Young and Wild and Free Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 17

Start Young and Wild and Free Part 17 | Young and Wild and Free Part 17 Start

BAGIAN 17

ANGEL, SLUT OR ……….​

3rd POV

Dengan kesal Siska melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri lorong lantai 11 sebuah hotel berbintang, siang ini ia terpaksa kembali menemui atasannya di kepolisian yang sebenarnya telah memperalatnya. Setibanya dikamar yang dituju ia segera mengetuk pintu kamar tersebut, tak lama kemudian munculah orang yang sangat dibencinya tersebut.

“Hehehehehehe….. makin cantik saja kamu Sis, ayo masuk.” Ucap Dani berbasa-basi dengan tampang mesumnya.

Dengan senyum terpaksa dan perasaan jengkel Siska segera masuk dalam kamar tersebut. Baru saja pintu kamar tersebut ditutup oleh Dani, pria tua itu segera menarik tubuh Siska dan langsung menciuminya dengan ganas.

“Mmmpphhh… mmmhh…” Siska gelagapan menerima serangan tersebut.

Dani terus menciumi Siska dengan penuh nafsu, tngannya ikut menggerayangi tubuh gadis itu namun ia sama sekali tidak berusaha melucuti pakaian Siska. Setelah merasa puas akhirnya pria bertubuh tambun tersebut melepaskan ciumannya pada bibir Siska. Kemudian pria itu mengajak Siska masuk ke dalam kamar tersebut.

“Hari ini saya mau kamu pake seragam dinas, sudah saya siapkan di lemari…”

Setelah meletakan tas jinjingnya di atas lemari bufet kecil di sebelah tempat tidur, Siska segera beranjak menuju lemari pakaian. Saat ia melihat satu setel pakaian dinas polwan yang tergantung dalam lemari tersebut, pikirannya teringat akan alasannya masuk akademi kepolisian. Hatinya terasa perih ketika mengingat saat awal masuk di akademi kepolisian ia membayangkan dirinya bertugas menggunakan seragam tersebut, namun sekarang ia justru menggunakan seragam itu untuk tujuan yang lain. Dengan menahan air mata diambilnya seragam tersebut lalu segera menuju kamar mandi.

“Seperti dugaanku, kamu tampak menggairahkan dengan seragam itu. Jauh lebih cantik dibanding terakhir kali aku melihatmu saat memakai seragam saat di akademi.” Ucap Dani saat Siska baru saja keluar dari kamar mandi, matanya tanpa berkedip terus memperhatikan sosok gadis itu dengan tatapan penuh nafsu.

Pria itu segera mendekati gadis itu, ia mengitari Siska sambil terus memandangi tubuhnya dengan seksama. Selanjutnya pria tua tersebut kembali menyerbu bibir gadis itu sambil mendorong tubuhnya hingga tersandar pada dinding kamar. Dengusan nafas dari hidung Dani terdengar keras menandakan ia sudah terangsang hebat, walaupun dalam kondisi terpaksa namun tanpa disadari dari mulut Siska terdengar suara erangan halus.

Setelah cukup lama dalam posisi tersebut, Dani menyuruh Siska untuk berlutut. Gadis itu tahu apa keinginan pria itu selanjutnya, dengan terpaksa ia mengikuti keinginan dari pria yang menjadi atasannya di kepolisian tersebut. Perasaan terhina sedang diderita oleh gadis itu saat ini, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa disuruh lebih lanjut Siska membuka kepala ikat pinggang yang dipakai Dani, lalu berturut-turut membuka pengait serta resleting celana panjang pria tersebut. Kemudian diturunkannya celana tersebut hingga pergelangan kaki. Selanjutnya Siska menurunkan celana dalam yang dipakai Dani, seketika itu juga penis pria itu menyembul keluar hingga mengenai wajah Siska.

Seketika itu juga Siska mengerenyitkan wajahnya karena mencium bau khas dari penis tersebut. Namun sesaat kemudian diraihnya penis itu lalu mulai mengocoknya dengan perlahan. Dani memperhatikan semua yang dilakukan Siska barusan dengan senyum penuh kemenangan, tanpa ia suruh gadis itu sudah melakukan apa yang diingininya.

“Sepertinya Fredy sudah mengajarimu dengan baik bagaimana caranya menjadi seorang lonte…”

Mendengar perkataan Dani, hati Siska merasa seperti diiris namun entah mengapa saat ia menerima penghinaan seperti itu ada sebagian dalam dirinya yang justru merasa ingin menunjukkan lebih banyak apa yang bisa ia lakukan terhadap pria itu. Naluri gadis itu menuntunnya untuk mulai mengecupi lubang kencing pria itu lalu menjilatinya seperti saat ia menjilati ice cream. Tidak sampai diitu saja, selanjutnya Siska mengulum kepala penis berbentuk seperti cendawan itu. Sambil mengulum kepala penis pria itu lidahnya menari-nari mengelitik seluruh bagian kepala penis itu, sesekali ia menyedot penis pria tua itu. Sementara tangannya masih terus mengocok bagian batang penis itu sedangkan tangan satunya memijiti kedua buah zakar yang menggelantung pada pangkalnya.

“Keluarin borgol kamu…” Perintah Dani.

