Yang Pertama Dan Terakhir Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 5

” Dim. Apa kamu mau pacaran sama orang gemuk, wajah jelek dan penampilan biasa seperti ini?”

” Rin. Apapun kondisi kamu, aku akan tetap mencintaimu. Aku ndak akan meninggalkan kekasih tampanku ini. Kalau kamu mau menguruskan berat badan, aku siap membantu.”

Dimas lalu mengecup Rino dengan perasaan hangat dan penuh harapan. Harapan agar Rino bisa bersama dengan Dimas. Menyemai benih di tanah harapan akan terlihat indah saat hujan membasahinya.

***

Dimas mendaftarkan Rino di tempat kebugaran yang sama dengannya. Awal latihan, Rino sedikit canggung dengan kegiatan itu. Namun, dengan kesabaran Dimas, Rino bisa mengikuti berbagai latihan pembentukan tubuh, seperti treadmill, dummbling, spinning, yoga dan bodystriking.

Selain itu, setiap minggu pagi, Dimas mengajak Rino ke Tugu Pahlawan untuk latihan lari, push up dan sit up.Setiap hari, Rino harus latihan minimal 4 jam demi membentuk tubuh ideal. Ditambah ia harus memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Tak ayal, 4 bulan pertama, berat badannya turun 12 kg. Kemudian Rino memacunya dengan melatih dummbling secara konsistenselama 2 jam sehari. Hasilnya,ia mendapatkan bentuk tubuh proposional.

Salah satu faktor keberhasilannya adalah adanya semangat dari Dimas. Dimas selalu memotivasi Rino sekaligus memperhatikan Rino saat latihan. Bahkan, ketika selesai nge-gym,Dimas sering mandi bersama Rino. Meresapi aroma tubuhnya dan mengecup bibirnya dengan halus.

Hal ini menjadi pemacu semangat bagi Rino. Bagi Dimas, Rino adalah sahabat sekaligus pacar yang sangat baik. Bukan hanya Dimas yang selalu memberi semangat, Rino juga melakukan hal serupa. Itu terjadi saat Dimas ikuti pertandingan basket mewakili sekolahnya dan kontes raga/body contess. Rino memberi keyakinan kalau Dimas akan berhasil. Dimas pun memberi balasan berupa kecupan hangat sebagai ucapan terimakasih. Dan terbukti, Dimas berhasil dalam setiap pertandingan.

Saat di rumah Rino maupun Dimas tidak ada orang,mereka mengambil kesempatan untukmelakukan permainan yang mereka lakukan pertama kali. Namun, Dimas tidak berani bila ia harus meng-oral dan meng-anal Rino ataupun sebaliknya, karena akan memberi risiko sangat besar.

Biasanya, Dimas dan Rino hanya saling memijat alat vital sekaligus mencicipi aroma tubuh mereka saat bersetubuh. Permainan ini memberi kepuasan tidak terhingga tanpa memakai bantuan alat, kecuali sebuah fleshlight.

Ratusan kali permainan itu dilakukan selama SMA. Meski Dimas mengetahui adanya beban kultural yang dimiliki lingkungannya, ia tetap teguh dalam pendiriannya untuk menjadikan Rino sebagai pacarnya. Oleh karena itu, setiap hubungan dilakukan secara rahasia. Di sekolah, saat istirahat, Dimas dan Rino selalu ke toilet bersama-sama.

Selain buang air kecil, mereka memanfaatkannya dengan melakukan permainan itu. 2 insan tanpa pakaian yang menutupinya melakukan permainan dengan cantik. Dalam aroma khas toilet itu, mereka memanfaatkan situasi yang sangat rawan bila diketahui orang lain. Erangan dan tawa pelan menghiasi permainan yang mereka lakukan.

