Yang Pertama Dan Terakhir Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 4

Hari Raya Idul Fitri tinggal 10 hari lagi. Namun, suasana perkuliahan tetap ramai. Ruang kelas bagaikan pasar yang menjajakan aneka barang. Namun suasana pasar perlahan meredup karena ada polisi galak. Ya! Siapa lagi kalau bukan Bayu, dosen yang aku ceritakan ini.

Bab tentang sifat komutatif seperti penjara paling buruk di pikiran Tyo dan yang lainnya. Terlalu dogma-teoretis, namun sangat diperlukan saat ujian. Setidaknya, menerima adalah cara yang yang harus mereka lalui.

Selasar dekat meja sekuriti ini menjadi basis anak-anak 2009 berkumpul. Tyo dan teman-teman lainnya merajut obrolan demi mengobati rasa sakit akibat pelajaran yang terlalu kaku. Menurutku, tidak ada pelajaran yang kaku dan membosankan. Yang ada, cara pembawaan materi yang tidak menyenangkan dan dosen yang tidak gampang memberi nilai. Terlepas itu semua, benih-benih persahabatan tercermin dengan indah.

” Tyo. Tugas Pak Doni dikumpulkan besok yo?” tanya Eko dengan menggeledah tasnya. Mencari selebaran catatan kuliah.

Tyo memberi argumen penenang layaknya seorang dokter. ” Iya. Tapi ini kan tugas kelompok. Dan lagi, 1 kelompok isinya 80 orang. Jadi, ndak perlu khawatir!”

Ucapan Tyo manjur. Eko menjadi lebih tenang. Dan selebaran itu ia temukan di sela-sela kumpulan catatan matematika. Perlahan, Fajri, Zain, Hasan, Pardi, Warno, Kimin dan Amir menghampiri Eko dan Tyo.

” Eko. Ayo kita kerjakan tugas Pak Doni! Besok kan harus dikumpul!” ucap Fajri dengan ekspresi seperti orang yang ingin membeli barang-barang mewah.

” Ayo! Tinggal nunggu yang lain.”

Tidak menunggu terlalu lama, anak-anak angkatan 2009 berdatangan bagai semut yang menghampiri aroma gula. Dengan kesadaran penuh, mereka sudah menyiapkan laptop, bulpen dan kertas. Eko mulai memeriksa kehadiran teman satu persatu. Semua hadir dalam diskusi tugas kelompok, kecuali Kevin.

” Teman-tema, ada yang ngeliat Kevin ndak?” tanya Eko dengan ekspresi penasaran.

Semua seperti melakukan koor, menjawab tidak melihat Kevin. memang, Kevin selalu dikenal sebagai teman yang misterius. Saat orang ingin mencarinya, ia selalu tidak ada. Jangankan teman-teman 09, anak-anak IKMK saja sulit menemui orang misterius ini. Tyo berinisiatif mencarinya. Saat melewati kantor Dekan, ia dipanggil Pak Doni.

” Mas Tyo. Saya mau menyampaikan sesuatu tentang mata kuliah Ilmu Pangan ini.”

Tyo bergegas masuk ke ruang kantor Dekan. 5 menit ia mendengar sebuah pengumuman langsung. Setelah itu, Tyo bergegas kembali ke tempat berkumpul anak 09. Dan pengumuman ia ceritakan. Diketahui, kalau Pak Doni akan absen mengajar ilmu pangan selama 3 bulan karena harus menghadiri Konferensi Pariwisata Kuliner di Zurich. Selain itu, Tyo memberi kertas berisi daftar tugas yang harus dibuat kepada Eko.

Tugas mata kuliah tersebut adalah mencari permasalahan terkait dunia pariwisata kuliner namun harus memakai sudut pandang ilmu pangan dan minimal berjumlah 5000 kalimat. Tidak dapat diduga, aura terkejut mulai mewarnai anak-anak 09 ini.

Namun, Eko melanjutkan bahwa tugas ini memiliki bobot 90% dari nilai dari Pak Doni. Tidak dapat diduga, aura terkejut berubah menjadi senang. Senang karena tidak perlu memikirkan beban untuk ujian tulis. Eko melanjutkan, selama 3 bulan itu, ia diganti Bu Dewi, dosen PKM, mata kuliah yang membahas tentang kuliner Asia Timur.

Tyo langsung mencari Kevin setelah pengumuman itu diucapkan. Semua sudut kampus sudah ia susuri, namun jejaknya tidak dapat ia temukan. Ia pun menuju ke tempat lain. Saat berada disamping sebuah museum, ia melihat Kevin yang sedang membaca buku dengan headset terpasang di telinganya.Dengan gerakan secepat angin, Tyo menghampirinya.

” Vin. Lo ngapain disini. Bukannya kerja kelompok buat tugas IP!”

Kevin terkejut seperti mendengar suara halilintar. ” Lho! Bukannya jam satu siang baru mulai!”

” Iya. Awalnya dibilang jam segitu. Tapi ada ralat. Jadinya sekarang!”

Kevin langsung melipat buku, melepas headset, memasukan 2 benda itu ke dalam tas dan memakai sepatu. Kevin dan Tyo berlari meninggalkan museum secepat angin berhembus. Bahkan Tyo mulai kelelahan saat menyusulnya. Dan mereka berdua tiba di lokasi.

” Sorry, teman-teman! Aku terlambat.”

