Yang Pertama Dan Terakhir Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 13

Ujian Akhir Semester 6 telah berlalu. Dimas dan Tyo mengemas pakaian mereka untuk pindah ke rumah pondokan Pak Ratmo.

” Sayang, baju-baju sudah siap semua, kan?”

” Sudah!” jawab Tyo dengan yakin. ” Tapi, perlu bawa dildo, ndak?”

” Boleh! Biar aku bisa menikmati tubuhmu setiap hari!” ucap Dimas sembari mengedipkan mata kirinya.

Sejak Dimas tinggal dengan Tyo, Dildo selalu menjadi kebutuhan utama dalam hubungan mereka. Bahkan, Tyo selalu kalah dari Dimas dalam urusan ranjang hingga ia selalu berhasil menaklukan Tyo. Namun, kelincahan Dimas bukan menjadi senjata untuk menguasai tubunya, melainkan sarana untuk menjalin rasa lebih dalam. Setidaknya, meski bertubuh kekar dan berwajah tampan, namun naluri kasih sayang selalu mewarnai pikirannya saat berhadapan dengan kekasih yang ia cintai ini.

Dimas dan Tyo menuju gedung Rektorat untuk berkumpul dengan anak-anak 167 lainnya. Beruntung, Dimas dan Tyo adalah yang datang terakhir. Mereka langsung berangkat menuju lokasi. 45 menit berlalu, mereka sampai di depan rumah Pak Ratmo.

” Teman-teman, kita sowan dulu ke Pak Ratmo.” ucap Eko meyakinkan.

Mereka langsung menuju rumah Pak Ratmo. Pak Ratmo langsung menyambut mereka. Sayangnya, dia hanya memakai celana dalam. Sepertinya, dia baru bangun tidur karena ia terlihat mengucek matanya. Yang perempuan berpura-pura melihat Pak Ratmo namun memandangi sudut lain. Setidaknya, berpura-pura untuk menutupi aib yang dimiliki pria paruh baya itu.

” Iya, Mas, Mbak. Silahkan duduk!” ucap Pak Ratmo persilahkan anak-anak 167 masuk ke rumahnya.

” Bu! Ada anak-KKN, tolong buatkan teh!”

Anak-anak KKN duduk meski yang perempuan sedikit alihkan pandangan karena tidak patut melihat sesuatu yang seharusnya ditutup. Tapi, mereka agak sulit mengungkapkan kata-kata itu karena Pak Paijo pernah cerita kalau Pak Ratmo itu orangnya gampang tersinggung. Kalau mereka buat dia marah, urusan KKN akan bermasalah.

Setidaknya, mereka harus sabar. 10 menit kemudian, teh dan rempeyek datang menyambut mereka. Namun bukan itu yang membuat 167 senang, mereka terkejut ketika melihat Bu Misnah atau Bu Ratmo hanya memakai bra dan celana dalam saja.

” Ini tehnya. Silahkan diminum.”

167 mulai menikmati teh dan rempeyek yang disajikan. Namun, bukan Tyo namanya kalau ia sangat geregetan dengan hal yang tidak biasa itu hingga sebuah pertanyaan meluncur selembut sutera di tubuh Amelvi.

” Nuwun Pangapunten, Pak, Bu! Nuwun pirsa, apa bapak dan ibu tidak merasa kedinginan?”

Saat bertanya seperti itu, tiba-tiba mereka tersadar kalau mereka hanya memakai pakaian dalam. Pak Ratmo dan Istri langsung berlari menuju dapur sembari menutup kemaluan mereka. 167 yang mulai tertawa perlahan menutup mulut mereka dan menahan rasa lucu itu. Mereka tidak ingin menyakiti perasaan orang yang telah menyewakan pondokan.

***

” Maafkan kami! Kami tidak sadari atas apa yang kami lakukan.” ucap Pak Ratmo menyesal.

” Ndak pa pa, Pak, Bu! Kami maklumi atas kejadian tadi.” ucap Eko menenangkan situasi.

