Young and Wild and Free Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 12

Start Young and Wild and Free Part 12 | Young and Wild and Free Part 12 Start

EVERYTHING HAS ITS PRICE​

POV Bimbim

Sore ini aku janjian bertemu Grace untuk memberikan informasi yang kudapat sehubungan dengan permintaannya untuk menyelidiki kecurigaanya mengenai hubungan antara Joe dan Ella. Saat ini aku membawa bukti foto-foto kemesraan kedua orang tersebut di sebuah cafe yang berhasil kuambil beberapa waktu yang lalu. Kejadian itu memang sudah cukup lama berlalu namun aku baru memberikan foto-foto tersebut padanya saat ini, aku sengaja tidak langsung memberikan informasi tersebut karena masih ragu untuk memberi informasi yang kuperoleh tersebut pada Grace.

Ada keraguan di benakku untuk menceritakannya, karena apa yang akan kuceritakan bisa membuat hubungan ketiga orang sahabat itu merenggang bahkan ada kemungkinan Grace memutuskan hubungan cintanya dengan Joe. Sebagian perasaanku sangat senang kalau hal itu benar terjadi, ini menjadi kesempatanku bisa mendekati gadis itu. Namun itu artinya aku turut merusak kebahagian Grace, belum lagi jika aku akan dianggap menghianati Joe sebagai temanku.

Setelah lama kupertimbangkan akhirnya kuputuskan untuk memberikan informasi tersebut pada Grace. Rasa rinduku untuk kembali dapat membelai gadis itu menutup segala perasaan lainnya di benakku. Bahkan aku mengabaikan hal yang sangat penting, janji yang kuucapkan pada orang tua Grace untuk tidak mendekati gadis itu lagi.

“Hai Bim, ada berita apa sampai tiba-tiba kamu pingin ketemu aku?” Sapa Grace saat dirinya tiba di sebuah taman tempat kami janjian.

Sesaat kutatap wajah gadis itu, ceria seperti biasanya namun juga ada guratan kesedihan yang terpancar dari paras lembut gadis itu. “Cuma mau nyampaiin kabar yang elu minta.”

“Ooohhh…” Wajah Grace berubah seketika, guratan kesedihan yang terpancar dari parasnya semakin terlihat jelas. Dari ekspresinya seolah gadis itu tahu kabar yang akan kusampaikan adalah kabar buruk baginya.

“Loh kok malah sedih? Kan elu yang minta gue nyelidikin hubungan cowok lu sama Ella.”

“Aku sudah tahu semuanya Bim….” Jawab Grace dengan suara berat.

“Hah, elu sudah tahu dari kapan? Sia-sia dong usaha gue.”

“Maaf Bim, aku sudah ngerepotin kamu. Aku mengetahui hubungan mereka beberapa hari yang lalu.”

Dengan suara berat dan raut wajah terluka Grace menceritakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu saat dirinya, Joe dan Ella berjalan-jalan di sebuah mall. Gadis itu secara tak sengaja melihat Joe menggenggam tangan Ella, malam itu pula ia berhasil memaksa dua orang sahabat terdekatnya itu menceritakan hubungan mereka yang sebenarnya.

“Jadi elu udah putus sama Joe?” Dalam hatiku aku meloncat kegirangan, namun di hadapan Grace aku bertingkah seolah sangat prihatin atas apa yang terjadi dengannya.

“Nggak sampai putus…. Aku sama Joe hanya break untuk sementara waktu sampai aku bisa nerima dia kembali.”

“Aaahh, gue nggak ngerti hubungan kaya gitu. Kalau menurut gue sama aja, kalian sudah putus.” Ucapku sambil tersenyum.

Grace memandangku sesaat, ada raut keheranan di wajahnya melihat ekspresi senyumanku namun sesaat kemudian gadis itu ikut tersenyum seakan tahu yang ada dalam pikiranku.

“Kalau aku putus sama Joe memangnya kenapa? Jangan bilang kamu mau langsung nembak aku.” Ucapnya sambil tersenyum namun belum mampu menghilangkan guratan kesedihan di wajahnya

“Eh, i-itu…” Ucapku tergagap dan salah tingkah.

“Maaf ya Bim, tapi aku memang belum putus sama Joe. Hatiku masih menyayangi temanmu itu, begitu juga sebaliknya. Joe sama Ella sudah minta maaf dan akupun sudah memaafkan mereka.”

“Kalau udah lu maafin kenapa kalian tetep putus… eh, break untuk sementara?”

