Yang Pertama Dan Terakhir Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 8

Dimas, Tyo, Aji dan teman-teman lainnya berkeliling Kota Surabaya. Tyo, Gio, Zain, Astrin, Daniel dan Defri naik di mobil Dimas. Sedangkan sisanya naik di mobil Aji. Tujuan pertama adalah Masjid Al Akbar. Sepanjang perjalanan, deretan rumah mewah mewarnai untai pandang mereka lalu berganti menjadi pemandangan rumah berukuran minimalis.

Tidak lama kemudian, Masjid Al Akbar menanti mereka. Kubah biru yang bersulam bak batu safir mengiringi untai pandang setiap orang yang melihatnya. Saat turun, mereka berfoto di depan masjid. Mengitari masjid demi melihat pemandangan susunan pohon di sekitarnya sekaligus melihat ramainya pasar kaget yang selalu terselenggara setiap hari di depan masjid.

Astrin, Fajri, Pardi, Warno, Zain dan Hasan memasuki masjid. Betapa tercengangnya tatkala melihat denah yang terlihat sangat luas. Seperti berada dalam istana yang berhiaskan safir biru. Mengagumkan sekaligus memesona. Ruang masjid yang sangat luas membuat mereka tidak henti-hentinya menguntai pujian kepada Tuhan. Keindahan itu terus menyandera hati mereka hingga ada yang melepaskannya.

” Teman-teman, ayo lanjutkan perjalanan!” ucap Tyo kepada para ikhwan ini.

Perjalanan berlanjut menuju Taman Apsari. Sepanjang perjalanan, Taman Pelangi menyita pandangan mereka. deretan tugu yang berhiaskan warna pelangi turut memainkan simfoni rasa yang tidak ia dapatkan di daerah mereka. Meski terletak di tengah jalan raya, taman ini cukup menarik rasa.

Tidak lama kemudian, mereka melewati tugu Ikan Hiu dan Buaya di depan Kebun Binatang Surabaya. Mobil menepi di depan KBS hingga Dimas menawari sesuatu.

” Ada yang mau foto di depan patung itu?”

Semua penumpang yang ikut Dimas turun dan menuju tugu yang menjadi ikon Kota Surabaya sekaligus Propinsi Jawa Timur. Dimas, Tyo dan yang lainnya berfoto ria di depan ikon yang sangat indah dan historis. Pendaran lampu penerangan bagaikan siluet yang membuai rasa menuju satu keindahan yang sangat mengena dalam sanubari mereka.

Ditambah dengan kokohnya patung yang memberi warna kewibawaan yang sangat cantik namun khas. 10 menit setelah mengambil gambar di depan tugu dan pintu gerbang KBS, Dimas dan lainnya lanjutkan perjalanan. Saat melintasi jalan, Dimas mengarahkan telunjuknya ke sebuah taman yang terdapat patung orang yang membawa jangkar pada yang lainnya.

” Teman-teman, di sebelah kanan ada Taman Dirgantara.” jelas Dimas hingga mereka melihat taman yang dimaksud. Saat perjalanan berlangsung, Dimas menawarkan sesuatu.

” Teman-teman, mau keliling ke Perumahan Darmo?”

Anggukan teman-teman Tyo memulai perjalanan yang Dimas inginkan. Deretan perumahan mewah menghiasi pandangan mereka. Kemewahan rumah tersebut mengalahkan yang ada di lingkungan tempat tinggal Aji. Bahkan rumah-rumah itu jauh lebih megah, mewah, besar dan luas dibandingkan rumah di lingkungan tempat tempat tinggal Aji.

Mobil Dimas tiba-tiba berhenti di depan rumah yang berseberangan dengan sebuah rumah kosong yang hanya tinggal kerangka bangunan. Bila dilihat dari luar, rumah itu terlihat seram dan gelap.

” Di seberang rumah ini ada Rumah Hantu Darmo.” jelas Dimas menunjuk rumah yang dimaksud hingga semua penumpang cukup terkejut histeris.

” Dim, cepetan pergi dari sini. Gue nggak mau lama-lama. Gue takut banget nih!” ucap Tyo sembari menggoyang-goyangkan pundak Dimas.

” Iya, Dim. Kamu jangan bawa kami ke rumah hantu itu. Bahaya tahu!” ucap Defri mendukung Tyo.

” Tau nih, udah tahu kita takut sama hal-hal begituan!” ucap Astrin sembari menoleh kepalanya ke segala arah.

Saat mereka kisruh di dalam mobil, Dimas menoleh ke arah mereka dengan sangat pelan, dengan tatapan yang terlihat kosong, dengan sikap yang terasa dingin dan dengan aura menakutkan yang ia ciptakan.

” Yakin………., kalian mau pergi dari sini…………!!!!!!!”

Tiba-tiba, Tyo memukul pundak Dimas dengan sangat keras hingga kesakitan. Kisruh terus bergaung di dalam mobil. Dimas pun langsung menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Di tengah perjalanan, Dimas mengeluh atas yang Tyo lakukan padanya.

” Tyo, pukulanmu sakit banget deh!”

Dengan ekspresi menyesal, Tyo menanggapinya. ” Sorry, aku mukul kamu dengan keras. Lagian kamu itu kan tahu kalau aku dan yang lainnya takut sama hal-hal mistis kayak gitu!”

” Bener apa yang dibilang Tyo. Jangan kira kami gak tahu tentang rumah itu, lho! Ceritainnya saja bikin gue gak bisa tidur! Entar kalo ada yang ngikutin kita, gimana?” tanggap Astrin dengan ekspresi marah yang menghiasi hatinya.

