Yang Pertama Dan Terakhir Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 6

Dimas dan Tyo mulai merapihkan kamar kos yang baru mereka tempati. Kamar kos milik Pak Wardono ini terlihat kecil dari luar, namun terasa luas saat memasukinya. Di dalamnya, hanya bekas tempat tidur tanpa kasur, meja belajar, kursi dan lemari.

Di kamar mandi, terdapat bak mandi, gayung dan tempat peralatan mandi. 3 hari sebelumnya, Tyo dan Dimas menyurvei tempat kos tersebut. Awalnya, Dimas ingin menempatinya satu bulan setelah survei. Namun, Tyo ingin segera pindah. Dimas tahu, ia merasa tidak nyaman dengan tempat kos lama.

Tempat kos dimana Tyo diposisikan seperti seorang pria penghibur yang bisa dibelai lelaki hidung belang kapan saja. Dimas pun ikut menyetujui permintaannya.

Tyo mulai memindahkan barang-barangnya ke kosan baru disaat penghuni kosan sedang kuliah. Ia sengaja pindah dengan diam-diam agar mereka tidak mencurigai. Kepada penjaga kosan, ia mengatakan bahwa ia ditempatkan di asrama mahasiswa. Tyo langsung menyerahkan kunci kosan dan pergi diam-diam. Mengubur kenangan pahit yang mereka berikan padanya.

Dimas langsung mengemas barang miliknya setelah kuliah. Dengan dibantu Aji dan Gio, Dimas membawa ke kosan baru. Tidak ia sangka, Tyo sudah berada di kamar baru. Mereka mulai menata barang yang mereka bawa. 1 jam berlalu, mereka selesai menata barang bawaan mereka.

” Ji, Gio. Terima kasih atas bantuannya.”

” Sama-sama.” ucap Aji dan Gio. Aji langsung mengingatkan Dimas, Tyo dan Gio. ” Hari ini karena ndak ada kegiatan, kita fitness yuk!”

Mereka gelengkan kepala. Berterima kasih atas Aji yang sudah mengingatkan dirinya.

Hawa malam membasahi udara kamar kosan baru. Setelah berkutat dengan aktivitas kebugaran dan besarnya konsistensi Dimas untuk melatih Tyo, mereka mulai rebahkan diri di kasur Dimas yang dilapisi kasur Tyo.
Meski tidak seempuk kasur spring bed, namun mereka cukup senang. Tepat di hadapan tempat tidur, terpasang sebuah televisi milik Dimas. Biasanya, ia senang menonton acara berbau olahraga dan pertandingan sepakbola. Sangat berbeda dengan Tyo yang lebih senang menonton acara wisata kuliner dan jalan-jalan.

Dan pembicaraan mulai mengarah kepada rasa.

” Tyo. Kamu tahu ndak?”

” Tahu apa?”

” Saat kita menikmati teh hijau di pagi hari, sensasi ketenangan akan menyebarkan keindahan hati.”

Kebingungan mulai menghiasi wajah Tyo. ” Bagaimana bisa?”

Untaian senyum mulai memancar dari bibir indah Dimas dan ia mulai memberi jawaban yang Tyo tunggu.

” Teh hijau memiliki antioksidan yang dapat memberi ketenangan pada saraf tubuh. Dan itu bisa terjadi bila kita rutin mengonsumsi setiap hari.”

Anggukan Tyo memberi jawaban padanya. Perlahan, pembicaraan mulai mengarah kepada sesuatu yang tidak ia duga.

” Sebenarnya…………………..”

Tyo menunggu setiap huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga maksud demi maksud darinya. Menunggu yang ia inginkan demi sebuah harta tak ternilai hingga ia mulai mendapatkannya.

” …………Aku tahu saat kamu lagi ke kamar mandi, aku ndak sengaja buka buku harianmu. Jujur, aku belum baca isinya. Namun aku ndak sengaja lihat foto yang ada di buku itu. Aku sadar, aku telah mengetahui rahasia temanku sendiri. Namun, aku pun tahu kalau kamu juga memiliki rasa pada pria. Foto 2 pria itu menjadi bukti kuat untuk memberi keyakinan itu. Karena hal itu, aku mulai berani menyatakan diri untuk merajut kasih ini. semua terserah padamu. Apa kamu akan menerimaku atau tidak sekaligus menjadikanku sebagai sahabat saja. Dari semua itu, aku hanya ingin satu hal. Maukah kamu menerima dekapan ini?”

