Young and Wild and Free Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 14

Start Young and Wild and Free Part 14 | Young and Wild and Free Part 14 Start

BAGIAN 14

KONFRONTASI AWAL​

3rd POV

Beberapa hari telah berlalu sejak Burhan terpilih menjadi ketua cabang yang baru. Siang ini seluruh pimpinan serta pengurus organisasi berkumpul di markas, sebuah bangunan yang jika dilihat sekilas bagian luarnya hanya terlihat berupa toko barang antik di sebuah pusat perbelanjaan. Bentuknya pun sama seperti bangunan lain di sekelilingnya namun sedikit lebih besar. Pada bagian dalamnya terdapat sebuah ruang besar yang biasa digunakan untuk berkumpul, selain itu ada beberapa jalan rahasia yang menghubungkan bangunan tersebut dengan beberapa bangunan lain disekitarnya.

Siang ini mereka semua berkumpul atas undangan Burhan yang bermaksud menyampaikan sebuah berita penting. Sebenarnya sebagian pimpinan organisasi tersebut tidak ingin hadir siang ini, namun karena Fredy selaku pimpinan tertinggi organisasi turut hadir kali ini maka dengan perasaan enggan mereka juga turut menghadiri pertemuan siang ini.

“Apa maksud lu ngumpulin kita semua Han?”

“Gue mau kasih bukti keberhasilan gue memenuhi tantangan elu, Bang Elang… Sebelumnya gue juga mau ngucapin terima kasih kepada Bang Riko atas kebaikanya minjemin Agung dan Mimin, karena berkat bantuan mereka berdua masalah ini bisa cepat terselesaikan. Selain itu gue juga minta maaf karena telah gagal mengorek informasi dari si pembunuh, dia lebih memilih mati daripada memberitahukan siapa yang telah membayarnya.”

Burhan memberi kode pada anak buahnya untuk membawa keluar barang bukti berupa kantung mayat yang berisi jasad dari lone wolf, si pembunuh bayaran yang telah membunuh Paman Rojak. Selanjutnya Burhan menceritakan kronologis keberhasilannya membalaskan dendam atas kematian bosnya tersebut. Sebuah skenario yang sebenarnya sudah dia susun bersama Rian.

“Kalau ada yang belum yakin, silahkan kalian lihat dan periksa sendiri jasadnya.”

Beberapa orang memilih untuk percaya saja apa yang dikatakan Burhan, beberapa lainnya hanya melihat sekilas kantung mayat itu dari tempat duduknya. Ada beberapa orang yang penasaran hingga memeriksa mayat itu. Mereka semua punya pendapat masing-masing tapi segan untuk langsung mengutarakan pendapatnya karena takut memicu perseteruan.

“Bagaimana pendapat kalian. Setelah melihat langsung bukti keberhasilnnya, apakah masih ada yang ragu dengan kemampuan Burhan?” Tanya Fredy memancing tanggapan pimpinan dan pengurus organisasi.

Sebagian besar orang yang hadir di tempat itu memberi tanggapan positif atas pencapaian yang diraih Burhan, beberapa diantaranya sempat memberikan pujian yang berlebih. Akan tetapi sisanya masih belum meyakini kebenaran berita tersebut.

Melihat tidak ada yang memberikan tanggapan negatif, Fredy memutuskan Burhan berhasil melaksanakan tugas pertamanya sebagai pimpinan cabang.

“Gue harap kedepannya kejadian kaya gini nggak terulang lagi.” Ungkap Fredy diplomatis.

Sepulang dari pertemuan itu, Riko dan anak buahnya seperti biasa berkumpul di rumah Riko untuk membahas pertemuan tadi, kali ini Agung dan Mimin sudah kembali bersama dengan mereka. Riko langsung menginterogasi kedua anak buahnya tersebut.

“Gung, Min, gue mau denger langsung laporannya dari mulut lu berdua. Gimana ceritanya kalian berhasil menangkap dan membunuh Lone Wolf.”

“Burhan berhasil nemuin tempat persembunyian Lone Wof, karena Burhan pingin nangkep sendiri pembunuh itu dia cuma ngajak gue sama Mimin untuk mendatangi tempat itu. Menurut Burhan jika datangnya terlalu banyak orang akan menimbulkan kecurigaan buat si pembunuh bayaran, sehingga ia akan kabur sebelum kita sampai di tempat. Seperti dugaan Burhan, orang itu terlambat menyadari kedatangan kami. Ternyata ditepat itu dia nggak sendirian, ada seorang lagi yang bersamanya, belakangan gue tahu dia adalah guidenya si Lone Wolf selama di kota ini. Saat si pembunuh bayaran berusaha kabur, kita langsung bermaksud untuk mengejarnya. Si guide berusaha menghalangi kita, dia langsung nyerang gue sementara Burhan dan Mimin terus mengejar Lone Wolf.”

“Kok tadi si guide nggak dibawa sekalian?”

