Yang Pertama Dan Terakhir Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 11

Angga, Rico, Dylan, Ivan dan para personil The Fitness tiba di rumah Kevin. Di tempat yang menjadi tempat tinggal personil The Fitness ini, mereka melepas lelah setelah menyaksikan kontes yang sangat menarik. Saat mereka melepas lelah di kasur milik Aji yang berada di bekas ruang keluarga, Angga memberi usul yang sangat tidak lazim.

” Teman-teman. Kalian mau kerjaan, ndak?”

” Kerjaan apa?” tanya Dimas penasaran.

” Jadi penari striptease!”

Semuanya terkejut. Mereka lalu menolak tawaran itu. Namun bukan Angga namanya kalau gampang menyerah dalam membujuk sesuatu. Angga lalu menjelaskan kalau profesi ini sering mendapat bayaran yang sangat mahal. Bayarannya setara dengan pemain disc jockey/DJ dan bartender.

Apalagi kalau sering melayani pelanggan sebagai pemuas nafsu. Angga sering melayani om-om, tante-tante bahkan artis senior yang memakai jasanya ketika mereka berpesta di Jogja. Modalnya hanya bentuk tubuh atletis dan harus sering nge-gym. Mereka yang awalnya menolak lalu menerima usulan Angga. Perlahan, Amel menawari mereka sebuah permainan.

” Kalau kalian mau bekerja seperti itu, aku akan melatih kalian. Gimana?”

Amel lalu melatih mereka menari striptease. Pertama, Amel menari pole dance dengan batang bambu sebagai perantaranya. Dengan batang bambu yang dipegang Angga, Dimas dan Rico, Amel menari dengan sangat lincah meski ia menari tanpa memakai pakaian.

Uniknya, mereka takjub dengan cara menari Amel sekaligus kagum dengan tubuhnya. Para personil The Fitness yang terdiri dari Daniel, Fajri, Zain, Astrin, Gio, Tyo, Eko, Kevin, Damar, Pardi, Warno, Aji, Lukas, Defri, Hasan dan Dimas mulai melepas pakaian mereka hingga mereka telanjang.

Mereka bersama Angga, Rico, Dylan dan Ivan mulai melatih cara menari tersebut. Meski canggung, Amel selalu membantu mereka. Perlahan, mereka sedikit paham mengetahui gerakan tersebut.

Latihan berikutnya adalah bareback dance. Amel memeragakan dance dengan gerakan yang merangsang penonton untuk berfantasi. Ketika Amel menari sambil meraba tubuhnya, semua yang melihatnya terperanjat hingga milik mereka terasa tegang.

30 menit berlalu, Amel lalu mengajak Angga untuk menari dengan posisi seperti bersetubuh. Angga yang mulai terangsang lalu memasukan kemaluannya ke kemaluannya Amel hingga puas. 10 menit setelahnya, Amel lalu menawarkan pada yang lain.

” Siapa yang mau coba?”

Tidak ada yang berani melakukannya. Tiba-tiba, Angga menarik Tyo dan Dimas. Mereka yang awalnya menolak lalu dibujuk Amel. Kemaluan mereka mulai tegang. Tiba-tiba, Dimas mempersilahkan Tyo untuk memeragakannya duluan. Sedikit kecemasan membayangi paras Tyo. Namun godaan Amel mulai menghilangkannya.

” Kamu ndak usah takut! Anggap saja kenikmatan yang manis.”

Ingatan dan kenangan buruk Tyo yang pernah diperkosa pelacur pun tidak dapat hilang begitu saja. Satu sisi, ia trauma dengan peristiwa seperti itu. Namun di sisi lain, ia kagum dengan bentuk tubuh Amel yang sangat memesona. Meski ia kagum, namun ia tidak ingin menghianati Dimas.

” Tyo. Ayo kita mulai!”

Amel lalu mengecup bibirnya Tyo. Alunan lidah Amel bertautan dengan lidah Tyo hingga kecupan itu terasa manis. Perlahan, tangan Amel memegang kepala Tyo dan mengarahkan ke payudaranya. Tyo mulai menyedot susunya. Meski terasa tawar, namun semakin membuat Amel terangsang.

Dimas langsung ikut menyusu pada perempuan yang pernah menjadi teman SD-nya. 10 menit berlalu, Amel lalu membaringkan tubuh Tyo hingga ia memasukan kemaluannya pada tubuhnya. 10 menit yang paling indah, lalu berganti dengan Dimas yang memasukan kemaluannya pada tubuh sintalnya.

10 menit berlalu, para personil dan yang lainnya mulai menikmati Amel secara bergantian. Lubang rahim yang mulai kendor itu semakin memanaskan suasana di rumah itu. Saat mereka asyik menikmati Amel, Dimas membawa Tyo ke kamar Kevin. Ia menuju meja belajar lalu mengambil dildo.

” Dim, aku takut! Aku tidak ingin mengalaminya!”

” Tenang saja, Tyo! Aku akan menjagamu.”

