Yang Pertama Dan Terakhir Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 14

” Mas Tyo. Boleh minta tolong?”

” Ada apa?” tanya Tyo pada seorang pria muda tersebut.

” Ada yang ingin saya katakan. Tapi saya mau bicarakan di kamar.”

Permintaan Alan, pria yang merupakan anak Pak Ratmo dan Bu Ratmo ini dipenuhi Tyo namun ia harus mau bila Dimas diajak. Alan membawa mereka ke kamar.
” Memangnya apa yang ingin kamu katakan, Alan?”

Pertanyaan Dimas membuat Alan memberikan jawaban dengan sikap dan gerak-geriknya. Perlahan, Alan melepas kaus, celana pendek dan celana dalam hingga ia terlihat telanjang.

” Alan, maksud kamu apa?” tanya Tyo yang masih bingung dengan yang Alan lakukan.

” Saya suka dengan Mas Tyo karena dia terlihat cantik. Meski badannya kekar, namun wajahnya terlihat cantik. Bahkan, aku bisa mimpi basah karena membayangkan Mas Tyo. Mas, apa aku boleh menidurimu?”

Dimas yang tahu perilakunya yang terlihat tidak biasa, mulai mencegah hal itu.

” Ndak! Kamu jangan meniduri Tyo. Dia itu pacarku!”

Alan yang tahu tentang rahasia hubungan mereka pun akhirnya meminta maaf. Sepertinya, Alan tahu tentang dunia yang dijalani Tyo dan Dimas. Alan merasa tidak enak dengan Dimas hingga tertunduk malu. Namun, Dimas menawarkan sesuatu. ” Tapi, kalau kamu mau meniduriku, aku tidak keberatan.”

” Tidak apa-apa?” tanya Alan dengan perasaan terkejut hingga anggukan Dimas membuatnya yakin.

Perlahan, Tyo meninggalkan Dimas dan Alan di kamar. Dimas mengunci pintu kamar Alan, lalu melepas A-shirt, celana bokser dan celana dalam yang ia kenakan. Alan yang mulai terpesona dan terangsang dengan tubuh kekar Dimas lalu mendekatinya dan mengecup bibirnya.

Dimas yang selalu lihai dalam urusan ini membuat Alan puas. Alan didorong ke tempat tidur lalu Dimas mengulum kemaluan Alan hingga ia terasa sange. 10 menit berlalu, Alan gantian mengulum kemaluan Dimas. Namun, Dimas tidak berhenti mengulumnya hingga mereka lakukan cross style sex.

Mereka sama-sama saling mengulum kemaluan lawan setubuhan. Hitungan ronde semakin panas. Perlahan, air mani mereka mulai membasahi tubuh mereka. 5 menit berlalu, Dimas lalu menusukan dildo yang Alan berikan lalu memasukan kemaluannya ke lubang anus Alan yang masih perawan.

Alan mulai mengerang kesakitan namun terasa puas. Dimas pun langsung mengecup bibir Alan. 20 menit yang sangat menantang namun memberi warna.

Dan mereka menikmatinya…………………………………….

2 jam kemudian, 2 insan tersebut bangun dengan tubuh yang terbungkus selimut. Siang yang terik justru membuat mereka puas. Mereka telah membuat permainan dengan cantik. Setidaknya, anggap saja kenang-kenangan dari mahasiswa KKN kepada siswa kelas 11 SMA ini yang sudah diberikan secara awal pada hari ke 6.

***

” Mas Dimas, matur nuwun atas hal ini, yo!”

” Sami-sami!”

” Tapi, apa saya boleh meniduri mas-mas KKN lain?”

” Soal itu, tanyakan saja sama mas-masnya langsung.”

***

Hari ke-7 hingga 12, para cowok keren 167 ini selalu merayakan pesta orgy saat para cewek cantik itu melaksanakan pekerjaan KKN. Uniknya, kegiatan ini juga diikuti warga dusun berjenis kelamin wanita dan cowok dusun yang terlihat gay seperti Alan ini.

Alan yang dibantu Dimas agar bisa memenuhi tujuannya dengan cara meminta izin kepada cowok-cowok keren itu akhirnya menerima permintaan Alan. Dari Tyo hingga Dylan, mereka sudah menikmati tubuh Alan yang sudah sedikit ternodai Dimas. Namun, bagi Alan, ini adalah keindahan yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Setidaknya, biarkan lebah menghisap saripati madu yang masih ranum.

……………………………………………………………………

Dalam rapat evaluasi KKN di hari ke-12, Eko dan yang lainnya mulai mendengarkan paparan hasil KKN yang sudah dibuat Devi dan cewek-cewek cantik lainnya. Hasilnya sungguh mencengangkan. Warga dusun merasa senang dan terbantu dengan kegiatan KKN itu. Bahkan, konsumen senang dengan penjualan susu sapi olahan kelompok KKN 167 ini.

” Teman-teman, hari ini kita senang bisa membuat dusun ini sukses dan berhasil dalam mengelola hasil pertaniannya. Tinggal kita sekarang perlu menyusun laporan KKN ini.”

Ucapan Eko tersebut membuat sorak sorai kelompok tersebut terwujud. Tiba-tiba, Devi membuat saran yang cukup menarik.

” Karena semua kegiatan KKN sudah kami lakukan, sekarang cowok-cowok yang harus membuat laporan KKN dari data yang sudah kami buat. Kalian tinggal buat yang sudah ada.”

Tyo yang masih terlihat bingung lalu bertanya secara lengkap. ” Maksudnya bagaimana, mbak? Aku ndak mengerti.”

Devi lalu menerangkan dengan bahasa lugasnya. Jumlah jam yang harus dipenuhi adalah 1440 jam. Karena KKN hanya dilakukan selama 2 minggu, maka jumlah jam pada program kelompok dan individu harus dilipatgandakan.

Selain itu, persentase program kelompok harus minimal 80% sehingga difokuskan ke program tersebut. Beberapa program individu ada yang diintegrasikan dengan program kelompok atau program individu dari jurusan lain. Akhirnya, semua anggota kelompok memahami penjelasan dan mereka segera membuat laporan KKN.

Tyo mendapat bagian mengerjakan laporan KKN dirinya dan Gista. Ia berinisiatif membuat laporan KKN dirinya dahulu dan dikopisalin ke laporan KKN Gista. Namun, dia mulai mengganti semua kata dengan frase dan kalimat yang banyak berbeda. Pada hari ke-13, semua laporan KKN selesai dibuat. Tiba-tiba, Eko memberi informasi sesuatu.