***

” Teman-teman, ada yang mau mewakili kelompok untuk izin ke Pak Kadus?”

Semua terdiam. Khusus yang laki-laki, mereka tidak mau melakukannya. Hal ini terjadi karena Bu Kadus selalu mengedipkan mata dan memelet setiap semua lelaki di kelompok itu. Bahkan yang perempuan juga tidak mau kesana karena cukup risih dengan gaya Bu Kadus. Hingga sebuah keputusan datang dari bibir Eko.

” Kalau kalian tidak mau. Ya sudah! Aku yang akan urus ini.” ucap Eko dengan tegas hingga ada yang bersukarela menemaninya.

” Eko, aku bantuin kamu, ya!”
Tyo bersedia mendampingi Eko meminta izin ke Pak Kadus. Akhirnya, Eko dan Tyo berangkat menuju rumah Pak Kadus. Dan yang tidak ingin diharapkan terjadi. Bu Kadus menyambut mereka.

” Ternyata Mas-mas KKN. Silaken masuk!”

Eko dan Tyo masuk ke rumah Pak Kadus. 1 menit berlalu, teh manis hangat menyambut mereka. dan ini menjadi sarana mengutarakan maksud kedatangan untuk izin KKN. Saat mereka memberi penjelasan, Bu Kadus pindah posisi duduk di sebelah Tyo.

” Oh, Gitu! Nanti saya beritahu suami saya. Tapi tidak apa-apa kan, kalau kalian duduk-duduk disini dulu. Sekalian jadi teman rasanan. Saya lagi kesepian di rumah.”

Tiba-tiba, Bu Kadus memegang paha Tyo. Kondisi ini dimanfaatkan untuk memegang area privasi tubuhnya. Tyo langsung memegang tangan Bu Kadus dan memindahkan ke pahanya.

” Maaf, Bu. Nanti malam, teman-teman saya akan kesini. Sekalian minta izin. Saya sama teman saya mau pamitan dulu, ya bu!” ucap Tyo setelah beranjak dari duduknya.

” Oh, Iya! Nanti malam ada acara selamatan. Kalian bisa datang kan?”

” Bisa, bu!” jawab Eko semangat.

” Nanti saya tunggu, lho!” ucap Bu Kadus sembari memeragakan gaya kecupan pada mulutnya dan gaya meletnya.

***

” Hahaha…………. Kalian digoda sama Bu Kadus!” tanya Angga sembari menertawakan Eko dan Tyo hingga anggukan menjawabnya.

” Tandanya, Bu Kadus kagum sama ketampanan Tyo dan Eko, tuh!” tanggap Dimas mencandai Tyo dan Eko.

Devi yang mulai khawatir dengan situasi ini pun ikut berkomentar.

” Waduh! Berarti dusun ini agak berbahaya juga, rek!”

” Bahaya gimana, mbak?” tanya Gista penasaran.

” Bayangkan saja! Eko dan Tyo digoda Bu Kadus. Pak Ratmo dan istrinya seperti itu. Anehnya, kok dusun ini bisa dipilih menjadi sentra susu sapi, ya? Apalagi, kelakuan warga di dusun ini tidak senormal masyarakat pada umumnya.” keluh Devi lugas.

” Teman-teman, kayaknya ada yang tidak beres di dusun ini. Tinggal keputusannya Kormanit. Gimana hadapi hal ini!” tanggap Arin semangat.

” Iya. jangan sampai KKN kita berantakan gara-gara berurusan dengan kelakuan aneh warga sini.” jelas Apri mendukung statement Arin hingga meminta tanggapan yang lainnya. ” Bagaimana dengan teman-teman?”

Di dalam rumah pondokan yang terasa luas dan hening, mereka mulai mencari ide dan solusi.

” Teman-teman. Piye kalau tugas KKN ini dikerjakan perempuan saja?” cetus Novi dengan suara pelan.

” Setuju!” ucap Harum, Ranti, Rahmi, Asmi dan Dillah.