Anak-anak 09 memakluminya dan diskusi pengerjaan tugas berlanjut. Diskusi demi diskusi mewarnai pemilihan materi pendukung pembuatan makalah. Teman-temannya berusaha menunjukan kontribusi demi kesuksesan makalah yang akan menentukan nilai mata kuliah yang diampu Pak Doni ini. 6 jam berkutat dalam tugas. Rasa lelah mewarnai kegiatan mereka. Dan usaha itu terbayarkan dengan situasi tak terduga.

” Teman-teman, kita buka bareng yuk!” sahut Eko dengan semangat yang menyala seperti api lampion.

” Ayuk! Mau kemana?” tanya Fajri antusias.

Anak-anak 09 dengan konvoi motor menuju warung pecel lele di pinggir jalan dekat Universitas Sanata Darma. Sedangkan, Tyo dan Kevin menuju tempat fotokopi untuk mencetak tugas yang sudah dibuat anak-anak 09 tersebut. Tyo dan Kevin langsung menuju warung setelah itu.

Tidak menunggu lama, Tyo dan Kevin sampai di lokasi tepat saat azan Maghrib berkumandang. Santap teh hangat, makanan manis dan tentunya, nasi pecel lele menjadi pewarna menyenangkan untuk berbuka puasa.

Bagi Tyo, makanan itu lebih dari yang mereka anggap, yaitu sebagai pembuka canda persahabatan. Dan yang ia harapkan terjadi. Obrolan dimulai dengan usulan Eko tentang acara makan bareng di Raminten. Usulan itu disetujui anak-anak. Dan pembicaraan yang diucapkan Eko menuju hal yang tidak terduga.

” Vin. Teman-teman sering lihat kalau kamu jarang ada di kampus setelah kuliah usai. Kalau kita boleh tahu, kamu kemana?”

Kevin terhenyak. Tidak menyangka bila teman-teman seangkatannya bertanya kegiatannya. Pandangannya seperti menyimpan sesuatu. Tyo yang ada di sebelahnya menatap pandangnya. Menunggu jawaban pasti. Dan mereka mulai mendapatkan hadiah yang mereka tunggu.

” Iya. Aku lagi cari kesenangan baru.”

” Kesenangan baru?”. Tyo mulai menguntai rasa penasaran bersama yang lain.

” Ya……Sebenarnya aku lagi menata diri.”

Semua terhenyak. Seperti tidak memahami maksud ucapannya. Dan Kevin lanjutkan ceramahnya.

” Aku lagi fitness…………”

Koor ” cieeee…..” menggema di seluruh warung. Bahkan langit pun menggema karenanya. Komentar mewarnai ucapannya hingga pertanyaan Aji memotong kisahnya.

” Fitness? Dimana?”

” Di Salsa, Ji!”

” Salsa? Aku, Gio, Daniel dan Damar juga fitness disana!”

” Lho. Berarti sama dong! Kok aku ndak pernah ketemu ya?”

” Iya. Soalnya kita kan sibuk di kampus. Jadinya ndak ada waktu.” jawab Gio membantu Aji.” So! Kenapa kamu tiba-tiba rajin fitness? Sedangkan disini kan banyak kegiatan lain. Apalagi kamu kan bisa ikutan IKMK?”

Kevin seperti membeku. Sulit menguntai kata-kata akibat perasaan dingin saat ditanya yang lain. Saat Tyo melihatnya, ia seperti Kevin Julio,artis yang sedang naik daun. Cara pandangnya, parasnya dan sikapnya seperti memberi bukti yang sangat kuat.

Selain itu, nama panjangnya, Julius Kevin Mardyaputra Halim, memberi kesan kuat dengan artis tersebut seperti pahatan yang membekas pada prasasti yang terpasang di depan bangunan. Tidak ada yang bisa menyangkalnya kalau ia memiliki pesona seperti yang Tyo dan yang lainnya duga.

Mereka seperti menunggu sesuatu yang takkan terduga. Tiba-tiba, Kevin mendekap Tyo hingga menyandarkan kepalanya di pundaknya.

” Iya. aku lagi ingin cari kegiatan di luar. Ndak mau ikut organisasi. Apalagi aku pernah ditelikung seseorang saat ikut organisasi. Jadi, aku agak trauma. Selain itu, aku ndak bisa jamin kalau orang-orang yang ikut organisasi itu bisa berteman baik denganku melainkan ada kepentingan yang ingin mereka capai.”

Perlahan, Tyo mulai risih dengan yang dilakukan Kevin. Dengan tatapan seperti elang yang mengawasi mangsanya, Tyo meminta sesuatu.

” Vin. Lo boleh ngasih penjelasan. Tapi bisa gak, gak usah dekep gue.”

Tiba-tiba Zain membuat candaan segar dengan logat khas Jambi. ” Cieee……. ada yang jatuh cinta ini!”

Kevin langsung melepas dekapan dari Tyo dan membalas candaan Zain. ” Jangan bicara itu! Nanti jadi doa lho!”

Semua langsung terhenyak dan kaget. Tidak disangka, Kevin bicara seperti itu. Namun semua berubah saat ucapan Aji terkuak. ” Memang Kevin suka sama Tyo?”

” Ya ndak lah!” ucap Kevin menangkis tuduhan itu. ” Lagipula anggap saja dekapan itu sebagai pererat hubungan persahabatan. Yang cewek juga begitu, tapi ndak dimasalahkan.”

Tiba-tiba Safira seperti menyambut ucapan dengan pendapatnya. ” Jangan dibandingkan dengan cewek. Kita akrabnya dari hati. Tapi kita indak ado raso suka!”

Suasana yang awalnya akrab berubah menjadi panas saat teman-teman yang lain ikut bicara. Namun semua mulai menenangkan diri saat Zain berbicara. Dan ego pun mereka turunkan saat Zain alihkan topik pembicaraan.