Tidak Tyo sangka, Dimas mulai menyatakan rasa. Seperti angin yang menerbangkan serbuk sari demi menyemai kelangsungan hidup bunga-bunga di permadani bumi. Memberi rasa dan keindahan yang menyejukan. Namun hujan mulai membiaskan semuanya.

Perlahan, tetesan hujan semakin besar dalam sanubarinya. Akibatnya, ia seperti batu yang sangat keras. Sulit menguntai maksud sesuai yang sanubarinya rasakan. Dan Dimas langsung melakukan seperti ular yang melilit mangsanya dengan erat namun terasa hangat dan menenangkan. 5 menit terbang menjuntai rasa. Tyo mulai mengungkapkan rasa padanya.

” Dim. Sebenarnya, aku mulai menaruh kekaguman padamu sejak pertama bertemu. Jujur, kamu memiliki badan kekar, paras tampan, jago basket dan sifat peduli dengan teman. Sebagian karakteristik itu ada juga pada diri Fahmi dan Kamal. Entah mengapa, aku selalu teringat dengan mantanku saat melihatmu. Namun aku sadar, waktu tidak dapat kuputar ulang. Keindahan hubungan dengan mantan terlalu membuaiku. Aku bimbang, bagaimana melanjutkan semua ini.”

Dekapan hangat terus menaungi dirinya. Memberi ketenangan pada perasaannya. Dimas mulai mengutarakan rasa yang selama ini ia simpan.

” Kupu-kupu lahir dari ulat yang mengalami perjuangan sangat keras dalam mengarungi kehidupannya hingga ia membentuk kepompong. Dan perjuangannya belum selesai. Ia harus mengalami pergulatan di dalamnya. Itulah yang aku alami. Namun aku juga manusia. Masih punya rasa. Apalagi, Rino telah memutus hubungan itu. Saat aku melihatmu, ada Rino dalam pancaran sinar matamu. Aku berusaha mengingkari rasa itu. Namun aku tidak bisa melakukannya. Mungkin aku telah menemukan takdir ini.”

Tyo mulai mendekap Dimas. Saling memberi kehangatan rasa. Dalam belantara rasa yang menyelimuti hati mereka, ada satu hal yang sangat mereka rindukan. Rasa cinta. Hakikatnya, Tyo dan Dimas ingin menikmati rasa cinta selayaknya orang pada umumnya.

Namun rasa trauma yang sulit pupus sekaligus kenangan indah di masa lalu terus menyelimuti mereka. Pada satu titik, pada kesempatan emas yang mereka nantikan, Tyo dan Dimas mulai menyatakan rasa itu.

” Intinya, kamu mau menerimaku dalam ruang hatimu?”

Tyo mengakhiri dekapannya, menatap matanya dan meresapi maksudnya. Setenang air mengalir di sungai yang tenang. Anggukan mulai membuka sebuah hubungan hingga lilitan ular memberi kehangatan bagi hatinya.

***

” Umar, apa maksud kamu mengeliminasi kami dari keanggotaan KMFT?”

Pria itu lalu memberi argumentasi diskrimiatif sepedas cabai seberat 20 kg kepada Juwarno yang mempertanyakan keputusan menyakitkan itu. ” Teman-teman sering melihat kalian akrab dengan anak-anak Katolik itu. Itu yang membuat kami tidak bisa menerima kalian.”

” Apa salah, seorang aktivis KMFT memperluas jaringan pertemanan dengan orang lain meski mereka berlainan agama dan merupakan teman-teman satu angkatan?”

Pertanyaan itu justru berbalas jawaban Umar lebih pedas menuju dirinya. Bahkan, Fajri, Zain, Astrin, Pardi dan Hasan yang bernasib serupa dengan Warno ikut menerima panah yang sangat pedas ini.

” Kamu harus ingat, kita adalah organisasi apa! Kita ndak bisa menerima anggota yang terlalu akrab dengan mereka meski satu angkatan dengan kalian. Ingat surat Al Baqarah ayat 120 dan Al Maidah ayat 51! Kalau kalian tetap bersikeras pada pendirian kalian, jangan harap kalian akan kami terima lagi. Bahkan tidak sulit bagi kami untuk memberi stigma Kafir pada kalian”.

Suasana ruang sekretariat KMFT bagai panci yang di panasi api dari lava Gunung Merapi. Demi mencegah kekisruhan yang akan berakibat fatal bagi mereka, akhirnya mereka keluar dari ruangan itu. Namun sebelumnya, Fajri melontarkan kata terakhirnya.

