Yang Pertama Dan Terakhir Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 15

” Tyo. selamat ya! Lo dapet beasiswa S2 di Inggris. Pasti lo akan LDR-an sama Dimas, deh!”

Ucapan selamat yang Astrin katakan juga serupa dengan yang diucapkan Gio dan personil The Fitness lainnya. Sebuah penyemangat bagi sebuah harapan baru yang sudah tersemai dengan cantik. Kamal dan Rino terus membingkai kebahagiaan itu dengan senyum yang sangat cantik.

Semua personil The Fitness mulai mendekap Tyo. Mengucapkan sebuah perpisahan yang sangat berat. Perlahan, Dimas memegang tangan Tyo setelah mendekapnya.

” Ketika lembayung merasuk dalam lintasan rasa, ia akan memendarkan warna selayaknya sinar matahari. Pada saat itu, mawar merah akan mencari keindahannya dengan damai. Aku yakin, suatu saat kita akan bertemu dan menjalin rasa sepanjang hidup kita.”

Ucapan Dimas ini terdengar sangat puitis hingga air mata membasahi wajah Tyo yang terlihat cerah. Perlahan, Dimas arahkan tubuh kekasihnya ke dalam dekapan hangat. Sehangat musim semi yang sangat cantik. Dalam dekapan yang sangat cantik, Tyo membalas ucapan kekasihnya.

” Terima kasih. Kamu telah mewarnai kehidupanku setelah Fahmi dan Kamal. Jujur, aku berat melepasmu.

Aku merasa sejarah berulang kembali saat aku harus meninggalkan orang yang aku cintai demi mengejar cita-cita. Tapi aku yakin, Tuhan akan menentukan yang terbaik untukku. Meski aku ditakdirkan tidak bersama denganmu, hati kecilku akan selalu mengenangmu. Semoga kita sukses selamanya.”

Ucapan Amin mewarnai kehangatan yang sudah menghiasi rumah Kevin. Dalam dekapan, kecupan serta rabaan Dimas dan dari ruang keluarga, janji dan harapan itu menghembus dengan cantik, anggun dan indah. Seindah mawar merah yang tumbuh di ladang bunga di Kawasan Taman Bunga Nusantara, Cianjur.

EPILOG

Seorang pria dengan perawakan sintal dan berambut ikal turun dari mobil yang dibawakan tetangganya dan berlari menuju pintu depan gedung Indonesia Convention Exhibition di kawasan Bumi Serpong Damai City, Tanggerang Selatan. Saat memasuki Hall Utama, ia disambut seorang wanita paruh baya yang sangat cantik.

” Welcome to ICE. Akhirnya, aku bisa mewawancarai kamu.”

” Selamat bertemu dengan Ibu Feni yang sangat fenomenal. Semoga aku bisa nyaman diwawancarai dengan wanita cantik yang fenomenal di dunia infotainment ini.”

Pria itu dan wanita yang di kemudian hari dikenal dengan nama Feni Rose saling berjabat tangan. Tidak perlu menunggu waktu lama. Senyum saling memendarkan keindahan hati. Sebuah mahakarya yang tidak ternilai meski untaian emas terus memendarkan pesonanya.

***

” Pasti semuanya sudah tidak sabar, ya! Baiklah, langsung kita sambut narasumber utama kita, Anditya Bimasandyakara Satriotomo.”

YA! Inilah namaku, Aloysius Antonius Anditya Bimasandyakara Satriotomo. Dengan mengenakan masculine blouse berwarna biru marun, celana panjang jeans hitam dan sepatu kets, aku berjalan menuju panggung utama, bersalaman dengan host cantik, Feni Rose hingga duduk di sofa yang sudah disediakan.

Hal pertama yang kulakukan adalah presentasi terkait novel yang baru kubuat, Mawar Merah di Langit Putih. Menggunakan nama tokoh utama yang saya samarkan, Kiki dan Reza, aku mengangkat kisah tentang romansa 2 pria dan dilematika yang mengiringinya.

