Young and Wild and Free Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 16

Start Young and Wild and Free Part 16 | Young and Wild and Free Part 16 Start

BAGIAN 16

REVENGE AND ANGER​

3rd POV

Sudah 3 hari berlalu, Riko dan anak buahnya sibuk mempersiapkan rencana usaha barunya. Usaha baru itupun sudah mulai berjalan walau belum sepenuhnya resmi, masih menunggu keluarnya surat izin resmi serta dokumen kesepakatan kerjasama. Namun untuk hari ini Riko menghentikan kegiatannya, jalannya usaha sementara dipercayakan pada Rika.

Hari ini Rico beserta Bimbim, Jati dan Guntur bersiap menyambut kedatangan Bram, teman lama Bimbim yang kini menjadi seorang pembunuh bayaran. Mereka menduga pemuda itu akan mencoba membunuh Riko hari ini. Namun dari keempat orang itu justru Bimbim yang terlihat paling gelisah.

“Bim, elu kenapa kaya uring-uringan gitu. Si Bram ngincer Bang Riko bukan elu. Seharusnya Bang Riko yang keliatannya panik. Lagipula elu sudah sering duel sama dia, jadi nggak perlu sampai uring-uringan kaya gini.”

“Nggak tahu Je, perasaan gue makin nggak enak hari ini. Tapi gue nggak tahu penyebabnya.”

“Santai saja Bim, gue yakin kita pasti mampu gagalin rencananya. Justru gue nggak yakin dia berani datang sendirian kemari. Eh, tapi elu sudah kasih tahu dia kan kalau kita nungguin dia disini?”

“Nggak perlu di kasih tahu Je, seandainya kita ngumpet sekalipun dia pasti akan nemuin kita. Kan gue sudah pernah cerita kalau Bram lahir dan besar di kota ini baru kemudian dia pergi ke daerah gue setelah remaja. Dia kenal betul tiap sudut kota ini. Itu makanya gue kesulitan menemukannya waktu disuruh nyari dia sama Bang Riko, justru dia yang nemuin gue.”

“Menurut lu kira-kira kapan dia akan sampai disini?” Kali ini Riko angkat suara, ia sudah tak sabar menyelesaikan urusan yang dianggap bisa menjadi masalah di kemudian hari jika tidak segera diselesaikan.

Bimbim memperhatikan jam yang terpasang di dinding ruangan, pukul sebelas kurang lima belas menit. Masih sangat lama hari ini akan berlalu, ia sendiri tidak bisa memastikan kapan teman lamanya itu akan muncul. Sambil menanti kedatangan Lone Wolf, keempat orang itu menghabiskan waktu dengan bermain kartu sambil ngobrol dan minum.

Hampir seharian mereka menunggu Bram di rumah Riko, namun tanda-tanda kedatangan si pembunuh bayaran belum juga kelihatan. Mereka sudah mulai bosan menunggu karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

“Bim, elu yakin Si Bram pasti akan muncul hari ini?” Tanya Jati yang mulai gelisah, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena sudah menunggu terlalu lama.

“Gue kenal betul Bram, dia nggak pernah meleset dari janjinya. Dia pasti akan muncul disini hari ini, kecuali…..”

Ucapan Bimbim terhenti, tiba-tiba saja dipikirannya melintas beberapa kilasan kejadian yang ia alami belakangan ini, mulai dari kemunculan tiba-tiba Bram di warung Pak Ali hingga saat pertemuannya dengan pemuda itu beberapa hari yang lalu.

“Hati-hati sama dia, Bim. Bapak ngerasain ada aura pembunuh dari pemuda tadi walaupun sepertinya bukan ditujukan kepada kamu.”

“………. Satu hal lagi, jangan terlalu yakin sama penilaian orang lain. Elu yang lebih kenal gue, seharusnya elu yang bisa lebih tahu pola pikir gue. Jangan sampai salah ngambil keputusan karena ini menyangkut nyawa orang yang ada di sekitar lu.”

“Bapak lagi sakit yah? Mukanya keliatan pucat.”

“Beberapa hari ini bapak memang lagi kurang enak badan, Bim.”

“Jaga kesehatan Pak, cuaca memang lagi kurang bagus.”

“Iya. Belakangan ini bapak juga selalu pulang lebih awal dari biasanya. Kamu nginep malam ini, Bim?”

Tiba-tiba Bimbim berdiri karena baru menyadari kekeliruannya “BAJINGAN! Kita sudah salah orang, saat ini Bram bukan ngincer Bang Riko, tapi Pak Ali! Bang gue permisi dulu nyariin Pak Ali.” Tanpa menunggu jawaban dari Riko, Bimbim langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.

“Maksud lu apa Bim? Je, Gun, cepet kalian ikutin Bimbim.”

“Abang gimana?”

“Nggak usah khawatirin gue, feeling gue bilang firasat Bimbim kali ini bener. Bukan gue yang jadi target Bram hari ini.”

Jati dan Guntur segera mengikuti perintah Riko, namun mereka sedikit terlambat sehingga kehilangan jejak Bimbim.

“Kemana kita Gun?”

“Kita ke warungnya Pak Ali.”

