Young and Wild and Free Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 13

Start Young and Wild and Free Part 13 | Young and Wild and Free Part 13 Start

DILEMA​

POV Bimbim

Malam ini seperti biasanya aku menemui Siska di sebuah rumah rahasia di pinggir kota. Ada yang berbeda dari sikap gadis itu, walaupun tampak berusaha menyembunyikannya namun raut wajahnya tetap terlihat guratan rasa takut yang amat sangat.

“Apa yang lagi lu pikirin Sis?”

“Gue kecapean aja Bim…” Nada suara Siska terdengar menggantung dan seperti menyimpan masalah besar.

“Gue sudah janji akan selalu jagain elu, tapi gimana gue bisa jagain lu kalau gue nggak tahu apa yang sedang elu hadapi.”

Sisika tampak merenung sejenak. Gadis itu mendekatiku lalu memelukku erat seolah tidak ingin lepas, dari mulutnya terdengar suara isakan pelan. Aku membalas pelukannya dengan hangat, kukecup keningnya sesaat lalu membelai tubuhnya agar ia merasa nyaman.

“Bim…. Janji yah bawa gue pergi dari Bang Fredy. Gue takut sama dia, Bim.”

“Apa yang sudah dia lakuin ke elu?”

Aku membimbingnya ke sofa lalu menyuruhnya meneguk teh hangat yang sudah kusiapkan sebelumnya. Dengan manja Siska memintaku agar meminumkan teh tersebut ke mulutnya. Setelah dirinya merasa tenang, Siska menceritakan apa yang terjadi kemarin malam dirumah Fredy. Untuk pertama kalinya ia melihat secara langsung Fredy menyuruh anak buahnya membantai informan polisi dan keluarganya, juga dengan tangannya sendiri Fredy telah membunuh Jono yang ternyata seorang polisi yang menyamar.

“Gue akan pikirkan jalan keluar secepatnya, untuk sementara waktu elu harus bisa bertahan sambil terus mencari informasi tentang apa yang dilakukan Bang Fredy.”

“Gue akan coba. Tapi tolong lu bawa gue pergi secepatnya.”

“Gue janji. Sekarang elu langsung istirahat aja.”

Siska menggelengkan kepalanya.

“Gue mau kita bercinta malam ini seperti biasanya saat kita bertemu.” Ucap Siska sambil menyenderkan kepalanya dibahuku, tangannya digelayutkan manja ke pundakku.

Aku sedikit tertegun dengan kata-katanya. Tidak biasanya Siska memakai kata ‘bercinta’ saat ingin berhubungan denganku. Dia biasa memakai kata-kata yang vulgar, sama seperti saat ia meracau menikmati permainan sex. Dari situ aku tahu kali ini ia ingin diperlakukan dengan lembut, tidak liar seperti biasanya.

Sesaat kukecup kening Siska dengan lembut, gadis itu tersenyum padaku lalu melirik ke arah kamar tidur seolah memberiku tanda agar aku membawanya kesana. Dengan cepat ku angkat tubuh Siska lalu ku bopong, gadis itu merangkulku lebih erat. Tanpa buang waktu aku segera melangkah menuju kamar tersebut. Kubaringkan Siska di atas kasur lalu kubaringkan tubuhku persis disebelahnya.

“Pintunya ditutup dulu…”

Aku cepat-cepat menutup pintu kamar lalu kembali berbaring disisinya. Siska mendesah saat aku mulai mencium lehernya. Tanganku mulai mengerayangi tubuhnya. Aku mulai melucuti pakaian yang dikenakannya, Siska membantuku meloloskannya hingga menyisakan bra krem yang menutupi payudaranya. Tanganku merabai serta meremasi sepasang gunung kembar yang menantang tersebut dari luar bra-nya sambil kupagut bibirnya yang lembut.

“Mmmpppphh… mmmhh…!” Siska mendesah diantara ciuman kami sambil meliukan-liukan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian Siska melepas ciumannya. Tangannya bergerak melepas kaus yang menempel ditubuhku lalu melemparnya sembarangan.

“Aku sayang kamu, Bim.”

“Aku juga Sis. Aku akan menepati janjiku untuk selalu menjagamu.”

Kami kembali berciuman, kali ini kurasakan ada emosi dan rasa sayang sehingga aku merasa tidak ingin momen ini tidak berlalu begitu saja. Aku merasakan hal ini juga dirasakan oleh Siska.

Kuturunkan tali bra-nya sehingga melorot, kini aku kembali dapat melihat payudaranya yang cukup besar dan masih kencang. Kulitnya sangat mulus dengan urat-urat yang terlihat samar sedangkan bagian areola serta putingnya yang berwarna coklat muda kemerahan tampak menggemaskan bagiku. Langsung saja tanganku membelai, meremas serta menggelitiki payudaranya, memacu setiap hormon seksual di dalam diri gadis itu. Tubuh Siska bereaksi menikmati rangsanganku.

Bibirku mulai bergerak. Menjelajah dagu, leher, bahu, lengan, ketiak dan akhirnya hinggap di payudaranya. Kuhisap puting kecil yang terletak dipuncaknya, sesaat kureguk kenikmatan dari aksiku itu. Bibirku kembali menjelajahi tubuhnya, kali ini menyusuri bagian perut serta menggelitik pusarnya.