” Kevin. Aku hanya mau beritahu sama kau. Di dalam organisasi ada persaingan dalam merebut jabatan. Tapi mereka memakai senjata berupa adu program kerja. Nantinya, anggota akan memilih orang yang tepat melalui program itu. Kalau ada yang menelikung itu. Sejauh ini tidak ada.”

” Ya…..mungkin hanya aku saja yang mengalami. Lagipula, apa yang aku ceritakan ini adalah yang kualami. Semoga saja teman-teman tidak mengalami hal yang sama.”

” Tenang saja, Vin. Semua yang lo takutin itu gak akan terjadi.” ucap Astrin menenangkan suasana.

Astrin, Zain, Aryo, Pardi, Warno, Kimin, Amir dan Hasan seperti berlomba-lomba meyakinkan Kevin mengingkari kekhawatiran dari masa lalunya. Tyo yakin, para ikhwan lurus dan alim ini bisa mematahkan semua prasangka yang sudah membayangi pikiran Kevin dari kelas 11 SMA. Dan mereka telah menuai hasil meski kita tahu, tidak ada padi yang dapat tumbuh dalam waktu kurang dari 1 bulan.

***

” Kevin, makasih ya. Kamu sudah antarkan aku kesini.”

” Sama-sama.”

Makalah 500 halaman yang sudah dicetak pun ia bawa menuju kosan untuk diserahkan ke Pak Doni besok. Saat memulai langkah seribu, Kevin memberi sahutan.
” Tyo. Sebelumnya aku minta maaf atas yang tadi ya!”

” Minta maaf kenapa?”

” Aku tadi dekap kamu. Mungkin keliatannya risih. Tapi aku hanya becanda saja.”

Sensasi tertawa mulai Tyo rasakan. Sejak selesai acara buka bersama, Kevin selalu terlihat tidak enak hati. Meski Tyo diantar olehnya, rasa itu tidak hilang. Bahkan saat Tyo ambil makalah, Kevin masih memendam rasa itu. Dan Tyo pun mencairkan sekaligus mendinginkan suasana ini.

” Sudahlah! Anggap aja candaan biasa! Jangan dipikirkan terlalu berat lah!”

Sunggingan senyum Kevin untai. Tyo menjadi teman yang tidak terlalu ambil hati atas candaan yang berlebihan. Setidaknya, Kevin bisa membatasi diri untuk tidak becanda berlebihan. Perlahan motor Kevin hilang ditelan gelapnya jalan setelah ia pamit.

Tyo pun menuju kamarnya. Dan langkah terhenti ketika bertemu Restu dan Yudha.

” Baru pulang, Tyo?” tanya Yudha santai.

” Iya. Habis buka bareng”

” Tyo. Nanti balik ke Bekasi ndak?” tanya Restu.

” Iya. Kan nanti lebaran. Ngomong-ngomong, kapan kalian balik? ”

” Aku dan Yudha balik minggu depan.” jawab Restu yang akan balik ke Bandung dan Yudha yang akan balik ke Solo minggu depan.

Hentakan tubuhnya melepas rasa penat setelah pecel lele ia nikmati. Rasa kenyang membuainya merajut mimpi.Mimpi kebersamaan terindah ketika teman-teman seangkatannya mulai merajut persahabatan meski melalui pertemanan yang terfragmentasi agama, etnis dan kesukaan. Kelak, yang ia harapkan tidak akan terjadi, kecuali sebuah takdir yang akan menciptakan keterikatan abadi di antara dia dan beberapa temannya.

***

Lebaran telah berlalu. Suasana liburan telah dinikmati meski harus mengalami kepadatan di stasiun kereta api Bekasi yang menyambut penumpang yang akan menapaki perjalanan ke timur pulau Jawa, keramaian tempat wisata Ancol dan TMII hingga kenaikan pengunjung restoran.

Bagi Tyo, suasana ini memberi keindahan yang sulit diungkapkan kata-kata meski ia bukan bagian darimereka yang merayakannya. Sayangnya, waktu berjalan cepat tanpa jeda. Dan Tyo harus kembali ke rutinitas awal. Belajar!

Hari pertama kuliah setelah lebaran menjadi sesuatu yang memberatkan pikiran.Namun semua terasa ringan saat teman-teman seangkatannya berkumpul.Selain itu, ada yang spesial. Kevin hadir dan selalu stand by saat mereka nongkrong.

Hal ini membuat teman-temannya senang dan menambah keceriaan yang erat.Kevin yang terkenal misterius ini ternyata masih sulit meninggalkan kebiasaan lama.Fitness! Meski ia luangkan waktunya dengan teman-teman kampus, namun setelah urusan selesai, ia menuju tempat latihan. Tyo, Daniel, Aji, Gio, Damar dan Defri mengetahui hal itu.

Namun mereka tidak bisa pergi mengikuti Kevin karena sibuk dengan kegiatan persiapan ulang tahun HMJ dan acara IKMK.

***

Lintasan treadmill menuntun Kevin memacu kekuatan membentuk fisik sesuai yang ia inginkan. Lagu Can’t Be Tamednya Miley Cyrus memberi rangsangan sangat besar bagi Kevin. Citah pun akan berlari sangat kencang bila ia ingin menyantap daging Rusa. Dalam lambaian hawa dingin 18 derajat celcius, rasa panas menukar bentuk menjadi hangat. Hal ini menjadi pemacu semangat sekaligus penawar rasa lelah.