Dimas masukan dildo perlahan-lahan setelah ia meregangkan pahanya Tyo. Erangan Tyo mewarnai seisi kamar. Dimas lalu melepas alat itu dan memasukan kemaluannya pada tubuhnya. Semakin keras erangan Tyo, semakin bersemangat bagi Dimas untuk menyetubuhinya.

Setelah itu, Dimas mengulum kemaluan Tyo. 30 menit berlalu, Tyo melakukan hal yang sama seperti yang Dimas lakukan. Erangan Dimas dan postur fisiknya semakin membuai Tyo secara cantik. Pesona itu akan terus mewarnai keindahan hubungan yang mereka rajut. Setidaknya angin menggantikan aura panas di tengah gurun pasir.

***

Jogja sudah menunjukan kelelahannya. Angkutan umum berhenti berdetak di luar jam operasional terakhir. Area parkir Porsche Cafe dan Bar Club semakin dipadati mobil dan motor. Mobil sport hingga mobil jadul serta motor gede hingga motor jadul mewarnai seisi jagad parkir bar yang menawarkan suasana liberty yang sangat indah.

The Fitness dan The Sport Toys, kelompok penghibur yang beranggotakan Angga, Ivan, Dylan, Rico, Jimmy, Sandy, Marvin, Febri, Dani dan Farel memasuki arena bar. Meski mereka belum melakukan pentas, mereka sempat berbincang-bincang dengan sesama personil. Perbincangan mereka memberi informasi yang tidak mereka sangka.

” Teman-teman, perkenalkan! Ini Jimmy, Sandy, Marvin, Febri, Dani dan Farel.”

Jimmy, Sandy dan Marvin adalah finalis Grand Final Milo Body Contess. Secara fisik, mereka lebih atletis dan kekar dibandingkan Angga, Rico, Dylan, Ivan, Dimas dan Aji. Secara paras, mereka lebih menawan dan unyu dibandingkan Tyo, Astrin dan Gio. Mereka berasal dari Bandung.

Mereka kuliah di universitas swasta agama ternama di Jogja, bertetangga dengan kampus anak-anak The Fitness. Jimmy dan Sandy sudah menikah di Belanda meski mereka tidak menyatakan tentang status mereka di data kependudukan dan data mahasiswa.

Namun mereka dengan berani menunjukan cincin pernikahan mereka. The Fitness cukup kagum meski tidak habis pikir dengan ide itu. Di kampusnya, mereka tidak terlalu menonjolkan diri.

Febri, Dani dan Farel adalah 3 sahabat yang sama-sama bersekolah di SMA negeri di Jogja. Mereka juga memiliki bentuk tubuh yang menyerupai Dimas meski paras mereka jauh lebih unyu dibandingkan Tyo. Perkenalan mereka dengan dunia malam dimulai ketika mereka bersekolah di SMP yang sama di Bandung.

Mereka bertiga diajak Marvin untuk menikmati dunia malam di Bandung. Mereka awalnya mengetahui bahwa Marvin sering dugem disana hingga mereka mengetahui kalau Marvin juga bekerja menekuni pekerjaan yang saat ini ia lakukan. Ketika Tyo bertanya pada Dani, ia cerita kalau dirinya senang dengan pekerjaan ini karena mudah mendapatkan uang.

Selain itu, ia lakukan ini karena pengalaman traumatisnya. Ia pernah dilecehkan secara seksual oleh ayahnya. Nasib serupa juga dialami Febri dan Farel. Ketika mereka mendapatkan kepuasan dalam dunia malam, mereka semakin menikmatinya hingga menjadi profesi yang memuaskan batin mereka.

Benar bila dikatakan bahwa sekali menyelam ke lumpur, ia takkan bisa melewatinya. Khusus Dani dan Farel, mereka menyatakan sudah menikah di Thailand sekaligus menunjukan cincin pernikahan mereka.

Marvin adalah anak seorang pengusaha importir minuman anggur untuk pasokan ke bar dan restoran. Keluarganya memiliki seorang asisten rumah tangga bernama Bu Inah. Bu Inah adalah ibunya Febri. Bu Inah mulai bekerja di keluarganya Marvin sejak beliau ditinggalkan suaminya karena ingin menikah dengan perempuan lain.

Bu Inah pun setia dengan keluarganya Marvin. Bahkan Marvin menganggap Febri sebagai adiknya. Hubungan Marvin dan Febri berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Febri masuk ke dalam kamar ketika Marvin sedang mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan tanpa busana, Febri cukup terpesona.

Tubuh atletis dan paras tampan yang Marvin miliki semakin membuai Febri. Marvin yang mengetahui kehadiran Febri lalu mendekat padanya lalu mendekapnya. Febri yang seharusnya menghindar ternyata menerima dekapan hangatnya. Tiba-tiba Marvin melucuti pakaian Febri hingga ia membawanya ke tempat tidur untuk disetubuhi.

2 insan itu saling terpaut rasa dengan mudah. Setiap rumah sepi, mereka mengambil kesempatan itu. Bahkan Febri ditawarkan untuk bekerja di sebuah bar sebagai penari. Hubungan selama 3 tahun akhirnya membekas pada mereka hingga mereka memutuskan kuliah di Kota Budaya ini.