” Teman-teman, Pak Parmin sekarang jadi Dekan Fakultas Teknik. Selain itu, beliau telah dikukuhkan sebagai guru besar bidang Automasi Mesin Rumah Tangga. Jadi, laporannya sedikit diralat dengan ditambahkan tulisan Prof.. terus, Pak Doni sekarang jadi Rektor.”

Keceriaan terpecah dengan sangat cantik. Menyambut kegembiraan karena dosen yang mereka idolakan menjadi rektor. Tiba-tiba, Eko memberi informasi tambahan.

” Besok, Pak Parmin akan ke tempat KKN. Dia ingin bertemu dengan kita dan sekalian pamit.”

Setelah pengumuman itu, mereka mulai bersiap merapihkan rumah pondokan sebelum acara itu dimulai. Mereka berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Tinggal menunggu waktu untuk sebuah nilai sekaligus kenangan indah yang akan tertinggal di dusun ini.

Atau kepuasan yang sudah mereka dapatkan sebagai kenang-kenangan……………………

***

” Anak-anak, kalian telah menyelesaikan tugas KKN ini. Semoga dengan KKN ini, kalian bisa memetik pelajaran dengan baik. Harapannya, kelak bila kalian sukses dalam bidang apapun, jangan lupa untuk mengunjungi tempat KKN ini.”

Nasihat Pak Parmin ini menjadi penyemangat baru bagi anak-anak Jurusan Pendidikan Tata Boga ini. Mereka menyadari bila nasihat ini akan sangat berharga di masa yang akan datang.

Tiba-tiba lamunan Tyo berakhir tatkala Pak Ratmo mulai menyampaikan sepatah-dua patah kata yang intinya berterima kasih atas yang dilakukan anak-anak KKN 167 ini. Pak Ratmo juga ikut mendoakan agar mahasiswa KKN ini sukses dan berhasil di bidangnya.

2 jam kemudian, anggota kelompok KKN 167 mulai meninggalkan rumah pondokan. Meninggalkan semua kenangan yang sudah tercipta dengan cantik. Dan tentunya, La Gioconda masih tersangkut di pikiran dan kenangan Alan dan para wanita di dusun tersebut.

***

Semester 7 telah membuka tabirnya. Namun bagi Tyo, semester ini adalah semester yang tidak akan dia anggap karena dia telah lulus skripsi dengan mendapat pujian dari Dosen Pembimbingnya, Bu Ratna dan Bu Anis serta dosen pengujinya, Bu Dewi.

Ujian skripsi yang dilaksanakan di bulan Ramadhan ini memberi keindahan yang sangat cerah bagi Tyo karena mereka kagum dengan hasil penelitian yang sudah dibuat. Selain itu, ia termasuk satu-satunya mahasiswa yang menyelesaikan studi dengan sangat cepat. Setidaknya, Tyo bisa menikmati santai dengan nyaman hingga waktu wisuda nanti.

Dalam suasana pasca libur lebaran, Tyo mengisi waktu dengan jalan-jalan ke Mal Ambarukmo Plaza. Suasana ramai masih membekas dengan indah layaknya lebah yang mengitari madu yang mereka hasilkan meski terhitung sudah menunjukan pukul 16.30. Untai pandang menghiasi matanya.

Kemewahan mal ini juga yang telah mengenalkan Tyo pada suasana saat pertama kali makan bersama dengan teman-teman kosan lama. Sudah 3 tahun lebih, ia tidak berkomunikasi dengan mereka. entah bagaimana mereka sekarang.

Perlahan, Tyo menyusuri pujasera yang sangat ramai hingga tidak ada bangku yang tersisa. Tyo hanya melihat dari luar saja. Saat berjalan melintasi bioskop, Tyo disapa dengan seseorang. Alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui orang yang menyapanya. Siapa lagi kalau bukan Mas Genta, tetangga kosan lama.

” Mas Genta!”

” Iya! Kamu sendirian saja?”

” Iya, Mas.”

Saat mengobrol sejenak, seorang pria dengan postur tubuh layaknya binaraga dan memakai kemeja casual yang terlihat sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya datang menghampiri Genta dan Tyo.

” Genta, lagi apa disini? Dia siapa?”

Genta langsung memperkenalkan Tyo pada pria itu. ” Perkenalkan, saya Bimatama Prasetyo. Biasa dipanggil Tyo. saya pernah tetanggaan sama Mas Genta.”

” Oh! Ini Tyo yang sering diceritakan Genta. Kamu ternyata pernah bertetangga dengan Genta! OK! Kenalkan, aku Rori. Arditio Rori Hastoro. Kamu ndak perlu canggung sama aku. Meski aku terlihat kekar dan sangar, tapi aku ramah, kok!”

Anggukan Tyo mulai mencairkan suasana. Paras Rori terlihat sangat tampan. 11 – 12 dengan Adrian Maulana. Pesona semakin menguat saat Rori menawarkan Tyo untuk nonton film hingga Tyo mau mengikuti mereka.

2,5 jam berlalu dengan cantik. Film Roman semakin membuat Tyo, Genta dan Rori senang. Hingga pada suatu ketika, Genta menawarkan sesuatu pada pria yang akan lulus ini.

” Tyo, kamu lapar, ndak?”

” Iya, Mas!” ucap Tyo dengan nada malu-malu.

” Kalau gitu, kita makan dulu saja.”

Genta dan Rori mengajak Tyo ke restoran Jepang. Suasana ramai masih mewarnai restoran tersebut hingga mereka bisa mendapatkan tempat duduk. Tidak butuh waktu lama, seporsi Sashimi dan Onigiri sudah tersaji di hadapan Tyo hingga ia menikmatinya. Saat sedang menikmati Onigiri, pembicaraan pun dimulai.

” Sekarang sudah semester berapa?” tanya Genta dengan semangat.

” Saya semester 7. Mas Genta sudah lulus S2?” tanya Tyo semangat.

” Iya.”

” Berarti mau lanjut S3, dong?”

” Belum. Sekarang masih kerja.”

” Oh!” ucap Tyo dengan terkejut. ” Kerja di mana?”

Genta terdiam. Seperti ada yang menahan bibirnya untuk menceritakan yang sebenarnya. Dan yang tidak terduga pun terjadi.

” Genta dan Aku kerja di LSM Pelangi Indonesia!”

Tyo langsung terkejut seperti mendengar suara halilintar yang sangat keras. LSM itu sering menjadi fasilitator untuk memenuhi hak-hak kaum gay kepada pemerintah. Ia tidak menyangka bila Genta ikut di dalamnya.

” Tyo, apa kamu tahu tentang LSM itu?” tanya Rori tenang hingga Genta memegang tangannya. ” Nanti aku ceritakan semuanya di Rumah.”