Sika mengambil borgolnya yang terselip di pinggang lalu memberkannya pada Dani. Dengan cepat Dani mengambil borgol itu lalu segera memborgol kedua lengan gadis itu kemudian diangkatnya lengan yang terborgol itu ke atas kepala gadis itu lalu menahannya dengan tangan kirinya, tangan kanannya segera meraih kepala Siska lalu menjambak rambutnya memaksa gadis itu untuk melakukan deep throat.

“Mmmpph… mmmph… ” Gumam Siska yang mulutnya tersumpal penuh oleh penis Dani.

Karena begitu bernafsunya Dani memperkosa mulut Siska, topi pet polwan yang dikenakan gadis itu sampai miring–miring hampir terjatuh akibat guncangan di kepalanya. Hidung serta dahi Siska bertubi-tubi menghantam perut pria tua yang bertubuh buncit itu. Diperlakukan secara kasar seperti itu memancing naluri Siska untuk lebih menggila, berulang kali lidahnya memoles keseluruhan bagian penis Dani yang dilaluinya. Bahkan gadis itu juga meliuri serta menghisap penis yang keras berurat itu dengan maksud agar pria itu cepat menuntaskan hasratnya. Gadis berwajah cantik itu harus kerja extra keras melakukan itu semua karena kedua tangannya tidak bisa membantu mengocok penis itu. Siska dapat merasakan urat–urat pada penis pria itu berdenyut yang menandakan bahwa pria tua itu sangat menikmati apa yang dilakukannya dan tak lama lagi akan menuntaskan hasratnya.

“Oaaahhh… enak, enak… terus nnggh…” Ceracau Dani.

Aksi yang dilakukan Siska semakin liar, lidahnya menelusuri penis Dani dari pangkal hingga ujung kepala penisnya disertai dengan gelitikan nakal lalu diakhiri dengan melahap kapala penis itu dan menghisapnya kuat–kuat.

Dani melenguh keras hingga suaranya menggema di kamar itu, kepalanya mendongak keatas, tubuhnya bergetar. Setelah sesaat memejamkan mata menikmati momen tersebut, pria itu membuka matanya lalu menatap gadis yang sedang bersimpuh dibawahnya, mata bertemu mata. Nafas pria itu kembang kempis penuh nafsu, tampak kepuasan diwajahnya menerima service oral sex yang diberikan Siska. Matanya tajam menatap mata Siska yang sayu namun terlihat seksi. Tiba-tiba Dani kembali menjambak rambut Siska dengan kasar, kemudian ia kembali memaksa gadis itu melakukan oral sex. Kali ini kepala gadis itu ia tahan sedangkan tubuhnya mengayun maju mundur seolah–olah menyetubuhi mulut Siska, semakin lama gerakannya semakin kasar.

Dani merasa dirinya sudah mendekati klimaks, penisnya sudah sangat tegang. Mulutnya terus menceracau kata-kata jorok dan merendahkan Siska. Aksinya semakin brutal, penisnya menyetubuhi bibir Siska seolah–olah bibir tipis itu vagina pelacur yang bisa dipakai olehnya seenaknya hingga hancur. Siska bukan saja berjuang menahan mual karena bau penis serta sodokan penis Dani yang terlalu dalam hingga masuk ke kerongkongannya, gadis itu juga berjuang menahan perasaannya yang benar-benar dihancurkan oleh Dani. Beberapa kali ia tersedak namun pria tua itu sama sekali tidak memperdulikannya. Justru Dani seperti sengaja membenturkan bagian bawah perutnya yang dipenuhi bulu jembutnya yang lebat dan bau itu dengan hidung Siska yang mancung, gerakannya semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya beberapa saat kemudian…

“Aaaaghh… Lonte kamu, Sis !!! Kamu emang lebih pantes jadi lonte.” Dani mengerang sambil melepas jambakan pada rambut Siska serta mencabut penis dari mulutnya.

Pria tua bertubuh tambun itu mengocok sendiri penisnya didepan wajah gadis itu, nafasnya mendengus berat dan matanya menatap wajah Siska penuh nafsu. Siska yang masih sambil terengah-engah mengambil nafas balik menatapnya, tatapannya seperti seorang budak yang menghamba pada tuannya, pasrah menanti apa yang akan ia terima selanjutnya.

Blaaarrr…!! Croott… Croot… Croott… Crott…!!

Bagaikan sebuah bendungan yang jebol Dani mendapatkan ejakulasi pertamanya hari itu, wajah Siska yang cantik dibanjiri oleh spermanya yang putih, kental serta bau yang sangat menyengat. Gadis itu yang masih mencari udara segar setelah terlepas dari sumpalan penis pria itu tidak sempat menutup mulutnya, sehingga ia terpaksa menerima sebagian sperma itu masuk dalam mulutnya. Ia pun langsung menelan sperma itu agar tidak terlalu terasa mual. Sperma yang tak masuk ke mulutnya menyemprot sekujur wajahnya hingga belepotan tak karuan.

(“Shiiiiiiiiiittt…..!!!”) Siska memaki dalam hatinya.

Dani menghembuskan nafas seperti seseorang yang merasa lega setelah menuntaskan membuang hajatnya. Sambil tersenyum melecehkan, pria berpangkat Brigadir Jendral di kepolisian itu memijit-mijit penisnya dari pangkal hingga ujung untuk mengeluarkan tetes mani yang tersisa dalam penisnya. Sisa mani itupun dikepretkannya ke wajah Siska.

