Yang Pertama Dan Terakhir Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 3

” Kak, kenapa kakak suka sama aku?Padahal kakak memiliki tubuh lebih atletis dibandingkan aku. Aku saja tidak bisa memiliki bentuk seperti kakak ini dan……….”

Kecupan bibirnya langsung menghentikan ucapannya.Kamal pun menikmati sajian orang yang selalu menganggap Kamal sebagai pria yang paling tampan dan atletis.Saat Tyo melihat foto Rizal, terlihat kalau Rizal memiliki bentuk tubuh lebih kekar dan atletis dibandingkan Kamal.Namun Kamal lebih tampan dibandingkan Rizal.

Rizal akui kelebihan itu hingga kalau ia mendapati Kamal tidak ingin disebut lebih tampan dan atletis, kecupan hangat itu menjadi senjata untuk mencegah dirinya melontarkan pernyataan serupa.

” Kamal, cinta bukan dilihat sebatas kondisi fisik pasangan yang kita cintai. Cinta harus dilihat melalui rasa orang yang keluar dari hati terdalam. Saat pertama bertemu dengan seseorang, aku merasa orang yang kutemui ini akan memenuhi rasa yang aku butuhkan dan yang aku inginkan.

Kamu tahu, meski aku seorang personal trainer, aku punya keinginan terdalam agar diantara yang aku bimbing, ada yang akan menaruh rasa padaku. Kuakui, aku bisa melihat melalui sorot mata mereka.Sebagian besar terasa dingin dan kaku seperti es.Namun kamu berbeda.

Kamu terlihat lebih hangat.Dan sejak awal, aku mulai menaruh curiga terutama saat kamu sering melihatku latihan.Bisa saja alasannya ingin melihat caraku latihan. Tapi sorot mata tidak akan bisa menipu.Dan aku telah membuktikan padamu.Jadi,aku sangat berharapagar kamu jangan berkata hal serupa lagi.Apapun kondisi kamu, kamu tetap yang aku cintai.”

Penjelasan Rizal tersebut berhiaskan sentuhan tangannya hingga berakhir dengan kecupan hangat dan dekapan indah.Dua insan yang sedang dalamkeadaan telanjang saling berdekapan hangat.

Menjelajahi relung bibir indah mereka dalam balutan selimut tebal hangat.Keindahan ini menjadi sebuah hadiah yang selalu mereka sajikan satu sama lain. Mereka tetap menikmatinya.

***

” Kamal, Aku sudah diwisuda sebagai sarjana ekonomi. Namun, maafkan aku.Aku harus balik ke Makassar.Sesuai janjiku pada ibu.Semoga kamu bisa dapat kekasih yang jauh lebih baik dariku.”

Sepucuk kalimat pada surat yang Rizal berikan membuat amarah Kamal laksana air bah yang tidak bisa dibendung. Semua barang-barang yang ditaruh di meja belajar porak poranda dilempar ke segala arah.Air matanya tak dapat terbendung.Sudah 9 bulan rasa itu terrajut, Kamal harus mendapati kalau Rizal telah meninggalkannya.

Parahnya, ia tidak jujur terkait rencana balik ke Makassar. Kamal telah memulai rajutannya dengan indah namun dirusak Rizal sendiri.Akibat perbuatannya, Kamal alami depresi ringan. Namun sahabatnya telah menenangkan Kamal dan memberi semangat agar ia tidak mudah putus asa. Kamal pun mengamini nasihat itu.

Menjelang kelulusan, Kamal mendapat berita kalau ia mendapat nilai UN tertinggi ketiga di sekolahnya.Rasa syukur terpatri dari bibir indahnya.Ia tidak ingin berlarut dalam kebahagiaan ini dan menjadikannya sebagai pemacu semangat.

Dalam naungan matahari, Kamal menanam hari esok di sekolah baru meski ia takkan sadar, teman baru yang duduk di depannya akan menjadi pelabuhan terakhir di SMA.

***

“Mal, gue yakin suatu saat akanada orang akan memberi rasa ke lo. Dan meski lo itu gay, gue gak pernah ada pikiran untuk menjauhi orang yang berbeda. Bagi gue, perbedaan adalah takdir. Kita tidak bisa memaksa orang harus sama.

Biarlah orang itu berbeda. Jadi, anggap aja gue itu teman yang baik. OK!”. Kamal langsungmemberi senyum pada Tyo. Senyum yang memberi keyakinan terindah. Permintaan Kamal menjadi sesuatu yang tidak ia duga.

” Tyo. Kan sekarang gue udah cerita tentang masa lalu gue. Sekarang giliran lo yang cerita. Gimana?”

Rasa terkejut mulai menghiasi diri Tyo. Ia sendiri juga memiliki sikap dan karakter yang sama dengan Kamal meski takdir berbeda. Benaknya mulai memberi rasa khawatir atas apa yang akan ia ceritakan. Dan Kamal mulai menunggunya.

” Kenapa, Tyo? Kok diem aja? Ada yang lo tutup-tutupin ya?”. Delikan mata Kamal seperti menghasut pikiran Tyo untuk bercerita.