“Burhan ngelepasin dia bang. Katanya nggak penting karena dia nggak tahu apa-apa, cuma guide biasa.”

“Hmm… Terusin cerita lu.”

“Gue bertarung cukup sengit sama si guide, namun akhirnya orang itu tetap tumbang di tangan gue. Setelah ngiket si guide biar nggak kabur, gue berusaha nyari keberadaan Burhan dan Mimin. Akhirnya gue menemukan mereka di lapangan yang letaknya cukup jauh dari tempat persembunyian Lone Wolf. Tapi saat gue sampai di lapangan itu, gue hanya sempat melihat Burhan menghujamkan pisaunya beberapa kali ke tubuh Lone Wolf.”

“Waktu elu ngeliat Burhan nusuk Lone Wolf, bagaimana posisinya?”

“Mereka masih dalam posisi berdiri, Mimin megang Lone Wolf sambil mencekal tangannya dari belakang.”

“Kalau elu Min, gimana cerita lu?”

“Gue sama Burhan ngejar si pembunuh cukup lama, hingga akhirnya kita bisa menyusulnya saat tiba di sebuah lapangan. Si pembunuh bayaran sempat mengadakan perlawanan yang sengit sehingga Burhan terpaksa mengeluarkan pisaunya. Setelah beberapa kali terkena sabetan serta tusukan pisau Burhan, si pembunuh bayaran akhirnya tumbang. Gue segera meringkus dia. Burhan sempat menginterogasi Lone Wolf. Namun karena jawaban dari Lone Wolf memancing emosinya, Burhan akhirnya menghujamkan pisaunya beberapa kali hingga si pembunuh bayaran mati.”

“Jadi gitu ceritanya…” Riko menganalisa kedua versi cerita tersebut dalam benaknya. Sesaat Ia memandangi kedua anak buahnya tersebut dengan penuh selidik, lalu kembali bertanya. “Selama kalian bersama Burhan apakah ada yang bisa di ceritakan?”

“Mungkin abang sudah tahu berita ini, Burhan sempat beberapa kali ketemu sama Rian. Apa yang mereka bicarain gue nggak tahu karena mereka selalu menjaga jarak saat berbicara.” Jawab Agung.

“Kita pernah diajak sekali ke rumahnya Bos Fredy, tapi hanya disuruh nuggu di ruang tengah sementara mereka berbicara di ruang kerjanya Bos Fredy.” Tambah Mimin.

“Kapan itu, Min?”

“Tiga hari yang lalu, malam sebelum kerusuhan di jembatan dekat pelabuhan.”

“Siapa saja yang hadir?”

“Gue cuma liat Bos Fredy, Bang Erwin, Rian, Burhan dan ada seorang perwira polisi tapi gue lupa jabatannya apa.”

“Elu kenal perwira itu, Gung?”

“Gue emang liat ada orang diluar organisasi kita tapi nggak jelas orangnya karena dia lewat pintu samping dan pake topi serta kacamata item.”

“Ada lagi yang bisa kalian ceritain?”

“Mungkin perasaan gue saja, tapi kayanya Bos Fredy sama Rian kurang menyukai kehadiran gue malam itu.” Ucap Agung.

“Kalo nggak ada yang mau diceritain lagi, sekarang kalian boleh pulang duluan. Besok kalian baru tugas kaya biasanya.”

“Gue disini aja, Bang. Dirumah juga lagi nggak ada kerjaan.” Ucap Mimin.

“Yah ngapain kek kalian berdua, terserah. Anggep aja gue kasih reward karena kalian sudah berhasil ngejalanin tugas besar dengan baik. Jadi kalian bebas hari ini.”

Karena tidak ingin menyinggung perasaan Riko, kedua anak buahnya tersebut segera pergi dari tempat itu dengan terpaksa. Di dalam hatinya mereka bertanya, mengapa Riko seakan mau menyingkirkan mereka. Setelah keduanya meniggalkan rumahnya, Riko langsung minta pendaat Bimbim dan teman-temannya.

“Gimana Gun menurut pendapat lu, siapa yang sudah jadi orangnya Fredy?”

“Mimin.” Jawab Guntur singkat dan jelas.

“Kenapa elu bisa berpendapat kaya gitu?”

“Kejadian pembunuhan terhadap Lone Wolf seperti sudah diatur. Agung sengaja dipisahkan dari Burhan dan Mimin, memberi mereka waktu untuk menseting pembunuhan Lone Wolf. Selain itu gue sangat yakin dari julukan si pembunuh bayaran, dia akan bekerja seorang diri. Dia nggak membutuhkan bantuan orang lain, termasuk seorang guide untuk mengetahui kondisi kota ini. Si guide juga dilepas gitu saja sama Burhan. Alasan lainnya adalah Mimin mengetahui sosok orang kelima yang hadir pada saat pertemuan di rumah Fredy adalah seorang polisi, padahal menurut Agung orang itu sangat tertutup penampilannya bahkan dia masuk lewat pintu samping yang seinget gue jaraknya agak jauh dari ruang tengah.”

