Young and Wild and Free Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 11

Start Young and Wild and Free Part 11 | Young and Wild and Free Part 11 Start

THE TROUBLE MENACE​

Satu minggu setelah kemunculan Bram di Warung Pak Ali, belum ada tanda-tanda pemuda itu melakukan aksinya. Namun malam itu sepertinya pembunuh bayaran yang mendapat julukan Lone Wolf itu akan memulai aksinya. Dari tempatnya sedari tadi matanya selalu memperhatikan kondisi sekitarnya.

Tak jauh dari tempat pemuda itu mengamati ada sebuah spa yang malam itu kedatangan tamu yang menjadi langganan tempat tersebut. Seorang pria berumur lebih dari 60 tahun. Namun demikian perawakannya tidak seperti pria seusianya. Tubuhnya yang gempal terlihat sangat terawat sehingga masih menunjukan sisa-sisa kejayaannya. Seperti biasa ia selalu di kawal oleh anak buahnya. Tak kurang dari 10 orang yang mengawalnya malam ini, 5 orang di luar spa dan 5 orang di dalam spa bersamanya. Satu hal yang tidak diketahuinya ialah saat ini maut sedang mengintai dirinya. Disaat pria tua itu sedang menerima perawatan di salah satu ruang spa, satu persatu anak buahnya yang berjaga-jaga didepan berhasil dilumpuhkan oleh Bram tanpa menimbulkan keributan dan berlangsung sangat cepat.

Sementara itu di salah satu ruangan spa, pria tua yang dikenal dengan nama Rojak sedang menerima perawatan kuku dari seorang gadis muda. Rojak dengan sengaja mengulurkan kakinya kearah dada gadis yang sedang mengikir kuku tangannya, ujung kakinya dimainkan di payudara gadis tersebut sehingga membuat si gadis tercekat namun tidak berani berbuat apa-apa karena mengetahui siapa yang sedang mengerjai tubuhnya kali ini.

“Rasanya kurang mantap kalau ngunyel-ngunyel toket yang masih ketutupan bra. Cepet lepas bra lu!”

“Ampun Bang Rojak! Saya cuma bertugas merawat kuku abang, jangan perlakukan saya seperti itu.”

“Sialan lu! Perek aja belagu.” Maki Rojak sambil menampar si gadis.

Gadis itu langsung jatuh tersungkur sambil memegangi wajahnya yang kesakitan, supervisor gadis itu segera mendekati Rojak untuk melerai keributan yang terjadi.

“Maaf Bang dia masih baru, saya carikan cewek lain yang lebih profesional.”

“Nggak usah! Mood guwa udah turun, mendingan lu usir perek itu biar tahu susahnya nyari duit di kota ini.”

Rojak segera pergi dari ruang itu menuju ruang loker diikuti 2 orang anak buahnya, tanpa ia duga dirinya sudah ditunggu oleh seorang pemuda di ruang itu. Saat melihat kedatangan Rojak, pemuda itu menatap pria itu dengan tajam seperti ingin membunuh. Sebenarnya Rojak sedikit merasa jerih saat mata mereka saling bertatapan. Namun pria itu berusaha menutupinya mengingat reputasinya sebagai salah satu pimpinan cabang sebuah geng yang menguasai kota ini.

“Ngapain elo ngeliatin guwa kayak begitu! Elo belum kenal siapa guwa!?”

“Elu yang namanya Rojak?!” Tanya pemuda itu tak kalah sengitnya dengan Rojak.

Melihat gelagat yang kurang baik, salah satu anak buah yang mengawal Rojak segera mendekati pemuda tersebut bermaksud untuk membereskannya. Namun disaat tangannya akan memegang pundak pemuda itu, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh pemuda tersebut disusul sebuah tinju yang menerpa wajahnya. Orang itu terhuyung ke samping, belum sempat ia menguasai tubuhnya sebuah tendangan kembali menghantam tubuhnya sehingga ia terjatuh. Melihat kawannya roboh, anak buah Rojak yang lain segera menyerbu si pemuda sementara Rojak bergegas meninggalkan ruang tersebut.

Pemuda tersebut tidak mengalami kesulitan berarti menghadapi anak buah Rojak yang tadi menyerangnya. Kemudian pemuda itu segera mengejar Rojak, namun usahanya dihalang-halangi oleh pihak keamanan tempat tersebut ditambah 3 orang anak buah yang lainnya. Dengan ganas pemuda tersebut menghajar semua orang yang menghalanginya. Dalam satu kali kelebatan pemuda itu mampu memukul roboh 2 orang pengeroyoknya, pada kelebatan berikutnya menyusul 2 orang lagi yang roboh bahkan seorang diantaranya mulutnya sampai mengeluarkan banyak darah karena separuh giginya rontok dihajar pemuda tersebut.