” Sebentar, kalau yang kerjakan tugas KKN ini yang perempuan, lalu yang laki-laki kerjakan apa?” tanya Devi dengan nada tidak setuju.

” Tenang, kami bisa kerjakan kerjaan yang seharusnya dikerjakan perempuan. Gimana teman-teman?” tanya Tyo semangat.

” Sepertinya agak aneh saja. Ini kan kerjaan bersama. Lagipula, aku yakin kalau warga di dusun ini tidak seperti yang mbak Devi pikirkan, kok!” ucap Dimas menenangkan situasi.

” Iya! Jangan sampai ada kesan tidak adil dalam pembagian tugas!” jelas Ivan mendukung pernyataan Dimas.

” Tapi yang dikatakan mbak Devi ada benarnya, lho! Mendingan kita ikuti saran mbak Novi. Lagipula, aku lihat, warga pria di dusun ini tidak berpikir aneh-aneh saat melihat wanita berjilbab. Justru, warga wanitanya mulai berpikir jorok saat melihat cowok-cowok keren ini!” jelas Kevin hingga tawa menyambut ucapannya.

” Ada-ada saja, Kevin! Masak, kita dibilang cowok-cowok keren!” tanggap Eko dengan penuh ragu.

” Bagus, lho. Tandanya Kevin mengakui ketampanan kita. Bukan begitu, kan Dylan?” tanya Rico mendukung Kevin.

” Iya. Kita, kan terlihat tampan and ganteng. Thank You, Kevin!” tanggap Dylan semangat meski masih terdengar logat American-nya.

” You’re welcome, Dylan!” jawab Kevin dengan nada mengejek.

Devi langsung memotong pembicaraan yang melenceng tersebut.

” Sudah-sudah! Kita kan lagi bicarakan tentang KKN. Jangan bicara masalah lain, lah!”

” OK, Bu guru!” ucap Angga menyindir Devi.

” Jadi, bagaimana pendapat teman-teman?” tanya Tyo menanyakan pendapat mereka.

Waktu memberi kesempatan mereka berpikir dan mencari solusi hingga tidak butuh waktu lama, mereka setuju dengan pendapat Novi tersebut.

” Teman-teman, waktu kita hanya 2 minggu disini. Jadi manfaatkan semaksimal mungkin!”

” Baik, Nyonya!” ucap cowok-cowok keren, istilah yang diperkenalkan Kevin ini dengan semangat hingga Devi cemberut malas.

***

Hari kedua, para cewek ini berangkat ke peternakan untuk mengecek kondisi lapangan. Saat mereka pergi, para cowok keren ini berada di dalam rumah. Suasana setelah perkenalan saat acara selamatan di rumah salah satu warga ini membuat mereka bersemangat dalam memenuhi tugas yang diberikan.

” Sepertinya bosan juga kalau kita di pondokan!” keluh Kevin sembari berbaring di dadanya Eko.

” Memangnya, kamu mau apa, sayang?” tanya Eko santai.

” Aku mau ciuman dari kamu!”

” O…Yo wes, tak kecup lambemu, yo!” ucap Eko hingga ia mengecup bibir Kevin dengan penuh rangsangan.

” Cie…Cie….! Co Cuwiiitt……….! Pasangan yang baru nikah ndak sabaran pengen ciuman!” canda Tyo sembari menggayakan ekspresi seperti berhadapan dengan anak kecil.

” Iya, nih! Mentang-mentang yang sudah nikah!” tanggap Angga sependapat dengan Tyo hingga ia memberikan usul yang sangat aneh. ” Teman-teman, bagaimana kalau kita telanjang di ruangan ini!”

Semua terkejut dengan ucapannya. Dimas pun menanggapinya. ” Mas! Kita kan bukan di klub malam. Bagaimana nanti kalau ada yang lihat?”

” Iya, Sayang! Kamu jangan buat ide yang aneh-aneh, lah!” ucap Rico sependapat dengan Dimas.