Sementara itu Bimbim memacu motornya dengan kecepatan jauh lebih tinggi dari biasanya, ia menyesali kebodohannya yang tidak menyadari tanda-tanda yang terjadi. Ia baru sadar di detik terakhir. Pemuda itu berharap masih bisa menyelamatkan bapak angkatnya itu.

Kedatangan Bram di warung Pak Ali beberapa waktu yang lalu sebenarnya ingin membunuh orang tua itu, makanya Pak Ali dapat merasakan ada hawa pembunuh yang keluar dari aura Bram. Teman lamanya itu juga sempat mengingatkannya jangan sampai salah mengambil keputusan. Tanda terakhir adalah kondisi Pak Ali beberapa hari yang lalu, saat terakhir kali mereka bertemu. Sebagai mantan preman yang sangat disegani pada masanya, pria tua itu memiliki kondisi tubuh yang cukup prima di usia senjanya. Hawa dingin malam tidak akan menjadi penghalangnya beraktifitas. Ia sudah biasa beraktifitas hingga larut malam. Suasana hatinya yang merasa tidak akan berumur lebih lama lagi yang membuat semangatnya turun secara drastis. Bahkan ajakan Pak Ali untuk menginap malam itu seolah menegaskan dirinya sudah merasa di penghujung umurnya sehingga ingin berkumpul dengan satu-satunya orang yang dianggapnya keluarga.

**********​

Beberapa saat sebelumnya…

Pak Ali terbangun dari mimpinya, belakangan ini ia selalu pulang lebih awal dari biasanya. Perasaannya sungguh tak enak, terutama hari ini. Mimpi yang sama selalu membangunkan dirinya pada malam hari. Mimpi tentang masa lalunya yang meminta pertanggungan jawab atas kelakuannya di masa lalu. Pria tua itu beranjak dari tempat tidurnya menuju keluar.

Begitu keluar kamar Pak Ali terkejut melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar sedang duduk di ruang tamu. Setelah diamat-amati Pak Ali mengenali pemuda itu pernah singgah di warungnya beberapa waktu yang lalu. Walaupun sudah cukup lama, namun ia tak mungkin melupakan pemuda itu. Pemuda dengan aura membunuh yang sangat hebat, malam inipun ia bisa merasakan aura yang sama dari pemuda itu.

“Selamat malam Pak Tua… Nyawamu akan berakhir malam ini.”

“Rupanya kamu malaikat maut yang menghantui mimpiku belakangan ini. Aku sudah siap.” Walau merasa sudah waktunya, namun tak urung Pak Ali bergetar saat berhadapan dengan malaikat mautnya.

Pemuda itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendatangi Pak Ali.

“Sebelum engkau mengambil nyawaku, beritahukan siapa dirimu sebenarnya dan ada silang sengketa apa diantara kita.”

“Namaku Bram Salampessy. Putra semata wayang dari Victoria Ririmasse, wanita yang kamu perkosa lalu kamu bunuh. Aku putranya yang kamu kambing hitamkan atas kematian ibuku. Saat ini aku datang untuk menuntut balas.”

Teringatlah Pak Ali akan kejadian yang sudah lama berlalu. Dengan tega dirinya membunuh wanita yang sebenarnya sangat dicintainya. Penolakan berulang kali yang dilakukan wanita itu telah membuatnya gelap mata. Untuk menutupi kejahatannya dia justru melemparkan kesalahan pada anak wanita itu. Kini sang anak berdiri dihadapannya menuntut pembalasan darinya.

“Aku tidak akan melawanmu, semoga hal ini bisa mengurangi dosaku di masa lampau. Aku hanya memohon agar tubuhku di perlakukan sewajarnya.”

“Terlalu banyak permintaanmu… Seekor anjing pantas diperlakukan seperti seekor anjing.”

Sehabis berkata demikian tangan Bram dengan cepat mencekik batang leher Pak Ali, secara spontan pria tua itu berusaha melepaskan cekikn yang membuatnya sulit bernapas. Namun akhirnya pria tua itu membiarkan cengkraman tangan Bram lebih kuat lagi mencekiknya. Pak Ali merasa inilah yang harus dia terima sebagai ganjaran atas apa yang dia lakukan terhadap keluarga pemuda yang kini ada di hadapannya.

KREEK…

Tanpa berkedip Bram memuntir leher Pak Ali hingga patah, nyawa Pak Ali melayang seketika itu juga. Tubuh pria tua itu dibiarkan ambruk oleh pemuda itu. Bram menarik pergelangan kaki Pak Ali lalu menyeret tubuh pria tua itu keluar rumah hingga ke mobil pickup yang dibawanya, diangkatnya jasad tubuh pria tua itu lalu dihempaskannya ke atas bak mobil tersebut. Beberapa tetangga yang diam-diam menyaksikan hal itu tidak ada satupun yang berani mencegah kelakuan pemuda itu, bila Pak Ali bisa ditaklukan tanpa menimbulkan keributan mereka bisa menduga jika pemuda itu sangat berbahaya. Taklama kemudian Bram segera meninggalkan tempat itu dengan membawa jasad Pak Ali.

