Young and Wild and Free Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 15

Start Young and Wild and Free Part 15 | Young and Wild and Free Part 15 Start

BAGIAN 15

MEMULAI DARI AWAL​

POV Grace

Sampai saat ini apa yang diucapkan Bimbim tadi siang masih menjadi ganjalan di benakku, benarkah Bimbim ada hubungannya dengan masa laluku. Aku mencoba mengingat semua kejadian pertemuan kami mulai dari saat Joe memperkenalkan kami. Saat itu aku merasa Bimbim tampak terkejut melihatku, seakan dia pernah mengenalku sebelumnya. Sedangkan aku merasa seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang dalam hidupku. Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai mengabaikan perasaan itu karena menganggap hal itu hanya akan menambah beban pikiranku saja.

Namun setelah pertemuan kami tadi siang, rasa penasaranku kembali datang apalagi aku memang sempat mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sebagian memoriku ada yang hilang. Maka aku memutuskan untuk menanyakan perihal Bimbim pada orang tuaku.

Kudekati kedua orang tuaku yang sedang santai menonton acara televisi di ruang keluarga. Aku duduk disamping mamaku, bermanja-manja dengannya sampai suasana menjadi akrab seperti biasanya.

“Papa sama Mama pernah kenal sama anak muda yang bernama Bimbim? Nama lengkapnya Abimanyu Pramoedya Putra?”

Sejenak papaku menatapku, lalu menatap mamaku, kemudian kembali menatapku. Wajah papaku sama sekali tidak memperlihatkan keterkejutan atau apapun yang lain dari biasanya.

“Sepertinya Papa nggak pernah kenal dengan pemuda tersebut. Apa dia kenalan barumu?”

“Sudah cukup lama aku kenal Bimbim. Dia kenalannya Joe, orangnya sih cukup baik walau terlihat sedikit urakan. Tapi belakangan ini aku merasa seperti pernah kenal dengan pemuda itu sebelumnya.”

“Hati-hati dalam bergaul sayang, Mama nggak mau kamu salah pilih temen. Kamu anak kami satu-satunya, Mama nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, sayang.”

Ucapan mamaku ini seperti sering kudengar sebelumnya namun aku tak mampu mengingat kapan aku mendengar kata-kata tersebut. Kuperhatikan wajahnya, mamaku tersenyum tapi seperti ada suatu hal yang berusaha disembunyikannya.

“Banyak orang yang kelihatannya baik tapi sebenarnya ingin mencelakakan orang lain, kamu harus selalu waspada terhadap orang yang mendekatimu, Grace.” Tambah papaku dengan nada suara yang tenang seperti biasanya.

“Iya Pah, Mah. Grace akan selalu hati-hati dalam bergaul. Grace hanya merasa penasaran dengan pemuda itu.”

“Apa dia berusaha mendekati kamu?”

“Grace tahu dia suka sama Grace, tapi dia selalu menjaga jarak karena tahu Grace pacarnya Joe. Walaupun dia sesekali curi-curi kesempatan mendekati aku tapi nggak pernah sekalipun dia berbuat yang tidak baik terhadap aku, justru dia sering menolong dan menjagaku jika Joe sedang tidak bisa nemenin aku. Papa sama Mama nggak usah khawatir, Grace bisa jaga diri dan akan selalu ingat nasehat Papa sama Mama.”

“Papa dan Mama percaya kamu bisa menjaga diri, kami hanya mengingatkanmu kembali. Ngomong-ngomong Papa sudah lama nggak lihat Joe?”

“Nanti Grace ngomong sama Joe kalau Papa mau ngobrol sama dia. Sudah malam, Grace pamit istirahat ya Pah, Mah.”

Saat berada di kamarku, aku kembali memikirkan percakapan di ruang tengah tadi, Papa memang terlihat seperti biasanya, tapi Mama terlihat agak berbeda. Apakah ada sesuatu yang mereka sembunyikan? Apakah ternyata Bimbim benar-benar orang yang pernah dekat denganku? Seberapa dekat hubungan kami sebelumnya? Semakin memikirkan hal itu, makin membuatku pusing sendiri.

Kucoba untuk memikirkan hal lainnya, namun aku kembali pusing setelah benakku justru beralih memikirkan hubunganku dengan Joe dan Ella. Rencanaku untuk mendekatkan Ella dengan Bimbim gagal sebelum dimulai, pemuda itu menyadari maksudku yang sebenarnya sehingga ia menolak gagasan itu. Sepertinya aku memang harus bisa melupakan kesalahan yang sudah dilakukan Joe dan memulai kisah kami mulai dari awal lagi.

