Yang Pertama Dan Terakhir Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 7

” Vin, lo itu keterlaluan banget deh! Kamu suguhin aku pemandangan kayak gitu. Jijik tau!”

” Sorry! Aku cuma becanda.”

Tyo masih menampakan kekesalan pada Kevin. Peristiwa miris itu masih membekas dengan luka rasa yang sangat tajam. Bahkan pisau pun kalah tajam dengan hal yang dialaminya. Sambil menata barang-barang secepat angin melaju, ia seperti batu yang keras ketika berhadapan dengan Kevin.

” Lagipula, kita kan sama-sama cowok. Masak cowok melihat hal seperti itu bisa langsung dikatakan jijik?”

Tyo yang mendengar argumen seorang Kevin langsung memberi tanggapan sekeras suara petasan yang mengalir di langit Jakarta saat malam tahun baru. ” Iya jelas lah! Meski sama-sama cowok, tapi kan saru tahu!”

” Iya deh. Aku juga ndak enak sama kamu.” ucap Kevin menyesal. Tyo hanya terdiam dengan ucapannya. Perlahan,teman-temannya masuk ke toilet dan mulai memberi canda baru pada mereka, khususnya Tyo yang masih memiliki rasa kesal meski hanya berada di dalam hati.

” Cieee……….pacaran nih yee!!!!” goda Gio sembari merangkul Tyo.

” Iya! Kayaknya akrab nih. Lagi bicarain apa sih?” tanya Astrin seperti orang yang sangat ingin tahu urusan orang lain.

” Ndak! Ndak ada apa-apa.” sanggah Kevin sembari merapihkan pakaian yang dibawa.

5 menit setelah merapihkan pakaiannya dalam tas, Kevin langsung beranjak menuju keluar. Bersamaan dengan masuknya Aji ke toilet. Teman-temannya bingung dengan tingkah laku Kevin. Saat ditanyakan ke Tyo, ia hanya menjawab bahwa dia ada masalah keluarga.

Namun dia tidak berani cerita pada teman-temannya. Mereka pun memakluminya. Mereka lalu menuju bilik untuk mandi.

***

” Gimana fitness hari ini. Enak?” tanya Gio pada Astrin saat duduk santai di ruang tunggu.

” Enak banget, Gio. Gue gak pernah ngerasain hal ini sejak kecil. Meski baru pertama kali, namun terasa indah, gitu. Sulit diungkapkan dengan kata-kata.”

Astrin menampakan cahaya kepuasan atas yang dialaminya. Tidak ia sangka, ia terlihat lebih ceria dibandingkan saat masih berada di organisasi tersebut. Bahkan ia anggap sebagai warna terindah saat bersama dengan teman-teman angkatannya.

Jawaban serupa juga diucapkan mantan anggota organisasi keagamaan tersebut. Perlahan, senyum kebahagiaan mengalir indah dengan sempurna dari bibir mereka. Memberi bukti bahwa awan mendung itu berganti langit yang cerah.

” Gio. Gue ke parkiran dulu ya!” izin Tyo pada Gio setelah melihat Dimas dan Kevin dari jendela. Ia lalu menemuinya. Terlihat mereka sangat akrab. Entah apa yang diomongin. Namun Kevin tak terlihat murung lagi.

” Dim, Vin! Lagi ngobrolin apa ini?” tanya Tyo sembari bersender di motor Dimas.

” Ndak! Cuma ngobrol santai.” jawab Dimas santai.

” Kok, kayaknya terlalu serius nih!”

Kevin langsung memberi tanggapan. ” Ah! Ndak ada apa-apa.”

Tiba-tiba, Dimas menawarkan Tyo untuk pulang setelah melihat teman-temannya sudah selesai nge-gym. “Tyo. Kita pulang yuk!”

” Ayo! Tapi aku pamitan sama yang lain ya!”

Tyo dan Dimas lalu pamitan dengan teman-teman Tyo. Mereka pun membalas pamitan dengan cantik. Perlahan, motor mulai mengarungi Jalan Ringroad Utara dengan anggun. Menembus aroma kota yang tersaji di setiap sisi. Hingga memasuki Jalan Kaliurang, aroma itu semakin kuat.

Tidak butuh 5 menit, mereka sampai di kosan mereka.

Dimas langsung mandi dan Tyo langsung tidur. 10 menit membilas diri, Dimas lalu memakai A-shirt kesukaannya dan tidur di sebelah Tyo yang sudah terlelap. Posisi tidur Tyo berdekatan dengan meja belajar dan ia dibatasi gulingnya Dimas.