” Ah…! Gak ada apa-apa.”

” Ayo dong. Gue mau denger cerita lo.”

” OK! Tapi gue mau tanya satu hal. Siapa sahabat yang lo maksud?”

Tanpa ada yang ia tutupi, ia menyodorkan sebuah nama. ” Ganindra Hilmansyah, ialah sahabat yang nenangin gue saat terpuruk akibat perbuatan Rizal.”

Tyo terkejut. Ternyata Hilman yang memberi semangat pada Kamal. Kamal pun bercerita kalau Hilman adalah temannya sejak SD bersama-sama Roni, Jangkung, Kinan, Karin, Bella dan Fifi. Mereka seperti keluarga bagi Kamal. Terkait ancaman Hilman pada Tyo, Kamal telah mengetahuinya.

Namun Kamal berhasil meyakinkan Tyo kalau Hilman bukanlah orang yang sangat jahat. Saat tahu tentang kasus Inai ini, Kamal meyakinkan Hilman kalau Tyo hanya membantu Inai dalam pelajaran dan tidak ada maksud lain. Tyo akhirnya mengetahui cerita sebenarnya. Setelah Kamal menguntai cerita itu, Kamal meminta kesediaannya.

” OK! Gue cerita tentang masa lalu gue.”

Tyo mulai bercerita tentang masa lalunya. Kamal duduk tenang mendengarkan setenang air di kolam. Namun kejutan telah memberi aura pada Kamal. Ia tidak menyangka dengan kisah cinta Tyo. Hingga cerita berakhir, Kamal terus resapi setiap inti cerita. Setelah cerita itu berakhir, tiba-tiba permintaan Kamal mengarah pada sesuatu yang tidak ia duga.

” Tyo. Lo mau gak jadi pacar gue?”

Rasa terkejut mulai memberi warna paras Tyo. Di satu sisi, ia hanya ingin jadikan Kamal sebagai sahabat. Namun di sisi lain, ia kagum dengan postur dan paras Kamal yang menurutnya sempurna, bahkan lebih dari Fahmi. Tundukan kepala menjadi jawaban meragukan dirinya.

Disaat kebimbangan datang menghampirinya, Kamal menyentuh wajahnya dan mengambil kecupan pada Tyo. Kecupan hangat itu mewarnai sebuah pertanyaan hingga Tyo menikmatinya. Dua menit kecupan itu bersarang indah, Kamal hadapkan wajahnya dengan tatapan elang yang sangat tajam saat melihat yang ia incar.

” Will you…….”

Jantung Tyo berdegup sekencang genderang yang dipukul keras. Menunggu reaksi Kamal melalui pertanyaannya. Dan kata itu berlanjut .

” …..be my boyfriend?”

Tatapan elang mulai membuai Tyo dalam keheningan kamar tidur Kamal. Anggukan kepala Tyo menjadi jawaban yang Kamal inginkan. Untaian senyum menjadi tanggapan manis hingga Kamal melanjutkan kecupan terindah baginya. Tyo pun menikmati dengan baik.

” Thank you for the request. I love you so much.”

Pandangan Kamal yang tajam membuat Tyo merasa teduh. Setiap jengkal kecupannya menjadi obat baru bagi pengalaman terbaru di tempat yang baru. Tyo mulai memberi keyakinan pada Kamal atas permintaannya meski baru ia katakan.

***

Mentari menyapa dunia dengan cantik. Tyo dan Kamal terbangun olehnya. Dalam naungan selimut, 2 insan ini merajut kasih. Kecupan hangat Kamal menjadi pembuka hari yang indah bagi Tyo.

” Selamat pagi, pacarku?”

Sambutan awal Kamal mengantar Tyo menuju kecupan hangat yang ia berikan. Senyuman Kamal menjadi alat pembayaran yang sangat indah. Dan hal ini berlanjut hingga di kamar mandi. Di tempat itu, Kamal dan Tyo saling melumuri tubuh mereka dengan sabun cair dan menggosoknya hingga berbusa.

Namun busa-busa itu pula yang membuai mereka dalam naungan awan cinta yang cantik. Ditambah sensasi pasta gigi yang sudah mereka nikmati setelah menggosok gigi hingga kecupan panas setelah air membilas mulut dan tubuh mereka menjadi sensasi yang menegangkan sekaligus indah.

” Tyo. Hari ini kita mau masak apa?”

Alunan gelombang pikiran sedang terlantun indah dalam pikiran Tyo. Langkah pandang mengarahkannya menuju lemari es. Saat melihat bahan-bahan yang tersedia berupa sawi, kangkung, telur, daging ayam tanpa lemak dan daging sapi, gumpalan ide mulai membesit pikirannya.

” Gimana kalo daging tumis kangkung?”

Untaian senyum memberi lampu hijau bagi Kamal. Dengan bantuan Tyo, Kamal mulai memasak makanan yang diminta. Dari mencuci, memotong, menumis, menambahkan bumbu hingga menyajikan dilakukan bersama-sama.

