penjara?”

“Iya bener, gue tahu karna gue pernah disuruh Fredy jemput dia waktu baru keluar dari penjara di luar kota. Nggak tahu cuma kebetulan atau bukan, dia di penjara di pinggiran kota daerah asalnya Bimbim.”

“Apa dia juga sebelumnya pernah bekerja di tempat penampungan anak nakal di kota ini?” tanya Guntur lebih lanjut.

“Iya bener, Ryan pernah cerita soal itu, dari mana elu bisa nebak kaya gitu Gun.”

“Sepertinya dugaan gue bener lagi. Seperti yang gue bilang tadi, Bram sebenernya lebih ngikutin omongannya Ryan.”

“Tapi Bram sendiri yang bilang ke gue apa yang dia lakuin adalah kesepakatannya dengan Fredy.” Bimbim mencoba menyanggah.

“Bener, tapi tindakan itu didasari atas rasa respect atau hutang budi dia pada Ryan. Elu kan pernah cerita ke kita mengenai masa lalunya Bram, dia pernah di buly di penampungan anak nakal lalu kabur dari sana sampai akhirnya ketemu sama elu.

Elu bisa bayangin anak yang baru saja menginjak remaja terus-terusan di buly tiba-tiba saja berani melarikan diri dari neraka anak-anak itu. Gue nggak yakin kalau dia ngelakuin hal itu sendirian. Elu juga cerita kalau Bram mulai belajar bela diri di tempat itu.”

“Jadi maksud elu, Ryan adalah orang yang sudah bantuin Bram melarikan diri dan sekaligus ngajarin dia bela diri.”

“Begitulah, dan itu membuat dia merasa hutang budi sama Ryan. Alasan ini lebih masuk akal dibanding alasan yang selama ini kita tahu. Kalau cuma berdasarkan kesepakatan karena Fredy punya info siapa orang-orang yang terlibat, akan terasa janggal jika Bram langsung menyetujuinya. Dia bisa cari sendiri orang-orang yang membunuh orang tuanya tanpa perlu informasi dari orang lain. Bukankah dia punya julukan ‘Lone Wolf’, dia biasa bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain.”

“Ini lebih masuk akal, karena Bram pasti pernah cerita ke Ryan mengenai apa yang terjadi pada orangtuanya.” Potong Bimbim.

“Bener Bim, ketika itu Bram nganggep Ryan sebagai satu-satunya orang yang bisa dipercaya. Sebagai anak yang baru tumbuh menjadi remaja dia perlu orang yang bisa dia percaya sebagai tempat curhat.” Tambah Guntur.

“Lalu mereka dipertemukan kembali di penjara beberapa tahun kemudian… Tapi kok bisa kebetulan gitu yah?” Kali ini Jati yang angkat bicara.

“Bukan kebetulan Je, tapi sudah direncanakan.”

“Maksud lu Gun?” Tanya Riko penasaran.

“Fredy dan Ryan sudah berteman sejak lama, Fredy mempunyai gagasan untuk membentuk sebuah pasukan pembunuh bayaran yang dia rintis semenjak mereka masih remaja. Ryan yang bertugas mencari calon mesin pembunuh itu lalu melatihnya secara tidak disadari orang lain. Ketika Bram masuk tempat penampungan itu Ryan ngelihat potensi yang besar dalam diri anak itu. Ryan mulai membentuk Bram menjadi mesin pembunuh yang brutal, secara diam-diam dia membekali Bram dengan banyak hal tapi dia juga membentuk remaja itu menjadi seorang penyendiri. Karakter dengan tipikal seperti ini cocok untuk seorang calon pembunuh bayaran.

Namun sedikit di luar perkiraannya, Bram punya sifat suka membangkang. Gue menduga kalau sebenernya Ryan nyuruh Bram untuk kabur ke tempat temennya, yang tak lain adalah Fredy. Tapi Bram justru kabur keluar kota, hingga akhirnya ketemu Bimbim. Itu kenapa diawal-awal perkenalannya dengan Bimbim, Bram terlihat seperti seorang remaja yang dingin. Namun perlahan sifat itu berubah karena akhirnya dia punya sahabat, yaitu elu Bim. Artinya pada masa itu Bram mulai kembali ke sifat aslinya seperti ketika dia masih kecil walaupun tidak bisa menghilangkan sifat liar dan brutalnya yang sudah dibentuk oleh Ryan. Bahkan dia mulai kembali mengenal rasa sayang, makanya dia sempet punya pacar.