Sambil menurunkan rok serta celana dalamnya secara perlahan, mulutku terus menyusuri tiap bagian kulit tubuhnya yang terbuka secara perlahan. Tubuh Siska makin menggelinjang mengharapkan kenikmatan birahi yang lebih dari biasanya. Setelah tubuhnya telanjang bulat, kupandang sejenak tubuh yang terlentang pasrah menanti aksiku selanjutnya.

Satu persatu kuciumi serta kuhisap jari kakinya, kemudian naik perlahan melalui betis, lanjut merayap ke pahanya baik bagian luar maupun bagian dalam hingga ke bagian pangkalnya. Kuhirup aroma wangi vaginanya, hembusan nafasku membuatnya kegelian. Siska membuka pahanya lebar-lebar. Kujilati perlahan pangkal pahanya hingga bibir vaginanya.

Siska meraih kepalaku lalu menekannya masuk seolah tidak rela melepas kenikmatan yang kuberikan. Tangannya mencengkram kepalaku dengan kuat sambil meremasi rambutku yang gondrong. Dengan penuh perasaan kulumat vagina Siska, lidahku bermain di bibir vaginanya hingga basah, lalu masuk ke dalam mencari klitorisnya. Setelah lidahku berhasil menemukannya, kujilati sambil kusentil-sentil bagian tersebut dengan lidahku. Tubuh Siska menggeliat kesana kemari menikmati puncak kenikmatan birahinya.

“Ooooouuuuhhhh,” tubuh Siska membusung menahan nikmat.

Sesaat kakinya mengejang lalu pahanya menjepit kepalaku dengan kuat sementara kedua tangannya menekan kepalaku agar terbenam lebih dalam lagi. Cairan cintanya mulai keluar membasahi lidahku. Dengan rakus kusedot semua cairan tersebut hingga tak bersisia. Nafas Siska terengah-engah. Matanya memejam meresapi sisa orgasme yang ia dapatkan. Di wajahnya terlukis rona kepuasan menggantikan guratan ketakutan yang sempat menghiasi wajahnya. Kunikmati wajahnya yang terlihat sensual sambil tersenyum.

Setelah gelombang orgasmenya berlalu, perlahan Siska membuka matanya. Sesaat matanya menerawang ke langit-langit, entah apa yang dipikirkannya. Selanjutnya sambil tersenyum Siska menuntunku untuk berbaring disisinya, lalu ia menggulingkan badannya menindihku. Bibirnya memburu bibirku lalu mengulumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Tangan kanannya menjelajahi tubuhku, sedangkan tangan kirinnya bergerak menyusur kebawah lalu disusupkan ke dalam celana dalam kemudian mulai mengelus-elus penisku. Aku merasakan penisku menegang menyesaki celanaku.

Dengan cepat aku membuka serta melolosi celana panjang dan celana dalamku. Siska segera menuntun penisku dengan penuh perasaan menuju vaginanya.

“Ahhhh…..” Desah Siska saat menikmati proses terbenamnya penisku dalam vaginanya.

Kudiamkan sesaat penisku bersemayam dalam sarangnya. Rasa geli namun nikmat menjalar di sepanjang sarafku saat otot-otot vaginanya bereaksi terhadap penisku yang menyumpal vaginanya secara penuh. Walau kami sudah sering melakukannya namun momen seperti ini selalu kurindukan. Jepitanya otot vaginanya tidak berbeda jauh dengan jepitan otot vagina seorang gadis yang baru saja diperawani. Kami saling menatap penuh dengan kekaguman. Pandangan mata kami menyiratkan semua rasa cinta yang tak terucapkan melalui mulut.

Siska menggerakkan pinggulnya dengan teratur, naik turun memompa batang penisku. Siska kembali mendesah, “aaaaahhhh….. emmhhh…..”

Semakin lama gerakan pinggulnya semakin cepat dan tidak beraturan, naik, turun, ke kanan, ke kiri. Pendingin ruangan yang terus menyala dari awal tidak sanggup lagi menghilangkan panasnya suasana kamar akibat pergumulan kami. Bulir-bulir keringat terus mengalir keluar membasahi tubuh kami. Hal itu seolah membuang seluruh beban yang mengganjal di dalam hati kami.

Entah berapa lama kami sudah bersetubuh dengan panas. Tubuh kami telah basah dipenuhi peluh yang terus mengalir. Setelah Siska puas memompa penisku dalam posisi WOT, aku segera membalikkan tubuhnya lalu berganti menyetubuhinya dengan gaya misionaris. Kami tidak melakukan banyak variasi bercinta seperti biasanya malam ini, namun rasanya seluruh gairah kami telah terlampiaskan lewat benih cinta yang tercampur di dalam rahim Siska. Kucium keningnya dengan mesra sebagai tanda kepuasan yang kuperoleh malam ini.

“Makasih Bim. Aku makin sayang sama kamu.”

“Aku juga makin sayang sama kamu, Sis.”

Entah apa yang membuat tutur bahasa kami berubah malam ini, seakan menjadi penanda resminya hubungan kami yang tidak dapat dijelaskan sebelumnya. Namun disaat bersamaan muncul dilema dalam hatiku, apakah saat ini aku yakin memilih Siska sebagai tambatan hati yang artinya akan menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat memiliki Grace kembali. Atau rasa ini hanya sesaat saja disaat diriku telah mereguk kepuasan bercinta dengan Siska?

