Yang Pertama Dan Terakhir Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 12

Juna. Hari ini ada kegiatan, ndak? Kalau tidak, aku mau ketemu kamu di gedung rektorat kampusku? Aku tunggu, ya!

SMS Tyo semakin membuat Juna bersemangat untuk bertemu dengan teman baru. Ia menuju kampus Tyo dan menunggu di tempat yang ditentukan. 30 menit berlalu, Dimas datang menemuinya.

” Kamu yang namanya Juna?”

Anggukan Tyo membuka perkenalannya. Ia tidak sangka, sahabatnya Tyo memiliki bentuk tubuh yang sangat rupawan layaknya binaraga. Dimas lalu membawa Juna menuju sebuah tempat yang tidak dikenalnya. Juna lalu diminta menunggu di toilet pria.

” Dim, Tyo mana?”

Dimas hanya diam. Tidak memberitahu keberadaannya. Seperti menyembunyikan barang curian di kamar tidur. Tiba-tiba, Aji, Angga dan Ivan masuk ke tempat itu lalu memegang Juna. Juna yang tidak mengetahui adanya jebakan yang menghampiri dirinya membuat Dimas memberikan ancaman padanya.

” Kamu jauhi Tyo atau aku dan teman-temanku akan melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan padamu!”

Dimas lalu mengecup bibirnya Juna. Kecupan yang Dimas berikan sangat keras hingga ia kesakitan. Aji, Ivan dan Angga terus memegang tangan dan tubuh Juna. Tiba-tiba, Dimas melucuti celana dalamnya dan mengulum punyanya Juna dengan sangat nafsu.

Juna yang semakin kesakitan tidak dapat berdaya dengan perlakuan itu. Juna lalu dilucuti hingga ia tidak mengenakan apapun. Di toilet yang terlihat sepi, Dimas, Ivan, Angga dan Aji lalu menusukan dildo ke Juna lalu mereka masukan kemaluan kepadanya. Erangan mewarnai seisi toilet.

Juna tidak bisa melawan karena mereka memiliki postur yang sangat besar. 2 jam berlalu. Ia merintih kesakitan atas yang mereka lakukan. Tangisan pecah dan langsung mewarnai seisi ruangan yang digunakan untuk melepas lelah setelah latihan.

***

Liburan semester 4 telah menghampiri mereka. The Fitness menuju Bandung untuk melakukan PKL sekaligus memenuhi undangan The Dolphins. 8 jam mengarungi perjalanan demi menemukan sebuah petualangan rasa. Personil menginap di rumah Adit. Anggo, Kamal, Rino dan anggota lainnya sudah ada disana.

” The Dolphins, kita ada artis baru. Kasih semangatnya dong!”

Tepuk tangan dan siulan mewarnai kehadiran mereka hingga perkenalan tidak dapat terelakan.

Suasana semakin ramai ketika Adit menyelenggarakan pesta orgy dengan senang. Tentunya, The Fitness sangat semangat dengan melakukannya hingga mereka memulainya. Kenikmatan atas tubuh mereka berpadu dengan hasrat menyentuh rasa semakin membuat mereka menjadi liar.

Bahkan, Dimas, Rino, Kamal dan Tyo mengulangi sejarah yang mereka alami. Uniknya, Kamal semakin berani dan ekspresif dengan perbuatan yang sangat berbahaya ini. Meski begitu, kepuasan adalah harga yang cukup terbayarkan dengan cantik. Setidaknya untuk malam ini.

Malam semakin memekati Kota Bandung. Lampu diskotik semakin menambah suasana menjadi panas. The Fitness mulai mempertunjkan aksinya. Lagu yang dibawakan DJ Adit semakin menambah suasana semakin panas. Mereka lalu melepas handuknya dan menari bebas tanpa ada yang dikhawatirkan.

1 jam berlalu, semua pengunjung lalu melepas pakaian mereka dan menikmati pesta orgy hingga pejuh memendarkan aroma khasnya. Dan personil ikut menikmati pestanya.

Jam 5 pagi, personil masih terus melanjutkan orgy hingga siang. Mani membasahi tubuh mereka. Dildo mulai menunjukan jatidirinya. Tyo, Dimas dan Astrin menuju kamar mandi di kamarnya Adit. Di ruangan yang sangat luas itu, mereka bertiga masih melanjutkan pesta itu meski hanya threesome. Kepuasan terpancar dari rasa yang mereka miliki hingga tawa menjadi bukti yang memperkuat mereka.

***

Malam di Kota Bandung memberi hembusan angin yang sangat khas. Memberi semangat bagi personil The Fitness dan The Dolphins. Bahkan Angga, Dylan, Ivan dan Rico ikut semangat dalam menikmati suasana itu.

Suasana yang sangat bersahabat layaknya sebuah keluarga namun sangat memesona layaknya seorang wanita cantik yang menunggu kekasih. Angin seperti menyambut mereka dalam wangi yang sangat memesona. Bahkan, kupu-kupu kalah memesona dibandingkannya.

Tyo datang menghampiri Astrin yang duduk di balkon. Memandang hamparan bukit yang terpapar sinar matahari. Menikmati cireng saus padang yang ditemani segelas sirup jeruk. Tyo yang duduk di sebelahnya mulai membuka pembicaraan.

” Enak cirengnya?”

