Young and Wild and Free Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23

Young and Wild and Free Part 1

Start Young and Wild and Free Part 1 | Young and Wild and Free Part 1 Start

PERKENALAN​

Siang itu puluhan remaja yang terbagi dalam 2 kelompok saling berhadap-hadapan di sebuah lapangan tak berumput. Panas terik matahari seperti tidak terasa, justru suasana mencekam yang mendominasi tempat itu. Tiap remaja tersebut saling memperhatikan lawan mereka, puluhan mata tersebut saling beradu pandang dengan tatapan liar dan buas. Di kepala mereka masing-masing hanya fokus pada satu hal. Secepatnya menjatuhkan lawan.

“MAJUUU……….!!!!!”

“SERANG……….!!!!!”

Perkelahian antar sekolah itupun pecah. Remaja-remaja itu saling pukul, saling tendang serta berbagai macam jurus lainnya yang mampu mereka lakukan. Kedua kubu tersebut bagaikan 2 kelompok mayat hidup yang sudah mati rasa, pukulan serta tendangan yang tidak hanya membuat tubuh mereka lebam namun tidak sedikit yang berdarah ataupun sobek kulit tubuhnya namun mereka tetap saling serang. Sesaat terjatuh namun bangkit lagi di detik berikutnya, benar-benar terasa suasana yang mencekam di lapangan tersebut. Lewat sepuluh menit kejadian itu berlangsung dan belum ada satupun remaja yang benar-benar tumbang.

Nguiiiing….. nguuiiiinggg….. nguuiiiiinggg…..

“Kabuuurrrrrr!!!!!”

Remaja-remaja itu segera melarikan diri menyelamatkan diri masing-masing saat menyadari aparat keamanan sudah hadir di lokasi tersebut. Sebagian remaja yang terlambat menyadari hal tersebut segera diamankan polisi sedangkan sisanya yang berhasil kabur segera dikejar oleh para aparat keamanan tersebut. Gang-gang sempit yang ada di sekitar lapangan tersebut menjadi rute pelarian para remaja tersebut.

Penduduk sekitar seperti acuh melihat aksi kejar-kejaran tersebut, hal itu seperti sering mereka saksikan bahkan mungkin sudah jadi kebiasaan. Mereka hanya membatin kelakuan para remaja tersebut yang sepertinya tidak kapok-kapok melakukan tawuran, mereka juga tertawa miris dalam hati melihat para polisi yang kepayahan diajak main kucing-kucingan oleh para remaja tersebut. Setelah sekitar sejam main kucing-kucingan sepertinya para aparat keamanan tersebut memilih untuk melepaskan buruan mereka yang belum tertangkap. Mereka kembali ke lapangan tempat aparat lainnya menunggu sambil menghukum remaja yang tertangkap. Remaja-remaja tersebut kini hanya mengenakan kolor sebagai penutup tubuh mereka lalu digiring ke mobil bak lalu dibawa ke kantor polisi untuk menerima hukuman selanjutnya serta di data.

Sementara itu di salah satu sudut gang sempit tempat bersembunyi para remaja yang melarikan diri tampak 2 orang remaja yang masih terduduk sambil mengatur jalan nafas mereka. Keduanya tidak saling mengenal, bahkan saat terjadi bentrokkan tadi mereka saling berhadapan untuk jual beli pukulan.

“Bimbim…” Ucap salah satu dari mereka sambil mengulurkan tangannya.

“Joe…” Sahut remaja lainnya sambil menjabat uluran tangan remaja yang tadi menjadi lawannya.

“Nggak nyangka gue tampang anak baik-baik kaya lu ternyata jago berantem juga.” Lanjut Bimbim.

“Jangan liat lawan dari luarnya aja. Klise emang, tapi itulah kenyataan. Kalo elu kayanya emang sering berantem yah?”

“Itung-itung ganti darah. Kalo cewek kan emang rutin ganti darah bulanan, nah kita cowok nggak ngalamin yang kaya gitu jadi numpuk deh tuh darah. Daripada ntar jadi penyakit mendingan dikeluarin.”

“Udah gue duga. Kalo lu serius dari awal mungkin gue udah jatuh sebelum polisi datang. Tadi lu keliatannya emang sengaja terima pukulan dari gue.”

“Tapi kalo tadi pukulan lu lembek tetep aja gue nggak akan kenapa-napa. Makanya gue seneng dapat lawan kaya elu. Ngomong-ngomong lu kenapa bisa ikutan tawuran?” Tanya Bimbim.

“Sebenernya gue juga nggak tahu penyebab tawuran tadi tuh apa, bahkan sama anak yang jadi penyebab tawuran ini juga gue nggak kenal banget. Gue cuma tahu dia temen satu sekolah, boleh dibilang gue cuma ikut-ikutan aja tawuran.”