“Sis, maukah kamu menyimpan rasa sayang ini sampai selamanya?” Perkataanku tersebut meluncur begitu saja tanpa bisa kucegah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Perlahan rasa sayangku terhadap Siska mulai menggeser kerinduanku pada Grace, apalagi setelah aku mengetahui bahwa gadis itu sulit untuk melupakan Joe walau kekasihnya itu sudah melukai hatinya begitu dalam.

“Iya, Bim. Aku akan menyimpan rasa sayangku hanya untukmu selamanya.”

Kami saling menatap sambil tersenyum seolah saling bercerita betapa puasnya kami telah bercinta sepanjang malam ini. Kurangkulkan tanganku memeluk tubuhnya, Siska membalas dengan cara yang sama sehingga tubuh kami merapat. Aku bisa mendengarkan tiap debaran jantung serta hembusan nafasnya, tak berapa lama kemudian mata kami terpejam lalu kami tertidur dengan pulas.

**********​

3rd POV

Disebuah kedai yang menyediakan tempat di bagian luar ruangan, tampak Fredy, Rian dan Burhan duduk semeja. Di meja lainnya beberapa orang anak buah mereka terus berjaga-jaga disekelilingnya. Mereka membahas rencana selanjutnya yang akan dilakukan setelah hari ini berhasil menjalankan skenario untuk menempatkan Burhan pada posisi pimpinan cabang di wilayah yang sangat strategis.

“Yan, elu sudah siapin jasad yang akan di klaim sebagai jasadnya Lone Wolf?”

“Beres bos, gue sudah nemu yang ciri-cirinya sesuai dengan si pembunuh bayaran itu. Gue juga sudah buat skenario seolah Burhan yang dibantu oleh Mimin berhasil membunuh Lone Wolf.”

“Bagus kalau gitu, secepatnya rencana itu kalian eksekusi karena minggu depan gue akan ke Thailand untuk membuka kerjasama perdagangan narkoba.”

Mereka melanjutkan obrolan santai mereka sambil menikmati bir dihadapan mereka. Tidak lama berselang muncul serombongan orang menuju ke kedai tersebut. Anak buah Fredy dan Burhan segera bangkit untuk menghalangi orang-orang tersebut mendekati bosnya.

“Biarkan mereka….. Selamat malam Inspektur Budi, ada angin apa yang sudah membawamu sampai kemari malam-malam begini.” Ucap Fredy dengan penuh percaya diri.

Budi tersenyum dingin mendengar ucapan Fredy, dia melangkah mendekati pria berkepala botak yang saat ini menjadi target utama operasinya. Diperhatikannya sekeliling tempat itu.

“Ada acara apa ini, bukannya sudah terlalu larut untuk acara makan malam?”

“Kalau kedatanganmu beserta rombongan ingin ikut makan bersama silahkan saja, tapi jika ada keperluan lain lebih baik ditunda saja.”

“Permainan tidak berakhir dikarenakan sebuah bidak tumbang, masih banyak caraku untuk menutup langkah yang anda susun. Aku pastikan langkah-langkah selanjutnya akan semakin berat buat anda.”

“Kalian polisi sudah bekerja siang malam, tapi hasilnya hanya sia-sia. Saat ini justru kalianlah yang sedang menghadapi situasi sulit.”

“Selamat untuk langkahmu yang fantastis kali ini, jangan biarkan sampai keadaan berbalik. Satu kesalahan kecil akan menjadi tragedi buat anda.”

“Kalian polisi bisa apa?” Fredy tersenyum sinis.

“Anda berurusan dengan polisi yang salah… Maaf hampir aku lupa tujuanku datang kemari.” Budi mendekati Fredy lalu membisikkan sesuatu padanya. Fredy geram mendengar apa yang baru ia dengar, namun ia berusaha menyembunyikannya.

Budi baru saja membisikkan sebuah operasi pengrebekan yang baru saja dipimpin olehnya. Alamat lokasi pengrebekan itu tak lain adalah sebuah gudang rahasia yang digunakan Fredy untuk menyimpan stok narkoba yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini.” Seru Budi pada anak buahnya.

Setelah Budi beserta anak buahnya meninggalkan lokasi tersebut, Fredy menyuruh Rian untuk mengecek kebenaran berita yang disampaikan oleh Budi. Setelah Rian mendapatkan kepastian informasi, ia menyampaikannya pada Fredy. Kali ini Fredy tidak menyembunyikan emosinya. Ia mendorong meja dihadapannya hingga terbalik.

“Inspektur itu harus disingkirkan secepatnya!”

**********​

Keesokan harinya Riko ditemani oleh Bimbim dan kawan-kawan mendatangi tempat Rika, mereka ingin mendengar kronologis cerita dari Joe tentang apa yang terjadi terhadap Tito.

“Plat nomor kendaraan yang mereka tumpangi berasal dari luar pulau, logat bicara orang yang mengajak teman-temannya kabur dari lokasi jelas menunjukkan kalau mereka dari luar pulau.” Ucap Joe menjelaskan apa yang bisa dia amati dari orang yang menyerang Tito.

“Jadi Tito dikeroyok, bukan dilakukan oleh satu orang?” Tanya Riko meminta kepastian.

“Kenapa elu ngira pelakunya hanya seorang, Ko?” Tanya Rika penasaran.

“Tadinya gue pikir Fredy akan nyuruh si pembunuh bayaran untuk beraksi lagi, rupanya Fredy sudah bener-bener menyiapkan strateginya. Ia menyuruh orang lain lagi untuk aksinya kali ini.”