“Ingat Umar, Agama kita mengajarkan kasih sayang. Agama kita adalah rahmat bagi alam semesta. Tidak patut bagi kita untuk mengambil bara api permusuhan dan melemparkannya kepada mereka yang bukan termasuk golongan kita.”

Tiba-tiba seorang pria yang dikenal bernama Usman ini memperkeruh suasana dengan pernyataannya.

” Sana kamu pergi! Dasar orang kafir! Sana berkumpul sama anak-anak Katolik itu! Kalau perlu kamu jadi bagian dari mereka!”

” UDAH! SANA PERGI, ORANG KAFIR!” teriak pria yang kemudian dikenal sebagai Ali ini.

Fajri, Warno dan yang lainnya meninggalkan ruang sekretariat dengan hati yang sangat panas. Bahkan Astrin mulai menitikan air mata. Menggambarkan perasaannya saat ia dan teman-temannya harus meninggalkan ruang sekretariat organisasi yang mewadahi aktivis agama mereka hanya karena terlalu akrab dengan umat di luar agama mereka.

Rasa sakit ini mulai mengalir deras melalui sorot matanya hingga teman-teman yang lain ikut melihat apa yang ia alami. Warno yang tepat di sebelahnya berusaha menenangkan sekaligus menghibur Astrin.

” Sudah, yaa akhi…. Mungkin ini adalah kehendak-Nya.”

” Tapi kenapa kita harus alami peristiwa pahit ini?” tanya Astrin yang masih berbalut kesedihan.

Warno dan yang lainnya diam seribu bahasa. Membeku dalam bara api yang menyelimuti hati mereka. Bagi mereka, keputusan itu adalah racun yang sangat mematikan keinginan mereka untuk berkontribusi bagi organisasi yang selalu menjadi sponsor setiap kegiatan keagamaan yang dilaksanakan umat agama mereka.

Satu hal yang tidak habis kupikirkan, mengapa orang selalu membeda-bedakan orang lain berdasarkan agama? Apa salah bila antara agama yang satu dengan yang lainnya hidup berdampingan? Mereka juga manusia.

Namun, pertanyaan ini tidak akan bisa menyadarkan orang yang selalu menganggap dirinya benar. Bahkan batu pun tidak akan bisa menyaingi kerasnya hati mereka.

***

” Astrin. Ada apa sama lo? Kalau ada masalah, cerita dong!”

Tyo berusaha membujuk Astrin yang tergolek lemah di Rumah Sakit. Satu minggu sudah, ia habiskan waktu disana. Meratapi nasib yang menimpanya. 2 hari setelah peristiwa itu, Astrin jatuh sakit hingga ia harus dibawa Zain ke rumah sakit.

Teman-teman seangkatannya mulai menjenguknya dan berusaha menanyakan peristiwa sebenarnya. Bahkan, Tyo mencoba untuk bertanya pada Fajri, Daniel dan yang lain. Namun mereka seperti batu yang membeku.

Tidak mau menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Hingga Gio dan Aji ikut membantu Tyo membujuk mereka. Pada saat itu, terbukalah penyebab yang mereka cari.

Rasa terkejut mulai menaungi pikiran mereka hingga Aji berinisiatif menemui orang-orang KMFT itu, namun dicegah Tyo, Zain dan Fajri. Tyo dan teman-temannya tidak menyangka, menjadi penyebab mereka dikeluarkan dari organisasi itu.

” Iya, Trin. Kalo lo kayak gini terus, lo akan ngerugiin diri lo. Temen-temen lo pasti akan sedih.” bujuk Gio dengan halus.

” Iya. Kalau ada masalah, cerita saja. Kita kan teman satu angkatan. Susah senang harus dirasa bersama-sama.” ucap Daniel yang ikut menghibur Astrin yang sedang terpuruk kondisi psikologisnya.

Air mata terus mengalir dari mata yang memerah. Menjadi bukti atas rasa sakit yang menghampiri sanubarinya. Namun, pegangan hangat dari tangan seorang Bimatama Prasetyo mulai meluluhkan semuanya. Perlahan, kisahnya terbuka dengan tenang.

Sejak SMA, dia sangat senang ikut organisasi keagamaan. Bahkan ia ingin berkontribusi di dalamnya. Selain itu, ayahnya juga adalah alumni organisasi keagamaan yang terkenal di Indonesia.