Beberapa saat kemudian Bimbim tiba di rumah Pak Ali. Perasaannya bertambah tidak enak saat mendapati pintu rumah itu terbuka lebar. Pemuda itu langsung menghambur ke dalam rumah mencari sosok bapak angkatnya. Bimbim berteriak memanggil bapak angkatnya, tak ada suara yang menyahutnya. Pemuda itu segera keluar hendak bertanya kepada tetangga yang ada disekitar. Jawaban dari para tetangga sangat memukul perasaan Bimbim. Ia sudah terlambat menolong bapak angkatnya. Bimbim coba berpikir kemana kira-kira Bram akan membawa jasad Pak Ali.

Bimbim segera memacu motornya menyusuri jalanan kota itu mencari keberadaan Bram, ia sempat beberapa kali menanyakan informasi pada orang yang ditemuinya apakah sekiranya melihat kendaraan yang dikendarai Bram hingga akhirnya ia merasa lelah lalu memutuskan berhenti untuk beristirahat di sebuah penginapan.

Bimbim segera menelpon Riko dan memberitahukan tentang apa yang terjadi. Pemuda itu juga meminta bosnya itu agar ia diberi kesempatan untuk mencari Bram dan menyelesaikan urusannya sendirian.

Sementara itu Bram tiba di sebuah lokasi pemakaman, ia segera menurunkan jasad Pak Ali. Diikatnya kaki jasad tua tersebut lalu dihubungkan dengan bagian belakang kendaraan lalu menyeret jasad tersebut mengitari area pemakaman beberapa kali. Selanjutnya ia menyeret jasad Pak Ali menuju ke sebuah makam, pemuda itu menggantung terbalik jasad itu pada sebuah pohon hingga bagian kepalanya berada diatas bagian kaki di salah satu makam yang ada di are pemakaman lalu pemuda itu pergi mencari tempat untuk breristirahat.

Di tempat lainnya pada keesokan harinya Bimbim segera melanjutkan pencariannya setelah merasa cukup setelah merasa cukup istirahat, ia terus menduga-duga kemana Bram membawa jasad Pak Ali sampai akhirnya di benaknya terbersit sebuah lokasi yang menjadi tempat tujuan Bram. Bimbim segera mencari tahu tentang lokasi itu, setelah mendapat kejelasan mengenai tempat itu ia langsung memacu motornya ke lokasi tersebut.

Setelah tiba di lokasi, Bimbim memandang sekeliling tempat itu. Dia melihat adanya ceceran darah yang mulai mengering. Bimbim menduga ceceran darah tersebut adalah ceceran darah Pak Ali yang semalaman diseret oleh Bram menggunakan kendaraan yang dibawanya. Membayangkan hal itu, dada pemuda itu bergemuruh karena amarahnya terhadap teman lamanya itu. Kemudian Bimbim menyusuri ceceran darah itu yang menuntunnya pada jasad Pak Ali yang tergantung terbalik pada sebuah pohon, kepalanya tepat berada di atas bagian kaki sebuah makam yang terlihat kurang terawat. Kondisi jasad itu sangat mengenaskan karena terus terseret hingga ke tempat ini. Diperhatikannya makam tersebut, ada nama Victoria Ririmasse di bagian batu nisan makam itu.

“Akhirnya sampai juga elu kemari.” Sebuah suara terdengar dari belakang Bimbim, pemuda itu langsung membalikkan badannya.

“Dia sudah berusaha meninggalkan dunianya yang lama. Kenapa elu nggak membiarkan dia menebus dosanya dengan cara yang lebih layak.”

Bram hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Bimbim. “Sekarang terserah lu, apakah kita perlu meneruskan silang sengketa ini atau menyudahinya sampai disini.”

Dalam hatinya Bimbim tak bisa menyalahkan Bram yang telah menuntut balas atas apa yang sudah dilakukan Pak Ali. Seandainya ia berada diposisi Bram, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Bimbim membuang nafasnya, membuang semua perasaan menyesal karna telah terlambat menolong Pak Ali. Matanya disapukan ke sekeliling tempat pemakaman itu hingga pandangannya terhenti saat matanya tertuju pada sosok jasad Pak Ali. Bimbim diam sejenak memperhatikan sosok tersebut.

Amarah kembali bergemuruh dalam dada Bimbim saat ia menyaksikan kembali kondisi jasad itu. Pak Ali memang telah berbuat salah dan layak mendapatkan balasan, namun kondisinya yang begitu rupa membuat Bimbim tidak bisa merelakan begitu saja. Sebagai seorang yang telah dianggap anak oleh pria tua itu membuat darahnya mendidih menyaksikan kondisi Pak Ali saat ini.

Tanpa mengeluarkan suara Bimbim membalik badannya kemudian menyerang Bram dengan ganas. Bram memperhatikan Bimbim sejenak lalu segera meladeni serangan tersebut. Bram mengelak dari serangan Bimbim dan langsung mengirim pukulan balasan. Seketika duel seru pun terjadi, keduanya saling melancarkan serangan. Baru saja berhasil mengelak dari satu pukulan, tinju lainnya sudah menderu menyasar wajah maupun tubuh.