“Joe makasih untuk infonya, kalau elu ada apa-apa jangan segen untuk minta tolong sama kita.” Ucap Rika.

“Gue rasa kehadiran gue sudah cukup kali ini, gue nggak perlu terlalu tahu masalah yang sedang terjadi di organisasi kalian.”

“Bim, elu anterin Joe keluar.”

Bimbim segera mengantar Joe keluar lalu kembali ke dalam sesaat kemudian.

“Agung sama Mimin kemana, Ko? Kok nggak keliatan? Masih elu suruh bantuin Burhan?”

“Iya Ka, gue curiga salah satu dari mereka sudah jadi telinganya Fredy. Untuk sementara gue terpaksa jauhin mereka berdua.”

“Terus rencana lu gimana? Jadi buat kelompok tandingan untuk ngelawan Fredy.”

“Jadi, tapi nggak dalam waktu dekat. Masih ada rencana yang mau gue jalanin dulu… Bim, temen lu itu orangnya gimana. Pinter nggak dia? Kira-kira dia mau kalau diajak gabung sama kita?”

“Pinter banget bang. Kuliahnya aja sekarang karna dapat beasiswa, tapi kalau untuk ngajak dia gabung sama kita kayanya nggak mungkin. Joe pernah ngomong sama gue kalau dirinya nggak masalah berteman dengan siapa saja. Tapi kalau untuk ikut dalam dunia hitam dia tak tertarik sama sekali. Orangnya termasuk lurus bang.”

“Gitu yah. Padahal gue butuh orang kaya dia.”

“Maksud abang?”

“Kalau terjadi bentrok dengan Fredy terus kita berhasil mengalahkan Fredy, selanjutnya gimana? Ada yang mampu menggantikan posisi Fredy?Biar gimanapun juga organisasi kita sebesar sekarang ini karena kepandaian Fredy mengelola bisnis. Dia mampu mengkamuflase bisnis ilegal organisasi ini hingga sulit dijangkau oleh oleh pihak berwenang. Gue nggak ragu akan kepemimpinan Bang Elang, Rika ataupun pimpinan lainnya, tapi soal mengelola bisnis terus terang organisasi kita perlu orang kaya Fredy. Kalian tahu sendiri, anggota kita paling tinggi studynya cuma lulusan SMA kecuali Fredy dan Rian. Kita perlu orang-orang kaya Joe untuk bisa ngimbangin Fredy dan Rian.”

“Kalau gitu nanti gua coba ngomong sama Joe.”

**********​

POV Siska

Aku mengambil kunci mobilku, dengan berbalut baju pink ketat tanpa lengan yang dilapisi jaket sporty putih dipadu dengan rok jeans pendek, aku keluar rumah menuju mobilku yang kuparkir di luar rumah. Segera kustarter mobil lalu mengendarainya diantara kegermelapan malam menuju hotel yang diberitahukan Bang Fredy tadi siang. Sesampainya di hotel itu aku segera memarkir mobilku, berkaca sambil merapikan rambutku sebelum berjalan masuk ke dalam hotel.

Perlahan aku memasuki pintu hotel itu lalu menuju lift dan memencet tombol angka 6, sama seperti yang diberitahukan Bang Fredy siang tadi. Sepanjang kakiku melangkah, tubuhku bergetar hebat, jantungku berdebar kencang dipenuhi rasa marah, malu dan keputus asaan. Namun aku harus melakukan semua ini. Aku memaksakan diriku untuk menjalani semuanya.

Setelah sampai ke lantai yang dituju, aku melangkah keluar dari dalam lift. Setelah pintu lift menutup, kegelisahan kembali melandaku. Sepertinya tak ada pilihan lain lagi bagiku selain menuruti apa yang diminta Bang Fredy. Sesaat aku teringat kejadian malam itu, 2 hari yang lalu aku menyaksikan langsung pembantaian yang dilakukan Bang Fredy terhadap seorang polisi dan beberapa informan beserta keluarganya. Melihat hal tersebut jiwaku cukup terguncang saat itu. Setelah kejadian itu Bang Fredy mengajakku berbicara, untuk pertama kalinya dia menyuruhku untuk melayani seorang pria yang menjadi koleganya agar bisnisnya bisa berjalan lancar.

Dalam kondisi normal aku pasti langsung menolaknya bahkan mungkin sedikit meluapkan kekesalanku padanya. Namun dalam kondisi jiwa yang masih terguncang serta merasa takut terhadap Bang Fredy, aku hanya pasrah menyetujui permintaannya tersebut tanpa banyak bicara. Untuk itulah aku berada ditempat ini sekarang.

Aku menuju kamar nomor 609, dimana seorang pria yang belum kuketahui identitasnya sedang menunggu kedatanganku. Semakin mendekati kamar itu, langkahku terasa makin berat dan detak jantungku semakin cepat. Sesampainya didepan kamar itu, aku mengetuk pintunya. Sesaat kemudian seorang pria membuka pintu kamar itu dari dalam, pria yang sama sekali tidak kuduga. Pria berumur lebih dari setengah abad tersenyum di depan pintu kamar itu, ia tersenyum dengan pandangan penuh arti namun juga melecehkanku. Mataku tertuju tajam kearah pria dihadapanku, pikiranku dipenuhi dengan tanda tanya. Sesaat aku tertegun di depan pintu kamar hotel itu.

“Selamat datang, ayo masuk…” Pria itu berusaha ramah, namun dari wajahnya tersirat niat buruknya terhadapku.