Saat rasa masakan membuai kebersamaan, maka ucapan terima kasih menjadi alat pembayaran paling indah. Lebih indah dibandingkan emas sebesar Gunung Salak.

” Masakan ini enak banget, lo.”. Pujian Kamal benar-benar melontarkan rasa sesungguhnya. Terlebih dengan ekspresi yang murni keluar dari sanubarinya. Tyo seperti melihat kebenaran. Ya! Kebenaran perasaannya.

” Iya. Kayaknya kalo kita masak bareng, rasanya pasti enak.”. Pujian Tyo membuat Kamal menganggukan kepala. Setuju dengan pendapatnya. Kamal dan Tyo melanjutkan menikmati masakan itu. menikmati dengan lidah dan hati. Inilah yang membuatnya terasa indah. Bahkan langit pun merayakan keindahannya.

***

” Sayang, kamu kok keliatan ganteng sih?”

Tyo terkejut. Benaknya mulai mempertanyakan pujian itu. Seorang yang terlihat gendut, tidak atletis dan paras biasa seperti Tyo bisa dibilang ganteng. ” Ganteng dari mana?”
Kamal yang saat itu memangku Tyo mulai memberi pujian manis berbalut penjelasan indah.

” Lo itu ganteng. Semua sudut wajah lo itu membuat gue terpesona. Meski lo itu gendut. Tapi wajah tidak akan bisa menipu. Tapi satu hal yang lo harus tahu. Gue bener-bener punya rasa sama lo. Gue tahu, lo akan bilang kalau gue itu bertubuh atletis, berwajah ganteng atau apalah. Yang jelas semua kelebihan gue itu lo ungkit. Tapi, lo harus tahu. Gue gak mau lihat orang yang gue sayangi dari penampilan fisik aja. Gue pengin rasain kasih sayang dari orang yang gue sayangi. Dan gue yakin, lo adalah orang yang tepat untuk ngisi hati gue.”

Saat Kamal akhiri penjelasan itu, pandangan elang mengintai sorot mata Tyo. Perlahan, untaian senyum mengiringi perjalanan Kamal untuk mencicipi bibir merahnya. A-shirt Kamal telah membuai Tyo.

Menikmati sentuhan rasa dan mengguncang gairah. T-shirt Tyo terlucuti dengan indah hingga menampakan bentuk tubuhnya. Kamal pun ikut lakukan hal yang sama padanya. Kecupan itu semakin kuat hingga Kamal akhiri semuanya.

” Sorot mata lo tidak akan bisa menipu gue.” ucap Kamal seperti membuka kotak rahasia yang telah ia kunci. ” Gue tahu, lo pasti punya rasa sama gue.”.

Kamal yang telah membuka rahasia itu membuat ia dan Tyo menguntai senyum yang membuat Kamal mengecup Tyo untuk kedua kalinya. Seperti angin panas yang mengeringkan pakaian dengan cepat. Membuat keteduhan terindah yang diberikan pria yang sangat ahli dalam strategi basket ini.

***

” I love you, handsome!”

” Me too, handsome bodybuilder!”

***

Kelas 11, Tyo masuk kelas IPA. Beruntungnya, ia mendapat 5 hal. Pertama, ia masuk di kelas 11-IPA 1, kelas yang berisi anak-anak dengan peringkat nilai tertinggi di angkatannya. Kedua, ia sekelas dengan Kamal Ghifari dan Ganindra Hilmansyah. Ketiga, disaat ia ikut bimbingan belajar, Kamal ikut bimbel yang sama.

Keempat, sejak semester genap kelas 10 hingga awal kelas 11, ekskul basket banyak meraih prestasi. Kelima, Tyo bisa memasak secara mandiri.

Poin kelima ini bagi orang lain terlihat sepele. Tapi bagi Tyo adalah sebuah pencapaian karena biasanya, ia hanya bisa masak Mie Rebus, Mie Goreng dan Nasi Goreng meski memakai bahan-bahan instan.

Setiap selesai pulang sekolah, Kamal selalu latihan basket di halaman sekolah. Bila tidak ada bimbel, Tyo menyediakan waktunya untuk melihat penampilan Kamal di lapangan basket. Baginya, melihat penampilan seorang bintang yang sangat menawan adalah suatu keharusan.

Tentunya, bintang yang dikagumi para wanita ini akan terus memanjakannya dengan pesona yang selalu tersedia dalam dunia basket namun lebih memukau dibanding yang lain. Kamal yang saat itu melihat Tyo meski sekilas pun ikut senang dengan kehadirannya. Setidaknya, bunga akan sangat senang dengan kehadiran kupu-kupu.

Di semester genap, Tim basket sekolahnya berhasil menembus babak final dalam pertandingan basket tingkat nasional. Lawan yang akan mereka hadapi nanti adalah SMA Islam Al Azhar 4. Karena lawan yang mereka hadapi sangat berbahaya, maka latihan pun menjadi sangat keras dan ganas, seganas harimau yang menerkam mangsa.

Peluh terlihat membanjiri semua pemain, termasuk Kamal. Sunggingan senyum tidak Kamal lupakan.