Tyo, Genta dan Rori melanjutkan makannya. 1 jam kemudian, Tyo sudah sampai di Margosari Residence, kompleks perumahan tempat tinggal Genta dan Rori. Mereka tiba di depan rumah Genta dan Rori. Rumah berarsitektur modern dengan 2 lantai.

Saat masuk di dalamnya, suasana roman menghiasi setiap sudut. Lukisan pria-pria romawi dan etnik jawa dalam keadaan tanpa busana yang terpajang di ruang keluarga ikut meramaikan eksistensi seni yang tidak biasa. Genta dan Rori membawa Tyo menuju kamar mereka.

Alangkah terkejut ketika Tyo melihat potret berbingkai kecil yang dipajang di depan tempat tidur. Sebuah foto Genta dan Rori dalam keadaan tanpa busana dan berpose menantang membuat Tyo yakin kalau Genta dan Rori memiliki hubungan hingga kejujuran itu terjadi.

” Tyo. sebenarnya, aku mau mengakui. Aku dan Rori sudah menikah di Belanda.” jelas Genta hingga membuat Tyo terkejut namun ia bisa menerimanya.

” Yang dikatakan Genta itu benar. Aku suaminya Genta.” jelas Rori hingga ia menunjukan foto saat mereka melepas masa lajang di Belanda.

Tyo langsung menguntai tanya pada mereka.

” Bagaimana bisa?”

Genta lalu memulai ceritanya.

***

” Sendirian saja!”

Seorang pria dengan tubuh yang terlihat kekar menghampiri Genta dan duduk di sebelahnya. ” Kamu sendirian juga?”

” Iya! Tapi entah mengapa, kamu sering kulihat di GOR ( Gelanggang Olah Raga). Kebetulan, aku sering latihan senam disana. Kayaknya, kamu tidak pernah kulihat saat senam!”

” Iya! aku seringnya ikut basket.” ucap pria itu dan Genta anggukan kepalanya. Pria itu langsung tersadar saat ia belum memperkenalkan diri.

” Oh ya! Aku lupa perkenalkan namaku. OK! Aku Rori. Arditio Rori Hastoro. Anak Ilmu Keolahragaan 2005. Nama kamu?”

” Aku Genta. Genta Mardika Widyatama. Anak Ilmu Ekonomi 2005.”

” Oh! Berarti seangkatan ya!”

” Iya. Kamu tinggal di Jogja?”

” Iya! Tapi asalku dari Surabaya. Kalau kamu?”

” Aku dari Jakarta.”

Perkenalan itu menjadi pembuka pertemanan antara mereka. Uniknya, setiap Genta latihan senam, Rori selalu menontonnya dan begitupun sebaliknya. Mereka selalu bersama saat menekuni olahraga. Genta sering mengajarkan senam pada Rori dan sebaliknya. 3 bulan sejak berteman, Genta dan Rori semakin akrab.

Suatu ketika, Rori mengajak Genta untuk main ke tempat kosnya. Di kosan Rori, Genta banyak bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata penuh dengan air mata namun terdengar membahagiakan saat SMA. Saat Tyo mendengar cerita masa kecil Genta, ia meyakini kalau sebagian kecil pengalaman hidupnya serupa dengannya.

Pernah dirundung saat SD, diperkosa teman-teman SD hingga diperkosa oleh pamannya sendiri. Namun ia mulai merasa bahagia saat SMA ketika ada sahabat yang selalu peduli padanya. Namanya Hendra alias Christopher Alexander Hendra Widjaja. Dia adalah cucu dari Tjahja Widjaja, pengusaha papan atas yang namanya diakui hingga Amerika Serikat.

Hendra adalah orang pertama yang sangat intens berteman dengannya. Saat bercerita pada Tyo, Genta menunjukan fotonya hingga ia sadar kalau pria di sebelah Genta yang ia lihat di foto saat 3 tahun lalu itu adalah Hendra. Namun saat pertama kali ia ceritakan ke Rori, Genta mengatakan kalau ia adalah sahabat yang sangat peduli padanya.

Setelah Genta cerita tentang masa kecilnya, Rori pun ikut bercerita. Uniknya, saat cerita itu terangkat, Tyo menyadari kalau sebagian pengalaman hidupnya hanpir serupa dengan Dimas. Yang membedakan hanya status ekonomi keluarganya.

Bila Dimas berasal dari kalangan menengah ke bawah, Rori justru dari kalangan menengah ke atas. Ayahnya adalah pengusaha batik. Meski begitu, Rori dan Genta saling memperlihatkan keakraban.

Setelah bercerita panjang lebar, Rori minta izin untuk ke kamar mandi. Genta lalu bersantai sembari melepas lelah di tempat tidur. Saat bersandar di bantalnya, ia merasakan sesuatu di bawahnya. Ia terkejut saat melihat dildo, fleshlight dan majalah yang bersampul pria yang hanya mengenakan celana dalam.

Saat melihat majalah itu, betapa terkejutnya ketika tampilan pria-pria kekar berpose tanpa busana menghiasi untai pandangnya. Rori yang keluar dari kamar mandi dan melihat Genta membaca majalah tersebut langsung mengatakan satu hal.

” Genta, kamu sedang apa?”

Genta langsung menyembunyikan majalah ke bawah bantal. Rori yang mengetahui jatidirinya lalu membuat pengakuan mengejutkan.
” Genta, sebenarnya aku gay!”

Genta terkejut. Tidak ia sangka bila Rori mengakui hal itu. ” Aku tahu, kamu pasti akan menghindar dariku. Aku memang layak dijauhi. Di kampus hanya kamu yang tahu tentang jatidiriku. Kalau kamu mau menghindar dariku, aku tidak akan melarangnya.”

Namun Genta bukannya menghindar. Ia mendekat pada Rori lalu mendekapnya. Dan pengakuan mengejutkan terjadi.

” Rori, aku juga sebenarnya gay! Bahkan saat SMA, aku pernah berpacaran dengan Hendra. Meski begitu, keluarganya tidak tahu tentang itu. Hingga suatu hari menjelang wisuda SMA, Hendra meninggal karena leukimia. Aku mulai mengalami rasa sedih yang sangat berat.”

Genta lalu melepas dekapannya dari Rori lalu melanjutkan ceritanya.

” Saat pertama kali bertemu denganmu, aku seperti teringat dengan Hendra. Namun aku sadar, aku tidak mau menaruh rasa pada orang lain yang belum aku kenal. Jujur, aku mulai menaruh rasa suka saat pertama kali melihatmu. Tubuhmu yang terlihat kekar, wajah yang terlihat tampan dan keramahan yang telah kamu berikan membuatku semakin kagum denganmu. Hingga kamu katakan dirimu yang sebenarnya, aku cukup terkejut. Tapi kalau kamu ingin jadikan aku sebagai teman saja, aku akan menerimanya. Dan aku tidak akan bercerita apa-apa tentangmu.”