Mengingat posisi meja belajar berdekatan dengan jendela kamar dan bersebelahan dengan pintu kamar, akan sangat mudah bagi orang luar untuk melihat mereka yang sedang belajar.

Namun bagi Tyo dan Dimas, ini bukanlah sebuah masalah.Setidaknya, uang takkan ditaruh di sembarang tempat melainkan bisa ditemukan dengan baik. Dan akan lebih aman bila disimpan di bank.

***

Minggu siang, waktu yang seharusnya digunakan untuk melepas penat setelah 5 hari belajar dalam suasana kelas yang sangat besar. Namun hal ini tidak berlaku untuk Tyo. Besok, UTS akan menyambutnya. Memacu dirinya dalam sebuah kompetisi abadi di dunia pendidikan tinggi. Penentu setiap prestasi yang akan ia capai.

Akibatnya, ia terlalu serius dalam membaca ulang setiap materi kuliah yang telah diberikan. Bahkan sapaan lembut seorang Dimas Narendra Adityaswara saja tidak dapat menenangkannya.

” Tyo. Kita jalan keluar yuk?” pinta Dimas di samping kanan Tyo sembari mengamatinya yang terlihat sibuk membaca catatan Matematika.

Tyo seperti batu yang sangat keras. Tidak luluh diterjang air yang bahkan sangat lembut mengalir di atasnya. “Nanti dulu saja, Dim. Aku sibuk belajar nih!”

Ekspresi Dimas bagai hutan yang terus terpapar aura panas. Saat Tyo beranjak dari meja belajarnya, Dimas langsung ambil kesempatan dengan mendekapnya. Awalnya, Tyo menghindar, namun ia mulai menerimanya. Dan sebuah rahasia hati terbuka pada seorang teman yang tinggal bersamanya.

” Aku tahu, kamu sangat ingin menunjukan nilai terbaik. Namun kamu perlu tahu, tidak selamanya nilai terbaik adalah segala-galanya. Persahabatan, cinta dan kenangan indah adalah harta tak ternilai yang akan membekas selamanya. Aku yakin, kamu, aku dan teman-teman kita akan berprestasi tanpa meninggalkan sebuah benang indah yang bernama persahabatan.”

Sanubari Tyo terguncang. Ia tidak sadar, dirinya terlalu menjadikan nilai dan prestasi akademis sebagai focus utamanya. Sedangkan orang-orang disekitarnya diabaikan. Hubungan persahabatan hanya sebatas dimaknai eksplisit. Dekapan Dimas ini menjadi kunci pembuka hatinya yang terlalu keras untuk dihancurkan.

Air mata bagaikan mata air yang memberikan keteduhan hatinya. Keteduhan yang menghapus kegersangan rasa akibat tujuan dunia yang terlalu indah dan mewah untuk terus dipandang.

” Iya! Aku terlalu ambisius mengejar nilai. Bahkan aku abaikan kepedulian teman-temanku. Aku sadar, mereka jauh lebih berharga daripada apapun.”

Perlahan,dekapan berakhir dan Dimas menatap matanya. Tatapan elang mulai membuai rasa. Rasa yang seharusnya didapat seorang Bimatama Prasetyo demi menenangkan hatinya. Beruntung, hatinya cepat tenang. Nasihat Dimas dan Ibadah Misa mempercepat pemulihan hati hingga optimisme memekarkan dirinya.

Dimas langsung memberi keteduhan hati dengan tatapan elang yang ia miliki.

” Suatu saat, kamu akan berhasil dalambidang apapun selama kamu tidak pernah jauh dari teman-teman yang kamu sayangi.”. Anggukan kepalanya memberi petunjuk pada Dimas hingga senyumnya merekah seperti mawar merah. Saat tatapan elang mulai menembus rasa, mereka mendengar suara oang yang jualan bakso.

” Tyo, sepertinya ada yang jualan bakso di depan!”

Saat Tyo menoleh ke arah pintu, Dimas langsung mencium pipinya. Ia seperti kembang api yang meledak sangat keras di malam tahun baru.

” DIMAAAAAAAAAASSSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!”

Teriakan Tyo membuat Dimas segera ke kamar mandi. Aura kekesaln menyelimuti hatinya. Ia mulai sadar, Dimas telah mencuri start yang seharusnya tidak ia lakukan. Saat itu, ingatannya mengarah kepada Kevin yang saat itu ngobrol dengan Dimas di parkiran.

