Yang Pertama Dan Terakhir Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 10

Stasiun Lempuyangan tidak berhenti menderu jalur relnya dengan beban kereta api. Tidak pernah beristirahat. Di siang yang terik, matahari semakin menunjukan tabiat awal hingga diterjemahkan stasiun menjadi suasana yang sangat panas. Dimas dan Tyo menunggu Kamal dan temannya. Saat Tyo asyik menikmati cemilan mereka, Dimas meminta izin padanya.

” Tyo, aku ke toilet dulu ya!”

Dimas lalu menuju toilet. Ketika Tyo sedang menunggu Dimas, kereta yang ditunggu telah menampakan batang hidungnya, menunggu penumpangnya turun hingga yang ditunggu pun datang menemuinya.

” Tyo. Lo sendirian kesini?” tanya Kamal yang langsung tiba menemuinya dengan membawa seorang pria yang terlihat sangat tampan.

” Nggak! Gue sama teman. Lo bawa siapa?”

Kamal pun memperkenalkan pria yang dibawanya. Betapa terkejutnya ketika mengetahui kalau pria itu bernama Arino Risoni Aruan atau Rino. Mantannya Dimas sekaligus temannya Kamal. Saat Dimas menemuinya, betapa terkejutnya ketika tahu kalau Rino ikut bersama Kamal.

” Dimas, kamu temannya Tyo?”

” Iya. Kamu juga temannya Kamal?’

” Iya!” jawab Rino sekaligus memperkenalkan Kamal padanya.

Dimas membawa Tyo, Kamal dan Rino dengan mobil yang dia sewa menuju villa yang mereka akan tempati. Saat melihat Kamal, Tyo cukup takjub karena tubuhnya berpostur seperti binaraga. Kamal cerita kalau ia sangat rutin berolahraga. Bahkan, ia rutin mengonsumsi protein demi menambah massa otot sesuai yang diinginkan.

Meski basket adalah olahraga yang sangat ia sukai, namun ia lebih memesona saat bermain dummble. Bahkan ia bisa mengangkat hingga 20 kg. Benar-benar sangat menakjubkan. Sedangkan, Rino memiliki bentuk tubuh serupa dengannya. Untungnya, bentuk tubuhnya serupa dengan Daniel. Jadi gampang untuk membandingkannya.

Sepanjang perjalanan, Rino hanya mengamati pemandangan di sisi jalan. Dari melewati Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Cik Di Tiro, Jalan C. Simanjuntak, Jalan Kaliurang, Jalan Ringroad Utara hingga Jalan Magelang, semuanya dipandangi dengan cantik. Seperti air mengalir, ia tidak akan tahu arah tujuan akhirnya. Perlahan, sahutan Dimas memecah untaian pandangnya.

” Rin, serius sekali! Lagi ndelok opo?”
” Ndak! Aku lihat jalanan saja. Maklumlah! Di Bandung tidak ada yang seunik ini. ”

Kamal pun ikut berkomentar dengan santai. ” Iya! Lagipula, gue pengin banyak habiskan waktu disini.”

” Lho, bukannya Bandung itu banyak tempat wisata ya?” tanggap Tyo sembari memandang Kamal dengan nyaman.

” Emang! Tapi gue maunya ke Jogja. Sekalian gue main ke tempat lo.”

Mereka pun tiba di Ketep pada sore hari. Dimas, Tyo, Rino dan Kamal memasuki villa yang mereka pesan. Villa itu merupakan milik temannya Kamal dan Rino di kampus. Suasana rumah bergaya khas Belanda menguntai pandang yang sangat menakjubkan sekaligus menakutkan.

Mereka cukup kagum dengan keadaan di dalam rumah. Di ruang keluarga, patung tiruan berbentuk David karya Michaelangelo Buonarotti dan Kisses karya Auguste Rodin mempercantik suasana sekaligus memberi kesan eropa yang sangat kental seperti susu kental manis. Saat Tyo dan Rino menuju halaman belakang, kolam renang menghiasi suasana dengan cantik.

” Karena ada 2 kamar, aku putuskan kalau Aku sama Kamal di kamar depan. Yang lain di kamar belakang.”

Tyo dan Rino memasukan tasnya di kamar belakang. Saat menata pakaiannya, Rino mulai membuka pembicaraan padanya.

” Tyo, Kamal sering cerita tentang kamu. Katanya, dia senang punya teman sepertimu.”

” Ah! Bukan hanya dia, aku juga senang bisa berteman sama kamu, Rin.” ucap Tyo menghibur Rino yang sedang melipat celana panjangnya.

Rino terdiam. Saat Tyo melihatnya, dia seperti ingin bertanya sesuatu, namun agak sulit untuk mengungkapkannya. Prlahan,Rino mulai membuka diri.