“Ada harga yang harus dia bayar untuk kesalahannya, kalau Joe memang serius sayang sama aku maka dia nggak akan melanggar kesepakatan yang telah kami buat, kalau dia tidak bisa berarti memang kami harus putus.”

“Ella dapat hukuman yang sama?”

“Pada prinsipnya iya, tapi kan nggak mungkin aku hindarin Ella. Dia teman sekelasku, bahkan kami semeja. Jadi kami hanya membatasi pertemanan kami.”

“Elu bisa tetep semeja sama orang yang nghianatin elu?”

“Panjang ceritanya Bim…..”

Grace menceritakan hubungan mereka bertiga. Dalam hatinya ia juga merasa telah merebut Joe dari Ella, Grace juga menceritakan dia merasa tertantang untuk dapat mempertahankan Joe dari Ella. Menurut Grace situasinya saat ini adalah fifty-fifty change, dimana keduanya mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan Joe.

“Ah pusing gue sama hubungan kalian. Terus foto-foto yang gue buat mau diapain?”

“Buang aja, Bim… Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak cari perempuan lain untuk jadi pacar daripada kamu terus mengharapkan aku?”

“Sebenernya gue juga lagi deket sama seseorang. Tapi gue nggak bisa ngelupain lu Grace.”

“Kasian dong cewek itu…”

“Hubungan gue sama ruwetnya kaya hubungan kalian. Saat ini dia juga ada yang punya, mau lepas dari cowoknya susah karena selama ini hidupnya di tanggung cowok itu.”

Kini giliran aku yang menceritakan hubunganku dengan Siska dan Bos Fredy walaupun aku tidak menceritakan secara detail status mereka, nama merekapun tidak kusebutkan.

“Beda lagi yah masalah kamu. Tapi kenapa kamu ketemunya sama cewek yang sudah punya pasangan lagi yah?”

“Hihihihi…. Nggak tahu juga gue.”

“Kamu nggak coba nyari yang belum punya pasangan?”

“Sama kaya elu, kalo nggak ada tantangannya nggak asik dapetin cewek.”

“Gimana kalau aku tantang kamu buat dapetin Ella?”

**********​

POV Joe

Dua hari berlalu semenjak kejadian Grace memergoki hubungan rahasiaku dengan Ella. Aku harus menerima konsekuensi untuk berpisah sementara dari Grace. Walaupun Grace masih mengijinkanku untuk menelponnya namun aku tidak boleh mengungkapkan rasa sayangku padanya, Grace akan segera mengakhiri hubungan telpon tersebut bila aku melanggarnya. Untuk bertemu langsung dengannyapun tidak diijinkan kecuali secara tidak sengaja ataupun ingin membahas masalah yang dianggap penting.

Siang itu saat aku sedang rehat diantara jam kuliahku, aku nongkrong di sebuah taman bersama teman-teman kuliahku. Saat aku menghampiri salah satu gerobak penjual makanan di sekitaran taman itu aku berpapasan dengan Ella yang juga menuju ke penjual yang sama. Untuk sesaat suasana canggung terjadi diantara kami.

“Gimana kabar lu , La?” Sapaku mencoba memecah kekakuan diantara kami.

“Baik Joe. Sama siapa lu kemari?” Jawab Ella yang suaranya terdengar masih canggung.

“Tuh, sama temen-temen kampus.” Aku sambil menunjuk kearah teman-temanku yang lain.

“Joe… mmmmm… boleh gue ngomong sama elu?”

“Kalau menyangkut hubungan kita, gue harap omongan gue malam itu cukup jelas.”

Ella menundukan wajahnya, ia tampak ragu meneruskan pembicaraannya. Sepertinya apa yang mau dibicarakan gadis itu sama seperti dugaanku. Sesaat aku mengingat kejadian pada malam itu.

“Terima kasih kalian sudah mau terus terang sama aku…”

“Maafin gue Grace, gue janji hal itu nggak akan gue ulangi lagi.” Potongku sambil menatap mata Grace. Gadis itu memperhatikan keseriusan perkataanku dari sorot mataku.

“Gue juga minta maaf Grace…” Kali ini Grace memperhatikan mimik wajah Ella.

“Semua sudah terjadi, aku memaafkan kalian. Apa yang kalian lakukan sangat menyakitiku, aku rasa hubungan kita perlu evaluasi. Untuk sementara waktu kita nggak usah ketemuan dulu Joe. Kita berlaku sebagai temen biasa saja untuk sementara waktu, aku nggak akan ngelarang kamu untuk nelpon ataupun bertemu denganku selama hal itu tidak menyangkut hubungan kita. Begitu juga dengan kamu, La.”

