Yang Pertama Dan Terakhir Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 1

Tyo, Daniel, Damar, Gio dan Aji sudah memberi tapak atas kehadiran mereka di Ruang Auditorium. Menunggu acara yang akan segera mereka nantikan. Dari kejauhan pandang, seseorang datang menghampiri mereka. dia adalah Lukas, cowok Kupang yang bernama lengkap Lukas Riwu Kaho.

Dia tidak sendiri karena datang bersama 4 Srikandi yang semuanya berasal dari DIY.

Ada Cindy, cewek Sleman yang bernama lengkap Fransiska Cindy Rosarianti; Intan, cewek Prambanan yang bernama lengkap Paula Intan Purwantari; Asti, cewek Jogja yang bernama lengkap Agnes Swastiastu Damayanti; dan Ika, cewek Bantul yang bernama lengkap Monika Winda Kastandia.

Mereka memiliki kesamaan dalam hal keturunan Indo. Setidaknya, mereka memberi hiasan pandang bagi cowok-cowok lain. Di angkatan mereka, ada yang tidak hadir, yaitu Kevin dan Defri.

Acara tersebut hanya berisi perkenalan organisasi hingga perkenalan dengan pengurus dan anggota saja. Sepanjang sesi, rasa kantuk seperti angin puting beliung yang memberi daya rusak amat besar. Baginya, mendengar omelan gurunya lebih baik dibandingkan acara itu. Setidaknya, ia sudah penuhi kewajiban itu.

Terlepas atas hal yang ia alami, pertemanan telah ia temui. Dimulai dari teman-kosan hingga teman kampus. Mereka adalah teman baru bagi kehidupannya. Ini adalah permulaan dan rahasia masa depan akan membuka jatidiri dan rasa yang selama ini ia nantikan.

***

Saat seseorang berada di perantauan, kau akan dapat teman-teman pengganti dari kerabat dan kawan di daerah asal yang engkau tinggalkan dan akan terpandang sebagai orang yang berilmu dan beradab. Kata-kata indah dari Imam Syafii yang Safira bawa telah memberi sebuah harapan. Kelak, Tyo akan alami takdir yang tersaji lebih indah dari bunga mawar yang berwarna paling cerah.

Namun ini tidak akan terwujud bila ia tidak bertemu seseorang yang akan merubah takdir atas hal yang sangat ia nantikan. Permulaan telah menunjukan wujudnya.

***

3 minggu sudah, pengalaman hidup sudah Tyo rajut dengan indah. Teman-teman kampusnya seperti membuka pintu seluas-luasnya saat Tyo alami kesulitan. Komitmen kebersamaan angkatan 2009 sudah Fajri canangkan demi sebuah kekeluargaan terindah.

Semua jenis sayuran memiliki keragaman amat tinggi, namun semua menjadi harmoni saat disuguhkan di meja makan. .

Hari itu, mata kuliah Ilgiz ditiadakan karena dosen dinas ke luar negeri. Sehingga tidak ada kuliah di hari itu. Tyo manfaatkan kekosongan waktu dengan berkeliling Jogja. Dengan tekad seperti pejuang kemerdekaan yang sedang berperang melawan penjajah, Tyo meniti jalan menuju halte Trans Jogja secepat angin tornado berhembus hingga ia bertabrakan dengan seorang pria yang berjalan dengan sangat cepat.

Pria itu langsung menarik tangannya. Menahan agar ia tidak jatuh. Tyo bangkitkan diri. Pria itu langsung menguntai ucapan maaf dengan wajah menyesal. ” Maaf ya, aku tidak sengaja melakukannya. Aku terburu-buru.”.

Saat melihatnya, kornea matanya coklat, kulit putih langsat, Parasnya seperti paduan Indo-Eropa, Jawa dan Peranakan. Dia seperti anak ayam terperangkap jebakan musang saat melihat Tyo. Ketika berdiri, dadanya sangat bidang dengan purwabentuk paripurna. Tubuhnya sangat kokoh bagaikan beton menjulang tinggi menahan beban berat. Tinggi badan Tyo sepadan dengannya.