Orang-orang yang ada di spa tersebut tidak berani ikut campur dalam masalah ini, sehingga mereka membiarkan si pemuda mengejar Rojak. Karena usianya sudah lanjut, Rojak tak mampu berlari terlalu jauh. Baru beberapa blok saja ia sudah merasa kehabisan nafas, akan tetapi saat melihat si pemuda berlari mendekatinya Rojak memaksakan diri untuk terus berlari. Si pemuda segera melompat sambil melepaskan tendangan untuk menghentikan langkah Rojak. Tubuh Rojak langsung tersungkur setelah menerima tendangan tadi. Pemuda itu langsung mendekati Rojak lalu menghajarnya habis-habisan diakhiri dengan sebuah tendangan keras yang membuat tulang leher Rojak patah sehingga nyawanya melayang saat itu juga. Setelah memastikan Rojak sudah tidak bernyawa lagi, pemuda tersebut segera meninggalkan tubuh Rojak terkapar di jalanan.

**********​

Kabar penyerangan terhadap Rojak segera menyebar dan menjadi topik pembicaraan pada keesokan harinya. Para pimpinan organisasi tempat Rojak bergabung segera mengadakan pertemuan di sebuah tempat yang dijaga ketat oleh angota organisasi tersebut. Siang itu, di ruangan tersebut telah berkumpul seluruh pimpinan serta beberapa anggota yang dianggap layak untuk menghadiri pertemuan.

“Kita harus menyelidiki kematian Paman Rojak serta menuntut balas kepada orang yang telah membunuhnya termasuk mereka yang telah menyuruh orang itu. Karena kejadiannya berada di wilayah gue, biar kelompok gue yang akan bertanggung jawab mengerjakan hal tersebut.” Ucap Erwin, salah satu pimpinan cabang organisasi tersebut.

“Ini menyangkut reputasi Rantai Tengkorak, gue berharap elu serius menyelesaikan hal ini Win. Bukan cuma mau nyari sensasi seperti biasanya.”

“Apa maksud lu Bang Elang? Gue nggak pernah main-main dalam melaksanakan tugas, elu jangan asal ngomong.”

Akibat perdebatan sengit antara 2 orang pimpinan cabang tersebut, suasana dalam ruangan pertemuan itu menjadi panas. Keduanya memang selalu bersaing sejak dahulu, bahkan anak buah mereka sering terlibat bentrokan walaupun sebenarnya masih dalam satu geng.

Sebagai pimpinan tertinggi dalam organisasi, Fredy berusaha mendinginkan suasana.

“Cukup! Kita masih dalam suasana berkabung, jangan membuat situasi bertambah buruk. Tolong jaga sikap dan omongan kalian… Kita kembali ke pembahasan awal. Gue menghargai keinginan lu Win, tapi akan jauh lebih baik kalau Burhan yang akan mengerjakan hal itu. Dia yang selama ini deket sama Paman Rojak, ini sekaligus jadi tes buat Burhan apa dia layak jadi pengganti bosnya.”

“Maap Bang Fredy, gue nyela. Gue setuju kalau urusan kematian Paman Rojak jadi tanggung jawabnya Burhan. Tapi untuk kursi pimpinan cabang akan lebih fair kalau tidak langsung main tunjuk. Masih banyak anggota senior yang layak menempati posisi tersebut, gue rasa kontribusi mereka dalam organisasi ini nggak kalah dibanding Burhan.”

Fredy memperhatikan satu-satunya wanita dalam ruang pertemuan tersebut. Sejak dahulu ia memang mengagumi keberanian wanita ini, kekagumannya semakin bertambah setelah melihat sepak terjang wanita tersebut yang bisa survive dalam lingkungan yang keras dalam organisasi ini. Namun kali ini Fredy juga kesal terhadap Rika, karena tanggapan dari wanita itu bisa membuat rencananya terhambat. Fredy menutupi kekesalannya itu dengan sebuah senyuman datar.

“Jadi menurut lu Tito lebih baik dari Burhan? Ada yang setuju sama usulan dari Rika?”

“Maaf Bang Fredy, tadi gue nggak nyebut nama. Maksud gue biar tiap pimpinan cabang ngasih nama untuk calon pengganti Paman Rojak.”

“Jadi maksud lu gue udah salah nebak calon yang akan elu usulkan? Elu nggak nyalonin pacar lu itu?”

Rika tertunduk mendengar pertanyaan dari Fredy, dalam hatinya ia membenarkan dugaan pria tersebut.

“Gue rasa apa yang di usulkan Rika ada benarnya. Prinsip organisasi kita bukan berdasarkan keturunan, jadi setiap orang yang dianggap layak berhak untuk dikasih kesempatan yang sama. Gue rasa Bang Fredy paham akan itu.”

Kali ini perhatian Fredy tertuju pada pria yang baru saja mengeluarkan pendapatnya. Dari dulu ia memang sering berbeda pendapat dengan Riko, bahkan pria itu nyaris menggagalkan impiannya untuk menjadi pimpinan tertinggi organisasi ini. Untungnya pria tersebut menarik pencalonan dirinya, padahal mayoritas dukungan dari pimpinan serta anggota lainnya sudah diraihnya. Hanya karena merasa tidak terlalu berambisi menduduki pimpinan tertinggi yang membuat Riko menarik diri dari pencalonan, hal itu pula yang membuatnya putus dari Rika karena cewek itu termasuk ambisius.