Akhir kisahnya, Kiki dan Reza bisa menemukan kekasih yang dapat menerima mereka. Selain itu, 2 pria itu tetap menjalin hubungan sebagai sahabat dan hidup bahagia dalam suasana keluarga. Semua hadirin takjub dengan novel yang kubuat dari kisah nyata yang dialami sahabat dari salah satu sahabatnya temanku, Izhar Kharisma Astrin.

Setelah presentasi tersebut, si ratu infotainment itu terus menerus memberondongku dengan panah pertanyaan yang sangat cantik. Puji tuhan, aku bisa melalui pertanyaan itu tanpa ada kekhawatiran dan rasa gugup. Untaian senyum mengalir deras dari bibir merahnya.

8 jam setelahnya, acara yang diselenggarakan Forum Sastra Muda Tanggerang Selatan dengan judul acara Benih-Benih Rasa di Kampus Budaya selesai dilaksanakan. Tidak tertinggal pula, para pengemar menemuiku sembari berfoto dengan mereka. Setidaknya, 14 Februari 2020 menjadi tanggal yang sangat cantik dan penuh kesan. Setelah berfoto dengan penggemar, Feni Rose menemuiku.

” Kara, penampilan kamu bagus banget deh. Kapan-kapan kamu hadir di acaraku, ya! Rempong Unsecret.” ucap Feni dengan penuh harap dan senang.

” OK Kak Rose! Senang bisa bertemu nih!” ucapku dengan nada senang.

Dan senyuman mengalir indah dari bibirku dan bibirnya. Melukiskan rasa yang sulit diungkapkan kata-kata.

***

Kawasan Central Park menghiasi untai pandangku. Setelah berkelana rasa dengan presentasi dunia sastra pada acara tersebut, tetanggaku mengajakku kesana. Berkelana, menjelajah dan menjejaki semua kemewahan yang tersaji dengan cantik. Bahkan bintangpun merayakan keindahan itu setiap harinya.

Akhirnya, aku sampai di Restoran Napoli. Tidak butuh waktu lama, 2 piring Red Sauce Fussili dan 2 gelas Marcio D’Azzuri menghampiri kami. Memberi sambutan kepadaku dan tetanggaku ini. Tetangga yang telah mewarnai sejarah hidupku sejak aku pertama kali membuka mata. Ya! Anselmus Dionicius Febrian Atmajadiputra.

Nama yang sangat memukau seperti emas yang menghampiri intan demi membuka mahligai terindah yang mereka miliki. Dan pembicaraan pun mengalir indah bersamaan dengan santapan yang mereka nikmati.

” Hari ini gue seneng banget, Feb!”

” Seneng kenapa?” tanya Febri sembari menyeruput minumannya.

Aku ragu, jawaban apa yang harus kuucap. Namun aku mulai menjawab dengan suasana cair layaknya es yang ditaruh di dapur.

” Yaa……gue bisa makan bareng sama kamu. Biasanya, kita sulit dapetin waktu untuk hal ini.”

Febri lalu tertawa dan menanggapi ucapanku.

” Lo gak perlu khawatir. Santai aja! Gue tahu, lo itu sibuk kerja. Apalagi sejak banyaknya orderan interview. Yang penting lo gak lupain gue!”

” Iya dong! Lo kan the real admirer gue!”

” Anjritt!!!!!!! Sembarangan aja kalo ngomong” sanggah Febri secepat petir yang menyambar pohon jati.

Saat melihat ekspresi Febri, raut mukanya yang penuh kekesalan sedikit mewarnai untai pandangku. Ia langsung menyantap makanan miliknya. Dalam sejarah hidupku, Febri bagaikan sahabat yang sangat cantik. Bahkan melebihi Berlian Martapura yang sering kulihat saat sedang berjalan-jalan di Grand Indonesia.

Seorang mantan atlit basket yang sangat ramah dan supel hingga berhasil menjadi sahabat seumur hidupku. Kadang, ada candaan yang membuatku dan Febri saling tersinggung, atau terjadi sebaliknya.

Namun, secara keseluruhan, kami merasa semua kenangan itu berhasil mempersatukan sebuah pertemanan yang kelak akan terkenang indah di hari tua nanti.

Aku lanjut memakan pesananku hingga habis. Saat menyandarkan tubuhku di kursi setelah rasa kenyang menghembusku, tiba-tiba sesuatu tidak terduga keluar dari mulut Febri.