Otakku mulai bekerja, mengetahui identitas pria tersebut aku segera membalikkan tubuhku bermaksud menghindarinya. Namun pria itu segera mengejarku.

“Eitzzz, mau kemana cantik…” pria tua bertubuh tambun tersebut menarik tanganku lalu mengekangnya sambil cengengesan.

“Lepasin Pak…” Aku berusaha melepaskan kekangan tangannya.

“Nggak bisa gitu dong, Fredy sudah menjajikan kamu akan menemaniku malam ini sebagai imbalan atas informasi yang kuberikan. Kalau kamu kabur aku akan menghubungi Fredy lalu memberinya informasi tambahan masih ada seorang polwan yang menyamar didekatnya.”

Aku tertegun mendengarkan ucapan pria tua itu, Brigjen Dani Budiman, atasanku sekaligus orang yang menugaskanku menyamar dalam organisasi yang dipimpin oleh Bang Fredy. Aku menatap pria tersebut dengan penuh kebencian. Pak Dani memintaku mengikutinya masuk kedalam kamar. Dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamar tersebut. Bibir Pak Dani tampak menyeringai saat melihatku terpaksa mengikutinya masuk kedalam kamar. Pak Dani menuntunku duduk dipinggir kasur kemudian ia duduk disebelah kiriku. Tangan kanannya dirangkulkan pada bahu kananku.

“Kenapa bapak lakukan ini terhadap saya?” Tanyaku lirih karena putus asa.

“Aku sudah lama mengingnkanmu, sudah sejak lama aku menanti kesempatan seperti ini. Seharusnya kamu bersyukur karena informasi tentangmu tidak sampai kubocorkan.”

“Akan lebih baik aku ikut mati malam itu daripada diperlakukan seperti ini.”

“Kamu pikir Fredy akan langsung membunuhmu sama seperti yang lainnya? Kamu memiliki potensi yang besar untuk dijadikannya sebagai tambang uang. Begitu dia tahu kamu seorang polwan yang menyamar maka kamu akan disiksa sebelum dikirim ke tempat pelacuran.”

Aku menyadari apa yang dikatakan oleh pria itu benar adanya. Aku pernah mendengar ada seorang wartawati yang ketahuan menyusup dalam organisasi itu lalu mengalami kejadian persis seperti yang dikatakan Pak Dani. Membayangkan hal tersebut membuatku jadi sangat ketakutan akan apa yang menimpaku seandainya Pak Dani membocorkan identitasku pada Fredy malam itu.

“Kamu juga musti ingat, seluruh arsip tentang dirimu hanya tinggal aku yang mengetahui. Orang-orang yang mengetahui keberadaanmu sudah dibunuh semua oleh Fredy. Kamu pasti tidak mau apa yang sudah kamu kerjakan selama ini jadi sia-sia. Kalau kamu mati tidak akan ada yang mengenangmu sebagai seorang calon perwira polisi, kamu hanya akan diingat orang sebagai wanita simpanan.”

“Apa yang mau bapak saya lakukan.” Ucapku dengan kesal.

“Mulailah bersikap manis padaku… Catatan dan prestasimu tidak akan kuhapus kalau kamu mau tetap menjalankan rencanaku. Kamu harus tetap berada dekat dengan Fredy, aku perlu perkembangan informasi mengenai dirinya setiap saat. Identitasmu akan kupulihkan begitu tugas penyamaranmu selesai.” Ucapnya sambil merapatkan posisi tubuhnya padaku.

“Kenapa anda masih ingin aku berada di dekat Fredy, bukankah kalian kerjasama?”

“Aku tidak bisa begitu saja percaya pada orang seperti Fredy, aku perlu orang yang sudah ada di dalam organisasi itu yang bisa memberiku informasi tentang sepak terjangnya.”

“Bagaimana dengan keamananku?”

“Selama kamu berlaku sesuai instruksiku, kamu akan baik-baik saja. Aku tahu pria itu sangat mencintaimu dan saat inipun dia memberimu padaku dengan berat hati.”

“Sampai kapan saya harus melakukan hal ini?”

“Sampai Fredy tidak kubutuhkan lagi. Atau sampai ia tertangkap ataupun mati.”

“Bagaimana caranya aku menyampaikan informasi sementara tidak ada lagi penghubung yang tersisa?”

“Aku sudah mengatur kesepakatan dengan Fredy agar ia bisa bebas melakukan transaksinya tanpa ada gangguan dari pihak kepolisian, sebagai gantinya sewaktu-waktu yang kuinginkan ia akan membiarkanmu menemaniku.” Tangan kanannya masih memeluk bahu kananku sementara tangan kirinya kini memegang lengan kiriku sambil mengelusnya.

Aku hanya bisa diam mendengarkan penjelasan Pak Dani. Pikiranku terus berputar, bertanya apa yang akan terjadi kedepannya jika aku mengikuti keinginan atasanku ini, dan apa yang akan terjadi jika aku menentangnya.

Melihatku hanya terdiam, Pak Dani memanfaatkan momen tersebut. Wajahnya mendekati wajahku. Sebelum aku sempat bereaksi, Pak Dani menciumku dengan penuh nafsu, tubuhku terdorong hingga terbaring di atas tempat tidur, pria itu langsung menindihku. Dia mulai mencumbui tubuhku, perasaan ku saat ini sangat jijik sekali terhadapnya. Aku berusaha melawannya namun tenagaku tak mampu untuk mendorong tubuh besarnya. Dia menciumi leher, bibir dan telingaku tanpa henti. Tangannya mulai menjelajahi payudaraku yang masih terbalut pakaian. Sambil terus mencumbuiku, pria tua itu melepas jaket serta bajuku lalu melemparnya begitu saja.