“Kamu semakin cantik kalo belepotan peju seperti ini, Sis…..” Ucap Dani melecehkan Siska sambil menampar–namparkan penisnya ke pipi Siska kemudian ditempelkan ke wajah gadis itu lalu ia gesekkan naik-turun serta memutar-memutar di seluruh wajah gadis itu.

Penis Dani perlahan kembali ereksi di wajah Siska, dia menyeringai mesum saat melihat wajah Siska yang sayu antara memelas namun juga horni.

“Berdiri…!”

Siska segera berdiri mengikuti perintah Dani. Pria itu menyampirkan lengan gadis itu yang terborgol di gagang lampu dinding kamar itu kemudian ia berjongkok menghadap bagian bawah perut Siska. Perlahan Dani menurunkan rok seragam yang dipakai Siska, dipandanginya paha putih mulus milik gadis itu dengan tatapan penuh nafsu. Sebelumnya saat menyiapkan seragam yang akan dikenakan Siska, Dani juga memberinya celana dalam tipis yang hanya bisa menyembunyikan vagina serta belahan pantatnya. Pria tua itu memang sudah menyiapkan segalanya untuk menikmati habis-habisan tubuh Siska hari ini.

Tidak puas hanya memandangi saja, Dani segera menggerayangi paha Siska senti demi senti tanpa ada yang terlewati olehnya. Meraba dan mengelus sekujur pahanya berulang–ulang seolah–olah anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang dibelikan ayahnya. Selanjutnya Dani mulai mengendus–endus bagian bawah perut Siska, tangannya menjelajahi bagian belakang paha hingga pantat gadis itu sementara mulutnya mengecup halus sambil menjilati bagian depannya hingga pangkal paha. Mau tidak mau hal itu ikut memancing hormon seksual Siska.

Setelah cukup lama melakukan hal tersebut, Dani membalikkan tubuh Siska.

PLAAAKK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAKK !!

“Dasar lonte!” Seru Dani sambil memukul-mukul pantat Siska, nafasnya mendengus penuh nafsu.

“Aaaakhh… aaakh… ampun… aaaakkh !!” Tanpa sadar Siska bertingkah bagai seorang pelacur kelas atas yang berperan sebagai seorang budak yang menerima hukuman dari tuannya.

Dani kembali menciumi sambil menjilati paha Siska hingga berakhir di bongkahan pantatnya, dengan leluasa Dani menjilat, mencium, mengemut serta menggigit-gigit gemas bongkahan pantat Siska yang putih mulus, sekal serta harum itu. Sesekali Dani tampak dengan gemas meremas dan menampar bongkahan pantat itu hingga kulitnya memerah. Disaat itu pula Siska menjerit kesakitan, namun suara yang keluar dari mulut gadis itu lebih seperti seorang pelacur yang menggoda pelanggannya untuk berbuat lebih jauh.

PLAAAK… PLAAK… PLAK… PLAAAK !!

“Aaakh… aaaw… aduh… sakit, aaaw… ampun!!” Jerit Siska.

“Bikin gemes aja nih pantat… bikin nafsu… rasain nih, hiih…” Dengan gemas Dani menampar kasar pantat Siska.

Siska yang juga mulai terangsang hanya bisa mencengkram gagang lampu kuat-kuat, kepala dan tubuhnya yang menempel pada dinding digerak-gerakan menggesek dinding tersebut menahan rasa sakit serta gejolak nafsu yang sudah terombang–ambing.

Peluh mulai bercucuran hingga membasahi seragam yang dipakainya, bau keringat yang bercampur aroma wangi dari parfumnya menebar dan menambah rangsangan bagi pria yang sedang memperkosanya.

Kemudian Dani kembali memutar badan Siska, tiba–tiba pria tua itu menangkup pantat Siska dengan kedua tangannya dan menempelkan hidungnya ke vagina yang masih tertutup oleh celana dalam lalu menghirupnya dalam–dalam sambil bola matanya melirik menatap wajah Siska. Tangan Dani meremas-remas gemas bongkahan pantat yang ditangkupnya.

Selanjutnya Dani mulai menjilati vagina yang masih tertutup celana dalam itu sambil tetap menatap tajam kearah wajah Siska, pria tua itu tampak menikmati raut wajah Siska yang perasaannya sedang terombang-ambing antara penderitaan karena dilecehkan namun juga terangsang. Sebuah pro-kontra yang berkecamuk di benak gadis itu, suka dan benci campur menjadi satu, membuat diri gadis itu merasa menjadi seorang yang munafik.

Mula–mula jilatan Dani menowel-nowel vagina tersebut, lama–kelamaan jilatannya berubah menjadi sodokan–sodokan ke dalam vagina Siska walau masih tertutup celana dalam. Dalam hatinya gadis itu mengeluh karena mulai takluk oleh perlakuan pria tua yang juga atasannya tersebut, ia merasakan vaginanya mulai lembab akibat cairan yang keluar dari tubuhnya.

Menyadari celana dalam yang dipakai Siska mulai basah, dengan kasar Dani menarik turun celana dalam itu hingga lutut.

“Whuuuaaa… ini baru namanya memek…” Ucap Dani saat melihat vagina Siska yang terlihat tercukur bersih, bentuknya pun masih terlihat bagus tanpa gelambir walau sudah sering dimasuki penis. “Kamu memang lonte yang pura-pura jadi polisi… Bukan seorang polisi yang menyamar.”

Kuping Siska panas mendengar komentar atasannya tersebut, namun ada juga rasa bangga merasa dirinya seksi saat pria itu memuji keindahan vaginanya.