” Tidak apa-apa. Aku juga tidak hati-hati. Maaf ya!” ucap Tyo menenangkannya.

Tiba-tiba kakinya terkilir saat akan pergi. Dengan sigap, ia ditopang dan dibawa ke gedung terdekat. Tyodibantu teman-temannya duduk dengan kaki lurus hingga salah satunya memberi balsem pereda nyeri otot. Pria itu bertanya sesuatu saat sedang lumuri kaki Tyo dengan balsem.

“Kayaknya baru pertama kali ketemu. Apa kamu mahasiswa sini?” tanya pria dengan wajah penuh keraguan.

“Bukan.” jawab Tyo dengan sedikit menahan sakit.

” Kalau bukan, berarti apa jurusanmu?”

” Pendidikan Teknik Boga.” Pria itu anggukan kepala sebagai tanda paham setelah jawaban itu terlontar pelan dari kata-kata Tyo.

Pria itu langsung bertanya secepat pesawat jet yang membelah angkasa. ” Boleh aku tahu namamu?”

” Bimatama Prasetyo. Biasa dipanggil Tyo. Aku anak 2009. Kamu?”

” Namaku Dimas, Dimas Narendra Adityaswara. Anak Sastra Indonesia 2009 juga.”. Tyo dan Dimas langsung berjabat tangan dan seketika itu, Dimas merajut untai pertemanan dengan asal daerah sebagai simpul pertama.

” Kamu tinggal di Jogja?”

“Bukan, aku di Surabaya. Kamu?”

” Aku tinggalnya di Bekasi.”

” Waw… lumayan jauh.” Jawaban Dimas dihinggapi aura kesenangan. Entah, apa yang ia bayangkan tentang Tyo. ” Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?”

” Saya mau naik Busway Trans Jogja. Mau keliling Jogja.”

” Mau saya antar ?”

” Tidak usah, aku ndak apa-apa kok. He..he..”

” Ya sudah, nanti kamu boncengan aja biar kuantar ke halte terdekat ya!”. Dimas seperti batu karang yang sangat kuat. Sekali ditepis ombak, ia tetap teguh, bertahan di bibir pantai.

” Apa kamu tidak repot?” tanya Tyo dengan sedikit rasa sungkan yang membekas di hatinya.

” Tidak apa-apa kok!” jawab Dimas santai hingga senyumnya terukir seindah Taman Keukenhoff.

Dalam lintasan perjalanan, Tyo seperti mendapat hadiah terindah. Dimas tetap asyik membawa motornya dengan perasaan seindah bunga tulip. Tiba-tiba dia mengerem mendadak karena hampir menabrak mobil yang berhenti mendadak. Praktis, Tyo terhentak ke punggungnya dan segera mendekap Dimas.

Tyo meminta maaf secepat citah berlari. Dimas tetap lanjutkan perjalanan hingga sampai di halte yang dituju. Tyo ucapkan terima kasih dan langsung menuju halte. Tiba-tiba Dimas menyusulnya secepat burung walet terbang tinggi demi satu hal. Alamat.

” Tyo, kos atau kontrakan kamu dimana?”

” Pogung Kidul, Kamu?”

” Karang Bendo.” jawab Dimas setelah memberi sebuah kartu nama untuk Tyo. ” Ini kartu namaku. Kalau ada apa-apa, hubungi aku”

” OK. Ini sekalian nomerku ya. ” ucap Tyo sembari menulis nomor HP di tangan Dimas hingga ia berpamitan pergi.

Tyo langsung menuju shelter/halte. Rasa galau menyelimuti pikirannya terkait keramahan dan kebaikan Dimas hingga Tyo memberi nomor HP tanpa ada rasa curiga. Meski begitu, mungkin ia dan Tyo sama-sama berpikir positif. Dalam dekapan rasa tanya, mbak penjaga shelter telah memecahnya.

“Mau kemana, mas?”

” Malioboro. Pinten?”