Pertanyaan candaan dan sindiran yang Tyo utarakan itu membuka respon melalui anggukannya. Astrin pun ikut membuka pertanyaan.

” Tyo. Sejak aku dan teman-teman eks KMFT bergabung dengan teman-teman eks IKMK, banyak pengalaman yang sudah memberi warna. Meski aku tahu kalau hal ini bertentangan dengan agama yang kuanut, namun kepuasan ini semakin memberiku keindahan yang tidak pernah aku dapatkan seumur hidupku. Bahkan, Daniel sudah memberiku banyak keindahan……..”

Astrin terdiam. Tyo yang mengetahui ekspresinya lalu mendekap Astrin dari belakang. Menenangkan hatinya yang bergemuruh seperti ombak Pantai Parangtritis.

” Trin, cerita saja tentang apa yang menjadi beban di hatimu! Aku akan membantumu.”

Astrin memandang Tyo dengan lelah. Dan permasalahan hatinya terbuka. Dalam sejarah hidupnya, Astrin adalah orang yang dijadikan sebagai tumpuan harapan orang tuanya. Bahkan Ayahnya sering berharap agar Astrin menjadi orang yang sangat aktif di organisasi keagamaan seperti ayahnya.

Namun, cita-cita tentunya tidak boleh dipaksa bila itu tidak sesuai dengan katahati anaknya. Keinginan ayahnya mungkin adalah sebuah harapan agar anaknya bisa berprestasi lebih baik. Namun, bagi Astrin, ia seperti berada di persimpangan jalan.

Sejak ia dibuang dari KMFT, lalu berlanjut dengan hubungannya dengan Daniel hingga pekerjaan sampingannya yang telah memberinya kesempatan untuk menikmati lebih dari 30 tubuh wanita paruh baya untuk ditanamkan benih-benih miliknya, Astrin telah mendapat kebahagiaan yang sangat indah.

Namun ketika ia teringat dengan harapan kedua orang tuanya, ia menemukan rasa bingung. Akankah, ia mulai ikut organisasi keagamaan kembali atau tetap menekuni aktivitas seperti biasa. Air mata terus membasahi wajah pria tampan yang terlihat sangat imut seperti anak berusia 12 tahun. Dekapan pun mendarat pada Astrin. Memberi bahasa kasih sayang ketika masalah menghujam keras.

Tyo mulai memberi pendapat padanya.

” Astrin. Semua orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, kita tahu bahwa orang-orang yang selama ini kamu anggap ideal pun ternyata memusuhi kamu. Kamu bisa lihat, Umar, Usman dan Ali telah menghinamu dan teman-teman yang lain. Kalau mereka baik sama kamu, mereka pastinya harus bisa menerima perbedaan itu. Aku sendiri tidak pernah membeda-bedakan pergaulan dengan yang lain. Mungkin, kamu harus ambil sikap sembari kubantu untuk memberi usul. Usulku sederhana, ikutilah apa yang ada dalam hatimu.”

Tyo lalu memegang wajah Astrin dengan halus. Memberi pesan agar ia tidak perlu bersedih atas segala kebimbangan yang menyertai hatinya. Tiba-tiba, Tyo mulai memberi pendapatnya.

” Astrin, kamu harus tahu. Personil The Fitness adalah anak-anak buangan. Buangan dari sebuah lingkungan yang sangat tidak bisa menerima sebuah perbedaan. Bila masyarakat mencampakan kita, kebebasan harus menjadi prinsip kita. Biarkan kita berbuat sesukanya saat bersama teman dan kelompok yang senasib dengan kita.

Namun bila berada di lingkungan mereka, kita harus rahasiakan urusan hidup kita. Orang tua kita pun selama ini selalu memberi arahan tentang apa yang terbaik untuk kita namun tidak ada penjelasan atas apa yang akan kita dapakan dari mereka.

Jujur, Aku mencintai Dimas, kamu mencintai Daniel. Tapi bila kita coming out, kecaman dan hujatan bisa menjadi badai yang sangat membahayakan. Intinya, abaikan saja harapan orang tua yang selalu kita dapatkan. Lagipula, mereka tidak akan pernah menerima kebebasan kita, kok!”

Astrin terkejut. Tidak ia sangka, Tyo yang sangat tenang dan halus dalam berbicara ternyata bisa sekeras itu. Dalam naungan kesedihan itu, Daniel dan Dimas yang menghampiri mereka ikut memberi dukungan.

” Yang dibilang Tyo itu benar, Trin! Aku, Dimas dan teman-teman yang lain sama seperti kamu. Sama-sama memiliki rasa yang hampir sama. Harapan orang tua selalu kita dapatkan. Namun mereka tidak pernah memahami apa yang kita inginkan.”

Astrin mulai menguntai tanya tentang apa yang mereka inginkan. Dimas pun membantu Daniel memberi jawaban.

” Astrin. Keinginan kita sangat sederhana. Kita ingin bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Kamu bisa menikah dengan Daniel. Aku bisa menikah dengan Tyo. Teman-teman lainnya pasti ingin hal yang sama. Biarkan cinta itu menguasai kita. Abaikan saja pendapat orang lain di luar kita. Kita punya kehidupan sendiri dan mereka harus mulai bisa menerimanya.”