Selama di Jogja, mereka tinggal di sebuah kamar kosan di daerah Pogung Lor. Setiap pagi, Marvin selalu mengantarkan Febri ke sekolahnya memakai mobil yang ia beli dari usahanya. Marvin dan Febri cerita kalau mereka sudah menikah di Thailand. Cincin memendarkan cahaya pantulan dengan cantik. Memberi ketegasan atas hubungan mereka yang sangat indah.

***

Jam 12 menemui waktunya.

Dan ujaran ” it’s show time” menggema dari suara DJ.

Memberi tanda bahwa penampilan segera dilaksanakan. The Fitness dan The Sport Toys menunjukan performance dengan sangat cantik. Dengan gaya bareback dance, mereka memuaskan pandangan pasang mata yang sangat ingin menanti keindahan yang terpancar dengan anggun.

30 menit mereka meliukan tubuh mereka sembari memakai handuk. Merangsang pasang mata menuju fantasi tiada batas. Dan aba-aba pun dimulai. Mereka menari dengan telanjang sembari membelakangi penonton. Riuhan sorak sorai dan siulan mewarnai acara yang sangat meriah.

Tema The University Pride dengan sub tema The Toilet menjadi warna latar yang sangat kuat hingga membius pencari kenikmatan malam dengan hangat dan menegangkan. Malam semakin panas ketika semua penonton diminta melepas pakaian mereka dan pesona itu semakin pedas.

…………………………………………………………………….

” Maaf, Lo ini Tyo, bukan?”

Pertanyaan seorang pria yang menjadi DJ di hari itu membuka obrolan pada Tyo yang sedang memakai pakaiannya di ruang ganti pemain. Setelah Tyo memakai pakaian lengkap, pria itu berkenalan dengannya.

” Kenalin, gue Adit. Aditya Prawiro.”

Adit dan Tyo berjabat tangan hingga Tyo mengulik orang itu. ” Darimana lo tahu tentang gue?”

” Gue teman kerjanya Kamal. Dia nitip salam kalau nanti aku ketemu kamu.”

” Memangnya, Kamal kerja jadi DJ juga?”

” Iya. Tapi dia juga merangkap sebagai penari striptease.”

Tyo terkejut. Tidak ia sangka kalau Kamal bekerja di profesi yang sama. Dimas mendadak berada di belakangnya. ” Tyo, ini siapa?”

Adit langsung memberi sapaan. ” Lo ini Dimas,kan?”

Dimas terkejut lalu bertanya serius. ” Kamu ini siapa? Kok tahu namaku?”

” Aku Adit. Aditya Prawiro. Kamal dan Rino sering cerita tentang kamu.” jawab Adit dengan meyakinkan.

***

Tyo dan Dimas diajak Adit ke hotel yang berlokasi di Magelang. Mobil SUV miliknya menembus kegelapan malam Jogja dengan cantik. Melewati Jalan Magelang yang sepi dari hiruk pikuk manusia meski hanya beberapa toko yang buka 24 jam. Selama perjalanan, Adit tidak berbicara dan bercerita tentang dirinya karena ia ingin bercerita di hotel saja. Ketika sampai di hotel, aroma kopi mulai membekas meski masih membias. Dan cerita pun dimulai.

Aditya Prawiro adalah anak asli Jogja yang seluruh umurnya dihabiskan dengan bertempat tinggal di Bandung bersama orang tuanya. Keluarga besarnya tinggal di Kalibawang. Saat ia liburan di Jogja, ia mengunjungi keluarga besarnya dan mengisi waktu menjadi DJ di 4 bar night club house di Jogja.

Adit cerita bahwa ia pernah bermain sinetron. Meski ia fokus ke DJ dan menari di klub malam, namun ia tidak meninggalkan kesempatan untuk bermain sinetron dan FTV. Saat ini, ia memiliki pacar bernama Anggoro Dimas Wisaksono. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Adit adalah tetangga neneknya Kamal di Bandung. Meski neneknya mempersilahkan Kamal untuk tinggal di tempatnya, Kamal lebih memilih nge-kost. Ia tidak ingin merepotkan neneknya. Ketika Kamal ada di Bandung, Adit sering main ke tempat kosnya Kamal sampai Kamal tinggal bersama Rino.

Awal semester 2, Kamal ditawari kerja sebagai asisten DJ-nya sekaligus bagian dari personil The Dolphins yang terdiri dari Kamal, Adit, Dafa, Rendy, Ian dan Fino. Kamal pun setuju ikut dengan pria yang 5 tahun lebih tua darinya.

Adit pun tahu semua masa lalu Kamal hingga ia mengatakan pada Tyo kalau Kamal ingin sekali berbagi waktu luang dengannya. Ketika ditanya Tyo terkait masih tinggal di rumah orang tuanya, Adit mengatakan bahwa ia tinggal di rumahnya di Kota Baru Parahyangan.