Tapi, ia tidak curiga terlalu jauh. Meski ia seperti itu, dalam sanubari terdalamnya, Tyo senang mendapat kecupan darinya. Dimas langsung mandi meski ia terlihat tidak membawa handuk. 10 menit berlalu. Dimas keluar dari kamar mandi. Sayangnya, ia tidak memakai handuk.

Tyo yang melihatnya langsung mengambil handuknya dan melemparkan ke Dimas. Bukannya digunakan, justru ia melempar ke kasurnya. Lalu ia berbaring dengan telapak tangan yang memangku kepalanya merenggangkan kakinya.

” Tyo. Aku masih terasa dingin. Tolong hangatkan aku yo!”

Tyo yang terlihat menghadap pintu kamar tetap tidak mau melihatnya. ” Kamu saja yang hangatkan sendiri! Aku ndak mau!”

Dimas lalu membalikan tubuhnya. Merasakan halusnya kasur yang ia tiduri hingga membuat dirinya terangsang. Perlahan, ia beranjak dari tempat tidur dan mendapati penisnya tegang. Ia pun menuju lemari, mengambil kaus dan celana kesukaannya dan memakainya di depan lemari.

***

” Dim, apa kamu ndak merasa malu?”

” Ndak. Lagipula kita kan sama-sama laki-laki!”

Dimas yang terlihat duduk santai di kasur dengan pakaiannya yang semakin menunjukan tubuh kekarnya terus menatap setiap sorot mata yang Tyo pancarkan di depannya. Jawaban yang Dimas berikan sesuai dengan posisi duduknya.

” Selain itu, aku senang bisa seperti itu di kamar kita.”

Tyo hanya gelengkan kepala sembari tersenyum kecut. Namun dari lubuk hatinya, ia kagum dengan bentuk tubuh Dimas yang ia anggap semakin menarik dan tergoda. Dan teriakan Dimas mengembalikan arungan pikiran Tyo yang terlihat tidak fokus. Tyo yang sudah fokus ini langsung ditanya terkait kemajuan fitness yang ia raih.

” Tyo. Badanmu udah kurusan belum?”

” Belum. Aku kan baru ikut! Ndak bisa langsung kurus.”

Dimas mendadak memberi saran. ” Kalau begitu, aku akan melatihmu dengan intens ya!”

Tyo masih menampakan kebingungan hingga Dimas menjelaskan kalau ia akan terus memantau perkembangan latihan Tyo hingga asupan makanannya. Dimas menargetkan turun 12 kilogram dalam 6 bulan ditambah memiliki bentuk tubuh seperti Dimas. Alhasil, penolakan mulai berhembus kencang.

” Dim, ini ndak mungkin. Apa bisa dalam 6 bulan bisa seperti kamu?”

Dimas yang terlalu yakin dengan target itu langsung memberi keyakinan positif sekaligus memberinya sanksi bila tidak terwujud.

” Sanksinya, kamu harus turuti apa yang kumau. Piye? Deal?”

Tyo mulai memikirkan target Dimas. 2 menit berlalu, Tyo sanggupi dengan jabatan tangannya. Perlahan, senyum merekah pada bibir Dimas. Berhasil menjebak Tyo dalam target yang ia berikan. Dalam lubuk hatinya Dimas, ia memiliki tujuan lain. Setidaknya, sutra cantik milik sang pangeran hati telah tersingkap dan tinggal menunggu untuk digunakan.

***

Semester 1 telah terlewati. Mahasiswa umumnya tinggal menunggu hasil yang sudah dicapai. Sayangnya, ada sedikit ketidakpuasan yang harus dilalui. Tyo terkejut ketika mengetahui bahwa nilai Matematika mendapat C dan Ilmu Gizi mendapat B. Kekecewaan bagaikan api yang menyulut daun-daun kering.

“Aku hanya dapat C di Matematika. Sebel deh!”

Dimas yang tahu kondisi perasaannya langsung mendekapnya dari belakang dan menenangkannya.

” Kamu ndak boleh mengeluh. Apapun hasilnya, yang penting kamu telah berjuang dengan baik. Lagipula, nilai bukanlah segala-galanya, kan?”.

Nasihat Dimas ia sambut dengan anggukan kepala. Dimas akhiri dekapannya lalu menunjukan nilai IAD/ Ilmu Alamiah Dasar yang tertulis C di Laptop nya.

” Aku sudah berusaha agar mata kuliah ini berhasil. Namun yang diharapkan berbeda. Mungkin ini sebagai ujian agar kita lebih giat lagi.”