Tapi tentu saja Fredy dan Ryan nggak mau ngelepas gitu saja anak hasil didikannya, sampai akhirnya mereka berhasil menemukan keberadaan Bram. Ryan bermaksud menarik Bram kembali tapi pemuda itu sudah berubah, juga ada yang menghalanginya untuk membawa pemuda itu kembali. Bimbim sebagai sahabat yang mengajarkan arti pertemanan dan Niken, pacarnya yang membuat dia mengerti rasa sayang.”

“Jadi keduanya harus disingkirin…. Itu kenapa Niken sampai terbunuh dan Grace diculik, semuanya itu rencana dari Ryan. GILAAA!!!!” Bimbim tidak bisa menahan emosinya.

“Bukan rencana Ryan, tapi Fredy. Dia dibalik semuanya. Seperti gue bilang tadi Ryan cuma nemuin potensi Bram lalu melatihnya, dibalik itu semua adalah rencananya Fredy. Coba elu pikir mana mungkin seorang pemuda yang baru sekitar setahun keluar penjara langsung punya nama sebagai pembunuh bayaran kelas wahid. Semuanya itu settingan dari Fredy. Gue bukannya menyangsikan kemampuan Bram untuk bisa punya reputasi seperti itu, tapi semuanya itu perlu proses yang memakan waktu, tidak akan secepat itu dia punya nama.”

“Yah, walaupun Fredy yang merencanakan semua tapi Bram yang dasarnya punya sifat pembangkang nggak mau gitu saja diatur oleh Fredy, kecuali ada Ryan yang dianggap pemuda itu berjasa.” Ucap Riko membuat kesimpulan.

“Maap otak gue belum nyampe, apa hubungannya sama terbunuhnya Niken dan diculiknya Grace.” Ucap Jati dengan wajah tanpa ekspresi karena bingung akan penjelasan Guntur.

“Bener kata Bang Riko, elu musti belajar yang lamaaaaaaaa baru bisa kaya Guntur.” Ledek Bimbim.

“Udah jangan diledekin terus Bim. Gini Je, omongan gue sampai Ryan nyari Bram ngerti?”

Jati mengangguk.

“Nah jadi Fredy melalui Ryan kembali deketin Bram, tapi pemuda itu tidak mau gitu saja ngikutin Ryan karena sudah merasa terikat dengan Bimbim dan Niken. Sepertinya diapun sudah mulai melupakan masa lalunya. Maka disetinglah kematian Niken yang seolah-olah disebabkan karena kesalahan Bimbim, hal ini akan membuat Bram berpikir ulang kembali tentang arti persahabatan. Niken sudah disingkirkan tinggal Bimbim. Ingetkan cerita Bimbim kalau masa itu Bimbim juga mulai meninggalkan kekerasan. Maka untuk mancing Bimbim, Grace diculik. Bram nggak mungkin ngelakuin itu sendirian karena dia belum pernah ngelakuin hal seperti itu sebelumnya, selain itu pada dasarnya Bram seorang anak yang polos nggak punya niat jahat pada orang lain jadi nggak mungkin kepikiran nyulik Grace untuk mancing Bimbim. Pasti hal tersebut direncanakan oleh Fredy yang kemudian menyuruh Ryan membujuk Bram agar melakukan rencana itu.”

“Oooo gitu, ngerti gue sekarang. Gitu dong kalau jelasin yang detail biar otak gue nyampe. Terus kenapa Ryan ikutan dipenjara?”

“Dia nggak mau kehilangan jejak Bram lagi jadi dia minta Fredy membuat settingan lain agar dirinya sama-sama masuk penjara dengan Bram, hal itu dilakukan juga dengan tujuan agar dia kembali mendekati Bram lalu ‘mencuci’ otaknya kembali.”