Dimas hanya diam sembari melihat paras Adit yang menurut Dimas lebih tampan dibandingkan Sandy dan Febri meski postur tubuhnya sebelas dua belas dengan Daniel namun lebih berisi. Tato di lengannya mewarnai hiasan indah di tubuhnya meski secara penampilan, ia seharusnya tidak melakukan itu. Meski pembicaraannya terkesan serius, namun Adit dapat mengemas dengan canda yang sangat mengena.

***

“Kalo gitu. Lo mau ajak gue jadi pemain FTV atau sinetron?” pinta Tyo dengan bercanda.

Dimas langsung menanggapi dengan canda. ” Ah! Paling-paling kamu ndak akan laku!”

” Ih! Sotoy!” ucap Tyo dengan ekspresi wajah masamnya.

Adit ikut berkomentar sekaligus menjawab permintaannya Tyo.

” OK! Kalo ada job, nanti gue kabarin.”

Adit terdiam sejenak, memandang Dimas dan Tyo dengan penuh persahabatan. Perlahan, dompet miliknya member pesan untuk memberikan sebuah uang sebagai tanda persahabatan. Dan sebuah tanggapan halus dari Tyo menjadi jawabannya.

” Sorry! Aku sama Dimas ndak bisa terima uang ini.”

” Kenapa?”

” Kamu hanya mengajak ngobrol saja. Aku tidak tega kalau aku dan Dimas mendapat uang sedangkan aku tidak memberikan service padamu.”

Adit terdiam. Mengira bahwa mereka bisa menerima uang bila mau menerima service. Anggukan Adit membuka sebuah permulaan yang cantik. Adit lalu melepas pakaian yang ia kenakan. Ia lalu menghadap Tyo dengan lemah gemulai layaknya perempuan yang rindu akan belaian kasih sayang.

” Aku tahu, kamu menginginkan ini. Kalau kamu dan Dimas menginginkan tubuhku, aku akan siap melakukannya.”

Tyo deg-degan. Tubuh kekar Adit yang terlihat serupa dengan Daniel ini mulai membiusnya tatkala Adit memegang kaus A-shirt miliknya. Ia lalu melepas paksa hingga semua pakaian yang Tyo kenakan terlepas. Ya! Tyo terlihat telanjang dengan bentuk tubuh yang cukup memuaskan. Dimas yang sudah telanjang tiba-tiba memegang penis Adit dan memijatnya. Adit yang mengerang dengan nafsu lalu menghadap Dimas.

” Jangan kamu sentuh pacarku! Biarkan aku yang akan menikmatimu.” bisik Dimas dengan sangat “nakal”.

Kedipan mata kanannya Adit memulai petualangan rasa yang penuh fantasi. Adit menuju tas. Mengambil dildo dan melumuri dengan baby oil. Dimas yang terlihat sangat terangsang lalu memasukan ke lubang anusnya. Adit lalu membantu memasukan dan menggoyangkan dengan sangat nafsu.

5 menit setelahnya, Dimas memasukan barang itu ke anusnya Adit dan menggoyangkan dengan sangat nafsu. 5 menit setelahnya, Dimas memasukan kemaluannya ke anusnya Adit lalu digoyangkan secara perlahan. Adit yang tampak sedikit kesakitan namun sangat puas lalu menarik Tyo dan menghisap kemaluannya Tyo.

Tyo semakin merasakan sensasi yang sangat indah. 15 menit kemudian, Adit menusukan kemaluannya ke Dimas yang saat itu sedang mengulum kemaluannya Tyo. Adit langsung memegang wajah Tyo dan mengecup dengan sangat nafsu.

Threesome yang sangat menakjubkan hingga membuat seisi kamar menjadi terasa hangat meski di tengah dinginnya lingkungan sekitar hotel.

***

Dekapan Dimas pada Adit yang terlelap di dadanya membuai rasa yang sudah mereka rajut indah. Ayam yang bersahutan memanggil pagi dengan cantik pun membuat mereka terbangun. Tyo yang terlelap di sebelah Dimas dan Adit pun bangun menuju kamar mandi. Dimas yang melihatnya lalu memberitahu Adit.

” Adit, kita mandi yuk!”

Adit yang baru terlelap member aba-aba kedipan mata kirinya. Mereka bangun lalu menghampiri Tyo. Tyo diminta Dimas untuk menari striptease sambil mandi. Sedangkan Dimas dan Adit akan bersetubuh di bathtub. Tyo memulai tarian disertai guyuran shower yang terpancar di dekat wastafel.

Kamar mandi hotel yang didesain tanpa atap dengan tidak disertai bilik khusus shower semakin merangsang Adit dan Dimas dalam gelaman nafsu. Tubuh kekar Dimas semakin membuai Adit untuk menyabuni Dimas. Dimas yang terpesona dengan tubuh Adit yang sangat banyak hiasan tato pun ikut menyabuninya. Kecupan mulai mendarat.

Saling mengulum bibir indah yang disajikan. Dimas lalu memijat kemaluan Adit sembari melihat gerakan Tyo yang sedang menyabuni tubuhnya sembari menari. Adit ikut memijat kemaluan Dimas dengan sangat puas.