Tyo langsung mendekap Dimas. Dimas tidak menyangka,Tyo merespon terlebih dahulu. Batinnya menunjukan sebuah kesenangan. Ia tahu, Tyo akan menerimanya seperti yang ia harapkan. Dalam naungan tubuh Dimas yang kokoh bagaikan beton dengan otot dada yang sangat menakjubkan, Tyo seperti menemukan ketenangan yang ia rasakan.

5 menit berlalu, pandangan beralih ke wajahnya. Putih merona, lekuk tegas dan aura yang terlihat maskulin, inilah yang ditunjukan Dimas. Perlahan, batin Tyomenemukan kedamaian yang tidak dapat ia jelaskan seperti yang ia alami saat bersama Kamal dan Fahmi. Ia pun sangat menikmati yang diberikan.

” Terima kasih atas nasihatnya, Dim! Kamu baik sekali denganku.”

” Sama-sama. Ini sudah menjadi kewajibanku. Yang penting bisa berpikir positif dan aku yakin, kamu bisa dapat nilai yang lebih baik.”

” Kenapa kamu yakin dengan hal itu?”

” Karena kamu punya rasa optimis tinggi. Feeling-ku, teman-temanmu pasti cumlaude semua.”

” Amin!” jawab Tyo meski diawali dengan rasa terkejut dengan ucapannya.
Perlahan, Dimas akhiri dekapannya dan mulai alihkan topik.

” Tyo. Kamu mau ikut denganku, ndak?”

“Kemana?”

” Ke Rumahku.”

” Surabaya?” tanya Tyo hingga Dimas anggukan kepalanya. Tyo lanjutkan pertanyaan padanya.

” Sudah beli tiket?”. Dimas anggukan kepalanya.

Tidak ia sangka, Dimas sudah menyiapkan sebelumnya. Batinnya ingin menolak, namun ia tidak tega bila melakukannya. Dimas terlalu baik dengan pria yang baru ia kenal di depan kampusnya.

Seperti penikmat parfum, ia awalnya tidak terlalu suka dengan aromanya. Seiring waktu berjalan, ia akrab dengan aroma itu dan terus mencobanya. Dibalik semua itu, tersimpan rasa yang ingin Dimas tunjukkan.

***

” Tyo. Liburan nanti main ke rumahku yuk!” pinta Gio sembari merangkul pundak Tyo.

” Waduh! Kayaknya gak bisa, Gi!”

” Kenapa?”

” Aku diajak Dimas ke Surabaya. Main ke rumahnya.”

Aji terkejut saat tahu kalau Tyo diajak Dimas ke Surabaya. Gio ikut bersahutan cepat.

” Aji juga tinggal di Surabaya. Tapi gak tahu alamatnya di mana?”

Aji langsung memberitahu tempat tinggalnya. ” Aku di Perumnas Menanggal. Ndak jauh dari tempat tinggalnya Dimas.”

” Lho, kamu tahu tentang Dimas juga?” tanya Gio dengan terkejut hingga es krim mulai mencair sekaligus membasahi rumput di bawahnya.

” Iya! Dimas kan satu sekolah denganku. Selain itu, rumahku ndak jauh dari rumahnya.” jelas Aji dengan semangat 45 hingga ia menawarkan sesuatu pada Tyo.

” Tyo. Kalau kamu ndak keberatan, kamu boleh menginap di rumahku. Kamu bisa ajak Dimas biar rame.”

Tyo terlihat antusias menerima tawaran ini.

” Wah! Boleh tuh! Nanti aku tanyakan ke Dimas. Dia mau atau tidak.”

Aji terus merayu Tyo agar Dimas mau ikut.

” Iya, Tyo. Mudah-mudahan Dimas mau ikut.”.

Senyum merekah indah dari bibirnya lalu ia alihkan pandangan pada yang lain.

” Gimana, Trin? Kamu mau ikut ndak?”

Tanpa berpikir panjang, Astrin menanggapi Aji.

” Iya. Aku ikut. Tapi ndak tahu kalau Zain, Hasan, Pardi dan Warno. Mereka bisa ikut ndak?”

Tiba-tiba, Zain yang sudah tiba di tempat mereka berkumpul yang terletak dekat ruang kuliah ini datang dan memberi jawaban.

” Aku pasti ikut sama kalian. Hasan, Pardi dan Warno juga ikut deh!”

” OK!” teriak Aji dengan semangat hingga memastikan keberangkatan.

Mereka sepakat berangkat besok dengan kereta api. Tyo tidak bisa berangkat bersama mereka karena besok harus pergi bersama Dimas. Hingga setelah bubar, Tyo mulai menceritakan yang ia alami pada Dimas.