Anehnya, tidak ada pihak sekolah yang tahu. Biasanya, selepas sekolah dan tidak ada kegiatan basket, Dimas dan Rino menuju Monumen Kapal Selam untuk menyaksikan pemandangan sungai sembari merajut canda dan tawa selayaknya sahabat. Bahkan, bila ada kesempatan, mereka merajut kecupan dengan indah.

***

Setiap jengkal jalan pastiakan memiliki ujungnya. Begitupun dengan mereka. Prestasi olahraga sudah Dimas raih. Basket, body contess perjuangan menarik hati hingga Ujian Nasional sudah memberi kegemilangan sangat indah. Hasilnya, ia diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya menuntut ilmu di Sastra Indonesia.

Namun, tanah harus bertabur abu gunung berapi bila ingin tanahnya subur. Dimas yang awalnya menduga bila Rino sulit menerimanya ternyata mendapati fakta kalau ia menerimanya.

” Kalau itu adalah keputusan yang harus aku hadapi, aku akan menerimanya. Semoga kamu sukses, Dim!”

” Sama-sama. Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”

Rino beranjak dari tempat tidur, mengambil kursi dan duduk di hadapan Dimas. Perlahan, kupu-kupu menghisap saripati bunga dengan cantik. Rino tidak menduga, Dimas mengambil kesempatan itu. Tatapan elang membiusnya.

” Rin. Aku ndak bisa menahan perasaan ini. Kuingin, aku bisa bersamamu lebih lama lagi. Tapi, demi cita-cita, aku harus meninggalkan seorang yang sudah mewarnai hidupku. Aku seperti berada di persimpangan jalan. Dan yang kulakukan padamu menjadi jawaban yang sudah aku berikan. Kalau ini adalah yang terakhir, aku akan siap melepasmu dan menjalani hubungan sebagai sahabat.”

Air mata Rino bagaikan rintikan hujan yang membasahi padang rumput. Perlahan, rintikan hujan itu semakin deras ketika rintikan hujan lain ikut turun. Dan dekapan angin datang meredakan semuanya.Terasa hangat, namun menyejukan. Dekapan Dimas menjadi pembuka rahasia. Rahasia atas perasaan yang melebihi yang ia berikan.

” Dim. Terima kasih, kamu sudah mewarnai kehidupanku. Tidak hanya saat ini, namun sejak kita masih kecil. Aku sulit mewujudkan cara berterima kasih ini. Sekarang, aku harus menasihati diriku sendiri untuk melepaskan rasa yang sudah membentuk kita dan menempatkanmu sebagai sahabatku. Suatu saat kamu akan menemukan wanita yang akan menerimamu dengan cinta abadi.”

Perasaan mempersulit Rino ungkapkan kata-kata pada Dimas. Perlahan, Dimas beranjak dan melepas yang dikenakannya. Dalam dekapan diam dan air mata, Rino melakukan seperti yang Dimas lakukan. Mereka mulai menikmati keindahan terakhir.

Ranjang menjadi saksi terakhir sebuah hubungan. Hubungan yang harus berakhir demi sebuah cita-cita di masa depan. Dimas tahu kalau Rino mendapat kesempatan menuntut ilmu Manajemen di Bandung. Kecupan dan dekapan hangat menghiasi sekaligus menyelimuti 2 insan yang sama-sama memberi ketulusan seindah matahari di pagi hari.

” Dim, Semoga kita selalu sukses ya!”

” Iya!”.

Dimas terus mengusap wajah Rino yang terlihat bagaikan hembusan sinar yang menembus cemara. Dalam dekapan yang Rino dapatkan, Dimas memberi hadiah terindah. ” Suatu saat, aku ingin melihat seorang Arino Risoni Aruan menjadi seorang pengusaha sukses atau ahli manajemen terkenal.”

Senyum Rino seperti mawar yang baru saja mekar. Untaian kata pun berbalas cantik. ” Dim. Semoga kamu jadi sastrawan atau perangkai kata yang indah.”

” Kamu bisa saja, Rin!”.