“Huuufffttt sampai segitunya yah. Jadi siapa sebenernya pembunuh bapaknya Bram?”

“Bisa siapa saja yang jelas dia masih punya kaitan dengan Fredy. Tapi saat ini ada hal yang lebih penting daripada mencari tahu siapa pembunuh bapaknya Bram. Dari apa yang sudah dijelaskan Guntur tadi kita jadi lebih tahu seperti apa sesungguhnya lawan kita. Fredy dan Ryan tidak selemah seperti kelihatannya, mereka bukan ‘anak sekolahan’ biasa. Planingnya sangat jauh kedepan.” Ucap Riko.

“Kita nggak bisa buru-buru bertindak seperti rencana awal. Kita harus tahu lebih dalam lagi seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Fredy. Gue yakin saat ini para mesin pembunuh bayarannya sudah dia kumpulin.” Ucap Bimbim.

**********​

“Ngopo kudu kesusu Pran, wengi isih dawa. We just started this fun.”

(“Kenapa mesti buru-buru Pran, malam masih panjang. Kita baru saja memulai kesenangan ini.”)

“Urusan kita malam ini sudah selesai, lain waktu aku temenin kamu minum-minum sampai puas. Kamu lihat tuh sekertarisku sudah mabuk berat, aku harus mengantarnya pulang, James.”

“Amarga dheweke suasana dadi rame, don’t ruin the fun for tonight.”

(“Karena dia suasana jadi ceria, jangan rusak kesenangan malam ini.”)

“Maaf James, cukup untuk malam ini. Lain waktu kita teruskan acara minum-minum ini.”

“OK, at least one last game. Nek karyawanmu sing sijine iso nyeleseke tantangane, kontrake tak tambahi nganti 5 tahun.”

(“Baiklah, setidaknya satu permainan yang terakhir. Jika karyawanmu yang satunya lagi bisa nyelesaiin tantangannya, kontraknya ku tambah sampai 5 tahun.”)

Pak Pranoto terdiam sejenak mendengar tawaran dari koleganya itu, kesepakatan yang nilai kontraknya tidak main-main. Namun akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan tawaran tersebut.

“Nggak perlu James, kita atur kesepakatan lain waktu saja.”

“Dudu kowe sing nemtokake Pran, give this young lady a chance to make a decision. Dheweke wis wani mlebu neng kene, berarti dia cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri… sopo jenengmu cah ayu?”

(“Bukan kamu yang memutuskan Pran, beri kesempatan gadis muda ini untuk membuat keputusan. Dia sudah berani masuk ke tempat seperti ini, berarti dia cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri… siapa namamu gadis cantik?”)

“Cukup James, kamu sudah mabuk. Bahkan untuk mengingat sebuah nama saja kamu tidak bisa. Lagipula dia belum terbiasa minum-minum seperti kita, jangan paksa dia untuk melakukan hal itu.”

“Sssssttttt… Menengo disik kowe Pran, I want to make a deal with your employee. Siapa namamu nona manis? Hiiikss!”

(“Sssssttttt… Diam dulu kamu Pran, aku mau buat kesepakatan dengan karyawanmu. Siapa namamu nona manis?”)

“Angela…”

“You right Pran, jeneng koyo ngono ae aku iso lali. Sepertinya aku memang sudah mulai mabuk. Hiiikks!

Begini nona angel, I just offered a deal worth 20 billion rupiah to your Boss. Kowe iso mbayangno sepiro akehe komisi ne kowe iso entuk kontrak iki. Dan uang itu bisa kamu dapet besok pagi setelah bank buka aku akan langsung transfer uang kontraknya secara full ke bos kamu. Tapi ada syaratnya, you must pass the game I have made, just simple game.

Tadi temenmu itu bisa tahan sampai 12 shot racikan yang kubuat, aku nggak minta sebanyak itu karena sepertinya kamu masih baru. Just 7 shot I asked for, then I will sign additional contract for you. Tapi ada aturan tambahan, kamu hanya boleh langsung menenggak minuman itu dari gelasnya langsung dengan mulutmu, tanganmu nggak boleh ikut memegang gelas. Well nona angel, can you do that? Hiiikss!”