30 menit berlalu, Adit, Dimas dan Tyo keluar dari kamar mandi dengan sangat segar. Puas dengan service yang disajikan. Seumur hidupnya, Tyo baru merasakan sensasi pesona raga yang tersaji melebihi apa yang selalu ia rasakan, tatkala bersama Fahmi, Kamal, teman-teman kosan lama hingga Dimas. Pesona yang akan membawanya pada kepuasan rasa yang tercipta dengan cantik.

***

” Dit, aku senang dengan pesonamu!”

Ucapan Dimas membuat Adit tersenyum hingga ia memberikan 20 juta rupiah pada Dimas dan Tyo. Namun Dimas menolak karena ia adalah teman Kamal dan tidak ingin membebani Adit. Dimas terus bersikukuh meski Adit tetapmerayunya untuk menerima uang itu.

Akhirnya, Dimas mau menerima setelah Tyo membujuknya halus. Setelah menerima uang itu, tiba-tiba Dimas mengecup bibir Adit sekaligsu mengulum lidahnya. 10 menit semakin indah dan terasa hangat saat Adit ikut mengecup bibirnya Tyo. Pesona yang sulit dilukiskan kata-kata.

***

” Mas Adit, salam buat Kamal dan Rino ya!” bisik Tyo dengan pelan.

***

” Fira, kamu nanti PKL dimana?”

” Aku di SMK Pariwisata di Semarang”

” Sendirian?”

” Indak! Samo Ratu dan Nana.”

Percakapan antara Safira dan Tyo menjadi pembuka awal semester 4. Semua mahasiswa kembali ke habitus awal. Mencari nilai demi sebuah harga yang akan mereka capai. Kualifikasi kerja. Tyo dan yang lainnya tetap mencapai nilai yang mereka inginkan meski mereka sudah mendapat pekerjaan.

Uniknya, semua personil The Fitness mendapat IP diatas 3,6. Sesuatu yang sangat membanggakan sekaligus mencengangkan.

Sebuah HP mendering dalam tasnya. Memberitahu Safira bahwa ia harus menghadiri rapat pemilihan dewan perwakilan KMFT.

” Tyo. Aku mau ke kantor sekretariat dulu, yo!” ucap Safira dengan nada terburu-buru.

” Iya! Tapi sebelumnya, aku mau tanya. Siapa kira-kira kandidat calon ketua KMFT?”

Safira terdiam. Sembari menunggu jawaban, Tyo mengamati HP yang sudah berisi SMS dari Astrin. Safira mulai menjawab pertanyaannya.

” Resminya, aku belum tahu. Tapi kandidatnya ada Umar, Aryo dan Jafar.”

Tyo terkejut tatkala ia menyebut nama Aryo yang akan menjadi kandidat ketua. ” Wow! Aryo terpilih sebagai kandidat?”

Anggukan kepala Safira memberi keyakinan pada Tyo. sejak Astrin dan mantan ikhwan lainnya dipecat dari KMFT, mereka tidak banyak mengetahui tentang perkembangan organisasi itu. Pengalaman pahit Astrin yang dizalimi Umar, Usman dan Ali semakin membuat yang lain tidak terlalu peduli.

Sekarang, Astrin dan mantan ikhwan ini sudah bahagia bersama teman-teman Katolik yang juga keluar dari organisasi karena akan menghambat kebebasan yang ingin mereka capai. Kebebasan dalam menguntai kasih sayang bersama sahabat yang tulus memberi rasa.

Kepergian Safira menjadi pembuka awal pertemuannya dengan Astrin dan Daniel hingga obrolan pembuka tentang permilihan ketua KMFT disampaikan secara datar hingga jawaban Astrin tidak ia duga membuka apa yang ada dalam hatinya.

” Sekarang gue gak mau mikirin orang-orang radikal itu! Biarin aja atas yang mereka lakukan.”

Tyo terdiam. Sebenarnya, hatinya ingin menguntai kata tanya tentang pendapat Astrin terkait perkembangan KMFT. Namun, kebencian Astrin yang sudah tergambar sangat jelas melalui ekspresinya membuat ia menahan keinginan hatinya. Mungkin, jawaban serupa juga akan disampaikan Daniel ketika ditanya tentang perkembangan IKMK. Tiba-tiba, sebuah ide nakal tercetus dari bibir indah Astrin.

” Tyo. Menurut lo, gimana kalo kita memerkosa Safira dan teman-teman yang lain?”

Seperti mendengar halilintar yang sangat keras. Seorang Izhar Kharisma Astrin memiliki ide gila dan keterlaluan seperti itu. Sangat tidak patut bila seorang perempuan yang santun sepertinya harus dilecehkan seperti perempuan yang tidak ada harganya. Apalagi, di agamanya sudah dikatakan sangat haram dan termasuk perbuatan zalim.

” Gila, Lo!” bentak Tyo dengan pelan.

” Lo kira dia perempuan jalang!”

Daniel yang tahu akan ekspresi Tyo mulai menetralkan suasana layaknya berada dalam ruang pembakaran. ” Sorry, Tyo! Astrin cuma bercanda saja.”. Ia lalu menanyakan pada Astrin. ” Bener, kan! Trin?”