Dani membuka bibir vagina Siska dengan jari-jarinya dan memandangnya dengan tatapan nanar penuh nafsu. Secara refleks gadis itu merapatkan pahanya menutupi vaginanya karena merasa malu. Dani hanya cengegesan melihat tingkah laku Siska yang seperti malu-malu kucing, pria itu justru semakin bernafsu dan ingin memperkosa gadis itu habis-habisan.

“Pake malu-malu segala… aku kan sudah pernah lihat memekmu sebelumnya, bahkan udah ku entot sampai jebol…” Ucap Dani sambil tersenyum mesum, gemas dengan sikap malu-malu kucing yang ditunjukan Siska.

Tanpa membuang waktu Dani segera membuka himpitan paha Siska dan langsung melahap vaginanya penuh nafsu, Dani melumat vagina Diny seperti pengemis yang sudah tidak makan beberapa hari. Hidungnya sesekali ditempelkan ke vagina tersebut lalu kepalanya bergerak ke kanan-kiri sambil menghirup aromanya dalam–dalam. Sementara itu Siska hanya bisa mendesah-desah keenakan sambil menggeleng–gelengkan kepala ke kanan-kiri, mencoba menghindari tatapan mata Dani.

Dalam dirinya yang tak dapat dia pungkiri, Siska merasa mengalami suatu kontradiksi. Gadis itu tidak tahu kenapa dia justru merasa seksi saat Dani menatap nafsu vaginanya. Walaupun sebagian besar batinnya menolak apa yang dilakukan pria itu terhadapnya, namun masih ada sebagian kecil perasaannya yang merasa dirinya pantas diperlakukan seperti itu. Siska menikmati dan juga terangsang saat pria tua itu melecehkannya, bahkan menerima dirinya dianggap pelacur. Walaupun gadis itu sadar bukan cinta yang didapatnya dari pria tua itu, hanya nafsu sesaat. Namun Siska tidak tahu kenapa dia merasakan perasaan gila ini, tetapi itulah yang terjadi seakan-akan dirinya ikhlas sepenuhnya atas apa yang terjadi saat ini.

Dani masih terus memainkan lidahnya menjilati vagina Siska yang sudah banjir itu, menelusuri hingga bagian dalam dan menyentil–nyentil klitorisnya. Dengan pengalamannya menaklukan para mangsanya lidah Dani sengaja menggelitik daging kecil yang terdapat dalam vagina tersebut. Ia tidak hanya menjilati tapi juga melakukan tusukan-tusukan dengan lidahnya, kepalanya maju-mundur seolah menyetubuhi vagina gadis itu.

Tiba–tiba mulut perwira polisi itu mencium bibir vagina Siska seperti seseorang yang sedang mencium kekasihnya penuh nafsu, kedua tangannya dengan gemas mencengkram kencang bongkahan pantat Siska, selanjutnya mulut pria tua mesum itu menyedot vagina gadis itu kuat–kuat. Siska tak bisa lagi menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara. Desahan panjang mengiringi orgasme pertamanya hari itu, tubuhnya mengejang hebat dan cairan cinta pun meluber dari liang vaginanya. Dengan rakus Dani menyeruputnya kuat–kuat sehingga tidak ada yang menetes keluar, semua cairan vagina itu ditenggaknya, seperti orang sedang dahaga di gurun pasir menegak air minum sampai habis.

Dani menarik kepalanya dari selangkangan Siska lalu bangkit berdiri, perwira polisi tersebut segera melepaskan celana panjang dan celana dalam yang masih tersangkut di pergelangan kaki kemudian pakaian yang masih dipakainya. Selanjutnya secara perlahan pria berkumis tebal itu mulai membuka kancing seragam Siska satu per satu. Tidak semua kancing seragam Siska ia lepaskan, kancing bagian bawah dibiarkan tetap terkancing. Pria yang di kepolisian memiliki jabatan sebagai Wakapolda itu menyibakan seragam Siska dan menyangkutkannya di bagian bawah dada persis di perutnya, bra yang dipakai gadis itu ikut ia tarik turun dengan kasar hingga payudara Siska menyembul. Segera diremas–remasnya payudara itu, tak ketinggalan mulutnya pun ikut maju melumati payudara itu secara bergantian.

Tangan Dani semakin liar memainkan payudara Siska, jarinya bergerak memainkan puting payudara gadis itu. Puting coklat muda kemerahan itu ditekan, dijepit, digesek serta dipilin olehnya sehingga membuat puting tersebut mengencang. Diperlakukan seperti itu Siska kembali menggelinjang, gadis itu bahkan mulai mendesah saat perwira tinggi di kepolisian itu memainkan putingnya dengan ujung lidah.

Tangan Dani mulai menggerayangi seluruh tubuh Siska, lidahnya pun ikut menjelajahi tubuh gadis itu turun melewati perut hingga pahanya tanpa ada satu bagianpun yang terlewati. Tubuh Siska mulai bereaksi saat berusaha menahan desakan birahi di seluruh tubuhnya.

Melihat ekspresi wajah serta gerakan tubuh gadis itu, Dani yakin kalau Siska sudah kembali terangsang. Sesaat pria tua itu mengocok penisnya yang sudah mulai menegang, tampaknya perwira tua itu sudah menginginkan persetubuhan sekarang juga.