Genta lalu menunduk. Bimbang setelah ia ceritakan jatidirinya. Tidak lama kemudian, Rori menghampiri Genta lalu mendekapnya.
” Genta. Kita sama-sama memiliki rasa yang sama. Aku juga mulai menaruh rasa padamu. Wajahmu sangat cantik. Meski kamu tidak memiliki tubuh serupa denganku, tapi aku benar-benar menaruh rasa. Kalau kamu memang suka denganku, aku akan menerimamu apapun yang terjadi.”

Genta lalu akhiri dekapan dan menatap wajahnya Rori. Perlahan, Rori mengambil kecupan pada Genta. Genta yang terkesima dengan kecupan hangatnya lalu mulai mengulum lidah Rori. Sedikit demi sedikit, Genta dan Rori mulai menikmati kecupan indah tersebut. 5 menit berlalu. Rori mulai menguntai senyum seindah bunga mawar merah marun pada Genta. Rori lalu mulai melepas kaus berkerah lebar hitam yang ia kenakan.

Tampilan bidang dadanya yang terlihat berotot hingga lekukan otot lengan dan perut mulai meningkatkan detak jantung Genta. Rori lalu lanjut melepas celana bokser hingga celana dalam. Praktis, tidak ada kain yang menutupi tubuhnya. Genta yang mulai terangsang lalu ikut melepas semua pakaian yang ia kenakan.

Ya! Mereka berdua mulai menunjukan keindahan yang mereka miliki. Rori mulai mengecup bibir indahnya Genta. Genta mulai merespon dengan mengecup Rori secara liar. 2 menit berlalu, Rori mulai mengecup leher, dada hingga kemaluannya. Rori akhirnya mulai melakukan oral.

Genta langsung mengerang dengan hangat. Siang yang sangat terik tidak menghalangi Rori untuk menghisap pejuh Genta. Setelah itu, Genta mulai melakukan hal yang sama. 2 jam berlalu hingga Rori mulai mengolesi dildo dengan baby oil.

Dia langsung menusukan barang keras tersebut ke anusnya Genta. Erangan mulai menghinggap di bibir Genta. Perlahan, kemaluan Rori mendarat di anusnya Genta. Dalam posisi tengkurap, Rori mulai melepas hasrat pada Genta. Setelah itu, Genta melakukan hal yang sama dengan Rori. 2 jam berlalu, mereka mulai melepas lelah.

Jam 6 sore, Genta mulai beranjak bangun setelah menikmati sajian indah ini. Rori yang bersandar di dadanya Genta ikut terbangun. Saat Genta menuju kamar mandi, Rori menahan dengan memegang tangannya.

” Sayang, kita masuk sama-sama ya!”

Genta dan Rori mandi bersama. Rori yang melumuri tubuhnya dan Genta dengan sabun cair lalu Genta yang menyiram tubuhnya dan Rori. Saat mereka selesai menggosok gigi, Rori iseng mengecup Genta. Candaan ini membuat Genta semakin semangat untuk menerima kecupan indah.

Dan mereka pun menikmatinya.

***

Sepanjang masa-masa kuliah, Rori dan Genta seperti sandal. Selalu berpasangan. Baik saat di GOR maupun di kampus. Setiap hari, Rori selalu datang ke kosan Genta hingga ia memutuskan tinggal bersama dengan Genta. Selama disana, Rori selalu bermesraan dengan bebas.

Meski begitu, ia jarang melakukan oral dan anal dengan Genta. Namun ada salah satu kebiasaan yang sering dilakukan Rori. Ia selalu latihan indoor basket style dan senam tanpa memakai pakaian, senang tidur dalam keadaan tanpa busana, selalu memakai daster dan lingerie hingga sobek karena tidak bisa mengimbangi tubuhnya dan tidak tertinggal pula, selalu bermain fleshlight. Genta akhirnya tertular dengan kebiasaan tersebut dan senang dengannya.

Pernah saat liburan bersama, Rori menikmati tubuh Genta di air terjun tanpa khawatir ada yang melihat. Meski begitu, Rori dan Genta saling mencintai hingga tiba saatnya bagi Rori untuk berpisah dari Genta karena ia diterima bekerja di Jakarta.

2 tahun kemudian, Rori bertemu dengan Genta yang sudah lulus S2 lalu mereka tinggal di kosan yang sama. Hingga suatu ketika, Rori ingin mengajak Genta untuk menikah di Belanda dan ikut LSM Pelangi Indonesia. Tidak banyak pertimbangan, Genta lalu menerima tawaran Rori. Akhirnya mereka menikah di Belanda lalu mengurus LSM tersebut dan tinggal di Jogja.

***

” Berarti kalian sudah siap menanggung risiko itu?”

” Iya!” jawab Rori dengan tegas.

Tyo mulai alihkan pembicaraan. ” Untuk Mas Rori, aku minta maaf kalau aku ganggu hubungan kalian.”

Rori dan Genta yang mengetahui maksud ucapannya mulai membantah.

” Ah, tidak! Aku ndak cemburu sama kamu. Lagipula kamu kan pernah bertetangga dengan suamiku.” ucap Rori meneduhkan hingga Genta ikut mendukung jawabannya.

Anggukan kepala membuat Tyo cukup puas dengannya. Ia lalu bertanya pada Genta.

” Mas Genta, bagaimana keadaan Hafiz, Sultan dan teman-teman kos lainnya? Apa mereka baik-baik saja?”

Genta terdiam sejenak. 1 menit berlalu hingga Genta membuat pernyataan mengejutkan.

” Hafiz, Sultan dan teman-teman kos lainnya sudah meninggal.”

Tyo terkejut. Tidak ia sangka itu akan terjadi. Genta lalu bercerita kalau mereka terkena penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Itu terjadi akibat perbuatan mereka yang selalu melakukan hubungan seksual secara liar. Mereka tidak hanya melakukan perbuatan itu, namun juga pernah memerkosa anak-anak perempuan yang mereka temui saat kerja praktek di Bandung.

Mereka lalu dibawa ke Semarang untuk dikremasi dan abunya dibuang di laut Jawa. Orang tuanya bahkan tidak tahu kalau mereka sudah tidak ada. Tyo yang tidak tega dengan peristiwa itu lalu berniat memberitahu orang tua mereka. namun Genta menolaknya.

Dia tidak ingin membuat mereka sangat khawatir. Biarlah mereka yang akan mengetahui dengan sendirinya. Namun ada yang paling membuatnya terkejut.