Dimas yang terlihat sebal dengan omelan teman-temannya Tyo pun akhirnya minta maaf.

” Iya! Aku minta maaf sama kalian karena bawa ke rumah itu. Lagipula ini hanya jalan-jalan biasa. Dan aku juga ingin tunjukan hal ini sebagai info saja.”

Gio berusaha menenangkan situasi dengan mewakili kekesalan teman-temannya. ” Iya. gue tahu. Tapi lo harus tahu kalo kita bukan yang senang dengan hal-hal mistis. Gue dan temen-temen lainnya kan khawatir kalo setelah dari sana ada yang ngikutin kita. Nanti kan jadi bahaya!”

Dimas terdiam menyesal dan tidak enak hati pada yang lainnya, terutama kekasihnya. Setelah berkeliling di Perumahan Darmo Indah Residence, Dimas membawa mereka menuju jalan Basuki Rahmat. Jalan itu berisi deretan bangunan-bangunan tinggi. Bila dilihat dengan seksama, suasananya seperti di Jalan Jenderal Sudirman di Jakarta.

Eksklusif, namun memesona. Dalam suasana jalan yang terus memendarkan lampu, di pertigaan jalan terdapat bangunan tinggi yang menjadi ikon Kota Surabaya. Inilah Mall Tunjungan. Pendaran lampu gedung berpadu dengan keramaian pengunjung semakin mempercantik bangunan yang berkilauan bak permata seputih mutiara ini.

Membuai dalam rasa. Menyelusur dalam hening. Dimas tetap lanjutkan perjalanan hingga Tyo mendapat SMS dari Aji kalau mereka tidak berhenti di Taman Apsari, melainkan di Tugu Pahlawan. Dimas yang sudah diberitahu Tyo mulai arahkan kendaraan menuju Tugu Pahlawan. Akhirnya, mereka sampai di sebuah ikon nasional sekaligus ikon Propinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya ini. Mereka dihampiri Aji dan yang lainnya.

” Lama sekali. Kalian keliling kemana saja?” tanya Aji pada Dimas.

” Biasa. Aku bawa mereka keliling perumahan Darmo. Terus aku bawa ke depan Rumah Hantu Darmo. Ternyata, aku dimarahi sama teman-temannya. Daripada ribut, aku keluar saja dari perumahan itu!”

Astrin yang mendengar keluhannya Dimas ikut menanggapi. ” Lagian, udah tahu kita pada takut sama hal-hal mistis kayak gitu. Masih aja diajak kesana. Malah dia tadi kan dipukul Tyo.”

Aji langsung terkejut sembari klarifikasi pada Dimas hingga ia membenarkannya. Aji tertawa dan menasihati teman masa SMA-nya agar hati-hati dalam bersikap. Dimas lalu pergi meningalkan Astrin dan Aji menuju Tyo yang sedang mengambil gambar tugu pahlawan dan pintu masuk museum.

Setelah selesai mengabadikan pemandangan yang sangat memesona, tiba tiba Dimas memukul pundak Tyo dengan sangat keras.

” AAAUUUUWWWWW……………………….!!!!!!!!!”

Dimas yang tepat berada di depannya memberi tanggapan pada Tyo yang masih memegang pundaknya.

” Impas ya!”. Dimas pun tersenyum, namun Tyo ikut tersenyum dan Tyo menanggapi perbuatan yang dilakukan Dimas padanya.

” Badan koyo Hulk tapi mukulnya bikin sakit banget deh!”

Perlahan, Dimas memegang wajah Tyo dan mengarahkan pada tatapan elangnya. Tyo seperti terbuai dengan paras Dimas yang terlihat dingin namun memesona. Dalam untaian pandang itu, Dimas mengingatkan Tyo.

” Makanya, jangan sakitin orang kalau tidak ingin disakitin!”.

Setelah ucapan itu terkuak, Dimas langsung mengecup pipinya Tyo dan berlari meninggalkan Tyo.

Ia khawatir, Tyo akan mengejarnya dan membalasnya segera. Namun, Tyo hanya terdiam kaku. Seperti terbeku dalam naungan udara dingin. Dimas yang awalnya menghindar, lalu menghampiri Tyo dan menanyakan sesuatu.

” Kamu sakit ya?”

” Nggak!” jawab Tyo dengan tenang. ” Aku cuma senang saja. Bisa mendapat hadiah tak terduga dari seseorang yang sangat indah di depanku.”

Dimas yang mendapat jawaban tersebut hanya bisa tersenyum hingga Tyo membalas senyumannya. Perlahan, Dimas kedipkan mata kirinya sembari tersenyum lebar.

Dimas dan yang lainnya melanjutkan perjalanan.

Menyusuri perjalanan, mereka melihat Kantor Walikota Surabaya yang terus memendarkan pesonanya di malam hari, Stasiun Gubeng yang tidak pernah tidur selamanya kecuali bila ada perbaikan stasiun, Monumen Kapal Selam yang terlihat historis dengan dihiasi keramaian pengunjung dan kecantikan Kali Mas di depannya,

Rumah Dinas Walikota Surabaya yang terlihat berwibawa dengan tampilan cahaya yang terpancar dari dalam ruangan, Taman Apsari yang terlihat rindang dan memesona, Delta Plaza Surabaya yang semakin cantik ketika dipadati pengunjung saat malam hari,

Jalan Basuki Rahmat yang menanti dijelajahi lagi sembari menyusuri jalan yang selalu dipadati pekerja ketika pagi hari ini hingga entah mengapa, Mobil Dimas dan mobil Aji yang berada di depannya berhenti di sebuah taman yang sangat terkenal di Kota Surabaya, Taman Bungkul. Tyo, Dimas, Aji dan yang lainnya turun dari mobil dan melihat di sekitarnya.