Dani memegang paha bagian dalam Siska lalu melebarkannya bersiap menyetubuhinya. Dani mengarahkan penisnya ke vagina Siska, digeseknya penis tersebut pada belahan bibir vagina hingga menyentuh bagian anusnya. Kepala penis Dani akhirnya bergerak membelah bibir vagina Siska, gadis itu melengkungkan punggungnya saat atasannya menyentakan penisnya makin dalam di rongga vaginanya. Siska merasa vaginanya sangat penuh dijejali penis tersebut.

Dani merasakan batang penisnya dijepit dengan kuat oleh otot-otot vagina Siska, iapun semakin bersemangat menggenjot tubuh gadis itu. Gerakannya makin cepat dan brutal, satu paha Siska diangkat hingga menempel pinggangnya lalu ia tahan dengan tangannya.

“Eeeengh… gila masih seret aja, hhhggh…” Ceracau Dani.

“Aaaawh… aaaahh…” Jerit Siska yang sudah tidak lagi menahan lenguhannya.

Keduanya bereaksi menceracau nikmat akibat pertemuan dua kelamin itu, suara keduanya menggema di kamar tersebut. Mereka sama–sama menghembuskan nafas dengan cepat sambil mengejan nikmat. Dani menatap mata Siska tajam penuh nafsu, nafasnya mendengus berat. Gadis itu balik menatapnya sambil mengeluarkan desahan, kepalanya menggeleng–geleng menahan sensasi dari perkosaan yang dialaminya.

Mata pria tua itu menatap nanar pada kedua payudara Siska yang terayun-ayun disebabkan genjotan kasarnya, melihat itu ia tidak bisa menahan dirinya untuk menundukkan wajah dan langsung memagut payudara gadis itu dengan mulutnya. Dengan lahap Dani menangkup payudara milik Siska, putingnya dijilat-jilat sambil sesekali digigit dengan gemas. Payudara Siska memerah akibat cupangan-cupangan yang diakukan Dani, air liur pria tua itupun membasahi payudara tersebut. Sambil melakukan itu Dani terus menyetubuhi Siska dengan sentakan–sentakan kasar tanpa memperdulikan kondisi gadis itu, sesekali ia merubah genjotan cepat dan kasarnya menjadi sebuah sodokan yang kuat, kencang dan dalam. Lalu menggenjot dengan cepat lagi.

Setiap kali Dani merubah gerakannya menjadi satu sodokan kuat, keduanya mengerang dan melenguh kenikmatan. Siska seolah merasa senang disetubuhi dengan cara seperti itu, mulutnya terbuka dengan lidah terjulur mengambang dan matanya terlihat sayu. Tangan kiri Dani yang bebas meremas gemas dan kencang pantat Siska. Tak lama kemudian Dani tampak semakin bernafsu menggenjot Siska dengan penuh nafsu, pria tua mesum itu sudah di ambang klimaksnya. Tubuh Siska yang terhempas akibat sentakan kasar yang dilakukan Dani menghasilkan bunyi–bunyi benturan di dinding kamar itu, ditambah suara desahan dan lenguhan keduanya membuat suasana di kamar tersebut jadi semakin ramai. Dani semakin mempercepat genjotannya pada tubuh Siska, mulutnya menceracau jorok dan melecehkan gadis itu saat dirinya makin mendekati ejakulasi.

“Gila memekmu… memek lonte legit banget… ngehek… Eeengh !!”

Tak sampai semenit kemudian Dani menyentakkan penisnya dengan kasar diiringi semburan cairan kental hangat yang membanjiri liang vagina Siska. Perwira Tinggi Polisi bertubuh tambun itu mengerang nikmat, dia menggemeratakan giginya meresapi sensasi nikmat yang diperolehnya. Tubuhnya bergetar, menyentak–nyentak penuh nikmat. Penisnya berkedut–kedut mengeluarkan seluruh sperma membanjiri liang kewanitaan Siska. Kepuasan terlihat dari seringai di wajahnya.

Dani melepaskan tangannya yang menahan paha Siska, begitu pula dengan tangannya yang meremas pantat gadis itu. Penisnya ia tarik keluar dari liang vagina Siska, lelehan spermanya menjuntai diantara penis dan vagina gadis yang menjadi anak buahnya itu. Dani duduk berselonjor puas dengan nafas yang ngos-ngosan di pinggir tempat tidur dihadapan Siska.

Setelah mengambil nafas sejenak, Dani kembali mendekati Siska. Kakinya mengganjal kaki gadis itu agar tidak bisa dikatupkan, kemudian pria tua mesum itu memasukkan jari-jarinya keluar masuk ke liang vagina Siska. Ia tahu bahwa gadis itu sedang merasa tanggung karena belum mencapai organsmenya.

Tidak berapa lama kemudian Siska mendesah–desah, tubuhnya mengeliat menyambut organsmenya, kakinya yang ditahan Dani berontak menendang-nendang, tangannya yang terborgol mencengkram gagang lampu dinding kuat.

“Haaaaahhh… haaaahh… haaahh… iyaaaaahh… aaahh… iyaa… aaaaahhh…..”

Siska mengerang sejadi–jadinya saat gelombang orgasme akhirnya menerpanya, ia melepas semua birahi yang dari tadi ditahannya demi harga dirinya. Kalau saja tangannya tidak terborgol tergantung di gagang lampu dinding, bisa dipastikan tubuh gadis itu akan langsung ambruk saat itu juga.

“Dasar lonte… akhirnya keluar juga.” Ucap Dani melecehkan Siska.