Dimas cubit hidungnya dan keceriaan terwujud indah saat kecupan itu terjadi. Dalam, dalam dan semakin dalam. Kecupan itu tersimpan harapan. Harapan akan keberlanjutan sebuah hubungan meski hanya sebatas pada persahabatan.

***

” Rin. Suatu saat, hubungan ini bisa terus berjalan indah meski sebatas sahabat.”

” Amin! Dan harapan itu pasti akan terwujud saat teman-teman baru memperkaya hubungan ini.”

***

Cerita pun berakhir dengan kembalinya Tyo ke realita. Tyo terlihat sangat menikmati lantunan kisah yang tersaji seperti dongeng pengantar tidur. Dimas terlihat seperti pelari yang sudah lelah menyusuri jalan demi memenangkan lomba lari.

Lari menuju akhir cerita yang ia alami. Perlahan, rasa kantuk mulai mendekap Tyo dan Dimas. Namun Dimas cukup kuat menahan serangan cantik rasa kantuk yang menyerangnya.Hanya Tyo yang kalah atas serangan tersebut.

” Tyo, kamu ngantuk?” tanya Dimas dengan anggukan Tyo sebagai jawabannya.

Dimas pun membuka tas dan mengambil satu sachet kopi instan. Saat akan membukanya, Tyo mencegah cepat.

” Ndak usah, Dim!”

Dimas mulai menunjukan ekspresi heran. Sachet kopi instan menemaninya. ” Beneran?”

” Iya. Aku juga mau tidur.”

Ekspresi kekecewaan menyelimuti pikirannya. ” Yaahh….!!!!! padahal aku mau dengar cerita masa lalumu, lho!”

Aura santai menaungi Tyo sembari beranjak. ” Besok, aku cerita tentang masa laluku, deh. Piye?”

” OK. Aku tunggu janjinya ya?”

Anggukan kepala Tyo menjadi kesepakatan awal disaat Tyo mengambil dua bantal, satu untuknya dan satu lagi untuk Dimas. Dimas diminta tidur di atas tempat tidurnya. Rasa sungkan mulai menghantuinya.

” Ndak usah,Tyo. Aku dibawah saja!”

” Udah! Kamu di atas saja. Aku ndak apa-apa kok!”

Tatapan elang Tyo mulai meyakinkan Dimas. Dimas mulai melepas rasa kantuk di tempat tidurnya dan Tyo ikut lakukan hal serupa di atas karpet biru. Perlahan, buaian mimpi memengaruhinya.

***

” Aku kan sudah cerita tentang masa kecilku. Sekarang aku mau dengar cerita masa kecilmu, Tyo!”

Dimas menunggu Tyo demi sebuah cerita masa kecilnya. Tyo tidak menyangka, menginapnya Dimas di kosannya membawa pada situasi yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Pada jam zuhur, Dimas pergi ke kamar mandi. Saat memasuki kamar Tyo, ia hanya mengenakan handuk.

Tyo yang sudah bangun langsung takjub dengan bentuk tubuh Dimas yang terlihat seperti binaraga, penuh dengan pesona seharum bunga mawar yang baru mekar di pagi hari yang cerah dan saat itu langsung memberikan kaus, celana dalam dan celana pendek miliknya.

Dimas yang awalnya menolak pun langsung memakainya setelah Tyo terus memaksanya. Setelah itu, Tyo pergi ke kamar mandi dengan membawa kaus,celana dalam dan celana panjang miliknya. Saat Tyo masuk ke kamarnya setelah mandi, Dimas membelikannya gorengan yang ia beli di depan kosannya sekaligus teh botol.

Dengan segala kebaikan seperti hadiah natal ini, ia canggung. Dimas telah membujuknya demi sebuah cerita. Cerita yang menurutnya sebuah aib.

” OK. Aku akan cerita. Tapi kamu jangan terkejut dengan hal ini.”