Dia sangat ingin membuat orang tuanya bangga. Apalagi, dia adalah anak pertama diantara 3 adik-adiknya yang semuanya perempuan. Rasa terobsesinya semakin besar ketika ia selalu menceritakan kegiatannya di organisasi itu setiap ia menelepon keluarganya.

Dan itu hancur dalam sekejap. Perlahan, air mata menetes dari pelupuk mata Tyo. Ikut merasakan yang ia alami.

” Sudah, Trin. Anggap itu adalah masa lalu. Peristiwa itu bukan akhir segalanya. Lo masih punya angkatan 2009. Lo bisa berkontribusi dengan kita. Bahkan kita yang lebih menghargai lo daripada mereka. Gue yakin, lo bisa berkontribusi lebih jika berada bersama kami.”

Nasihat Tyo mulai memadamkan rasa panas yang sangat menyakitkan pada hatinya. Tergantikan untaian senyum meski air mata masih bersisa tanpa akhir. Gio pun ikut menghibur.

” Yang dibilang Tyo itu bener, Trin. Lo bisa lakuin apa yang lo suka kalo gabung sama kita. Yang penting, lo jangan sedih kayak gini. Untuk urusan sama orang tua lo, lo bisa minta bantuan gue atau Tyo untuk jelasin masalahnya.”

Untaian senyum semakin merekah dari bibir merahnya. ” Terima kasih atas nasihatnya ya. Kalian teman yang baik.”

” Gak usah kayak gitu! Kita kan teman. Saling membantu adalah kewajiban yang paling utama, kan?”

Astrin terus menguntai senyum. Gio dan Tyo ikut tersenyum sekaligus memberi dekapan bersama sebagai tanda bahwa yang dialami Astrin mulai luruh. Suasana sedih berganti dengan tawa dengan cantik.

***

” Tyo. Sepertinya ucapan Kevin saat kerja kelompok itu ada benarnya, deh!”

Tyo terkejut. Ia masih ingat dengan ucapan Kevin itu. Restoran rumah sakit yang terasa panas di siang hari semakin menambah rasa panas dengan pernyataannya. Namun, hal itu segera berubah menjadi senyum atas kesetujuannya.

Namun, satu pertanyaan yang masih membayangi benaknya, mengapa orang terlalu diskriminatif dengan orang atau kelompok yang berbeda pendapat dengannya hingga menjadikannya sebagai musuh bebuyutan yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya?

***

Tyo, Eko dan Kevin asyik mengerjakan tugas Ilgiz di selasar kampus. Suasana siang mulai menunjukan sifatnya. Namun, kondisi ini semakin panas ketika ia melihat Intan dan Ratu yang sedang membopong Safira bersama warga sekitar hingga semua mahasiswa mendekatinya. Kevin, Eko dan Tyo ikut mendekati mereka.

” Ratu, Safira kenapa?”

Dalam suasana cemas, Ratu menjawab pertanyaan Tyo.

” Safira habis dihajar sama anak-anak universitas sebelah.”

Eko pun ikut bertanya pada Ratu yang masih panik sembari memberikan obat luka pada Safira.

” Bagaimana ceritanya, Safira bisa diperlakukan seperti ini?”

Belum sempat Eko mendapat jawaban, ambulans yang dipesan pihak fakultas datang membawa Safira menuju Rumah Sakit. Pak Doni sebagai Dekan ikut menemani Safira, Ratu dan Intan di dalam ambulans. Suasana panik terus membayangi Intan dan Ratu. Namun, Eko terus menenangkan mereka.

Saat Safira dirawat di Rumah Sakit, Eko mendapat jawabannya. Ratu mulai cerita. Saat itu, Ratu ingin makan siang bersama Intan di Warung Nasi Pecel dekat univeristas tetangga. Tiba-tiba, 10 pemuda datang menghampirinya sekaligus melakukan pelecehan seksual.

Saat Ratu dan Intan diganggu, Safira datang menolong dan meminta Ratu dan Intan menjauh dari tempat itu. Safira lalu melawan mahasiswa itu. Namun malangnya, Safira dikeroyok habis-habisan oleh 10 pemuda itu. Warga sekitar lalu mengejar pemuda-pemuda itu.