Di saat ia dikuasai semangat citah, suara yang ia kenal memecah semangat yang menguasainya.

” Serius amat, Bos?”. Ucapan Tyo membuatnya menghentikan lari cepat. Untaian senyum Kevin berikan.

” Kamu sendirian saja?”

” Ndak! Aku sama yang lain.”

Ketika telunjuk mengarah ke tempat barbel, betapa terkejutnya saat melihat Aji, Daniel, Damar, Gio dan Defri.Perlu diketahui, Hari itu merupakan hari ke- 8 setelah libur lebaran.Tujuan awalnya untuk membentuk tubuh mereka menjadi lebih ideal. Namun sejak Kevin bercerita kalau ia nge gym di tempat yang sama, mereka semakin penasaran dengan kegiatan Kevin tersebut. Kevin dan Tyo menemui mereka secepat kijang berjalan.

” Kaget ya! Aku dan teman-teman ngegym disini. Arep nyambut konco karo sampeyan!”. Aji pun menunjukan untaian senyum penuh misteri.

Untaian senyuman balasan Kevin untai sebagai jawaban. “Untung ya!Aku bisa ketemu teman-teman disini.”

” Sama! Kita juga beruntung ketemu Kevin. Aku dan Tyo baru pertama kesini.” ucap Defri polos.

” OK! Defri dan Tyo harus turunkan berat badan biar bisa punya tubuh seperti Aji yang sakgede gaban.”.

Tatapan Kevin melintas pelan saat melihat Aji, Defri dan Tyo. Aji memiliki bentuk tubuh yang bisa disamakan dengan Ade Rai. Meski ia selalu memakai pakaian lengkap, bentuk fisik yang terlihat kekar dan kokoh tidak dapat ia sembunyikan. Ditambah dengan parasnya yang terlihat sangat indah membuat siapapun pastinya terpesona.

Damar, Daniel dan Gio memiliki bentuk tubuh proporsional, tidak berbentuk seperti binaraga namun tetap terlihat atletis. Paras mereka menjadi nilai tambah yang sangat mendukung keindahan yang tersaji disini. Hanya Tyo dan Defri yang memiliki paras yang terlihat indah namun memiliki bentuk tubuh yang tidak proporsional karena bentuk tubuh yang terlihat gemuk.

Tyo, Kevin dan yang lainnya mulai beraktivitas. Angkat beban menjadi tantangan pertama yang mereka lalui. Peluh semakin menjebak mereka. Gengsi dan kehormatan diri bagai pecut yang senantiasa memukul mereka demi membentuk tubuh sesuai keinginan. Bagi Tyo, ini merupakan sebuah pembuktian. Akankah bisa seperti mereka atau tetap pada kondisi awal.

” Tyo! Kamu disini!”. Suara pria yang sepertinya ia kenali menghentikan aksinya mengangkat beban seberat 1 kilogram hingga menaruh barang itu kembali.

Tyo segera menatap kepada pria yang memanggilnya. Tidak ia sangka, Dimas Narendra Adityaswara berada di hadapannya. ” Kamu nge-gym disini juga?” tanya Dimas sembari menguntai senyum yang paling indah. Senidah bunga krisan yang mekar di pagi hari. anggukan kepala menjadi jawaban yang Tyo berikan hingga senyumnya masih menguntai cantik.

Dimas pun ikut duduk di sebelahnya. Tangan Tyo menguntai pegangan barbel yang belum ia coba. Listrik mengalir indah dalam pikiran Dimas. ” Kamu sama siapa?”

” Sama temen kampus.” ucap Tyo sambil menunjuk teman-temannya yang ada di sekitarnya, kecuali Kevin dan Aji.

” Sudah turun berapa kilo?”. Tangan Dimas mendarat di pundaknya. Menanti jawaban dari seorang yang gembul.

” Aku baru 80 kg. Dan aku baru ikut ini pertama kali.”

” OK! Aku latihan dulu yo.”

Dimas pergi meninggalkan Tyo secepat angin berlari. Senyuman Tyo menghiasi suasana hingga Tyo lanjutkan angkat barbelnya. Meski baru pertama kali, ia berusaha melatih dirinya demi satu tujuan, bentuk tubuh ideal. Peluh, panas dan lelah menghajarnya namun ia tetap bertahan. 2 jam berlalu, ia alihkan menuju treadmill.Tapak demi tapak ia lalui. Secepat angin bertiup, ia latih kemampuan larinya. Namun ia tidak bisa bertahan selama 10 menit. Rasa lelah telah mengalahkannya. Kekalahan tertawa puas atasnya.

Air minum menjadi peneduh batin bagi Tyo. Peluh masih menggentayangi dirinya. Ia pun memandangi Dimas yang sibuk melatih ototnya yang terlihat kekar dan besar demi mempertahankan keindahan. Keindahan yang menyejukan untai pandang dirinya.

” Tyo! Lagi ndelok sopo?”. Tepukan Aji di pundaknya memutus untaian pandang pada Dimas.

” N…Ndak. Aku cuma lihat gimana Dimas latihan. Soalnya, Badannya terlihat seperti kamu ini.”

Aji arahkan pandangan menuju Dimas. Anggukan kepala memberi kesan kalau Tyo mengagumi Dimas. Tyo akui, Dimas memiliki tubuh lebih kekar dibandingkan Aji. Namun, ia sadar, kesempurnaan itu tidak berjalan alami. Kevin pernah cerita ke Gio kalau orang yang memiliki tubuh kekar dan atletis dibantu dengan suplemen.