“Alasan pertama elu masuk akal Gun, gue juga nggak yakin Burhan sama Mimin bisa ngalahin Lone Wolf dengan cepat, tadi Mimin sempet bilang mereka lumayan lama ngejar si pembunuh, Agung juga ngomong jarak dari lapangan ke tempat persembunyian cukup jauh. Tapi alasan kedua elu agak meragukan, bisa saja orang itu adalah pimpinan kepolisian yang sering muncul di televisi sehingga sosoknya bisa dikenal oleh Mimin.” Sanggah Bimbim.

“Kemungkinan itu sangat kecil Bim, Mimin bukan orang yang suka nonton televisi. Lagipula jika Mimin bisa semudah itu menduga ia seorang polisi, gue yakin Agung pasti juga bisa mengenalinya. Mimin bukan cuma menduga, dia tahu persis siapa yang datang malam itu.”

“Jadi maksud elu, Mimin pernah ketemu sebelumnya sama orang itu?”

“Bener Bang Riko. Dugaan gue saat Bos Fredy ketemuan sama orang itu di suatu tempat, Mimin juga hadir disitu. Dia tahu orang itu polisi dari isi pembicaraan mereka, tapi nggak mengenalinya karena wajahnya tertutup. Saat orang itu muncul lagi di rumah Bos Fredy dengan dandanan yang sama persis, Mimin langsung mengenali orang itu. Tapi untuk lebih ngeyakinin Bang Riko, abang bisa ngatur siasat untuk jebak Mimin.”

Riko mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Guntur, ia percaya apa yang dikatakan anak buahnya benar karena feelingnya juga berkata demikian.

“Yang lain gimana pendapatnya?”

“Firasat gue juga menduga kalau Mimin yang sudah dideketin sama Bos Fredy. Selama ini, kalau feeling gue sama analisa Guntur sejalan maka dugaan itu bener. Ada satu hal lagi yang mau gue kasih tahu. Lone Wolf belum mati, jasad yang ditunjukin sama Burhan palsu.”

“Kenapa elu bisa ngomong gitu, Bim?”

“Gue kenal siapa itu Lone Wolf…”

Bimbim menceritakan hubungannya dengan pembunuh bayaran yang dijuluki Lone Wolf itu, ia juga bercerita ketika Bram mendatanginya di kedai kopi Pak Ali beberapa waktu yang lalu, termasuk rencananya mengeksekusi salah seorang yang dekat dengan Bimbim.

“Kenapa elu nggak cerita tadi saat pertemuan? Elu bisa bongkar kebusukan Burhan.” Ucap Sakti agak kesal karena Bimbim merahasiakan informasi tersebut sebelumnya.

“Kalau gue cerita, maka gue akan ikut dicurigai sama yang lain terlibat dalam pembunuhan Paman Rojak.”

“Hmm, dugaan gue sebelumnya bener. Fredy akan minjem tangan dari luar untuk nyingkirin orang-orang yang nentang dia. Kalau dari cerita elu tadi Bim, kita tinggal punya waktu lebih kurang seminggu lagi sebelum temen lama lu beraksi lagi.”

“Sepertinya gitu bang. Dan target selanjutnya kayanya abang …” Sahut Bimbim.

**********​

Malam ini Sakti terlihat berjaga-jaga di sekitar area pasar, ia ditemani beberapa anak buah Riko yang lain. Tiba-tiba saja muncul seorang pemuda bertubuh besar menghampiri mereka.

“Woii ngapain lu kemari!” Bentak salah satu anak buah Riko.

“Gue cuma penasaran sama salah satu anak buah andalannya Riko…”

“Hadapin dulu gue…”

Seorang anak buah Riko setengah berlari menghampiri pemuda itu. Saat jarak mereka hanya terpaut 2 langkah lagi, tiba-tiba pemuda itu melompat sambil mengarahkan tendangannya tanpa mampu dibendung oleh anak buah Riko tersebut. Melihat seorang rekannya terjatuh, 3 orang anak buah Riko lainnya langsung bergerak. Seorang membantu rekannya yang tadi terjatuh agar berdiri kembali sedangkan 2 orang yang lainnya langsung menyerang pemuda misterius tersebut.

Salah seorang anak buah Riko segera menghantamkan pukulannya saat pemuda misterius itu berada dalam jangkauan pukulannya. Namun saat pukulan anak buah Riko tersebut baru mengayun setengah jarak, dengan cepat pemuda misterius itu melesatkan pukulan balasan ke arahnya. Pukulan pemuda misterius itu lebih dulu mengenai dada anak buah Riko dengan telak hingga tubuhnya terpental ke belakang. Anak buah Riko yang lain segera menerkam tubuh si pemuda misterius, namun dengan sekali gerakan ia mampu membanting anak buah Riko dengan keras.