” 3000 nggih.” jawab mbak itu hingga Tyo langsung memberi uang yang ia minta.

” Terima Kasih.” ucap Tyo santai

” Sama-sama.” ucap Mbak itu dengan untaian senyum formal, khas dunia profesional.

Tyo duduk di kursi panjang dan menunggu bis datang. Menikmati semilir angin yang dipancarkan berbagai kendaraan menemani sensasi perjalanan yang akan segera ia nikmati . Kurang dari 3 menit, bis yang dinantikan datang dan menyambut sensasi awal perjalanannya.

” Jalur 3A, Rumah Sakit Dr. Yap, SMP 5, Samsat, Malioboro, Rumah Sakit PKU, Jokteng kulon, Wirosaban, Tegalgendu, Terminal Giwangan”

Di dalam bis, pandangan Tyo selalu teruntai di jendela bis. Mengamati setiap pemandangan yang tersaji hingga tidak ia sadari,shelter Malioboro 1 yang disebut kondektur telah menunggunya. Menyambut meriah setiap penumpang yang akan turun.

” Sebentar lagi kita akan memasuki shelter Malioboro 1. Transit 1A, Taman Pintar, Gembira Loka, JEC, Blok O, Janti, Bandara, Kalasan, Prambanan. Transit 2A, Gondomanan, Tungkak, Basen, Gembira Loka, SGM, Mandala Krida, Kridosono, Galeria, Bundaran UGM, Colombo, Terminal Condongcatur, Kentungan, Monjali, Terminal Jombor. Periksa kembali barang bawaan anda. Jangan sampai ketinggalan. Terima Kasih.”

Keramaian selalu menyelimuti Malioboro sepanjang waktu. Pesonanya tidak hilang dalam benak yang mengunjunginya, termasuk Tyo. Namun bukan itu tujuan yang ingin Tyo capai, melainkan mencari pemandangan melalui bis. Menunggu bis adalah tahapan selanjutnya. Tidak perlu menunggu beberapa lama, Bis jalur 1A menyambutnya.

Jelajah perjalanan berlanjut.

Meski masih bulan puasa, Jogja tetap menjadi bunga yang pesonanya selalu diincar lebah-lebah cantik. Lebah-lebah cantik itu ikut menemaninya hinggashelter bandara menyambutnya. Petualangan berlanjut dengan menaiki Bis 1B setelah 20 menit menunggu, turun di shelter taman pintar, naik Bis 2B 30 menit setelah menunggu, turun di shelter Samsat, naik jalur 3B setelah 10 menit menunggu hingga turun di Kentungan dengan membawa pesona jelajah yang ia rasakan.

Sepanjang perjalanan, Tyo meresapi aroma perjalanan yang ia tempuh. Waktu masih menunjukan jam setengah lima sore. Namun keramaian telah mewarnai jalan yang ia lalui. Hingga warung bakso memanggilnya dengan lembut. Tyo masuk ke warung yang terletak di seberang rumah makan padang itu.

Lalu memesan mie ayam bakso yang menjadi makanan favoritnya. 10 menit menunggu telah terbayarkan dengan rasanya yang membuatnya terbuai menikmati pemandangan jalan sekitar warung. Tabir yang biasanya menutup warung kini membuka keindahan jalan yang ramai saat masyarakat membeli makanan untuk berbuka puasa. Tatkala menikmati keramaian, terdapat suara yang memanggil namanya.

” Tyo….Tyo….!”

Tyo langsung menoleh ke berbagai penjuru hingga ia bertemu seseorang yang sudah tidak asing lagi di benaknya. ” Lho….Eko!”

Eko langsung duduk di sebelahnya. ” Kamu lagi apa?” ucap Eko dengan ekspesi seperti polisi menuduh penjahat paling berbahaya.

” Lagi istirahat. Maklum, selesai makan.”

” Wah…Enak yo.”

” Yo wes….. Makan aja!” ucap Tyo menghasut.