Bahkan ada yang menggunakan steroid sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh seperti itu. Dan menurut Kevin, semakin jarang yang mau membentuk tubuhnya secara alami. Kevin sendiri perlu latihan minimal 4 jam sehari demi membentuk tubuh agar proporsional meski tidak sebagus Dimas. Setidaknya, buah akan tetap terasa sangat manis bila ia ditanam secara alami tanpa memakai suntik hormon.

Aji melangkahkan kaki. Menghampiri Dimas yang sedang latihan Dummble. Saat melihat Dimas, Tyo teringat dengan Kamal dan Fahmi. Kedua orang ini memiliki rasa yang akan memengaruhi dirinya menjadi seorang perasa. Perasa akan sebuah kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari ayahnya.

Dari dua orang itulah, ia memahami arti kasih sayang meski jalan yang ditempuh tidak sesuai dengan norma sosial. Baginya, ia tidak peduli selama ia mendapat kasih sayang yang ia inginkan meski harus mengalami perpisahan yang sangat pahit.

Bayangan Kamal dan Fahmi luluh setelah Dimas duduk di hadapannya. ” Nunggu lama ya?” ucap Dimas dengan nada usil hingga Tyo menyangkal. Namun semua berubah ketika ia menawari Tyo sesuatu hingga anggukan kepala menjadi jawaban terindah. ” Kamu mau ikut Body Strike ndak?”

Di kelas Body Strike, Dimas adalah instruktur yang sangat dinantikan peserta. Setiap gerakan yang ia berikan memiliki pesona yang sangat memikat. Di kelas yang banyak mengandalkan gerakan seperti beladiri modern ini, banyak peserta yang bilang kalau Dimas memberi gerakan yang mudah diikuti, namun memiliki efek cukup ampuh bagi tubuh.

Sebelum kelas dimulai, Aji pernah bilang kalau olahraga ini sangat cocok bagi yang senang beladiri dan ingin mempercepat pembakaran kalori karena gerakannya sangat tegas namun berisi. Pikiran Tyo seperti melompat sedikit saat ia mengikuti salah satu olahraga wajib yang diadakan sekolah, yaitu tapak suci.

Namun olahraga ini tidak memberi manfaat apapun, kecuali adanya kelompok berandalan yang sering memberi rusuh. Perlahan, semua kenangan itu luntur saat Dimas berada di pikirannya. Dan ia berjalan secepat angin bertiup. Menghampiri panggung depan sekaligus memancarkan pesona.

Satu persatu gerakan Dimas diikuti peserta. 15 menit pertama terasa ada gelora panas yang mendekap peserta. Namun semua berubah saat pesona itu terpancar. Energik, Hidup namun Memukau. Belum pernah ada pesona yang bisa membuai pandangan peserta saat mengikuti kelas ini, kecuali bila yang memberikannya adalah Dimas.

Ya! Dimas adalah pembuka semua pesona yang dinanti. Tanpanya, kelas akan terasa hambar, begitu anggapan mereka, termasuk Tyo.

” Teman-teman, aku duluan yo!”

Pamitan Kevin menutup keceriaan yang sudah didapat selama nge-gym disana.Peluh yang membasahi setelah mengikuti body strike, muay thai dan body pump, kejahilan Aji, Daniel dan Damar dengan menyingkap tiraikamar mandi disaat Tyo sedang mandi hingga mencicipi milkshake dari susu kambing yang dijual di kasir. Semua pengalaman indah ini memberi kesan yang sangat baik dalam pikiran Tyo. Ditambah dengan kehadiran Dimas yang semakin melengkapi suasana. Dan ia mendapat hadiah yang tidak disangka.

” Tyo. Mau aku antar ndak?”

Tyo terkejut. Dimas mau menawarkan tumpangan padanya. Ia arahkan pandangan pada Gio yang selama ini sering mengantarnya. Saat ia mulai mengutarakan padanya, Gio memberi jawaban langsung.

” Nggak apa apa, Tyo. Kamu ikut dulu aja sama Dimas.”

” Yakin?”

” Iya! Aku bisa pulang sendiri.”

” Ya sudah! Sampai jumpa di kampus ya!”

Lambaian tangan Gio menjadi ucapan penutup di situasi tersebut. Perlahan, Tyo menghampiri motornya Dimas. Dan ia menaikinya dengan tenang.

” Siap berpetualang di jalan?”

Anggukan Tyo membuka semua canda baru. Dimas pun menguntai senyum dengan indah setelah teman-temannya meninggalkannya di tempat parkir yang terlihat mulai sepi. Jam setengah 10 malam memberitahu Tyo dan Dimas. Motor Dimas menjawab seruan itu. Hentakan angin malam mulai menusuk rasa.

Pemandangan Ring Road Utara seakan membius Tyo saat Dimas mempercepat laju. Meski Dimas membolehkan mendekapnya, namun Tyo tetap menolak. Setelah Tyo memberitahu jalur menuju tempat kosnya, 10 menit telah memberitahu Tyo. Betapa kecepatan seolah menjadi sebuah mata uang berharga sehingga banyak yang memburunya.

Dimas masukan motornya ke dalam kosan Tyo. Saat menutup pagar, Tyo melihat tukang sate berjalan dengan anggun. Menjajakan makanan malam hari yang memesona. Tidak ada keraguan saat Tyo memesan 2 porsi sate ayam. Meski Tyo memberi talangan pembayaran, namun Dimas adalah sosok yang tidak ingin merepotkan orang lain.