” O..ya! karena lo udah ngomong kayak gitu. Sebagai hukumannya, abis ini lo harus ikut gue!” ancam Febri sambil menunjuk di hadapanku.

Dan kebingungan mulai melanda diriku.

Setidaknya hingga masuk mobil.

Menyusuri Sudirman
Disambut gedung-gedung pencakar langit.

Dan yang dituju pun tiba.

***

Kawasan Monas menyambut kami. Menunggu sesuatu yang sangat mendebarkan. Dan yang ditunggu pun tiba. Mendadak, aku dan Febri berdiri saling berhadapan. Lalu Febri memegang tanganku dan berkata.

” Sebenarnya, ucapanmu itu memang benar, Ra! Aku mengagumimu bukan hanya saat ini, namun sejak kita mulai bertetangga……”

Aku terdiam. Tidak disangka bila Febri memiliki rasa padaku. Namun aku sadar, tidak mungkin bila 2 pria saling mempertautkan rasa. Benakku seperti mempertanyakan maksudnya hingga ia mulai menjelaskan lanjutannya.

“…….., aku mulai menaruh kekaguman padaku. Meski di SMA, aku dan teman-teman basket selalu menjadi pusat perhatian, namun sampai kapanpun, aku tetap untukmu.”

Aku langsung menanggapi secepat angin bertiup. ” Jujur, aku sulit menanggapi ini. Tapi, tidak mungkin kalau 2 pria saling menyambung rasa sedangkan kamu sudah mau dijodohkan dengan Icha……”

Febri langsung menyela pembicaraan. ” Icha itu lesbi!”

Seperti mendengar suara halilintar, tidak kusangka kalau Icha seperti itu. Lagipula, perempuan bernama panjang Clarisa Angela Sutanto itu adalah siswi tercantik di sekolah, mantan ketua cheers. Seperti antara percaya atau tidak. Aku terdiam hingga pikiranku terbawa olehnya. Dan Febri lanjutkan ceritanya.

” Aku pergoki dia sedang tidur sama sahabatnya, Celine Nathalia Wijaya. Dan ia pun jujur padaku. aku meminta padanya untuk ambil keputusan. Tetap mau menerimaku atau batalkan pertunangan itu dan memilih Celine. Akhirnya, ia memilihku dengan alasan wasiat ayahnya yang sudah meninggal 3 tahun lalu. Dan ia sanggup mengakhiri hubungan dengan Celine setelah cincin pertunangan sudah melingkar di jari manisnya. Aku terkejut saat ia katakan kalau pada masa-masa sebelum itu, aku boleh memadu kasih dengan wanita lain. Aku pun paham dan mulai mencoba mencintaimu.”

Aku hanya gelengkan kepala. Menunjukan tidak mungkin dengan ceritanya. Namun, bukan Febri namanya kalau tanpa semangat. Sepertinya, ia terus berusaha meyakinkanku sembari memegang wajahku, menatap mataku dan membangun keyakinan padaku.

” Pandanganmu tidak akan dapat menipuku. Aku tahu, kamu ada sedikit rasa padaku.”

Pandangan mataku mulai kualihkan ke sudut lain. Perlahan, aku terkejut saat Febri mengecup bibirku. Di tempat umum pula! Namun semuanya terganti saat aku mencoba menikmati rasa dari bibir indahnya. Hangat, namun manis.

Tidak kusangka bila seorang mantan atlit basket bersama teman-teman se-ekskul yang selalu diidolai kaum wanita di sekolahnya ini bisa memberikan kecupan hangat pada seorang mantan anggota ekskul perpus yang selalu nongkrong di perpustakaan sekolah. 3 menit berlalu, Febri lalu bersimpuh dan ucapkan satu hal.

” Kamu mau jadi pacarku?”

Aku terdiam. Seperti berada diantara 2 pilihan. Kupejamkan mataku sementara waktu. 1 menit berlalu. Anggukan kepalaku mengiyakan keinginannya. Senyuman terukir cantik dari bibirnya. Ia berdiri lalu mendekapku hangat.
” Kara, terima kasih atas kesetujuanmu.”