” Tidak aneh! Kalian lihat, gimana anehnya Pak Ratmo sama istrinya. Masak mereka tidak sadar kalau hanya memakai pakaian dalam saja.” jelas Angga meyakinkan.

” Iya. Di tempat tinggal saya, orang tanpa baju adalah hal sangat umum. Di pantai saja ada festivalnya!” ucap Dylan mendukung Angga.

” Kalau begitu, kenapa kita tidak coba ikut aneh seperti warga sini?”

Ucapan Ivan membuat mereka yakin. Perlahan, mereka menanggalkan pakaian mereka. Saat mereka bersiap untuk berpesta orgy, ternyata Bu Ratmo melihat mereka. Namun kali ini, Bu Ratmo memakai daster.

” Mas Angga kenapa tidak memakai baju? Apa ndak dingin?” tanya Bu Ratmo dengan penasaran.

” Mboten, Bu! Kita kan hidup di zaman modern. Jadi hal ini adalah kebiasaan kami!” jelas Angga hingga membuat Bu Ratmo yakin dan percaya kebohongan itu.

” Jadi kalau kita tidak memakai baju, kita akan jadi wong modern, mas?”

” Inggih, bu! Tapi kita lakukan ini saat tidak ada pacar atau istri. Kalau mereka melihat, nanti tidak enak, lho!” ucap Angga dengan yakin.

Tiba-tiba, Bu Ratmo melepas daster, celana dalam dan bra hingga ia tidak mengenakan apa-apa. ” Apa saya sudah jadi wong modern, mas?”

Tyo yang memiliki ide jahil lalu membuat pernyataan meyakinkan.

” Iya, Bu! Apalagi kalau punyanya Mas Angga dimasukan ke tubuh ibu!”

Semua terkejut hingga Dimas mendelik kesal pada Tyo. Namun bukan Angga namanya kalau tidak membuat kehebohan berlapis. ” Yang dikatakan Tyo benar, Bu! Nanti saya bantu!” ucap Angga hingga membuat Bu Ratmo percaya begitu saja.

Angga lalu membawa Bu Ratmo ke tikar. Perlahan, kemaluan Angga masuk ke mulut rahim Bu Ratmo yang mulai kendor karena faktor usia. Bu Ratmo merasa terangsang saat melihat tubuh Angga yang cukup kekar. Saat yang lain hanya melihat saja, Dimas mendadak menarik Tyo menuju kamar dan mendorong Tyo ke kasur di kamar tidur.

” Nopo koe hasutno Mas Angga? Kan bahaya, tahu!” ucap Dimas dengan nada marah.

” Sorry, Dim! Aku kan hanya bercanda.”

” Bercanda! Kalau nanti ketahuan Pak Ratmo, Piye?” bentak Dimas pada Tyo.

Tyo hanya terdiam hingga air mata menetes. Dimas yang kasihan pada Tyo lalu berbaring di atas tubuhnya lalu mengecup bibirnya hingga Dimas mengucapkan kata penyesalan.

” Maafkan aku, Tyo. Aku memang kesal dengan ucapanmu. Tapi kamu harus tahu kalau kita bukan di klub malam yang bebas menikmati tubuh siapa saja. Aku tidak mau, kita berurusan dengan warga di dusun ini. Jadi, kamu harus hati-hati dengan ucapanmu!”

Anggukan Tyo menjadi pembuka atraksi hubungan yang mereka lakukan. Dimas langsung mengecup bibir, leher hingga kemaluan Tyo. 10 menit berlalu, Dimas memasukan kemaluannya ke mulut Tyo hingga puas. Saat berada dalam puncak, Ivan memanggil mereka.

” Hei! Kalian ndak mau menikmati kesempatan ini?”

” Ndak! Kalian saja yang lakukan itu. Aku dan Tyo lagi sibuk, nih!” ucap Dimas semangat.

Ivan lalu meninggalkan mereka. Disaat mereka menikmati Bu Ratmo, Tyo dan Dimas menikmati keindahan yang mereka ciptakan sendiri. Bagaimanapun, kasih sayang tidak akan meluruhkan rasa meski ada pilihan lain yang lebih baik. Setidaknya, jangan seperti burung merpati yang tidak didapat, burung punai pun dilepaskan.