“Gila lu!? Nggak tahu akar masalahnya main ikut tawuran aja. Eh, kayanya udah aman nih. Ngobrolnya sambil jalan aja yuk, mulut gue udah sepet belum ngerokok dari tadi.”

Kedua remaja itupun segera beranjak dari tempat tersebut, sepanjang perjalanan mereka meneruskan obrolan perkenalan mereka. Tidak tampak aura perselisihan dari keduanya, orang yang menyaksikan mereka pasti tidak menyangka bahwa belum lama ini keduanya sedang berduel dengan serunya. Mereka berjalan bersama bak sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Sampai akhirnya mereka berpisah mengambil jalan masing-masing ke tempat tujuannya.

Abimanyu Pramoedya Putra, remaja yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Bimbim, melanjutkan perjalanannya menuju terminal. Remaja yang memiliki tubuh tinggi namun agak kurus serta berkulit putih dan berambut gondrong ini memilih melewati jalan-jalan tikus. Menghindari bertemu polisi ataupun anak sekolah lain yang tadi menjadi lawannya. Setelah sampai terminal ia segera naik angkutan umum yang melewati lingkungan tempat tinggalnya. Setelah sekitar setengah jam, sampailah Bimbim di sebuah rumah berukuran 6X6 meter persegi.

“Habis berantem lagi? Kamu niat ngelanjutin sekolah nggak sih?” Tanya Pak Ali, orang tua yang selama ini menampung Bimbim di kota ini.

“Maafin Bimbim pak. Bimbim udah ngecewain bapak yang sudah susah-susah cari uang untuk biaya sekolah.”

“Bapak memang nggak bisa maksa kamu. Kamu sudah 18 tahun, sudah berhak menentukan sendiri jalan hidupmu. Tapi bapak berharap paling tidak selesaikan dulu sekolahmu hingga tamat SMA yang tinggal beberapa bulan lagi.”

“Baik pak, Bimbim akan berusaha menyelesaikan sekolah hingga tamat SMA.”

Bimbim segera masuk ke kamarnya. Segera diambilnya kotak obat yang dimilikinya lalu segera membersihkan dan mengobati luka-luka serta lebam pada tubuhnya. Tak lama kemudian remaja itu keluar dari kamarnya lalu menuju keluar rumah.

“Mau kemana lagi kamu?” Tanya Pak Ali.

“Biasa pak, ngumpul sama anak-anak.” Jawab Bimbim.

Pak Ali hanya geleng-geleng melihat remaja yang sebenarnya dia harapkan bisa menjadi pengganti anaknya yang tidak pernah dia miliki. Ada perasaan kecewa dalam dirinya namun dia pun tidak bisa berbuat banyak. Laki-laki tua itu hanya bisa menerima hal tersebut dan menganggapnya sebagai hukuman atas kelakuannya dimasa muda dulu. Setelah Bimbim menghilang dari pandangannya Pak Ali segera menuju ke pesawat telpon yang ada di ruang tengah lalu segera menghubungi operator untuk mengirim pesan pada kawan lamanya. Selanjutnya laki-laki berumur sekitar setengah abad tersebut segera bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.

**********​

POV Bimbim

“Ngapain lu ngajakin dia temenan Bim?” Tanya Jati.

“Gue kan emang sebenernya nggak punya masalah sama dia. Gue cuma bantuin elu, dia juga bantuin temennya. Kebetulan aja gue duel sama dia, begitu tawurannya kelar ya udah gue sama dia nggak punya masalah lagi. Tenang aja dia nggak akan ngerepotin kita kok, dia murni cuma ikut-ikutan karena temen satu sekolah sama Farid tapi bukan anggota gengnya.”

“Tapi tetep aja harus ati-ati sama tuh anak, buktinya lu bisa dicolek ama dia sampe kaya gini. Jarang-jarang ada orang yang bisa nyolek lu kaya dia.” Timpal Guntur.

“Iya gue tahu, makanya gue deketin dia untuk mastiin nggak akan jadi masalah di lain waktu. Ya udah nggak usah dibahas lagi masalah dia, bahas yang lain aja. Lanjutannya sama gengnya Farid gimana?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Cooling down dulu. Kabarnya tuh anak jadi salah satu yang kejaring tadi siang. Gengnya pasti tiarap sementara.” Terang Sakti.

“Wah, berarti besok kita bisa main basket di taman dong? Anjingnya kan lagi pada tiarap. Udah lama kita nggak main basket disana.” Timpal Guntur.

“Cari perkara lu, Gun! Ntar kalo majikannya tuh anjing marah gimana?” Tanyaku.