**********

POV Bimbim

Siska terlihat cantik malam ini, namun aku merasakan gadis itu memendam kepedihan yang belum ingin dibagi denganku. Untuk sementara kubiarkan hal itu terjadi sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengajaknya membicarakannya.

“Ada berita apa mengenai bos Fredy?”

“Malam ini dia mengumpulkan orang-orangnya di rumahnya, sepertinya dia akan membuat masalah lagi. Bim, gue khawatir kehilangan elu…”

Ada yang ingin diceritakan oleh Siska, namun ia nampak ragu. Siska menatapku dalam, mata gadis itu seolah berbicara ingin menyampaikan masalahnya padaku namun ada sesuatu hal yang menghalanginya untuk berbicara.

“Gue ngerasa belakangan ini elu lagi menghadapi masalah yang membuat lu gelisah. Kenapa elu masih terus berusaha menutupinya dari gue?”

“Maaf Bim, gue belum bisa cerita ke elu saat ini.”

“Apakah Bos Fredy sudah nyakitin perasaan lu?”

“Elu masih saja nganggep dia bos lu!” Kekesalan yang terlihat dari raut wajah dan nada suara Siska meyakinkanku telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa gadis itu, dan aku yakin penyebabnya adalah Bos Fredy.

Kupeluk gadis itu, berusaha untuk memberi suasana nyaman untuknya. Aku menemaninya berbaring, tidak ada aktivitas seks seperti biasanya.

“Gue akan berusaha secepetnya bebasin elu dari Bos… eh Si Fredy. Gue nggak bisa ngeliat elu sedih terus kaya gini. Kalau gue boleh tahu, apa yang sudah Si Fredy lakuin ke elu?”

“Huufftt… Sepertinya gue nggak bisa nyimpen rahasia dari elu. Sorry Bim, maksud gue biar elu tetep fokus jalanin rencana kalian lebih dulu.”

“Mana bisa gue fokus sementara ngeliat elu terus kaya gini…”

“Gue cuma bisa bilang apa yang elu pikirin bener, Fredy sudah nyakitin gue. Tapi gimana dia nyakitin gue elu belum perlu tahu.”

Aku mulai menebak-nebak apa yang telah membuat Siska merasa sangat tertekan, apalagi beberapa hari yang lalu gadis itu terlihat sangat ketakutan dengan bosnya itu.

“O iya gue hampir lupa, tadi gue sempet denger Fredy marah karena ada anak buahnya yang bertindak diluar rencananya. Gue nggak begitu jelas denger dia nyebut anak buah itu siapa, tapi sepertinya dia nyebut julukan si anak buah itu bukan namanya. Satu hal lagi, ternyata selama ini punya kerjasama sama Wakapolda.” Nada suara Siska kembali meninggi saat dia mengucapkan kalimat terakhir.

Aku mencerna semua keterangan yang diucapkan Siska. Menghubungkannya dengan semua kejadian beberapa hari belakangan ini. Aku heran ada anak buahnya yang berani bertindak diluar rencana yang disusunnya. Hal itu hanya berani dilakukan oleh orang seperti Bang Riko dan Bang Elang, sementara Rika hanya berani berdebat namun tak pernah berani bertindak. Pimpinan lainnya walaupun terkadang berseberangan dengan Bos Fredy hanya bisa diam.

“Sepertinya gue tahu apa yang dilakukin Si Fredy ke elu, Sis.” Gadis itu memandang tajam ke arahku.

“Dari mana elu tahu?” Sisk terbangun dari posisinya sambil masih menatapku.

“Dari cara elu ngucapin kalimat terakhir lu tadi. Si Fredy sangat sayang sama elu, dia nggak akan nyakitin lu kalo nggak kepepet. Yang membuat dia merasa kepepet adalah polisi serta informan yang menyusup jadi anak buahnya. Walaupun terpaksa, Si Fredy akhirnya setuju ngorbanin elu sebagai imbal informasi yang dia butuhkan. Perkiraan gue elu sengaja diajak ngeliat pembantaian itu dengan maksud membuat elu shock sehingga takut sama Si Fredy. Di saat itu dia maksa elu untuk jadi hadiah buat polisi yang sudah membocorkan identitas para penyusup.”