” Sama-sama. Tapi aku minta syarat darimu. Aku dan kamu tidak boleh saling melihat tubuh telanjang kita, tidak boleh melakukan oral sex, anal sex maupun intersex serta hubungan ini harus diakhiri setelah kita menikah. Apa kamu mau lakukan itu?”

Tanpa berpikir panjang, Febri menyanggupinya. Aku tersenyum lega bila ini sudah terjamin. Dan aku dan Febri saling mengecup dengan cantik ditengah pekatnya udara malam di lapangan itu. Setidaknya, pria berbadan atletis dengan paras serupa dengan Edwin Syarif ini semakin memberiku sebuah keyakinan akan hadirnya persahabatan meski dibungkus indah dengan rasa.

***

Esok hari, waktu yang sangat menyenangkan untukku karena Febri akan mengajakku ke cafe yang dimiliki oleh Febri dan teman-teman satu ekskul basketnya. Disana, Febri ingin memintaku bercerita tentang kisah nyata dibalik pembuatan novel Mawar Merah di Langit Putih.

Sesampainya di cafe itu, Febri dan teman-temannya yang semuanya kukenal mulai menyapa kami, menjamu kami dan menungguku untuk bercerita.

” Apa kalian mau mendengar cerita sebenarnya?

” Iya! Gue gak sabar nih!” ucap Revan, teman Febri sekaligus mantan ketua ekskul basket di sekolahku.

” Gak pa pa kalau ada yang vulgar!”

” Tenang aja, Ra! Kita kan udah dewasa ini!” ucap Febri meyakinkanku.

Sejenak kupikirkan hingga aku mulai membuka semuanya.

Membuka sebuah rahasia kelam dari latar ceritaku yang sebenarnya.

***

O’ Hare International Airport, Chicago. 15 September 2016.

Seorang pria dengan postur sedang berjalan cepat menuju toilet. Tiba-tiba aku bertabrakan dengannya. Saat itu, aku selesai mencuci tangan di sebuah wastafel.

” Sorry, i have done the clumsy things for you!”

Pria itu terlihat menyesal hingga membungkukan badan. Mungkin ia mengira kalau aku berasal dari negara-negara Asia Timur. Aku mulai menanggapi penyesalannya.

” No…! I shouldly says an appologize for you…………….”

Tiba-tiba pria itu bicara sesuatu. ” Sorry, I must go to toilet!”. Ia pun langsung masuk ke toilet. Aku hanya gelengkan kepala. Tiba-tiba, terdapat paging yang memberitahukan bahwa penumpang yang berangkat menuju Singapura harap segera menaiki pesawat. Aku langsung menuju pesawat yang dituju.

Kursi 12F menyambutku. Memberi ketenangan setelah mendapatkan tempat duduk yang telah kupesan satu hari sebelum keberangkatan. Sejenak, aku amati lingkungan bandara dari jendela. Terlihat keramaian yang sangat khas layaknya kota-kota besar dunia.

Meski aku tidak sedang mengunjungi New York, namun Chicago memberi kesan sebuah kota besar yang sangat ramai dan ruwet di dunia. Mungkin bila dibandingkan dengan Jakarta, kota ini lebih parah. 10 menit berlalu, aku terkejut ketika bertemu seseorang yang pernah kutemui.

” Hey, are you sit in here?” tanya pria itu dengan penasaran.

” Yes. Where do you sit?”

Pria itu menunjukan tiket tempat duduk yang ia miliki. 12E, nomor yang menanti pria itu untuk disinggahi. Ia pun duduk di kursi tersebut. Tidak perlu menunggu waktu lama, ia langsung berkenalan denganku.

” OK! I’ll introduce myself. My name is Bimatama Prasetyo from Indonesia, and your name?”

Aku terkejut saat ia ucapkan namanya dan mengatakan kalau ia dari Indonesia. Aku langsung bicara dalam bahasa Indonesia.

” Lah! Aku juga dari Indonesia. Namaku Anditya Kara.” ucapku dengan memakai nama pena dan langsung berjabat tangan dengan pria itu.

” Berarti kita satu negara dong!” ucap Tyo menegaskan dan aku anggukan kepalaku.