Astrin mulai meneteskan air mata. Bangga dengan pendapat dan saran yang Dimas dan Daniel berikan. Ia sadar, sistem sosial yang terjadi tidak akan pernah bisa menerimanya untuk mewujudkan rasa yang ia miliki.

Orang tuanya adalah keledai yang sangat bodoh, itulah pandangan yang muncul dari pikirannya saat membayangkan keinginan tersebut meski ia menyadari bahwa ia harus menghormati orang tuanya. Idealisme Astrin telah terbentuk sempurna.

Tentunya, semua personil The Fitness sudah memiliki pandangan yang serupa. Mereka sepakat bila kebebasan untuk merasakan cinta dan kasih sayang dari pacar sejenis harus diperlakukan lebih utama dibandingkan mematuhi norma sosial yang sangat ortodoks dan tidak adil. Bagi mereka, dunia adalah surga kebebasan. Orang lain tidak boleh ikut campur.

” Astrin, Tyo, Dimas. Daripada kita masalahkan hal seperti ini. Bagaimana kalau kita foursome di kamar ini?”

Astrin, Tyo dan Dimas setuju. Daniel lalu merobek A-shirt putih yang Astrin kenakan. Tubuh kekar dan atletis yang Astrin miliki semakin membuai Daniel dengan cantik. Sepanjang hari itu, Astrin hanya mengenakan A-shirt dan celana dalam saja. Dimas langsung melucuti celana dalamnya.

Astrin sudah tidak merasa malu lagi karena ia sudah biasa melakukannya. Tyo, Dimas dan Daniel lalu melucuti pakaian mereka. Dalam keadaan telanjang, Tyo dan Dimas menuju ruang keluarga. Daniel dan Astrin menuju meja makan. Daniel langsung meminta Astrin untuk tidur di atas meja lalu ia mulai mengulum kemaluan Astrin.

Erangan Astrin semakin membuat suasana lebih panas namun menggoda. 15 menit kemudian, Daniel menusukan kemaluannya pada Astrin. Untuk menahan rasa sakit itu, Daniel mengecup bibir Astrin. Meja makan menjadi arena pertandingan seksual yang sangat indah. Di tempat lain, Dimas mengecup kaki dan tungkai kaki Tyo yang menjuntai indah seperti tiang Parthenon.

Dimas langsung mengulum kemaluannya Tyo. Sofa biru di rumah Adit semakin merangsang dirinya untuk menikmati tubuh pacarnya dengan sempurna. 20 menit berlalu, Dimas memasukan kemaluannya pada Tyo hingga ia mengecup bibirnya demi menahan erangan itu. Suasana rumah semakin merangsang mereka tatkala melihat foto telanjang Adit yang dipajang di dekat meja makan dan ruang keluarga. Sebuah keindahan tersaji cantik.

***

Dimas terlelap di sofa sambil mendekap Tyo yang kelelahan dengan tungkai kaki mereka yang menjuntai indah di pinggir sofa. Begitupula dengan Daniel yang terlelap sembari menyandarkan kepala Astrin di dadanya sekaligus ikut mendekap. Kenikmatan pun mulai tersaji indah. Sebuah mahakarya yang telah tercipta demi sebuah pesona kasih sayang yang mereka bentuk.

……………………………………………………………………..

Malam semakin cantik. Namun semakin panas karena Adit membawa 20 orang wanita untuk ikut bermain bersama personil The Fitness dan The Dolphins serta Angga, Ivan, Dylan dan Rico. Diantara mereka, terdapat Amelvi, Pamela Devita dan Novi Olivianti. Mereka seperti itik yang sedang birahi. Saat pesta dimulai, semua wanita mulai mencicipi lelaki yang akan mereka nikmati.

” Tyo, Dimas. Malam ini kita bermain sepuasnya, ya!” ucap Amelvi dengan nakal.

Perlahan, mereka melucuti A-shirt yang mereka kenakan. Lalu, celana pendek, bra dan tentunya, celana dalam. Payudara yang menjuntai dan lubang rahim yang terlihat kendor sudah membuai mereka. Saatnya pesta dimulai. Amel memilih Tyo untuk dinikmati.

Kemaluan Tyo yang terlihat pendek sangat membuat Amel sedikit terangsang. Namun saat Dimas memasukan kemaluannya, suasana semakin menegangkan. Amel sangat puas. Dimas dan Tyo ikut menikmati susu yang keluar dari payudara wanita ini. Kecupan dan erangan mewarnai seisi rumah itu.

30 menit berlalu, secara intim, Amel mengajak Tyo untuk menguntai hubungan lebih jauh. Dimas yang sudah memberi restu pada Tyo lalu dibawa ke kamar Adit. Disana, Tyo diperkosa dengan sangat jantan. Payudara dan mulut rahim Amel membuat Tyo semakin terangsang.

Namun, Amel jauh lebih agresif. Ia sangat ingin menikmati tubuh Tyo karena ia tertarik dengan wajahnya. Meski kalah tampan dibandingkan dengan yang lain, namun ia puas dengan pemandangan itu. Tyo yang masih menikmati payudaranya mulai senang dengan yang Amel berikan.