Pukulan hook dari Bram dielakkan Bimbim dengan cara merundukkan tubuhnya, lalu dengan cepat uppercut Bimbim menyasar dagu dari Bram. Pemuda itu masih mampu menahan tinju Bimbim dengan lengannya, namun Bimbim kembali melakukan pukulan susulan yang tidak mampu di elakan Bram. Disaat bersamaan Bram yang sempat menyadari pukulan Bimbim tak mungkin bisa ia elakan segera mengarahkan pukulannya dengan cepat ke bagian tubuh Bimbim.

Kedua pukulan itu sama-sama mendarat dengan telak pada sasaran. Pukulan Bimbim tepat mengenai wajah Bram, sedikit diatas rahangnya dan membuat kepala pemuda itu terpukul ke samping. Sementara pukulan Bram mendarat sedikit dibawah ulu hati Bimbim, pukulan keras itu mampu memaksa Bimbim tersurut mundur. Selanjutnya terjadi jual beli serangan yang seimbang. Bukan hanya bertukar pukulan saja, kedua pemuda itu juga saling bertukar tendangan bahkan kepala mereka sesekali ikut digunakan untuk menyeruduk lawan.

Keduanya seolah tidak mengenal rasa sakit, hampir seluruh bagian wajah dan tubuh Bimbim serta Bram merasakan pukulan ataupun tendangan lawan. Beberapa kali kepala mereka ikut saling beradu, namun hingga lewat seperempat jam belum ada tanda-tanda keduanya akan rubuh. Bimbim yang biasanya kalah adu pukulan kali ini seperti mendapat tenaga tambahan. Namun di sisi lain kelebihan skill bertarungnya tidak nampak karena kali ini ia bertarung dengan emosi. Hal ini membuat duel kali ini berjalan sangat menarik.

Dalam sebuah kesempatan Bimbim melakukan gerakan melompat lalu mengarahkan kedua lututnya secara berturut-turut menyerang Bram. Serangan pertama masih mampu di tahan, namun serangan kedua Bimbim berhasil mendarat telak di dagu Bram. Pemuda itu tersurut mundur lalu terjatuh. Bimbim langsung menyerang Bram yang masih tergeletak, pukulannya diarahkan ke wajah pemuda itu. Masih dalam posisi tergeletak Bram mengelakan kepalanya ke samping lalu dengan cepat ia menangkap tangan Bimbim yang diarahkan ke wajahnya, kakinya diarahkan ke bagian perut Bimbim. Karena tangannya ditahan, Bimbim tidak sempat menghindar dari tendangan tersebut. Tubuh Bimbim terpelanting ke arah belakang akibat tendangan itu, namun keduanya langsung bangkit dan kembali memasang kuda-kudanya.

“Rrraaaggghhh!!!”

“Heeaaahhh…”

Perkelahian pun kembali terjadi dengan hebat. Bunyi kerasnya pukulan mereka saat saling beradu pukulan ataupun mengenai tubuh lawannya terdengar silih berganti.

BUUUGGGHH!!!

DUAAGGGHH!

Darah mulai mengucur melalui pelipis maupun sudut bibir mereka. Beberapa bagian wajah juga sudah terlihat lebam. Namun keinginan untuk menuntaskan duel ini belum surut di hati kedua pemuda itu. Entah bagaimana hasil akhir dari duel kali ini. Satu kesalahan kecil akan merubah jalannya perkelahian ini.

Setelah perkelahian berlangsung cukup lama, kali ini posisi keduanya sudah mulai terlihat kepayahan. Posisi berdiri mereka sudah tidak setegap sebelumnya, tubuh mereka terlihat agak membungkuk jika tidak ingin dikatakan sempoyongan. Lengan mereka pun terjulur ke bawah, tidak sanggup lagi diangkat membuat cover.

Dengan langkah gontai Bimbim mendekati Bram lalu menghajarnya, pemuda itu tak mampu menghindari serangan tersebut hingga tubuhnya tersurut mundur. Sesaat kemudian gantian Bram yang berjalan dengan gontai lalu melesakkan pukulan pada wajah Bimbim. Keduanya secara bergantian saling menyerang dengan sisa tenaga yang mereka miliki. Hingga akhirnya Bram sambil setengah berlari menerjang Bimbim. Walaupun langkah Bram terlihat sangat berat namun Bimbim sudah tidak mampu menghindar lagi. Kakinya seperti tertanam dalam bumi sehingga sulit digerakan. Langkah terakhir yang bisa dilakukan olehnya ialah memaksa kedua lengannya membuat cover sehingga dapat menghambat serangan Bram. Akan tetapi pemuda itu secara tiba-tiba melompat sambil mengarahkan tendangannya.

Sebuah flying drop kick dari Bram membuat Bimbim akhirnya terjatuh, cover yang sudah di buatnya tidak banyak membantu. Sebelum Bimbim bisa berdiri, Bram telah mendatanginya. Pemuda itu langsung memukul Bimbim hingga terjatuh lagi. Bimbim belum mau menyerah, ia segera bangkit meskipun tampak sempoyongan. Setelah mengumpulkan tenaga Bimbim mendekati Bram lalu menyarangkan pukulannya dengan keras. Kali ini Bram terjatuh.