Tyo pun memulai membuka kisahnya.Seperti air sungai yang mengalir, ia tidak pernah tahu jalur mana yang akan ia lewati. Jalur tenang atau mencekam tidak akan air sungai rasakan melainkan menerima takdir yang sudah digariskan.

Pada akhirnya, air sungai akan bermuara ke laut. Namun itu bukanlah akhir. Laut adalah dunia yang luas. Penuh ketidakpastian dan takdir. Hal ini serupa dengan yang Dimas dan Tyo alami. Hingga pada akhir cerita, Dimas telah memancing Tyo membuka diri sebenarnya, sesuai dengan yang Dimas lihat di buku hariannya sekaligus mulai mengungkapkan yang hatinya ingin katakan.

” Tyo. Maukah kamu jadi pacarku?”

Tyo terkejut. Kembang api terus menyeruak dalam rasa. Ia tidak menyangka, Dimas akan terus terang padanya. Perlahan, pertentangan hati mulai menunjukan sisi Baratayudha-nya. Secara fisik, terlihat sempurna, namun tidak ingin jatuh dalam perasaan yang sama sebagaimana terjadi di masa lalu. Tyo beranjak dari duduknya, menunduk dan hening.

” Aku berterima kasih bila ada yang menyatakan itu. Namun, aku tidak mau terjebak dalam pengulangan sejarah ini. Maaf, aku tidak bisa menerima ini.”

” Tapi aku benar-benar memiliki rasa, Tyo.”. Dimas lalu memegang dadanya sebagai tanda ada rasa yang ia simpan hingga akhirnya Tyo seperti berada diantara persimpangan jalan.

Dimas mulai meyakinkan Tyo seingat yang ia miliki.

” Sejak berpisah dari Rino, aku berusaha memulai hidup layaknya seseorang secara normal. Namun ada satu kondisi ketika masa lalu tidak bisa melepaskanku. Aku pun tidak akan mendapatkan rasa tenang melainkan melakukan seperti yang kulakukan di masa lalu meski harus kulakukan pada orang yang berbeda. Dan jalan terang menemuiku. Itulah kamu. Kalau aku harus terus tersiksa dengan masa laluku, lebih baik aku hentikan kelanjutan hidupku sebagaimana yang orang-orang lakukan saat menghadapi kegalauan hati.”

Air mata perlahan membasahi paras Tyo. Dimas yang ia sangka sebagai yang sangat teguh dalam watak ternyata memiliki dasar-dasar perasaan yang sulit dimiliki pria pada umumnya. Dasar-dasar inilah yang membedakannya dengan yang lain.

Namun, perbedaan ini adalah sesuatu yang terlarang bagi penganut agama yang sangat taat dan selalu memandang dari satu sisi. Bagi Tyo, hal ini adalah suatu yang bisa ia terima asalkan ada jaminan bila sejarah takkan terulang.
Dan ia mulai menyatakannya.

” OK! Aku akan menerimanya. Namun dengan satu syarat.”

Dimas seperti mendapat hembusan aroma mawar yang sangat harum. Tinggal menunggu satu hal, syarat. ” Apapun syarat yang kamu berikan, aku akan lakukan.”

” Kamu boleh memiliki rasa bila tubuhku serupa dengan Rino.”

Dimas terkejut. Tyo inginkan sebuah permintaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan tenang, Dimas mulai menanggapi permintaannya.

” Kalau itu keinginanmu, biarkan aku membantumu mewujudkannya!”

Untaian senyum Tyo menjadi jawaban atas keinginan membantu mewujudkannya. Kilauan permata akan selalu dihasilkan dari batu yang terus diasah dengan cantik.

***

Dunia akademik memberi dua sisi yang tidak pernah didapat sepanjang hidup. Pertama, pembelajaran mandiri, suatu hal yang menuntut kita berpikir kritis, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab. Kedua, pergaulan luas, suatu hal yang akan membantu kita dalam menjalani setiap persoalan yang dihadapi.