3 hari sebelum pertandingan final, Kamal meminta Tyo untuk main ke rumah Tyo. Persetujuan pun datang. Tyo membolehkan Kamal ke rumahnya karena ibunya sedang kerja dan adik-adiknya masih sekolah.

Kamal pandangi setiap sisi kamar Tyo hingga pandangan teduh menyertainya. ” Gue baru pertama kali kesini, lo. Ternyata kamar lo cukup simpel, ya?”

” Apanya yang simpel. Kamar gue kan gak sebagus kamar lo!” ucap Tyo dengan nada merendah. Benaknya ingin menyampaikan agar ia tidak ingin dilebih-lebihkan Kamal. Namun bukan Kamal namanya kalau tidak bisa memuji.

” Lo jangan ngomong gitu. Meski kamar lo lebih kecil dan tidak ada AC dibanding gue, tapi menurut gue, ini nyaman banget. Pokoknya, lo jangan ngecilin diri lo deh. Apapun kondisi diri lo, gue akan sangat menerimanya.”

Anggukan Tyo membuat Kamal senang. Kamal pun berdiri dan melepas seragam, kaus dan celana dalam yang ia kenakan. Tyo terkejut atas yang ia lakukan. Kamal lalu berbaring di tempat tidur dengan merenggangkan kakinya. Dalam hembusan angin dari kipas angin yang ditaruh di samping tempat tidurnya, Kamal menikmati kesegaran ini.

” Mal, gue mau nanya. Lo gak merasa malu gitu. Bugil seenaknya di kamar orang.”

Kamal hanya menunjukan diam, merajut senyum, mengedipkan mata kirinya dan membalikan badannya ke posisi tengkurap. Menutup bagian depan tubuhnya sembari memosisikan sebagai wanita yang menggoda pria. Jari tengah tangan kanannya mengusap halus pundaknya. Jari telunjuk tangan kirinya mengusap halus bibirnya.

” Lo gak pengen rasain keindahan tubuh ini?”.

Godaan Kamal ini makin lengkap saat mata kirinya berkedip. Detak jantung Tyo berdebar seperti genderang yang dipukul sangat keras. Seperti angin yang bertiup terus-menerus hingga pohon tumbang, Tyo sulit menahannya. Dan yang diharapkan Kamal terjadi. Pakaian yang Tyo kenakan dilepas satu persatu. Kamal lalu mengambil tas dan mengeluarkan fleshlight.

” Gila, lu! Lo berani amat bawa alat itu!”. Tyo menuai rasa terkejut saat mengetahui Kamal membawa alat yang bagi sebagian masyarakat kita adalah sesuatu yang sangat tabu.

” Aah…gak pa pa. Gak ada yang tau ini.” ucap Kamal dengan “masabodo” nya.

Kamal meminta Tyo duduk di depannya. Saat Kamal berada di belakang punggungnya, ia memasang alat itu pada Tyo. Kamal dan Tyo menikmati suguhan indah yang Kamal berikan. Kemudian, Kamal menarik Tyo dan mencicipi dirinya. Kecupan hangat menjadi hiasan yang Kamal berikan.

Tyo pun ikut menikmati keindahan ini. 2 jam kemudian, kain seprai menutupi 2 insan yang saling berpelukan. Cerita berlanjut hingga kamar mandi menjadi saksi atas keindahan ini. Tawa canda menghiasi keindahan yang mereka bentuk.

” Mal, guepinjemin baju ya.”

” Gak usah. Gue bawa baju ganti, kok. Yang gak gue pake pas basket tadi.”

Kamal pun memakai kaus A-shirt kegemarannya, celana pendek dan celana dalam. Tidak ketinggalan, parfum pun ia sematkan. Aroma maskulin membuai Tyo menuju dirinya hingga dekapan menjadi sebuah perangkap.

Ya! Perangkap terindah yang Kamal berikan. Dan rasa itu akan selalu mengiringinya. Bahkan saat waktu harus memutuskan suatu takdir yang tidak ingin mereka alami.

***

“Mal. Menurut kamu cinta itu apa?”

” Saat orang yang kamu sayangi merasa nyaman bersamamu.”

” Kalau gitu, apa kamu merasa nyaman?”. Kamal akhiri dekapan dan menatap Tyo yang penasaran.

” Nyaman sekali. Bahkan aku tidak dapat menemukan kenyamanan paling indah dibanding saat bersamamu.”

Kamal dan Tyo saling menguntai senyum hingga dekapan menjadi alat pembayaran paling mahal dalam merajut hubungan mereka.
” Mal, gue yakin, tim basket kita pasti menang.”

” Kok lo yakin?”. Kamal akhiri dekapan dan menatap Tyo dengan nada penasaran.

” Ya yakin lah! Kan pahlawannya ada di depanku.”

” Ah…bisa aja.” ucap Kamal sambil mencubit hidung Tyo.

Canda tawa mewarnai hubungan indah ini. Dekapan Kamal menghangatkan perasaannya. Sehangat selimut dari bulu rusa.

” Mal, saat lo ngomong romantis dan puitis kayak gini, lo bisa ngomong dengan Bahasa Indonesia Baku. Tapi kenapa saat lo ngomong sama gue, lo pake bahasa gaul?”