Setelah sate terbungkus, Tyo menuju kamar bersama Dimas. Dimas pun masuk ke kamarnya. Untai pandang terus ia tebar saat melihat kamar Tyo yang terlihat rapi. Buku-buku berjejer rapi, kipas angin yang tetap terlihat bersih dan tempat tidur yang tertata baik.

” Kenapa, Dim?”. Tyo membuka pertanyaan atas sikap Dimas yang terlihat penasaran dengan setiap detail kamarnya.

” Ndak! Aku takjub saja. Kamarmu selalu terlihat rapi.” puji Dimas dengan tenang. Memberi keteduhan bagi Tyo.

” Ah…..Ndak juga.”

” Beneran. Dibanding kamarku, kamarmu lebih rapi.”

Sunggingan senyum Tyo berikan sebagai tanda terima kasih. Tyo dan Dimas menikmati sate ayam yang sudah dibeli. Tidak hanya berhiaskan acar, namun juga canda tawa dan kepo. Kepo tentang pertemanan Tyo dengan Aji dan kawan-kawan. Dimas pun banyak memberi canda saat ia melihat Tyo memeragakan gerakan-gerakan di kelas yang ia ikuti. Dan tidak lupa, pujian mengalir deras dari bibir indah Tyo.

” Aku itu masih banyak belajar untuk jadi instruktur. Maklum saja, aku bukan orang yang terbiasa senam.” ucap Dimas merendah.
” Tapi kamu itu hebat lo! Bisa membuat peserta kelas nyaman sama kamu! Bahkan ibu-ibu yang ikut kelas banyak yang bilang kalau gerakan Dimas bikin enak gerakan. Ndak kaku tapi enerjik.”

Anggukan Dimas memberi pertanda atas pemahamannya. Ia pun mengakui, olahraga adalah jiwa dirinya. Meski awalnya, ia hanya menggeluti basket, namun ia merasa perlu menata tubuhnya demi membentuk suatu citra. Citra sebuah maskulinitas yang akan menjadi identitas dirinya hingga nanti.

Di balik itu semua. Pernyataan Dimas mengingatkan Tyo agar ia bisa menata raganya. Bukan hanya untuk membuat citra maskulinitas dirinya saja, melainkan bisa memberi kesehatan jangka panjang selama bisa menjaga pola makan. Namun apa yang dikonsumsi Dimas dan Tyo saat itu tidak sesuai dengan prinsip. Setidaknya, kucing makan dedaunan bila ia tidak menemui daging.

Pembicaraan semakin larut. Tyo dan Dimas hanyut dalam keakraban. Asal daerah, makanan kesukaan hingga pengalaman pertama di kampus menjadi aliran yang sangat menyejukan. Sesuatu yang belum pernah ia alami saat ngobrol dengan temannya. Dan mereka hanyut ke sebuah muara yang tidak akan Dimas duga.

” Dim. Aku boleh tahu tentang masa kecilmu ndak?”

” Kenapa? Sepertinya kamu kepo sekali!”

” Iya. Lagipula aku ingin tahu saja. Kalau kamu keberatan, kamu boleh tidak cerita.”

Dimas pun menguntai senyum sembari mengedipkan mata kirinya. Sebenarnya, Tyo mengetahui maksud gerakan itu. Namun ia bersikap seolah-olah tidak tahu. Tyo pun tetap tenang. Menunggu kesempatan cerita yang akan ia tunggu.

Dan Dimas menculik Tyo menuju masa lalunya.

***

Surabaya, 1 Maret 1991. RSUD Dr. Soetomo menjadi saksi atas kelahiran seseorang yang sudah mengantar Tyo menuju Halte Busway. Pria ini diberi nama Dimas Narendra Adityaswara. Nama ini pula yang kelak akan mewarnai sejarah hidup seorang Bimatama Prasetyo.

Keluarga Dimas bukan termasuk keluarga mapan. Ayahnya adalah pegawai produksi di sebuah perusahaan swasta. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Kehidupan keluarganya bergantung dengan gaji ayahnya dan usaha warung kelontong ibunya. Meski keluarganya berkecukupan, ia merasa bersyukur, merasakan kehangatan keluarga seperti yang ada di sinetron Keluarga Cemara.

Sayangnya, semua itu berubah saat ayahnya di-PHK saat ia menginjak kelas 3 SD. Terpaksa, ibunya berjualan rempeyek buatannya di sekolah Dimas, pasar tradisional hingga warung kelontong di lingkungan sekitar rumahnya. Hasil penjualan rempeyek berbuah manis. Meski keuntungan tidak terlalu besar, namun dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan yang membantunya.

Selain itu, tangan Tuhan memberi kasih sayang pada Ayahnya karena berhasil mendapat pekerjaan di perusahaan tekstil. Rasa bersyukur pun tidak henti-hentinya mengalir dari bibir ibunya. Meski ayahnya sudah mendapat pekerjaan, namun kehangatan keluarga sedikit berkurang. Ayahnya sangat sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada kehangatan yang biasanya diberikan.

Bahkan akhir pekan pun tidak bisa mewujudkannya. Namun berkat tangan hangat ibunya, Dimas masih bisa mendapat kasih sayang yang sangat ia butuhkan.

Pada masa SD, Dimas dikenal sebagai anak yang berprestasi, mudah bergaul dan sangat senang olahraga. Meski saat kelas 1, ia pernah di-bully, namun mereka akhirnya mau berteman dengannya. Teman-teman SD-nya bagai aneka bunga yang mewarnai taman hingga diakui sebagai yang terindah di dunia.

Salah satu olahraga yang disukai Dimas, Basket menjadi sarana penyambung persahabatan yang sulit dicari padanannya disamping prestasi akademis yang ia gunakan untuk membantu temannya dalam memahami pelajaran.