Meski begitu, ada satu hal yang sangat umum dihadapi namun sering dilupakan, yaitu susila. Hal ini sering diucapkan secara formalistik, namun esensinya nihil. Bahkan semakin kabur tatkala berhadapan dengan kebebasan.

Akibatnya, tidak ada standar paling jelas tentang makna susila secara kontekstual. Istilah ini pula yang membawa Tyo menuju situasi ketika rasa tidak bisa ia kendalikan akibat dipengaruhi orang yang hanya melihat keindahan dengan kacamata nafsu.

Jam 9 malam, waktu yang Tyo dapatkan setelah tiba di kosan. Kejenuhan mengerjakan tugas mata kuliah PKM ditambah pendeknya waktu pengumpulan tugas meski dikerjakan secara berkelompok menjadi alasan untuk segera pulang ke kosan. Untungnya, tugas itu selesai dibuat dan mereka bisa melepas lelah di kosan masing-masing.

Saat melihat dari halaman kosan, suasana di dalam kosan terlihat gelap. Meski lampu depan halaman tetap menyala, namun jendela tertutup rapat. Pintu depan kosan ia buka. Suasana di dalam cukup remang. Saat menuju kamarnya, ia terkejut. Semua penghuni kosan tidak mengenakan kain sehelaipun. Mereka bebas berjalan dengan indah tanpa ada rasa malu.

” Wah! Ada Tyo. Ayo! Ikut pesta sama kami.”

Teriakan Hafiz membuat pandangmata mengarah kepadanya. Ekspresi senyum dan senang melingkari mereka. Situasi ini semakin rumit ketika tiga wanita yang tidak tertutupi kain sehelaipun hadir didalamnya. Semua penghuni kosan dan tiga wanita mulai membuai kesusilaan yang Tyo harus pertahankan.

” Ada acara apa sih?” tanya Tyo seperti orang yang tidak mengerti apa-apa.

” Kita lagi merayakan kebebasan.” jawab Hafiz santai.

Kebingungan menyelimuti pikiran Tyo. Hafiz lalu menjelaskan kalau mereka sedang melakukan pesta seks. Seketika itu, Tyo cukup terkejut. Tidak ia sangka, mereka melakukan perbuatan yang sangat bertentangan dengan agama yang ia anut.

Meski begitu, pengaruh yang dihasilkan cukup membuat Tyo terpedaya. Hal itu terjadi bersamaan dengan sentuhan hasrat yang diberikan Hafiz, Restu, Yudha dan Mahmud ditambah bantuan Karin, Mira dan Novi, nama ketiga wanita itu. Mereka mulai menanggalkan yang Tyo kenakan.

Hafiz mengambil tasnya Tyo dan melemparnya ke depan TV, Yudha lalu mengecup bibir merah Tyo yang cukup merona. Tyo yang awalnya menolak begitu luluh saat Yudha mulai mengecup bibirnya. Perlahan, Yudha melepas korsa yang Tyo kenakan.

Korsa kebanggaan angkatan di jurusannya terlempar dekat pintu kamarnya Ari. Kaus, celana panjang dan celana dalam terlepas bertahap dan terlempar dekat pintu kamarnya Ari. Akhirnya, tidak ada yang menutupi tubuh kecuali telapak tangan yang menutup kemaluannya.

” Kok kamu malu-malu gitu, sih! Ayo kita cicipin wadon itu!”

Seruan Yudha semakin panas ketika Karin berbaring di hadapannya. Telapak tangan yang menopang kepala Karin ditambah kaki yang menjuntai indah semakin merangsang penghuni kosan. Mira dan Novi melakukan hal yang sama. Semua penghuni kosan mencicipi wanita-wanita yang tersaji indah.

Khusus Karin, Hafiz adalah orang pertama yang menikmati tubuh indahnya. Payudara yang menjuntai indah laksana Pangrango dan Gede ditambah pangkal paha semulus kain sutera membuat Hafiz semakin berhasrat. Batang kemaluan yang keras perlahan masuk ke peraduan yang seharusnya diperuntukan untuk lelaki yang sah sebagai suaminya.