Pak Dani tampak bernapsu saat menarik bra-ku. Tangannya menggerayangi payudaraku, kali ini dlakukannya dengan kasar sambil mulutnya melumat dan menjilati putingku dengan liar. Apa yang di lakukan pria tua itu memberikan sensasi aneh buatku. Sakit namun juga ada rasa nikmat yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Lelaki tua itu hanya tersenyum melihat rasa gundah bercampur birahi di wajahku. Aku tidak sempat bereaksi apapun saat ia menarik rok jeansku beserta celana dalamku sekaligus. Kini kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tak terlalu lebat itu terlihat jelas olehnya. Aku segera bereaksi spontan dengan menutupi kemaluanku dengan kedua tanganku.

”Kenapa pake ditutupin cantik? Abis di cukur ya, kok bulunya dikit banget.” Katanya sambil menyingkirkan kedua tanganku serta tertawa melecehkanku.

Perkataannya membuat wajahku memerah, diriku menyimpan kebencian yang mendalam terhadap atasanku ini. Baru kali ini aku merasa begitu direndahkan saat bercinta. Ada rasa jengkel namun ada pula sensasi kenikmatan lain saat aku bercinta sambil dilecehkan begitu rupa. Satu hal yang belum pernah kualami dari pasangan bercintaku sebelumnya.

Dengan bernafsu pria buncit berumur lebih dari setengah abad itu mengerayangi tubuhku dengan mulutnya, lidahnya turut menjelajahi setiap bagian tubuh yang dilaluinya dengan liar membuat sebagian tubuhku basah oleh ludahnya. Kumisnya yang lebat menggesek kulit tubuhku sehingga menambah sensasi geli namun nikmat yang kurasakan.

Tangannya terus meremasi payudaraku dengan kasar, bahkan terkadang ia menampar dan menariknya hingga payudaraku memerah, tanpa disadari keluar suara desahan dari mulutku akibat perlakuan kasarnya. Seakan aku menikmati perkosaan yang telah dilakukan pria itu.

Setelah puas menjarah bagian atas tubuhku, perhatiannya kini mulai tertuju pada daerah vaginaku. Tangannya menggesek vaginaku dengan kasar, untuk memperlancar aksinya pria itu meludahi permukaan vaginaku yang belum terlalu basah. Selanjutnya Pak Dani mulai menusukan jari telunjuknya ke liang kewanitaanku, dijelajahinya seluruh rongga di dalam vaginaku. Perlakuannya semakin tak terkendali bakan yang dilakukannya cenderung bersifat pemerkosaan, namun anehnya birahi yang kurasakan semakin dahsyat.

“Oouuwwwhhh…..” Desahanku membuatnya tambah bernafsu memperkosaku.

Beberapa menit kemudian aku mulai menikmati perkosaannya meskipun nuraniku menolak, aku hanya bisa pasrah saat tubuhku dibolak balik oleh Pak Dani. Berbagai macam gaya dia lakukan saat memperkosaku, aku sempat beberapa kali mendapat orgasme karena ulahnya.

Satu jam lebih lamanya Pak Dani memperkosaku habis-habisan sampai akhirnya pria itu menyemprotkan spermanya ke wajahku. Suara tawanya memenuhi kamar itu, tampak rasa kemenangan dalam tawanya tersebut. Tubuhku terasa sangat letih bahkan nafasku tampak tersengal-sengal.

Pak Dani beristirahat sejenak. Masih dalam kondisi telanjang bulat, ia menuju kulkas untuk mencari minuman segar. Pria itu mengambil sebotol air mineral lalu membukanya. Setelah meneguk lebih dari separuh isi botol tersebut, pria itu memberikan botol itu padaku. Karena merasa tenggorokanku kering aku menerima botol minuman tersebut lalu segera meneguk isinya hingga habis. Aku merebahkan tubuhku sejenak menghilangkan rasa lelah, aku tahu aksi pemerkosaan ini belum akan berakhir buatku malam ini. Kupejamkan mataku walaupun aku tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal.

Seperempat jam kemudian Pak Dani kembali mendekatiku, ia memintaku untuk mengoral penisnya dengan intonasi suara yang merendahkanku. Dengan terpaksa kuturuti keinginan bandot tua tersebut. Kuraih batang penisnya yang belum terlalu tegang tersebut lalu mulai mengocok batang penis yang berdiameter cukup tebal itu. Dengan memejamkan mata, aku mulai memasukkan penis itu ke dalam mulutku. Karena tak sabar ia memegangi kepalaku lalu menekannya ke arah selangkangannya. Aku tersedak saat ujung penisnya menyentuh kerongkonganku, namun sepertinya pria itu tidak perduli karena ia tidak membiarkanku mengeluarkan penisnya dari mulutku. Aku benar-benar merasa tersiksa atas perlakuannya kali ini, saat ini aku merasa benar-benar ingin muntah.