Sesaat Bram menghimpun kekuatan lalu mencoba berdiri. Dengan langkah berat pemuda itu mendatangi Bimbim lalu membalas pukulannya. Bimbim kembali terjatuh, dia begitu susah payah untuk dapat berdiri lagi. Kembali Bimbim mencoba menjatuhkan Bram, walaupun dia berhasil menjatuhkannya namun pemuda itu juga merasakan tenaganya sudah benar-benar habis. Dengan sendirinya tubuh Bimbim terjatuh lunglai, ia sudah tidak mampu untuk berdiri lagi.

Melihat lawannya sudah tidak mampu berdiri, Bram mencoba bangkit. Dengan seluruh sisa tenaganya perlahan ia berhasil berdiri walau lututnya terlihat goyah. Seketika itu juga Bram mendekati Bram lalu menghajarnya.

“Haaaaaaaahhhh…!”

Bimbim berusaha berdiri kembali, namun kali ini dia tidak mampu melakukannya. Pemuda itu jatuh terduduk lesu kehilangan tenaga. Sementara itu Bram walaupun masih sanggup berdiri, sesungguhnya dirinya juga merasa sudah tidak mampu lagi meneruskan pertarungan ini. Dengan langkah terseok-seok pemuda itu mendekati pohon tempat Pak Ali digantung, segera direngkuhnya batang pohon itu agar bisa menopang tubuhnya lalu secara perlahan mendudukkan dirinya bersandar pada pohon itu.

Kedua pemuda itu berdiam diri beberapa saat. Mata mereka saling menatap dalam, seolah saling berbicara satu sama lain. Setelah merasa punya sedikit kekuatan Bram segera bangkit lalu menurunkan jasad Pak Ali. Kemudian pemuda itu mendekati Bimbim dan membantunya berdiri.

“Kita lanjutin lagi kapan-kapan. Gue minta maaf ke elu kalau perlakuan gue terhadap Pak Ali, elu anggap berlebihan. Tapi gue yakin sekarang elu ngerasain perasaan yang sama waktu dulu gue kehilangan Niken, nggak perduli apapun penjelasan dari gue, elu tetep anggap gue bersalah.”

“Boleh gue tanya sesuatu?”

“Silahkan saja.”

“Sebenernya elu di pihak Fredy atau nggak?”

“Seharusnya elu sudah tahu jawabannya, gue nggak akan sembarangan nerima order untuk membunuh orang. Membunuh orang yang usianya sudah hampir habis bukan gaya gue, kecuali ada alasan yang jelas seperti Si Rojak dan Ali.”

“Apa hubungannya sama Fredy?”

“Dia yang kasih infoorang-orang yang selama ini gue cari untuk menuntaskan dendam dan sebagai bayarannya dia minta gue melakukan beberapa kerjaan.”

“Jadi Paman Rojak dan Pak Ali bukan order dari Fredy?”

“Bukan, tapi sepertinya itu bagian dari rencana besarnya. Kebetulan orang yang mau dia singkirin itu orang-orang yang gue cari.”

“Pak Ali mau dia singkirin juga? Dia sudah keluar dari organisasi.”

“Dari yang sempet gue denger sekilas dari pembicaraan Fredy sama asistennya sepertinya Pak Ali tahu banyak rahasia dalam organisasi yang bisa membahayakan posisi Fredy. Apa yang selanjutnya mau elu lakuin….”

“Ngubur Pak Ali dengan layak, urusan sama elu biar gue renungin dulu. Bener kata elu, sekarang gue baru ngerti yang elu rasain waktu kehilangan Niken. Nggak perduli apa yang jadi alasan lu memperlakukan Pak Ali kaya gini, tadi gue berpikir elu harus mati di tangan gue. Tapi kenyataan berkata lain.”

“Sekali lagi gue minta maaf sama lu, gue juga baru nyadar apa yang gue lakuin kelewatan. Harusnya dengan terbunuhnyanya Pak Ali di tangan gue dendam lama gue sudah selesai, tapi ternyata amarah gue menuntut lebih….. “

Dalam hatinya Bimbim masih marah terhadap Bram, namun ia sadar bahwa ayah angkatnya juga telah melakukan kesalahan. Jika ia memaksakan diri untuk membalas dendam maka sampai kapan lingkaran dendam ini akan berakhir? Untuk itu pemuda itu memilih untuk menenangkan diri.

Dibantu oleh Bram, Bimbim menguburkan jasad Pak Ali seadanya. Kedua pemuda itu bercakap-cakap sejenak sebelum akhirnya berpisah kembali. Keduanya sepakat untuk menghentikan urusan dendam mereka namun urusan duel hari ini masih akan berlanjut di kemudian hari.

**********​

Setelah satu minggu semenjak kematian Pak Ali, Bimbim kembali bergabung dengan rekan-rekannya. Saat ini mereka berkumpul di rumah Riko.

“Gimana jalannya usaha baru, Bang?”