Aku dan Tyo mulai berkenalan. Aku terkejut saat ia katakan kalau ia berasal dari Bekasi hingga aku katakan tempat tinggalku di Serpong. ” Wah! Satu daerah dong!” ucap Tyo memberi penegasan yang cukup lucu.

Kuanggukan kepalaku pelan meski maksudnya, kita sama-sama dari daerah Jabodetabek. Perlahan, pesawat mulai meninggalkan bandara menuju Changi. Saat aku alihkan pandangan menuju pemandangan awan yang menari cantik di sekitar pesawat, Tyo memanggilku dan menanyakan sesuatu.

” Kamu itu novelis ya?”

” Iya! Kenapa? ”

” Aku sering dengar dari teman-temanku, terutama sahabatku, Dimas. Dia cerita kalau Kara alias Anditya Kara ini telah mengguncangkan perasaan mereka. Perasaan untuk mengetahui cerita tokoh-tokoh pendamping dari tokoh utama di Novel Isyanasarasvaticandra di Langit Klender. Katanya, Kara berhasil mengembangkan kisah hidup tokoh pendamping menjadi sebuah novel baru yang memiliki jalan cerita menarik. Aku sedikit terbesit atas kekaguman itu, namun aku harus menjaga agar tidak membuatku besar kepala.

Sepanjang perjalanan, Tyo dan aku banyak bercerita tentang kegiatan di Amerika Serikat. Dimulai dari Tyo yang setelah lulus S2 dari Inggris, ia pergi ke Los Angeles untuk bekerja dengan chef Erick Hsu, celebrity chef yang terkenal di negeri Paman Sam itu. Setelah 2 tahun bekerja di Oriental Cafe milik chef itu, ia memutuskan balik ke Indonesia.

Sedangkan tujuanku ke Chicago karena ada undangan dari asosiasi penulis novel di kota tersebut untuk ikut proyek mereka. setelah bersama mereka selama 1 bulan, aku balik ke Indonesia dan melanjutkan pekerjaanku sebagai penerjemah buku-buku berbahasa asing di Balai Pustaka disamping hobiku yang senang menulis novel.

Setelah bercerita panjang lebar, Tyo bertanya tentang maskapai penerbangan yang kugunakan. Aku terkejut saat tahu kalau ia satu maskapai dan satu tujuan keberangkatan, yaitu ke Denpasar. Entah itu suatu kebetulan atau tidak, yang jelas, aku sangat senang bisa bertemu dengan pria yang terlihat cantik ini.

Akhirnya, pesawat tiba di Bandara Changi dengan tenang. Saat melintasi ruang tunggu bandara, jam menunjukan pukul 13 siang. Sedangkan pesawat menuju Denpasar baru berangkat satu jam lagi. Aku dan Tyo langsung melakukan registrasi. Akhirnya, aku dan Tyo bisa duduk di ruang tunggu.

Sembari menunggu, Tyo membelikan sebuah hotdog untukku. Aku dan Tyo menikmati makanan tersebut sambil melanjutkan obrolan hingga ia pun bertanya padaku.

” Di Denpasar, kamu tinggal sama siapa?”

” Aku gak ada keluarga disana. Bahkan aku belum nemuin hotel”

” Kalo gitu, gak keberatan kan kalau aku ajak kamu nginap di tempat temanku?” tawar Tyo kepadaku.

” Waduh! Aku gak mau bikin repot kamu.” ucapku dengan nada sungkan. Namun bukan Tyo namanya kalau mudah putus asa untuk mengajak orang yang baru ia kenal.

Akhirnya, aku menuruti keinginannya meski dengan syarat tidak akan merepotkan mereka.

Aku dan Tyo menuju pesawat yang akan membawa kami menuju pulau Dewata. Setelah 2 jam mengarungi langit, pesawat pun mendarat di Bandara Ngurah Rai. Aku diajak Tyo naik bis menuju Terminal Ubung. Sampai disana, ada seseorang yang menghampiri mereka namun hanya Tyo yang mengenalnya.

” Tyo. Maaf menunggu lama ya!” ucap pria yang kemudian kukenal dengan nama Kamal Ghifari

” Gak pa pa!” ucap Tyo mendinginkan suasana penyesalan di diri Kamal. Tyo langsung mengenalkanku dengan Kamal. Tidak kusangka bila temannya Tyo ada yang memiliki postur layaknya binaraga.