***

” Selamat pendadaran, Tyo!”

Ucapan teman-teman 167 disertai guyuran air dan tepukan telur dan terigu menjadi pembuka keakraban yang tidak diragukan. Mereka tahu kalau Tyo berhasil menyelesaikan seminar hasil penelitian hingga Bu Ratna dan Bu Anis memutuskan untuk mengadakan ujian pendadaran. Novi, Harum, Ranti, Rahmi, Asmi, Angga, Devi, Apri, Arin, Dillah, Ivan, Gista, Rico, Dimas, Eko, Kevin dan Dylan memberi ucapan selamat pada Tyo.

” Tyo, selamat pendadaran, ya! Semoga kamu berhasil!” ucap Dimas sembari

” Selamat, Tyo. Semoga kamu sukses!” ucap Gista menyemangati Tyo.

***

Hari ketiga, Tyo mengalami demam. Teman-temannya yang telah membuat Tyo demam lalu membantunya memberi air dingin. Untungnya, Tyo cepat pulih. Saat ia tidur, Dimas mendekapnya. Memberi kehangatan yang ia rasakan.

” Sayang. Maafkan kami, ya! Gara-gara kejahilan kami, kamu jadi sakit!”

” Makanya, kalau jahil lihat-lihat dulu, dong!” ucap Tyo sembari mencubit hidung Dimas yang kokoh bagaikan tiang Monas.
Dimas lalu mengecup bibir Tyo dengan cantik. Memberi kehangatan yang dirasakannya. Lamunan tidur membuai mereka dalam kasih abadi hingga tiada akhir.

***

Hari keempat, 167 jalan-jalan keliling dusun. Mereka takjub ketika mengetahui kalau disana ada air terjun. Meski tidak sebesar Maribaya atau Coban Rondo sekaligus berada di dalam hutan yang rimbun, namun air yang mengalir itu terasa jernih dan indah. Mereka menikmati air terjun itu dengan nyaman. Canda tawa mewarnai kegembiraan mereka disaat menikmati air terjun itu.

Malam hari, Dimas membangunkan Tyo dengan pelan. ” Sayang, bangun! Aku mau tunjukan sesuatu!”

Tyo bangun meski dengan suasana kantuk yang mendera. Dimas lalu membawa Tyo keluar pondokan menuju sisi kanan kandang sapi milik Pak Ratmo.

” Ada apa, Dim? Kenapa kamu bawa aku kesini?”

Tiba-tiba, Dimas melucuti pakaiannya lalu memberitahu Tyo. ” Tyo. Aku ingin kita bisa bebas telanjang tanpa ada norma yang menghalangi kita.”

Tyo terkejut hingga memberi sanggahan. ” Tapi bukan berarti kita harus menuruti kebebasan seperti itu, kan. Kita bukan di klub malam, seperti ucapan yang selalu kamu bawa itu!”

” Bukannya kamu sendiri menyanggah itu. Jadi tidak salah kalau aku lakukan ini!”

” Nanti kalau ada yang melihat kita, bagaimana?” tanya Tyo dengan cemas.

” Jangan takut! Aku akan menutup tubuhmu dengan tubuhku. Kapanpun, aku akan selalu ada di sisimu, sayang!” ucap Dimas sembari menyentuh paras Tyo.

Akhirnya, Tyo melepas pakaiannya. Dimas langsung mendekapnya dengan hangat. 5 menit berlalu, Dimas membawa Tyo menyusuri dusun tanpa sehelai benang yang menutupi mereka sambil membawa plastik berisi pakaian mereka. Hingga mereka akhirnya sampai di air terjun yang mereka kunjungi.