” Ya ndak lah!”. Eko menepis sarannya seperti menghalau lalat berhinggap di makanan mentah. ” Aku kan lagi puasa.”
” OK…..OK! By the way, kamu lagi apa disini?”

” Mau pesan makanan untuk buka puasa.”

Canda tawa dan obrolan santai mewarnai waktu menunggu pesanan. Pria yang akhirnya Tyo kenal bernama lengkap Eko Adianto Nugroho ini bercerita kalau ia berasal dari Salatiga. Selain itu, ia baru saja berkunjung ke tempat kos temannya di daerah Pakem.

Sedangkan Tyo bercerita tentang pengalamannya saat berkeliling Jogja dengan Trans Jogja.Tidak lama menunggu, bakso pesanan Eko menyapa dirinya sekaligus memotong obrolan Eko dengan Tyo. Eko dan Tyo langsung menuju tempat parkir. Tiba-tiba, Eko menawari sesuatu padanya.

” Tyo, mau ikut aku ndak?”

” Ke mana?”

” Ke tempat kosku.”

Tyo agak heran dengan tawarannya. ” Untuk apa?”

” Aku mau lanjutkan obrolan tadi.”

” Masih penasaran dengan ceritaku ya?” Tyo langsung melipat tangannya disertai untaian senyum. Ya! Senyum karena bisa membuat Eko penasaran dengan ceritanya. Hingga anggukan kepalanya menjawab rasa itu.

Dalam melintas perjalanan, pikiran Tyo tertuju pada Karang Bendo. Bukan karena ada keunikan tersendiri pada daerah yang menjadi sentra kos-kosan murah bagi mahasiswa ini. Melainkan ada yang melempar kata itu padanya. Sepertiangin yang membisik sanubari, ia teringat dengan ucapan Dimas tentang kata itu.

Pikiran itu mulai terselimuti pemandangan keramaian jalan. Sesuatu yang hanya ada saat bulan puasa. Ramai, namun mengesankan.

Jam setengah enam sore menyambut Eko dan Tyo di tempat kos Eko. Letaknya di lantai dua membuat suasana menjadi lebih hidup. Semua penghuni kosnya adalah mahasiswa satu jurusan, bahkan satu fakultas, kecuali 2 orang penghuni kos. Di lantai 2, semuanya adalah angkatan 2009. Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggil Tyo dan Eko. Ternyata, Daniel, Gio dan Aji yang memanggil Tyo dan Eko.

” Hei! Kalian ngekos disini?”. Tyo seperti bendungan yang tidak mampu menahan air sungai saat melihat teman-temannya.

” Iya” jawab Aji girang. Di saat yang sama, Daniel langsung ambil alih rasa penasaran itu. ” Memang habis dari mana? Kok bisa bareng?”

Tiba-tiba, Gio menuduh macam-macam. ” Jangan-jangan habis pacaran ya? Atau Eko ndak puasa, ya?”. Aji ikut mengeruhkan air. ” Mungkin saja lagi ada sesuatu, nih!”

Eko langsung menepis tuduhan bagai menyapu debu di lantai. ” Ndak ada apa-apa. Aku barusan ketemu Tyo di warung bakso. Terus aku ajak ngobrol sama dia.”

” Kebetulan sekali ya?”. Ekspresi Daniel menguntai benang-benang perhatian. Perhatian kepada teman yang melakukan suatu kegiatan yang tidak mereka ketahui.

Eko persilahkan mereka masuk ke kamarnya. Di kamar yang terlihat rapi ini, Tyo, Eko, Daniel, Gio dan Aji mulai menguntai benang-benang pembicaraan. Melanjutkan cerita tentang Tyo hingga pengalaman Daniel, Gio dan Aji di kosan. Obrolan mulai bergeser ke urusan akademik.

” Tyo, kita satu kelompok di praktikum SPM (Seni Pengolahan Makanan) kan?” tanya Gio pada Tyo.

” Iya.” jawab Tyo meyakinkan.” Kapan mulai praktikumnya?”