Kamal membawaku dan Tyo menuju rumah mereka di kompleks perumahan di Denpasar Utara. Saat tiba di rumahnya, seorang pria dengan postur binaraga lebih besar dibandingkan Kamal keluar dari rumah.

Tyo langsung menghampiri cepat dan pria itu mendekapnya, meraba rambutnya hingga ia langsung mengecup bibir Tyo tanpa menyadari ada orang lain disana. Kamal yang mengetahui itu langsung memisahkan Tyo dan Dimas. Disaat bersamaan, seorang pria berbadan atletis dan serupa dengan Kamal menemui mereka.

” Kara, kenalin. Ini Dimas, lalu Rino” ucap Tyo sembari menunjuk ke kedua pria itu hingga jabat tangan kulakukan pada mereka.

Rino akhirnya mengajak Tyo, Kamal, Dimas dan aku masuk ke rumahnya. Saat melihat isi rumahnya, aku cukup takjub dan heran. Takjub karena banyak lukisan dan pajangan yang menggambarkan sifat mereka yang terlihat maskulin. Selain itu, tata letak dan suasana ruangnya terlihat minimalis.

Heran karena saat masuk ke rumahnya, Dimas selalu terlihat merangkul dan meraba punggungnya Tyo. Aku mulai memberanikan diri bertanya pada mereka saat duduk di sofa.

” Tyo, Dimas. Sebelumnya mohon maaf. Aku mau tanya sesuatu.”

Dimas langsung menanggapi ucapanku. ” Tanya saja. Aku ndak akan tersinggung.”

Aku langsung menanyakan satu hal. ” Apa kalian punya hubungan?”

Tyo, Dimas, Kamal dan Rino saling menguntai pandang hingga Dimas memberikan jawaban yang tidak terduga. ” Kara, sebenarnya aku adalah suaminya Tyo. Sama halnya dengan Kamal. Kamal adalah suaminya Rino.

Aku seperti mendengar suara dentuman bom yang menggelegar hingga ke angkasa. Tidak kusangka, Tyo, Rino, Kamal dan Dimas sudah menikah. Benakku mulai arahkan mulutku untuk mempertanyakan alasannya. Dan yang tidak kuduga pun terjadi.

Mereka langsung bercerita terkait masa lalu mereka setelah mengajakku masuk ke kamar tidur Dimas yang lebih mencengangkan karena banyak lukisan pria telanjang dan foto-foto Dimas, Tyo, Kamal dan Rino yang diambil dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.

Setidaknya, hari itu dihabiskan dengan bercerita tentang masa lalu mereka hingga aku dan yang lainnya harus melepas kantuk saat jarum menunjukan pukul 2 pagi. Aku diizinkan tidur di kamarnya Dimas. Melepas lelah demi mendengar cerita lanjutannya terkait kehidupan malam yang dilakukan pria-pria yang memiliki bentuk tubuh sempurna.

***

Selama curhat tentang masa lalu hingga kisah cinta mereka, terdapat raut kesedihan dalam kisah yang mereka bawakan. Mungkin saja, aku bisa tuliskan cerita lengkap dan dialognya disini.

Namun mereka tidak ingin memberi saya kesempatan untuk menulisnya. Menurut mereka, kisah yang mereka alami cukup kelam dan menyedihkan hingga sulit untuk membawakannya. Oleh karena itu, aku hanya bisa menguraikan apa yang mereka ceritakan tanpa ada dialog yang seharusnya kutulis.

Teman-temannya Tyo, Dimas, Kamal dan Rino yang tergabung dalam kelompok The Fitness, The Sport Toys dan The Dolphins , kecuali Astrin, meninggal dunia akibat HIV/ AIDS.

” Musuh” mereka di KMFT ditangkap polisi anti teror akibat memperjuangkan idealisme yang mereka yakini.

Saat kutanya tentang Astrin, mereka mengatakan kalau ia dirawat di rumah sakit Sanglah. Sudah 6 bulan, ia dirawat disana. Akhirnya, air mata itu berguguran melintasi wajahku. Tetapi, bukan itu saja yang membuatku bersedih.