“Sejak kapan lu takut ribut sama orang? Lagian kan lu yang ngajarin kalo jadi cowok itu nggak usah takut berdarah-darah karena itu salah satu cara sirkulasi darah yang numpuk karena cowok nggak ngalamin tamu bulanan kaya cewek.” Ucap Jati sambil meneguk minuman beralkohol dalam kaleng.

“Ya udah kalo itu mau kalian. Kita ngumpul disana abis pulang sekolah.”

“Masih aja lu mikirin sekolah, udah tahu masa depan kita bukan kesana arahnya.”

“Gue cuma mau wujudtin keinginan Pak Ali yang pingin gue tamat SMA, abis itu terserah gue mau milih jalan hidup kaya apa.”

“Oooohhhh…..”

Kami ber-empat melanjutkan obrolan ditemani beberapa bungkus rokok serta minuman kaleng yang mengandung alkohol. Waktu terus berjalan, hingga satu saat aku sayup-sayup mendengar suara mobil mengerem mendadak diikuti suara beberapa motor yang juga menghentikan lajunya. Tak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut. Aku yang penasaran segera mendekati sumber suara, yang sepertinya berasal dari area parkir yang tak jauh dari tempat kami nongkrong. Pada malam hari memang area parkir itu sangat sepi, karena tidak ada toko ataupun warung yang buka di sekitar situ. Saat kuperhatikan lokasi tersebut terlihat seorang wanita sedang dikeroyak 8 orang laki-laki bertampang buas dengan tatapan liar.

“Ada apaan Bim?” Tanya Jati.

“Nggak tahu, omongannya nggak kedengeran jelas. Tapi kayanya tuh orang-orang mau berbuat yang nggak baik sama cewek itu.”

“Udah jangan campurin urusan orang lain, kita terusin kegiatan kita aja.” Usul Sakti yang memang malas ikut campur urusan orang lain.

“Terserah kalian kalo mau balik tempat tongkrongan, tapi gue mau tetep disini dan kalo bisa nolongin tuh cewek.”

“Kenapa sih lu pingin banget nolongin tuh cewek. Elu kenal sama dia?” Tanya Jati heran dengan keputusanku.

“Enggak juga, tapi feeling gue aja harus nolongin tuh cewek. Lagi pula walaupun mukanya nggak begitu jelas dari sini, tapi kayanya tuh cewek orangnya cantik. Yang jelas bodinya kelihatan yahud kulitnya putih.”

Aku segera berjalan lebih mendekati lokasi keributan tersebut, ketiga temanku yang penasaran dengan ucapanku akhirnya mengikuti aku. Dari lokasi tempatku berdiri saat ini memang belum bisa mendengar jelas ucapan orang-orang tersebut namun wajah-wajah mereka cukup jelas aku lihat. Seperti dugaanku tadi cewek yang sedang dikeroyok itu memang cantik. Aku yang memang mulai sedikit mabuk saat nongkrong tadi otomatis mulai terangsang melihat kecantikan cewek itu. Usianya mungkin 5 – 6 tahun lebih tua dariku sehingga bentuk tubuhnya memang terlihat sudah matang, begitu juga wajahnya yang terlihat sangat cantik dibandingkan gadis-gadis seumuranku yang kukenal.

“Wiiiihhh….. Cewek model gini emang perlu ditolongin, siapa tahu imbalannya boleh icip-icip.” Ujar Jati sambil terus memperhatikan cewek tersebut.

“Iya betul, kalo nanti dia nggak mau ngasih imbalan cuma-cuma kita paksa aja. Yuk kita bantuin.” Timpal Sakti.

“Jangan sekarang, kayanya tuh cewek bukan cewek lemah. Mungkin dia bisa ngatasin 2-3 orang pengeroyoknya. Setelah keliatan dia kedesek baru kita bantuin. Siapa tahu bisa liat adegan pemanasan, liveshow cewek itu setengah telanjang lagi berantem.” Ucap Jati yang sepertinya sangat bernafsu hingga matanya tidak pernah berpaling dari cewek tersebut.

Kamipun mengurungkan niat kami yang tadinya mau langsung membantu cewek itu, sepertinya pikiran kami membenarkan kata-kata Jati barusan. Pikiranku pun mulai membayangkan melihat cewek dihadapanku itu kepayahan menghadapi pengeroyoknya dengan pakaian yang sudah robek disana-sini akibat ulah dari para pengeroyoknya sehingga tubuh mulusnya yang tidak terlindungi pakaian menjadi pemandangan yang erotis bagi yang melihatnya.

Tak lama kemudian adegan pengeroyokan dihadapan kami pun dimulai. Seperti dugaanku cewek itu bukanlah cewek biasa yang dapat dengan mudah ditaklukkan. Sudah 2 orang pengeroyoknya yang mencoba menyerang, namun belum ada satupun yang mampu mendaratkan pukulan pada cewek itu. Hal tersebut memancing orang ketiga untuk ikut mengeroyoknya. Bukannya terdesak, justru orang ketiga yang baru saja ikut menyerang malah terkena pukulan balasan tepat di hidungnya.