Di sisi lain, Dimas dihampiri Pami dan Novi. Mereka pun menawarkan diri untuk dinikmati. Dimas pun memenuhinya. Perlahan, Pami mengulum bibirnya, sedangkan Novi mengulum kemaluannya. 10 menit berlalu, Dimas mulai masukan kemaluannya pada mulut rahim Novi sembari mengulum payudaranya.

Pami langsung berpindah pada Astrin. Astrin yang tergoda dengan payudara wanita itu lalu mengulumnya lalu ia memasukan kemaluannya pada tubuh wanita itu. Semua personil telah menikmati kepuasan itu hingga semua sudut rumah menjadi ladang untuk menanam kepuasan seksual.

***

Semua personil tidur dengan cantik. Amel menyandarkan kepala Tyo di dadanya. Pami lakukan hal serupa pada Astrin dan Novi juga lakukan itu pada Dimas. Angga yang dikenal sebagai pria pemuas nafsu pun sudah lelah setelah menikmati 7 wanita.

Setidaknya, pisang susu telah mereka nikmati sebelum pesta hingga mereka mendapat menu yang sama di rumah Adit. Bagi Dimas, pesona itu sudah mulai ia rasakan dengan cantik tatkala dengan Juna. Namun, hati Juna terluka atas yang dilakukan olehnya. ia mulai menuai benih yang akan menghasilkan sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya.

***

Liburan semester 5 menghampiri Tyo. Segala jerih payah studinya sudah terbayarkan dengan mendapat nilai A di semua mata kuliah. Bahkan, Pak Doni selaku dosen pembimbing akademik sekaligus PKL memberi pujian yang sangat memukau atas PKL yang dilakukan.

Selain itu, dia semakin kagum dengan Dimas yang semakin memesona karena tubuhnya semakin kekar melebihi Pietro Boselli atau Vin Diesel. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa rasa akan abadi bila ketulusan mewarnai cinta yang disemai.

Kampus di siang hari menyerbak aroma daun jati dengan cantik. Disaat Tyo sedang mengetik naskah skripsi yang disiapkan, sebuah tepukan bahu mengguncang padanya.

” Eh, Gio! Ada apa nih?”

Gio langsung duduk menghadap Tyo dan memulai kisahnya. ” Gue dapet kesempatan KKN di Magelang.”

Gio bercerita kalau ia dapat tempat KKN di daerah Magelang, tepatnya di dusun Jatiharjo. Sekelompok dengan Zain, Daniel, Astrin, Eli, Safira, Ratu dan anak-anak jurusan Manajemen Pendidikan, Sastra Indonesia dan Ilmu Keolahragaan. Proyek yang harus ditugaskan adalah membangun pasar kecil di dusun tersebut.

Tyo berhasil memancing Gio untuk bercerita tentang pengalaman saat PKL, prestasi perkuliahannya, hubungan asmara dengan Zain dan rencana pernikahannya. Saat Gio dan Tyo asyik berbincang, sebuah dekapan datang kepada Gio.

” Hai sayang! Ternyata kamu selingkuh diam-diam sama Tyo, ya!” ucap Zain dengan ekspresi marah.

Gio dan Tyo terkejut. Disaat bersamaan, Dimas yang menghampiri mereka dan langsung duduk di sebelah Tyo mulai melontar pertanyaan atas apa yang ia dengar.

” Tyo, kamu ternyata nelikung aku!”

” Ih, aku sama Gio cuma ngobrol doang! Kenapa dicurigai sedang selingkuh?” bela Tyo dengan nada lirih.

Zain dan Dimas tertawa. Berhasil membuat Tyo panik. Tiba-tiba, Dimas mencubit hidung dan pipinya lalu langsung mengecup bibirnya. Tyo langsung mendorong Dimas. Tidak ia sangka, Dimas berani melakukan hal itu di tempat ramai.

” Dim, ini kan di kampus. Apa kamu ndak takut kalau kita ketahuan?” tanya Tyo dengan heran.

” Iya, Dim. Ini kan berbahaya!” jelas Gio mendukung.

Zain mulai membantu Dimas menjelaskan pada Tyo. ” Tyo, Gio, sekarang kan liburan semester 5. Dan aku yakin, kampus ini sepi meski ada orang yang hadir. Jadi kalian tidak perlu khawatir.”

Tiba-tiba, Zain langsung mengecup Gio yang masih tidak percaya dengan ucapannya. French kiss sajian Zain semakin membuat Gio terangsang. Dan Gio mulai memegang penis Zain yang terlihat membesar. Sadar bila mereka di tempat publik, Zain dan Gio menyudahi aksi mereka hingga Gio memukul pundak Tyo yang asyik berkecupan mesra dengan Dimas.

” Ada apa, Gi?” tanya Tyo yang masih kasmaran.

” Jangan terlarut perasaan! Nanti kalau ada yang ngeliat, gimana?” ucap Gio dengan rasa khawatir meski masih berada dalam dekapan Zain.

” Iya, ya! Gue juga takut kalau seisi kampus melihat aksi kita!” ucap Tyo dengan cemas.

Dimas mulai ikut berkomentar sembari menyunting kancing korsa yang ia kenakan.

” Benar juga yang dikatakan Tyo. Lebih baik kita lakukan di tempat lain.”

” Ah! Indak asyik nian!” keluh Zain dengan logat Minang yang ia kuasai.

Tiba-tiba, Zain melepas korsa dan kaus A-shirt hingga tubuh atletis menampakan pesonanya.