“Lancar Bim. Menurut Joe, dalam 2 – 3 tahun kedepan kita bisa jadi perusahaan besar.”

“Berarti masih lama kita nyingkirin Bos Fredy.”

“Kayanya elu punya masalah sama Fredy. Sekarang lu keliatan napsu banget mau nyingkirin orang itu.”

Bimbim tersenyum getir mendengar ucapan Riko. Saat ini sedang mengkhawatirkan kondisi Siska, ia tak mau kembali kehilangan orang yang disayanginya. Maka itu ia ingin secepatnya membebaskan Siska dari genggaman Fredy.

“Sakti gimana Je?”

“Temen lu itu emang ajaib Bim, 2 hari yang lalu alat bantu pernapasannya sudah dilepas tapi belum boleh banyak omong dulu sama dokternya.”

“Berarti nggak lama lagi sudah boleh pulang dong? Nanti sore kita tengok yuk.”

“Boleh. Ngomong-ngomong masalah lu sama Bram gimana? Masa elu lepas dia gitu saja.”

“Dia masih di kota ini, Je. Gue urus dia nanti, sekarang masalah Fredy dulu yang musti cepet dikelarin.”

“Gue makin yakin elu punya masalah sama Fredy sekarang, tebakan gue soal Siska.”

Bimbim memandang ke arah Riko yang baru saja mengeluarkan pendapatnya. Sebenarnya ia belum mau membicarakan hal ini pada yang lain.

“Kok abang tahu?” Tanya Jati penasaran.

“Berarti tebakan gue bener. Tadinya cuma dugaan saja, belakangan kan Bimbim emang gue tugasin ngorek informasi dari Siska. Anak muda kaya kalian nggak akan kuat nahan godaan di depan mata, semalaman ngobrol sama cewek cantik. Bukan cuma satu atau dua kali, tapi berkali-kali. Pasti sambil deketin Siska. Lagipla gue masih inget banget gimana tatapan kalian saat pertama kali liat Siska di rumah Fredy, keliatan banget mupengnya.”

“Hehehehe… Tahu aja Bang Riko.” Seloroh Bimbim yang lega karena Riko belum tahu terlalu banyak tentang hubungannya dengan Siska, masalah yang membuat dirinya khawatir belum diketahui oleh siapapun termasuk Riko dan teman-temannya.

“Sabar Bim, hadiah lu nggak akan kemana-mana. Oiya, semalem Joe nelpon gue. Ada berita penting yang mau dia sampein, mungkin sebentar lagi dia sampai sini. Kalian bertiga belum punya rencana ngelakuin sesuatu pagi ini kan? Tungguin Joe sebentar yah, mungkin dari info yang dia sampein nanti kita bisa bergerak lebih cepet dari dugaan semula.”

“Bos yang lain nggak dihubungin, Bang?”

“Sudah. Mereka juga mau kesini pagi ini.”

Tak lama kemudian satu per satu orang yang ditunggu datang. Setelah semuanya hadir, Riko segera membuka pertemuan ini. Ia menjabarkan sudah sejauh mana progres usaha bersama yang mereka jalankan serta rencana kerja kedepannya.

“Untuk selanjutnya giliran Joe yang bicara. Silahkan Joe, katanya ada yang mau lu sampaikan ke kita.”

Pemuda itu menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan sebelum mulai berbicara.

“Tadinya gue terlalu naif untuk percaya kalau kalian memang bener-bener mau bisnis secara legal, namun setelah gue bicara sama bokapnya cewek gue juga bokap gue menurut mereka kalian hanya akan menjadikan bisnis ini sebagai kamuflase bisnis kotor kalian. Waktu denger itu gue langsung berencana mundur, tetapi diluar dugaan gue justru mereka tertarik bantuin bahkan terlibat sama bisnis kalian. Makanya gue kemari untuk ngatur waktu agar kalian bisa ketemuan sama mereka.”

“Berita bagus ini. Kalau bokap lu sama bokap cewek lu gabung, usaha kita bisa berkembang lebih cepet dari perkiraan semula. Tapi yang bikin penasaran kenapa mereka mau kerjasama dengan kita?” Ungkap Riko.

“Bokap gue pernah terlibat masalah sama rentenir sehingga usahanya hampir bangkrut, dia merasa perlu punya koneksi sama orang kaya abang. Nantinya kalian akan ngurusin kliennya yang bermasalah, semacam debt collector, juga ngurusin keamanan bokap gue jika sewaktu-waktu ada orang yang mau ngerjain bokap gue lagi. Sementara alasannya bokap cewek gue lebih ke masalah pribadi.” Joe memandang tajam kearah Bimbim saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Masalah pribadi gimana, Joe?”

“Sorry Bim tapi gue harus terus terang, Bokapnya Grace mau bantuin kalian dengan syarat Bimbim nggak boleh deketin anaknya lagi. Dulu dia pernah nyoba pindah kota untuk misahin mereka, tanpa sengaja mereka bertemu lagi disini. Daripada menghindar ke kota lain lagi dia mutusin untuk membuat kesepakatan ini.”

“Masak deket saja nggak boleh?”