Siska terdiam, sikapnya tersebut meyakinkan dugaanku tadi. Aku segera bangun kemudian memeluk tubuhnya dari belakang,

“Bim selesaiin dulu masalah dengan Fredy, jangan bertindak yang macam-macam…”

“Kalau gue bisa sekalian nyingkirin polisi sialan itu kenapa musti di tunda?” Tanyaku sedikit heran dengan sikap Siska.

“Please… Gue nggak mau elu jadi buronan, kemana kita mau kabur kalau elu jadi buronan seluruh kepolisian?”

Aku membenarkan argumen Siska, “OK, masalah itu bisa gue tunda. Tapi jangan bilang kalau itu bukan yang terakhir kalinya. Kalau Polisi bajingan itu nyentuh elu lagi, gue hajar dia.”

Siska kembali diam, gadis itu hanya menoleh menatapku. Matanya seolah berbicara bahwa hal yang aku khawatirkan tidak bisa dihindarinya. Seketika itu juga rahangku menggembung menahan marah, mungkin wajahku sudah merah padam saat ini.

“Aaaaaakkkhhh….. BANDOT TUA BANGSAT…….!!!” Teriakku yang pada akhirnya tak sanggup menahan emosi.

Air mata Siska menggenang di pelupuk matanya, dari mulutnya terdengar isakan lirih. Gadis itu merasa tidak berdaya. Aku merasa iba terhadapnya, namun aku juga merasa masih ada rahasia yang disimpannya.

“Gue akan buat perhitungan sama bangsat itu…..”

“Bim… please, jangan nekat…”

“Elu tenang saja, gue nggak akan bunuh dia sesuai permintaan lu. Tapi gue nggak terima elu diperlakuin kaya gini.”

“Anggep saja gue lakuin seperti pada Fredy selama ini.”

“Nggak bisa! Dari sikap lu, gue tahu bangsat itu memperlakukan lu kaya pelacur. Dia harus ngerasain akibatnya.”

Siska tak berusaha lagi menahanku, justru dari wajahnya ada sedikit rona kebahagian karena aku mau membelanya begitu rupa. Sesaat kemudian aku mencium keningnya dengan penuh perasaan, Siska membalasnya dengan mencium pipiku. Selanjutnya bibir kami mulai saling mengecup, melumat, hingga ciuman kami semakin panas.

**********​

Keesokan harinya aku segera menemui Bang Riko untuk memberitahukan informasi yang semalam kuperoleh dari Siska, tanpa menjelaskan masalah yang sedang dialami oleh gadis itu. Aku juga menceritakan pertemuanku dengan Bram kemarin siang.

“Bim elu temuin Joe, secepetnya atur pertemuan gue sama dia. Agung sama Guntur ikut gue hari ini, kita akan berunding dengan Bang Elang, Bang Gobang dan Rika. Je, elu atur kegiatan anak buah lainnya hari ini. Kalau ada apa-apa cepet hubungi gue di tempatnya Rika.”

“Masalah Bram gimana Bang?” Tanya Jati.

“Berdasar keterangan Bimbim tadi, gue yakin orang itu nggak akan bertindak sebelum hari yang sudah dia tentuin sendiri. Tapi kita tetep perlu waspada, karena kemungkinan Fredy menyuruh orang lain lagi untuk mengacaukan kita.”

Kami segera berpisah melakukan apa yang diinstruksikan Bang Riko. Sebelum menemui Joe, aku menyempatkan waktu untuk menjenguk Sakti. Pemuda itu sudah sadar namun belum bisa berkomunikasi karena masih harus menggunakan alat bantu pernapasan.

“Jangan dipaksain, Sak. Elu nggak perlu khawatir, gue sudah tahu siapa yang ngelakuin ini. Nanti kita balas apa yang dilakuin Bram terhadap elu.” Ucapku saat Sakti hendak melepas alat bantu pernapasannya agar bisa berbicara denganku.

Setelah beberapa waktu menemani Sakti, aku segera pergi mencari Joe ke kampusnya. Siang ini Joe terlihat sedang nongkrong bersama temannya di salah satu sudut kampus.

“Apa kabar Joe…”

“Eh, elu Bim. Baik… Ada perlu sama gue? Guys, gue cabut bentar yah…”

Joe mengajakku ke parkiran mobil yang agak sepi, ada sebuah bangku panjang di bawah pohon yang cukup rindang.