Krekkk!!!

Orang ketiga tersurut mundur beberapa langkah, darah segar mengucur dari hidungnya yang patah. Laki-laki bertubuh kurus tersebut meringis menahan sakit, disekanya hidungnya yang berdarah lalu tak lama kemudian kembali menyerang cewek itu. Dikeroyok 3 orang laki-laki bertampang buas tidak membuat cewek itu terdesak, serangan-serangan balasannya justru yang merepotkan para pengeroyoknya. Hingga tak lama kemudian orang ketiga yang memang sudah kesulitan bernafas terpaksa keluar dari arena pengeroyokkan. Posisinya langsung digantikan oleh 2 orang rekannya.

“Gila nih cewek! Bikin gue makin ngaceng aja, kayanya buas nih kalo diajak ngentot.” Ucap Jati yang masih tetap tidak mengalihkan pandangannya dari cewek tersebut.

BRRUUUGGHH!!!

Lagi-lagi pukulan balasan dari cewek itu memakan korban. Orang pertama, laki-laki berkepala botak dengan codet di pipinya, menerima hantaman telak di rusuknya yang membuatnya jatuh terjengkang. Sepertinya ada beberapa tulang rusuknya yang patah atau paling tidak retak terkena hantaman pukulan tersebut.

“Bego kalian semua! Lawan lonte satu orang aja nggak sanggup! Minggir!!!” Bentak laki-laki separuh baya bertubuh tegap yang sepertinya pimpinan dari para pengeroyok itu.

Laki-laki tersebut memberi kode agar anak buahnya minggir sejenak, memberi ruang untuknya bermain-main dengan cewek itu. Diusap-usapnya berewok tipis yang hanya tumbuh disekitar mulutnya tersebut. Pandangannya liar seakan-akan menelanjangi cewek dihadapannya.

“Ayo kita main-main sebentar manis, sebelum kontol gue ngobok-ngobok memek lu.”

Cewek itu tidak menjawab ocehan laki-laki tersebut, dia terlihat konsentrasi penuh memperhatikan lawan dihadapannya kali ini. Dari tatapannya terhadap laki-laki itu aku tahu kalau laki-laki setengah baya tersebut beda dengan pengeroyok sebelumnya. Duel pun kembali terjadi, kali ini berjalan lebih imbang bahkan cewek tersebut mulai tersudut karena staminanya sudah terkuras sebelumnya. Kali ini ia hanya bisa bertahan tanpa sempat memberi balasan, namun tetap saja pimpinan pengeroyok itu kesulitan menembus pertahanan cewek tersebut. Hingga akhirnya setelah cukup lama bertahan pertahanan cewek itu longgar juga.

BRREEEKKK…..

“Nah ini dia liveshow-nya sudah dimulai…” Ucap Jati yang tidak berkedip memperhatikan cewek tersebut.

Wajah cewek dihadapanku itu mulai pucat. Ia sadar kalah pengalaman dari laki-laki setengah baya yang menjadi lawannya. Namun sikapnya menunjukkan tidak akan menyerah begitu saja, setidaknya ia akan memberikan perlawanan yang berarti bagi lawannya sambil berharap munculnya malaikat penolong baginya. Ia kembali memasang kuda-kuda untuk bertarung mempertahankan harga dirinya, tak peduli para pengeroyoknya mulai bersuit melecehkannya karena bagian perutnya yang rata tersingkap lebar.

“Bagian dadanya boss…”

“Robekin terus bajunya sampai bugil.”

“Buat dia nyesel udah matahin idungnya Robi.”

Anak buah laki-laki setengah baya itu terus menyemangati bosnya untuk mengerjai cewek tersebut. Pertarungan itupun kembali dimulai, seperti sebelumnya cewek tersebut mampu mengimbangi pimpinan pengeroyoknya namun seiring berjalannya waktu ia kembali terdesak.

“AAAWWWWW!!!”

BRREEETTT…..

Kali ini bagian dada pakaian cewek tersebut yang berhasil dirobek. Untung saja branya tidak ikut terenggut sehingga masih menutupi buah dada cewek tersebut, namun tetap saja ada bagian yang tidak mampu ditutupi bra tersebut karena ternyata cewek itu memiliki ukuran buah dada yang cukup besar.

“Wha hahahaha….. Terusin boss.”

“Remes lagi toketnya biar tambah gede.”

“Lanjut terus sampe bugil…”

“Hehehehe… Dengerkan request anak buah gue, jadi jangan salahin gue loh kalo selanjutnya elu akan jerit-jerit terus.” Ucap laki-laki setengah baya berkulit kecoklatan itu berusaha mengintimidasi cewek berkaki jenjang dihadapannya.