Erangan Karin semakin membuat Hafiz semangat menumpahkan hasrat yang sudah ia tunggu lama. Setelah Hafiz selesai, Restu melanjutkannya. Batang yang dimiliki Restu jauh lebih besar hingga membuat Karin puas. Di samping itu, Mahmud langsung menikmati tubuh Hafiz yang berbaring di sebelah Karin. Perlahan, Mahmud melumat batangnya Hafiz hingga terangsang.

Saat Hafiz menikmati Karin, Yudha menarik Tyo menuju kursi dekat pintu kosan Ari. Kemudian, Yudha duduk di depannya. Perlahan, Yudha melumat bibir merah Tyo, mengecup wajahnya, meraba tubuhnya, melumat dadanya sekaligus melumat kemaluannya.

Yudha sangat menikmati permainan ini disaat ia merangsang kemaluannya hingga Tyo merasakan kepuasan terindah. Sebuah kenikmatan yang sejatinya terlarang namun terasa indah. Kenikmatan itu terhenti ketika Restu meminta Yudha untuk menikmati Karin. Akibatnya, posisi Yudha digantikan Restu hingga ia melanjutkan seperti yang Yudha lakukan padanya. Tyo seperti bebek yang terangsang oleh godaan betina. Saat ketika hasrat sudah menguasai dirinya.

10 menit berlalu, Yudha mengajak Tyo menikmati Karin. Kebimbangan mulai menghantui pikirannya saat ia berbaring di atas tubuh Karin.

” Gak perlu takut! Nikmati saja tubuhku ini. Pasti kamu puas deh!” ucap Karin menenangkan Tyo.

Perlahan, Tyo melumat bibir indah Karin. Lumatan ini membuai Tyo untuk memasukan kemaluannya ke peraduan yang Karin miliki. Mulut rahim yang terlalu lebar membuat Tyo semakin puas. 10 menit berlalu dengan cantik seperti angin yang berhembus tenang.

Tiba-tiba, Hafiz menarik Tyo dan menikmati tubuh dan kemaluannya. Setelah Hafiz puas menikmatinya, semua penghuni kosan dan tiga wanita itu mulai menikmati Tyo. Udara ruang tamu menjadi semakin panas dan suasana sangat menegangkan.Meski penuh dosa, namun menjadi suatu kenikmatan yang tidak ia rasakan seumur hidupnya.

Dan semua yang tersaji telah memuaskan penghuni kosan itu, termasuk dirinya.

***

Guyuran air dari bak mandi telah meluruhkan sedikit ketakutan atas sebuah dosa yang Tyo rasakan. Tidak ia sangka, mereka telah menikmati tubuhnya tanpa ada rasa bersalah. Meski terlihat nikmat, namun menyimpan dosa dan rasa bersalah. Air mata meluluhkan rasa yang sudah ia dapatkan. Rasa penyesalan atas yang sudah mereka lakukan.

***

Malam hari menyapa Yogyakarta dengan cantik. Hari itu, praktikum PKM telah menguras tenaganya. Tinggal satu yang harus ia selesaikan, menulis laporan. Optimisme Tyo menjadi pengantar cerita paling indah demi menenangkan dirinya.

Dentingan dummble yang beradu dengan lantai mengiringi orkestra olahraga dengan gemulai. Memacu semangat membentuk tubuh yang mereka idamkan. Tak terkecuali bagi Tyo. Setelah ikuti bodystriking, ia lanjut dengan dummble dengan berat beragam. 1,5 hingga 10 ia sudah coba meski dengan repetisi 10 kali per step. Aura semangat terus mengitari dirinya.

” Tyo, kayaknya lo semangat banget!” canda Gio dengan logat gaul khas Jakarta yang ia miliki.