” Oktober awal.” jawab Gio setelah mengumpul ingatannya dan ia alihkan pertanyaan. ” kalau Praktikum PMK 1 (Pengolahan Makanan Kontinental 1), kita sekelompok ndak?”

” Ndak.” jawab Eko meyakinkan mereka.

Eko langsung ambil kertas yang berisi daftar kelompok praktikum PMK 1 dan memberikan pada mereka. Tyo cukup terkejut karena harus sekelompok dengan Eko, Zain, Astrin, Pardi, Hasan, Warno, Safira, Ratu dan Lina. Disaat mereka melihat daftar yang Eko berikan, Azan Maghrib berkumandang indah. Eko langsung meminum air putih dan menikmati makanan yang ia pesan. Disaat yang sama, Tyo dan yang lainnya masih melihat daftar tersebut. Kevin, Gio, Daniel, Aji, Damar, Defri, Cindy, Asti, Intan dan Ika digabung dalam satu kelompok.

” Yah… kita ndak sekelompok bareng!” keluh Gio pada Tyo sambil berpangku dagu.

” Iya. Sayang banget. Masak Tyo ndak sekelompok sama kita!” keluh Aji yang berlanjut dengan merangkul tangan ke Tyo lalu mendekapnya.

Dengan menguntai pandang satu persatu, Tyo mencoba menenangkan mereka. ” Tenang teman-teman! Di kelompok PMK 1 boleh berpisah, tapi di luaran, kita tetep bareng, lho!”

” Iya. Dan kalian gak usah lebay lah!” canda Daniel dengan gaya berbicaralogat Batak dan bersuara keras hingga menyentuh telinga Eko yang sedang minum air putih setelah makan. ” Masak pisah kelompok aja jadi masalah.” Daniel langsung menguntai pandang ke Aji dan Tyo. ” Kecuali kalau kalian ada hubungan sesama jenis.”

Mereka langsung melihat Aji yang masih mendekap Tyo hingga ia merasa risih dan mencoba melepasnya.

” Ji, udah dong. Bisa lepasin gak?”

” Kalau ndak, kamu mau apa?”.

Aji terus mendekapnya hingga sebuah ide kurang baik mencemari alam pikiran mereka. Daniel langsung memberi aba-aba layaknya panglima memberi komando pada pasukan perang.

” Ayo kita dekap Tyo rame-rame!!!!!”. Dan sebuah tanda mulai memberi arti pada mereka.

” BERPELUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Kepada Tyo, mereka melakukan seperti adegan di film anak Teletubies. Awalnya Eko diajak Aji dan Daniel. Namun Eko tidak mau ikut karena merasa aneh dengan perlakuan itu. Meski begitu, aroma persahabatan mulai mekar seperti mawar merah yang sangat indah.

Rasa ini berjalan seperti air mengalir. Namun, terjun dengan suara yang sangat menggelegar saat berada di pinggir jurang. Suaranya menggelegar hingga pohon-pohon bertumbangan satu persatu.

***

” Eko. Makasih ya!” ucap Tyo dengan rasa senang seperti bunga yang mekar di pagi hari.

” Makasih apa?” tanya Eko dengan ragu.

” Makasih karena kamu udah menawariku main di kamarmu. Malah bikin berantakan.”

” Ndak pa pa, Tyo.” Balas Eko dengan nada tenang. Setenang air di Danau Singkarak.

” Kamu kan temenku. Yo ndak masalah, Tho!Sing penting kamu senang main ke tempatku, itu aja udah bikin aku senang.”.

Saat melihat Eko, parasnya seperti angin yang sangat lembut. Menghanyutkan namun memberi cita rasa yang unik pada kepribadiannya. Meski garis wajahnya sangat tegas, namun dalam pertemanan, dia bagai kapas yang sangat lembut hingga hati seperti terbang saat melihatnya.

” Udah, ndak pa pa, Tyo. Kalau kamu mau main kesini, main saja. Tempat ini terbuka untukmu, kok.” tanggap Aji santai.