“Baiklah, gue akan kasih kesempatan untuk anggota senior lainnya untuk mencalonkan diri. Gue kasih waktu 2 minggu untuk pendaftaran, tiap calon minimal harus memiliki 4 suara dukungan dari pimpinan ataupun pengurus organisasi. Kita akan berkumpul lagi di tempat ini saat waktu pendaftaran berakhir, dari nama-nama yang terkumpul akan kita lakukan pemungutan suara.”

Usulan dari Fredy bisa diterima oleh seluruh peserta pertemuan tersebut. Suara bisik-bisik antar peserta pertemuan memenuhi ruangan tersebut, sebagian mulai mencari nama orang yang pantas menduduki posisi pimpinan cabang, sebagian lagi yang tidak memiliki hak suara hanya bisa menebak-nebak calon yang akan diajukan. Tak lama kemudian satu per satu dari mereka mulai membubarkan diri. Riko menghampiri Burhan untuk berbincang sejenak dengannya, ia pun memberi tanda pada anak buahnya untuk mengikutinya.

“Han, sorry gue nggak ikut dukung elu dalam pencalonan kali ini karena gue menganggap elu masih terlalu muda untuk memegang jabatan itu. Tapi untuk mengungkap kematian bos lu, gue akan dukung lu sepenuhnya. Gue akan pinjemin orang terbaik gue, Agung dan Mimin selama 2 minggu.”

”Nggak usah Bang Riko, itu udah jadi tanggung jawab gue sepenuhnya. Bukannya gue nggak hargain bantuan abang, tapi gue sanggup ngejalanin tugas itu. Tugas ini kesempatan buat gue untuk nunjukin kemampuan gue. Abang pasti ngerti maksud gue.”

“Gue ngerti, justru itu gue bersikeras nolongin lu. Pikiran lu akan kebagi antara pemilihan ketua cabang sama nyelesaiin tugas dari Bang Fredy. Elu sangat butuh dukungan orang lain. Kalau elu keberatan secara pribadi, anggep bantuan ini sebagai tanda respek gue ke Paman Rojak.”

“Kalau abang terus maksa gue, nggak ada alasan buat gue nolak bantuan abang.”

“Gung, Min, selama 2 minggu kedepan kalian fokus bantuin Burhan mengungkap kematian Paman Rojak. Tugas kalian akan digantikan sementara waktu sama yang lainnya.” Ucap Riko sambil matanya menunjuk kearah Bimbim dan teman-temannya.

Setelah urusannya dengan Burhan selesai, Riko segera meninggalkan lokasi tersebut diikuti 4 orang anak buahnya sementara Agung dan Mimin tetap tinggal sesuai dengan perintah Riko untuk membantu Burhan. Setibaya di rumah, Riko mengajak keempat anak buahnya tadi untuk berdiskusi.

“Gimana pendapat kalian tentang pertemuan tadi.”

“Kalau masalah kematian Paman Rojak dan proses pemilihan ketua cabang yang baru kita nggak bisa komen Bang. Kita ikutin aja proses yang berlaku di organisasi. Gue cuma merasa heran dengan sikap Bang Riko yang seolah-olah nyingkirin Agung dan Mimin.”

“Ada yang lain, selain pendapat Jati?”

“Secara umum gue setuju sama Jati, cuma gue sedikit merasa janggal sama sikap Bos Fredy. Sepertinya dia tadi sengaja memaksakan agar Burhan otomatis jadi penggantinya Paman Rojak. Jangan-jangan ketidak munculan Burhan semalam sudah diatur. Sepertinya Burhan memang diseting untuk menggantikan Paman Rojak.”

“Luar biasa pemikiran lu Bim, gue juga sependapat sama elu. Itu sebabnya gue ngajak kalian diskusi sekarang. Tapi sebelum gue ngomong lebih lanjut, mungkin masih ada tanggapan dari yang lain?”

“Nggak ada dari gue, kalo disuruh mikir kaya gitu dari dulu emang gue yang paling bego diantara kami berempat.”

“Jangan ngerendah gitu Sak. Elu harus belajar banyak dari temen-temen lu, jangan cuma ngekor aja. Elu harus belajar mengungkapkan gagasan lu, sebodoh apapun itu. Kalau elu nggak pernah berani ngungkapin pendapat lu, sama aja artinya dengan mengarahkan masa depan lu untuk menjadi pecundang. Karena orang yang bisanya cuma ngikutin pendapat orang lain hanya akan menjadi orang yang mencoba bertahan hidup, dan kebanyakan orang yang seperti itu berakhir sebagai seorang pecundang. Kalau elu Gun, gimana? Gue yakin elu punya analisa bagus dari pertemuan tadi.”