Selanjutnya Pak Dani mulai memperkosa mulutku, ia menggerakkan pinggulnya dengan cepat sementara tangannya menahan kepalaku agar tidak banyak bergerak. Berkali-kali hidungku membentur selangkangannya sehingga aroma khasnya yang tak sedap tercium olehku. Hal itu membuatku merasa mual namun tidak bisa berbuat apa-apa, pria itu terus saja melakukan aksi kasarnya. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisnya mengeras dalam mulutku, aku tahu dia akan segera meledak, berbagai usaha yang kulakukan untuk melepaskan diri agar penisnya tak meledak di mulutku gagal, cengkramannya pada kepalaku jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aksinya terlalu brutal untuk kuladeni karena tenaganya yang jauh lebih kuat dariku. Akhirnya aku harus bisa pasrah menerima situasi ini.

Apa yang kukhawatirkan akhirnya terjadi, Pak Dani sengaja membiarkan penisnya meledak di mulutku. Sebagian spermanya meluncur langsung ke tenggorokanku, dengan terpaksa aku berusaha menelan seluruh spermannya yang terlihat kental.

Pak Dani kembali tertawa penuh kemenagan, wajahnya semakin memperlihatkan ekspresi yang meremehkanku. Tak lama kemudian dia turun ke lantai lalu melebarkan kedua kakiku, dia kembali mengoreki vaginaku, bahkan kali ini sambil menjilatinya. Sensasi dahsyat kembali muncul, hanya beberapa menit aku sanggup bertahan menghadapi sapuan lidahnya yang lihai. Sekali lagi aku harus menyerah pada permainannya, tubuhku kembali terasa ingin meledak.

“Ooooooohhhhh…..”

Bandot tua itu dengan rakus menyedot seluruh cairan yang keluar dari vaginaku, kemudian ia berdiri lalu tersenyum dan menciumku, aku hanya membalasnya dengan pandangan jijik.

Selanjutnya tangannya membimbing tanganku untuk mengocok penisnya, namun hal itu tidak berlangsung lama karena sesaat kemudian ia menghantamkan penisnya di vaginaku, namun permainannya tak berhenti sampai situ. Dia terus melakukan usaha-usaha brutal untuk memasukan seluruh penisnya dalam vaginaku.

“Sempit banget sih nih memek, padahal memek lonte kaya kamu pasti sudah sering dijebol kontol laki-laki.” Bisiknya mengintimidasiku seakan aku tak lebih dari pelacur murahan.

Dengan penuh nafsu dia mulai kembali mengerjaiku sambil tersenyum kepuasaan, goyangan pinggulnya yang kasar, cepat serta liar tak beraturan membuat ku menjerit-jerit kesetanan menahan rasa sakit berbalut kenikmatan. Belum lagi lidahnya yang terus bergerak menyapu leherku, dan permainan tangannya yang kasar pada kedua payudaraku membuatku kembali merasakan sensasi yang dahsyat dalam benakku. Ledakan orgasme demi orgasme mewarnai sepanjang setengah jam bajingan tua itu mengerjaiku dalam posisi misionaris.

Pak Dani tiba-tiba menarik keluar penisnya, dia segera menyuruhku untuk menungging, kali ini dia ingin mengerjaiku seperti seekor binatang. Dia mengangkat pinggulku agar lebih naik keatas, kepala penisnya digesekkan di bibir vaginaku lalu kembali mengarahkan penisnya itu masuk membelah vaginaku dari belakang. Sambil menarik rambutku dia terus memompaku dengan kasar, bahkan sesekali dia menampar bokongku dengan keras sambil mengeluarkan kata-kata yang merendahkanku. Aku menerima semua perlakuannya tersebut dengan kesal namun tidak bisa kupungkiri hal itu membuatku kembali megalami orgasme untuk kesekian kalinya. Seperti yang terjadi sebelumnya, dia tak memberi kesempatan sedikitpun untuk aku bisa bernafas. Sudah banyak tenaga yang kami gunakan sampai sejauh ini, sehingga seluruh tubuh kami sudah penuh oleh keringat.

Sepuluh menit kemudian, kurasakan penisnya mengeras. Aku berusaha untuk melepaskan diri namun bajingan itu malah memelukku erat-erat. Disertai dengan sebuah lolongan keras dia memuntahkan seluruh muatannya dalam rahimku, semburan spermanya memancingku untuk kembali berorgansme kecil. Tanpa perasaan bersalah pria itu menarik penisnya dari vaginaku lalu berdiri dan berjalan meninggalkanku.

Dia berjalan menuju meja di seberang tempat tidur lalu membuka laci meja tersebut. Dari dalam laci tersebut aku melihat dia mengambil sebuah Kondom lalu membukanya, kondom itu memiliki tonjolan-tonjolan kecil di sekelilingnya. Setelah Pak Dani memakaikan kondom tersebut pada penisnya, dia kembali mendekatiku sambil menyeringai. Aku sempat bingung dengan apa yang diperbuatnya, setelah menyemburkan spermanya dalam rahimku kini dia malah memakai kondom.

Perasaanku langsung tidak enak ketika matanya menatap belahan pantatku dengan nanar. Terjawab sudah pertanyaan yang sempat terlintas dalam benakku, aku tahu apa yang ada dalam pikiran pria itu. Pak Dani mulai mengoreki lubang duburku dengan jarinya. Seakan apa yang dilakukannya belum cukup membuatku menderita, ia memasukkan lagi jarinya yang lain. Rasa ngeri menghinggapi perasaanku seketika. Sebenarnya hal ini bukan untuk yang pertama kalinya buatku, Bang Fredy dan Bimbim pernah beberapa kali melakukannya padaku. Namun mengingat caranya tadi memperkosaku dengan brutal dan tanpa ampun, aku merasa ngeri membayangkan apa yang akan dilakukannya terhadap lubang duburku ini.