Sayangnya, mereka kabur dengan cepat memakai motor. Alhasil, Safira dibawa Intan, Ratu dan warga sekitar ke kampus. Eko yang mendengar cerita itu seperti air yang mendidih dalam panci yang dipanaskan di lava Gunung Kelud. Namun, Kevin dan Tyo berusaha menenangkan mereka. Eko, Kevin dan Tyo bisa tenang setelah Pak Doni langsung menelepon polisi.

Satu minggu setelah itu, Safira menemui kesembuhannya. Ia tetap beraktivitas seperti biasa. Menjadi aktivis di KMMU sekaligus UKM Pencak Silat. Saat Tyo menanyakan perihal peristiwa itu, ia terkejut kalau Safira ingin membela mereka dengan kemampuan Silat Minang yang ia miliki.

Dari penuturan Safira, Tyo pun mengetahui kalau Safira mulai menekuni Silat Minang sejak kelas 3 SD. Di kampung halamannya, keahlian itu menjadi sebuah kewajiban bagi warga di tempat tinggalnya.

Apalagi keahlian itu sangat diperlukan bagi orang yang ingin sekali merantau. Di balik itu semua, Tyo cukup salut dengan keberanian wanita yang selalu tampil berhijab ini.

Terkait kasus yang Safira alami, Pak Doni lega ketika mengetahui kalau pelakunya telah tertangkap. Namun, ia terkejut kalau pelakunya adalah mahasiswa universitas tetangga. Pak Doni semakin terkejut ketika mengetahui kalau mereka adalah anak UKM Basket.

Gara-gara hal ini, Rektor turun tangan menyelesaikan persoalan itu. Bijaknya, Rektor universitas tetangga mengakui kesalahan dan meminta maaf. Meski pernyataan maaf telah keluar, namun dendam kultural terus menaungi pikiran mahasiswa di kampusnya.

Pikiran yang berisi pertanyaan-pertanyaan misterius itu terus menemaninya hingga ke kosan. Dimas yang terus memerhatikan Tyo yang sedang memandang langit mulai mengajak bicara.

” Lagi lihat apa sih, Tyo?”

” Aku lagi lihat bintang. Tapi belum muncul.”

” Ya jelas! Ini kan masih jam 8 malam.”

Tyo yang langsung melihat jam di HP-nya lalu beranjak dari pintu rumah dan duduk di atas kasur dengan wajah murung. Dimas yang sangat kasihan dengan Tyo mulai mencoba membujuk Tyo untuk curhat. Awalnya, Tyo agak berat untuk curhat. Namun tatapan elangnya yang indah sekaligus dekapan hangat mulai melelehkan lilin yang sangat keras.

Dan Tyo mulai bercerita padanya sembari terus menatap wajahnya.Ia sedih ketika mendengar cerita Astrin dan Ratu terkait penolakan sekelompok orang yang tidak suka pada mereka hingga harus teraniaya seperti itu. Bahkan, Tyo mengingatkan kembali dengan cerita ketika ia dijauhi teman-temannya saat masa sekolah. Dan pertanyaan retoris muncul dari bibir indah Tyo.

” Apakah mereka punya hak untuk menyiksa orang-orang yang tidak sederajat padahal sama-sama manusia?”

Pertanyaan itu membuat Dimas mengusap wajah Tyo. Tyo lalu beranjak menuju tempat tidur dan Dimas langsung mendekapnya. Menenangkan pikirannya yang tertutupi pengalaman memilukan itu.

” Tyo. Meski perbedaan adalah sebuah takdir, tapi tidak semua orang dapat menerimanya. Saat kupu-kupu datang ke sarang lebah, lebah-lebah itu akan mengusir kupu-kupu yang menghampirinya. Bahkan kalau perlu, mereka akan membunuhnya. Namun kamu perlu tahu, manusia adalah makhluk yang memiliki rasa. Masak, kita mau disamakan dengan binatang yang tidak memiliki rasa? Aku yakin, suatu saat, hukum karma berlaku atas mereka.”

Penjelasan Dimas bagaikan hujan yang memupuskan api yang membakar hutan. Menyelamatkan hutan sekaligus meneduhkan langit dengan cantik. Tatapan elang Dimas memberi keyakinan atas keraguan yang menghinggapi pikirannya. Entah mengapa, ada hembusan kedamaian saat ia melihat wajah Dimas.

Bagi Tyo, melihat wajah tampannya seperti oase di tengah padang pasir. Namun ada kekhawatiran pada pikirannya. Akankah nasib hubungannya seperti yang ia alami saat bersama Fahmi dan Kamal? Biarlah waktu menjawabnya. Tiba-tiba, Dimas mengejutkan dirinya.