” Kalau aku dan Gio tidak bisa melakukan secara terbuka, maka aku tidak salah bila melakukan hal ini. Iya kan, sayang?”

Gio gelengkan kepala. Terseran atas apa yang Zain lakukan. Tiba-tiba Tyo menyindir Zain dengan santai.

” Wah, anak ikhwan ini semakin berani dan menggairahkan ya!”

Zain langsung menghela nafas dengan nada tinggi. Dimas dan Tyo langsung meninggalkan Gio dan Zain. Zain langsung membawa Gio ke pojok dinding lalu langsung mendekap Gio dan mengecup bibirnya yang selalu terlihat ranum seperti buah apel masak.

Bila Zain masih tetap menikmati bibir merah Gio sembari bertelanjang dada, Dimas jalan bersama Tyo sembari memberi saran.

” Tyo, kita bersetubuh di kamar mandi kampus yuk!”

Tyo terkejut. Ide gila Dimas itu disambut rasa heran.

” Kamu ini, ya! Bikin ide aneh-aneh deh! Sudahlah, jangan bikin ide aneh seperti itu!”

Dimas langsung menenangkan Tyo sembari memberi penjelasan.

” Kamu tidak perlu takut! Aku hanya membuat ide untuk meragamkan fantasi seksual kita.”

Tyo mulai berpikir. Dan ia setuju. Dimas lalu membawa Tyo ke kampusnya. Saat kampus tempat Dimas belajar sepi aktivitas akademik, Dimas tidak mengalami rasa khawatir. Ia membawa Tyo ke toilet. Saat di dalam ruang toilet, Dimas melucuti semua pakaiannya, lalu ikut melucuti pakaian yang Tyo pakai. Dimas langsung mendekap Tyo dengan hangat.

” Sayang, kamu akan selalu berada dalam dekapanku selamanya.”

Usapan tangan Dimas yang terasa hangat mulai membuai rasa yang ia miliki. Dimas langsung mengecup bibirnya, dadanya, perutnya hingga mengulum kemaluannya. 30 menit berlalu, Dimas lalu melumuri tubuhnya dan Tyo dengan sabun yang ia bawa. Kecupan ikut mewarnai setiap interaksi penuh pesona tersebut.

Tyo yang mulai merasa sange tersebut lalu menyetubuhi Dimas dengan mengulum kemaluannya dan menusuk kemaluan Tyo ke tubuh Dimas yang sangat kekar dan memesona itu. Suasana toilet mulai memilin rasa dan asmara yang terjalin dengan anggun. Dan kupu-kupu mulai menunjukan pesonanya.

***

” Dim, I love you ever after!”

” Me Too, honey! I love you since i found the heart. I have obsessed with your dick and i take it unlimitedly time.”

***

Semester 6 menunjukan jatidirinya. Membuka citarasa menuju ujung masa perkuliahan. Personil The Fitness bersyukur. Meski mereka sibuk dengan pekerjaan sampingan, namun mereka memiliki prestasi gemilang. Semuanya memiliki nilai IPK diatas 3,80. Disamping itu, mereka selalu mendapat orderan setiap mereka pentas.

Dari bar ke bar, mereka memancarkan pesona kepada jutaan pasang mata yang menantikan. Remaja, dewasa, tua, laki-laki hingga perempuan mulai tertarik dengan penampilan mereka. Selain itu, mereka mendapat kesempatan untuk berfoto di majalah khusus dewasa meski diminta untuk foto tanpa busana.

Pada sesi foto tersebut, yang paling menarik ketika Dimas harus memeragakan oral dengan Astrin. Astrin yang masih belum bisa menghilangkan sifat sungkannya selalu membuat fotografer mengulang pengambilan gambar. Namun, dengan kepiawaian Daniel dan Dimas membujuknya, sesi itu berhasil.

Semua personil sudah mulai mempersiapkan pembuatan proposal skripsi. Tyo mengangkat tema tentang kajian jenis makanan di sekitar kos-kosannya yang dianalisis berdasarkan rasa dan tren penjualannya. Beruntung, dia mendapat dosen pembimbing dengan cepat. Bu Ratna didapuk menjadi dosen pembimbing utama, disusul Bu Anis sebagai dosen pembimbing pendamping.

Di tengah kesibukannya, ia bisa menyelesaikan proposal skripsi hingga selesai seminar proposal dalam waktu 30 hari ia pun langsung mendapatkan kesempatan untuk langsung melakukan penelitian. Karena objek penelitiannya berada di daerah di sekitar kos-kosannya, Tyo tidak banyak menemui kesulitan.

Di sisi lain, Dimas dan personil lainnya masih berkutat pada pembuatan proposal. Teman-teman Tyo sangat terharu ketika Tyo berhasil menyelesaikan seminar proposal dengan lancar. Ketika berada di rumah Kevin, Tyo mengutarakan sebuah permohonan pada para personil lainnya.

” Teman-teman, aku absen dulu dari pekerjaan ya! Aku mau fokus skripsi!”

Teman-temannya saling berpandangan satu sama lain. Tidak butuh waktu lama, mereka mau menerimanya.

” Tyo, semoga sukses skripsinya ya! Teman-teman menunggu penampilanmu di bar!” jelas Gio dengan semangat.