” Tyo. Aku dan Rori juga kena HIV/AIDS. Saat diperiksa ke dokter, mereka mengatakan kalau umur kami hanya 1 tahun lagi. Aku dan suamiku beruntung bisa bertemu denganmu. Saranku, kamu jangan lakukan hal itu lagi dan segerakan periksa ke dokter.”

Pengakuan itu membuat Tyo sadar bahwa yang ia, Dimas dan teman-temannya lakukan adalah sesuatu yang salah. Namun, rasa pesimis muncul dari hatinya karena ia sadar, cinta adalah sesuatu yang sangat hakiki. Bila ia, Dimas dan teman-teman lainnya harus mengalami peristiwa ini. Biarlah itu terjadi.

***

” Mas Genta, Mas Rori, aku pamit dulu ya!”

” Kamu ndak mau menginap di rumahku?”

” Ndak dulu. Nanti kapan-kapan saya main ke tempatnya mas Genta.”

Perlahan, Tyo mulai meninggalkan rumah Genta dan Rori yang melambaikan tangan di depan rumah. Di dalam mobil, Genta menyatakan rasa senangnya karena bisa bertemu dengan teman kosan lama. Tidak lama kemudian, Genta menghentikan mobilnya di depan gang ke kosannya Tyo.

” Mas Genta. Terima kasih ya. Sudah mau nganterin saya.”

” Sama-sama. Aku juga senang bisa bertemu denganmu.”

Genta lalu menguntai pandang ke Tyo hingga ia tidak menduga kalau Genta mengecup bibir Tyo. Iapun menerima dengan lapang dada. Semakin dalam, dalam dan dalam. Genta lalu akhiri kecupan indahnya.

” Semoga kita bisa ketemu lagi.”

Genta lalu mendekap Tyo. Tyo ikut menikmati kehangatan yang tersaji dengan cantik. Setidaknya, ia sudah menemukan teman lama yang sudah dirindukan meski tahu bahwa apa yang akan terjadi adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun ia ingin akhir cerita itu menjadi indah dan bermakna.

***

” Selanjutnya, kami panggilkan Agustinus Bimatama Prasetyo dengan IPK 3,89 dengan predikat cumlaude.”

Panggilan itu menyentuh sanubari Tyo untuk naik ke atas panggung. Tidak ia sangka, perjuangan selama 3 tahun menuntut ilmu terbayarkan dengan cantik. Ia perlahan maju ke atas podium. Di depannya, Pak Doni dan Pak Parmin menunggu Tyo. Tali toga berpindah dan selembar ijazah tersemat dengan cantik.

Ucapan selamat tidak tertinggal untuknya. Rasa haru mulai mengitari pikirannya. 1 jam berlalu, namanya dipanggil kembali untuk menyampaikan pidato perwakilan mahasiswa. Saat sedang membaca teks pidato itu, air matanya mulai menetes.

Ia senang, perjuangannya menjadi manis dan ia berterima kasih kepada Tuhan yang ia dan aku anut. Selain itu, ia berterima kasih kepada ibunya, teman-temannya dan orang-orang yang sudah mewarnai sejarah hidupnya.

***

” Tyo, selamat ya! Kamu sudah diwisuda” ucap Gio dengan bangga.

” Wah, Tyo sudah diwisuda nih! Apalagi yang menyambutnya, Pak Doni! Aku jadi semangat ingin cepat lulus.” ucap Astrin ikut bangga.

” Sayang, akhirnya kamu bisa lulus. Aku ingin sekali bisa menyusulmu. Doakan aku ya!”

Anggukan Tyo membuat Dimas senang. Semua personil The Fitness, The Sport Toys dan The Dolphins datang memberi ucapan selamat pada Tyo yang mereka anggap sebagai sahabat yang sangat mereka kagumi. Tidak ketinggalan pula, Rino dan Kamal ikut berbangga. Setidaknya, kembang api terus memancarkan keindahannya.

***

” Kamu dapat beasiswa ke Inggris, Tyo?”

” Iya. Pak Doni yang memberitahu. Bulan depan, aku berangkat ke Inggris.”

” Berarti kamu akan meninggalkanku, ya?”

Tyo terdiam saat Dimas mulai menunjukan ekspresi ketidaksetujuannya. Ia khawatir, Tyo akan meninggalkannya. Di sisi lain, Tyo teringat dengan apa yang dilakukan Fahmi dan Kamal saat hubungan itu tengah berlanjut. Mereka rela meninggalkan Tyo demi menempuh tujuan dan cita-cita yang orang tua mereka harapkan.

Dan yang Fahmi dan Kamal lakukan padanya juga dilakukan olehnya. Tyo gamang. Akankah ia tetap mengambil kesempatan studi atau tetap bersama Dimas setelah lulus. Air mata mulai memberi tanda pada wajahnya. Disaat ia duduk terdiam di atas kasur, Dimas mendekap Tyo dengan hangat.

” Tyo. Aku tahu, ini adalah kesempatan agar kamu bisa sukses di sana. Tapi aku sadar, aku ndak bisa menghalangi cita-citamu. Kelak, aku bisa bersama denganmu. Kamu pasti tahu kalau mantanmu, Fahmi dan Kamal serta mantanku, Rino meninggalkan kita demi menempuh cita-cita yang lebih tinggi. Sebuah perasaan tidak akan meninggalkan kita selama cinta itu masih bersemi di hati. Bila akhirnya kita harus berpisah, aku ingin perpisahan ini tersaji dengan indah. Seindah bunga mawar merah yang membekas di hati.”

” Dim, sejak kapan kamu bisa se-puitis ini?” tanya Tyo yang terkejut dengan cara ucapannya.

” Juna. Dia yang memberi kata-kata itu. Aku tahu dari buku harianmu.”

Tyo terkejut dengan ucapannya. Sebuah ucapan yang biasa diketahui oleh orang-orang yang sering bergelut dengan dunia sastra. Di sisi lain, Tyo terdiam, mengapa Dimas bisa sepuitis itu meski ia anak sastra. Setidaknya, ia senang dengan kata-kata itu.

Terlintas di benaknya, Arjuna William Satrio Utomo, seorang yang telah memberi inspirasi sastrawi. Namun, mengapa ia tidak datang saat Tyo diwisuda. Di benaknya Dimas, Juna telah memberi sedikit semangat pada pacarnya meski ia telah melakukan perbuatan yang sangat memilukan padanya. Perlahan, air mata Dimas dan Tyo membuka tabir isi hati mereka.

***

Tyo, Dimas dan para personil The Fitness dan The Sport Toys menikmati akhir pekan dengan fitness bersama. Meski mereka masih sibuk dengan skripsi, namun kegiatan ini tidak akan pernah ia tinggalkan. Tyo berharap bila ia akan selalu merindukan suasana ini. Dentingan barbel, dummble dan alat-alat kebugaran akan selalu ia ingat dengan baik.