Dimas dan Tyo bermain air dengan puas. Dalam guyuran air terjun yang terasa dingin melebihi Danau Baykal, Dimas merajut kasih dan rasa yang selalu mereka untai. Kecupan dan dekapan tidak mereka tinggalkan meski dalam keadaan tanpa sehelai benang. Canda dan tawa mewarnai petualangan rasa yang selalu mereka adakan.

***

Hari kelima, seisi pondokan geger karena Dimas dan Tyo menghilang. Bagai mendengar gemuruh Merapi dengan kencang. Asumsi berterbangan layaknya burung merpati.

” Jangan-jangan Tyo dan Dimas digondol sesuatu, nih!” ucap Angga dengan cemas.

” Jangan bicara yang tidak-tidak, ah!” sanggah Devi menenangkan situasi meski ia tetap panik.

Di tempat lain, di semak-semak dekat air terjun, Dimas mendekap Tyo meski dalam keadaan tanpa sehelai benang. Suara ayam berkokok membangunkan petualangan rasa mereka.

” Sayang, ini sudah pagi. Ayo bangun!” ucap Dimas dengan nada halus meski dengan berbisik.

Tyo terbangun. Dalam dekapan Dimas di atas dadanya, dia melepas rasa kantuk.

” Sayangku yang berbadan kekar dan berwajah tampan ini sudah bangun duluan!”

Tiba-tiba, Dimas mendelikan matanya menuju air terjun. Dengan sigap, Tyo dan Dimas berenang di air terjun lagi. Dalam derasnya aliran air terjun, mereka merajut kasih kedua kalinya. 30 menit berlalu, Dimas mengulum kemaluannya Tyo hingga ia terangsang. 10 menit setelahnya, Dimas memasukan kemaluannya ke Tyo hingga rangsangan itu terjadi. Sebuah kenikmatan yang sangat indah.

.****

” Kalian dari mana? Kami cari-cari kalian, lo!” tanya Devi dengan panik.

” Aku dan Dimas juga bingung! Kenapa kita ada di air terjun?” jelas Tyo dengan wajah polosnya.

” Kalian dari air terjun?” tanya Angga penasaran.

” Iya! Padahal tadi malam aku dan Tyo tidur di kamar. Lalu mengapa saat bangun, kita ada di air terjun. Kalian ndak usil padaku dan Tyo kan?” jelas Dimas hingga pura-pura menelisik.

” Tidak! Kami juga tahu batas-batas bercanda. Tapi ndak sampai usil seperti itu!” jelas Angga meyakinkan.

” Aku juga ndak lakukan itu! Teman-teman ada yang usil seperti ini, ndak?” jelas Kevin lalu bertanya detail pada teman-teman lainnya hingga jawaban tidak menjadi koor seirama.
Sandiwara yang sempurna……………………

***

” Beneran! Aku, Eko dan yang lainnya ndak ada niat usil ke kalian, kok!”

Pernyataan Angga ini semakin membuat 167 percaya kalau ia tidak melakukannya. Akhirnya, mereka percaya dengan lancar meski masih mengundang satu pertanyaan besar, bagaimana Dimas dan Tyo bisa pindah ke tempat lain.

1 jam berlalu, para cewek cantik ini menuju tempat peternakan sapi perah untuk sosialisasi pembuatan susu berperisa. Para cowok keren ini berada di rumah. Mereka selalu mandi bersama setiap para cewek tidak ada di rumah.

30 menit berlalu, mereka bersantai seperti biasa. Tyo memilih bersantai di teras pondokan sembari mendengarkan musik. Tiba-tiba, Dylan datang menghampiri Tyo.

” Hei, kenapa kamu sendirian saja?” tanya Dylan dengan nada polos.

” Aku lagi dengarkan lagu. Judulnya Cinta Pertama dan Terakhir. Dinyanyikan Sherina.” jawab Tyo dengan logat American-nya.

” Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu menghinaku ya?”

Pertanyaan Dylan dengan nada kesal ini membuat Tyo semakin senang mencandainya dengan gaya bicara tersebut. ” Tidak! Aku hanya tertarik dengan gaya bicaramu.”