Nafas Siska memburu seperti orang sehabis berlari maraton, mulutnya megap–megap seperti ikan tidak bisa bernafas, matanya sayu, pikirannya kacau karena baru saja dirinya mendapatkan orgasme dari orang yang dibencinya namun ia tak bisa menampik telah memperoleh kepuasan dari apa yang baru saja dialaminya.

“Sis, kamu memang cocok jadi lonte… biar sudah acak-acakan gini tetep nafsuin.”

Siska hanya bisa mendengarkan semua pelecehan Dani, ia sudah tidak perduli lagi apa yang dikatakan pria tua brengsek itu karena tubuhnya sangat lemas.

**********​

POV Bimbim

“Sak, elu beneran udah boleh pulang? Muka lu kok masih keliatan ancur?”

“Sialan lu Bim, gue gini gara-gara temen lu itu. Elu sendiri juga nggak bisa menang sama dia, berarti elu nggak lebih jago dari gue.”

“Hehehehe…..”

“Kalau nggak ngancem dokternya sebenernya dia belum boleh pulang, Bim.”

“Emangnya dia ngancem apaan Je?”

“Si Sakti ngancam akan bakar rumah sakit ini kalau dia nggak diijinin pulang cepet.”

“Gila lu Sak…”

“Boong Bim, gue beneran udah diijinin pulang besok. Tanya aja sama dokternya.”

“Kan dokternya udah lu ancem, mana mungkin ngomong jujur dia…” Guntur ikut mencandai Sakti yang kondisinya memang sebenarnya sudah terlihat jauh lebih baik dari terakhir kali aku melihatnya.

Kami terus berbincang-bincang hingga waktu besuk telah habis. Aku, Jati dan Guntur segera pamitan dengan Sakti lalu pergi meninggalkannya. Saat berjalan menuju ke tempat parkiran kami bertiga kembali membicarakan Siska.

“Gun, masalah Siska jangan diomongin ke yang lain dulu. Kalau bisa kita bertiga saja yang tahu masalah ini.”

“Asal elu janji nggak akan bertindak gegabah sendirian…”

“Iya, gue janji.”

“Janji apa?”

“Nggak akan bertindak sendirian… Eh, tapi ngomong-ngomong darimana elu tahu masalah yang dialami Siska? Gue kan belum pernah cerita sama kalian.”

“Lebih baik kita cari tempat dulu, biar ngobrolnya enak.” Ajak Jati mengingatkan kami.

Kami memutuskan untuk meneruskan perbincangan di kantin rumah sakit tersebut. Setelah memilih tempat duduk di sudut kantin yang terlihat lengang aku kembali menanyakan rasa penasaranku pada Guntur.

“Gun, dari mana elu tahu Siska lagi ada masalah?”

“Keliatan dari tingkah elu yang khawatir banget begitu lihat Siska masuk dalam lift tadi, elu pasti nggak mau kehilangan lagi orang yang lu sayangi.”

“Cuma karna liat gue khawatir doang? Berarti elu masih belum tahu apa yang terjadi sama Siska?”

“Tadinya masih berupa perkiraan Bim, tapi begitu liat Siska masuk kedalam lift hotel itu gue sangat yakin sama dugaan gue selama ini. Tapi kalau nanti sudah gue jelasin, gue harap elu berpikir jernih lebih dulu sebelum bertindak.”

“Emangnya dugaan elu apa Gun?” Tanya Jati yang ikut penasaran.

“Elu inget waktu Bimbim ngasih informasi dari Siska, keesokan harinya setelah Sakti dihajar Bram? Saat itulah pertama kalinya gue lihat Bimbim khawatir kaya sekarang, dari situ gue mulai menduga telah terjadi sesuatu sama Siska. Orang lain yang juga melihat kekhawatiran Bimbim mungkin berpikir dia sedang khawatir keselamatan orang disekitarnya setelah apa yang dilakukan Bram terhadap Sakti malam sebelumnya.

Tapi satu hal yang mungkin luput dari perhatian orang lain, intonasi suara Bimbim yang naik saat menyampaikan bahwa Brigjen Dani Budiman adalah orang yang membacking Fredy selama ini. Dari situ gue mulai menduga Bimbim nggak suka sama polisi itu walau belum tahu penyebabnya, tapi setelah gue hubungkan dengan kejadian lainnya lebih lanjut gue punya sebuah dugaan kuat.

Beberapa hari sebelumnya kita tahu kalau Fredy nemuin penyusup dalam organisasi dan membantainya, itu artinya ada oknum polisi yang kasih informasi ke dia. Dari informasi Siska kita tahu kalau Brigjen Dani lah oknum polisi tersebut. Tentu informasi yang didapat Fredy ada imbalannya, dan imbalannya itu yang membuat Bimbim jadi nggak suka sama polisi itu. Dugaan gue Siska yang dikorbanin buat mendapat informasi itu, dan dugaan gue terjawab saat lihat Siska sendirian naik lift di hotel tadi.”

“Tapi tadi elu sempet nanya apakah gue tahu siapa orang yang akan ditemui Siska di hotel?” Tanyaku penasaran.

“Gue cuma mau mastiin aja, walau tanpa elu jawab pun gue udah tahu siapa orang yang akan ditemui Siska. Cuma sekarang gue mau kasih informasi yang mungkin elu sendiri belum tahu, Bim.”