” Welcome to the Bungkul Park, my lovely friends!” sambut Aji dengan bangga.

Tyo dan lainnya menyusuri Taman Bungkul yang selalu terlihat ramai saat malam hari. Saat itu, komunitas rapper menunjukan aksinya di tengah-tengah taman. Tyo dan yang lainnya berkeliling menyusuri setiap sudut di taman yang berdekatan dengan pusara seorang ulama terkenal di Surabaya.

Keramaian taman semakin cantik tatkala dengungan suara rap yang saling bersahutan hingga langit menggelegar dengan semangat. Disaat yang lainnya menonton konser pertunjukan gratis tersebut, Dimas mengajak Tyo di sebuah pojok taman.

” Tyo. Sebelumnya aku minta maaf atas pukulan itu!” ucap Dimas dengan nada menyesal.

” Ndak pa pa! Justru aku yang seharusnya minta maaf karena aku mukul pundakmu itu. Lagian, kamu kan tahu kalau aku ndak senang dengan hal-hal seram seperti itu. Tapi, ya sudahlah! Kita ndak perlu bahas masalah itu.”

Dimas lalu tersenyum senang dan langsung mendekap Tyo dengan hangat. Tyo yang terlanjur mendapatkan hadiah tersebut ingin menyingkirkan dekapannya.

” Dim, bisa ndak kalau kita tidak berdekapan di tempat umum. Kan ndak enak dilihat orang!”

” Ndak pa pa. Ndak ada yang lihat ini, kok!”

Semakin sering Tyo berusaha melepas dekapannya, semakin kuat dekapan itu dirasakan. 30 detik berlalu, Tyo menyerah atas yang Dimas lakukan. Sudah diduga, Tyo jatuh dalam dekapannya yang terasa sangat indah. Dimas terus meresapi kehangatan tubuh pria yang ia dekap.

3 menit berlalu dengan indah. Dimas akhiri dekapan yang telah memberi kehangatan bagi hati dan rasanya dan Tyo. Dimas lalu memandang Tyo dengan tenang. Dan ucapan yang tidak terduga keluar dari bibir indah Tyo.

” Kamu ndak pakai dalaman ya?”

Dimas terkejut dengan ucapannya. Namun semua berganti menjadi senyum. Dan Dimas menanggapi ucapannya.

” Iya. Aku seperti itu.”

Ucapan Dimas membuat Tyo gelengkan kepala dan tersenyum semasam jeruk nipis.

” Apa kamu ndak malu dengan kayak gitu?”

” Ndak. Lagipula kalau aku dekap kamu, penisku bisa horny lama. Kamu kan sudah rasakan itu, kan?”

Jawaban Dimas atas pertanyaan Tyo seperti membawa sanubari Tyo menuju kenangan saat Kamal dan ia juga mengatakan hal yang sama. Entah mengapa, ini seperti berulang. Tyo hanya diam terkaku dengan tanggapan yang bisa membawanya mengingat pengalaman yang sedikit menorehkan luka pada perasaannya. Dimas yang mengetahui ekspresi Tyo lalu mendekapnya.

” Aku tahu, kamu masih teringat dengan Kamal, kan? Kalau memang kamu masih memiliki rasa padanya, aku akan mundur. Aku tidak akan memaksamu, sayang.”

Tyo yang terbuai dengan dekapan Dimas secara tidak terduga memberi ucapannya.

” Aku tidak sedang memikirkan Kamal. Aku hanya tidak menyangka kalau ucapanmu itu mengingatkanku dengan Kamal. Memang, aku akui masih ada rasa dengannya. Namun ketika kamu hadir di kehidupanku, ada warna baru yang membuaiku. Aku berusaha agar bisa mengikuti apa yang menjadi rasa bagiku. Bagiku, kamulah keindahanku.”

Dimas semakin erat mendekapnya. Semakin menunjukan rasa yang mereka miliki. Dalam sanubari Dimas, Rino masih menyisakan rasa. Namun ia harus sadar kalau Tyo telah mengisi hatinya. Meski ada perbedaan yang dimiliki 2 insan ini, mereka mulai menyesuaikan meski terkadang tidak mudah melewatinya.

Namun, Tyo beruntung memiliki Dimas. Dia setegar batu karang apapun yang Tyo lakukan dan biasakan. Tubuh kekarnya berbanding lurus dengan ketegaran rasa yang ia miliki. Bila umumnya orang yang bertubuh kekar identik dengan sangar dan gahar, Dimas merepresentasikan hal yang sangat berbeda.

Inilah yang membuat Tyo merasa nyaman dan tenang sejak pertama kali bertemu. Hal yang ada pada Dimas juga dimiliki Kamal, namun Dimas memberikan hal yang berbeda dan lebih baik dibandingkan Kamal, yaitu kebersamaan atas persahabatan yang dialaminya di sebuah kota yang terkenal dengan Budaya Jawa-nya.

Dimas akhiri dekapannya hingga sebuah untaian kata mendarat di hati Tyo.

” Aku, Kamu, Kamal dan Rino adalah gay. Seorang yang bisa saja mencintai lebih banyak yang diharapkan. Tetapi ketulusan harus tetap ada dalam diri orang yang mencari ketulusan. Dan aku adalah yang menginginkannya.”