Aku mulai gelisah melihat kondisi cewek tersebut. Ingin rasanya segera keluar dari persembunyian lalu menolongnya, namun sepertinya teman-temanku belum mau keluar dulu karena masih ingin melihat pertunjukkan yang terjadi dihadapan mereka. Aku yang sebenarnya juga menikmati melihat proses pelecehan tersebut kembali mengurungkan niatku.

“Sabar Bim. Tunggu sampai tuh cewek bener-bener nggak bisa ngelawan lagi. Gue pingin liat kalo udah pasrah tampangnya kaya gimana.” Ucap Jati yang sepertinya bisa membaca kegundahanku.

“Iya brother. Kapan lagi liat liveshow kaya gini? Ceweknya cakep banget lagi.” Tambah Sakti.

Sepertinya cewek itu bener-bener nggak mau nyerah begitu aja. Walaupun terlihat semakin khawatir, namun wajahnya tetap terlihat garang. Sesaat kemudian duel pun terjadi lagi, dan sama seperti sebelumnya cewek itu terdesak hingga sedikit demi sedikit pakaian yang dikenakannya bisa dirobek oleh lawannya hingga akhirnya ia benar-benar terdesak dan jatuh terjengkang. Pakaian bagian atasnya sudah tidak ada yang tersisa, tali branya sebelah kiri sudah putus. Wajahnya sudah benar-benar pucat bahkan matanya mulai berkaca-kaca membayangkan apa yang sebentar lagi akan menimpa dirinya, tidak terlihat lagi ketegaran di raut wajahnya. Saat ini cewek tersebut justru terlihat memelas, harapannya akan munculnya seorang malaikat penolong telah sirna. Pertahanannya sudah berada diambang kehancuran.

“Anjing! Mukanya napsuin banget kalo hopeless kaya gitu. Yuk kita keluar.” Ajak Jati yang langsung keluar dari persembunyiannya tanpa menunggu jawaban dari yang lain.

Kamipun segera mengikuti Jati keluar dari persembunyian. Para berandal yang mengeroyok cewek tadi terkejut melihat kedatangan kami berempat, mereka tak menduga aksi jahat mereka di tempat yang sangat sepi ini akan terganggu.

“Woi ngapain kalian bikin ribut-ribut disini…!” Bentakku mengagetkan mereka.

“Wah ada curut-curut yang mau ganggu kesenangan kita. Kalian urus curut-curut itu, jangan bikin malu lagi. Gue mau main-main dulu sama lonte satu ini.”

Kelima orang anak buah laki-laki separuh baya itu segera maju menyerang kami. Perkelahianpun tidak bisa dihindarkan. Namun ternyata pertarungan berjalan dengan tidak seimbang, dengan mudah kami mengalahkan 5 orang bertampang buas tersebut. Sepertinya laki-laki setengah baya itu tidak bisa memilih anak buah dengan baik, anak-anak buahnya hanya keliatan sangar saja namun tidak memiliki kemampuan berkelahi yang baik. Rata-rata kami hanya perlu mengeluarkan 2 – 3 jurus untuk dapat merobohkan mereka.

Aku segera menyerang salah seorang dari kelima orang bertampang buas tersebut, sasaranku adalah perutnya. Laki-laki berkulit hitam yang menjadi lawanku segera menyambut seranganku dengan pukulan tangan kanannya. Namun sesaat sebelum kedua lengan kami saling beradu aku merubah arah pukulan. Dengan cepat tangan kiriku itu melesat ke arah dada lawanku. Menyadari hal itu ia merubah gerakannya, kali ini kedua tangannya digerakkan sekaligus untuk menjepit tanganku untuk kemudian dipatahkan. Disaat laki-laki berkulit hitam tersebut merasa akan berhasil mencelakaiku, lagi-lagi aku merubah arah seranganku. Kali ini sasaranku adalah lehernya.

“Hiyyah!!!” Seru lawanku sambil menghindari seranganku.

Begitu seranganku bisa dielakkannya, dia segera membalas seranganku dengan kedua tangannya. Satu mengincar dada, sedangkan satunya menyerang ulu hati. Namun karena cara menyerangnya yang tampak terburu-buru ia tidak menyadari ketika dengan kecepatan yang luar biasa aku memutar tangan kananku bergerak diantara kedua lengannya.

BUUKKK!!!

Pukulanku telak mengenai dadanya hingga ia tersurut beberapa langkah kebelakang. Laki-laki itu segera mengusap-usap dadanya yang kesakitan, wajahnya terlihat kaget dan takut. Pada saat itu pula aku segera melompat kearahnya, saat lawanku bersiap-siap menghadang seranganku aku segera memutar tubuhku sambil melancarkan tendangan.