“Gue sependapat sama Bimbim, dan kalau dugaan kita benar maka ada kemungkinan Bos Fredy yang ngerencanain pembunuhan Paman Rojak. Motifasinya gue belum yakin, tapi dugaan sementara adalah Bos Fredy ingin memperkuat pengaruhnya di organisasi ini, dia akan menyingkirkan orang-orang yang selama ini sering bersebrangan dengan pemikirannya lalu menggantinya dengan orang-orang baru yang bisa dia setir. Itu berarti Bang Riko juga harus mulai berhati-hati, karena dari kasus kokain yang kemaren gue menduga Bang Riko akan menjadi salah satu target yang akan dia singkirin. Bang Riko minjemin Agung sama Mimin karena menduga salah satu dari mereka adalah anteknya Bos Fredy seperti halnya Burhan, cuma Bang Riko belum yakin yang mana orangnya.”

“Gila! Gue punya pemikiran yang sama persis sama elu karna gue udah bertahun-tahun mengenal Fredy, tapi elu bisa menganalisa semuanya hanya dalam dua kali pertemuan dengan orang itu. Je, udah kejawab kan keheranan lu? Gue nggak mungkin nyingkirin Agung ataupun Mimin, gue cuma butuh waktu agar mereka menjauh sementara dari gue sambil melakukan penyelidikan atas apa yang gue kawatirin. Tugas kalian sekarang adalah cari informasi sebanyak-banyaknya tentang pergerakan Fredy dan timnya. Seperti analisa dari Guntur tadi, akan ada korban selanjutnya jika Fredy tidak dihentikan.”

Kelima orang tersebut melanjutkan diskusinya dengan membagi peran masing-masing serta menyusun strategi untuk menggagalkan rencana Fredy. Setelah dirasa cukup, mereka segera membubarkan diri lalu langsung mulai bergerak sesuai dengan perannya masing-masing.

Sementara itu setelah tadi meninggalkan lokasi pertemuan, Fredy dan Rian berdiskusi di dalam kendaraan yang mereka tumpangi. Diskusi mereka tak lain mengenai apa yang terjadi saat pertemuan tadi.

“Gara-gara Riko dan Rika, rencana kita untuk menaruh Burhan diposisi pimpinan cabang jadi tertunda. Sepertinya mereka harus segera kita singkirin.”

“Tenang, kita nggak perlu buru-buru menyingkirkan mereka berdua. Tenaga mereka masih kita butuhkan saat ini. Hanya masalah waktu untuk menyingkirkan keduanya. Bahkan gue sudah punya rencana sendiri agar nantinya mereka saling menghancurkan.”

“Terus selanjutnya gimana Bos.”

“Terpaksa kita harus siapkan dana besar. Elu deketin semua pemilik suara, sogok mereka agar jangan sampai Tito memenuhi kriteria pencalonan. Perhitungan gue cuma si Elang yang akan sulit kita deketin. Elu atur supaya pencalonan Burhan terlihat wajar, munculkan calon lainnya agar seolah-olah suara pimpinan terpecah. Yang penting jangan sampai Tito berhasil memenuhi kriteria pencalonan.”

Hingga mencapai rumah Fredy, keduanya terus mendiskusikan langkah yang akan mereka lakukan sehubungan dengan gagalnya rencana awal mereka. Sesampainya mereka di rumah Fredy, seorang penjaga rumah mendatangi Rian lalu membisikan sebuah informasi padanya.

“Ada apa Yan, kayanya serius sekali.”

“Riko sudah mencurigai kita. Burhan tadi ngasih informasi bahwa Agung sama Mimin untuk sementara waktu di pinjamkan ke Burhan selama 2 minggu untuk membantu menyelidiki kematian Rojak.”

“Riko sudah tahu siapa yang jadi antek kita?”

“Sepertinya belum, dia meminjamkan keduanya itu tandanya Riko masih ragu tentang siapa yang telah berkhianat padanya.”

“Kalau gitu kita nggak perlu terlalu khawatir. Tetap jalankan rencana awal, Riko nggak akan menyingkirkan anak buahnya tanpa bukti yang cukup kuat. Setelah 2 minggu antek kita bisa kembali mengamati dia. Elu siapin orang yang bisa dijadiin kambing hitam atas kematian Rojak.”

**********​

POV Grace

Sore ini aku mengajak Ella dan Joe untuk jalan-jalan bersama di sebuah mall. Semenjak Joe masuk perguruan tinggi, kami sangat jarang bisa kumpul bertiga apalagi sampai bisa jalan-jalan seperti ini. Padahal dulu seminggu sekali hal tersebut menjadi agenda wajib kami.

Setelah puas berkeling di dalam mall tersebut, kami memutuskan untuk beristirahat sambil ngobrol di food court yang terletak di lantai 3 mall tersebut. Sejenak kami mengelilingi area food court tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk membeli 3 set makanan fast food ala jepang. Setelah memilih meja, kami mulai menyantap makanan yang kami pesan diselingi dengan obrolan ringan.

“La, tumben dikit banget belanjaan kamu kali ini?” Tanyaku membuka obrolan.

“Iya, Grace. Usaha bokap gue masih belum lancar kaya dulu, ngirit lah. Makanya kemaren gue minta tolong Joe untuk nyariin kerjaan buat gue.”