Dimas lalu mengusap pelan wajahnya, rambutnya dan dadanya. Tyo ikut mengusap wajahnya dan lehernya. Dalam suasana indah, Tyo membalas ucapannya.

” Bagaimanapun, aku tidak ingin terikat masa lalu. Biarlah aku menerimamu sepenuh hati. Apalagi, lehermu sangat terlihat kokoh seperti tiang gedung Rektorat. Aku yakin, kamu bisa kuat menghadapi kehidupanku yang tidak akan pernah sama dengan yang Rino alami. Aku harap, kamu mau menerimaku apa adanya.”

Perlahan, Tyo mengusap dadanya. Merasakan detak jantungnya. Perlahan, Dimas mengecup parasnya. Lalu mendekapnya. Meresapi setiap aura yang menghiasi dirinya. Dalam suasana Taman Bungkul yang dingin, kehangatan merebak dengan cantik.

***

” Teman-teman, kita sekarang sudah di Taman Bungkul, nih. Mumpung kita disini. Gimana kalau kita curhat saja!”

Tawaran Gio dalam acara kumpul-kumpul ini semakin meriah saat taman mulai mengheningkan diri ketika warga mulai meninggalkan taman satu persatu. Ide demi ide saling bersahutan.

” Curhat tentang apa , Gi?” tanya Aji antusias.

” Iya, Gi. Mau curhat apaan?” tanya Daniel penasaran.

Gio langsung menjawab keraguan Aji dan Daniel. ” Kita curhat tentang perasaan dan cinta, Piye?”

Tidak diduga, semua sepakat dengan usulan Gio. Perlahan, dengan duduk santai, Gio menawarkan dengan bebas bagi yang ingin cerita duluan. Dan yang ditunggu tiba. Astrin memulai curhat.

” Teman-teman, aku mau curhat sama kalian. Tapi aku agak ragu apa bisa menyampaikan ini.”

Gio langsung menanggapi santai sembari menenangkan dirinya dari rasa khawatir. ” Tenang saja, kita disini sharing kok. Kalau kamu ada masalah, setidaknya kita bisa berikan solusinya.”

” Iya, Trin. Kamu cerita apa saja, kami siap dengarkan, kok.” ucap Zain ikut menenangkan Astrin.

Astrin terdiam sejenak. perlahan, ia mulai membuka suara dengan mencurahkan isi hatinya. ” Sebenarnya, aku punya perasaan pada dua orang.”

” Pada siapa?” tanya Aji semangat dan antusias.
Astrin terdiam sejenak. Seperti menunggu kejutan yang ditunggu-tunggu, mereka mendapatkannya. ” Aku punya perasaan…………………”

Mereka semakin merasakan hal yang menegangkan seperti berjumput dalam aliran listrik. Dan mereka mendapatkannya.
“……………………pada Daniel dan Gio.”

Perlahan, bom seperti meledak dalam sanubari mereka. tidak mereka sangka, Astrin memiliki rasa pada 2 orang yang notabene-nya adalah teman dan sahabatnya. Bahkan Tyo cukup terkejut ketika mengetahui kalau Astrin memiliki rasa pada sahabatnya. Seperti yang ia alami hingga ia mulai menguntai tanya pada Astrin.

” Beneran, Trin? Kamu punya rasa sama mereka?”

” Iya.” jawab Astrin lirih. ” Aku tahu, kalian tidak akan mau menerimaku lagi. Tapi aku katakan apa yang menjadi kejujuran bagiku. Kalaupun diantara teman-teman ada yang mengalami seperti yang kualami, itu adalah hak teman-teman. Tapi, dari lubuk hati terdalam, aku sangat mengagumi Gio dan Daniel dan aku tidak bisa menahan apa yang menjadi rahasia hatiku.”

Perlahan, air mata membasahi wajahnya hingga ia terus lanjut bercerita.

” Gio adalah temanku waktu TK dan SD. Saat bersamanya, dia sering baik sama aku. Bahkan saat aku dijahatin anak geng di sekolahku, Gio selalu membelaku meski dia sendiri pernah masuk rumah sakit gara-gara dipukuli mereka. Dia telah banyak memberi keceriaan padaku hingga pada suatu masa SMP, aku harus berpisah darinya karena aku masuk SMP di Tanggerang.

Meski berpisah, aku tetap berhubungan walau ia jarang bertemu denganku. Bahkan, aku dapat info tes masuk kuliah darinya dan aku dinyatakan lulus. Tidak kusangka, aku bertemu dengannya lagi. Namun kuakui, aku jarang berkomunikasi karena kesibukanku di organisasi.

Jujur, aku sulit memberikan balasan terima kasih seperti apa untuknya. Bahkan saat aku dikeluarkan dari organisasi, Gio selalu menemani diriku. Kalau Daniel, dia seperti malaikat terindah di hatiku. Aku tahu, ketampanan wajahnya telah membius hatiku untuk terus memandangnya.

Dia terlalu sempurna untuk dipandang. Meski Aji jauh lebihtampan, atletis dan memesona dibandingkan Daniel, tapi aku lebih menyukai Daniel. Selain tampan, dia sangat peduli padaku. Bahkan dia mau mengajak curhat, mengajarkan matematika, menemaniku main dan keliling di kota Jogja hingga membantuku membentuk tubuh seperti dirinya.

Aku tidak tahu, apakah Gio dan Daniel mau menerima perasaanku suatu saat nanti? Tapi aku berusaha untuk menyatakan kejujuran. Aku tidak mau terbebani dengan rasa yang terus kusimpan.”