BUUUKKK!!!

Kali ini tubuhnya tidak dapat bertahan menerima tendanganku. Laki-laki itupun terpelanting jatuh, pada saat dia berusaha bangkit aku segera menginjak dadanya. Usahanya untuk menyingkirkan kakiku sia-sia, ia sudah tak sanggup lagi meneruskan duel.

#####​

POV Jati

Laki-laki berambut model mohawk ala B.A Baracus sepertinya mengincarku. Ia segera menyerangku dengan pukulannya namun dengan mudah kuhindari. Begitu melihat pukulannya bisa dengan mudah kuhindari ia segera menyerangku kembali. Ia melompat sambil menendang ke arah dadaku. Sambil tertawa mengejeknya, aku memiringkan tubuhku ke samping sementara tangan kananku membuat gerakan balasan. Tubuh laki-laki itu mencelat ketika pukulanku mengenai wajahnya dengan telak. Saat dirinya masih sempoyongan mengatur keseimbangan tubuhnya aku segera menyerangnya lagi dengan pukulan serta tendangan beruntun.

Karena belum benar-benar siap maka semua seranganku dengan telak menghantam tubuhnya hingga jatuh terbanting dengan keras. Melihat aku kembali bersiap-siap untuk melancarkan serangan susulan laki-laki berambut mohawk itu segera mengangkat kedua tangannya kedepan.

“Cu-kup… Cu-kup… Gu-e nye-rah.” Ucapnya terputus-putus dengan nafas ngos-ngosan.

#####​

POV Sakti

Sambil menunjuk ke arahku, laki-laki bergigi tonggos dan bermata belo berlari menerjangku. Aku sengaja mengadu pukulan ingin mengetahui seberapa keras pukulannya.

KRREEKK…..

“Aarrgghhhh…”

Jari-jari tangannya yang beradu dengan tanganku remuk, ia melolong kesakitan. Tidak sampai disitu saja penderitaannya, kakiku yang membuat gerakan menjejak mengarah ke lututnya sukses membuat tulang-tulang pada bagian tersebut gemeretak. Suara lolongannya semakin keras terdengar. Laki-laki itu jatuh terduduk kesakitan. Kakinya terlihat bengkok.

“Ampun… Ampun… Jangan diterusin.” Ucapnya mengiba saat melihat aku mengepalkan tangan kembali.

#####​

POV Guntur

Aku sengaja menghadang 2 orang terakhir yang belum dapat lawan. Merasa menang jumlah mereka segera menyerangku secara bersamaan namun aku masih dapat menghindari kedua serangan tersebut. Setelah kedua serangan tersebut lewat, aku segera melancarkan serangan balasan. Tendanganku mengarah ke perut laki-laki yang berambut gimbal, ia berusaha menghindari tendanganku dengan cara memundurkan perutnya sehingga tubuhnya membungkuk. Melihat posisi lawan seperti itu aku segera melanjutkan seranganku mengunakan dengkul ke arah wajahnya. Laki-laki itu tersurut mundur dengan hidung melesak serta bercucuran darah segar.

Melihat kawannya terluka, Laki-laki berdahi lebar segera menyerangku kembali. Menyadari hal itu aku memutar tubuhku lalu dengan gerak cepat menangkap tangan laki-laki tersebut kemudian memuntirnya. Dengan tangan kiri kucengkram bahunya dengan keras. Kedua tanganku ku arahkan ke kedua arah yang berlawanan dengan keras sehingga sendi bahu yang kucengkram tadi bergeser. Tidak puas sampai disitu setelah melepaskan pelintiran pada tangannya, aku segera memukulkan tangan kananku ke arah leher laki-laki berdahi lebar tersebut. Terdengar suara teriakan yang tercekik dari orang itu. Dia pun jatuh sambil memegangi lehernya. Aku segera mendekatinya , laki-laki itu terlihat ketakutan ketika aku berdiri tepat dihadapannya. Ia tidak bisa berbicara sehingga hanya membuat gerakan menyerah dan minta ampun padaku.

#####​

Mengetahui anak buahnya dapat dilumpuhkan dengan mudah, pimpinan berandal tersebut segera mengurungkan niatnya memperkosa cewek yang tadi berhasil dikalahkannya. Kini cewek tersebut dijadikan tameng baginya agar kami tidak berbuat macam-macam padanya.

“Jangan mendekat atau gue bunuh cewek ini!”

“Lu kira gue dateng mau nyelamatin cewek itu? Lu salah! Gue cuma nggak suka daerah tongkrongan gue seenaknya aja dipake buat ribut-ribut. Sehabis lu bunuh cewek itu giliran gue yang akan bunuh lu karena berani-beraninya bikin keributan di wilayah gue.”