” Tyo, kamu sekarang sudah punya pacar?”

Tyo terkejut. Seperti mendengar bunyi petasan di siang hari. Ia mulai menjawabnya.

” Sudah.”.

Ketika Rino bertanya orang yang menjadi pacarnya, ia terkejut ketika nama Dimas keluar dari mulutnya. Seperti mendengar bom yang meledak di lapangan terbang, tidak ia sangka, mantannya sekarang menjadi milik Tyo. Tyo mulai bertanya balik.

” Kalau kamu?”. Tiba-tiba, Dimas memanggil mereka sebelum Rino menjawab pertanyaannya.

” Rin, Tyo. Ayo kesini.”

Rino dan Tyo menuju ruang keluarga. Kamal yang sedang menonton berita berbahasa Jawa akhirnya mematikan TV. Dimas menawarkan pada Kamal, Rino dan Tyo. ” Malam nanti, kita makan malam di Magelang Kota, ya!”

” Ayo! Nanti kita makan dimana?” tanya Kamal dengan polosnya.

Mereka menuju Warung Bakmi Mbah Gito. Di tepi alun-alun kota Magelang, mereka menikmati bakmie goreng dan teh hangat. Rasa kebersamaan semakin erat saat mereka bercerita tentang pengalaman saat kuliah hingga hubungan pertemanan yang mereka rajut.

Alun-alun Kota Magelang semakin ramai. Menambah kecantikan pemandangan yang mereka lihat. Teh hangat semakin membuai dalam pesona yang sedang mereka rasakan.

***

Kamar tidur hangat menyapa Rino dan Tyo. Melepas lelah setelah menikmati makanan sekaligus pesona pandang di Alun-alun Magelang. Dalam naungan pesona yang mereka rasakan, obrolan mulai membuka suasana.

” Rin. Kamu ngerasa kenyang, ndak?”

” Iya. Ternyata enak ya! Liburan di Magelang. Apalagi ketemu kamu sama Dimas.”

” Wiih! Dari nadanya, kamu senang banget!” ucap Tyo setelah mendengar ucapan Rino yang terdengar bernada tinggi dengan ekspresi senang.

” Iya! Aku senang bisa ketemu teman baru. Apalagi kalau aku bersama Kamal. Dia sangat tampan hingga kecupannya………”

Tyo langsung terkejut. Tidak ia sangka, Rino menyatakan hal itu. Tyo bangun dan duduk lalu bertanya detail padanya.

” Rin, kamu pacaran sama Kamal?”

Rino terkejut. Akibat ucapannya, Tyo mulai penasaran tentangnya. Elang pun ikut mengawasi pandangannya. Seperti tidak ada benteng yang kebal dari berbagai senjata. Akhirnya, Rino mulai membuka yang tersimpan sebagai rahasia di hatinya.

” Tyo. Kamal itu pacarku.”

Tyo terkejut dengan pengakuannya hingga memancingnya dengan pertanyaan berikutnya. ” Bagaimana ceritanya?”

Rino akhirnya membuka kisahnya.

…………………………………………………………………..

Awan siang mendaras Kota Bandung. Memberi sinyal akan memasuki siang hari yang sangat terik. Di tengah situasi tersebut, kelompok UKM Basket menunjukan atraksi mereka saat berlangsungnya Ospek di gedung auditorium kampus tempat Kamal dan Rino belajar.

Salah satu anggota UKM Basket menawarkan pertandingan kepada mahasiswa baru melawan anggota tersebut. Kamal maju ke arena. Beserta teman-teman lainnya, mereka saling menunjukan pesona dan bakat masing-masing. Kelincahan permainan hingga keanggunan gerakan semakin mempercantik pertandingan basket hingga menegaskan bukan sebuah pertandingan biasa.

Namun, tatapan Rino mengarah ke salah satu mahasiswa baru yang sedang bermain. Ia sulit melepas pesona yang mengikat dirinya. Pertandingan itu terus membuainya hingga akhir.

3 hari setelah Ospek, Rino berkenalan dengan seorang pria yang sukses membuai pandangannya. Kamal Ghifari namanya. Dia satu jurusan dengan Rino. Suatu ketika, Rino ditawari ikut UKM Basket oleh Kamal dan 2 temannya, Dafa dan Rendy. Dafa dan Rendy berasal dari daerah yang sama, Ciamis. Namun berbeda tempat tinggal, Dafa di Pangandaran dan Rendy di Ciamis. Rino akhirnya memenuhi tawaran mereka.

Saat berada di UKM Basket, Rino sering mengamati Kamal saat ia bermain basket. Namun, lama-kelamaan ia mulai menaruh kekaguman dan rasa padanya. Saat Kamal mengetahui kalau Rino terus memerhatikannya, ia mulai bertanya. Rino mengatakan kalau ia sedang mengamati cara permainannya Kamal.