“Stop! Dia nantangin gue, kalian minggir dulu.” Seru Sakti melihat rekannya berusaha untuk kembali berdiri lalu menyerang pemuda tersebut.

Pemuda misterius itu hanya tersenyum dingin kearah Sakti. Dalam hatinya Sakti merasakan aura yang sangat menakutkan dari pemuda misterius tersebut. Ia menduga bahwa pemuda itu tak lain adalah Bram, teman masa lalu Bimbim yang di kenal sebagai Lone Wolf. Belum pernah sebelumnya Sakti menghadapi orang dengan aura seperti Bram. Untuk pertama kali dalam hidupnya Sakti merasa sedikit ciut menghadapi seseorang, namun dia tetap berusaha bersikap seperti biasanya.

“Siapa lu sebenernya? Ngapain elu nyari gara-gara disini.”

“Nggak usah banyak omong. Gue sudah nggak sabar, ayo kita selesaikan sekarang.”

Bram melangkah santai kearah Sakti hingga jarak mereka hanya terpaut selangkah lagi. Sakti segera melayangkan pukulannya ke arah Bram namun dapat ditangkis pemuda itu dengan mudah, bahkan dengan cepat Bram melancarkan pukulan balasan dengan kedua tangannya yang tidak sanggup dihindari oleh Sakti. Bram menghajar wajah Sakti berkali-kali dan diakhiri sebuah drop kick kearah dada Sakti sehingga pemuda itu tersurut mundur beberapa langkah bahkan hampir terjatuh. Sambil memegangi dadanya Sakti berusaha berdiri tegak kembali.

Melihat Sakti hampir terjatuh, keempat anak buah Riko yang tadi hanya menonton segera menyerang Bram secara bersamaan. Bram mampu menghindari serangan pertama dengan cara memutar tubuhnya seperempat putaran ke kiri, namun belum sempat ia membalikkan tubuhnya serangan berikutnya segera datang. Dengan sigap Bram menangkis serangan yang cukup cepat tersebut kemudian melakukan pukulan balasan. Tanpa banyak kesulitan Bram mampu membuat keempat anak buah Riko terkapar satu per satu. Melihat rekannya tak ada yang mampu berdiri lagi, Sakti kembali menyerang Bram.

Sakti menjejakkan telapak kakinya ke tanah hingga tubuhnya melesat ke arah Bram dengan posisi sedikit miring. Lengan kiri membuat gerakan membabat ke arah pinggang sedangkan lengan kanan menghantam dari atas ke bawah mengincar kepala Bram. Dengan santai Bram meladeni serangan Sakti, tanpa menggeser kuda-kuda kakinya dia menarik kepalanya sedikit ke belakang menghindari serangan yang mengarah ke kepalannya sambil tangan kanannya diangkat melindungi pinggangnya. Sekejap kemudian pemuda berambut gondrong tersebut berbalik menyerang Sakti. Uppercutnya meluncur tanpa sempat terlihat lawannya mendarat di perutnya. Belum sempat lawannya berbuat sesuatupun, Bram sudah menekuk lututnya lalu mengarahkannya pada tubuh Sakti. Kali ini Sakti tidak mampu berdiri lagi, tubuhnya tak mampu menahan serangan berantai dari pemuda berkulit coklat kehitaman tersebut.

Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Sakti mencoba untuk bangkit berdiri. Dengan tubuh terhuyung ia mengepalkan tangannya tanda masih sanggup menghadapi lawannya.

“Rrrrrraaaggghhhhh!!!”

Teriakan keras Sakti mengawali serangannya terhadap Bram, dalam benaknya Bram memuji daya juang Sakti. Pemuda itu segera menyambut pukulan yang dilancarkan lawannya, kedua pukulan saling beradu keras. Dari adu pukulan tersebut Sakti tahu dirinya bukan lawan yang sepadan untuk Bram, namun tanpa mempedulikan kondisinya ia terus memberi perlawanan pada pemuda yang berjuluk Lone Wolf itu.

Bram membiarkan pukulan Sakti mengenai wajahnya beberapa kali, hal tersebut sengaja dia lakukan untuk menguras stamina lawannya. Pemuda itu sudah memperhitungkan kekuatan pukulan Sakti yang sudah kepayahan tidak akan mampu membuatnya terjatuh. Walaupun beberapa pukulan Sakti mendarat cukup telak diwajahnya Bram sama sekali tidak goyah, bahkan pemuda itu terus melangkah maju tanpa berusaha menghindari pukulan dari Sakti. Pukulan dan tendangan balasannya yang justru memaksa Sakti terus melangkah mundur, tubuhnya pun semakin babak belur terkena hantaman serangan si pembunuh bayaran.