Rupanya gertakkanku termakan olehnya. Laki-laki itu terlihat kebingungan harus berbuat apa sehingga jepitannya pada cewek itu mengendur. Kesempatan itu digunakan cewek tersebut untuk meloloskan diri dari cengkraman pimpinan berandal tersebut. Laki-laki tersebut terkesiap melihat buruannya bisa meloloskan diri. Dengan sisa-sia tenaganya, cewek yang sudah setengah telanjang tersebut menyerang laki-laki yang tadi mengerjainya. Tendangan cewek itu dengan telak mendarat di selangkangan laki-laki setengah baya tersebut. Disaat laki-laki ber-berewok tipis itu kesakitan sambil memegangi daerah selangkangannya, dengan ganas cewek bertubuh tinggi semampai itu menghujamkan pukulannya kearah rahang laki-laki tersebut yang langsung limbung. Tidak sampai disitu saja, cewek itu kembali melancarkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajahnya. Laki-laki setengah baya itupun roboh dengan wajah babak belur.

Setelah tidak punya tenaga lagi baru cewek cantik itu menghentikan rangkaian pukulannya. Nafasnya tersengal-sengal sehingga dadanya terlihat naik-turun. Sesaat kami terpana melihat pemandangan erotis dihadapan kami. Seorang cewek cantik dengan tubuh setengah telanjang yang basah oleh peluh berdiri dihadapan kami dengan buah dada yang terayun naik-turun. Tentu saja sebagai laki-laki normal penis kami berempat langsung bereksi dengan sempurna. Secara naluri pun kami segera mendekati cewek cantik tersebut.

Cewek berambut hitam panjang tergerai tersebut baru menyadari kondisinya saat kami hanya beberapa langkah mengerubunginya.

“Eh… Mau apa kalian?” Tanya cewek tersebut ketakutan.

“Minta imbalan…” Jawab Jati dengan spontan.

Wajah cantik cewek tersebut kembali pucat mendengar jawaban temanku. Ia tahu nggak akan bisa melawan lagi karena tenaganya bener-bener sudah habis.

“Please jangan apa-apain gue, gue yakin kalian nggak seperti mereka.” Katanya mengiba.

“Kita emang nggak seperti mereka, tapi kita juga cowok normal yang nggak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Liat nih kontol gue udah sesek banget dicelana.” Lanjut Jati dengan tatapan nanar.

Cewek itu keliatan panik, nggak tahu harus berbuat apa. Dia bingung mau bergerak kemana karena kami sudah mengepungnya. Tanpa disadari air matanya mulai keluar di pinggir matanya yang indah. Kami makin merapat kearahnya, tubuhnya nampak semakin gemetaran. Buah dadanya semakin terayun-ayun naik-turun akibat kelelahan sehingga belum bisa mengatur jalan nafasnya serta rasa berdebar-debar ketakutan melihat wajah kami yang terlihat bernafsu memandanginya.

“Bwa hahahaha…..” Tawa kami berempat pun pecah melihat pemandangan itu.

Aku segera membuka kemejaku lalu mendekatinya. Cewek itu sempat menyurutkan langkahnya menghindariku karena ketakutan, namun setelah aku memakaikan kemejaku menutupi tubuhnya yang telanjang dia pun merasa sedikit tenang. Dengan perasaan yang masih sedikit was-was dikancingkannya kemeja pemberianku yang sepertinya ngepres di badannya sehingga bentuk tubuhnya tercetak dengan jelas. Ketika dirinya kembali memperhatikan kami satu persatu, cewek itupun semakin tenang pikirannyaketika didapatinya tatapan kami tidak lagi buas walaupun masih nampak mesum. Kemudian ia mengucapkan terima kasih sambil memperkenalkan dirinya.

“Terima kasih atas pertolongannya. Gue kira udah nggak ada harapan lagi… Siska…..”

“Jati…” Sambut temanku yang keliatannya memang paling bernafsu sama cewek itu.

“Sakti… Guntur…” Sahut 2 temanku lainnya.

“Bimbim… Tenang aja mbak, kita emang bukan anak baik-baik tapi kita juga nggak suka nyakitin perempuan. Apalagi perempuan cantik kaya mbak. Tadi kita cuma iseng aja… Biasa cowok, otaknya suka mesum.”

“Hmmm….. Keliatan dari muka-muka lu semua. Pantesan gue dikasih baju ngepres kaya gini, sengaja ya. Kan bisa aja yang ngasih pinjem kemeja itu dia.” Ucap Siska sambil menunjuk Guntur yang tubuhnya memang besar.

“Hehehehe….. Anggap aja sedekah mbak.”

“Iyalah daripada gue tadi diperkosa mahluk-mahluk bejat kaya mereka, mendingan ngasih sedekah buat cowok-cowok mesum kaya kalian. Gue nggak akan lupain pertolongan kalian, sekali lagi terima kasih.”