“Kalau yang gue tangkep, intinya lu nggak boleh sampai jadian lagi sama Grace. Lagipula kan sekarang Grace sudah jalan lagi sama gue, masak mau lu rebut?”

“Sudahlah Bim relain saja, kan masih banyak cewek lainnya.”

“Betul kata Bang Elang, lagipula sebenernya gue punya solusi yang bagus. Hubungan antara gue dan Grace masih punya kendala, ada cewek yang bikin kami sempet renggang namanya Ella. Kalau Bimbim jadian sama Ella persoalan beres.”

“Kenapa gue harus jadian sama Ella?”

“Kalau elu jadian sama Ella, dia nggak akan gangguin hubungan gue sama Grace lagi. Selain itu bokapnya Grace juga makin yakin kalau elu nggak akan deketin anaknya.”

“Masalahnya apa Ella mau gue deketin?”

“Pandangan dia ke elu sudah berubah, Bim. Memang sekarang dia belum suka sama elu tapi dia sudah nggak jutek lagi sama elu. Apalagi elu pernah nolongin dia dua kali, walaupun Ella nggak nunjukin ke elu tapi sebenernya dia mulai respek sama lu. Gue bisa ngerasain hal itu.”

“Gue pikir dulu yah, Joe. Kalau masalah Grace, gue janji nggak akan ngerebut dia dari elu.”

“Kenapa lu nggak mau nyoba deketin Ella? Elu sudah punya cewek?”

Bimbim terdiam. Mendengar penjelasan dari Joe membuat Bimbim mulai pasrah mengenai kemungkinannya kembali menjalin hubungan bersama Grace, ia bertekad akan melupakan gadis itu dan lebih serius lagi menjalin hubungan dengan Siska. Hal itu membuatnya semakin bertambah resah akan nasib Siska. Riko menyadari perubahan raut wajah anak buahnya itu, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Masalah Ella bisa kita bicarakan belakangan. Sekarang kita atur jadwal pertemuan dengan bokap lu dan bokapnya Grace. BTW, berarti sekarang elu gabung sama kita dong Joe?”

“Ikut gabung di kelompok abang sih nggak, kita cuma terlibat masalah bisnis aja. Apa yang terjadi dalam kelompok abang kita nggak akan banyak ikut campur, kita tutup mata dengan apa yang terjadi di belakang kesepakatan. Sepanjang kerjasamanya saling menguntungkan, kita nggak mau ambil pusing dengan urusan kelompok abang.”

Mereka segera membahas lebih lanjut rencana pertemuan dengan orang tua Joe dan Grace. Setelah Joe meninggalkan rumah Riko, Riko dan kelompoknya masih melanjutkan obrolan.

“Ka, Tito nggak lu ajak diskusi lagi? Nanti dia bisa merasa dipinggirin.”

“Dia emang lagi gue pinggirin Ko, gue ngerasa dia mulai berubah belakangan ini. Tiba-tiba ia merasa pingin tahu tentang apa saja yang gue lakuin, dia juga nanyain tentang rencana kita yang akan nyerang Fredy. Firasat gue merasa kalo Fredy sudah deketin dia.”

“Hmm, semakin berkurang pasukan kita. Kayanya kita harus bergerak cepat, mungkin setelah pertemuan dengan bokapnya Joe dan Grace kita harus langsung bergerak. Bim, kali ini gue minta elu ngikutin sarannya Joe. Gue harap kalau elu ngikutin sarannya dia, Joe akan semakin terikat dengan kita. Jadi ada kemungkinan dia gabung sama kita, dia pasti punya banyak temen yang bisa bantuin kita. Minimal nambahin pasukan.”

“Iya Bim, lagipula nggak ada salahnya elu deketin cewek itu. Gue liatin selama ini elu belum punya gandengan yang jelas. Kalo orang tua gue bilang witing tresno jalaran soko kulino. Elu aslinya orang jawa kan Bim, pasti ngerti yang gue omongin.” Tambah Elang.

“Gue yang kaga ngerti Bang, ngapain si Bimbim disuruh miting si trisno bukannya yang kudu dia deketin itu si Ella?” Kali ini Gobang ikut menimpali percakapan.

“Hahahaha… Dasar betawi ke gusur, mana ngerti lu bahasa jawa. Nggak penting gue ngartiin kalimat gue ke elu, yang perlu kita bahas adalah langkah selanjutnya setelah kita ketemuan sama bokapnya Joe dan Grace.”

“Betul Bang. Semakin lama kita bergerak, gue khawatir Fredy makin banyak menghasut anak buah kita untuk gabung sama dia. Untuk itu kita justru harus mikir gimana caranya nambah jumlah pasukan. Kalau gue denger cerita lu Bim, si Joe itu punya banyak temen. Kita harus manfaatin itu. Semakin banyak orang luar yang bisa kita deketin akan semakin bagus, hal itu akan jadi efek kejut buat Fredy saat kita berhadapan nanti.”

“Rencana lu yang lain apa Ko?”