” Biar gue bisa menaklukan hati lo. Dengan bahasa baku, gue bisa utarain keindahan diri lo. Moga aja, bisa bikin nyaman lo.”

Dan kecupan di wajah Tyo mencairkan suasana.

***

Lapangan Basket Gelora Bung Karno, saksi bisu pertandingan 2 sekolah dengan kemampuan strategi permainan basket paling handal. Tim basket, guru pembimbing, guru pelatih, siswa pendukung dan kelompok cheers tiap 2 sekolah unjuk kebolehan dalam memberi motivasi dan semangat demi meraih satu kata: juara.

Kedua tim mulai mempersiapkan strategi sebelum pertandingan digelar.

60 menit sebelum pertandingan.Tyo membeli minuman untuk Kamal. Saat berjalan, ia melihat kunci yang terjatuh dari kantong seorang cowok. Ia pun berlari mengambil kunci tersebut dan mengejar cowok yang sedang membawa 2 botol minuman.

Cowok itu yang menyadari kuncinya hilang pun melihat Tyo yang membawa kuncinya. Dengan penjelasan sebenarnya, cowok ini mengerti.

” Makasih ya. Lo udah nemuin kunci motor temen gue.”

” Sama-sama. Lo juga mau nonton pertandingan basket?”

” Iya.”

Tyo dan cowok itu berjalan beriringan. Obrolan mulai dirajut indah. Cowok yang kemudian Tyo kenal dengan nama Kiki ini adalah teman salah satu tim basket sekolah lawan. Kiki seperti tidak punya rasa permusuhan meski sekolahnya adalah lawan dari sekolah Tyo. Kedua orang ini menjalin keakraban sebagaimana pertemanan biasa.

Bahkan Kiki memberi harapan agar tim basket sekolah Tyo menang. Rasa terkejut mulai menghampiri Tyo pada Kiki. Namun penjelasan Kiki bahwa tim basket Tyo adalah tim handal yang mampu menjadi penyeimbang tim basketnya menjadi alasan Kiki memberi harapan itu. Dan obrolan itu berakhir setelah Kiki dihampiri seorang pria yang kemudian dikenal dengan nama Reza.

” Ki. Lama banget! Gue haus nih.”

” Iya. Nih minumnya.”

Kiki pun mengenalkan Reza pada Tyo. ” Ja. Ini Tyo. Anak sekolah lawan.”.

Saat melihat Tyo, ekspresi Reza terlihat datar.

” Oh! Ini anak sekolah lawan.”.

Reza abaikan salam berjabat tangan yang Tyo berikan. Terlihat melalui ekspresi mata yang menunjukan tidak suka. Dan tanggapannya tidak terduga.

” Kita lihat aja, Ki! Gimana usaha mereka melawan sekolah kita.”

Reza berbicara dengan nada merendahkan. Kiki yang cukup terkejut mulai memberi tanggapan meski dengan nada becanda.

” Ja. Lo jangan gitu. Mereka kan berjuang juga.”

” Iya. Kan gue bilang. Gimana perjuangan mereka. Gue mau liat!” ucap Reza menanggapi ucapan Kiki.

Tanpa ada tanggapan dari Tyo. Dengan ekspresi seperti melihat sampah masyarakat, Reza pergi meninggalkan Tyo. Namun, Kiki sebelumnya minta maaf atas kata-kata Reza yang menyakitkan. Saat Reza dan Kiki pergi menjauh, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dan mudah ditebak, itu pasti Kamal.

” Sayang, kok lo lama banget?”

Tyo balikan badan dan melihat paras Kamal yang sedang merindukan sesuatu. Apalagi kalau bukan minuman dan dekapan. Sayangnya, yang kedua tidak boleh dilakukan di tempat umum.

” Oh! Iya. Nih minumannya. Lo pasti nunggu lama ya?”

Kamal pun meminumnya. Tyo pun ikut meminum minuman miliknya. Rasa dahaga telah hilang. Hilang dalam hembusan air yang menyejukan. Dan kedua insan ini menuju lapangan basket. Mempersiapkan pertandingan yang akan mereka hadapi.

***

Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam sudah dilewati. Ada peristiwa unik yang Tyo amati. Reza dan Kamal seperti bersaing sengit dalam membela tim basket mereka. Seperti pertarungan antara Hyena dan Citah, 2 orang ini mempertunjukan keunggulan dan kontribusi mereka.

Sayangnya, kemampuan sekolah lawan jauh lebih unggul. Di luar perkiraan dan harapan Tyo. Dan sekolahnya harus menerima takdir untuk tidak meraih kemenangan.

Pertandingan final basket telah usai. Hawa AC mobil Kamal meredam sedikit kekecewaan Kamal. Namun Tyo berusaha menghibur hingga Kamal memantik ide.

” Tyo. Gimana kalo kita ke MTA (Mall Taman Anggrek)?