Perdebatan kecil terjadi diantara kami, dengan berat hati akhirnya aku terpaksa menerima apa yang dikatakan Grace dan tampaknya begitu pula yang dirasakan Ella.

“Sampai kapan gue harus nerima hukuman lu ini?”

“Sampai aku yakin tentang hubungan kita. Tapi kalau kamu memilih untuk mencari gadis lain aku tidak keberatan termasuk kalau kamu memilih Ella.”

“Nggak Grace, gue akan buktiin kalau gue sayang banget sama elu.”

Grace hanya tersenyum mendengar ucapanku.

“Lebih baik kalau kamu antar aku pulang lebih dulu, biar kalian ada waktu untuk berbicara berdua. Pasti ada yang ingin kalian sampaikan tapi sungkan karena masih ada aku.” Saat mengucapkan hal itu wajah Grace terlihat dingin, suaranya terdengar bergetar menahan emosi serta kekecewaan di hatinya.

“Nggak Grace, nggak ada yang perlu gue omongin lagi sama Joe. Justru kalian berdua yang butuh bicara banyak.”

“Nggak usah ngelak, La. Aku nggapapa sekarang. Justru karna aku ngijinin makanya aku nggak keberatan kalian ngobrol berdua bahkan mungkin bertindak lebih jauh malam ini. Tapi kalau kalian mengulanginya di lain kesempatan maka aku nggak bisa memaafkan kalian lagi.” Nada suara Grace masih sama seperti tadi, bahkan terdengar agak emosi.

Tidak ingin suasana hati Grace bertambah buruk, aku mengikuti kemauannya untuk mengantarnya pulang lebih dulu. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa kaku, tidak ada satupun dari kami yang mengeluarkan suara. Grace menyalakan tape yang ada dalam mobil namun tidak seperti biasanya, kali ini Grace mencari gelombang radio yang menyiarkan berita nasional ataupun manca negara. Entah apa maksudnya.

Setelah aku mengatarnya sampai di rumah, Grace hanya mengucapkan salam sekedarnya dengan ekspresi wajah yang sama sejak dari dalam mobil. Selanjutnya aku mengantarkan Ella pulang. Suasananya masih kaku walau tidak sekaku saat Grace ada di dalam mobil.

“La, pindah depan. Gue berasa kaya sopir kalo gini.” Aku segera menepikan mobilku, sambil menunggu Ella berpindah tempat duduk aku merubah gelombang radio ke saluran yang memutarkan lagu-lagu, volume suaranya kuatur setenang mungkin namun masih bisa di dengar dengan jelas.

“Ada yang mau elu omongin ke gue, La?” Tanyaku saat mobil sudah kembali melaju.

Ella diam saja namun aku yakin ia mau membicarakan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana memulainya.

“Jujur gue juga punya rasa sayang sama elu, tapi kalau disuruh memilih gue tetap akan memilih Grace. Gue harap elu nggak mengulangi apa yang elu lakukan belakangan ini. Kalau lu masih anggep gue sahabat tolong jaga jarak sama gue sampai semuanya kembali normal.”

“Tapi Joe gue sayang banget sama elu. Bahkan sampai saat ini gue nggak merasa keberatan kalau elu mutusin cuma mau cari kesenangan dari gue. Kita bisa lebih berhati-hati lagi bersikap, terutama jika dekat dengan Grace.”

Aku memandang dalam-dalam wajah gadis yang saat ini duduk disebelahku. Sejenak kutarik nafas dalam-dalam lalu meghembuskannya dengan kencang seolah membuang semua beban yang menumpuk di perasaanku.

“Gue akan berusaha mendapatkan hati Grace kembali, kalau elu coba menghalangi maka gue akan lakukan apapun termasuk meminta bokap gue membatalkan rencana nerima elu magang di kantornya.”

“Joe… permisi gue mau mesen makanan.” Ucap Ella membuyarkan lamunanku.

“Oh iya, sekalian saja. Gue juga mau makan. Elu kesini sama siap? Bareng Grace?”

“Sama temen-temen, tadi bareng Grace juga tapi terus dia misah. Katanya ada janjian sama temennya yang lain, tadinya gue kira dia janjian sama elu.”