Perlahan, Daniel beranjak dari duduknya dan menghampiri Astrin. Saat Daniel menyodorkan tangannya, Astrin memegang tangannya dan dibantu berdiri. Detik demi detik dan menit demi menit menunggu keputusan Daniel. Yang ditunggu terjadi, Daniel mendekap Astrin. Semua terhenyak.

Tidak mereka sangka bila Daniel memiliki rasa dengan Astrin. Dekapan hangatnya memberikan dua hal. Astrin merasa tenang dan nyaman, namun ia khawatir bila ia dan Daniel akan dikucilkan teman-temannya karena mereka telah coming out. Namun, dari yang Tyo amati, Daniel merasa nyaman saat bersama dengan Astrin.

Setelah dekapan itu berakhir, Daniel terus mengamati setiap untai pandang dan alur pesona paras yang Astrin miliki. Tidak perlu menunggu terlalu lama. Daniel langsung mengecup Astrin. Semua terhenyak seperti mendengar bom nuklir yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki.

Terlepas itu semua, kecupan Daniel mengalir selancar aliran sungai Serayu. Astrin telah mendapatkan yang ia inginkan, bahkan lebih. Permainan lidah Daniel semakin membuai Astrin dalam petualangan rasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hingga kecupan berakhir, aroma ketulusan Daniel masih membayangi perasaannya. Tiba-tiba, Daniel berlutut di hadapannya. Meminta sesuatu yang diharapkan Astrin.

” Can you make me a best boyfriend ever after?”

Astrin terkejut. Daniel menyatakan sesuatu yang dalam sanubari terdalamnya adalah sesuatu yang ia inginkan. Terdiam. Ia tidak dapat mengungkapkan jawaban apa yang harus ia berikan padanya. Di luar dugaan, semua teman-temannya mendukung, kecuali Zain, Pardi, Fajri dan Warno. Dengan hati yang terasa sangat mantap, Astrin mulai menguntai kata padanya.

” I’ll take a chance to unreject your propose, honey. I have a sense in yours.”

Dengan untaian senyum yang terlihat merekah, Daniel langsung mengecup Astrin. 2 menit berlalu, Daniel mendekap hangat. Sehangat api unggun di kawasan Puncak. Teman-teman yang berada disana sangat terharu dengan rasa yang mereka miliki. Tiba-tiba Gio berdiri dan menghampiri mereka. memberi selamat dan menyampaikan sesuatu.

” Aku tahu, kamu pasti akan memiliki rasa padaku. Tapi menurutku, Daniel lebih layak. Semoga kamu bahagia dengannya.”. Setelah memberi nasihat untuk Gio, ia memberi pesan untuk Daniel. ” Daniel, temanku. Kamu beruntung, punya seseorang yang memiliki ketulusan hati padamu. Aku juga memiliki rasa padanya, namun aku harus paham kalau kamu adalah yang terbaik baginya. Aku berharap agar kamu mau memberi rasa selamanya.”

Daniel tersenyum dengan nasihat yang indah. Ia tahu, Gio adalah temannya sekaligus orang yang disukai Astrin. Namun Daniel memahami, rasa pada Astrin adalah sesuatu yang harus ia miliki. Beruntung, Gio memiliki jiwa yang sangat besar untuk menerimanya. Meski pernah mewarnai sejarah hidup Astrin, ia rela memberikan semua yang sudah sepatutnya diraih. Rasa terima kasih terlihat melalui ekspresinya disaat air mata mengalir pelan dari wajah putih cerahnya Gio.

” Terima kasih, temanku. Kamu mau merelakan apa yang ada di hatimu. Meski aku telah memilikinya, bukan berarti akan aku abaikan temanku yang telah menemaniku, baik saat di IKMK, Misa bahkan kuliah. Kuanggap seorang Giovani Panji, dan teman-teman lainnya sebagai sahabat yang akan terus mewarnai kebersamaan ini. Meski begitu, aku tetap akan menjaga hati dan rasa seorang Astrin karena dia adalah pemberi warna dan rasa untukku.”

Setelah itu, Daniel mendekap Gio dengan hangat. Gio ikut mendekapnya hingga semua teman-temannya ikut mendekapnya bersama-sama. Sebuah kehangatan persahabatan yang tidak akan pernah pupus akibat situasi yang mengancam persahabatan sekaligus rasa di dalam diri mereka. mereka duduk kembali. Gio yang masih menyeka air matanya lalu menyambungkan acara kembali.

” OK! Sekarang ada lagi yang mau curhat tentang perasaannya?”

Mereka saling menoleh. Dan yang tidak terduga terjadi. Dimas dan Tyo memulai pembukaan. Diawali dengan Dimas yang terlihat berani mengungkapkan apa yang telah tergambar di hatinya.

” Teman-teman, aku dan Tyo ingin membuat sebuah pengakuan.”

Teman-temannya menunggu untaian kata yang akan dikeluarkan. Langit malam pun penasaran. Kejujuran apa yang akan dia ucapkan. Yang dinantikan terwujud.

” Sebenarnya, Aku dengan Dimas sudah pacaran.”

Lagi-lagi, bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki meledak di sanubari mereka. Pengakuan Tyo tersebut semakin melengkapi keyakinan mereka kalau diantara angkatan 09 ini ada yang memiliki rasa dengan sesamanya.

Secara moral dan norma agama, ini adalah sesuatu yang terlarang. Tapi, siapa yang bisa menahan rasa? Bukankah akan sangat berbahaya bila rasa terus menggantang dalam sanubari?