Malam sebelumnya, Dimas menikmatinya seperti biasa. Hal ini memberi jejak atas perasaannya dengan untaian senyum yang memesona.

3 tahun bersama Dimas dan teman-teman seangkatannya, Tyo mendapatkan kenangan yang sulit diungkapkan kata-kata. Senang, sedih, galau hingga penuh harap menjadi untaian mutu manikam yang menjuntai dalam sebuah proses yang disebut kehidupan.

Ia akan selalu mengenang dentingan dummble, barble, alat-alat kebugaran, hentakan suara para binaragawan yang sedang latihan hingga keramaian kelas body strike, zumba dan aerobic saat ia meninggalkan Jogja. Belum lagi dengan semaraknya dunia malam yang dialaminya. Semua telah memperkaya khasanah kehidupannya.

***

” Mal, skripsinya sudah sampai mana?”

” Baru sampe penelitian. Kalau Rino sudah mau sidang.”

” Serius?”

Anggukan Rino semakin membuat Tyo senang. Tidak ia sangka bila Rino bisa menyelesaikan skripsi hingga siap untuk menghadapi sidang. Suasana optimis mulai membekas pada perasaan Rino dan Kamal. Kamal lalu membuka laptop dan mengecek status di facebook miliknya.

” Tyo! Gue mau tanya. Lo tahu gak nama lengkap Fahmi, mantan lo pas SMP?” tanya Kamal sembari mengecek status.

Tyo langsung memberikan nama pria yang telah mewarnai kehidupannya saat SMP meski harus melalui jalan yang sangat kelam. ” Fahmi Muhammad As Sidiq.”

Kamal lalu mengetik nama tersebut di kolom pencarian. Tidak butuh waktu lama, nama itu ditemukan. Namun Kamal terkejut dan terdiam saat melihat sebuah tulisan yang sangat mengejutkan.

” Mal, lo kenapa?” tanya Tyo penasaran.

” Iya, kamu kenapa, sayang?” tanya Rino sembari mengelus punggungnya.

Kamal lalu menunjukan sebuah informasi di statusnya Fahmi meski ia yakin, bukan Fahmi yang menuliskannya.

***

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun! Telah berpulang ke rahmatullah, ananda Fahmi Muhammad As Sidiq bin Sudiono Taslim. Jenazah meninggal dunia karena dibunuh. Jenazah akan dibawa ke rumah duka sekaligus dimakamkan pada hari ini di Rawalumbu, Bekasi pada tanggal 3 Agustus 2012. Semoga almarhum tenang di alam sana dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

***

Sontak, Tyo langsung meneteskan air matanya. Tidak disangka, Fahmi telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Namun, kesedihan Tyo semakin besar ketika Kamal menunjukan pada Tyo dan Rino sebuah berita. Mereka mengetahui kalau Fahmi dibunuh dan disodomi oleh kawanan geng preman yang sangat ditakuti. Namanya Geng Garong.

3 hari setelah Fahmi meninggal, geng Garong juga membunuh kelompok geng preman lainnya, yaitu geng Loreng serta teman-teman SMP-nya, termasuk Rian dan Anis. Perlahan, ingatan Tyo terlintasi kisah perseteruan 2 geng berbahaya saat masih SMP.

Tidak ia sangka hingga sekarang, dendam itu masih membekas pada 2 kubu hingga menewaskan Fahmi yang notabene mantan anggota dan tidak ada sangkut paut lagi dengan geng Loreng. Puji Tuhan, polisi berhasil menangkap anggota geng Garong termasuk pentolannya, Rama dan Prayud.

Pengadilan langsung memberi keputusan hukuman mati pada pelaku yang berperilaku tidak manusiawi tersebut. Rino dan Kamal langsung menenangkan Tyo.

” Jangan terus bersedih, Tyo. Doakan Fahmi biar tenang disana.” ucap Kamal memberi saran dan menenangkan Tyo.

” Iya, Tyo. Jangan sedih terus. Kamu masih punya aku, Kamal, Dimas dan teman-teman lainnya.”

Nasihat Rino mulai memberikan suasana bangkit. Perlahan, air mata Tyo terpupus dengan semangat hidup yang ia miliki. Tangan indahnya mengepal kuat. Menahan rasa sedih yang membekas demi menukarkannya dengan harapan dan kebersamaan yang sudah ia dapat. Tyo langsung mendekap Rino dengan hangat.

Berterima kasih atas nasihat semangatnya. 10 menit kemudian, Kamal mendekap Tyo sembari memberi keyakinan untuk selalu optimis dan tidak sedih atas peristiwa yang ia ketahui.

” Mal, Rin. Makasih ya! Kalian udah memberi semangat padaku.” ucap Tyo, 10 menit setelah mendekap Kamal. Kamal terus menatap Tyo dengan tatapan elang yang ia miliki. Tiba-tiba, ia memberi saran yang cukup aneh.

” Daripada kita sedih terus. Gimana kalo kita mandi bareng yuk! Gue belum pernah mandi bareng di tempat fitness ini!”

Rasa terkejut sekilas menghampiri benak Tyo dan Rino. Namun perlahan berganti menjadi kesetujuan hingga Rino mendukung ide aneh Kamal itu. ” OK juga, sayang! Ayo!”
Tiba-tiba, Dimas menghampiri mereka yang beranjak dari tempat duduk. ” Pada mau kemana?”

” Kita mau mandi bareng, mau ikut?” tanya Tyo pada Dimas yang terlihat sangat lelah setelah menjadi instruktur Body Strike.

” Ayo!” ucap Dimas dengan senang hingga tersenyum.

Tyo, Dimas, Kamal dan Rino mulai melepas pakaian mereka. Dalam keadaan telanjang, mereka saling meraba tubuh satu sama lain dengan sabun yang beraroma maskulin. Dalam balutan sabun, mereka saling mengecup dan meraba tubuh satu sama lain. Perlahan, air mulai melunturkan sabun yang menempel di tubuh mereka hingga kecupan bibir saling tersematkan satu sama lain.

15 menit kemudian, Kamal langsung mengecup leher, dada hingga penisnya Dimas. Rino juga melakukan hal yang sama pada Tyo. Setidaknya, ini adalah kesempatan terakhir bagi Tyo untuk menikmati foursome bersama mereka. Air pancuran shower ikut bernyanyi merayakan keindahan yang sulit terlukiskan kata-kata.

***

Surya menyambut Yogyakarta dengan anggun dan memesona. Membangunkan Tyo, Dimas, Kamal dan Rino yang telah menghabiskan malam yang pekat, dingin dan cantik dengan sebuah aksi foursome yang sangat menawan. Peluh yang telah membasahi seperai, kasur, selimut dan bantal mereka berubah menjadi uap dingin yang sangat imut.