Kami segera memesan makanan, setelah aku membayar pesanan makanan selanjutnya kami kembali ke tempat masing-masing. Dari tempatku duduk aku masih bisa melihat posisi Ella bersama teman-temannya, sesekali gadis itu berusaha melihat kearahku namun ia langsung mengalihkan pandangannya saat kedua mata kami beradu.

**********​

3rd POV

Sore itu Riko terlihat mendatangi gazebo yang terletak di dalam taman di pinggiran kota. Di tempat tersebut Rika sudah menunggunya sejak 10 menit yang lalu. Sejenak Riko menatap mata Rika saat keduanya berhadapan, untuk sesaat ia mengenang masa lalunya bersama wanita itu. Di dalam hatinya masih tersimpan kenangan indah saat bersama Rika.

“Tempat ini nggak banyak berubah sejak terakhir kita kemari…. Elu sudah ngejagain tempat ini dengan baik.”

Rika hanya tersenyum mendengar perkataan Riko, walaupun sebenarnya ia masih mencintai Riko namun ia tidak mau terbawa suasana apalagi saat ini dirinya sudah memiliki pria lain yang memiliki sifat lebih sesuai dengannya.

“Orang-orang yang ada didalamnya yang berubah. Elu pasti ngerti kenapa gue ngundang lu kesini, gue harap elu mau dukung pencalonan Tito.”

“Elu sadar situasi organisasi sekarang kaya apa? Sudah jauh beda dibanding dulu. Gue nggak nyangka elu ikutan terlibat bisnis narkoba.”

“Gue tahu situasinya sudah berubah, makanya gue harap elu bantuin gue dan Tito. Masalah narkoba seharusnya elu sadar kalo hal itu adalah bisnis masa depan, kita nggak mungkin menghindarinya.”

“Gue pasti dukung Tito, selain kita berdua ada lagi yang dukung Tito?”

“Gue lagi deketin Bang Elang sama Bang Gobang. Yang lainnya juga gue deketin tapi nggak terlalu berharap karena mereka gampang disogok, bisa berubah sewaktu-waktu kalau ada yang bisa bayar lebih besar. Kalau Bang Elang sama Bang Gobang lebih idealis.”

“Hmm, kalau gitu nanti gue bantuin lu ngomong ke mereka berdua. Menurut gue pemilihan kali ini akan berdarah-darah selain memakan biaya yang besar. Kalau Tito butuh pasukan jangan sungkan ngomong ke gue.”

“Makasih untuk dukungan lu. Kedepannya gue akan bales semua bantuan yang lu kasih.”

Sesaat kemudian mereka berpisah. Hari demi haripun berlalu, pada akhirnya Rika berhasil melobi Elang dan Gobang untuk mendukung Tito. Namun seperti yang sudah diduga Riko, perebutan posisi pimpinan cabang kali ini berlangsung panas. Pihak Burhan selalu mencari-cari keributan terhadap Tito sehingga cukup banyak jatuh korban. Puncaknya terjadi sebuah bentrokan besar 2 hari menjelang pemilihan.

Kubu Burhan berhadapan dengan kubu Tito di sebuah jembatan layang menuju pelabuhan pada dini hari itu. Pihak keamanan yang sebenarnya sudah mengetahui akan terjadi tawuran di lokasi tersebut seakan tutup mata, tak satupun terlihat anggota keamanan yang berjaga. Tidak terlihat satupun aktifitas warga sekitar selain mereka yang secara swadaya berjaga di lingkungan masing-masing mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

Tawuran antar geng tersebut berlangsung mencekam, kedua kubu berjalan bergerombol di kedua sisi jembatan. Masing-masing membawa berbagai macam benda yang bisa digunakan sebagai senjata. Kedua kubu berdiam diri sesaat ketika jarak mereka terpaut sepelemparan batu. Mereka menunggu komando dari pimpinan masing-masing, dalam hati mereka ada sedikit rasa takut bahwa pagi ini merupakan saat terakhir hidup mereka namun perasaan tersebut terkubur mengingat inilah pilihan hidup mereka. Hidup sebagai penguasa jalanan atau mati di jalanan.