” Hooi! Bengong nih!”

” Ah…Enggak.” sanggah Tyo dengan meyakinkan.

” Masih ragu dengan ucapanku?”

” Enggak! Aku yakin, rasa pahit ini akan terbayarkan dengan kehidupan yang manis.”

” Iya! Semanis wajahmu itu, sayang.”

Dimas mulai memuji Tyo yang berada dalam dekapannya. Kaus singlet tanpa lengan dengan kerah yang cukup lebar membuainya untuk menyentuh dadanya yang terlihat bidang dan merasakan detak jantungnya. Semakin bertambah menegangkan saat Dimas menyentuh kepalanya untuk mendekatkan dengan detak jantungnya.

” Dim, detak jantung ini mengingatkanku dengan yang kualami saat bersama Kamal. Seringkali saat tidur, aku sering bersandar di dadanya. Merasakan ketenangan yang paling indah hingga ia memanfaatkannya dengan mengecup bibirku dan meresapi aroma tubuhku. Mungkin, kamu juga pernah bersama Rino. Namun sekarang, aku bersama dengan seorang binaraga tampan…..”

Tiba-tiba Dimas langsung menyentuh mulutnya dengan telunjuk. Menghentikan pujian yang ia anggap berlebihan hingga untaian kata balasan meredakan semuanya.

“Tyo. Aku bukanlah orang yang sempurna. Meski kamu angggap aku sebagai binaraga tampan, kekar dan memesona, bagiku ini adalah sebuah penilaian orang lain dan aku tidak merasakan apa yang kamu rasa.

Bisa saja aku akan memujimu karena wajah tampanmu. Tapi aku tidak mau memuji berlebihan pada orang yang kusayangi. Aku takut bila ketidakjujuran menghampiriku. Perlu kamu tahu, aku tidak mau mencintai seseorang hanya karena fisik semata.”

Tyo terdiam dengan ucapannya. Dalam hatinya, ia sadar kalau mencintai berdasarkan fisik, bukan hati. Namun hatinya merasakan kegalauan yang sangat pekat. Bukan karena sisi fisik Dimas, namun pada sisi hati. Dia khawatir,peristiwa itu terulang kembali.

” Dim. Saat ikan ditempatkan di air yang berbeda, ia akan terbiasa hidup di air tersebut meski perlu adaptasi yang sangat lama.”

Dimas pun mengetahui maksud ucapannya dan meminta satu hal. ” Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?”

” Berikan aku waktu untuk bisa menerimamu dengan cara memberiku waktu untuk membentuk tubuhku supaya terlihat atletis dan indah di matamu. Selain itu, aku berharap kamu tidak mengecup bibirku pada masa-masa itu.”

Dimas lalu memandang paras Tyo dengan cantik. Menelusuri lekukan wajahnya dengan tenang dan indah. Seperti kupu-kupu yang menatap mawar, ia terus memberi pandangan tersebut.
” Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Aku mencintaimu karena aku ingin mencintaimu. Tidak ada yang dapat menggantikan Rino kecuali kamu. Kamulah takdirku, sayang.”

Perlahan, senyum tersungging dari wajah Dimas dan diikuti dengan Tyo. Dimas dekatkan kepalanya dengan dadanya. Merasakan detak jantung penanda kejujuran rasa yang ia miliki.
” Permintaanmu selalu kamu ulang. Tapi tidak apa-apa. Aku akan membantumu mewujudkannya. Biarlah kita rasakan dekapan ini, sayang.”

Kipas angin Dimas dan Tyo saling bersahutan. Memberi tanda bahwa rasa ini akan berjalan. Menghilangkan sekat perbedaan yang berujung pada hilangnya diskriminasi dalam pergolakan hati mereka. Biarlah waktu yang akan membantu mewujudkannya.

***

Sore hari memancar Kota Yogyakarta dengan cantik. Keanggunan memancar ke segala sisi. Tak terkecuali di tempat fitness. Suara dummble beradu dengan cantik. Memacu semangat pelaku olahraga yang sangat menjanjikan untuk membuat tubuh terlihat seperti binaraga.

Gesekan alur treadmill ikut mewarnai suasana itu. Keramaian tempat itu semakin lengkap dengan aktivitas senam yang diikuti Tyo dan teman-temannya. Kelas Body Strike yang dipandu Dimas menghiasi suasana kelas senam. Bahkan, peserta yang sebagian besar adalah mahasiswi dan ibu rumah tangga ini sangat antusias padanya.