” Iya, Tyo! Lo jangan sensi dulu. Gue kan cuma becanda aja! Lagipula, gue juga gak mau membawa candaan jorok ke kampus ini. Cukup di bar club aja! Maafin ya!”

Penjelasan Astrin yang penuh penyesalan itu semakin membuat Tyo memaafkan kesalahan tersebut meski ia sempat tertawa ketika Astrin menggelitik pinggangnya. Akhirnya, Tyo didekap Astrin dan Daniel masing-masing selama 2 detik.

Ketika mereka sudah izin meninggalkan Tyo untuk menuju ruang kuliah tempat mata kuliah Pengembangan Produk Cake dan Cookies diselenggarakan, Tyo sadar kalau jus mangga yang ia pesan telah dihabisi Daniel. Rasa kesal bercampur ketawa menghasilkan rasa keheranan yang ditandai gelengan kepalanya. Senyum terbit dengan indah dari wajahnya.

***

Tyo asyik membaca buku tentang kreasi masakan khas Nusantara yang di-stylish dengan unsur Eropa. Sudah 2 jam, ia asyik membaca buku itu meski ada huru-hara di luar kampus akibat kampanye Pemilihan Presiden Mahasiswa di universitasnya. Ia menuju kasir tempat mengadministrasi buku-buku yang akan dipinjam. Setelah ia mengurus 4 buku yang akan dipinjam, tiba-tiba ia melihat sebuah dompet yang tertinggal di kasir.

” Bu, ini ada dompet yang ketinggalan!”

Ibu penjaga kasir itu mengamati dompet itu lalu dengan sangat ekspresif, ia segera meminta sesuatu.

” Itu punya mahasiswa yang pakai baju korsa warna biru tua.”

Pandangan ibu itu mengarah pada seorang pria muda yang sedang menelepon seseorang dekat pintu gedung perpustakaan.

” Yang itu, nak!”

Tanpa basa-basi, Tyo lalu mengambil dompet lalu secepat kilat berjalan menemui pria yang ditunjuk oleh ibu itu.

” Mas, dompetnya ketinggalan!” ucap Tyo kepada pria berseragam biru tua yang sudah selesai menelepon.

Ia pun langsung mengecek tasnya dan menyadari kalau ia tidak menutup tas. Ia langsung mengambil dompet miliknya lalu menaruh di tasnya.

” Terima kasih, Mas! Kamu sudah menemukan dompetku!” ucap pria itu dengan ramah.

” Sama-sama!” balas Tyo sembari tersenyum. ” Masnya mau kemana?” tanya Tyo berbasa-basi.

” Aku mau ke kantin. Biasa, makan siang!” jawab pria itu dengan senyum ramah hingga Tyo ikut tersenyum.

Tyo mengajak pria itu ke kantin yang tidak jauh dari perpustakaan. Seporsi gado-gado, segelas es teh tawar dan segelas jus mangga dipesan Tyo. Menu makanan pria tersebut sangat sehat ketika hanya meminum es teh tawar. Tyo mulai acuh dengan menu tersebut lalu lanjut menguntai pembicaraan.

” Oh, ya! Kalau boleh, aku mau kenalan sama kamu, dong!”

” Silahkan!” ucap pria itu sembari sedikit tertawa.

” Namaku Tyo. Nama panjangku Agustinus Bimatama Prasetyo. Kalau kamu?”

” Namaku Juna. Lengkapnya, Arjuna William Satrio Utomo. Nama baptisku Antonius Clementinus.”

Tyo dan pria yang dikenal dengan nama Juna itu lalu berjabat tangan. Membuka awal pertemanan dengan cantik seperti membuka pagi dengan siluet awan putih. Ketika Tyo memandangnya, paras Tionghoa mewarnai semua penampilannya. Namun, Tyo semakin penasaran dengan pria yang baru dikenalnya ini.

” Berarti, kamu Katolik, ya?” tanya Tyo dengan semangat hingga anggukan kepalanya membenarkan ucapannya.

Tyo lanjutkan dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran.

” Kalau aku melihat wajahmu, sepertinya mengingatkanku dengan seseorang. Tapi aku lupa yang mana orangnya?”

Juna lalu mencoba menerka yang dipertanyakannya.

” Kalau aku coba tebak, wajahku sering dibilang mirip Bimo William!”

Tyo mulai menguntai pikiran. Mencoba mengingat nama yang Juna sebut. Tiba-tiba, Tyo mengingat nama itu. Sejauh yang Tyo ketahui, Bimo William adalah seorang artis sekaligus pembawa acara musik yang cukup terkenal. Dan pernyataan Juna membuatnya terkejut.

” Bimo adalah saudara kembarku. Dia sekarang studi di Komunikasi UI disamping berprofesi sebagai artis.”

” Wah! Kalau begitu, nanti dikejar fans-fans saudaramu, dong!”

” Iya! Tapi aku akan jelaskan ke mereka kalau aku adalah saudara kembarnya.” jelas Juna sembari menyantap suapan lontong yang diselimuti kacang panjang yang tersaji di sendoknya.