Selimut pun masih menutupi tubuh mereka yang terlihat paripurna. Mereka merasa puas setelah mengulum penis dan menusukan penis ke dubur satu sama lain. Kepuasan yang sangat cantik. Terlihat surya menyapa mata Kamal yang sedang mendekap Rino dan Dimas yang mendekap Tyo. tentunya, senyum menyapa pagi mereka dengan cantik. Sebuah kenikmatan yang sangat indah.

***

Meski Dimas hanya mengambil mata kuliah tatap kelas sebanyak 4 SKS, namun ia bisa berleluasa main, bercanda dan berpesta malam ria bersama teman-teman kampusnya dan Tyo. Setidaknya, mengusir kegelisahan akibat skripsi. Namun kali ini, Dimas mengajak Kamal dan Rino untuk berkeliling di kampusnya. Di tengah pengenalan suasana kampus ke Kamal dan Rino, Aji memulai sapaan pada Dimas.

” Dim, lagi apa? Kemana kamu ajak Rino dan Kamal?”

” Eh, Aji! Aku ajak Rino dan Kamal keliling kampus. Paling tidak cari suasana berbeda dan memecah rasa penasaran.” jawab Dimas sembari merangkul Kamal hingga ia bertanya sesuatu pada Aji. ” Pardi mana, cuk?”

” Dia lagi presentasi Bab III. Untung pembimbingnya Bu Ratna dan Bu Dewi. Jadi cepat selesai sampai Bab III.” jelas Aji dengan ekspresi datar.

” Bener, cuk! Tyo saja bisa cepat selesai sama Bu Ratna. Terus Gio dan Astrin dibimbing Bu Dewi. Wah, pasti Pardi bisa cepat selesai, nih! Makanya, Ji! Jangan mau kalah sama Pardi. Nanti dia duluan lulusnya.” ucap Dimas sembari menasihati Aji hingga acungan jempol tangannya memberi persetujuan atas ucapan teman masa sekolahnya.

Pandangan Aji mulai mengarah ke Rino dan membuka percakapan.

” Koe piye, Rin? Wes bab pira?”

” Aku wes bab limo. Nunggu sidang, cuk!” jawab Rino dengan gaya bicara yang mulai gaul, sesuatu yang berbeda dengan karakter Rino yang terlalu “jaim dan malu-malu”.

Sontak, Kamal, Dimas dna Aji terkejut. Ia sadar, Rino sekarang mulai ikut bergaya gaul.

” WIIIIIH! RINO JADI IKUT GAUL KOYO NGONO, CUK!” ucap Aji dengan nada keras sebagai wujud ekspresinya.

” Iyo, cuk! Rino jadi wild! Ini yang kusuka.” tanggap Dimas terkejut sembari memuji Rino. ” Mal, apa kamu yang ajarkan ini?” tanya Dimas pada Kamal dengan nada heran.

” Iya, dong! Gue bikin Rino jadi gaul gini. Iya, kan sayang?” jawab Kamal dengan bangga sembari bertanya balik pada Rino hingga anggukan kepala Rino menjawab semuanya.

Kamal tersenyum nakal. Perlahan, Kamal melepas rangkulan Dimas lalu mengecup Rino dengan berani dan terbuka. Dimas dan Aji mulai waswas.

” Mal, jangan lakukan itu di tempat seperti ini. Bahaya tahu!” ucap Dimas berupaya melarang Kamal dan Rino.

Aji pun ikut mengingatkan Kamal dan Rino. ” Iya,, Mal, Rin! Nanti dilihat orang lain, lho!”

Bukannya berhenti, Kamal terus mengecup Rino bahkan ia mengecup bibir dan leher kekasihnya dengan sangat liar. Untungnya, Rino menahan tubuh kekar Kamal dan mendelikan pandangan ke Dimas. Kamal lalu arahkan pandangan ke Dimas. Melepas dekapan ke Rino. Mendekati Dimas, mendekapnya dan mengecup bibirnya sembari ucapkan sesuatu yang tidak terduga di telinga Dimas.

” Dim. Lo itu bikin gue horny, deh!”

Dimas langsung mendorong Kamal saat ia menyadari bila Kamal melakukan perbuatan itu di tempat terbuka. Dalam benak Dimas, ia khawatir bila Tyo atau anak-anak kampus lainnya melihat hal tersebut.

” Koe edan, cuk. Nopo koe ngelakoni koyo ngene?” tanya Dimas dengan bahasa Jawa hingga membuat Kamal bingung hingga Rino menerjemahkan ucapan Dimas dan lagi-lagi, Kamal tersenyum nakal.

” Lagian, lo juga kenapa harus takut! Gue aja lakuin hal kayak gini di kampus aman-aman aja! Bahkan gue dan Rino merasa aman meski pernah lakuin itu di lapangan kampus pas hari Minggu.” jelas Kamal dengan nada penegasan hingga ia memukul pundak Dimas dengan pelan dan mengarahkan telunjuknya ke dadanya dan Dimas. Dimas masih tidak bisa menerima penjelasan Kamal. Namun bukan Kamal namanya kalau tanpa pembelaan dan argumentatif.

” OK! Lo bisa bicara kayak gitu!” ucap Kamal dengan senyum nakal.

” Tapi apa lo lupa, lo pernah mandi bareng Tyo di toilet kampus! Toh, itu juga berlokasi di kampus, kan? Bahkan di lingkungan dalam, pula!” jelas Kamal sembari menunjuk ke arah kampus Tyo meski ia tidak menunjuk ke arah toilet kampus yang terletak di lantai 2.

Dimas terkejut saat Kamal tahu rahasia itu. Dimas terdiam saat kebimbangan melintasi pikirannya. Apa Tyo membuka rahasia itu atau ada yang sengaja menceritakan rahasia itu? Aji dengan tatapan matanya ikut mengklarifikasi pada Dimas hingga tatapan Dimas memberi jawaban kebenaran.

Perlahan, bimbang berubah menjadi marah secepat angin bertiup menyapu debu di tanah kering. Dimas langsung menarik kerah baju Kamal. Rino dan Aji terkejut. Aji langsung mencegah Dimas untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun, Dimas mendorong Aji dengan keras. Dimas terus menarik tangan Kamal dan membawa menuju ruang toilet kampus yang terletak di lantai satu dan masuk ke toilet. Rino dan Aji terlambat dan tidak bisa masuk ke toilet yang sudah dikunci Dimas.

Kamal didorong Dimas ke dinding dekat pintu.