Namun demikian hal itu tidak membuat Sakti merasa jerih. Dia terus berusaha melancarkan serangan terhadap Bram, namun sampai sejauh ini tidak ada satupun serangan Sakti yang berhasil membuat Bram bergeming. Justru pada sebuah kesempatan sebuah spinning wheel kick dari Bram kembali membuat Sakti jatuh tersungkur. Kali ini Bram tak melepaskan Sakti begitu saja, dia segera menghampiri pemuda itu lalu mencengkram kepalanya dengan kuat. Sebelum Sakti sempat memberikan perlawanan, dengan brutal Bram langsung melesakkan lututnya ke arah wajah Sakti berkali-kali hingga wajah pemuda itu banyak mengeluarkan darah. Setelah dia merasa Sakti tidak sanggup melawan lagi, Bram segera mendorong kepala pemuda tersebut hingga Sakti jatuh terlentang. Mengira lawannya sudah tak berdaya lagi, Bram segera memutar tubuhnya bermaksud meninggalkan tempat itu.

“WOOYY! Ini belum selesai…” Dengan sempoyongan Sakti masih berusaha berdiri kemudian kembali memasang kuda-kuda walaupun kakinya sudah terlihat goyah.

Keempat anak buah Riko yang masih tergeletak di tempat itu juga berusaha bangkit, dengan senyumnya yang dingin Bram memutar tubuhnya kembali kemudian lalu menghajar mereka satu per satu hingga kembali terkapar. Setelah itu ia menoleh ke arah Sakti.

“Gue salut sama nyali lu. Nggak salah Bimbim milih elu jadi temennya.”

Sambil menyeringai Bram segera berjalan cepat ke arah Sakti, ia kembali menghajar pemuda itu dengan brutal. Sakti berusaha melawan semampunya, namun tak lama kemudian tubuh Sakti kembali rubuh untuk kesekian kalinya. Wajahnya sudah penuh dengan luka, ia masih berusaha untuk bangkit namun kali ini usahanya tidak berhasil. Baru saja dia mencoba untuk berdiri sambil menopangkan tanggannya, tubuhnya sudah kembali rubuh.

“Nggak usah bangun lagi, nanti temen-temen lu nggak ada yang bisa ngenalin muka lu lagi.”

Setelah berkata demikian, Bram segera berlalu meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa saat hanya bisa berdiam diri, dengan susah payah keempat anak buah Riko segera bangkit lalu menghampiri tubuh Sakti. Merekapun berusaha membantu pemuda itu untuk berdiri.

“Cepet kabarin Bang Riko… Kita bawa Sakti ke Rumah Sakit terdekat.”

Salah seorang anak buah Riko segera mencari wartel terdekat untuk menghubungi bosnya, sementara yang lainnya mencari kendaraan kemudian membawa Sakti menuju rumah sakit terdekat.

Setelah mendengar apa yang terjadi pada Sakti, Riko segera mengajak Bimbim dan gengnya menuju ke rumah sakit tersebut. Sesampainya disana mereka langsung menuju ke ruangan tempat Sakti dirawat.

“Gimana keadaannya, Dok?”

“Luka diwajahnya cukup parah, untungnya saraf-saraf vitalnya tidak ada yang rusak. Tapi dia perlu perawatan intensif, paling tidak butuh 3 bulan agar dia bisa pulih kembali.”

Merekapun segera meninggalkan ruangan itu agar Sakti bisa istirahat dengan tenang.

Riko segera mendatangi anak buahnya yang tadi menghubunginya lalu bertanya kronologis kejadiannya. Anak buahnya segera menceritakan apa yang telah terjadi, diapun menjelaskan ciri-ciri pemuda yang telah menyerang mereka.

“Berdasarkan ciri-ciri yang diceritain tadi, gue yakin kalau yang ngelakuin ini Bram. Tapi gue nggak tahu pasti alasannya dia nyerang Sakti.” Ucap Bimbim saat mereka berempat duduk di ruang tunggu.

“Sepertinya Bram mulai melancarkan aksinya kembali. Dia mau nyingkirin orang yang ada di sekeliling Bang Riko satu per satu terlebih dulu sebelum mengeksekusi abang sebagai target utamanya.” Ucap Jati menduga pola pikir dari Bram, si Lone Wolf.

“Berarti dugaan kita tadi siang bener. Fredy pasti sudah nyuruh Bram buat nyingkirin gue, kalau begitu kita harus lebih waspada.”

“Urusan Mimin gimana, Bang?” Tanya Jati mengingatkan Rico.

“Bangsat! Hampir lupa gue, kalau gitu kita selesaiin urusan Mimin malem ini juga. Biar yang lain nungguin Sakti malam ini, gue yakin Bram nggak akan nerusin aksinya malam ini.”

Setelah menginstruksikan beberapa anak buahnya tetap berjaga di rumah sakit, Rico beserta Bimbim, Jati dan Guntur langsung mendatangi rumah Mimin. Kedatangan mereka disambut Mimin dengan penuh tanda tanya.

“Malam Bang. Kayanya ada hal penting yang mau abang sampein ke gue.”