Tyo dan Dimas mulai membeberkan pengalaman pertamanya hingga mengaitkan dengan masa lalu. Mereka cukup terkejut kalau Dimas dan Tyo sudah terkena rasa sejak masih remaja awal meski dengan orang berbeda. Secara umum, ketika terdapat pengakuan seperti yang dilakukan, mereka akan menjauhi dan mencampakannya.

Namun, anak-anak cowok 09 ini justru memiliki empati yang sangat mengagumkan. HanyaZain, Pardi, Fajri dan Warno yang tidak memberikan tanggapan sikapnya. Mereka terdiam dengan fakta yang harus mereka hadapi. Ada sisi konservatif yang menaungi pikiran dan hati mereka.

namun itu tidak akan terjadi bila mereka pernah memiliki rasa. Ketika diberi ruang bicara oleh Gio, mereka terdiam. Tidak dapat berkomentar. Namun setelah didesak Tyo dan yang lainnya. Kalimat yang tidak diharapkan meluncur dari bibir indah Fajri.

” Sebagai orang yang diserahi kepercayaan untuk menampung aspirasi anak-anak 09 ini, saya bisa saja memberi dukungan selama ini adalah sesuatu yang baik. Tapi apa yang aku hadapi saat ini adalah sesuatu yang sangat berat.

Di satu sisi, ini bertentangan dengan norma agama. Namun di sisi lain, beberapa teman kita juga memiliki rasa. Aku bingung! Bila Umar, Usman dan Ali ada disini, mereka akan membuat keputusan untuk membunuh kalian. Kalau aku menasihati kalian, kalian akan memberi rasa benci padaku.”

Fajri seperti dibekukan oleh ungkapan hatinya. Menurutku, Dimas, Tyo, Daniel, Astrin dan Aji juga akan tersinggung dengan ucapannya. Namun, mereka masih menganggap Fajri sebagai teman seangkatan. Bisa saja, Zain, Pardi dan Warno ikut memberi pendapatnya.

Namun, mereka tetap menahan diri untuk tidak memberi luka batin pada teman-temannya. Dan pada akhirnya, semuanya terdiam. Merenung dan menyadari atas yang mereka lakukan. Meski begitu, rasa tidak akan menipu.

” Terima kasih atas pendapatmu, Fajri. Aku tahu, ini bertentangan dengan norma agama. Namun kita juga harus menghormati rasa ini. Akan sangat berbahaya bila ini tidak diungkapkan. Biarlah rasa yang akan mengarahkan semuanya. Aku yakin, cinta sejati akan menuntun kita menuju sesuatu yang terbaik dalam hidup kita.” tanggap Gio dengan tenang. Fajri tersenyum. Senang dengan argumentasi yang Gio berikan padanya.

Setelah Dimas dan Tyo curhat terkait perasaan mereka. Tiba-tiba Aji ingin curhat pada teman-temannya.

” Sebelumnya, aku juga ingin mengatakan sesuatu ke teman-teman.”

Mereka menunggu kesempatan untuk mendengarkan curhat yang ingin Aji sampaikan. Seperti mendapat durian runtuh, ekspresi mereka mulai menampakan wujud aslinya.

” Sebenarnya, aku sama seperti Dimas, Tyo, Daniel dan Astrin. Aku punya rasa dengan seseorang. Dan orang itu adalah Pardi.”

Yang disebutkan namanya seperti mendengar hujaman halilintar di atas sanubarinya. Tidak disangka, ia mendapat kenyataan yang tidak ia harapkan. Dan tentunya, pemilik nama mulai menampakan protesnya.

” Maaf, Aji. Aku orang yang masih taat beragama. Dan apa yang kamu akui adalah sesuatu yang bertentangan dengan agama yang kupegang. Jadi tidak berhak bagi kamu untuk memberi rasa ini. Kalaupun kamu memaksaku menerima semua ini, aku tidak akan menerimanya!”

Pardi yang terlihat memerah muka akibat pengakuannya membuat Aji menanggapi hati-hati. ” Pardi, ini hanyalah apa yang ada di hatiku saja. Aku tahu, kamu akan menolak semua ini. Mungkin saja, aku akan melupakan semua yang sudah menjadi harapanku. Aku juga minta maaf kalau kejujuranku ini membuat hatimu sakit.”.

Aji dan yang lainnya terdiam. Dalam tetesan air mata yang mulai membasahi parasnya, Aji lanjutkan curhatnya hingga mereka mengetahui tentang masa lalunya. Aji pernah berpacaran dengan Dito Adityandi selama SMA. Dalamperkembangannya, dia pernah memiliki rasa dengan Rino.

Namun dia tahu kalau Dimas sudah memilikinya. Aji tidak mau bila dirinya dan Dimas saling bermusuhan karena memiliki rasa pada orang yang sama hingga Dimas berpisah dengan Rino. Meski ia dan Dimas berbeda fakultas, hubungan baik tetap terjalin di kosan yang sama.

Akhirnya, setelah Aji curhat, ia minta maaf ke Pardi. Pardi pun menerimanya. Udara dingin di Taman Bungkul memberi kehangatan persahabatan terindah. Meski kejujuran itu pahit, namun hati mereka membuka perasaan lapang yang tertahan akibat norma sosial dan agama yang menghambat mereka.

Setidaknya, batuyang keras telah luluh akibat air kasih sayang yang telah terpancar dari ketulusan mereka. Kawasan Menanggal menjadi untaian tinta pena yang merangkai tulisan cantik di dalam sanubari hingga mematri sebuah prasasti sutera yang akan selalu mereka kenang tiada akhir.