Tyo dan Juna berfokus menyantap makanan. Setelah selesai, Tyo mulai bertanya. ” Kamu ambil jurusan apa?”

” Sastra Indonesia.”

” Kok, Korsanya beda?”

Tyo mengamati korsa yang dipakai Juna. Korsa resmi jurusan tempat Dimas belajar adalah berwarna coklat. Namun, Juna memakai korsa berwarna biru tua. Perlahan, Tyo melihat korsa Juna di setiap sisi. Ia lalu melihat sebuah lambang universitas yang berbeda dengan universitas tempat Tyo menuntut ilmu.

Sekejap itu, Tyo langsung paham kalau Juna bukan mahasiswa universitas tempat Tyo menuntut ilmu. Bila melihat lambangnya, Juna menuntut ilmu di universitas tetangga. Universitas yang sering bermusuhan dengan universitas tempat Tyo menuntut ilmu. Sangat mengherankan bila Juna berani pergi ke universitas musuhnya mengingat mahasiswa di kampusnya masih bermusuhan dengan kampus Tyo.

” Kamu kesini dalam rangka apa?”

” Aku mewakili angkatanku untuk mengikuti lomba baca puisi yang diselenggarakan di Tembi. Aku diminta dosenku menemui Prof. Nanik. Beliau kan pakar puisi roman modern. Minggu depan, aku mulai tampil. Makanya, aku minta dibimbing beliau.”

Tyo paham sekaligus tidak menyadari kalau dosen pembimbingnya Dimas ini juga membimbing Juna, mahasiswa tetangga. Sebuah kehormatan bila Juna mendapatkan kesempatan belajar dengan para mahaguru di kampusnya. Tyo ingin bila semua mahasiswa di kampusnya berhenti bermusuhan.

Namun, ego sektoral sering membuat air sekeras batu. Biarlah waktu menjawabnya.

Obrolan Tyo mulai mengarah ke asal daerah hingga tidak ia sadari, Juna berasal di Jakarta. Juna cukup terkejut ketika nama Bekasi keluar dari mulut Tyo saat ditanya asal daerah. Selain itu, kesan-kesan saat di Jogja menjadi bahan obrolan yang sangat menarik hingga telepon berdering dari HP-nya.

” Iya! Nanti aku ke tempat fitness, ya!”

Telepon dari Dimas seperti alarm untuk menemuinya. Juna yang mengetahui hal itu mulai bertanya padanya. ” Dari siapa, Tyo!”

” Ini dari Dimas, temanku. Dia anak Sastra Indonesia juga. Mahasiswa bimbingannya Bu Nanik.” jelas Tyo hingga membuat terkejut.

Tyo dan Juna yang sudah selesai makan lalu memulai mengucapkan perpisahan dan berharap mereka berjumpa lagi. Juna langsung menuju Gedung Rektorat sedangkan Tyo menuju perpustakaan untuk mengambil tasnya. Meski sementara, namun mereka masih sering berkomunikasi meski melalui HP.

Seperti air terjun yang memericik embun hingga membuat suasana sekitar menjadi sejuk dan indah, namun adalakanya, air terjun itu akan terhambat oleh batu dari bukit sebelah yang mengalami longsor sekaligus sulit dipecahkan air. Dan Juna tidak menyadari, bahaya apa yang akan ia alami ketika sudah berkenalan jauh dengan pria tampan itu.

***

Satu minggu kemudian, Juna mengajak Tyo untuk ikut menyaksikan lomba baca puisi. Namun, ia diminta pergi ke perpustakaan Kota Yogyakarta. Setelah Tyo menunggu selama 15 menit, Juna datang bersama seorang pria yang memiliki postur tubuh seperti Dimas. Juna lalu memperkenalkan pria itu. Namanya Nicolaus Kuntoaji Satyoputro. Biasanya dipanggil Nico. Tyo lalu diajak Juna ke lantai 2.

Di selasar yang didesain seperti tempat lesehan ini, Juna mulai bercerita tentang teman-temannya, termasuk tentang Nico. 30 menit kemudian, Tyo bercerita hal yang sama. Pada sesi cerita itu, Nico terkejut saat Tyo menyebut nama Dimas hingga Juna bertanya pada Nico.

” Nico, kamu kenal dengan teman Tyo yang namanya Dimas?”

Sebelum menjawabnya, Nico melihat foto Dimas yang Tyo tunjukan melalui Facebook yang ditampilkan dari laptop milik Juna. Nico lalu membenarkan sekaligus memberi tanggapan.

” Dia kan atlet Basket di kampusnya Tyo. Dia jagoan utamanya tim basket itu! Kalau ndak salah, aku pernah cerita ke kamu tentang dia.”

Juna lalu teringat dengan cerita Nico tentang Dimas. Di hadapan Tyo, Juna cerita tentang Dimas yang diisukan sering bermain kasar. Meski dia jago basket dan tidak pernah mencelakakan pemain secara kasar, namun ia sangat agresif.