” Sayang. Apapun yang kamu lakukan, aku akan selalu mendukungmu.”

Ucapan Dimas tersebut membuat Aji melontarkan ide yang cukup liar.

” Karena Tyo akan absen lama. Bagaimana kalau kita menikmati tubuh Tyo? Kita perkosa dia dengan puas.”

Semua pasang mata menuju Dimas. Dimas yang awalnya keberatan setelah Tyo terus mengamati wajahnya dengan penuh harap, tiba-tiba memberi lampu hijau pada mereka. Semua pakaian yang dikenakan personil dilepaskan hingga semua personil telanjang dengan indah.

Satu persatu, semuanya memerkosa Tyo secara bertahap. Diawali Dimas dan diakhiri dengan Lucas. Mereka semua telah menikmati tubuh Tyo dengan cantik. Maninya mulai menyebar ke segala penjuru, termasuk ke tubuh mereka. Tiba-tiba, Astrin memerkosa Tyo untuk kedua kalinya.

Tyo langsung menyambut Astrin dengan dekapan hangat dan kecupan bibirnya. Astrin yang mulai sange lalu memasukan kemaluannya ke lubang anus Tyo yang sedang merekah. Pesona berjalan dengan cantik.

***

” Astrin, gue minta sama lo. Jangan terlalu bersikap sopan dengan orang lain. Mereka tidak akan pernah bisa menerima kita. Lo harus wild ! Mereka adalah orang yang tidak bisa menerima perbedaan. Biarlah kita mengambil apa yang menjadi kebaikan bagi kita.”

***

” Apa? Kalian sudah menikah!”

Ucapan Tyo tersebut membuat teman-temannya ikut terkejut. Tidak mereka sangka, Kevin dan Eko telah menikah di Swedia. Cincin pernikahan bersinar indah pada jari manis mereka. Memberi harapan baru atas hubungan mereka. Orang tua mereka sangat setuju atas yang mereka lakukan.

Astrin yang mempertanyakan kelangsungan kehidupan mereka pun mulai diberi tanggapan.

” Teman-teman. Meski masyarakat belum bisa menerima kami, rasa cinta tidak akan bisa dihalangi dengan cara apapun. Aku dan suamiku sudah memiliki rasa dengan indah.”

” Iya! aku juga sependapat denganmu. Kamu berhak bahagia. Dan orang lain tidak boleh mencampuri urusan kalian. Aku, Tyo dan teman-teman selalu berdoa semoga kalian bahagia.”

Harapan dan doa yang Astrin panjatkan semakin memekarkan harapan dan persahabatan yang selama ini terajut. Sebuah hubungan yang dilandasi kasih sayang akan membawa kebahagiaan meski bertentangan dengan anggapan umum.

Bukankah dunia ini memiliki sebuah kasih sayang yang sangat indah! Lalu mengapa mereka tidak bisa menerimanya. Itulah anggapan mereka. Seperti mawar yang merekah cantik. Ia akan memendarkan keindahan yang diharapkan namun tidak akan bertahan selamanya hingga bayangan keindahan akan selalu abadi.

***

Surya membuka tabir dengan cantik. Burung-burung membuka atraksi yang menjadi keseharian mereka. Langit memendarkan aura kehangatan dengan anggun. Perlahan, sinar memasuki kamar dengan diam-diam. Membangunkan Dimas yang sedang mendekap Tyo setelah bersetubuh semalaman. Memberi kenangan akan rasa yang masih tertancap kuat dalam sanubari mereka.

” Sayang, bangun yuk! Sudah pagi. Hari ini, kita mau ketemu teman-teman KKN di ruang rapat rektorat, kan?”

Tyo yang masih belum sepenuhnya sadar dan menyisakan aura tidur yang kuat lalu menanggapi ajakan Dimas.

” Iya, sayang! Aku juga mau mandi.”

” Ya sudah! Kita mandi yuk!”

Dimas lalu membantu Tyo bangun lalu menuju kamar mandi. Meski Tyo masih menyisakan rasa kantuk pada pikirannya, namun Dimas tetap membantunya membasuh tubuh kekasih yang sangat ia cintai ini. Tubuh Tyo yang terlihat putih bersih semakin bersinar ketika Dimas menyabuninya.

Tidak ketinggalan, Dimas ikut menyikatkan giginya. Saat Tyo masih berbalur sabun, Dimas menyabuni tubuh kekarnya lalu menggosok giginya. Setelah tubuh mereka berbalur sabun, Dimas menyiram tubuh Tyo dan dirinya dengan cantik. Tyo lalu membilas mulutnya dan Dimas ikut melakukan hal serupa.

Dimas dan Tyo keluar dari kamar mandi tanpa handuk. Memang, selama mereka tinggal bersama, mereka selalu keluar dari kamar mandi tanpa memakai handuk. Kadang-kadang, Dimas selalu iseng mendekap Tyo saat sedang memakai pakaian.

” Dimas, aku ndak bisa bayangkan bila kita memakai korsa tanpa memakai celana dalam terus memakai sepatu merah itu.”

” Mau coba!” tantang Dimas dengan nada nakalnya.

” Nanti saja. Malam nanti, kita nginap di rumahnya Kevin. Aku pikir, mau buat show seperti itu. Tapi, aku maunya kamu yang lakukan.”