***

Pagi indah menyapa cantik. Aji, Dimas dan lainnya asyik bermain basket. Keanggunan gerakan mereka membuai siapa saja yang melihatnya, termasuk anak-anak dan beberapa ibu-ibu yang menyaksikan kelincahan mereka. Bahkan, beberapa pemuda-pemuda tampan yang tinggal di lingkungan tersebut ikut bermain dan menunjukan pesonanya.

Di tempat lain, Tyo membantu Bu Rita untuk membuat kejutan pada Bu Asri, ibunya Dimas. Dibantu Indah, Pak Hadi dan Kasatria, adik laki-laki Dimas dan Indah yang berusia 4 tahun, mereka menata kue tart yang dipasangi 2 lilin berbentuk angka 4 sebagai lambang usia ibunya.

Tyo cukup terkejut ketika ia diminta Indah untuk membantu perayaan kecil-kecilan tanpa memberitahu Dimas. Saat Tyo ingin mencari alasan pada Indah, wanita itu ingin agar mereka tidak mau merepotkan Dimas yang sedang menyenangkan teman-temannya.

Keluarganya tahu kalau Aji membawa teman-teman kuliahnya di Surabaya sehingga menurut mereka, Dimas sebaiknya menjamu mereka.

Lagipula, setiap ulang tahun ayahnya, ibunya dan perkawinan mereka, Dimas selalu diandalkan mempersiapkan perayaan meski terhitung kecil-kecilan. Kini, Indah ingin bertanggung jawab seperti Dimas dan itulah sebabnya, ia meminta bantuan Tyo.

Perlahan, kue tart dibawa dari rumah Bu Rita menuju rumahnya Dimas. Lagu selamat ulang tahun terdendang di dalamnya. Pancaran sinar matahari menyambut perayaan yang dibuat. Dan pada akhirnya, ibunya Dimas meniup lilin dan menabur harapan meski dengan tema yang sama, berkah. Untaian bibir Indah, Tyo, Kasatria, Pak Hadi dan Bu Rita terpancar dengan cantik.

Setelah itu, Tyo menuju rumah Aji. Disana, Bi Euis, asisten rumah tangga rumahnya Aji yang baru datang dari Ciamis sigap menyambutnya. Memang, sejak Aji kuliah di Jogja dan orang tuanya bisnis permata di Hongkong, Bi Euis diizinkan pulang kampung di Ciamis.

Tyo mulai membuka obrolan disaat mereka bersantai ria di kamar Aji. Di depan kamar Bi Euis yang merupakan kamar khusus asisten rumah tangga, semua berjalan cair, tanpa ada rasa sungkan yang menyelimuti hatinya.

” Bi. Sudah berapa lama kerja di rumahnya Aji?”

” Sudah 20 tahun, Den.”

” Lama juga ya.”. Tyo heningkan diri hingga ia mulai menguntai tanya.

” Den Tyo sama Den Aji kuliah di kampus yang sama, ya?”

” Iya. Emangna aya naon, bi?”

” Hmm……… Teu nanaon, soalnya bibi punya tetangga di kampung yang tinggal di Jogja. Namanya Bu Umi…”

Tyo terkejut. Bu Umi adalah pemilik warung burjo yang berlokasi tidak jauh dari kamar kontrakannya. Tyo sering makan disana.

” Lho! Bi Euis tahu Bu Umi juga?”

” Iya. Kok Den Tyo tahu?” tanya Bi Euis dengan perasaan terkejut.

” Bu Umi itu sering jualin makanan dekat tempat kosku. Dia punya warung burjo…….”

Tyo banyak bercerita pada Bi Euis tentang Bu Umi, pengalaman bertemu Aji dan kesan terhadap Surabaya. Sedangkan Bi Euis banyak cerita tentang hubungan tetangga dengan Bu Umi, masa kecil Aji dan pengalaman bekerja di rumahnya Aji. Tyo tahu kalau Bi Euis punya anak bernama Rendy Ramadhan Kurniawan, yang saat ini kuliah di Manajemen Unpad.

Aji dan keluarganya tahu tentang Rendy dan atas kebaikan mereka, Rendy bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Dalam permasalahan berupa kakak-kakaknya yang tidak bisa lanjutkan pendidikan meski mereka sudah bekerja dan ayahnya yang sudah mangkat sejak ia masih kecil, Rendy bisa membuat bangga ibunya dan keluarganya Aji hingga bisa kuliah dengan beasiswa.

Kini, Rendy tetap bekerja sambilan meski ibunya melarang karena biaya hidupnya sudah ditanggung keluarga Aji. Dari cerita tersebut, Tyo mulai memberi rasa syukur masuk ke hatinya dan memacu semangat agar bisa berprestasi dan membuat bangga ibunya. Menurutnya, kehidupan keluarganya masih lebih baik dibandingkan dengan keluarganya Rendy.

Saat Aji, Dimas dan teman-temannya menuju pintu depan untuk jalan-jalan keliling lingkungan perumahan, Bi Euis berniat memberitahu Aji kalau Tyo datang. Sayangnya, Tyo melarangnya hingga Bi Euis dipanggil Aji untuk pamitan. Tyo langsung menuju kamar Aji setelah mereka pergi.

Kamar Aji terlihat luas seperti kamarnya Kamal. Dengan poster Ricky Martin dan Steve Grand terpajang di kamarnya, memberi kesan maskulin pada dirinya. Bola basket terpajang di sudut kamarnya, dekat lemari. Tyo duduk di spring bed miliknya. Mengamati setiap detail unsur klasik yang terpatri.