Kelas Body Strike usai. Aroma peluh menghiasi setiap sisi diri mereka. Jam 6 sore memberi penanda dengan cantik. Aji dan Damar melanjutkan latihan dummble. Gio, Defri dan Daniel duduk santai di ruang tunggu. Saat melepas penat, Defri sedang mengamati Kevin dengan cermat.

” Def, kamu lagi lihat siapa?” tanya Daniel dengan penasaran.

” Aku lagi lihat Kevin. Dia kayaknya sangat rajin latihannya.”

Gio ikut memberi komentar layaknya pengamat ” Emang, dia itu terobsesi banget dengan bentuk tubuh seperti Aji dan Dimas.”

Gio lalu bercerita terkait keinginan Kevin untuk memiliki bentuk tubuh seperti Aji atau Dimas. Kalaupun tidak terwujud, ia berharap bisa memiliki seperti yang dimiliki Daniel. Setidaknya, ia ingin terlihat lebih baik.

Bila Defri, Gio dan Daniel tetap mengamati Kevin, Tyo justru ditemui Damar dengan membawa teman-teman angkatannya. Lukas, Eko, Zain, Astrin, Pardi, Hasan, Warno danFajri.

” Kalian ikut juga?”.

Pertanyaan Tyo seperti orang pada umumnya. Tidak percaya dengan seseorang yang masuk ke organisasi yang selalu melihat persoalan sebatas dialektika hitam-putih menurut ajaran agama. Namun, mereka seperti memberi petunjuk kepada Tyo dan yang lainnya bahwa tidak seperti yang disangkakan.

Bahkan penampilan mereka sangat berbeda ketika masih mengikuti organisasi itu. Modis dan maskulin, seperti anak muda umumnya.

“Iya. Gue mau ikut kalian. Apalagi ini bagus buat kesehatan.”. Jawaban Astrin diamini yang lain, termasuk Lukas. Mereka diajak menemui Gio, Daniel, Defri dan Damar yang sedang duduk-duduk santai.

” Wiiih……………! Kalian mau ikutan fitness juga?” tanya Gio seperti orang yang tidak percaya dengan situasi yang ia lihat. Anggukan mereka memberi tanda kesetujuan atas niat mereka.

” Wah…seru dong! Teman-teman angkatan kita pada ikut kegiatan seperti ini. Pasti seru deh!” ucap Gio semangat.

” Ya…gitu deh.” tanggap Astrin santai hingga Defri mulai bertanya kegiatan selanjutnya.

Awalnya,mereka mau latihan angkat beban dulu. Namun Daniel menyarankan agar latihan treadmill dahulu. Mereka langsung latihan treadmill seperti yang disarankan. 40 menit berlalu dengan indah, Tyo lalu menawarkan sesuatu pada mereka.

” Teman-teman, kalian mau ikut Yoga, ndak?”

Mereka tanpa berpikir panjang ikut tawaran Tyo. Beruntung, kelas cukup ramai dan sebagian besar diikuti perempuan. Meski hanya mereka sebagai representasi pria, namun tidak ada yang perlu ditakutkan. Para perempuan ini tanpa sungkan selalu membantu laki-laki yang tertarik dengan kelas ini.

Ditambah lagi dengan dipandu Cici Evelyn, instruktur Yoga yang pernah memenangkan kontes Yoga Internasional di Hongkong di tahun 2009, kelas semakin berasa semangat.

Tyo lagsung menuju toilet setelah 60 menit berkutat dengan kelas Yoga. Teman-teman yang lain masih melanjutkan latihan. Saat mengambil pakaian di loker, ia bertemu Kevin yang sedang menunggu seseorang yang keluar dari bilik kamar bilas.

” Vin, sendirian aja? ”

” Iya. Aku lagi nunggu seseorang”

” Siapa?”

” Ndak ada siapa-siapa. Aku juga mau mandi sih. Kamu juga, kan?”

” Iya. Tapi ndak perlu sampai ditunggu gitu juga kali!”

Kevin hanya bisa tersenyum sinis. Tyo hanya gelengkan kepala dengan sikapnya. Sulit ditebak. Ia pun langsung alihkan pembicaraan.

” Vin. Kalau kulihat,kamu terlalu semangat latihannya.”

” Iya. Kalau ndak semangat, sia-sia juga aku kesini.”