“Itu makanya aku ngajak kamu jalan-jalan, kamu kan butuh pakain baru untuk kerja. Kalau kamu nggak ada uang biar aku yang bayar nanti. O iya, mulai kapan kamu magang di tempat ayahnya Joe?”

“Awal bulan depan. Nggak usah beli baju lagi Grace, ini sudah cukup kok.”

“Jam kerjanya gimana? Nggak ganggu waktu belajar, kan?”

“Senin sampai Jumat, sehabis pulang sekolah sampai jam 5 sore. Sabtu libur karena kantor cuma setengah hari, nggak mungkin aku kerja.”

“Tapi terima gaji full kan? Enaknya dapet banyak dispensasi tapi terima gaji utuh.”

“Hehehehe… Iya Grace. Eh, makasih ya Joe sudah rekomendasiin gue ke bokap lu.”

“Santai saja, La. Itulah gunanya sahabat. Abis ini kita nonton yuk, selesai nonton kita langsung pulang. Gue yang bayarin deh.”

“Boleh juga tuh idenya, sepertinya ada film bagus yang tayang perdana hari ini.” Ucap Ella menanggapi usulan dari Joe.

Setelah menghabiskan makanan dan minuman kami segera meninggalkan tempat itu lalu menuju ke studio XXX untuk nonton film. Sesampainya disana kami terlebih dahulu melihat –lihat poster dari film yang akan di putar di studio tersebut.

“Jadinya mau nonton film drama romantis atau thriller?” Tanya Joe memberikan pilihan.

“Yang drama romantis saja yah?” Usulku.

“Yah, gue jadi satpam dong ntar di dalem. Film thriller aja yah…” Ucap Ella agak mengiba.

“Terserah Joe saja deh. Kan dia yang bayarin.” Sahutku berharap pilihan Joe sama denganku.

Joe menimbang-nimbang sambil memperhatikan kami sejenak. Akhirnya Joe memutuskan untuk nonton film thriller. Keputusan itu disambut gembira Ella, aku hanya bisa mengikuti keputusan Joe dengan perasaan sedikit kecewa. Joe segera menuju antrian tiket, sementara aku dan Ella menuju ke kafetaria untuk membeli snack dan minuman ringan.

Setelah terdengar pengumuman bahwa studio yang akan memutar film thriller telah dibuka, kami segera memasuki studio tersebut. Joe memilih untuk duduk di tengah antara aku dan Ella, sebuah pilihan yang membuatku sedikit curiga. Biasanya aku yang duduk ditengah saat kami menonton bersama. Namun saat itu aku tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Aku masih bisa menikmati hingga pertengahan bagian film tersebut, walau sesekali aku menutup wajah ataupun berteriak kecil saat adegan yang ditampilkan cukup tegang. Harus kuakui sutradara film tersebut telah berhasil memicu adrenalin penontonnya, adegan dalam film tersebut rata-rata sangat menegangkan ditambah dengan sound effect yang sangat mencekam. Sampai suatu ketika dalam sebuah adegan di film tersebut aku sangat terkejut bercampur ketakutan hingga aku tak mampu lagi untuk menyembunyikan ketakutanku, aku berteriak cukup keras. Untungnya bukan hanya aku sendiri yang bertindak seperti itu, ada beberapa penonton khususnya penonton wanita yang bertindak seperti halnya diriku. Untuk menutupi ketakutanku aku membenamkan wajahku di bahu Joe. Kekasihku tersebut segera melingkarkan tangannya memelukku agar aku merasa tenang.

Namun ada hal lain yang membuatku lebih terkejut dibandingkan dengan adegan film yang kutonton. Saat aku membenamkan wajah pada bahu Joe, disaat itu pula aku melihat tangan kiri Joe menggenggam erat tangan kanan Ella. Bahkan dari sudut mataku aku melihat hal tersebut berlangsung selama beberapa detik kedepan, bukan hanya menggenggam tapi juga meremas dan sepertinya tangan Ella juga merespon apa yang dilakukan oleh Joe. Seketika itu juga aku merasa dunia di sekelilingku seperti dinding yang runtuh secara perlahan, untuk sesaat aku tidak tahu harus berbuat apa sampai akhirnya aku tersadar dan kembali duduk seperti biasa.

Sisa dari pertunjukkan film tersebut sama sekali tidak menarik buatku, perasaanku sudah tidak bisa tenang. Ingin rasanya aku segera berdiri lalu memarahi mereka berdua kemudian segera meninggalkan studio tersebut. Namun aku seperti terpaku di kursi studio tersebut, mataku tertuju pada layar lebar di hadapanku dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi, sementara pikiranku terus berkecamuk antara perasaan marah, kecewa, sedih serta hal-hal negatif lainnya. Aku tidak tahu apakah aku mampu memaafkan mereka nantinya.

Beberapa saat kemudian film itupun berakhir, namun posiiku tidak berubah sama sekali dari saat aku melihat kejadian tadi. Wajahku tetap tanpa ekspresi, posisi dudukku pun terlihat tegang, mataku masih memandang kedepan dengan tatapan kosong, namun sepertinya Joe maupun Ella tidak menyadari hal tersebut. Mereka malah mengomentari film yang baru saja berakhir.