Rico menatap Mimin dengan tajam, wajahnya terlihat sangat serius. Mimin mulai menduga-duga maksud dari kedatangan bosnya tersebut. Belum pernah dia melihat tatapan serta raut wajah Rico seserius ini terhadapnya. Ada suatu masalah besar yang akan disampaikan Rico, dan hal itu menyangkut dirinya.

“Sejak kapan Fredy deketin dan nyuruh elu mata-matain gue!?” Seru Rico, wajahnya tarlihat tegas, matanya terus memperhatikan mata Mimin dengan tajam.

Mimin memperhatikan raut wajah Rico sejenak, ia tahu bosnya itu tidak sedang menduga-duga. “Gue sudah lebih dari sepuluh tahun bareng sama elu, Ko… Gue nggak mau ngianatin elu…”

“Bukan itu pertanyaan gue. Elu nggak usah muter-muter.”

Mimin mengalihkan pandangannya ke arah Bimbim dan yang lainnya. Ia tersenyum sinis ke arah mereka, kamudian dia mengarahkan tatapannya kembali ke Rico. Kali ini sorot matanya menatap dalam mata bosnya itu.

“Gue nggak tahu apa yang sudah mereka omongin ke abang tentang gue. Semenjak mereka berhasil jalanin misi pertama dengan sangat baik, gue sudah ngerasa pandangan lu terhadap mereka sangat berbeda. Hanya masalah waktu gue sama Agung elu singkirin, sayangnya gue doang yang sadar akan hal itu. Agung masih terlalu lugu untuk menyadarinya.”

“Jadi karena elu merasa tersingkir makanya memilih berpihak pada Fredy. Gue sama sekali nggak punya niatan nyingkirin elu, bahkan kalau elu mau lebih sabar gue sudah berencana membagi sedikit wilayah gue ke elu. Sama kaya gue kasih kesempatan ke Tito.”

“Terserah elu mau percaya omongan mereka atau gue… Sekali lagi gue tegasin, GUE NGGAK MAU NGIANATIN ELU!”

Sejenak Rico mencerna kata-kata Mimin, dibenaknya muncul sedikit keraguan atas tuduhan yang ia lontarkan. Riko merasa apa yang diucapkan Mimin bukanlah suatu kebohongan. Tapi ia juga merasa analisa Guntur tidak mungkin salah karena dalam hati kecilnya ia juga sudah menduga sebelumnya jika yang menjadi mata-mata Fredy dipihaknya adalah Mimin. Namun jawaban Mimin membuatnya kembali berpikir ulang untuk menuduh anak buahnya itu.

“Elu masih belum jawab pertanyaan gue tadi….. Gue tahu elu nggak mau ngianatin gue, tapi elu terpaksa ngianatin gue.” Ucapan Rico tidak sekeras sebelumnya, namun masih terdengar tegas.

Mimin masih menatap Rico, namun makin lama tatapannya makin meredup hingga akhirnya ia hanya bisa menundukkan kepala menghindari tatapan Rico. Mimin sadar, dia tak mungkin lagi untuk mengelak dari sangkaan Rico.

“Maapin gue, Ko…”

“Kenapa Min? Kita sudah sama-sama sejak dari awal.”

Sejenak Mimin ragu menceritakan alasannya. Namun jika ia tak menceritakannya sekalipun, Rico tetap akan mengusirnya.

“Gue terpaksa ngikutin kemauan Bos Fredy karena dia megang rahasia gelap gue yang nggak mungkin gue kasih tahu ke elu sebelumnya. Sebenernya…… Kintan anak gue.”

“Apa maksud elu?!“ Rico kaget mendengar pengakuan Mimin, dia tidak mau percaya apa yang baru saja dia dengar.

“Elu inget kejadian malam Tahun Baru 3 tahun yang lalu, kita berdua mabuk berat saat itu. Setelah elu ketiduran, gue bermaksud pulang. Saat itu Nita dateng ke rumah lu mau nginep karena suaminya tiba-tiba tugas ke luar kota. Saat itulah tanpa bisa gue kendaliin napsu, gue perkosa adik lu.”

“Bajingan lu!” Riko tidak sanggup menutupi emosinya. Kalau saja Bimbim dan Jati tidak menahannya, ia sudah menghajar Mimin saat itu juga.

“Biarin Bim… Biar Riko melampiaskan emosinya ke gue. Anggap saja itu hukuman buat gue yang nggak tahu diri berani memperkosa adiknya sampai hamil.”

Bimbim dan Jati segera melepaskan Rico setelah melihat bosnya bisa mengendalikan emosi.

“Elu masih berhubungan dengan Nita?”

“Kenapa elu berpikiran kaya gitu, Ko?”

“Waktu elu perkosa Nita, Fredy nggak mungkin tahu, yang tahu kejadian itu cuma elu sama Nita. Jadi kemungkinannya Fredy tahu hubungan kalian saat orang suruhannya ngeliat elu ketemuan sama Nita belakangan ini.”