(“Kamu bener Pran, nama seperti itu saja aku bisa lupa. Sepertinya aku memang sudah mulai mabuk.

Begini nona angel, saya baru saja menawarkan kesepakatan senilai 20 milyar rupiah pada bosmu. Kamu bisa bayangkan berapa komisinya jika kamu bisa mendapat kontrak ini. Dan uang itu bisa kamu dapet besok pagi setelah bank buka aku akan langsung transfer uang kontraknya secara full ke bos kamu. Tapi ada syaratnya, kamu musti bisa lulus dari permainan yang kubuat, sebuah permainan yang sederhana.

Tadi temenmu itu bisa tahan sampai 12 shot racikan yang kubuat, aku nggak minta sebanyak itu karena sepertinya kamu masih baru. Cukup 7 shot yang kuminta, setelah itu aku akan menandatangani perpanjangan kontraknya untukmu. Tapi ada aturan tambahan, kamu hanya boleh langsung menenggak minuman itu dari gelasnya langsung dengan mulutmu, tanganmu nggak boleh ikut memegang gelas. Apakah kamu sanggup, Angel?”)

Ella sedikit bingung dengan bahasa James yang dicampur-campur itu, tapi dia bisa mengerti garis besarnya. Iapun menimbang-nimbang tawaran itu sambil membayangkan uang komisi yang akan ia peroleh. Ia berpikir dengan uang sebanyak itu tidak perlu lagi dia bingung memikirkan uang sekolah buat dirinya serta kedua adiknya bahkan sampai mendapat gelar sarjana dan sisanya sudah lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari keluarganya bahkan bisa juga untuk menambah modal usaha ayahnya yang sedang tersendat.

“Nggak usah, La. Kontrak yang ada sekarang sudah lumayan besar. Kamu sudah ikut nemenin Sinta malam ini, kamu juga akan dapat bagian komisi nantinya.”

Ella mulai ragu untuk menerima tawaran Pak James. Namun tiba-tiba dibenaknya terlintas sebuah pemikiran yang membuatnya mantap mengambil keputusan.

(“Kalau aku berhasil memenuhi tantangan ini, selain mendapatkan uang komisi tentu saja Pak Pranoto akan sangat berterima kasih padaku. Dia pasti bercerita pada Joe mengenai keberhasilanku, dan Joe akan sangat berterima kasih karena aku telah membantu ayahnya mendapatkan kontrak yang sangat besar. Ini kesempatanku bisa mendekati Joe kembali.”)

“Nggapapa Pak, nggak ada salahnya dicoba. Kita juga tidak rugi apa-apa bila saya gagal.”

“Tapi, La….”

“Ssssstttt… Kowe meneng ae Pran, decision has been made. OK, Nona Angel kita lihat seberapa hebat kemampuanmu.” Ucap James.

(“Ssssstttt… Kamu diem saja Pran, keputusan sudah diambil. Baiklah Nona Angel, kita lihat seberapa hebat kemampuanmu.”)

Pria itu lalu minta pada seorang waitres untuk menyiapkan keperluan game yang akan berlangsung, James meracik sendiri minuman yang akan ditenggak Ella. Sama persis yang dia buat sebelumnya. Kini di meja di hadapan mereka tersedia 7 gelas minuman hasil racikan James.

Ella mendekatkan mulutnya pada gelas pertama, ia dapat merasakan aroma minuman tersebut yang begitu menyengat. Dijepitnya bibir gelas itu dengan mulutnya lalu menenggak isi gelas pertama.

“Bravo!!!” Puji James memberi semangat pada Ella.

Seketika itu juga Ella merasakan ada satu aliran yang terasa membakar kerongkongannya dan terus melaju hingga menghangatkan bagian perut namun kepalanya menjadi terasa ringan dan pandangan matanya seperti berbayang. Namun gadis itu bertekad melanjutkan tantangan tersebut.

Gelas kedua… ketiga… keempat… Makin lama Ella makin merasa kepalanya seperti melayang, kesadarannya akan situasi sekeliling berkurang. Gadis itu hanya bisa mendengar sayup-sayup banyak orang yang menyemangatinya untuk menghabiskan minuman yang tinggal tiga gelas tersisa itu.