“Wuih, seru yah filmnya. Dari tadi gue nahan napas terus saking tegangnya.” Ucap Ella.

“Iya La, sutradaranya emang jago bikin film beginian. Background musik sama suaranya juga keren abis. Kayanya gue harus nonton film ini lagi kapan-kapan.”

“Gue diajak lagi yah, gue juga masih pingin nonton film ini lagi kapan-kapan. Kalau VCD-nya sudah keluar pasti gue koleksi nih film.”

“Kalau menurut elu gimana Grace? Grace, elu nggapapa kan?” Tanya Joe sambil melihat ke arahku, dia baru menyadari kondisiku saat ini.

Mengira aku masih shock karena menonton film tadi, Joe mendiamkanku sementara waktu. Saat hampir seluruh penonton meninggalkan studio itu, kami baru beranjak dari tempat duduk. Sepanjang langkah menuju parkiran mobil ekspresiku tidak berubah, masih sama dengan sebelumnya. Aku belum mengeluarkan sepatah katapun semenjak keluar dari studio tadi. Joe dan Ella terus berusaha mencairkan suasana hatiku namun aku sama sekali tidak bergeming, reaksiku tetap sama.

Sesampainya di dalam mobil kedua sahabatku itu masih terus berusaha membuatku lebih ceria, bahkan mereka sampai memohon maaf karena mengira aku kesal tidak jadi nonton film drama romantis.

“Maafin gue Grace, karena maksa lu nonton film tadi. Gue nggak nyangka kalau elu akan sampai ketakutan kaya gini.”

“Gue juga minta maaf Grace, tadi gue yang ngusulin nonton film itu pertama kali.”

Aku masih saja memasang wajah dingin, namun aku mulai menanggapi omongan mereka walau dengan suara datar dan tanpa ekspresi. Mengetahui aku mulai merespon ucapannya, Joe segera menyalakan mesin mobilnya kemudian segera meninggalkan lokasi tersebut. Di sepanjang perjalanan aku hanya menatap lurus kedepan, pikiran dan suasana hatiku masih kacau. Aku sama sekali tidak menoleh ke arah mereka walau sudah mau menanggapi obrolan mereka. Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung, Joe mencoba menyalakan radio tape agar suasana bisa lebih relaks namun segera kumatikan.

“Ada apa sih Grace? Sikap elu kok jadi aneh begini. Apa tadi gue ngelakuin kesalahan ke elu? Masalah pilihan film tadi? Gue kan sudah minta maaf, masa gara-gara begitu doang elunya ngambek kaya gini.” Ucap Ella pelan agar aku tidak bertambah kesal.

“Atau elu lagi ada masalah lain, cerita dong Grace. Gue nggak tahu masalah lu itu apa, kalau elu nggak cerita ke gue.” Tambah Joe dengan suara lembut agar aku merasa lebih tenang, matanya sekilas memandangku lalu kembali konsentrasi memperhatikan kondisi jalanan.

“Aku nggak punya masalah apa-apa cuma lagi kesal saja saat ini.”

“Iya, apa yang membuat lu kesel. Gue nggak pernah liat lu sampe kaya gini. Tadi sebelum kita nonton kayanya elu masih biasa aja, tapi semenjak…..” Joe tidak meneruskan kata-katanya, tiba-tiba saja dia mengerem mobilnya.

Untung saja saat itu lalu lintas di sekitar kami tidak banyak dilalui kendaraan, sehingga kami terhindar dari kecelakaan. Namun demikian tubuh kami jadi ikutan tersentak karena Joe mengerem mobil secara mandadak. Bahkan Ella yang duduk di bagian belakang, tubuhnya sampai terdorong hingga membentur kursi yang kududuki.

Aku dan Ella menatap Joe dengan heran atas apa yang dilakukannya. Joe membalas tatapanku, dari sorot matanya terlihat ia merasa sangat bersalah padaku. Sepertinya saat ini Joe sudah menyadari kesalahannya.

“Maafin gue Grace, gue nggak bermaksud…..” Ucap Joe lirih seperti orang yang kedapatan berbuat kesalahan.

Sebelum Joe menyelesaikan ucapannya, aku segera memotongnya lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang akan merubah hubungan kami kedepan.

“Tunggu Joe, aku mau ngomong dulu. Tolong kalian jujur dan jangan bohongi aku. Sudah sampai berapa jauh hubungan kalian dibelakangku?!”

**********​

POV Siska

Sore itu Bimbim menghubungiku, kami janjian untuk bertemu nanti malam di sebuah rumah yang terletak dipinggiran kota, rumah itulah yang akhir-akhir ini menjadi saksi hubungan panas kami berdua. Setelah bertemu, pemuda itu mengutarakan maksudnya agar aku bisa membantunya mencari informasi tentang kegiatan Bang Fredy. Iapun menceritakan semua yang terjadi siang tadi termasuk pembicaraannya dengan Riko.