“Bener dugaan lu. Bos Fredy memang tahu hubungan gue sama Nita dari pengintaian anak buahnya. Gue cuma dikasih Nita kesempatan untuk deket sama Kintan saat anak gue ulang tahun, itupun cuma beberapa menit. Sepertinya orangnya Fredy mengetahui tanpa sengaja pertemuan kami tersebut. Fredy ngancem gue akan nyelakain Kintan kalau gue nggak mau bantuin dia. Gue nggak peduli sama nyawa gue, tapi tolong elu jagain Kintan buat gue. Gue sudah siap apapun yang akan lu lakuin ke gue.”

“Kenapa lu baru ngomong sekarang? Kalau elu terus terang gue pasti akan lindungin Kintan, biar gimanapun juga dia keponakan gue.”

“Maaf Ko, gue nggak berpikir jernih saat itu. Apalagi Rian yang waktu itu datengin kami ngancem akan memperkosa adik lu bareng anak buahnya. Jadi gue langsung setuju.”

“Apapun alasannya elu sudah berbuat kesalahan besar. Elu tahu aturannya di organisasi kita. Besok gue tunggu elu di tempatnya Agung, kita selesaiin urusan kita. Kalau elu kabur, gua akan cari sampai kemanapun. Mulai sekarang status lu bukan anak buah gue lagi, jadi gue harap besok lu bertarung sama gue secara serius.”

**********​

POV Bimbim

Bang Riko menelpon ku pagi ini, dia menyuruhku untuk mencari Bram dan mengatur waktu untuk duel langsung dengannya, Bang Riko nggak mau masalah ini berlarut-larut sehingga anak buahnya menjadi korban satu per satu.

“Je, gue nggak ikut ke tempatnya Agung pagi ini, malemnya gue juga langsung ketemuan sama Siska.”

“Sudah ngomong sama Bang Riko?”

“Justru Bang Riko yang nyuruh gue nyari tahu keberadaan Bram.”

“Hati-hati Bim. Gue ngerasa temen lu itu terus mantau kita. Kalau dia bisa bikin Sakti kaya gitu, gue yakin saat ini temen lu itu kemampuannya sedikit di atas elu.”

“Anjrit, elu ngeremehin gue.”

“Hehehehe….”

Aku segera menuju ke wartel untuk menghubungi Siska untuk janjian ketemu nanti malam. Selanjutnya aku segera mengelilingi kota sambil mencari informasi mengenai keberadaan Bram. Sudah lima jam lebih aku keluar masuk ke lokasi-lokasi yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian Bram, namun aku belum berhasil menemukannya. Namun saat aku memutuskan istirahat sejenak disebuah warung, tanpa ku duga pemuda itu muncul dan langsung duduk disebelahku.

“Elu nyariin gue, Bim.”

“Gue tahu siapa orang deket gue yang lu incer, kapanpun lu mau nyerang dia gue sudah siap gagalin rencana elu.”

“Bagus dong kalau gitu. Kita liat saja apakah omongan lu terbukti 4 hari lagi. Ada lagi yang mau elu omongin?”

“Gue harap elu nggak usah bawa-bawa temen gue yang lainnya, elu cukup hadapin gue dulu sebelum ketemu sama bos gue.”

“Elu muter-muter setengah hari nyari gue cuma mau nyampein hal itu? Hahahahaha… Kalau nggak ada yang mau lu omongin lagi gue cabut dulu. Satu hal lagi, jangan terlalu yakin sama penilaian orang lain. Elu yang lebih kenal gue, seharusnya elu yang bisa lebih tahu pola pikir gue. Jangan sampai salah ngambil keputusan karena ini menyangkut nyawa orang yang ada di sekitar lu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu Bram langsung meninggalkan warung itu. Aku masih tak mengerti maksud dari kata-kata Bram yang terakhir. Namun untuk saat ini aku tidak mau terlalu ambil pusing dengan perkataan Bram karena menurutku dia hanya ingin membuatku merasa bingung.

“Sendirian saja, Bim?” Sapa seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam warung.

“Eh, Grace. Dari mana lu?”

“Abis nyari buku sama temen-temen, pas lewat depan warung aku ngeliat kamu ada disini. Kamu baru mau makan atau sudah selesai?”

“Baru saja mau pesen makan. Mau makan bareng sekalian?”

“Boleh, kebetulan belum makan siang. Sebentar yah aku ajakin temen-temenku yang lain.”

Grace segera keluar dari warung, namun tidak lama kemudian dia kembali masuk namun tak ada seorangpun temannya yang ikut masuk.

“Loh kemana temen-temen lu?”

“Nggak ada yang mau ku ajak makan disini, mereka cari tempat makan lainnya.”

“Temen lu pada takut diare yah makan di pinggir jalan. Elu nggak takut kena diare juga?”

Grace hanya tersenyum mendengar ucapanku. Aku tahu dia memang tidak pilih-pilih tempat untuk makan. Bagi gadis itu selama warung tersebut terlihat bersih dan menunya sesuai, dia tidak terlalu mempermasalahkan letaknya. Hal itu merupakan salah satu sifatnya yang dulu membuatku jatuh cinta padanya.