Saat melihat dan merasakan setiap sisi tempat tidurnya, ia tidak sengaja melihat alat yang sudah tidak asing baginya. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui kalau Aji memiliki fleshlight. Saat sedang mengamati alat tersebut, lemari kamar terbuka dengan sendirinya hingga ia tidak sengaja melihat majalah-majalah biru, dildo dan CD saat ia ingin menutup pintu.

Tyo menaruh fleshlight dan mengambil satu majalah biru tersebut. Ia semakin terkejut ketika mengetahui dengan yakin kalau Aji adalah seorang sex obsesser. Tampilan pria-pria menawan meski tanpa busana semakin meyakinkan dirinya tentang diri Aji sebenarnya. Hingga sentuhan tangan di bahunya mengakhiri rasa penasarannya.

” Kamu sedang apa disini?”

Tyo langsung balikan badannya secepat halilintar. Terkejut ketika Aji sudah berada di depannya. Seperti es batu yang dingin dan kaku, Tyo tidak bisa berkilah.

” Sorry, aku masuk ke kamarmu.” ucap Tyo hingga ia menaruh majalah itu ke lemari.

***

” Jadi, kamu itu benar-benar gay?”

” Iya. aku tidak bisa menyangkal semua itu.”

Tempat tidur menjadi saksi ketika kejujuran itu diungkapkan Aji. Terkejut menjadi hal yang tidak perlu diragukan bagi Tyo. Dari ceritanya, terungkap kalau Aji memiliki perasaan pada Dimas, Rino dan Dito, namun ia tidak ingin mengungkapkan semuanya. Dan ia jatuhkan pilihan pada Dito.

Dia mengakui kalau ia sangat ingin menikmati tubuh laki-laki yang terlihat indah di matanya. Tyo terdiam hingga Aji beranjak dari tempat tidur lalu melepas pakaian yang ia kenakan. Ia menuju lemari, mengambil fleshlight dan memasang pada alat vitalnya. Perlahan, Aji merebahkan diri di tempat tidur dan menggerakan tubuhnya demi merasakan kepuasan semu tersebut.

” Kamu ndak malu dengan hal ini?” tanya Tyo sembari berdiri di dekat tempat tidur.

” Ndak. Lagipula, aku senang memainkan tubuhku ini. Kalau kamu mau, kamu boleh menikmati tubuhku.”

Tyo langsung menolak saran Aji yang menurutnya hanya candaan saja karena ia tidak ingin menghianati Dimas. Namun, Aji terus memberi saran hingga tidak ia sangka ketika Aji tahu rahasia masa lalu Tyo. Dan Dimas-lah yang menceritakan semuanya. Sembari menikmati erangan memuaskan, ia mempertanyakan sebab Dimas melakukan hal itu.

Hingga ada satu alasan yang membuatnya sangat terkejut. Dimas dan Aji adalah gay sejati. Bahkan, teman-teman satu SMA-nya adalah anggota organisasi kaum gay di Indonesia. Bahkan Aji tahu tentang pemerkosaan yang dialami Tyo. Perlahan, air mata mengalir deras di wajahnya dan disertai dengan melucuti pakaian yang ia kenakan.

Aji terkejut saat melihatnya hingga rasa bimbang menyelimuti hatinya. Di satu sisi, ia tidak mau menghianati Dimas, sahabatnya. Namun di sisi lain, ia terpesona dengan tubuh Tyo yang terlihat proporsional meski sedikit gemuk dengan otot lengannya yang terlihat menawan.

Perlahan, Tyo menghampiri Aji dan mendekapnya. Aji langsung menghadangnya hingga ia mendengar sebuah kalimat yang tidak ia duga.

” Aji, sekarang aku sudah kotor. Tidak suci lagi. Kalau kamu ingin menikmatiku, aku tidak akan melarangnya. Kamu tidak perlu takut dengan Dimas. Anggap saja ini yang pertama dan terakhir.”

Aji langsung melepas fleshlight dan menancapkan ke alat vitalnya Tyo. Aji langsung mengecup bibir merahnya Tyo, membaringkan di tempat tidur, mengecup lehernya, dadanya dan kemaluannya. Tyo semakin merasakan erangan ketika Aji menggerakan alat itu. 2 jam dalam kenikmatan yang mereka ciptakan, Tyo berbaring di dadanya Aji sembari merasakan detak jantungnya.

” Tyo. Kuanggap ini adalah pertama dan terakhir. Aku ndak mau melakukan ini lagi.”

” Tidak apa-apa, Ji. Aku lakukan ini karena kita tidak ingin membebani hati dengan beban kelam itu. Lagipula, kamu juga menikmatinya, kan?”

Belaian Aji di rambutnya mengantar pesona yang selama ini ditahan Aji. ” Aku lakukan ini karena kamu melakukannya. Sekarang, aku telah menodaimu. Tapi aku senang, kamu menikmatinya.”

Pandangan matanya terus mengarah pada paras tampannya Aji hingga sebuah ide meluncur dari pikirannya Tyo. ” Ji, kamu mau ndak, ajarin aku untuk menjadi pemuas nafsu.”

Tanpa berpikir panjang, Aji langsung mengajarkan Tyo cara-cara melakukan persetubuhan. Dari tempat tidur hingga kamar mandi. Uniknya, Aji terus menikmati tubuh Tyo dengan cantik. Lumuran sabun yang Aji berikan memberi kesan yang sangat hangat bagi pikirannya hingga basuhan air melepas semua hasrat yang selalu mereka simpan ketika norma sosial menghadang mereka.

Melepas beban kultural yang selalu mereka hadapi. Suasana tawa menjadi mata uang yang sangat indah.

Bersambung