Bahkan, disaat ia mengalami kesulitan ekonomi, teman-temannya banyak membantunya. Ia sangat berterimakasih pada mereka hingga sebagian dari mereka selalu bersama-sama di sekolah yang sama dengannya.

Pada masa SMP, Dimas masih menunjukan keunggulannya, basket dan prestasi. Namun keunggulan inilah yang membuat dirinya terjebak pada romansa masa muda. Ia pernah pacaran dengan 4 cewek namun semua berakhir dengan penghianatan.

Dalam benak Tyo, Dimas seperti Kamal yang pernah dihianati para cewek yang mendekatinya. Ketika pikiran itu melintas, Tyo tidak ingin mengambil kesimpulan secara gegabah. Ia yakin, bunga yang ditanam di tanah yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda.

Kembali ke cerita, gara-gara urusan romansa itu, prestasi olahraga dan akademisnya hancur. Namun, ia berusaha bangkit meski prestasinya tidak sebagus yang ia raih saat SD. Akhirnya, ia bisa mengharumkan nama sekolahnya dalam kompetisi basket tingkat SMP dan meraih peringkat ke-8 sebagai siswa terpandai.

Pada masa SMA, Dimas mulai memberi fokus pada prestasi. Kegigihannya membawa hasil. Selain selalu mendapat peringkat pertama dalam prestasi akademis, ia juga sukses membawa sekolahnya menjadi juara kompetisi basket peringkat pertama di tingkat Kota Surabaya, Propinsi Jawa Timur dan Nasional.

Untuk perlombaan lainnya, ia juga berhasil menjadi juara pertama se-Jawa Timur dan ketujuh tingkat nasional dalam Alto Healthy Drink Body Contest, sebuah kompetisi pencarian model untuk produk minuman kesehatan. Semua prestasi yang ia raih didukung orang tuanya dan teman-temannya, yaitu Rino, Aji dan Dito.

Pikiran Tyo melintasi momen ketika pertama kali bertemu Dimas dan Aji di kosan yang sama. Namun, perjalanan itu ia hentikan. Baginya, biarlah waktu akan membuktikan. Kembali ke cerita. Dimas amat menyayangi mereka yang selalu bersama sejak SD.

***

” Dim. Aku ke toilet dulu ya?”

” Iya.”

Tyo tinggalkan Dimas di kamar sendirian. Dimas duduk di kursi meja belajar. Pandangan matanya mengelilingi situasi. Tak disangka, ia arahkan pandangan ke sebuah buku harian. Saat mengambilnya, beberapa foto terjatuh dari sampul belakang. Dimas melihat foto Fahmi dan Kamal lalu membaca tulisan.

Perasaan terkejut membuatnya memaklumi yang ia alami. Kata demi kata ia resapi. Menunjukan sebuah ekspresi yang disimpan rapat. Ia pun kembalikan foto itu ke sampul belakang dan duduk di lantai saat gagang pintu bergerak.

Dan rahasia pun terbuka.

” Tyo. Aku boleh jujur sama kamu ndak?”

” Boleh. Memangnya kenapa?”

Dimas ambil jeda. Memberi kesempatan pikiran menyusun pertanyaan.

” Saat pertama kali melihatmu, ada sedikit yang kukagumi. Meski badanmu gemuk, tapi kamu terlihat tampan dan memesona. Aku tahu, seorang pria yang mengagumi pria lain akan mudah dianggap sebagai penyuka sesama. Tapi menurutku ndak ada yang salah bila kejujuran itu aku katakan. Kalau kamu menganggap itu sebuah hal yang membuatmu tidakbetah saat ini,kamu boleh membenciku.”

Tyo terdiam. Dalam benaknya, Dimas seperti merak yang mengibaskan ekor dengan cantik. Di sisi lain, ia tidak mau menjalani hubungan seperti yang ia alami pada masa lalu. Seperti menahan beban berat sebesar 20 kg, Tyo sulit menahan rasa itu. Perlahan, Dimas mulai bercerita sambil menyodorkan foto seorang pria yang sudah ia ambil dari tas.

” Kamu tahu, siapa orang yang ada di foto ini?”

Tyo gelengkan kepala. Tidak tahu dengan sosok orang tersebut. Benak Dimas seperti memberi hembusan bubuk benang sari pada putik yang masih ranum. Meski beban 20 kg itu masih menggantung perasaannya, ia akan berprinsip seperti siput. Hati-hati berjalan tanpa merusak yang dilintasinya.

” Dia adalah sahabat sekaligus mantanku, Rino.”

Tyo terkejut. Ia tidak menyangka. Seorang binaraga tampan yang memiliki keindahan fisik sempurna ternyata memiliki pacar yang tampan dan bertubuh proporsional. Benaknya seperti membawa Kamal kedalam pikiran dan kenangan. Ada kekhawatiran bila yang dialami Rino serupa yang dialami Tyo ketika bersama Kamal.

“Bagaimana bisa?”

Dan Dimas merangkai kisahnya dalam naungan berat hati.

……………………………………………………………………….

Rino,atau Arino Risoni Aruan , adalah tetangga keluarga Dimas. Ia hidup dengan ibunya, Bu Linda. Ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya saat masih SD karena lebih memilih wanita lain. Selain itu, ekonomi keluarganya merosot setelah ditinggal ayahnya. Alhasil, ibunya berjualan usaha kecil-kecilan. Melihat kenyataan itu, ibunya Dimas berinisiatif menawarkan ibunya Rino agar bekerja di rumahnya. Ibunya Rino berterima kasih atas tawaran itu dan ia mulai bekerja di rumahnya sehari setelahnya.