Jam 12 malam, aku terbangun dari tidur. Suasana kamar Kamal dan Rino ini seperti menempatkanku sebagai orang yang terperangkap dalam sangkar yang cantik. Deretan foto Kamal dan Rino, baik saat mereka aktif dalam UKM Basket maupun dalam keadaan tanpa busana semakin membuatku risih dan tidak nyaman.

Aku lalu menuju ruang keluarga hingga saat melintasi depan kamarnya Tyo dan Dimas, aku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Mereka melakukan foursome sex yang dikolaborasikan dengan oral sex dan anal sex. Sesuatu yang tidak pernah kulihat seperti ini. Dan jangkrik pun mulai bersahutan di tengah hujan yang sangat lebat.

***

” Kara, aku minta maaf ya, kalau tidak merasa nyaman.”

” Ah! Ndak pa pa. Lagipula aku senang bisa bertemu kalian.”

Aku tidak bisa melawan waktu yang sudah memutuskan untuk memisahkan diriku dengan mereka. Perlahan, ruang tunggu Bandar Udara Internasional Ngurah Rai menyambutku. Mencoba melepasku dari kenangan indah sekaligus memilukan itu. 2 jam kemudian, pesawat menyambutku demi membawaku ke Jakarta.

***

” Jadi begituklah cerita aslinya, teman-teman!” ucapku menutup ceritaku ini.

Tidak terasa, jam menunjukan pukul 10 malam. Namun masih ada yang bertanya tentang kisahku ini. Dan yang tak terduga pun terjadi.

” Ra, gimana dengan nasib Tyo dan kawan-kawan?”

Aku terdiam. Sulit kuucapkan. Febri yang berada di sebelahku langsung memukul pundakku pelan. Pertanda kalau aku tidak perlu khawatir untuk menceritakan yang sebenarnya.

” 6 bulan setelah aku bertemu dengan mereka, aku mendapat kabar kalau Tyo, Dimas, Kamal dan Rino meninggal dunia karena gantung diri. Dan Astrin juga meninggal dunia. Aku…………”

Air mata itu tidak dapat kubendung lagi. aku langsung berlari menuju toilet. Menyeka wajahku sembari mencoba melepas tangis yang masih bersarang di hatiku. Tiba-tiba, Febri menghampiriku. Mendekapku dari belakang sembari menenangkanku.

” Ra, kalau kamu sedih, jadikan dekapanku sebagai obat untukmu.” ucap Febri dengan tenang.

Aku balikan badanku lalu mendekapnya sembari melepas tangis itu. Aku tidak menyangka bila Astrin, sahabatku harus mengalami pengalaman yang sangat memilukan itu. Disaat mendung melapisi langit, dekapan sinar matahari terus menghangatkannya.

Terima kasih, Febri!

***

Jam setengah 1 malam, Febri membawaku ke rumahnya. Untungnya, orang tuanya memaklumi bila aku menginap di rumah Febri. Saat melepas lelah di tempat tidur Febri, aku melempar pertanyaan sembari menghadap wajahnya saat berbaring.

” Feb, aku takut bila aku tenggelam dalam perasaan padamu. Aku tidak mau bila yang dialami Tyo terjadi padaku.”

Tiba-tiba, Febri menyentuh parasku sembari memberi ketenangan untukku.

” Ra, aku tidak akan melakukan seperti yang mereka lakukan. Setelah aku bisa menerima Icha sepenuhnya, hubungan ini pasti akan aku akhiri. Namun aku ingin bila hubungan persahabatan itu tetap berlanjut. Aku yakin, aku tidak akan terjebak dalam cinta yang salah.”

Aku tersenyum senang. Febri bisa mengerti apa yang kuharapkan. Hingga dalam sesuatu yang tidak terduga, Febri langsung mendekapku hangat. Menetralkan rasa dingin yang mengitari kamarnya. Meski malam itu tidak ada kecupan yang mendarat, aku tetap senang. Senang karena Febri memahami yang kuinginkan dari kisah yang kuceritakan ini.

Terutama untuk yang membacanya.

THE END