“Elu nggak bawa mobil?”

“Mahasiswa baru belum boleh parkir dalam kampus, kita disini saja ngobrolnya.”

“Gue sudah tahu apa yang terjadi antara elu, Grace dan Ella…”

“Oohhh, masalah itu… Kenapa elu mau nyoba ngerebut Grace dari gue?”

“Gue sih nggak akan ngerebut kalau kalian emang belum putus. Tapi kalau elu ngecewain Grace lagi, gue akan langsung deketin dia.”

“Huufftt, gue kirain elu mau ngambil kesempatan. Eh, tapi elu kemari cuma mau bahas itu doang?”

“Nggak sih Joe, gue mau minta waktu lu. Bisa nggak elu ketemuan sama bos gue.”

“Ada masalah apa Bim? Mau nanya masalah pengeroyokan Tito lagi?”

“Bukan. Sebenernya Bos gue pingin elu gabung sama kita, tapi gue sudah kasih tahu kalau lu nggak tetarik untuk gabung dalam sebuah organisasi kriminal. Bos gue mau ketemuan sama elu hari ini, bisa kan?”

“Kira-kira mau ngomongin apa yah, Bim?”

“Bos gue mau ngembangin usaha. Selama ini pengelolaan bisnis dipercayain sepenuhnya ke Bos Besar, tapi belakangan ini kita sudah nggak sejalan lagi. Intinya Bang Riko mau mencoba usaha yang legal, makanya Bang Riko mau ngobrol sama elu.”

“Gue mahasiswa baru, Bim. Ilmu gue belum seberapa.”

“Tapi elu kan sudah belajar banyak dari bokap lu, anggep saja elu lagi praktek lapangan buka usaha. Gue yakin elu mampu, Joe.”

“Elu serius kan Bos elu mau bisnis legal? Gue langsung cabut begitu tahu hal ini cuma akal-akalan Bos lu doang.”

“Elu percaya sama gue kan Joe? Gue nggak akan nyelakain lu. Pada dasarnya orang kaya gue juga suatu hari mau hidup tenang kaya kalian. Berapa lama kami bisa bertahan dalam dunia hitam, begitu tenaga sudah merosot kami akan di tinggalkan. Elu kenalkan sama Pak Ali?”

“Bokap angkat elu? Hmm, gue ngerti maksud elu. Kalau gitu nanti malam gue ke tempat elu, jam 8 gimana?”

“Siiip, thanks yah Joe.”

Malam harinya sesuai dengan kesepakatan aku mengajak Joe bertemu Bang Riko di rumah Rika. Selain itu Bang Elang dan Bang Gobang hadir juga di tempat itu.

“Kenalin nih Bang temenya Bimbim yang akan bantuin kita, namanya Joe.” Ucap Bang Riko memperkenalkan Joe, mereka saling berkenalan satu per satu.

“Jadi gimana Joe, Bimbim sudah cerita ke elu kan?”

“Sudah Bang Riko, tapi sekali lagi gue tegasin kalau gue nggak akan terlibat dengan bisnis gelap kalian. Selama rencana usaha kalian ada di jalur legal gue akan bantuin.”

“Nggak masalah soal itu Joe, gue ngerti posisi lu. Elu Cuma advisor saja, nama lu nggak akan kebawa kalau ada apa-apa. Lagipula kita memang pingin buka bisnis legal. Liatin tuh Bang Elang sama Bang Gobang, berapa lama lagi sih mereka sanggup terus di dunia hitam. Suatu saat kita pingin hidup normal juga kaya elu. Intinya kita mau mulai lagi dari awal.”

“Sudah dipikirkan usaha apa yang mau dijalanin.”

“Kita sudah sepakat untuk memulai bisnis yang nggak jauh dari dunia kita, kita mau jalanin bisnis keamanan.”

“Cocok banget tuh, kalian sudah punya sumber daya dan market yang banyak untuk itu. tinggal kalian membuat anggota kalian lebih profesional, kerjasama dengan instansi terkait sehingga mereka bisa dapet sertifikat.”

“Itu urusan gue deketin orang pemerintahan dan aparat keamanan.” Sahut Bang Elang.

“Sebenernya dibandingin orang kaya gue, kalian lebih membutuhkan seorang pengacara. Kalau bisa cari pengacara muda yang lulusan perguruan tinggi bonafit.”