“Masa terimakasih doang…”

Siska pun menghampiri kami sambil mencium pipi kami satu per satu, tentu saja kami langsung kegirangan. Kemudian gadis itu mohon diri pada kami, aku sempat menawarkan diri menemaninya pulang namun ditolaknya.

“Sorry bukannya mau ngecewain elu, tapi nanti yang lain iri. Nggak adilkan yang nolong berempat tapi yang nganterin pulang cuma elu sendirian.”

“Oh soal itu santai aja mbak. Mereka bisa ngawal pake motor mereka. Kasian mbaknya pasti masih trauma kalo pulang sendiri.”

“Sialan lu Bim, main serobot aja.”

“Yee… Emangnya lu pada udah bisa nyetir mobil?”

“Kan bisa yang nyetir tetep mbaknya tapi gue yang nemenin dia di dalem mobil.” Sahut Jati tak mau kalah.

“Nggak malu apa lu disetirin cewek?” Tanyaku yang juga nggak mau mengalah.

“Sudah… Sudah… Dasar anak-anak mesum. Hal gituan aja diributin. Biar adil kalian berempat ngawalnya pake motor semua. Satu lagi jangan panggil gue pake sebutan mbak lagi, kesannya gue ini dah tua. Panggil aja Siska.”

“Nah gitu baru adil. Tapi tunggu sebentar ya mbak… eh, Siska. Kita mau beresin tempat tongkrongan dulu. Ayo Gun bantuin gue.”

Sakti dan Guntur segera meninggalkan kami menuju tempat tongkrongan sementara aku dan Jati menemani Siska ngobrol sambil menunggu kedua temanku kembali dari tempat tongkrongan. Dari obrolan kami aku mengetahui bahwa saat ini usia Siska sudah 23 tahun, tepat seperti perkiraanku, dan bekerja sebagai sekertaris di salah satu perusahaan multi company besar di kota ini.

Tak lama kemudian Sakti dan Guntur sudah kembali, selanjutnya kami pun meninggalkan lokasi tersebut. Siska mengendarai mobilnya sendirian diikuti Jati yang memboncengiku serta Guntur yang memboncengi Sakti. Di tengah perjalanan kami sempat melewati berandal-berandal yang tadi mengeroyok Siska. Hanya pimpinan berandal tersebut yang berani menatap kami dengan tatapan menyimpan dendam, sedangkan anak buahnya tidak ada satupun yang berani mengangkat wajahnya menatap kami. Mereka hanya mengalihkan pandangan sambil memperlambat laju motor yang mereka naiki ketika rombongan kami melewati iring-iringan mereka.

Ternyata tempat tinggal Siska lumayan jauh dari tempat tongkrongan kami. Butuh hampir 1 jam untuk sampai ke rumah kontrakannya yang cukup besar di suatu kawasan elit sebelah selatan pusat kota. Dia pun sempat menawarkan kami mampir di rumahnya untuk minum sebentar namun dengan halus aku menolaknya dengan alasan sudah larut malam dan perjalanan kami kembali cukup jauh. Siska pun kembali mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya serta mengawalnya hingga sampai di rumah, lalu dia pun masuk ke dalam rumahnya.

“Bego lu Bim, ditawarin mampir malah ditolak.”

“Udah malem, besok gue harus masuk sekolah. Lagian malem ini dia pasti cape banget, ntar yang ada malah kita ganggu waktu istirahatnya. Yang pentingkan kita udah kenalan dan tahu rumahnya, kapan-kapan kita bisa main kemari kalau ada kesempatan.”

“Waktu ngobrol-ngobrol tadi kalian nyimpen nomor telponnya, kan?” Tanya Sakti.

“Pastinya…” Jawabku dan Jati bersamaan.

“Ya udah kalo gitu kita balik sekarang. Bener kata Bimbim kayanya saat ini tuh cewek butuh istirahat yang cukup.” Lanjut Sakti.

Kami pun segera meninggalkan rumah kontrakan Siska. Sepanjang perjalanan sesekali kami mengobrol diselingi candaan-candaan ringan seputar Siska hingga akhirnya kami berpisah. Jati mengantarku hingga persis di depan rumah kontrakkan Pak Ali. Setelah mengucapkan salam perpisahan aku segera masuk rumah tersebut.

Saat berada dikamar tidurku, sambil tiduran aku kembali mengingat-ingat kejadian tadi malam. Bayangan tubuh setengah telanjang Siska yang berpeluh kembali terlintas dalam pikiranku. Alhasil malam itu akupun bermimpi indah sedang menggumuli cewek tersebut dengan panas.

Bersambung

END – Young and Wild and Free Part 1 | Young and Wild and Free Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(Young and Wild and Free Part 1)