***

” Aji tawarkan kamu tinggal di rumahnya sama teman-temanmu?” tanya Dimas hingga anggukan menjadi jawabannya. Dimas pun mulai memberi tanggapan.

” Menurutku, ndak masalah kalau Aji menawarkan kamu tinggal sama yang lain asal kamu harus bersama denganku.”

Tyo heran. Ada kekhawatiran yang menyelimuti pikiran Dimas hingga ia bicara seperti itu. Tyo mulai bertanya dengan rinci. ” Memangnya ada apa dengan Aji?”

Dimas terdiam sejenak. Akhirnya ia menjawabnya.

” Aku ndak ada apa-apa sama Aji. Tapi aku khawatir saja kalau mereka mengganggu hubungan kita. Tujuanku mengajak kamu ke Surabaya agar aku bisa berduaan denganmu. Aku berharap tidak ada yang mengganggu kita saat liburan. Itu yang aku takutkan.”

Dalam suasana kamar yang terasa panas dan hening, Tyo sentuh wajah Dimas dengan lembut sembari memberi keyakinan. ” Percayalah! Aku akan selalu ada untukmu. Kamu tidak perlu takut mereka akan mengganggu hubungan kita. Lagipula, ini sekedar bermain ke tempat teman. Tidak ada maksud lain. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Bagaimanapun, aku tetap menjadi bagian darimu.”

Sanubari Dimas masih bergejolak layaknya ombak pantai Parangtritis. Namun pandangan Tyo meredakan semuanya. Dimas pun mulai merekahkan senyum dan mendekap Tyo dengan hangat. Tyo senang, Dimas mulai percaya padanya meski sanubari Dimas sedikit bergolak karena ada sesuatu yang tidak Tyo ketahui namun Dimas tidak berani untuk bercerita. Menurutnya, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Malamnya, Dimas dan Tyo sudah sampai di stasiun Lempuyangan. Menunggu kereta api ekonomi yang akan membawa mereka ke Surabaya. Tyo sebelumnya sudah memberitahu ibunya kalau ia tidak pulang karena ada urusan UKM di kampus. Alasan yang sangat bertolak belakang dengan fakta.

Meski terlihat salah, Tyo tidak ingin membuat cemas ibunya. 15 menit berlalu. Kereta yang dinantikan telah datang. Dimas dan Tyo bergegas masuk ke dalam karena kereta hanya berhenti sementara. Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Jogja. Meninggalkan aktivitas perkuliahan yang sangat menyita waktu sekaligus main ke rumah pacar barunya.

Stasiun demi stasiun telah dilalui. Dari Stasiun Maguwo dengan pesawat terbang yang telah mendarat dengan cantik, Stasiun Solo Balapanyang menyajikan pendaran cahaya gedung-gedung yang bersinar indah, Stasiun Madiun yang menghiasi diri dengan suara pengelasan kereta api yang tengah berlangsung, Stasiun Nganjuk yang dihiasi suara pedagang kakilima yang menjajakan nasi pecel, nasi tumpeng dan nasi becek buatan mereka hingga Stasiun Jombang yang dihiasi lantunan ayat suci yang terucap dari masjid yang sedang melakukan pengajian.

Meski suasana itu tersaji indah, sayangnya Tyo dan Dimas tidak sempat menikmatinya lantaran tertidur. Dimas mulai terbangun tatkala suara petugas gerbong memberitahu kalau kereta akan mendekati Stasiun Gubeng.

” Tyo. Bangun! Kita sebentar lagi ke Stasiun Gubeng.”

Tyo mulai menggeliatkan badannya. Mengamati disekitarnya. Ia dan Dimas bersiap-siap dengan barang mereka. 2 menit kemudian, kereta berhenti di Stasiun Gubeng. Dimas dan Tyo turun lalu menuju pintu keluar yang mengarah ke jalan. Tyo yang baru mengetahui Surabaya begitu takjub dengan kondisi yang tidak terlalu berbeda jauh dengan Jakarta.

Namun Surabaya tidak terlalu sekeras Jakarta. Saat berdiri di tepian jalan yang berseberangan dengan klinik, sebuah mobil berhenti di depannya. Ternyata mobil itu dibawakan Pak Hadi, ayahnya Dimas.

” Sudah lama nunggunya?”

” Belum, Pak.”

Dimas dan Tyo naik ke mobil. Mobil mengarah ke jalan yang melintasi sebuah universitas besar di depannya. Dimas menjelaskan bahwa universitas itu adalah Universitas Airlangga. Kondisi jalan yang terlihat sangat sepi membuat mobil menaikan kecepatannya menuju Jalan Tol Surabaya-Gempol.