” Tapi aku tidak senang bila ada yang berbicara seperti itu.” ucap Dylan dengan nada jengkel hingga ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit marah.

Tyo langsung menetralkan situasi mengingat Dylan sangat mudah marah bila ada yang menghina bangsanya. Diakui olehnya, orang yang menghina dirinya memiliki risiko kesalahan relatif kecil dibandingkan yang menghina orang tuanya dan bangsanya.

” OK! Aku minta maaf. Lagipula, aku salah membuat bahan candaan!”

” Makanya, jangan buat becanda itu. Nanti ada yang marah sekali! Dan kamu akan dihajar orang-orang dari bangsaku!”

” Ciyus!” ucap Tyo dengan mendelikan mata ke Dylan.

” Miapah!” ucap Dylan dengan logat American-nya disertai mengarahkan telunjuk tangan kanan ke Tyo.
” Cie…….yang lagi berduaan. Dim, Tyo selingkuh, tuh!” ucap Angga pada Dimas yang sedang duduk di dekat jendela hingga Dimas beranjak dan ikut menanggapi Angga.

” Ternyata pacarku digoda oleh bule kampung yang sok Indonesia iki, yo!”

Bule kampung adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut seorang warga negara dari negara-negara barat yang meniru tradisi dan kebiasaan masyarakat asli Indonesia. Di beberapa kota-kota besar, istilah itu merupakan frase peyoratif atau frase yang bermakna merendahkan.

Bagi bule yang baru pertama kali ke Indonesia, istilah ini membuat mereka marah, namun akan terbiasa ketika mereka menyukai budaya di negara yang dilalui garis khatulistiwa ini.

” Hei! Aku tidak sok Indonesia. I really love this country. No nation have more 700 ethnics, except Indonesia. I proud this speciality.”

Pernyataan Dylan menjadi sebuah petunjuk kalau ia sangat senang dengan Indonesia. Bahkan saat Dimas menanyakan kepastiannya, Dylan menjawabnya dengan yakin hingga ia mulai bercerita tentang bagaimana kekagumannya terhadap Indonesia ia wujudkan. Ibunya adalah staf penerjemah di kantor konsulat Jenderal RI di New York.

Selain itu, dia sering diajak ke kantor ibunya bila saat liburan musim panas atau liburan sekolah. Dia dititipkan di ruang perpustakaan. Di tempat itulah, Dylan banyak membaca buku-buku tentang Indonesia meski dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat Angga, Dimas dan Tyo kagum. Tidak banyak orang bule yang kagum dengan negara ini.

Saat Dylan bersandar di dinding teras, Dimas mendadak menyandarkan kepalanya di dadanya Dylan. Seperti perempuan penggoda, ia mulai mengutarakan isi hatinya.

” Dylan, makin lama tubuhmu membuatku horny, rek!”

Dylan yang mulai risih perlahan bergeser ke kiri sembari berkata. ” Hei, buddy! Jangan kamu goda aku. Apa Tyo tidak marah?”

” Aku tidak cemburu, buddy! Dim, kamu bisa nikmati Dylan sepuasnya!” ucap Tyo menyetujui tindakan Dimas.

” OK, Sayang! Aku mau tahu, apa dia bisa menggairahkanku?”

Dimas langsung merobek A-shirt Dylan hingga terlepas. Dylan yang kesal lalu ikut merobek A-shirt hitam-nya Dimas hingga terlepas. Dalam posisi bersimpuh, Dylan meraba dada dan kemaluannya hingga ia menjalarkan sentuhan menuju paha Dimas. Ia lalu melepas celana pendek dan celana dalam Dimas.

Selain itu, ia melepas celana pendek dan celana dalam yang ia pakai. Dylan yang memiliki bentuk tubuh serupa Aji dengan kemaluan yang lebih panjang dan besar mulai membius Dimas.

” Dylan, Ivan kemana?” tanya Dimas dengan sedikit perasaan khawatir bila Dylan menikmati tubuh Dimas.

” Ivan lagi foursome sama Kevin, Eko dan Rico.” jawab Angga membantu Dylan.