Sembari memegang dummble berberat 5 kg, Tyo melihatnya sekilas dan melempar tanggapan. ” Iya dong! Gue kan mau punya bentuk badan kayak Aji atau Dimas.”

Gio sedikit melempar senyum bermakna tawa. ” Widiiihhh…..! harapannya gede banget nih!”

Gio duduk disebelah Tyo yang sedang meletakan alat itu. Dentingan senyum merekah merona dari balik wajahnya. ” Gio, gue mau nanya. Gimana cara lo untuk dapet bentuk badan kayak lo?”

” Gampang sih! Lo harus disiplin berolahraga. Yang lo lakuin ini udah bagus. Tinggal lo terusin dengan latihan treadmill dan ikut kelas yang banyak ngeluarin energi.Untuk asupan makan, hindari makanan yang digoreng. Usahakan makan makanan yang direbus dan banyakin makan sayur sama buah.”

Anggukan Tyo memberi jawaban yang ia sudah duga dan pertanyaan lanjutan mulai meluncur dari bibir merahnya. ” Nah! Kalo ingin punya bentuk badan kayak Aji atau Dimas, gimana?”

” Kalo itu, gue saranin lo jangan ikutin mereka.”

Tyo mulai merangkai tanya hingga Gio menjawab.” Aji dan Dimas itu udah nge-gym sejak SMA. Selain itu, mereka rutin konsumsi suplemen protein dan steroid. Makanya, mereka bisa ngebentuk badan kayak gitu.”

” Emang steroid bisa bikin badan cepat ngebentuk ya?”

“Iya. Tapi efek sampingnya sangat bahaya. Kalau minum steroid ditambah suplemen protein tanpa olahraga rutin,nanti bisa kena penyakit jantung. Itu sangat berbahaya, lho!”

Tiba-tiba, seseorang yang sedang dibicarakan pun datang dan memotong ucapan mereka. ” Dan lebih berbahaya lagi kalau mendengar gosip tanpa klarifikasi.”

Gio dan Tyo menengok ke kanan. Ternyata, Dimas sudah ada disebelah Tyo. Dan penjelasan pun mulai menbersihkan fakta dari kotoran gosip yang mengitarinya.

” Aku sudah nge-gym sejak SMA. Aku rutin mencoba semua alat-alat gym yang ada demi membentuk badanku. Untuk asupannya, aku ndak pernah banyak makan makanan yang digoreng. Sering juga makan sayur dan buah. Selain itu, aku konsumsi suplemen protein sebelum latihan. Asal kalian tahu, aku setiap hari latihan minimal 4 jam dalam sehari.”

Ketakjuban mewarnai pikiran Gio dan Tyo. Gio mulai melempar pertanyaan dengan cantik.

” Berarti, kamu rutin latihan dengan serius dong?”

” Iya.” jawab Dimas dengan serius.

” Lagipula membentuk badan seperti Ade Rai atau Pietro Boselli tidak perlu menunggu waktu lama. Antara 3 sampai 4 tahun bisa didapat, asalkan kamu konsisten latihan dan disiplin dalam pola makan. Untuk orang yang bisa mendapat bentuk badan seperti itu dalam waktu kurang dari 3 tahun, patut dicurigai kalau ia memakai steroid. Memang, steroid bisa mempercepat pembentukan otot, tapi risiko yang dihasilkan sangat berbahaya. Bisa kena ke jantung. Bagi aku, itu jauh lebih berbahaya. Makanya, kalau ada isu, harus segera diklarifikasi, bukannya disebarkan.”

Nasihat Dimas membuat Gio menahan rasa malu sekaligus paham atas penjelasannya. Tyo hanya tersenyum kecil.

***

” Tyo, Dimas. Aku balik duluan yo! And…. Makasih atas informasi kebugarannya ya, Dim!”