“Joe, elu minta tolong bokapnya Grace aja, dia kan tergabung dalam firma hukum bonafit. Pasti bisa ngasih rekomendasi pengacara muda yang bagus.”

“Boleh juga ide lu, Bim. Sekalian gue bisa deketin Grace lagi…”

Aku baru menyadari kekeliruanku kenapa bukan aku saja yang minta tolong sama Grace.

(“Bodoh!”)

**********​

3rd POV

Setelah selesai membicarakan hal-hal yang akan dilakukan untuk memulai usaha legal, Joe segera meninggalkan rumah Rika. Riko, Elang, Gobang dan Rika masih tetap tinggal, mereka meneruskan obrolan mereka.

“Sesuai kesepakatan gue yang akan jadi pimpinan usaha yang baru ini. Mengenai pembagian keuntungan bersih perusahaan, gue sama Bang Elang dapet masing-masing 30%, sedangkan Bang Gobang sama Rika masing-masing dapet 20%.”

“Tapi diluar komisi kan Ko?”

“Bener Bang Gobang. Sesuai petunjuk Joe tadi, komisi nggak diambil dari keuntung bersih tapi sudah termasuk biaya operasional. Kalau Bang Gobang lebih banyak dapet Job tentu abang yang akan lebih banyak dapet uang.”

“Gue rasa nggak masalah elu yang mimpin, Ko. Ide awalnya juga dari elu, kan. Yang penting jangan sampai elu main curang, dan inget tujuan utama kita adalah nyingkirin Fredy. Kalau nggak ada yang mau diomongin lagi gue sama Gobang cabut dulu, kalian lanjutin saja acara kangen-kangenannya.”

“Maksud abang?”

“Jangan belaga bego, Ka. Gue tahu dari tadi elu merhatiin Riko mulu. Elu seneng kan Riko sudah bangun dari tidurnya. Sekarang dia jadi cowok yang kaya elu mau. Sebenernya elu masih sayang kan sama dia? Hubungan lu sama Tito lebih untuk manas-manasin Riko, tapi dia terlalu lemot untuk sadar akan hal itu.” Seloroh Elang.

“Sebenernya kalian masih saling nunggu, makanya pada belum kawin. Kayanya bukan cuma usaha kita saja yang mulai dari awal, hubungan kalian juga bisa dimulai dari awal lagi. Yuk Lang, kita tinggalin dua sejoli ini.”

“Hahahahaha…..” Tawa Elang dan Gobang sambil meninggalkan rumah itu.

“Bang Riko, kita juga permisi dulu.”

“Mau kemana lu, Bim.”

“Nggak enak gangguin, kita jaga di luar aja. Hehehehe…”

Riko dan Rika saling berpandangan, namun tidak ada yang membuka suara sampai beberapa menit kedepan hingga akhirnya Rika yang memulai pembicaraan.

“Elu masih nggak berubah yah Ko, harus gue dulu yang mulai…”

“Eh itu… Jadi bener yang diomongin sama Bang Elang, elu jadian sama Tito Cuma buat gue cemburu?”

“Tapi usaha gue gagal karenaelunya nggak nyadar-nyadar.”

“Sorry Ka, gue emang tolol kalo masalah begitu. Mmm, terus mau gimana kita sekarang?”

“Haiisshh… Masih nanya lagi, elu nggak kangen sama gue? Harus gue juga yang mulai?”

Tanpa menunggu jawaban dari Riko, Rika menggeser posisi duduknya hingga kedua lengan mereka saling bersentuhan. Riko merasakan jantungnya berdetak kencang, perasaan yang cukup lama tidak ia rasakan. Riko meraih tangan Rika lalu mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Bibir mereka saling bersentuhan, semakin rapat hingga akhirnya menyatu dalam suasana erotis malam ini.

“Mmpppmmmhhhhh… Sluuurrrppp!!”

Dari hanya bersentuhan bibir, kini mereka selaing melumat hingga lidah mereka ikut meliuk menyapu bibir serta mengelitik rongga mulut secara bergantian bahkan kadang kedua lidah mereka saling beradu. Suara berkecipakan terdengar memenuhi ruang tengah rumah itu.

Masih sambil terus berciuman Riko melingkarkan tangannya pada pinggang Rika, sementara kedua tangan wanita itu memegangi lengan serta pundak pria itu. Setelah lebih dari 3 menit berciuman dengan panas, mereka melepaskan bibir masing-masing.

Riko menyibak rambut Rika lalu mulai menciumi leher serta sekitar telinga wanita itu.