Selain itu, dia dapat laporan dari teman-teman di UKM Basketnya kalau Dimas dan teman-temannya sering melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswi yang berasal dari universitas lawan.

Bentuknya bisa mengecup bibir mereka, meremas alat kelamin hingga memerkosa. Meski isu ini tidak pernah ketahuan, namun kelompoknya selalu waspada dengan mereka. Bahkan, seluruh anggota tim kami melarang mahasiswi untuk melihat pertandingan.

Tyo yang mendengar cerita ini langsung tidak percaya dan ingin membela Dimas. Namun, ia tahu kalau Juna adalah teman barunya. Ia tidak ingin mematahkan hubungan pertemanan hanya karena membela pacarnya yang dihina. Untungnya, Tyo tidak menampakan emosi dan tidak menceritakan pengalamannya secara jujur.

***

Lomba puisi di Tembi Rumah Budaya menjadi saksi atas kemenangan Juna yang berhasil membawakan puisi yang berjudul Melati Diatas Segelas Susu dengan menghayati secara tenang. Gaya pembawaannya yang seperti air yang mengalir diatas lantunan bambu menjadi senjata pamungkas yang ia miliki. Nico lalu mendekap Juna sekaligus menyatakan selamat. Bahkan Bu Nanik yang menyaksikan penampilannya sangat memujinya.

Mobil SUV milik Nico perlahan menembus kegelapan malam di lantunan jalan Ringroad Selatan. Memberitahu pada angin yang berjalan mengiringi mereka kalau Juna menang. Juna dan Nico mengantarkan Tyo ke kosannya. Di depan gang kecil, Tyo mengucapkan sesuatu pada Juna.

” Juna. Terima kasih ya!”

” Sama-sama! Kapan-kapan, aku main ke tempatmu, ya!”

Tyo lalu meminta nomor HP-nya. Perlahan, mobil Nico meninggalkan Tyo hingga ia berjalan menuju kosannya. Saat membukanya, betapa terkejutnya ketika mengetahui kalau pintunya tidak dikunci. Suasana kamarnya yang gelap gulita membuatnya menyalakan lampu.

Betapa terkejutnya ketika melihat Dimas duduk di tempat tidur dalam keadaan telanjang dan hanya mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah. Bibir Dimas dilapisi lipstik merah. Penisnya terlihat sangat tegang. Kebigungan melanda pikiran Tyo.

” Kamu ngapain, Dim?”

” Aku lagi tunggu kamu!”

Dimas lalu berdiri, berjalan mendekati Tyo lalu mengecup bibirnya. Kesan maskulin dan binaraga yang seharusnya selalu tersemat pada Dimas perlahan memudar dengan penampilan itu. Dimas langsung melepas pakaian Tyo, membawa ke tempat tidur dan menikmati tubuhnya.

Simfoni 9 terus mengalun indah dari HP-nya Dimas. Memberi sebuah tanda akan adanya sebuah rutinitas yang selalu dilakukan Dimas ketika menikmati pria yang menjadi sahabatnya. Dimas lalu mengecup hingga lidahnya bertemu dengan lidah Tyo. 5 menit berlalu, Dimas membuka obrolan sembari mengecup bibirnya.

” Kamu habis jalan dengan siapa?”

” Aku habis melihat lomba baca puisi. Dan Juna menang, Dim! Aku senang sekali. Kapan-kapan aku kenalkan dia sama kamu, ya!”

Dimas yang penasaran dengan Juna lalu bertanya padanya. ” Tyo! Juna itu teman baru kamu, ya!”

” Iya.” jawab Tyo sembari mengecup Dimas. ” Dia anak Sastra Indonesia.”

Dimas heran, tidak ada nama itu di angkatannya. ” Sepertinya, dia bukan teman angkatan di kampusku!”

” Emang! Dia anak Sastra Indonesia di universitas tetangga.”

Dimas terkejut. Meski ekspresinya seperti menahan marah, namun ia tetap terlihat biasa saja. Dimas akhiri kecupannya lalu mengambil dildo yang diselipkan di bantalnya lalu menusukan ke lubang anusnya Tyo. Dimas menusuk dengan sangat keras. Seperti ekspresi yang tergambar dari wajahnya.

Ia lalu mencabutnya lalu memasukan kemaluannya ke tempat itu. Dimas menekan dengan sangat keras. Tyo yang merasa kesakitan lalu dikecup bibirnya. Tubuh kekar Dimas yang berpadu dengan lipstik dan sepatu hak tinggi merah yang ia gunakan semakin merangsang Tyo untuk menikmatinya meski harus menahan rasa sakit itu.

Ya! Menahan semua rasa marah yang sudah terlanjur membekas pada Dimas tatkala mengingat universitas tetangga yang menjadi musuhnya. Dan Dimas terus merenggangkan kaki Tyo demi menikmati sensasi yang sangat dan selalu ia nantikan meski berselubung marah dan benci.

Bagi Tyo, kepuasan ini adalah sesuatu yang ia tunggu-tunggu. Namun, bagi Juna ini menjadi awal dari petaka yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya.

Bersambung