Sapaan Gio pada Dimas dan Tyo menjadi penutup keceriaan yang sudah ia rajut. Tidak ketinggalan, nasihat Dimas yang membuat hati Gio sedikit panas ikut menemaninya. Namun, Gio tidak menampakan rasa kesal dan justru senang dengannya. Untaian senyum mengalir cantik dari wajah mereka. Laju motor membuka pintu kebersamaan di hari itu.

” Dim. Hari ini, aku boleh tidur di kosanmu ndak?”

Dimas terkejut dengan permintaan Tyo. ” Memang kenapa dengan kosanmu?”

” Ya…ndak ada apa-apa sih! Aku cuma mau rasakan menginap di kosan teman saja.”

Dimas lalu membawa Tyo menuju kosannya. Udara dingin Jalan Gejayan membaluti setiap jarak. Dimas dan Tyo tetap melintasi tantangan malam secara konsisten. Dan mereka tiba di kosan Dimas. Saat melangkahkan kaki ke dalam ruangan, aroma parfum maskulin masih membayangi kamarnya.

Menurut Dimas, ia senang mengharumkan kamarnya dengan parfum maskulin karena ingin menunjukan ekspresi maskulinitas dirinya. Dan pembicaraan berlanjut dengan membicarakan kegiatan Dimas dan Tyo hingga urusan fitness. Pembicaraan itu mulai mengalir ke suatu hal yang tidak terduga.

” Tyo. Aku mau tanya. Saat kamu mau menginap di kamarku, aku cukup terkejut karena hal seperti ini tidak lazim bagi pria. Tapi kamu sangat ingin melakukannya. Selain itu, kamu terlihat tidak nyaman saat aku bicara tentang kosanmu. Memangnya ada apa?”

Pertanyaan Dimas bagaikan asap yang menghampakan udara. Sesak, namun tertekan. Di satu sisi, Tyo ingin sekali jujur atas yang ia alami, namun ia agak berat hati membuka aib ini dan khawatir, Dimas akan mempermalukan dirinya.

Kebimbangan mewarnai pergulatan pikiran ini. dimas langsung memegang tangannya. Tatapan elang Dimas mulai membuai Tyo. Ia tahu, Dimas akan terus mengejarnya demi mendapatkan kejujuran itu. Perlahan, Tyo mulai membuka rahasia meski ada sedikit ketidakjujuran padanya.

Ia mulai bercerita tentang pengalaman saat malam itu. Namun, ia bercerita pada posisi seolah-olah, ia adalah korban peristiwa memilukan itu. Dimas terlihat menyimpan rasa kesal itu, namun ia berusaha menutupinya dengan menyodorkan sebuah tawaran kepadanya.

” Tyo. Jujur, aku kesal saat temanku diperlakukan jahat seperti itu. Mungkin itu alasan kamu mau menginap di tempatku. Sebagai teman, aku mau kasih saran sama kamu. Bagaimana kalau kita tinggal bareng di kosan baru.”

Tyo terkejut dan mulai mencari info lebih jauh. ” Memang, kamu punya info tempat kosan baru?”

Dimas langsung menyodorkan sebuah brosur.

” Pak Wardono lagi menyewakan kamar kos. Harganya 500 ribu. Kalau kita tinggal berdua disana, akan lebih murah. Dan kamu bisa aman dari teman-teman kosmu yang sudah jahati kamu. Gimana?”

Pertimbangan mulai mewarnai pikirannya. Pelangi sudah menampakan wujudnya. Dimas mulai menampakan senyum. Senyuman atas pilihan yang ia berikan.
Setelah Tyo sepakat dengan tawarannya, Dimas lalu menawarkan sesuatu yang sudah ia tunggu.

” Tyo. Kalau ndak keberatan, kamu mau aku bantu ndak?”

” Bantu apa?”

” Bantu kamu agar bisa memiliki bentuk tubuh seperti Rino.”

” Serius? Kamu mau bantuin aku?” tanya Tyo dengan rasa terkejut.

” Iya.” jawab Dimas hingga senyuman kecil merekah pada bibir Tyo.

Bersambung