Suasananya tidak terlalu beda dengan Jakarta, namun terasa memberikan aroma yang berbeda bagi yang belum pernah singgah di kotanya. Ketika mobil keluar dari gerbang tol Waru, suasana Surabaya terasa kuat.

Aromanya akan selalu membekas bagi siapa saja yang pernah singgah di kota yang dijuluki Kota Pahlawan ini. Tidak terasa, 20 menit sampai ke rumah Dimas. Sesuatu yang sangat menakjubkan karena di hari biasa, bisa ditempuh 1,5 jam. Ditambah lagi dengan suasana rumah Dimas yang tidak terlalu berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Tyo seperti menemukan kotak pandora di Taman Bunga Nusantara. Saat turun, Dimas dan Tyo menemui ibunya Dimas.

” Dim. Kamu sama siapa?”

Dimas langsung perkenalkan Tyo ke ibunya. Rasa senang terpatri cantik dari wajah cantiknya. Saat ngobrol, Dimas banyak cerita terkait masa-masa kuliahnya dan pertemanannya. 30 menit berlalu, Dimas mengajak Tyo ke kamarnya. Suasana kamar khas cowok masih menunjukan jatidirnya. Kasur yang sudah tidak ditempati telah menyambut seorang raja. Dan kali ini, rajanya membawa tamu baru.

” Kasur ini masih empuk seperti terakhir kutinggalkan. Kamu tidur duluan saja. Aku bisa tidur di sofa.”

Tyo agak canggung meski Dimas mengizinkan. ” Sepertinya aku yang tidur di sofa. Ini kan kamarmu.”

Dimas terkejut dengan ucapannya lalu berusaha meyakinkan Tyo. ” Ndak pa pa. Kamu tidur saja. Lagipula aku anggap kamu itu tamuku. Kamu ndak perlu khawatirkan aku. Aku bisa di mana saja.”

Tyo berpikir panjang. Di tengah kebimbangan itu, Dimas menawarkan sesuatu. ” Bagaimana kalau kita tidur seranjang saja.”. Usulan Dimas disambut dengan anggukan Tyo hingga senyuman manis merekah dari bibir mereka.

***

Surya menyambut Surabaya dengan cantik. Burung-burung bernyanyi riang. Bunga-bunga bersahutan keras. Awan mulai menampakan sifat aslinya. Dekapan Dimas masih membuai Tyo dalam ketenangan terindah. Seperti yang ia rasakan tatkala bersama Fahmi dan Kamal. Tyo bangun dengan lunglai. Mengumpulkan tenaga demi menapaki hari esok.

Tyo keluar dari kamar, turuni anak tangga dan lintasi ruang yang digunakan sebagai warung kelontong demi menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, seorang perempuan muda yang terlihat cantik memakai kerudung hijau daun menemuinya.

” Mas Tyo, ya!”

Kebingungan mulai mewarnai pikiran Tyo hingga ia bertanya pada wanita itu. ” Iya. Mbak ini siapa ya?”

” Aku Indah, adiknya Mas Dimas.” jawab wanita itu dengan senang hingga Tyo dan Indah saling berjabat tangan.

” Aku baru tahu, lho kalau kamu adiknya Dimas! Bener namamu Indah Dwianti Permatasari?” tanya Tyo hingga Indah anggukan kepalanya tatkala membenarkan ucapan nama yang Tyo ketahui dari pembicaraan Dimas kepada Aji saat di gym.

Indah banyak ngobrol terkait perkenalan dengan Dimas. 2 menit menarik makna kata dengan Indah hingga Dimas berada di belakang kursinya.

” Lagi bicarakan aku ya?”

Tyo dan Indah menoleh ke Dimas. Indah mulai membuka sapaan pada pria yang memenangi hati seorang yang disapa Tyo ini. ” Baru bangun, mas? Sudah shalat subuh?”

Dimas langsung menggaruk kepalanya. ” Belum, dek!”

” Kebiasaan Mas Dimas selalu seperti ini.” jelas Indah pada Tyo hingga Indah menasihati Dimas dengan bijak.

” Jangan sering meninggalkan shalat, lho! Itu kan ibadah paling utama.”

Seperti khatib yang sering menyampaikan ceramah saat shalat Jumat, Indah terus mengingatkan Dimas. Dimas hanya membenarkan ucapan adiknya. Tyo hanya tersenyum sembari gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka, kewajiban agamanya saja tidak ia kerjakan, bagaimana dengan hubungan yang tengah dirajut.