Dylan mulai mengecup bibir Dimas yang mulai meraba dada dan punggungnya. 2 menit berlalu, Dylan menusukan kemaluannya ke lubang anus Dimas. Erangan dan penampilan tungkai kaki Dimas yang mulus dan putih laksana tiang penyangga Museum Senirupa dan Keramik membuat Dylan semakin terangsang.

15 menit berlalu, Dylan mengulum kemaluan Dimas dan sesekali menggigitnya hingga Dimas sedikit kesakitan. Angga dan Tyo hanya bisa meraba kemaluan mereka hingga mereka melepas pakaian. Angga lalu melakukan hal yang serupa dengan Dylan dan Dimas kepada Tyo.

Saat mereka dalam puncak kenikmatan, seorang remaja wanita melihat aksi mereka yang seharusnya dilakukan di ruangan tertutup. Angga, Tyo, Dimas dan Dylan yang mengetahuinya langsung mengakhiri kegiatan itu dan menutup kemaluan mereka. Ruang teras menjadi sebuah arena permainan roller coster yang sangat menegangkan.

” Mas KKN, kalian sedang apa?”

Pertanyaan wanita itu membuat mereka berempat bingung menjawabnya hingga Angga menjawab pertanyaan tersebut.

” Kami sedang lakukan senam. Namanya senam La Gioconda.”

Perempuan itu semakin penasaran.

” Nopo senam’e rodo aneh, mas?”

” Ah, mungkin perasaan kamu saja, dek!” ucap Dimas meyakinkan Angga.

Perempuan itu perlahan merasa yakin dengan jawaban Angga hingga ia meminta sesuatu. ” Mas, apa saya boleh ikut bermain itu?”

Mereka terkejut. Tidak akan menyangka kalau wanita itu mau melakukan hal yang sangat tabu seperti itu. Namun lagi-lagi, Angga membuat hal yang akan sangat berbahaya hingga yang lain berkomentar.

” Mas, jangan lakukan itu, deh. Bahaya, tahu!”

Angga yang sudah dilarang pun tetap melakukannya. Akhirnya, Angga menarik wanita itu ke teras, melucuti pakaian wanita itu lalu memasukan kemaluannya ke lubang rahim wanita itu. Umumnya, setiap wanita akan memberontak bila ia disetubuhi lelaki yang bukan atau belum menjadi suaminya.

Namun perempuan ini merasa puas dengan yang Angga lakukan. Setelah Angga menyetubuhinya, perempuan itu beranjak menuju Tyo hingga wanita itu berhasil menyetubuhi pria yang menjadi kekasih Dimas. Tyo yang awalnya menolak lalu menerima perlakuan itu.

Perempuan itu merasa puas dan senang saat Tyo memasukan kemaluannya ke lubang rahim wanita itu. setelahnya, Dimas dan Dylan disetubuhi wanita itu. Bila dilihat dari fisiknya, wanita ini masih terlihat seperti anak SMA, namun ia sangat berpikiran layaknya orang dewasa.

Mereka berempat pun masih membubuhi tanda tanya di pikiran mereka. Setidaknya, buaya akan menyergap mangsa saat mereka lengah, namun mangsa ini seperti rela disergap buaya.

***

Sejak peristiwa itu, banyak wanita-wanita warga dusun itu yang ingin disetubuhi anak-anak cowok KKN 167 itu. Dari remaja hingga manula. Bahkan Bu Kadus ikut dalam bagian itu. Dari semua wanita yang disetubuhi, mereka lebih senang melakukannya dengan anak-anak SMP dan SMA.

Mereka terlalu ranum untuk dinikmati namun sangat menawan. Bahkan, Dimas ikut-ikutan freak seperti Angga dalam urusan di bawah perut. Sebuah peristiwa yang sangat tragis. Namun, mereka tidak pernah merasa marah dan emosi. Setidaknya, biarlah kupu-kupu menikmati saripatinya hingga bunga itu layu.

Bersambung