“C’mon Nona Angel, kowe bisa…” Teriak James.

Ella mendekati gelas kelima, tubuhnya tampak gontai. Mulutnya kembali menjepit gelas kelima, sambil memejamkan mata ia menenggak isi gelas kelima. Karena tubuhnya terus bergoyang akhirnya sebagian minuman itu tumpah membasahi pakaiannya. Kondisi itu langsung dimanfaatkan oleh James, dengan dalih membersihkan ceceran minuman yang membasahi pakaian yang dikenakan Ella, pria itu menggerayangi tubuh gadis itu. Bukannya merasa risih sentuhan jemari James justru membuat Ella bergairah.

“Ssshhhh….” Ella mendesis oleh rangsangan yang dilakukan James.

Ella mendekati gelas keenam, dibawah sorak sorai orang disekitarnya yang terus memberi semangat, gadis itu kembali menjepit bibir gelas keenam dengan bibirnya. Kali ini minuman di gelas tersebut tidak langsung ia tenggak isinya. Terbawa suasana sorak sorai disekitarnya membuat gadis yang kesadarnnya sudah dikuasai minuman tersebut seperti ingin show off. Ella terlebih dahulu berdiri sebelum mendangakkan kepalanya agar minuman dalam gelas itu masuk langsung kedalam kerongkongannya.

Sorak sorai pun semakin riuh terdengar. Kesadaran Ella sudah hampir mencapai batasnya, ia bermaksud menyelesaikan tantangannya dengan menenggak gelas terakhir yang masih ada. Namun bukannya berjalan menuju meja tempat gelas terakhir tersedia, langkahnya yang sempoyongan mengarahkannya menubruk tubuh Pak Pranoto.

“Cukup, La. Nggak usah diterusin, nggak seharusnya kamu melakukan ini.”

Tanpa diduga Ella mendekatkan wajahnya pada Pak Pranoto. Dalam kondisi setengah sadar gadis itu memegang lengan pria tersebut lalu secara perlahan membelai lengan itu. Semakin lama tangannya bergerak naik ke atas sambil satu persatu mengangkat jarinya hingga akhirnya menyisakan jari telunjuk yang menyusur dari bahu hingga berhenti di bibir pria itu. Semakin lama wajah Ella semakin menrapat ke wajah Pak Pranoto…

“Gue kangen elu, Joe…” Ucap Ella berbisik saat wajahnya sudah sangat dengan wajah Pak Pranoto.

Pria setengah baya itu berusaha mati-matian menahan gejolak nafsu dalam dirinya. Sedikit saja ia bergerak bibirnya pasti langsung menyentuh bibir gadis itu, namun keinginan itu ia tahan.

“Cukup, La. Kamu sudah mabuk berat.”

“Tanggung tinggal dua gelas lagi… “ Ucap Ella menunjuk kearah gelas yang sebenarnya tinggal satu yang masih ada isinya.

“Cukup James, dia nggak sanggup lagi nerusin.”

“To Bad young lady…. sitik meneh kowe iso entuk duwit akeh.” Ucap James. “OK, my friend see you next time. Nek iso gowo dheweke meneh.”

(“Sayang sekali gadis muda…. sedikit lagi kamu bisa dapat uang banyak.”

“Baiklah temanku, sampai ketemu lain waktu. Kalau bisa bawa dia lagi.”)

Tiba-tiba Ella terlihat seperti mau muntah. Pak Pranoto mencari keberadaan Sinta, ternyata wanita itu juga belum sadar dari mabuknya. Pria itupun memutuskan untuk membantu Ella menuju ke toilet. Gadis itu memuntahkan isi perutnya setelah masuk ke salah satu bilik toilet, lalu Pak Pranoto membantu Ella membersihkan diri.

Kali ini Pak Pranoto tak lagi menahan gejolak nafsunya. Disibaknya rambut Ella lalu mencium tengkuk gadis itu, selanjutnya secara perlahan ia membalikkan tubuh Ella sambil terus menciuminya, mulai dari bagian samping leher, pindah lagi ke pipi, sekitar telinga, kening, kelopak mata, hidung hingga akhirnya ia mendaratkan ciumannya pada bibir gadis itu. Perlahan tangan Pak Pranoto bergerak mengelusi serta meremasi payudara Ella dari luar pakaiannya.