Kamal mengarahkan mobil menuju Jalan Tol Dalam Kota hingga memasuki Mall. Kamal ajak Tyo ke restoran Jepang. Sushi dan Teriyaki pesanan Kamal dan Tyo menjadi obat penawar kekecewaan dirinya yang tidak bisa membanggakan sekolahnya.

Sepinya Restoran Jepang membuat Kamal memanfaatkan momen romansa dengan Tyo. Saat saus sushi membekas di bibir Tyo, Kamal ambil kesempatan untuk mengecupnya. Kecupannya mengobati sebuah kekecewaan yang ia dan tim basketnya rasakan. Memberi kehangatan rasa yang ingin ia salurkan.

” Mal. You like an white angel in me!”

” Thank you, my honey!”

***

” Tyo, hari ini lo bisa main ke rumah gue gak?”

” Emang kenapa?”

” Gue ada sesuatu nih!”

Ajakan Kamal melalui telepon itu menjadi awal sebuah kejutan dan kotak pandora isi hati teman-temannya Kamal. Namun Tyo tidak menerima langsung. Sebuah ide meluncur bebas dari pikirannya.

” OK. Gue kesana. Tapi gue ada satu syarat.”

” Apa?”

” Lo harus ajarin gue basket hari ini. Gimana?”

Mobil Kamar meluncur menuju rumah seseorang yang sangat dinanti. Di depan rumah, Tyo menunggunya dan membawa ke lapangan basket di Lapangan Serbaguna Rawalumbu. Dan janji itu Kamal tepati.

Antusias Kamal memberi semangat terindah baginya. Harimau pun berlari jauh saat melatih anaknya berlari. Meski tidak selincah Kamal, Tyo sangat berusaha untuk bisa bermain bola yang disukai Kamal. Kehadiran seseorang yang tidak diundang memecah suasana khusus tersebut.

” Tyo. Gue ikut main ya!”

Seorang pria menghampiri secepat angin bertiup. Menghampiri Tyo yang sedang berlatih basket. Pria yang kemudian dikenal dengan nama Ari ini menyapa mereka. Saat Tyo membuka basa-basi, Ari seperti menantang Kamal dan Tyo untuk bermain basket.

Akhirnya, Kamal memenuhi tantangan Ari untuk bermain basket. Tyo kagum dengan permainan Ari. Dan peluh mewarnai Tyo, Kamal dan Ari.

***

Hawa AC kamar Kamal mendinginkan Tyo yang masih merasakan suasana panas akibat latihan basket yang telah ia jalani. Di atas ranjang, Kamal dan Tyo melepas rasa penat hingga mereka lanjutkan di kamar mandi. Disana, Kamal memberi kecupan ditambah dekapan dan rabaan pada tubuhnya. Aura panas meledak pada diri Kamal dan Tyo.

Menguapkan rasa yang mereka alami. Dan keindahan ini semakin terasa panas saat Kamal membawa Tyo menuju ranjang. Tanpa sehelai benang yang menemani, Kamal merasakan dan mencicipi tubuhnya yang terlihat gemuk. Ditambah kecupan yang semakin dalam hingga selimut terasa berantakan. Kenikmatan sudah terselesaikan indah.

Jam 9 malam, permainan itu berakhir. Kamal dan Tyo berada dalam satu dekapan. Usapan tangannya meneduhkan hati Tyo.

” Sayang, permainan tadi bagus sekali ya!”

Tyo arahkan pandangan ke Kamal yang tidak henti-hentinya mengusap kepalanya. ” Iya. Kamu telah bermain dengan cantik.”. Ucapan Tyo menciptakan untaian senyum pada Kamal hingga mereka berdua lanjutkan permainan di kamar mandi.

Handuk membaluti tubuh mereka. Dekapan Kamal bagaikan uang pembayar kasih sayang mereka.

” Tyo. Kalo gue bilang, lo jangan ikut fitness deh.”

Tyo heran. Disaat orang lain ingin menurunkan berat badan dengan ikut fitness. Namun Kamal menasihati dengan ucapan itu. Seperti merpati yang membawa sebuah kabar.
” Kenapa?”

” Soalnya lo keliatan lebih seksi. Apalagi payudara lo. Bikin gue horny tau!”

Ledakan tawa mengguncang sanubari Tyo sembari mereka memakai pakaian yang disediakan. Saat mereka mau keluar dari kamar, ketukan pintu memecah keceriaan yang terbangun. Saat dibuka, kejutan pun memecah rasa penasaran.

” HAPPY BIRTH….DAY TO YOU…………….”

Ucapan selamat ulang tahun mewarnai suasana romantis mereka. Hilman membawa kue black forestyang dipasangi lilin berbentuk angka 17 bersama dengan Jangkung, Danar dan Rendy.

” Tyo. Happy Birthday ya!” ucap Hilman hingga Tyo menerima jabat tangannya. Hilman, Kamal dan teman-temannya memberi sebuah hadiah dengan isi yang sama. Celana dalam.

Alasan mereka memberinya karena Tyo terlihat seksi dan menarik. Selain itu, ini adalah inisiatif Kamal. Raut wajah merah merona merekah darinya. Hilman dan teman-temannya ternyata sudah mengetahui kalau Kamal adalah pacarnya.