“Kita gebuk Fredy dalam sekali serangan besar. Kalo kita pake cara mulai dari bikin gara-gara kecil akan buang waktu dan tenaga, jadi kita harus nyingkirin Fredy dalam satu kali gebukan. Sampai waktu itu tiba kita harus hindari bentrok sama anak buahnya Fredy. Keamanan juga perlu ditingkatin, jangan sampai kejadian yang menimpa paman Rojak terulang.”

“Oiya gue jadi inget sama apa yang barusan terjadi sama Si Ali. Elu sudah beresin, Bim?”

“Sudah Bang Gobang, musuh lamanya Pak Ali yang ngelakuin tapi udah gue beresin semua.” Bimbim berusaha menutupi kejadian yang sesungguhnya, hanya Riko dan teman-temannya yang mengetahui kejadian yang sebenarnya.

“Sayang, kalau dia masih ada seengaknya kita bisa nambah pasukan.”

“Kalau masalah itu sudah gue pikirkan jauh sebelumnya Bang. Begitu organisasi kita mulai panas, gue langsung hubungin orang-orang lama. Mereka siap turun sewaktu-waktu bantuin kita, justru sekarang gue sengaja nyebar berita kalau apa yang terjadi dengan Pak Ali masih ada hubungannya sama Fredy biar orang-orang lama makin nggak seneng sama dia.”

“Bagus Ko. Seharusnya emang elu yang jadi pimpinan organisasi kita dari dulu. Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi gue cabut dulu. Ayo Lang kita cabut.”

“Kok buru-buru?”

“Gue nggak mau gangguin lu berdua. Yang waktu itu kan partai tandang, sekarang waktunya partai kandang. Awas kalo lu sampe kalah sama Rika.”

“Sialan lu Bang…”

Elang dan Gobang beserta anak buah mereka segera meninggalkan rumah itu. Untuk sesaat suasana rumah Riko menjadi hening sebelum akhirnya Riko berbicara pada Bimbim.

“Bim, elu masih mikirin Siska? Untuk sementara lu harus lupain dia, sekarang lu harus mulai mikirin rencana buat deketin Ella.”

“Siska? Simpenannya Fredy? Emangnya ada hubungan apa Bimbim sama Siska?” Tanya Rika penasaran.

“Nanti gue ceritain, Ka. Kalian ngapain masih disini? Omongan Bang Gobang tadi belum jelas buat kalian? Apa emang pingin nontonin gue sama Rika? Mendingan kalian nengokin Sakti di Rumah Sakit. Gung elu jaga di depan dulu yah.”

“Hehehehe… Maap Bang.”

Setelah semua anak buahnya keluar, tanpa menunggu lebih lama lagi Riko dan Rika kembali melakukan perbuatan yang mereka lakukan beberapa hari lalu di Rumah Rika. Hingga sore hari keduanya tidak keluar dari rumah itu.

Sementara itu saat di perjalanan menuju ke Rumah Sakit Bimbim melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal pemiliknya masuk ke dalam sebuah hotel. Bimbim coba menebak apa yang sedang dilakukan orang itu di tempat tersebut pada jam seperti ini. Tiba-tiba dibenaknya muncul sebuah pemikiran yang membuat emosinya tersulut.

“Je, gue ada urusan sebentar. Ntar gue nyusul kalian.” Bimbim langsung memutar motornya lalu meninggalkan kedua temannya.

“Kita ikutin dia Je, gue yakin ada sesuatu yang nggak beres akan terjadi.”

Guntur ikut memutar motornya lalu membuntuti Bimbim, Jati mengikuti apa yang dilakukan Guntur. Mereka terus mengikuti Bimbim hingga ke parkiran hotel itu. Saat menyadari kedua temannya membuntutinya Bimbim agak gusar.

“Ngapain kalian ngikutin gue?”

“Gue ngerasa elu akan melakukan tindakan yang bodoh kali ini.”

“Terserah kalian mau ngapain disini, tapi jangan coba halangin gue kali ini.” Bimbim berjalan cepat masuk ke dalam hotel, ia mencari-cari sosok pemilik mobil yang tadi dilihatnya.

Bimbim akhirnya menemukan sosok yang ia cari, orang itu tampak berdiri di depan lift hotel. Namun sebelum Bimbim berhasil mendekatinya, orang itu sudah lebih dulu masuk ke dalam lift. Guntur mencegah Bimbim saat pemuda itu bermaksud menyusul orang itu.

“Gue tahu apa yang mau elu lakuin, gue sempet lihat Siska masuk lift tadi.”

“Elu tahu apa yang akan terjadi sama Siska tapi elu malah ngalangin gue bertindak?”

“Jangan bodoh, Bim. Ini hotel banyak kamera pengawas. Apa yang elu lakuin akan terekam, elu akan jadi buronan. Fredy juga pasti ngejar lu. Rencana besar kita akan berantakan. Inget, Bang Riko bilang kita harus hindarin bentrok sama Fredy untuk sementara waktu.”

Bimbim mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya tampak menggembung. Pemuda itu coba menahan emosinya yang meluap saat ini.

“Elu tahu siapa yang akan ditemuin Siska? Kita buat perhitungan sama dia, tapi bukan disini. Kita atur siasat dulu.”

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 16 | Young and Wild and Free Part 16 – END

(Young and Wild and Free Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 17)