“Sssshhh… Ahhhh…” Mereka sama-sama mendesah dengan suara tertahan.

Kedua pasang mata mereka untuk sesaat saling menatap. Lalu mereka saling melemparkan senyuman penuh arti. Tangan Pak Pranoto meraih leher Ella lalu mereka kembali berciuman, sedangkan tangannya yang lain ia susupkan ke dalam pakaian yang dikenakan gadis itu lalu kembali memainkan payudaranya.

Ciuman keduanya semakin panas, silih berganti mulut mereka saling berpagutan, dengan lincah lidah mereka bergerak saling membelit hingga air liur mereka saling bertukar. Mereka tidak memperdulikan aroma alkohol yang tercium cukup pekat dari mulut masing-masing.

Desahan serta rintihan halus yang terdengar membuat nafsu birahi keduanya semakin naik. Tanpa diminta Ella membuka sendiri kancing blus serta memelorotkan tali branya. Pak Pranoto mulai memindahkan ciumannya bergerak secara perlahan, melewati pipi, sekitar telinga, dagu, leher hingga akhirnya sampai di bagian dada gadis itu. Lidahnya dengan nakal memainkan puting payudara tersebut sehingga gadis itu melenguh menikmati rangsangan yang diberi. Melihat hal tersebut pria paruh baya tersebut semakin berani berbuat jauh.

Kini tangannya yang tadi merengkuh leher Ella ia gerakkan ke bawah, menyusur ke perut secara perlahan lalu menyingkap rok yang dikenakan Ella sambil menyusuri pahanya yang terasa mulus di telapak tangan Pak Pranoto. Tangan tersebut terus bergerak hingga bagian dalam paha gadis itu serta area selangkangannya.

Aktifitas mereka harus terhenti ketika mendengar suara Sinta yang masuk ke toilet tersebut sambil memanggil-manggil nama keduanya. Mereka segera melepaskan ciumannya, Ella pun segera merapikan kembali pakaiannya lalu mereka berdua keluar dari bilik toilet tersebut.

“Kamu ngapapa kan La?” Tanya Sinta yang terlihat khawatir dengan kondisi Ella.

“Dia bandel nggak mau denger omongan saya, sudah saya larang ngikutin tantangannya James tapi dia nekat juga.”

(“Apa yang Om lakukan barusan juga nakal…..”) Gumam Ella dalam hatinya.

“Aduh sorry ya La, elu jadi sampe kaya gini.”

“Nggapapa mbak, saya kok yang salah.”

“Ya sudah sekarang kita pulang saja. Berkas-berkas sudah kamu rapikan, Sin?”

“Sudah, Pak.”

“Kita langsung ke parkiran saja kalau begitu.”

Mereka pun segera meninggalkan tempat itu menuju tempat parkiran. Pak Pranoto naik di bagian depan sedangkan Sinta dan Ella duduk dibelakang. Pria itu berbicara sebentar pada supirnya memberitahukan alamat yang akan mereka tuju. Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi berlalu dari lokasi itu. Tanpa disadari oleh kedua wanita yang menumpang di mobilnya Pak Pranoto menyunggingkan seringai diwajahnya ketika mengingat apa yang terjadi di tempat yang baru saja mereka tinggalkan.

**********​

Pagi itu Ella terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

“Selamat pagi cantik…..”

(“Om Pranoto???”) Ella menyapukan pandangannya di sekeliling ruangan itu, ia baru sadar jika saat ini ia terbangun di sebuah kamar yang bukan kamar tidurnya.

Ella melihat Pak Pranoto hanya mengenakan bath robe sambil membawa segelas minuman hangat berjalan kearahnya.

“Diminum dulu tehnya biar badanmu terasa enak.” Ucap Pak Pranoto sambil menyodorkan minuman yang dibawanya.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 18 | Young and Wild and Free Part 18 – END

(Young and Wild and Free Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 19)