Bahkan Hilman dan yang lainnya sangat mendukung dan harapan itu tersematkan indah. Seindah kupu-kupu yang memancarkan pesona sayapnya hingga membuat teduh pemandangnya.

***

Sajian fried chicken, nasi, minuman bersoda dan es krim yang dibawa mereka menjadi teman obrolan hangat. Membuat canda dan keusilan menjadi resep yang mereka beri. Dan yang tidak terduga pun terjadi.

” Tyo. Sebelumnya gue minta maaf ya.”

” Minta maaf kenapa?”

” Yaa….Gue kan pernah ngancem lo.”. Ekspresi Hilman terlihat menyesal. Dan kotak masa lalu pun ia buka sebagai penegasan atas rasa itu. Dan Tyo mulai menunjukan rasa yang tenang.

” Yaudah, itu kan masa lalu. Gue juga udah maafin lo kok! Yang penting lo bisa tetep deket sama Inai sampai kakek nenek. Harapan gue sih, itu aja.”

Tyo, Kamal dan yang lainnya mulai mencairkan suasana dengan candaan-candaan. Pengalaman masa kecil, tim basket hingga pacar menjadi suasana yang sangat mencairkan. Dibalik itu semua, ada satu harapan agar teman-teman sekolahnya bisa memberi keindahan dalam menciptakan kebersamaan ini. Seindah madu yang dihasilkan lebah mawar.

***

Kelas 12 sudah memasuki ruang waktunya. Bila jelajah waktu yang Tyo alami di kelas sebelumnya ditelisik, semua pengalamannya telah terwarnai dengan kehadiran seorang Kamal Ghifari. Sekolah, Lapangan Basket Sekolah, Lapangan Basket Perumahan, Bimbel hingga Mall menjadi saksi bisu yang bisa memberinya bukti saat akan dibuka kembali.

Selain itu, ia dan Kamal bisa sekelas di kelas 12-IPA 2. Dan tentunya, suasana romantis bagai bumbu yang menyertai makanan. Namun, sejak masuk kelas tersebut, Kamal menampakan sisi ekstrim dirinya. Sisi ekstrim dalam berhubungan tentunya.

Saat Kamal main ke rumah Tyo dan sebaliknya, Kamal selalu menyempatkan untuk mencicipi dekapan hangat seorang Tyo, menikmati bibir merah Tyo, mengecup pundak Tyo, meraba setiap jengkal tubuh Tyo, memasang fleshlight pada Tyo, meraba alat vital Tyo hingga menyabuni tubuh Tyo yang terlihat gembul namun seksi.

Pernah, ia ingin memasang dildosekaligus memasukan alat vitalnya pada Tyo, namun ia menolak karena akan sangat berbahaya.

Tyo hanya ingin hubungan ini tidak terlalu dalam dan jauh karena akan ada penolakan. Menurutku, saat sirup mawar memerah kental, berarti mawar tersebut memiliki warna yang sangat kuat hingga keindahan menjadi pendaran cahaya yang memukau.

***

“HAPPY NEW YEARRRRRRRRRRRRRRR……………………………………..”

Teriakan penonton pesta tahun baru 2009 di Ancol ini menandai perubahan waktu. Kegembiraan massa menjadi kembang api yang menghentakan semua rasa. Rasa akan datangnya sebuah harapan. Tyo dan Kamal yakini hal itu. 3 hari liburan di Pantai Mutiara Ancol, Kamal sangat menikmati sajian keindahan tubuh Tyo. Bagaikan kupu-kupu yang menikmati saripati bunga kembang sepatu.

Namun benak Tyo seperti melemparnya jauh saat Fahmi menghiasi pikirannya. Ia sadar, Fahmi telah menghiasi keindahan itu jauh sebelum Kamal melakukannya. Namun yang diberikan Kamal adalah sebuah keindahan yang tidak pernah Fahmi berikan saat itu. Seketika itulah, angin teduh menyapa hatinya.

Memberi keyakinan kalau Kamal adalah yang lebih baik. Letupan kembang api terus-menerus menghiasi langit Pantai Mutiara Ancol. Memberitahunya bahwa rasa akan memiliki batas di waktu nanti.

Dan peringatan itu terjadi………………

***

Suasana UN telah usai. Sekolahnya mendapat predikat sebagai sekolah dengan nilai rata-rata UN tertinggi se Indonesia. Dan tentunya, Tyo dan Kamal mendapat nilai rata-rata 100, sebuah pencapaian yang sangat memukau. Rasa syukur mewarnai mereka. rasa gembira bagaikan jagung kering yang meletup diatas mentega panas. Memberi kemeriahan atas suasana ini.

Wisuda menjadi pintu pembuka atas keberhasilan teman-teman Tyo untuk lulus UN. Suasana formal dan elegan menghiasi prosesi ini. Memberi rasa pada perjuangan yang sudah mereka raih dalam 3 tahun. Namun siapa sangka, rasa itu menjadi pembatas yang sudah ia hubungkan dengan Kamal.

***

” Mal. Jadi lo diterima di Unpad?”