Secara hampir bersamaan Burhan dan Tito melangkah maju saling berhadapan, berdiri ditengah-tengah jembatan sambil saling menatap mata lawannya. Diawali dengan teriakan keras keduanya, tawuranpun pecah. Kedua kubu mulai merengsek maju, benda yang mereka bawa sebagai senjata saling berkelebat. Mereka saling serang, saling pukul, saling tendang, serta saling menghantamkan senjata masing-masing. Situasi di tempat itu terlihat sangat kacau. Tidak ada yang mau menyerah begitu saja. Puluhan orang terluka dan belasan lainnya tewas menjadi korban aksi tawuran tersebut. Burhan dan Tito turut terluka, namun keduanya tetap memimpin kelompoknya untuk terus bertarung. Kedua orang tersebut beberapa kali terlibat adu jotos namun segera terhalang oleh anak buah yang menghampiri mereka. Aksi tawuran baru berhenti setelah matahari terlihat utuh di bagian timur kota, disaat aparat keamanan baru saja datang di lokasi tersebut. Mereka segera melarikan diri, meninggalkan kawan-kawannya yang sudah tidak bisa tertolong. Sebagian dari mereka berhasil diamankan petugas.

Secara berangsur-angsur suasana di jembatan tersebut berjalan seperti biasa walau masih terlihat tanda-tanda bekas kerusuhan ditempat itu, ceceran darah serta berbagai macam benda masih berserakan. PJR dikerahkan untuk mengatur lalu lintas di kawasan itu.

Siang itu Fredy dan Rian terlihat berbincang di sebuah private room restoran yang terletak tak jauh dari kantor.

“Kerjaan lu kali ini nggak beres Yan. Kita kehilangan banyak anggota karna tawuran tadi pagi, tapi nggak membuahkan hasil. Pokoknya lu harus beresin semuanya, tapi gue nggak mau sampai Tito mati. Gue punya rencana lain.”

“Sorry bos, guwe akan beresin kesalahan gue.”

“Soal penghianat itu gimana Yan? Udah ketemu?”

“Informan kita di kepolisian bilang ada petingi yang tahu identitas si informan, gue sudah ketemu sama petinggi itu tapi dia minta bayaran spesial?”

“Siapa dia? Minta bayaran berapa?”

“Wakapolda Dani Budiman, dia minta…..”

“Gue tahu yang dia mau.” Potong Fredy yang mengetahui berapa harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan identitas penghianat dalam organisasinya.

Fredy tampak berpikir keras untuk mengambil keputusan kali ini. Sebenarnya Fredy malas berurusan dengan perwira itu, namun ia juga tidak ingin ada penghianat bebas berkeliaran dalam organisasinya.

Sementara itu di tempat lain tampak 5 orang sedang berdiskusi dalam satu meja. Mereka membahas apa yang baru saja terjadi tadi pagi.

“Mendingan elu mundur aja To, kelihatannya Si Burhan didukung penuh sama Fredy. Akan makin banyak jatuh korban dan biaya yang keluar kalau elu maksain tetep nyalonin diri. Gue rasa bantuan gue selama ini sudah lebih dari cukup, gue nggak mau ikutan keseret terlalu jauh.” Ucap Gobang memberi masukan.

“To, sekarang elu jadi incerannya Burhan dan anak buahnya. Bisa elu atasi? Jangan nyerah segampang itu, karna bisa merusak reputasi kita.” Tambah Elang.

“Abang nggak bisa narik dukungan gitu aja, nama abang juga dipertaruhkan disini. Ini bukan masalah seberapa besar nyali ataupun berapa besar kita keluar biaya dan tenaga. Tapi juga menyangkut kelangsungan organisasi ini. Bang Elang yang lebih ngerti, kalau organisasi ini di bangun sama-sama. Semenjak Fredy naik, dia mau ngerubah itu semua. Kita sudah sepakat nggak akan biarin hal itu terjadi. Masalah Burhan biar Tito sendiri yang nyelesaiin, kalo Bang Elang sama Bang Gobang nggak mau bantuin lagi biar gue sama Rika yang bantuin. Tapi jangan narik dukungan abang.”

“Elu bener, kalau gitu gue percayain semua ke elu Ko. Kalian harus menyelesaikan masalah ini dengan baik. Jaga reputasi kita.” Sahut Elang.

“Gue juga… gue cuma nitip pesen jangan sampai kejadian kaya tadi terulang lagi, biar gimanapun juga kita masih dalam satu perahu.” Tambah Gobang.

“Makasih atas kesedian abang semua tetep dukung gue. Masalah Burhan biar jadi tanggung jawab gue.”

Setelah perbincangan dirasa cukup, Elang dan Gobang segera meninggalkan tempat itu.

“Ko, makasih elu mau bantuin gue.”

“Nggak usah terlalu dipikirin, selama ini elu juga sudah banyak bantu gue. Jangan kecewain pacar lu ini yah.” Ucap Riko sambil mengarahkan wajahnya pada Rika. “Oh iya, gue juga mau ngingetin lu. Dalam sebuah perlombaan saat paling menegangkan adalah saat menjelang garis akhir.”