“Informasi apa? Tentang Siska?” Aku menatap dalam ke arah Guntur, menyelidiki apakah ia sudah mengetahui siapa sebenarnya Siska. “Elu mau bilang kalau dia itu polisi, gue udah tahu sebelumnya. Maaf gue nggak ngasih tahu yang sebenernya ke kalian.”

“Dari kapan elu tahu kalau Siska itu polisi? Elu juga tahu dari mana Gun?” Tanya Jati yang tampak terkejut mendengar ucapanku.

“Nggak gampang naruh alat penyadap, kalau cuma naruh asal-asalan mungkin semua orang bisa diajarin. Tapi memasang alat penyadap di tempat strategis butuh orang yang punya pengalaman paling tidak pernah ikut pelatihan. Siska belum lama gue mintain bantuannya, tapi dia sudah bisa banyak kasih informasi. Kalau bukan orang yang pernah ikut pelatihan intelegen, gue nggak yakin dia bisa ngerjain semua itu.

Selain itu, tempat pertemuan gue sama Siska selama ini. Bahkan Fredy sendiri nggak bisa nguntit Siska hingga hubungan kami tetap aman, itu tandanya dia jago dalam menghindari penguntitan.” Terangku pada Jati, lalu aku berbalik bertanya pada Guntur. “Menurut elu apa lagi yang gue belum tahu tentang Siska?”

Guntur meneguk air minum sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

“Elu nggak penasaran kenapa Siska nggak mau elu secepetnya beresin perwira polisi itu?”

“Iya juga sih, itu yang sampai sekarang masih jadi pertanyaan di benak gue.” Jawabku.

“Eh Gun, elu tahu darimana kalau Siska nggak mau Bimbim beresin perwira polisi itu? Emangnya Bimbim pernah cerita sama elu?” Tanya Jati yang terus penasaran.

“Satu-satunya alasan yang masuk akal sampai selama ini Bimbim belum ngambil tindakan adalah karena permintaan dari Siska, tadi Bimbim hampir saja ngambil tindakan karena nggak mau lagi kehilangan orang yang dia sayangi.” Jelas Guntur akan pertanyaan Jati.

“Oooo….. Terus informasi apa lagi yang elu mau kasih tahu tentang Siska?” Lanjut Jati.

“Seperti yang tadi gue tanyain ke Bimbim, dia belum tahu alasan kenapa Siska ngelarang dia ambil tindakan terhadap perwira polisi itu. Ini memang baru dugaan gue, tapi seperti biasa kalau gue berani ngomong berarti gue yakin atas analisa gue ini. Siska bukan cuma seorang polisi yang menyamar, boleh dibilang dia agen ganda. Dia juga bekerja untuk orang lain!”

“HAAAHHH!!! Makin penasaran gue…” Potong Jati yang terkejut atas pernyataan Guntur.

“Serius lu, Gun? Dia kerja buat siapa lagi?” Tanyaku yang juga ikut penasaran.

“OK, gue mulai dari pertanyaan Bimbim dulu. Alasan dia nggak mau elu segera mengambil tindakan adalah karena Brigjen Dani megang sebuah rahasia tentang Siska, yaitu tentang statusnya sebagai Polwan. Gue menduga Siska masih menempuh pendidikan di akademi kepolisian waktu Brigjen Dani deketin dia dan langsung kasih tugas penyamaran ini. Jadi identitasnya tidak ada yang tahu selain perwira itu dan orang yang sama-sama menyamar dengan dia. Begitu orang itu dibantai Fredy, otomatis tinggal Brigjen Dani lah yang tahu tentang identitas Siska. Kalau elu bikin perhitungan sama perwira itu, maka hilanglah informasi tentang status Siska yang seorang Polwan. Itu yang membuat cewek lu itu nggak mau hal tersebut terjadi, usahanya bahkan keiinginannya selama ini akan sia-sia.”

“Tapi tadi elu bilang dia agen ganda, kenapa sampai harus ngotot tetep mau jadi Polwan?”

“Lingkungan!!! Menjadi seorang Polwan adalah cita-cita Siska sejak lama, mungkin juga dia terdorong keinginan mau merubah status nama keluarganya yang terkenal sebagai kriminal menjadi keluarga baik-baik. Makanya ketika Brigjen Dani deketin dia, Siska menganggap ini sebagai sebuah kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya hingga ia beroleh ‘nama’. Cuma gue sendiri nggak tahu dari keluarga mana sebenernya ia berasal. Jadi dia sebenernya dikirim keluarganya untuk masuk di kepolisian, ternyata dapat tugas penyamaran dalam kelompoknya Fredy. ‘Keluarganya’ pasti minta informasi juga tentang pergerakan Fredy.”

“Apa yang membuat lu sampai curiga kalau dia agen ganda?” Tanyaku kemudian.

“Elu inget awal perjumpaan kita dengan dia? Coba elu pikir, bagaimana bisa dia ‘nyasar’ ke tempat kita? Kontrakannya dia jauh dari tempat kita dulu, juga nggak searah ke rumahnya Fredy ataupun kantornya dia. Jadi kemungkinannya saat itu dia baru saja bertemu dengan ‘keluarganya’ di sekitar tempat nongkrong kita yang lama.

Tadi elu nyinggung masalah rumah pertemuan elu sama Siska, apa elu nggak penasaran kenapa sampai rumah itu seakan nggak terjangkau oleh Fredy bahkan Brigjen Dani. Hal itu karena rumah itu masuk wilayahnya ‘keluarga besar’ Siska, dia aman disana.