“Oughhhh…” Desah Rika saat lidah Riko menggelitiki telinganya.

Tangan kasar Riko mulai menggerayangi lekuk tubuh Rika yang indah. Wanita itu tak tinggal diam, tangannya kini mengusap-usap selangkangan Riko yang terlihat mulai menggembung. Riko dan Rika sama-sama merasakan sesuatu yang mulai menjalar disekujur tubuh mereka. Gairah mereka semakin tinggi sehingga tangan mereka mulai meremas-remas, memberikan rangsangan yang lebih lagi pada masing-masing pasangannya.

“Kita pindah ke kamar gue aja, Ko.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi Riko langsung membopong tubuh Rika menuju kamar yang di maksud. Mereka melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda sebelumnya. Bibir mereka kembali saling berciuman, tangan mereka bergerak merangsang titik sensitif pasangannya. Setelah beberapa saat berlalu, ciuman mereka kembali lepas.

Sambil terus saling menatap, dengan cekatan keduanya melucuti pakaiannya masing-masing lalu menghamburkannya begitu saja. Riko menelan ludah saat melihat Rika menurunkan cup bra-nya yang sebelah kiri. Tatapan matanya nanar tertuju pada puting payudara yang tegak mengacung menggodanya. Naluri laki-lakinya menuntun Riko agar seketika itu juga melumat payudara yang terbuka itu, lidahnya menjilat serta menyentil puting Rika secara liar. Dengan rakus Riko menyusu pada payudara Rika.

“Sssshhh… Uuufffhhhhhh…” Desis Rika seolah menahan kenikmatan ketika libidonya terpicu oleh perlakuan Riko.

Tiba-tiba Rika mendorong kepala Riko dari payudaranya. Selanjutnya tubuhnya dirundukkan dengan kepala mengarah ke selangkangan pria itu. Mulutnya menciumi penis Riko dari luar celana panjang pria itu sementara tangannya melepaskan kepala ikat pinggang serta kancing celana. Dengan giginya Rika menurunkan resleting celana panjang Riko sehingga celana itu melorot hingga ke bagian lutut. Kemudian kedua tangan Rika menarik celana dalam Riko dari samping dibantu dengan mulutnya yang ikut menarik turun bagian depan celana dalam itu hingga penis pria itu menyembul keluar dengan gagahnya.

Riko merasakan ada sesuatu yang hangat, basah, dan lembut menerpa penisnya. Mulutnya mendesis menikmati servis dari wanita yang kini tampak asik menjilati kepala penisnya yang telah ereksi sekeras balok kayu itu. Riko merasa seperti melayang-layang tinggi ke langit saat dirinya menikmati hangatnya mulut dan sapuan lidah Rika menjilat lembut kepala penis juga lubang kencingnya. Lama kelamaan penis itu mulai menegang. Tak cukup kepala penisnya, kini lidah Rika turun hingga mencapai pangkal penisnya lalu kembali menyapu naik. Begitu terus hingga seluruh bagian permukaan penis Riko merasakan sapuan lidahnya.

“Achh… enak bangeeeeett… sssshhh… iyah di situ enak banget dijilatin, uuhh!”

Rika memasukkan dalam-dalam penis Riko ke dalam mulutnya, lalu menarik lagi kepalanya hingga tersisa kepala penis dalam mulutnya. Lidahnya dimainkan sebentar sebelum kembali memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Tangannya ikut mengocok-ngocok bagian batang penis yang tidak muat di dalam mulutnya. Mendapat perlakuan sedemikian rupa membuat penis Riko semakin keras.

Tidak tahan dengan perlakuan sepihak dari Rika, Riko menarik pinggul wanita itu lalu dengan cepat melepaskan celana jeans serta celana dalam yang dikenakannya. Celana itu pun jatuh melorot sehingga sepasang paha yang jenjang dan mulus itu terekspos. Tangan Riko terlihat sibuk mengusap juga meremas kedua pantat Rika yang putih mulus dan membulat indah itu dengan gemas.