**********​

Malam sebelum pemilihan ketua cabang organisasi, suasana di dalam kota cukup terlihat tenang. Tidak ada tanda-tanda akan terjadinya kerusuhan seperti 2 hari yang lalu. Tito masih tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, menjelang tengah malam ia berjalan pulang ke rumah ditemani salah satu anak buahnya.

“Elu tungguin disini gue mau kencing dulu.” Ucap Tito saat melewati sebuah toilet yang sepi.

Tito segera berjalan masuk ke toilet tersebut, baru saja ia keluar dari toilet tersebut seorang pria datang dan langsung menyerangnya menggunakan pisau. Dengan sigap Tito melakukan perlawanan, ia segera mengelakan tusukan itu kemudian balas menyerang orang tersebut. Sekilas Tito melihat tubuh anak buahnya yang tadi menemaninya telah terkapar bersimbah darah tidak jauh dari tempatnya berdiri. Belum habis keterkejutannya mendapati kondisi anak buahnya, sebuah mobil van putih berhenti didepannya. Sejumlah orang segera turun dari mobil itu sambil membawa senjata tajam, mereka langsung menyerang Tito. Ia melepas jaket yang dikenakannya lalu membelitkannya di tangan kiri sebagai pelindung, seorang diri Tito menghadapi 5 orang penyerangnya yang menggunakan masker wajah serta membawa pisau ataupun parang ditangan.

Tito menangkis ayunan parang dari salah seorang penyerangnya lalu balas memukulnya. Penyerang yang lain segera menyusul menyerangnya namun Tito berhasil mengelakannya bahkan tendangan balasan Tito mampu menebas pergelangan kaki orang itu hingga orang itu terjatuh. Belum sempat Tito menghela nafasnya, orang yang menyerangnya pertama kali kembali menusukan pisaunya. Kali ini Tito terlambat mengelak sehingga bagian perutnya sempat tersayat pisau tersebut. Tito tidak sempat memperhatikan lukanya karena disaat itu juga ada penyerang yang lain mengayunkan senjatanya dari belakang. Tito membalikkan badannya lalu menangkis pergelangan tangan orang itu dengan tangan kiri, direngkuhnya leher orang itu hingga menunduk lalu lututnya menghajar wajah orang itu dengan keras hingga mengeluarkan darah.

Melihat seorang rekannya roboh, keempat pria lain yang menyerang Tito semakin gencar menyerangnya. Untuk beberapa saat Tito masih mampu melayaninya, bahkan ia sempat memukul jatuh keempat orang tersebut. Namun karena darah yang mengucur dari lambung Tito semakin banyak daya tahannyapun semakin menurun. Beberapa kali kesempatan ia tidak mampu menghindari sabetan senjata lawan sehingga luka ditubuhnya makin banyak. Disaat Tito semakin kritis, melintas sebuah mobil di lokasi itu. Pengendara mobil itu segera turun setelah melihat sedang terjadi pengeroyokan. Dengan cepat ia menghajar orang-orang yang mengeroyok Tito.

Para penyerang itu berbalik menyerang pemuda yang baru saja tiba tersebut. Dengan lihai si pemuda meladeni keempat pria bersenjata tersebut bahkan berhasil memukul pergelangan salah seorang pria besenjata hingga parang yang dipegangnya lepas, disaat lain pemuda itu mampu menghindari ayunan parang lawan lalu menggunakan berat badan lawannya yang ikut maju saat mengayunkan senjata untuk melemparkan tubuhnya ke penyerang lainnya sehingga tubuh kedua orang itu bertabrakan lalu terjatuh.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, keempat orang penyerang itu segera kembali ke mobil van putih tak lupa membawa rekannya yang tadi roboh dihajar Tito kemudian pergi meninggalkan lokasi itu. Si pemuda segera mendekati Tito yang terluka lalu membantunya berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Pemuda itu segera membawa Tito menuju ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Sementara itu di sebuah rumah mewah, Fredy mengadakan perjamuan dan mengundang beberapa orang anak buahnya. Suasana acara makan-makan itu berlangsung meriah. Acara itu dilanjutkan dengan karaokean di halaman belakang yang ada kolam renangnya.

“Sis, ayo dong nyanyi. Sudah lama anak buah gue nggak denger suara merdu lu.”