” Baiklah! Indah, Tyo! Aku mandi dulu ya!”

Dimas langsung ambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Awalnya, Dimas berniat ingin ajak Tyo mandi bersamanya. Namun, Tyo sudah mandi dan ada Indah disana. Dimas tidak mau bila rahasia ini diketahui keluarganya.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Indah, Tyo menuju warung kelontong dan tidak sengaja menemui Bu Rita. Dia adalah ibunya Rino, sahabat sekaligus mantan pacarnya Dimas. Tyo langsung berkenalan dengannya. Perlahan, obrolan yang awalnya berkaitan dengan pertemanan Tyo dengan Dimas mulai Tyo arahkan tentang Rino.

Cerita pun berlanjut dengan pemaparan Bu Rita tentang anaknya. Namun saat bercerita tentang kehidupan anaknya, Bu Rita terlihat sedih hingga Tyo berusaha menenangkannya sekaligus meminta maaf. Bu Rita terlihat agak sungkan dengan Tyo dan berusaha tidak menampakan kesedihan pada pria itu.

Bu Rita lanjutkan cerita tentang Rino. Menurutnya, Rino adalah anak yang baik. Namun dia selalu alami nasib yang sangat menyedihkan. Seperti yang Dimas ceritakan. Semua itu berubah saat SMA. Ibunya selalu melihat aura senang pada wajah Rino.

Saat ditanya, Rino senang karena teman-temannya mau berteman dengannya dan semakin terlihat saat teman-temannya yang sering datang ke rumah Dimas juga ikut bertanya tentang Rino. Dari sanubari terdalam, Tyo tahu kalau Rino bahagia ketika Dimas berada di sisinya. Untaian senyum terus mengalir dari bibir indah Tyo hingga Dimas datang menemui mereka.

” Wah! Lagi bicara tentang apa ini, Bukdek?” tanya Dimas sembari gosokan rambutnya dengan handuk.

” Bukdek lagi bicara sama Tyo.”

” Ooh…! Saya lihat Bukdek dan Tyo terlihat akrab. Memangnya bicara tentang siapa?”

” Ngobrolin Rino” jawab Tyo memotong pembicaraan.
Bu Rita terlihat diam. Seperti ingin alihkan topik pembicaraan hingga ini terwujud. ” Dim, Rino tadi titip salam sama kamu.”

” Oh! Iya. Bagaimana kabar Rino sekarang?”

” Baik. Dia sekarang sibuk basket. Bahkan dia ikut turnamen basket tingkat mahasiswa di Bandung sekarang ini. Oleh karena itu, ia tidak pulang kesini. Sepertinya dia mengikuti jejakmu, Dim!”

” Kalau begitu, aku senang sekali, e! Semoga dia sukses.”

Bu Rita terlihat senang dengan ucapan Dimas. Tyo terus memandangi kegembiraan yang tercipta ini. Terlihat kalau Dimas bisa menyenangkan hati ibu sahabatnya meski ia sudah menjadi mantannya.

***

” Tyo. Mau ikut aku ndak?”

” Mau kemana?”

” Main basket.”

Tanpa berpikir panjang, Tyo menerima tawaran Dimas. Dengan menaiki sepeda motor, Dimas membawa Tyo menuju lapangan basket yang berlokasi dekat dengan perumahan mewah yang berlokasi tidak jauh dari jalan raya Ahmad Yani. Setelah memarkirkan motornya, Dimas dan Tyo mulai bermain basket.

” Ayo, Tyo! Kita tunjukan siapa yang terbaik!” ujar Dimas disambut dengan senyuman indah Tyo.

Dimas langsung merebut bola dari Tyo. Sisi kelincahan Dimas bagaikan angin yang berhembus cantik namun memesona. Cepat melesat namun membuai dengan ribuan pesona. Awalnya, Tyo berhasil memasukan bola ke ring 2 kali.

Namun semua berubah ketika Dimas menunjukan kemampuannya sekaligus pesonanya. 8 kali, Dimas berhasil memasukan bola ke dalam ring. Setelah istirahat 15 menit, Tyo tidak berhasil memasukan bola satupun. Hingga pertandingan berakhir, Dimas menguasai semuanya.

Sore hari, matahari mulai menurunkan suhunya. Dalam suasana penat yang menghujam, Tyo dan Dimas melepas dahaga dengan air yang mereka bawa. Tawa riang menghiasi waktu yang selalu identik dengan pulang kerja ini.

” Akhirnya aku bisa menang dari Tyo!”