“Tolong pak, saya mohon jangan disitu…” Ucapku memelas menatapnya.

”Nggak usah takut, kamu harus belajar menyukainya, OK. Bukankah kedepannya kita akan sering melakukan hal ini?” Jawabanya yang bernada datar, bagaikan petir di telingaku.

Pak Dani terus mengorek lubang duburku secara kasar. Dengan menggunakan sedikit cairan vaginaku, dia mulai melancarkan aksinya untuk menyodomiku. Rintihanku tak menyurutkan aksinya. Seperti dugaanku, dia memperkosa lubang duburku dengan brutal. Dia berhasil memaksa anusku membuka menerima seluruh penisnya masuk kedalamnya, aku merasakan perih yang tak terkira. Aku menjatuhkan diri diatas kasur lalu menggigit sprei kasur. Gerigi di sekeliling kondom itu mengesek-gesek dinding saluran anusku dengan kasar, menambah siksaan yang kurasakan pada anusku.

“Uugghh… nikmat banget pantatmu Sis, gila sempit banget. Harusnya dari dulu aku nikmatin lubang ini.”

Aku tidak memperdulikan racauan Pak Dani, kedua tanganku meremasi sprei kasur sambil meneteskan air mata sebagai reaksi atas perlakuannya. Bandot tua itu semakin beringas memperkosa lubang duburku sambil tertawa merendahkanku.

”Ooohh yesss… Great ass hole… Pantatmu juara, Sis.”

Pak Dani kembali mempermainkan payudaraku, bahkan terkadang vaginaku juga ikut dibuat mainan olehnya. Bongkahan pantatku yang putih mulus dan sekal kini berwarna kemerahan akibat tamparan-tamparannya. Tak lama kemudian pria tua itu mulai menggeram. Gerakan pinggulnya semakin cepat hingga akhirnya ia kembali melolong panjang saat memuntahkan spermanya untuk yang ketiga kalinya malam ini.

“Aaaaahhhh Sis, aku keluaaaaarrr…”

Aku merasakan Pak Dani cukup banyak menyemprotkan spermanya, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Pria itu segera membalikkan tubuhku hingga posisiku kini tidur terlentang menghadap bandot tua itu. Dia mencabut kondom yang dipakainya lalu membalurkan isinya di tubuh dan wajahku.

Sambil tersenyum dia memoleskan spermanya secara merata diseluruh tubuh dan wajahku. Raut wajahnya begitu terpuaskan melihat wajahku yang tidak berdaya dilumuri spermanya. Setelah puas mempermalukanku, dia berdiri dan menuju kamar mandi. Akhirnya aku dapat bernafas lega untuk malam ini, tak lama kemudian akupun tertidur karena kelelahan.

Aku membuka mataku ketika kurasakan seseorang membelai pipiku, kutepiskan tangan pria tersebut ketika aku menyadari siapa dirinya. Pak Dani tersenyum kecil namun terlihat jahat, dirinya masih telanjang bulat sambil duduk santai disisi tubuhku yang terlentang tanpa daya. Langkahku terseok-seok ketika Pak Dani menarik pergelangan tanganku lalu menyeretku ke dalam kamar mandi dengan kasar.

(”Penderitaanku berlanjut malam ini…”)

**********​

Pukul 8 pagi aku baru dapat terbangun dari tidurku. Setelah mandi sebersih-bersihnya untuk mengurangi rasa letih dan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuh dan duburku, aku mencari tasku yang ternyata berada di meja beserta kunci mobilku. Bayangan pemerkosaan semalam kembali muncul. Kulihat ranjang bekas pertarungan semalam yang masih berbau menyengat perpaduan cairan cinta serta keringat kami. Tidak menunggu lebih lama lagi, aku segera berpakaian lalu keluar dari kamar itu. Mencoba lari dari mimpi buruk ini.

Aku segera meluncur pulang kerumah, sesampainya dirumah aku meneruskan tidurku yang belum tuntas. Malam harinya aku menerawang dari balik jendela kamar menatap gelapnya langit malam, tidak banyak bintang yang bersinar. Gelapnya suasana malam hari ini seakan menggambarkan kekelaman hatiku saat ini. Perlahan aku mulai duduk diatas ranjang sambil menekuk wajah, menyadari kebodohanku selama ini.

Aku terus berfikir keras bagaimana bisa terjerat oleh siasat atasanku lebih dari setahun yang lalu. Aku menerima penugasan pertamaku untuk menyusup ke dalam jaringan premanisme yang dipimpin oleh seorang pengusaha ternama, Pak Dani menjanjikan sebuah posisi yang strategis setelah aku selesai menyamar nanti. Dengan bodohnya aku menyanggupi tawaran tersebut, bahkan sampai mengorbankan tubuh dan harga diriku sebagai seorang wanita.

Selain itu aku juga memikirkan bagaimana aku bisa terlepas dari lingkaran iblis ini, namun sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan jalan keluar. Aku tahu tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini semua, entah sampai kapan. Aku hanya berdoa agar semua ini tak berjalan lebih lama lagi.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 13 | Young and Wild and Free Part 13 – END

(Young and Wild and Free Part 12)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 14)