” Memangnya, kamu mau ngebentuk badan seperti siapa?”

” Minimal seperti Framly Nainggolan. Sukur-sukur seperti Adrian Maulana atau Marcelino Lefrandt.”

Tyo terkejut. Tidak ia sangka, obsesi Kevin tertuju pada 3 artis itu. Meski terlihat sebagai sebuah tujuan, Kevin memiliki ruang pembuktian untuk mewujudkan cita-citanya itu. Setidaknya, seperi ayam yangmerindukan terbang di angkasa yang luas.

” Ah! Kamu ini. Memangnya,sudah sampai mana usahanya.” tanya Kevin bernada canda.

” Mau lihat?”

Kevin langsung melepas kaus A-Shirt yang ia kenakan. Tyo cukup takjub dengan bentuk tubuh Kevin. Meski otot-otonya tidak serupa dengan Dimas atau Aji, namun bentuk tubuhnya hampir seperti Daniel. Terlihat Atletis, namun proporsional dan tidak terlalu seperti binaraga.

Otot lengannya kokoh dan terlihat lekukan yang sangat menawan. Seperti melihat pahatan Patung David karya Michaelangelo pada dirinya. Memesona namun artistik hingga ia terus memandangnya. Ditambah lagi dengan parasnya yang terlihat seperti orang Tionghoa, menambah pesona yang tidak ada ujungnya.

Bahkan melebihi artis korea yang diidolakan masyarakat. Dan tepukan tangan Kevin memecah untaian pandang atas pesona tersebut.

” Hei! Diam aja, nih!”

Tyo langsung gelengkan kepala. Memupus rasa kekaguman pada bentuk tubuh yang dimiliki Kevin. ” Ndak! Aku cuman kagum kok. Kenapa kamu bisa punya bentuk tubuh seperti itu.?”

” Aku kan sering latihan disini. Selain itu, aku jarang makan-makanan berlemak. Kalau kamu mau niat seperti aku, kamu juga bisa. Asalkan konsisten. Selain itu, perutmu yang gendut itu harus dibiasakan menerima sayuran dan buah-buahan kalau mau punya bentuk tubuh sepertiku.”

” Ndak usah nyinggung berat badan gue lagi!” kesal Tyo dengan eskpresi cemberut layaknya anak-anak yang telah dimarahi ibunya.

Kevin lalu tertawa. Terpancing dengan nada ucapan Tyo yang menyanggah hingga ia menenangkan Tyo yang terlihat kesal dengan ucapannya.” Aku yakin, kamu akan mampu memiliki bentuk tubuh sepertiku. Percaya deh!”

” Emang yakin?”

” Iya dong. Asalkan kamu konsisten latihan dan jaga asupan makanan.”

” OK deh! Aku ikuti saranmu yo!” ucap Tyo hingga Kevin anggukan kepala dan senyumpun merekah dari bibir indahnya.

Orang yang telah selesai mandi pun keluar dari bilik kamar bilas dekat loker hingga Tyo mendapatkan sesuatu tidak terduga.

” Tyo, sepertinya temen-temen sudah selesai fitness deh!” ucap Kevin sambil acungkan telunjuk ke arah pintu masuk toilet. Saat Tyo menengok ke arah pintu, tiba-tiba,Kevin mendekapnya dan mencium pipinya. Sontak, kejutan itu terjadi.

” KEVIIIIIIIIIINNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!” teriak Tyo dengan nada kesal.

Kevin langsung masuk ke bilik. Dengan wajah seperti lipatan kertas origami, Tyo duduk menunggu orang demi bsa mendapat kesempatan untuk membilas tubuh yang lelah setelah bertarung dengan olahraga di tempat yang menjanjikan bentuktubuh indah tersebut. 5 menit kemudian, tirai di bilik tempat Kevin mandi terbuka. Kegilaan berlanjut.

” Tyo. Daripada kamu nunggu lama disitu, lebih baik kamu mandi sama aku saja. Aku siap lho!”

Saat melihatnya, Kevin dalam keadaan telanjang. Hanya tirai yang menutupi sebagian tubuhnya. Tyo langsung membuang pandang atas hal yang sangat menjijikan ini.
Seperti membuang pandang dari melihat sorot sinar X, Tyo langsung pergi menuju loker. Kevin pun langsung masuk setelah ada orang keluar dari bilik sebelahnya. Tyo langsung masuk ke bilik yang sudah kosong itu.

Bersambung