Gio ikut mendamaikan suasana hati yang Tyo rasakan. ” Iya. Anggap aja tempat kosmu sendiri. Kami welcome sama kamu. Kamu kan temen kami!”

Tyo akhirnya memaklumi rasa keramahan yang Eko berikan. Perlahan, rasa sungkan luluh seperti es batu yang cair di dekat tungku pemanas. Dan jabatan tangan menjadi gong penanda kesepakatan. Belum selesai untaian obrolan terrangkai, tiba-tiba seorang pria memanggil namanya.

Mereka menoleh ke arah sudut belakang kos-kosan lantai dasar. Betapa terkejutnya saat Tyo mengetahui kalau ada Dimas disana. Saat melihatnya, Dimas hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan minipantsketat.

Dengan pakaian itu, postur badan atletis yang ia miliki semakin tampak jelas saat dilihat. Setidaknya, lebah akan terpesona saat melihat bunga yang berwarna cerah.

” Tyo. Kamu main kesini?”

” I…..Iya.” jawab Tyo agak malu.

” Sudah keliling mana saja?” tanya Dimas santai.

” Cuman di dalam Trans Jogja aja!” jawab Tyo hingga ia alihkan pertanyaan ” Kamu tinggal di kamar mana?”

” Aku disitu.” jawab Dimas sembari menunjuk kamar yang tepat berada di bawah kamar Eko.

Mereka langsung menguntai pandang pada Tyo dan Dimas secara sekilas. Aji yang mengamati detail langsung menguntai tanya pada Dimas. ” Dim, kamu kenal Tyo juga?”

” Iya, Ji.” jawab Dimas dengan nada meyakinkan.

” Emang ketemuan dimana, Dim? Dan gimana ceritanya?” tanya Gio dengan untaian rasa penasaran yang tinggi. Setinggi gedung Empire State Building.

” Di depan kampusku. Pas dia jalan, aku ndak sengaja nabrak dia. Karena aku amat bertanggungjawab, aku bawa ke kampusku untuk kuberi obat. Setelah kakinya sedikit pulih, dia tetap mau jalan ke halte Trans Jogja. Tapi aku ndak tega biarkan ia jalan sendiri. Maka aku antar kesana.”.

Saat Dimas bercerita, semua seperti menyimak baik. Namun, bagi Tyo, ia cukup terpukau saat melihatnya. Setelah cerita Dimas berakhir, mereka seperti menguntai pandang tanpa batas hingga Dimas membuka untai tanya.

” Ada yang salah dengan penampilanku?”

Aji langsung menanggapi pertanyaan Dimas yang menurutnya tidak ia sadari.

“Menurut koe, opo, cuk?”. Aji terus amati Dimas dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Dimas langsung membuat kata-kata usil pada Aji sembari melipat tangan sebagai pertanda menantang. ” Kamu tertarik sama aku?”

Aji langsung mematahkan pertanyaan dengan ekspresi risih. Dan mereka semua tertawa, kecuali Aji. Setelah ngobrol singkat dan berpamitan dengan mereka, Tyo bergegas pulang dengan jalan kaki. Tiba-tiba Eko menawari tumpangan.

” Ndak pa pa, ko. Aku bisa pulang sendiri.” tolak Tyo dengan nada halus. Meski begitu, Eko seperti batu karang yang sangat keras. Dan Dimas pun ikut menawari tumpangan. Tentunya, jawaban serupa terucap kembali. Dan tali paksaan mulai merambat pada dirinya.

” Pokoknya kamu diantar sama aku atau Eko. Kan kasihan kalau kamu sendiri.” ucap Dimas meyakinkan hingga Eko langsung meminjam helm pada Gio.

Tyo hanya terlihat pasrah bila harus mendapat tawaran yang sebenarnya tidak perlu ia dapatkan. Mengingat ia berprinsip tidak mau merepotkan orang lain. Namun, teman-temannya memiliki prinsip kalau sesama teman harus saling membantu. Setidaknya, rantai tidak akan bisa kuat bila tidak dirangkai dengan rantai lainnya.

Bersambung