Ucapan Dimas yang terlihat senang itu membuat semangat Tyo seperti kerupuk yang direndam di sayur asem hingga kalimat sindiran bagai senjata yang melindungi dia hingga titik darah penghabisan.

” Iya deh. Aku kalah dari seseorang yang sangat berbakat dalam basket. Aku akui keunggulan tingkat dewa-mu.”

Ekspresi Dimas yang sedikit terkejut atas ucapannya membuatnya menenangkan Tyo yang terlihat minder.

” Ah! Aku ndak seperti yang kamu pikirkan. Aku juga banyak kekurangannya meski berada di bidang lain.”. Tiba-tiba, Dimas alihkan jalur pembicaraan dengan canda.

” Tapi aku senang, kamu mengakui kemampuanku dalam basket. Kalau basket saja bisa, bagaimana kalau menaklukan hatimu?”

Tyo gelengkan kepala. Tersenyum sinis.

” Asalkan kamu tidak menempatkanku seperti bola basket ini.”. Tiba-tiba, Tyo melempar bola basket dengan kencang.

Dengan sigap, Dimas berhasil menangkap bola sembari menanggapi ucapannya.

” Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya. Kalau aku berhasil, aku akan menjadikanmu seperti minuman ini.”.

Tatapan matanya mengarah ke minuman yang ia konsumsi. Tyo tertawa kecil dan Dimas ikut tertawa.

Disaat keceriaan itu mekar, rangkulan tangan mulai mendarat di pundak Tyo dan Dimas. Yang tidak terduga di benak mereka pun terjadi.

” Tyo. sudah selesai main basketnya?”

” Lho, Aji!” ucap Tyo dengan terkejut.

Dimas yang dirangkul Pardi lalu bertanya pada Aji. ” Kalian kapan tiba dari Jogja?”

” Tadi siang.” jawab Pardi sembari merangkul Dimas.

Dimas dan Tyo anggukan kepala. Dimas lalu berkenalan dengan Pardi. Saat berkenalan, teman-teman Tyo datang menghampiri.

” Tyo! Lo main basket gak ngajak-ngajak kita!” ucap Gio dengan nada kelakar khas anak Jakarta.

” Tau nih! Tyo sekarang jadi egois sama kita-kita!” tanggap Astrin sembari ikut berkelakar.

Tyo yang terlihat keluh dibela Dimas dengan kelakar. ” Lagian, kalian ini baru datang. Coba kalau datang pas siang tadi, ndak akan sampai ketinggalan kan?”

Gio yang agak sedikit tersinggung dengan ucapan Dimas lalu menetralkan suasana. ” OK. Dim, kita main yuk!”

” OK! Aji, Tyo, teman-teman mau ikut juga?” tanya Dimas mengajak lainnya hingga anggukan kepala mereka membuka semuanya.

Tyo, Dimas, Astrin, Daniel, Gio, Zain, Damar, Hasan, Aji, Pardi, Defri, Warno, Lukas dan Fajri mulai bermain basket dengan antusias. Tidak ia sangka, Aji, Pardi dan Zain juga mahir bermain basket. Tyo cukup kagum dengan hal tersebut. Bagi teman-teman lain, keceriaan dan kebersamaan dalam permainan basket adalah yang mereka inginkan. Tawa riang menghiasi senja hingga hijab pembatas petang membuka tabirnya.

” Teman-teman, sudah masuk Maghrib nih! Kita bubaran saja yah!” ucap Pardi mengingatkan teman-temannya hingga mereka menyudahi permainan yang sangat cantik ini.
Saat mereka menuju rumah Aji, Dimas mulai berpamitan dengan Aji dan yang lainnya. ” Ji. Aku sama Tyo balik ke rumah ya!”

” Kamu ndak mau main ke rumahku dulu, Dim?”

” Ndak. Aku sama Tyo mau mandi dulu. Setelah itu aku mau ajak Tyo keliling Surabaya.”

Tiba-tiba Gio langsung menanggapi sekaligus memberi saran dengan yang lain. ” Kalau begitu, kita bareng aja. Aku juga pengen liat lingkungan Surabaya. Gimana menurut teman-teman?”

” Ya sudah. Kalau aku, setuju dengan saran Gio.” jawab Aji dengan semangat dan disambut dengan anggukan teman-teman Tyo lainnya. Setelah itu, Aji bertanya sesuatu pada Fajri.

” Bagaimana dengan koordinasinya, pak ketua angkatan?”. Seketika, tawa pecah disertai dengan gelengan kepala dan senyum kecut Fajri yang dicandai Aji.

Bersambung