Rino selalu satu sekolah dengan Dimas. Bahkan Rino itu bagaikan adik yang sering mendapat kasih sayang dari saudaranya. Semua yang Rino sarankan selalu ia ikuti. Namun ia menyesal, tidak menuruti nasihat Rino ketika ia berpacaran saat SMP. Saat itu, Rino mengingatkan agar Dimas jangan berpacaran dengan wanita-wanita yang Rino anggap tidak tulus.

Dari sisi karakter, Rino adalah anak yang pendiam namun terlalu perasa. Bila Dimas mengajaknya becanda, ia selalu ambil perasaan. Bagi sebagian orang, Rino mungkin akan dijauhi dan dibenci. Tapi bagi Dimas, Rino adalah teman yang harus selalu didampingi. Terlebih, trauma masa kecilnya belum sepenuhnya hilang. Hal ini yang membuatnya sangat menyayangi Rino sebagai sahabatnya.

Ada kebiasaan Rino yang dapat dibilang sebagai awal kisah mereka saat di kelas X. Di dalam kamar, Rino selalu melepas handuk setelah mandi. Bahkan ketika mengambil pakaian dari lemari, ia tidak menutup tubuhnya dengan handuk. Dan kisah itu bermula saat Rino menumpang mandi di rumah Dimas.

Saat berada di kamar Dimas, ia melepas handuk dan mengeringkan tubuhnya. Tiba-tiba, pikirannya membuai untuk berbaring di tempat tidur Dimas tanpa ada sehelai kain yang menutupinya. Dan ia berbaring dalam posisi tengkurap. Rino tidak sadar, Dimas memasuki kamarnya. Awalnya, Dimas cukup terkejut.

Namun ia mulai mengikuti yang Rino lakukan. Perlahan, kaus A-shirt, celana pendek dan celana dalamnya Dimas dilepas satu persatu dan ikut berbaring di sebelah Rino. Rino yang saat itu tertidur pun terbangun dan mendapati sahabatnya mengikuti yang ia lakukan saat itu.

” Sorry, Dim!”

Rino langsung ambil bantal dan menutup kemaluannya. Tetapi Dimas tetap tidak menutup kemaluannya. Ia berdiri dan meraba tubuhnya sembari memberi keyakinan.

” Rin. Aku tahu, kamu pasti akan tegang saat melihat orang yang memiliki bentuk tubuh seperti ini. Kalau kamu mau, ini bisa menjadi milikmu.”

Tiba-tiba Dimas mengambil bantal dengan paksa. Dimas terkejut, kemaluannya Rino tegang. Dimas berinisiatif mendekap Rino hingga kemaluan Dimas ikut tegang. Rino merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Dekapan sahabat yang memiliki bentuk tubuh atletis ini menjadi peluntur segala keyakinan yang selalu mewarnai pikirannya ketika rasa suka itu muncul. Ia pun tahu, seorang gay pasti akan ditolak siapapun. Namun Dimas mematahkan anggapan itu. Disaat kebimbangan itu mengudara, sebuah pengakuan terlontar saat Dimas bersimpuh.

” Rin. Maukah kamu jadi pacarku?”

Perlahan, keterkejutan Rino memberi 2 warna kebimbangan. Di satu sisi, ia hanya ingin menganggap Dimas sebagai sahabat yang selalu membantunya. Di sisi lain, Dimas memiliki rasa suka dengannya. Seperti buah simalakama, ia harus menentukan pilihan itu. Akhirnya, Rino menerima Dimas.

Dimas langsung mendekap dan mengecup Rino. Aroma Rino yang terasa maskulin semakin membuai Dimas untuk mencicipi tubuh Rino yang terlihat gemuk. Rino menahan Dimas yang sangat asyik mencumbuinya.

” Saat ini, aku kan sudah jadi pacarmu. Apa kamu mau, pacaran dengan orang gemuk seperti ini?”

Dimas tersenyum. Ia memberi tanggapan sembari memegang wajahnya.

” Tidak masalah, kamu itu gemuk, kurus atau bertubuh sepertiku. Yang terpenting, aku sudah berusaha mencintaimu. Tapi kamu bisa mendapat bentuk tubuh sepertiku kalau kamu mau. Aku akan membantumu mewujudkannya.”

” Carane?”

Dimas pura-pura berpikir. Tiba-tiba, dia seperti singa yang menerkam mangsanya. Cepat namun memuaskan. Kecupan bibirnya bersarang indah pada Rino. Perlahan, Dimas membawa Rino menuju tempat tidurnya. Menikmati bibir Rino yang beraroma manis, tubuh yang beraroma maskulin dan rambut yang sehalus sutera.

Tangannya menggenggam kemaluannya dan Rino hingga mani membasahi mereka. Peluh bercampur hasrat menjadi zat buangan terindah yang mereka hasilkan disamping keceriaan dan canda tawa.

Kamar yang semula rapi berubah berantakan. Pakaian Dimas berserakan bebas. Tubuh mereka diselimuti seperai disertai dekapan saling diberikan. Persetubuhan ini menjadi permainan Dimas pada Rino setiap berinteraksi. Permainan yang memberi tanda kasih sayang yang mereka wujudkan.

Bagi Rino, ini bisa menjadi obat hati disaat ia galau dengan kondisi tanpa ayah yang memberi kehangatan pada anaknya. Dan Dimas mau memberikan itu semua, bahkan lebih.

Bersambung