“Sorry Bim, gue nggak berani kalo diminta ngelakuin itu. Bang Fredy emang sayang banget sama gue, tapi dia paling benci sama orang yang nghianatin dia. Selama ini nggak ada orang yang dia biarin hidup kalo berani menghianatinya.”

“Bukankah apa yang kita lakukan belakangan ini juga termasuk nghianatin dia?”

“Beda Bim, saat ini ada kesepakatan antara gue sama Bang Fredy. Gue dikasih kebebasan untuk bercinta dengan pria lain secara sembunyi-sembunyi, dia nggak mau dirinya dianggap nggak bisa jagain sesuatu yang menjadi miliknya.”

“Tapi elu tetep punya keinginan lepas darinya, kan?”

“Belakangan ini iya. Semenjak gue ketemu lu, gue merasa gairah hidup gue terlahir kembali. Gue menjadi Siska yang dulu lagi sebelum ketemu sama Bang Fredy.”

“Jadi elu mau ngelakuin apa yang gue minta?”

Untuk sesaat aku termenung memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Bimbim. Kutatap pemuda tersebut penuh arti.

“Gue akan lakuin yang lu minta, tapi elu harus janji nggak akan pernah ninggalin gue sampai kapanpun.”

“Gue janji akan jadi pelindunglu sampai kapanpun.”

“Apa buktinya?”

Bimbim tidak segera menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum penuh arti lalu berjalan mendekatiku. Matanya menatapku dalam-dalam dengan penuh perasaan. Tangan Bimbim meraih daguku, didekatkannya wajahnya pada wajahku. Aku membiarkannya mengecup bibirku, ciumanya dilakukan dengan sepenuh hati. Sensasi yang kurasakan sangat luar biasa walau ini bukan ciuman pertama kami. Aku merespon ciuman tersebut, kulingkarkan tanganku memeluk tubuhnya dengan erat. Bimbim segera mengarahkan tangannya merabai tubuhku. Sesaat kemudian tangannya menyibak rambutku, kemudian Bimbim mengarahkan hidungnya mengendusi leherku yang jenjang dan harum.

“Mmmmmhh….” Desahku sambil meremasi tubuhnya.

Bimbim meneruskan ciumannya dileherku, nafasnya membuatku kegelian. Tangan Bimbim mencoba membuka kancing blus yang kukenakan namun segera kutampik.

“Mandi dulu gih, badan lu lengket banget.”

Bimbim segera menuju kamar mandi. Sambil menunggu pemuda itu selesai mandi aku melucuti seluruh pakaianku lalu mengambil sehelai handuk yang agak tebal. Kuatur kasur yang ada di kamar tersebut lalu segera membaringkan tubuhku menelungkup diatas kasur, tubuh telanjangku hanya kututupi dengan handuk yang tadi kuambil. Setelah Bimbim selesai mandi, ia segera mencari keberadaanku lalu berjalan mendekat.

“Pijetin gue dulu yah, olesin pake minyak itu.” Pintaku sambil menunjuk ke arah botol minyak telon yang ada di atas meja rias.

Bimbim segera mengambil botol tersebut. Pemuda itu melumuri kakiku dengan minyak lalu mulai memijiti dari telapak kaki, dilanjutkan ke bagian betis lalu naik ke bagian belakang paha. Pijatan Bimbim membuatku merasa relaks, rasa pegal di bagian kakiku seakan sirna. Tangan Bimbim terus bolak-balik memijitiku dari telapak kaki hingga ke bagian belakang paha.

Aku mengira sesi pemijatan ini akan berlangsung wajar saja. Namun saat pijatannya sampai di daerah bawah diantara kedua pahaku, aku tahu pria itu sengaja menyentuhkan jemarinya di bibir vaginaku bahkan sampai beberapa kali.

“Mmmhh, Jangan be… jangan begitu Bim.” Ucapku lirih, hampir saja aku berkata ‘jangan berhenti’.

“Ma-af…”

Selanjutnya Bimbim melumuri bagian belakang tubuhku dengan minyak lalu kembali memijat dari pinggang lalu naik ke punggung. Sebenarnya aku merasa agak kecewa karena Bimbim tidak melanjutkan kenakalannya, dengan menahan kekecewaan bercampur gairah aku membiarkan Bimbim meneruskan pijatannya.

Ternyata kenakalan Bimbim terus berlanjut. Saat dia memijiti bagian pinggir punggungku, pemuda itu dengan sengaja menyentuhkan ujung jemarinya pada payudaraku sehingga aku semakin bergairah. Kali ini aku hanya bisa menggigit bibirku menahan gairah sambil kedua tanganku meremasi seprei sekenanya.

“Sekarang telentang yah, Sis.”

Aku merasa jantungku berdegup kencang. Dalam benakku merasa Bimbim akan bertindak lebih jauh lagi. Saat tubuhku tengkurap saja ia berani mencuri-curi kesempatan untuk bisa merangsangku, apalagi dalam posisi tubuh yang terlentang. Membayangkan tubuhku akan dikerjai habis-habisan membuat gairahku semakin bergelora. Tanpa banyak bicara, aku menuruti saja apa yang dikatakannya.