Ucapan Fredy disambut meriah anak buahnya, merekapun memberi semangat Siska untuk bernyanyi agar suasana bertambah meriah. Siska pun menyanggupi permintaan itu, setelah memilih lagu dalam player list gadis itu segera memperdengarkan suaranya. Fredy dan anak buahnya yang hadir malam itu menikmati suara merdu Siska, mereka bertepuk tangan saat Siska menyelesaikan lagunya bahkan ada beberapa orang yang meminta Siska untuk terus bernyanyi.

“Sudah cukup, ada acara yang lainnya lagi. Itu makanya gue ngundang kalian kemari.” Ucap Fredy sambil memberi kode pada Rian.

Rian segera pergi masuk ke dalam rumah diikuti 2 orang anak buah Fredy, tak berapa lama kemudian mereka kembali muncul sambil membawa 3 orang wanita serta beberapa orang anak yang tangannya terikat kebelakang. Mereka dijejer berlutut di pinggir kolam. Melihat anggota keluarganya diperlakukan demikian, 3 orang anak buah Fredy berusaha mendekati mereka namun segera dicegah dan dringkus oleh anak buah Fredy yang lainnya. Fredy tersenyum keji melihat ketiga anak buahnya tersebut.

“Gue sudah bilang pasti akan menemukan orang yang berani menghianati gue. Dan gue juga bilang akan membantai keluarganya. Habisi mereka!” Fredy menyuruh anak buahnya yang lain untuk membantai keluarga ketiga anak buahnya yang juga informan kepolisian.

Ketiga orang informan polisi tersebut meraung melihat keluarganya dibantai di depan mata mereka. Siska yang ikut menyaksikan pembantaian tersebut ikut menjerit ketakutan. Fredy segera mendekatinya lalu memeluknya.

“Tenang sayang, aku hanya melakukan hal ini pada orang-orang yang telah menghianatiku.” Walaupun kali ini perkataan yang diucapkan Fredy sangat sopan dan dengan suara lembut, namun hal itu tidak mengurangi rasa takut Siska pada pria itu.

Fredy segera mendekati ketiga informan tersebut. Ia menatap mereka dengan dingin. Fredy memberi kode pada pengawalnya agar mendekat.

“Jon, sudah berapa lama elu ikut sama gue?” Tanya Fredy pada pengawalnya tersebut.

“Tujuh tahun bos.”

“Elu pernah bunuh orang yang elu anggep sodara lu sendiri?”

“Belum bos….”

“Sekarang gue kasih elu kesempatan untuk melakukannya.”

Tanpa pikir panjang Jono segera mencabut pistol yang ia simpan dibalik pakaiannya, lalu ia langsung menembakan pistol tersebut ke dahi ketiga informan polisi yang menyamar dalam organisasi. Ketiganya roboh meregang nyawa seketika. Fredy tersenyum dingin melihat apa yang dilakukan oleh Jono. Saat matanya melihat Siska, Fredy mendapati gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya dari aksi pembantaian tersebut.

“Sis… Siska… Siska, kemari.”

Setelah beberapa kali namanya disebut, Siska baru merespon panggilan dari Fredy. Dengan wajah pucat dan langkah gemetar ia mendekati atasannya tersebut. Siska tak berani melihat ke arah mata Fredy, dia hanya merunduk dihadapan pria yang umurnya dua kali lipat dari usianya. Fredy mengangkat dagu Siska sehingga mata mereka kini saling menatap.

“Gue sudah memberi mereka kesempatan untuk mengakui perbuatannya, namun mereka tidak mengambil kesempatan itu. Jika gue kasih kesempatan, maukah elu mengambilnya….”

Semua mata tertuju pada Fredy dan Siska dengan tatapan heran, mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Fredy mengulurkan tangannya pada Jono sambil membuka telapak tangannya tanpa mengalihkan tatapannya yang dingin dari wajah Siska, dengan ragu Jono menyerahkan pistol yang ia pegang pada Fredy. Setelah Fredy menggenggam pistol yang diberikan Jono, ia meneruskan ucapannya.

“….. Elu itu polisi, dan gue adalah penjahat. Gue nggak bisa membiarkan seorang penghianat tetap bersama gue. Elu harus menerima akibatnya.”

DOORRR!

Fredy menarik pelatuk pistol dalam genggamannya, suasana ditempat itu menjadi sangat hening. Fredy menoleh ke arah Jono yang wajahnya terlihat pucat. Semua mata yang ada ditempat itu kini tertuju pada Jono. Mereka bingung apa yang sebenarnya terjadi, kecuali Fredy dan Rian. Jono memegangi perutnya yang berlumuran darah, lututnya mulai goyah.