Setelah puas bermain-main dengan pantat Rika, Riko mengubah posisinya. Tubuh wanita itu ia baringkan di tempat tidur kemudian membuka lebar kedua pahanya lalu mengecup area pangkal paha wanita itu sambil memasukkan jari telunjuknya ke vaginanya, mencari daging kecil sensitif di dalam gua yang lembab itu. Rika makin menggeliat dan merintih menikmati rangsangan yang diberikan Riko, tangannya meremas payudaranya sendiri. Cairan birahinya membasahi vaginanya. Hal ini tidak disia-siakan Riko, ia menyedot kuat agar dapat menelan seluruh cairan yang meleleh dari vagina Rika. Sudah lama pria itu tidak menikmati harumnya serta rasa gurih yang lezat dari cairan birahi wanita yang kini sedang bersamanya.

“Ochhh… ahhhhhh! Sedot semuah, Ko…” Gerakkan pantat Rika semakin liar.

Riko mempercepat kocokan jari telunjuknya hingga vagina Rika makin berdenyut, pantatnya tersentak ke atas mengikuti irama permainan jari pria itu. Riko menggesek klitoris Rika yang sudah sangat terangsang dengan jempolnya. Lidahnya ikut bermain-main di klitoris wanita itu. Dijilatinya biji kecil itu sambil kadang-kadang dihisap, jarinya dengan lincah menjelajahi bibir dan liang vagina itu, yang membuat tubuh Rika semakin menggelinjang.

“Hmmmppppppff… akh… akkkuu… mmmhhhhh… ssshhh…” Rika terus merintih keenakan hingga tak mampu menyelesaikan kalimatnya dengan jelas.

Rika dirangsang habis-habisan oleh Riko, vaginanya sudah sangat basah akibat lendirnya yang meleleh hingga membasahi belahan pantatnya serta seprei yang menutupi tempat tidur.

Rika merasakan permainan lidah dan jari Riko di vaginanya berhenti. Ia memperhatikan pria itu ternyata sedang berusaha mengarahkan penisnya yang sudah sangat tegang menuju ke vaginanya yang juga sudah sangat basah. Riko menggesek-gesekan kepala penisnya ke bibir vagina Rika yang tembem sebelum akhirnya secara perlahan mulai menekan kepala penis itu membelah bibir vagina itu hingga seluruh batangnya tertancap utuh pada vaginanya. Tubuh Rika menggeliat dan dadanya membusung, keringat mengucur membasahi tubuhnya.

Keduanya terdiam sejenak, saling beradaptasi dengan kemaluan masing-masing. Sesaat Riko membelai rambut Rika lalu mengecup keningnya. Selanjutnya pria itu mulai menggerakan pinggulnya perlahan sambil meresapi eratnya himpitan otot-otot dinding vagina wanita itu. Gerakannya mulai dipercepat seiring dengan respon dari Rika yang juga ikut menggerakan pinggulnya untuk mengimbangi gerakan Riko. Sambil melakukan hal itu, Riko melucuti bra yang masih tersisa di tubuh Rika. Mulutnya bergantian melumat kedua bongkahan payudara wanita itu sambil tangannya ikut meremas-remas, sesekali jemarinya memilin puting yang terletak di puncaknya.

Hawa dingin yang keluar dari pendingin ruangan tak mampu menghilangkan suasana panas di dalam kamar ini. Desahan Rika terdengar memenuhi seluruh kamar ini, bahkan terdengar hingga keluar kamar hingga membuat beberapa orang anak buah mereka yang posisinya tak jauh dari kamar itu merasa jengah. Tentu saja mereka ingin mengintip aktivitas yang terjadi di dalam kamar itu, namun mereka urungkan karena menyadari siapa yang ada dalam kamar itu. Mereka hanya bisa mengocok penis mereka masing-masing.

Dalam kamar yang terasa makin panas ini, nampak Riko dan Rika terus bersenggama dengan liar. Mereka sama-sama ingin secepatnya menuntaskan birahi yang sudah menguasai tubuh. Posisi mereka kini sudah berbalik, Riko berbaring di ranjang sedangkan Rika menggerakkan pinggulnya menunggangi tubuh pria itu. Pinggulnya bergerak ke segala arah sambil sesekali memutar dengan cepat namun teratur hingga membuat Riko blingsatan.

Tiba-tiba Riko menarik tubuh Rika yang sedang asik bergoyang di atas tubuhnya hingga membuat dada mereka saling menempel. Tangan Riko memeluk erat tubuh Rika, menahan agar tidak banyak bergerak. Kini Riko yang lebih aktif menggerakkan penisnya keluar masuk di vagina Rika, gerakkannya begitu cepat hingga menyebabkan wanita itu kewalahan.