Perlahan kubalikan tubuhku yang masih tertutup handuk. Kali ini Bimbim kembali memijat mulai dari pergelangan kakiku lalu merayap naik hingga kembali ke bagian paha. Akupun menduga pemuda itu akan kembali memainkan jemarinya disekitar vaginaku. Akan tetapi dugaanku salah, pemuda itu seperti sengaja mempermainkan gairahku, tangannya justru meraih tanganku lalu mulai memijatinya, secara perlahan merambat ke bagian pundak. Walaupun aku merasa nyaman menikmati pijatannya, namun aku sedikit kesal karena tahu pemuda itu sedang mempermainkan gairahku.

Tiba-tiba gairahku kembali bergejolak saat pijatannya beralih ke bagian dada. Seperti di sengaja, kedua tangan Bimbim bermain-main di daerah tersebut. Gerakannya sudah tidak seperti orang yang memijit, tangannya mengelusi payudaraku sambil sesekali diremas pelan sesekali jemarinya sengaja menyentil ujung pentilku. Saat melakukan hal tersebut kulihat mulutnya tersenyum mesum, membuatku merasa dilecehkan. Aku sadar bahwa sesi pijat selanjutnya akan menjadi lebih panas.

Aku sangat menikmati perlakuan Bimbim pada tubuhku bahkan mulutku mulai mendesah. Membayangkan tubuhku sesaat lagi akan dijarah habis-habisan olehnya membuat darahku berdesir, bahkan aku memasang wajah sesensual mungkin seakan mengundang Bimbim untuk semakin buas mengerjaiku. Kugigit bibir bawahku lalu kumainkan lidahku menjilati bibirku sedangkan mataku menatapnya dengan sayu.

Aku sudah tahu apa kemauannya saat Bimbim menurunkan kepalanya ke arah dadaku, deru nafasku mulai memburu. Aku mendesah nikmat saat mulutnya mendapatkan payudara kananku lalu mulai memagutnya dengan ganas sementara remasan tangannya di payudara kiriku mulai kasar.

“Ngghh… Ssshh…”

Bimbim mencucup puting payudaraku seakan ingin menedot isinya, tentu saja hal itu tidak diperolehnya karena payudaraku memang belum bisa memproduksi air susu.

“Yah belum ada isinya, padahal sekarang gue lagi pingin nyusu. Cobain yang satunya ah…” Keluh Bimbim pura-pura nggak tahu penyebab belum keluarnya air susu dari payudaraku.

Kini payudara kananku yang menjadi korban selanjutnya. Bahkan seperti ingin memaksa keluar air susu dari payudaraku, kedua tangannya ikut meremasi payudara kananku itu.

“Aaawww… jangan Bim, oooohhhh…” Rintihanku terdengar lemah seakan bimbang antara kesakitan dan kenikmatan. Mataku terpejam sementara tubuhku menggeliat pasrah.

Setelah beberapa saat menjadikan payudaraku sebagai mainannya, kedua tangan Bimbim beralih memijat perutku. Namun hal tersebut hanya sebentar dilakukannya. Saat pijatannya semakin merambat kebawah, bibir vaginaku kembali dikerjai oleh jemarinya. Jantungku berdegup kencang, sementara tubuhku semakin mengeliat.

Beberapa saat kemudian jari tengah Bimbim dimasukan dalam liang vaginaku lalu mulai mengaduk-aduk isinya. Makin lama gerakan jari tersebut makin liar. Aku mulai meracau tak jelas tersiksa birahi. Bukannya kasihan melihat keadaanku, Bimbim justru sengaja memasukkan telunjuknya sehingga vaginaku kini harus menampung kedua jarinya sekaligus. Dengan tempo tinggi pemuda itu terus menstimulasi vaginaku. Mataku terbeliak, tubuhku menggelepar. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku dengan kuat.

“Nggghh… Aaaaaakkhhhhh…..”

Aku melengguh kenikmatan saat orgasmeku meledak. Aku bisa merasakan dengusan nafas Bimbim saat ia masih saja dengan semangat mengaduk-aduk liang vaginaku dengan kedua jarinya. Akibatnya tubuhku semakin menggelepar tak karuan, aku makin tersiksa karena otot perutku terus mengejang. Aku kembali melenguh panjang penuh kenikmatan karena didera gelombang orgasme yang datang bertubi-tubi. Keringat sudah membanjiri sekujur tubuhku. Entah sudah berapa banyak cairan cinta yang keluar dari liang vaginaku.

Saat Bimbim menghentikan aksinya, kubiarkan tubuhku tergeletak pasrah. Denyutan otot liang vaginaku masih terasa, menyisakan rasa ngilu yang tak karuan pada bagian tersebut. Sesekali tubuhku tersentak kecil menikmati sisa orgasmeku.

B E R S A M B U N G​

END – Young and Wild and Free Part 11 | Young and Wild and Free Part 11 – END

(Young and Wild and Free Part 10)Sebelumnya | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 12)