“Gue nggak nyangka orang yang selama 7 tahun selalu berada disebelah gue adalah seorang penghianat. Kalau nggak liat sendiri berkas yang dikasih atasan lu, gue nggak akan percaya.”

Fredy kembali menarik pelatuk pistol tersebut hingga seluruh pelurunya habis, seketika itu juga Jono roboh meregang nyawa. Fredy menatap seluruh anak buahnya dengan tajam.

“Ini jadi pelajaran buat kalian yang coba menghianati gue… Yan, beresin semuanya.”

Rian segera menyuruh anak buah Fredy yang lain untuk membantunya membereskan mayat yang bergelimpangan di halaman maupun kolam, mereka juga membersihkan ceceran darah yang menggenangi tempat itu. Mereka mengerjakan itu tanpa banyak suara. Sementara itu Fredy mengajak Siska untuk masuk ke dalam rumah.

**********​

“Ka, gimana kondisi Tito?”

“Masih belum sadar, Ko. Menurut dokter dia harus dirawat sampai 2 minggu kedepan.”

“Berarti dia nggak bisa maju… Siapa yang ngelakuin?”

“Gue sudah nyebar anak buah untuk cari informasi. Belum ada kepastian, tapi kemungkinan pelakunya orang luar kota. Oh iya, anak yang nolongin Tito katanya kenal sama anak buah lu. Namanya Joe.”

“Dimana dia sekarang?”

“Sudah pulang, tapi dia janji akan nemuin gue lagi secepatnya buat kasih keterangan apa yang sudah dia lihat.”

“Gue curiga Fredy ada di balik ini semua…..”

“Udah lah Ko, gue nggak mau mikirin itu dulu. Gue cuma pingin Tito cepet sadar dan cerita semuanya. Kalau emang Fredy dibalik ini semua elu mau bantuin gue buat bales dia?”

“Gue pasti bantuin elu, sudah saatnya Fredy kita singkirin. Dia sudah mengacaukan apa yang menjadi dasar organisasi kita, dia sudah bertindak semaunya dengan apa yang dia miliki.”

“Terima kasih banyak, Ko. Itu yang mau gue denger saat ini. Mengenai langkah selanjutnya tunggu kondisi Tito pulih.”

Akibat insiden yang menimpa Tito, pria itu dinyatakan gugur dalam pencalonannya sebagai ketua cabang. Maka keesokan harinya, dalam pertemuan yang sudah disepakati sebelumnya Burhan diangkat sebagai ketua cabang yang baru walaupun tidak semua pihak menerimanya karena merasa Burhan menjadi pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang menimpa Tito.

“Kalian nggak bisa nuduh gue sembarangan kaya gitu. Gue bersaing secara fair, nggak akan melakukan hal seperti yang kalian tuduhkan. Tito itu preman yang punya banyak musuh, hal wajar jika suatu saat musuhnya nyerang dia dan manfaatin momen seperti ini sehingga tidak dicurigai. Gue harap perdebatan ini nggak diperpanjang, apa yang sudah kita sepakati harus bisa diterima semua pihak. Saatnya kita bersatu lagi agar pihak pesaing kita nggak manfaatin situasi ini. Biar gimanapun juga gue yang paling muda disini, gue butuh bimbingan dan saran dari senior-senior gue.”

“Apa yang diucapin Burhan bener, kita jangan terlalu berlarut dalam perselisihan. Saingan kita banyak, kita harus jaga reputasi kita. Beri Burhan kesempatan mimpin karena ini sudah sesuai aturan yang berlaku dalam organisasi kita. Kalau ada pihak-pihak yang tidak puas bisa kita bicarakan secara baik-baik.” Ucap Fredy menengahi perselisihan yang terjadi.

“Gue masih nggak yakin dengan kepemimpinan Burhan. Sampai saat ini masalah kematian Paman Rojak belum bisa dia beresin. Kalau sudah bisa nyelesaiin masalah itu, baru dia boleh dudukin posisi yang ditinggal Paman Rojak.” Seloroh Elang, salah satu pimpinan senior yang tidak setuju dengan terpilihnya Burhan.

“OK. Gue anggep ini sebagai tes awal buat ngebuktiin kemampuan gue, tapi gue berharap setelah gue mampu beresin masalah ini, tidak ada lagi pihak yang ngeraguin kapasitas gue.”

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 12 | Young and Wild and Free Part 12 – END

(Young and Wild and Free Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 13)