Sekitar 5 menit dalam posisi itu, tiba-tiba Riko merasakan sudah tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Pria itu segera membalikkan kembali posisi bercintanya. Rika yang juga telah merasakan hal yang sama ikut menggoyangkan pinggulnya semakin cepat. Otot-otot vagina wanita itu semakin kencang menjepit penis pria itu.

“Aaaaahh… aaahhh… gueee keluaaaaaarrr, Ko.”

“Gue juga Ka, memek lu enak banget, nggak tahan, gue juga mauuhh keluaaaaarrr.”

Akhirnya mereka berejakulasi bersamaan dalam rahim Rika. Riko ambruk tak lama setelah ia mencapai klimaksnya, begitu pula Rika yang tampak kelelahan. Keduanya tergeletak di kasur mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.

Malam itu belum berakhir buat mereka berdua, setelah beristirahat sejenak mereka kembali terlibat dalam pergumulan yang panas. Sekujur tubuh mereka penuh dengan keringat, bau khas cairan birahi keduanya menyeruak dalam kamar. Semalaman itu mereka menghabiskan waktu berdua di kamar itu hingga menjelang pagi, hingga akhirnya mereka tertidur karena kelelahan.

**********​

Di tempat terpisah Fredy dan Rian mendatangi rumah Tito. Beberapa anak buah Tito coba menghalangi mereka mendekati bosnya. Mereka bukannya tidak mengenali Fredy dan Rian, namun mereka takut kedua orang itu mencelakai Tito.

“Minggir, kalian nggak tahu siap gue!” Bentak Fredy.

“Biarin mereka mendekat… Ada apa kalian kemari? Jangan bilang mau nengok keadaan gue sekarang. Gue begini pasti karena ulah kalian.”

“Elu jangan gitu To, Bos Fredy bener-bener perduli sama elu. Apa yang terjadi sama lu bukan salah kita, itu terjadi karena ulah cewek lu dan Riko.” Sahut Rian yang coba mempengaruhi pikiran Tito.

“Maksud lu apa, Yan?”

“Coba lu berpikir dengan jernih, siapa yang hapal sama kebiasaan lu. Jalan mana saja yang lu biasa ambil tiap malamnya. Itu memudahkan mereka untuk nyergap elu di tempat sepi.”

“Riko nggak bener-bener mau bantuin elu, buktinya 2 orang terbaiknya justru dipinjemin ke Burhan. Selama ini Rika juga cuma manfaatin elu, begitu Riko nunjukin ambisinya, cewek elu langsung ninggalin lu kaya sekarang. Mereka nggak nganggep lu, buktinya sekarang lu nggak diajak mereka berunding. Gue yakin malam ini mereka sedang bercinta di rumah Rika, coba elu telpon cewek lu sekarang kalo nggak percaya sama omongan gue.” Ucapan Fredy makin membuat Tito terpengaruh.

Tito berjalan mendekati pesawat telpon yang ada di sudut ruangan, beberapa kali dia coba menghubungi kekasihnya namun tidak ada yang menyahut telponnya. Dalam pikirannya Tito mulai mempercayai apa yang diucapkan kedua tamunya tersebut.

“Terus mau lu apa?”

“Rika terlalu bodoh menyampingkan orang kaya elu. Saat ini gue butuh orang-orang kaya lu, kita bisa kerjasama dengan baik. Kalau elu setuju gabung sama gue, kursi pimpinan cabang yang lowong berikutnya akan jadi milik lu.”

“Terus gue harus ninggalin Rika?”

“Belum saatnya, justru gue butuh orang yang bisa deket dengan mereka. Elu bisa kasih gue informasi yang gue perluin. Lu bisa ngerongrong mereka dari dalem, sampai akhirnya lu bisa membalas semua perbuatan mereka dengan pantas.”

“Gue pikirin dulu tawaran lu…”

“Gue harap lu nggak terlalu lama memutuskannya, apa yang gue tawarin ke elu banyak yang mau. Gue percaya kalo elu bisa berpikir dengan bener. Kalo sudah punya jawaban, elu tahu dimana bisa hubungin gue.”

Fredy dan Rian segera meninggalkan rumah itu. Sepeninggal mereka berdua Tito menyuruh seorang anak buahnya untuk pergi ke rumah Rika guna menyelidiki kebenaran ucapan dari Fredy dan Rian.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 15 | Young and Wild and Free Part 15 – END

(Young and Wild and Free Part 14)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 16)