” Ah! Aku ndak mau! Kecuali kalau kita lakukan bareng. Aku pakai korsaku, kamu pakai korsamu. Piye?”

Anggukan Tyo membuat Dimas senang. Dimas langsung mengecup bibir merah kekasih yang sangat ia cintai. Aroma pasta gigi membuai Dimas untuk mengecup dengan mesra. Menguntai rasa yang sangat ia nantikan. Dan tentunya, rasa itu akan semakin indah saat di tempat KKN.

***

Di gedung Rektorat, Tyo, Dimas, Eko, Kevin, Angga, Rico, Ivan dan Dylan satu kelompok dalam KKN semester ini bersama dengan Novi, Harum, Ranti, Rahmi, Asmi, Devi, Apri, Arin, Dillah dan Gista. Saat rapat pertama dengan Pak Parmin, dosen jurusan Teknik Tata Busana sekaligus dosen pembimbing KKN yang berlokasi di Dusun Balong ini, dilakukan pemilihan Kormanit, Kormater dan Kormasit.

Dan terpilihlah Eko sebagai Kormanit; lalu Apri dan Kevin sebagai Kormasit di bagian barat dan timur serta Gista, Dimas dan Tyo sebagai kormater untuk bidang Pendidikan, Sosio-Humaniora dan Sains-Teknik.

” Anak-anak, tema KKN ini tentang pembuatan makanan olahan dari bahan pangan yang ada di Dusun tempat kita KKN nanti. Mengingat kalian juga perlu mudik, maka saya putuskan untuk KKN selama 2 minggu saja. Untuk cara teknisnya, saya serahkan ke Eko sebagai Kormanit.”

Eko langsung berdiri dari tempat duduk lalu memaparkan garis besar rencana strategis yang akan dilakukan. Rencananya, Eko akan membuat produk olahan dari susu sapi dan susu kambing karena hasil olahan terbesar di daerah itu. Namun, Devi langsung memberikan saran dengan bahasa lugasnya.

” Bagaimana kalau kita membuat produk yang sudah ada lalu dikembangkan dari segi rasa. Kalau kita buat produk baru, belum tentu akan diterima pasar meski wujud nyatanya sudah ada. Atau buat produk yang sudah sangat terkenal namun tidak efisien dalam waktu, tenaga dan biaya. Misal kalau saran Eko adalah membuat olahan kerupuk susu, ini terlalu rumit dan risiko tidak lakunya akan besar. Atau saran Gista yang membuat keju, biaya produksinya akan sangat besar. Akan lebih baik kalau kita buat susu cair dengan meragamkan rasa, lebih efisien dan cepat.”

Tidak perlu menunggu waktu lama, semua anggota setuju dengan ide Devi tersebut. Dalam rapat itu, mulai dibahas strategi program, baik individu maupun kelompok dan dalam bentuk terintegrasi dengan program utama. Khusus Tyo, dia akan mengajarkan pembuatan makanan goreng berbahan sayuran. Setelah rapat, mereka menuju tempat KKN untuk menelisik lokasi.

Perlahan, motor menuju dusun yang dituju. Panorama Gunung Merapi masih menunjukan keindahannya di hamparan teriknya matahari. Tidak butuh waktu lama, mereka menuju rumah kepala dusun.

” Oh! Ini mas dan mbak yang nanti akan KKN di dusun kami, ya?” tanya Pak Kadus yang dikenal dengan nama Pak Paijo ini.

” Iya, pak. Kami rencananya akan KKN di dusun ini.”

” Walah! Ayo, mas dan mbak, silaken duduk!” sila Pak Kadus dengan ramah hingga seorang wanita lanjut usia datang menemui kelompok KKN 167, nama kelompok yang akan selalu disematkan setiap mereka KKN. Wanita itu lalu membuka ramah-tamahnya.

” Ini siapa, pak?”

Pak Paijo langsung memperkenalkan anggota 167 pada Bu Kadus hingga sebuah kata mengalir indah dari bibirnya.

” Pak, saya buatkan minum dulu, ya!.”

Dalam kesempatan itu, Eko bercerita tentang kegiatan kelompok 167 di dusun itu, termasuk program utama yang sudah disepakati. 10 menit berlalu dengan cantik, sajian teh ginasthel hangat dan se-toples lanthing menyambut anggota kelompok dengan ramah.

Perlahan, jamuan itu memanggil dengan cantik hingga mereka menikmatinya. Menjadi teman dalam perbincangan yang dilakukan Eko, Angga dan Devi dalam mewakili kelompok untuk meminta bantuan dan dukungan demi kesuksesan program KKN ini.

” Nanti, kalian bisa numpang tidur di rumah kosong di sebelah rumah Pak Indratmo. Itu bapaknya datang!”

Seorang pria paruh baya dengan membawa cangkul dan berlumur tanah datang menemui Pak Kadus disaat kelompok 167 sedang makan cemilan. Saat Tyo melihat penampilan bapak itu, dia terlihat tidak biasa. Penampilan tidak akan bisa menipu.

” Pak Ratmo, kenalkan ini anak-anak KKN yang akan membantu dusun kita mengembangkan produk susu dari peternakan kita.” ucap Pak Paijo sembari memperkenalkan dengan anak-anak KKN 167.