“Elu nggapapa ditinggal sendirian sama temen-temen lu? Nggak takut akan jadi omongan?”

“Nggapapa, lagipula tadi aku bilang kamu itu sepupu aku.”

Kami segera memesan makanan sesuai selera masing-masing, seporsi ayam bakar plus nasi uduk buatku dan nasi putih setengah porsi plus soto ayam untuk Grace. Minumannya kami sama-sama memesan teh manis hangat. Sambil menunggu pesanan kami disiapkan, aku dan Grace berbincang-bincang.

“Kamu masih berhubungan sama cewekmu itu?”

Pertanyaan Grace membuat hatiku miris. Aku kembali teringat akan dilema yang kualami, di satu sisi aku masih sangat menginginkan gadis di sebelahku ini kembali padaku namun di sisi lainnya sosok Siska sudah berhasil mengambil sebagian hatiku. Akupun sudah berjanji untuk selalu menjaga cinta gadis itu.

“Masih, bahkan hubungan kami semakin bertambah dekat. Memangnya kenapa Grace?”

“Sebenarnya aku sangat berharap kamu mau mendekati Ella. Kalau kalian jadian, maka aku dan Joe bisa kembali pacaran tanpa rasa was-was.”

“Oooo, jadi elu jodohin gue sama Ella biar elu bisa balikan lagi sama Joe. Gimana kalau kita biarin aja Joe yang pacaran sama Ella, terus elu jadian sama gue.”

“Hmmm…” Gumam Grace kecewa dengan jawabanku.

“Emangnya gue sama sekali nggak menarik buat elu?”

“Jujur saja, kamu punya tempat tersendiri di hatiku. Hanya saja aku belum dapat memahami posisimu ada dimana. Untuk saat ini sudah pasti aku tidak ingin kehilangan Joe, sedangkan kamu entah mengapa aku hanya merasa kamu adalah bagian diriku yang hilang dan kembali lagi. Kamu seperti bagian dari masa laluku yang hilang dari ingatanku.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Bagaimana jika ternyata gue memang bagian dari masa lalu elu?”

Grace tertegun memandangku, gadis itu tampak memikirkan perkataanku. Ada sesuatu yang sepertinya sedang menggelayuti pikirannya sekarang. Sebelum kami sempat berbicara lebih banyak, pelayan warung sudah mengantarkan pesanan kami sehingga pembicaraan kami terputus.

“Ngaco ah kamu, Bim.” Ucap Grace sebelum ia mulai menyantap makanannya.

Kami tak lagi membahas topik itu saat sedang menikmati makan siang maupun setelahnya. Namun aku tahu Grace masih terus memikirkan perkataanku tadi. Setelah kami membayar pesanan makanan, aku segera mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Selanjutnya aku mampir sejenak di warung Pak Ali sambil menunggu waktu bertemu dengan Siska.

“Bapak lagi sakit yah? Mukanya keliatan pucat.”

“Beberapa hari ini bapak memang lagi kurang enak badan, Bim.”

“Jaga kesehatan Pak, cuaca memang lagi kurang bagus.”

“Iya. Belakangan ini bapak juga selalu pulang lebih awal dari biasanya. Kamu nginep malam ini, Bim?”

“Lain kali saja yah Pak, Bimbim sudah ada janji malam ini.”

“Janjian nginep sama perempuan Bim? Sudah jadi pacar kamu atau masih di deketin?”

Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Pak Ali. Kutatap pria tua itu dengan seksama, ada keinginan untuk bisa ngobrol lebih lama lagi dengannya malam ini namun sepertinya hal itu tidak bisa terwujud. Setelah hari mulai malam aku berpamitan pada Pak Ali lalu pergi meninggalkannya.

**********​

3rd POV

“Yan, elu belum nyuruh Lone Wolf bergerak kan? Kenapa dia sudah bergerak duluan?”

“Gue belum ngasih instruksi apa-apa bos. Gue juga heran kenapa dia nyerang anak buahnya Riko.”

“Bangsat! Gara-gara pembunuh bayaran sialan itu rencana kita bisa berantakan. Riko pasti mengira bangsat itu bertindak atas instruksi dari kita, dia bisa memulai perang dengan kita lebih cepat dari yang sudah kita perkirakan.”

“Terus gimana bos?”

“Kumpulin orang-orang kita malam ini, kita atur antisipasi. Hubungi Lone Wolf, tanyain kenapa dia bekerja sendirian diluar rencana kita. Kalau dia susah diatur, lu harus cepet nyari pembunuh bayaran yang lain.”

Rian segera melakukan apa yang baru saja disuruh bosnya. Ia menghubungi beberapa orang untuk mengatur pertemuan serta menyiapkan pembunuh bayaran sesuai keinginan Fredy.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 14 | Young and Wild and Free Part 14 – END

(Young and Wild and Free Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 15)