” Silahkan kamu setubuhi aku sepuasnya kalau kamu bukan cowok kekar yang pengecut! Percuma punya badan gedhe tapi mental kayak banci!” ucap Dimas dengan nada keras sembari menunjuk wajah Kamal secara emotif.

Kamal mulai meluapkan emosi yang terpendam di sanubarinya. Seperti terpancing emosi, anggukan Kamal membuka semuanya. Kamal langsung mendekap Dimas dan menyandarkan di dinding yang sama. Tanpa komando, Kamal langsung mengecup bibir Dimas yang masih basah karena air liurnya.

Dimas seperti terbuai dengan pesona dalam diri Kamal. Tubuh kekar dan wajah maskulin yang Kamal miliki membuat Dimas mengecup dan mencicipi lidahnya dengan sangat horny. Kamal langsung hentikan kecupan lalu melepas pakaian yang ia kenakan. Dimas pun ikut melepas pakaian yang ia kenakan. Ya! Mereka sudah telanjang.

Di luar, Rino terus mengetuk pintu toilet. Aji terus meminta Dimas untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba, suara tertawa terdengar dari dalam. Suara tawa Kamal dan Dimas menghentikan tindakan Aji dan Rino. Aji yang paham dengan maksud tawa itu lalu menjelaskan yang terjadi pada Rino.

” Rin, Dimas dan Kamal sedang bersetubuh. Seperti yang Dimas lakukan pada Tyo.”

Rino tidak percaya dengan Aji. Namun, tanpa keraguan yang menyelimuti, Aji membawa Rino ke toilet sebelah sembari menjelaskan dengan tenang.

” Rin, aku tahu kalau Dimas senang bersetubuh di kamar mandi, baik dengan kamu, aku, Tyo, Kamal, Mas Angga dan Mas Denny, personal trainer yang melatih Dimas saat fitness waktu SMA.

Dimas pernah cerita sama aku kalau ia senang mandi bareng cowok atletis. Makanya, ia senang mandi bareng PT yang melatihnya saat belum jadian sama kamu. Aku tahu kalau Dimas sering menikmati tubuhmu di kamar mandi sekolah. Saat itu, aku sering melihat diam-diam yang kalian lakukan dengan mengintip di balik dinding toilet.

Dimas sampai sekarang tidak tahu tentang rahasia itu. Terkait yang ia lakukan, kamu ndak perlu takut. Ia tidak akan menganiaya Kamal. Justru, Kamal senang menikmati tubuh Dimas. Jadi ndak perlu khawatir.”

Rino mengangguk paham. Rino langsung membuka pintu toilet untuk keluar. Ternyata Aji menahan pintu terbuka. Saat Rino mendelikan mata demi mempertanyakan maksudnya, Aji membuat pengakuan mengejutkan.

” Rin. Sejujurnya aku punya rasa sama kamu. Tapi aku sadar, aku memiliki Dito saat SMA dan sekarang memiliki Pardi. Aku tahu, kamu tidak akan menerimanya dengan mudah. Kalau saja aku bisa melakukan yang Dimas lakukan dengan Kamal saat ini, aku akan melakukan dengan senang hati. kuharap aku bisa merasakan kebahagiaan.

Rino terdiam sejenak sembari merasakan kegalauan yang sangat cantik. Namun semua itu berubah menjadi senyum saat Rino menjelaskan sesuatu yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

” Aku tahu, kamu pasti akan katakan itu. pandangan matamu adalah pandangan harapan. Kalau kamu ingin melakukannya, aku tidak akan melarangnya. Ikutilah apa yang menjadi keinginan untukmu. Aku akan menerimanya.”

Aji tersenyum senang. Aji langsung mengunci pintu. Melepas pakaiannya hingga ia berdiri di hadapan Rino dengan telanjang. Rino melakukan hal yang sama. Tanpa basa-basi, Aji membasuh tubuhnya dan Rino dengan air dan melumuri tubuhnya dan Rino dengan sabun yang sudah disediakan di toilet.

Setelah itu, Aji langsung mengecup bibir Rino, mengecup leher Rino hingga melakukan oral dan anal sex pada Rino. Meski berbalut sabun, permainan itu semakin menarik ketika Rino melakukan hal yang sama pada Aji. Perlahan, air memupuskan pesona sabun yang sudah berhias dengan cantik. Melepas keraguan dan ketabuan yang membayangi pikiran mereka.

Di toilet sebelah, Kamal dan Dimas puas saling menikmati tubuh kekar yang mereka miliki meski berbalut sabun yang mereka lumuri. Saling mengecup bibir, leher, dada, kaki hingga saling menghisap penis dan menusukan penis ke dubur mereka menjadi hiasan cantik yang sangat membekas.

Setidaknya, 2 pria gagah, kekar dan tampan yang pernah menghiasi sejarah hidup Tyo ini puas melepas hasrat yang selalu menjadi penghias sebuah dunia yang penuh dengan ketabuan namun memiliki keindahan swargaloka yang sangat cantik. Secantik mawar merah marun yang bermekaran di ladang bunga saat matahari terbit. Perlahan, basuhan air mencari kecantikan hubungan yang tengah dijalani.

***

” Mal, kita kan pernah mewarnai pengalaman hidup seseorang yang sama-sama kita cintai. Menurutmu, apa aku bisa menerima bila ia akan meninggalkanku.”

Kamal terdiam saat Dimas membisikan keluhan itu di telinga gagahnya. Usapan tangan kekar di punggung kekar Dimas membuat Dimas merasa tenang. Bahkan alat vital mereka seperti terangsang dengan cantik. Perlahan, Kamal menyejukan sanubari Dimas dengan kata-kata cantik yang tidak Dimas duga di telinga gagah Dimas.

” Feeling gue, Lo pasti akan menikah dengan Tyo. Percaya deh! Dia punya harapan yang sangat tinggi sama lo. Mungkin saat ini, ia akan mutusin hubungan lo. Tapi setelah ia kembali dari Inggris, ia akan menikahi lo. Jadi, optimis saja. Gue juga sedang menyiapkan urusan pernikahan dengan Rino. Semoga aja, lo gak cemburu sama gue!”

Dimas lalu menatap tatapan elang Kamal yang tengah berandar di dinding. Perlahan, kedua pria kekar ini tersenyum senang dan tertawa. Dan tidak perlu menunggu lama, kecupan hangat mengalir dengan sangat cantik.

Secantik mawar merah marun yang mekar disaat matahari menampakan dirinya. Toilet kampus mulai melembabkan rasa yang mereka miliki. Rasa yang pernah menghiasi sanubari seorang pria yang memiliki hati yang sangat anggun dan cantik meski pernah terhitamkan oleh noktah yang sangat kelam dan mengalami petualangan rasa yang sangat imut, seimut boneka hello kitty.

Bersambung