” Iya. Di jurusan Manajemen.”

” Puji tuhan, lo dapet di sana.”

” Tapi………………..”

Kamal terhenti. Mencari ketenangan batin sementara. Dan waktu pun terus menunggunya untuk membuka sebuah kejujuran. Ya! Kejujuran dalam hubungan mereka.

“………………….kayaknya hubungan kita sulit dipertahankan deh.”

Tyo terkejut atas pernyataannya hingga ia bertanya alasannya. Dan jawabannya cukup mengejutkan.

” Gue agak berat jalanin hubungan jauh ini. Dan gue tahu, ini akan berat.”

Tyo seperti tidak dapat menerima keputusan ini. Ia terus meminta agar hubungan ini berlanjut, namun Kamal seperti batu besar yang tetap teguh di sungai meski aliran air sangat keras menerpa. Dan air mata mengalir sederas sungai. Disaat itulah, Kamal seperti ular yang melilit mangsanya, namun terasa hangat.

” Tyo. Gue tahu, keputusan ini akan sulit lo terima. Tapi lo perlu tahu, gue gak mau mengekang perasaan karena hubungan ini. Apalagi lo diterima di Jogja. Menjadi mahasiswa bidang pendidikan kuliner. Gue tahu, lo pasti akan bandingin gue dengan Fahmi, mantan lo itu atau Rizal yang pernah ninggalin gue. Oleh karena itu, gue memilih mengakhiri ini semua.”

Tangis terus menghiasi Tyo hingga Kamal mengecup sementara. Untaian kata mulai menuju rasa yang ia miliki.

” Tyo. Lo harus tahu. Saat cinta mencapai puncak kebahagiaan, takdir adalah pembatasnya. Dan kita takkan bisa merubah itu, kecuali bila nantinya akan dapat yang lebih baik. Mungkin ini yang harus kita lalui. Gue yakin, semua akan menjadi indah pada waktunya.”

Air mata menetes dari wajahnya. Wajah yang menyiratkan keteguhan dirinya. Seorang pria berbadan kekar, berwajah tampan dan pemain basket handal ternyata sulit menahan ungkapan rasa yang sudah ia simpan rapat-rapat dalam sanubarinya. Tyo mengetahui rasa itu dan dengan cukup tegar, ia menerima.

” Mal. Kalau memang takdir adalah sesuatu yang harus kujalani. Biarkan ini terjadi. Tapi biarkan aku meminta sesuatu.”

Dekapan dan kecupan hangat menjadi permintaan yang Tyo inginkan dari Kamal. Dan permintaan itu terpenuhi. Seperti mencicipi sekuntum melati pada teh di pagi hari. Semua itu Kamal berikan sebagai permintaan maaf. Sanubari terdalamnya tidak ingin ini terjadi.

Namun takdir harus dilalui. Ia rela melepas keindahan dalam sebuah kebersamaan itu karena satu hal, memenuhi keinginan orang tuanya. Persis yang dialami Fahmi dan Rizal.

” Mal. Gue rela, harus melepas ini. Kalau lo bisa dapet yang lebih baik, gue akan ngerasa senang.”. Senyum Tyo menguntai seindah kalung melati meski air mata harus mengalir deras. Dan usapan Kamal menjadi obat penawar sementara.

” Tyo, makasih udah relain gue. Tapi meski kita jauh dan bukan pasangan kekasih lagi, gue berharap agar kita bisa contact selayaknya sahabat. Semoga lo gak putus hubungan dari gue. OK?”

Anggukan Tyo menjadi penutup hubungan yang sudah terjalin. Tyo langsung menikmati kecupan yang Kamal berikan. Terasa dalam namun menyentuh. Tyo angap inilah uang terakhir yang ia terima dari Kamal. Selain itu, Kamal diberi Eros, boneka kesayangan Tyo, hadiah Natal yang diberi Kamal. Ia meminta agar Kamal menjaga pemberiannya.

Dan harapan itu tersemat indah.

***

” Tyo. Makasih atas semua yang lo kasih ke gue.”

” Sama-sama, Mal. Gue juga makasih atas hal ini.”

***

Dan masa lalu membawanya balik menuju kenyataan saat HP Tyo berdenting. Air mata yang menetes di wajahnya ia hapuskan sembari menjawab telepon yang berasal dari Eko.

” Ada apa, Ko?”

” Ndak. Aku cuma mau nanya. Sudah tidur belum?”

” Aku belum tidur. Memang kenapa?”

” Cuma beritahu, besok ndak ada kuliah.”

” Oh….! cuman itu. Ya sudah. Tapi aku boleh kasih saran sama kamu ndak?”

” Apa?”

” Sarannya, kita buat grup di FB. Nantinya, kita bisa informasi ke teman-teman terkait masalah perkuliahan. Piye?”

” Wah…bagus itu. nanti tak omongke karo Fajri yo!”

” Yo wes. Aku tak turu dulu yo!”

Tyo akhiri dengan mematikan sambungan HP nya. Dan ranjang menunggunya. Menunggu untuk melepas mimpi indah yang akan ia rajut.

Bersambung