Sekarang terserah elu mau gimana selanjutnya Bim…. Saran gue elu omongin dulu sama Siska sebelum ambil keputusan, karena kalau gue perhatiin kalian bener-bener saling jatuh cinta walaupun awalnya hanya tugas dari atasan masing-masing yang membuat kalian jadi dekat.”

“Iya, gue akan pikirin dulu semuanya…. Tapi gue masih sedikit ragu sama sifatnya dia, Gun.”

“Untuk saat ini gue yakin dia bener-bener jatuh cinta sama elu. Gue tahu elu ragu karna dulu dia juga pernah jatuh cinta sama Fredy. Ini yang sebenernya agak berat, tapi kalau elu bisa nerima maka semua akan baik-baik saja.

Menurut gue Siska punya sedikit kelainan, dia mudah jatuh cinta pada ‘bad boy’ dan suka diperlakukan sebagai budak dalam bercinta. Inget dulu waktu dia galau terus datengin kita dan minta di ‘keroyok’. Hal itu juga yang sepertinya diperoleh dari Brigjen Dani, sehingga menjadi salah satu pertimbangan dia minta elu agar tidak buru-buru nyingkirin perwira itu.”

“Ternyata begitu yah… Huuffftttt…..” Aku mendenguskan nafasku dengan kencang.

“Gue masih penasaran Gun, kalau Siska memang seorang agen ganda yang jago berkelit dari penguntitan. Lalu kenapa dia sekarang sampai ketahuan sama Bimbim, dia seharusnya coba menghindari Bimbim agar tidak papasan saat akan ke hotel.”

“Karena dia pingin Bimbim mengetahui keberadaannya saat ini, Je. Tetapi dia juga sudah memperhitungkan ada kita berdua yang akan mencegah Bimbim berbuat nekat. Yang ini tadi nggak gue omongin karena gue juga belum yakin, sepertinya saat ini Siska sudah memberi Bimbim lampu hijau untuk bertindak. Dia mungkin sudah memutuskan untuk menerima apapun resikonya asalkan bisa selalu deket sama Bimbim, itu makanya gue yakin banget kalau cewek itu bener-bener jatuh cinta sama Bimbim. Bukan seperti cintanya pada Fredy yang lebih karena kelainannya yang mudah jatuh cinta pada sosok ‘bad boy’ , bahkan gue rasa dia minta dikawin sama Fredy itu atas desakan atasannya, baik itu Brigjen Dani atau ‘keluarga besarnya’.

Gue rasa sekarang cukup, kita pasti ditungguin Bang Riko. Biarin Bimbim pertimbanin dulu langkah selanjutnya yang terbaik buat dia.”

Akhirnya kami meninggalkan kantin Rumah Sakit tersebut lalu menuju ke rumah Bang Riko. Sesampainya di rumah tersebut bang Riko memintaku untuk menceritakan semua kejadian ketika aku bertemu dengan Bram termasuk semua pembicaraan kami. Akupun mulai menceritakan satu per satu, mulai dari firasatku yang menebak orang yang sesungguhnya diincar Bram sesungguhnya adalah Pak Ali, usahaku menemukan ayah angkatku itu, kejadian perkelahian di tempat pemakaman hingga percakapan singkat antara aku dan Bram.

“Hmmm… kalau begitu sewaktu-waktu Fredy butuh bantuannya Bram, temen lu itu akan datang nolongin dia. Elu siap kalau ketemu dia lagi, Bim?”

“Siap, Bang Riko.”

“Yang gue masih bingung apa hubungannya Bram sama Bang Rojak? Seharusnya kan yang dicari sama Bram itu kan saingan bisnis bokapnya yang sudah membunuh bokapnya.” Tanya Riko lebih lanjut.

“Bokapnya Bram bukan orang lemah bang, makanya kenal sama Pak Ali. Kalau gue nggak salah inget Bram pernah cerita kalau bokapnya sama Pak Ali berasal dari daerah yang sama, mereka ke kota ini bersama-sama. Tadinya bokapnya Bram juga sempet hidup di jalanan seperti Pak Ali, namun setelah ketemu sama nyokapnya Bram jalan hidupnya berubah. Jadi waktu bunuh bokapnya Bram, saingan bisnisnya itu dibantuin orang lain.”

“Orang yang bantuin itu Bang Rojak?”

“Bener Bang Riko, bahkan ada kemungkinan Pak Ali sebenernya juga diajak orang itu untuk ngeroyok bokapnya Bram. Tapi begitu dia tahu yang akan dikeroyok itu temen lamanya, Pak Ali batalin niatnya. Dia nunggu sampai eksekusi selesai lalu kemudian nyelamatin Bram dan nyokapnya.”

“Tapi dari mana Fredy bisa tahu semua informasi itu? Jangan-jangan sebenernya dia sendiri saingan bisnis bokapnya Bram, terus ngasih tahu ke Bram siapa saja orang yang terlibat dalam pembunuhan orang tua temen lu itu. Sosok dirinya sendiri sebagai saingan bisnis bokapnya Bram pasti dia rubah jadi orang lain.” Ucap Jati memberikan pendapatnya.

Seketika itu juga semua pasang mata yang ada dalam ruangan tersebut tertuju pada Jati.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 17 | Young and Wild and Free Part 17 – END

(Young and Wild and Free Part 16)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 18)