” Saya Pak Ratmo. Kalian bisa tinggal di rumah kosong yang ada di sebelah rumah saya.”

Eko langsung mengucapkan terima kasih pada Pak Ratmo. Saat kelompok 167 beranjak duduk, Tyo ingin bertanya pada Pak Paijo tentang penampilan Pak Ratmo yang menurutnya tidak biasa. Dia datang dengan hanya memakai celana dalam dan baju kaos sembari memanggul cangkul dan berlumuran tanah. Namun, saat akan bertanya, Dimas menarik tangannya.

” Pak, Saya sama Tyo mau ke belakang dulu, pak!”

” Iya! kamar mandinya ada di belakang.”

Dimas dan Tyo langsung masuk ke kamar mandi. Disana, Dimas membuka apa yang ada di pikiran Tyo.

” Kamu mau tanya tentang Pak Ratmo ke Pak Kadus, kan?” tanya Dimas hingga anggukan melanjutkan percakapan.

” Kamu jangan tanya seperti itu, lah! Kita ndak enak kalau tanya tentang kejelekan Pak Ratmo meski aku juga hampir tertawa melihat dia yang seperti itu.”

Tyo langsung mengecupnya hingga ia merasakan kehangatan yang sangat indah. ” Tenang, sayang! Aku berpikir untuk tidak bertanya tentang itu.”

” Bagus! Itu baru cowokku!” ucap Dimas sembari mengecup bibir Tyo yang merona indah. Tyo melanjutkan kecupan dengan nyaman di dalam kamar mandi. 5 menit berlalu, mereka kembali ke ruang tamu.

Halaman depan rumah Pak Kadus menjadi titik mula perpisahan dalam pertamuan sekaligus awal dari kegiatan KKN yang akan berlangsung setelah UAS nanti. Perlahan, perjalanan membawa anak-anak 167 menyusuri Jalan Kaliurang hingga menuju tempat kos masing-masing. Namun, Tyo tidak bersama Dimas, melainkan bersama Angga hingga ia mengantarkan Tyo ke kosannya.

” Mas, makasih atas tumpangannya, ya!”

” Sama-sama.” ucap Angga santai hingga ia bertanya tentang aktivitas Tyo. ” Katanya, kamu absen dulu dari kegiatan di bar, ya?”

” Iya. Kenapa, mas?” tanya Tyo penasaran.

” Ndak! Soalnya Dimas cerita ke aku tentang kesibukanmu.”

” Iya. Aku lagi fokus skripsi. Jadi aku ndak mau pikiranku terpecah. Saat ini juga, Dimas lagi nyusun proposal skripsi sekaligus sibuk kerja juga.”

Angga lalu meminta Tyo untuk ngobrol di kamar Tyo. Semua unek-unek Dimas pada Angga terungkap. Dimas ingin sekali cepat-cepat menikah dengan Tyo. Itu yang menjadi penyebab perilaku Dimas yang selalu terlihat serius dan jarang berkumpul dengan teman-temannya di kampus karena dia ingin selesai skripsi dan segera mewujudkan keinginannya. Namun, bukan hanya hal itu yang Angga ceritakan hingga terkejut membuka semuanya.

” Tyo, Aku sebenarnya ingin sekali berhubungan seksual dengan kalian. Entah sama kamu, Dimas atau anak-anak The Fitness. Tapi aku ndak enak sama Dimas dan yang lainnya…………..”

Tiba-tiba, suara tegas memberi kejutan pada Tyo dan Angga yang sedang duduk di tempat tidur. ” Kalau Mas Angga mau melakukan itu, nanti malam kita ke rumah Kevin!”

Ya! Dimas sudah ada di depan pintu lalu menuju tempat tidur untuk duduk. ” Sorry, Dim! Aku berduaan sama Mas Angga. Pasti kamu berpikir yang tidak-tidak, kan?”

” Tenang saja. Aku ndak gampang cemburuan, kok! Aku juga sudah tahu keinginan Mas Angga.” ucap Dimas dengan nada santai hingga membuat Tyo dan Angga bingung.

***

” Ayo, Tyo, Dimas. Buat kami terangsang. Goyangannya lebih hot, dong!
Seruan Zain membuat Tyo dan Dimas semakin semangat dalam menari.

Dengan memakai korsa angkatan, dan sepatu hak tinggi merah, Dimas dan Tyo menari dengan saling meraba kemaluan. Angga yang terlihat sange langsung memiahkan Tyo dan Dimas yang sedang mendekap. Angga lalu meminta Tyo dan Dimas mengecup bibirnya secara bersamaan. 5 menit berlalu, Angga langsung mengulum kemaluan Tyo dan Dimas.

Semua personil The Fitness yang mulai sange langsung bersetubuh dengan pasangan mereka, termasuk Kevin dan Eko yang sudah menikah. Malam itu menjadi pesta orgy yang sangat memuaskan. Bahkan, Astrin menjadi sasaran kenikmatan yang mereka incar selalu hingga semua orang yang ada dirumah itu memerkosa Astrin dengan penuh kenikmatan.

Namun, setelah mereka melakukan perbuatan hina itu, Dimas langsung menikmati Astrin bersama Daniel dengan semangat hingga puas. Sedangkan Angga menikmati Tyo dan Aji sekaligus. Malam yang sangat memuaskan dan indah.

Bersambung