Mengingat Kamal adalah pemain baru yang sangat memiliki strategi permainan basket. Selain itu, Kamal tidak pernah pelit dalam memberikan pengetahuannya terkait strategi permainan. Hal inilah yang membuatnya bangga. Memiliki teman yang terlihat rendah hati.

Selain basket, fitness adalah kegemarannya. Setiap hari, ia selalu datang ke tempat fitness. Latihan lari, pengembangan otot hingga ketangkasan gerakan ia jalani. Awalnya, Rino menolak tawaran Kamal untuk ikut fitness meski ia dibayari.

Namun, semakin Rino menolak, semakin semangat untuk membujuknya. Hingga ia pun mau menerima tawarannya. Meski ia pernah melakukan kegiatan serupa di Surabaya, namun ia ingin meningkatkan kemampuan melebihi yang ia lakukan sebelumnya.

Kamal akhirnya menawari Rino latihan dummble secara rutin, dilanjutkan dengan treadmill, push up, sit up, back up hingga latihan jumping. Rino yang awalnya canggung dengan latihan itu lalu dibantu Kamal dalam setiap latihan. Tidak Rino sangka, Kamal sangat perhatian dengannya hingga urusan kebugaran.

Setiap akhir pekan, Kamal sering main ke kosan Rino, begitupun sebaliknya. Suatu ketika, Kamal menawari Rino untuk tinggal di kosannya. Rino yang awalnya menolak, akhirnya menerima tawarannya setelah Kamal terus membujuknya.

1 bulan setelah ospek, ia pindah ke kosan Kamal setelah meminta izin pada ibu kosnya. Kamar kos Kamal tidak terlalu berbeda dengan kamar cowok pada umumnya. Namun, tidak ia sangka ketika Kamal memintanya tidur di kasur atas dan ia memilih tidur di kasur bawah. Ia pun menuruti permintaannya.

1 bulan setelahnya, Rino dan Kamal semakin akrab. Hubungan persahabatan banyak diwarnai berbagai hal. Mulai dari celana dalam yang sering tertukar, suara TV Kamal yang menurutnya terlalu keras saat menonton pertandingan bola hingga makan bersama di dalam kamar.

Bagi Rino, Kamal adalah teman yang sangat akrab. Setiap permasalahan yang mendera batinnya selalu ia ceritakan padanya. Begitupun dengan Kamal. Namun, eratnya persahabatan akan menjadi awal dari sebuah peristiwa yang akan merubah hidupnya.

Suatu malam yang dingin, Kamal mandi setelah Rino membilas dirinya. Dengan tubuh yang berbalut handuk, Rino menuju lemari. Saat mengambil baju dan celana miliknya, ia melihat sebuah barang yang jatuh. Ia terkejut ketika melihat fleshlight.

Tidak ia sangka, Kamal juga memiliki alat yang sering dipakai Dimas dan Aji. Selain itu, ia juga melihat majalah yang menampilkan pria-pria atletis tanpa busana. Rino perlahan semakin menikmati pemandangan terlarang hingga Kamal memergokinya.

” Rin, kamu lihat majalahku!”

Rino langsung menyembunyikan majalah di belakangnya. Kamal yang mengetahuinya langsung mengambil majalah itu. Hingga akhirnya, Kamal mengakui jatidiri sebenarnya pada Rino. Bahkan Kamal mengakui kalau ia pernah memiliki pacar seorang pria.

Pengakuan Kamal cukup membuat Rino terkejut. Rino pun ikut menceritakan kejujuran tentang dirinya. Kamal pun ikut terkejut. Tidak ia sangka, Kamal satu kamar dengan seorang pria gay. Rino lalu beranjak berdiri lalu melepas handuk yang menutupi tubuhnya.

” Kamal. Kalau kamu sangat ingin menikmati tubuh seorang pria, aku siap melakukannya.”

Kamal pun beranjak lalu ikut melepas handuk yang dikenakan. Kamal mulai mendekap Rino lalu mengecup bibir merahnya. Rino membalas kecupannya dengan hangat hingga Kamal mendorongnya ke tempat tidur, lalu mencicipi tubuh Rino. Kepala hingga kaki telah dinikmati Kamal dengan cantik.

Surya menyambut Bandung dengan cantik. Kamal dan Rino yang terbungkus kain selimut saling mendekap dengan cantik.

” Rino. I love you!”

” Mee too, honey!”

Kamal mengusap kepala Rino dengan pelan namun hangat. Rino yang bersandar di dadanya yang terlihat atletis semakin terbuai dengan pesona yang Kamal berikan untuk pacar barunya. Tiba-tiba, sebuah ide tak lazim keluar dari bibir indahnya.

” Rino. Kamu mau mandi bareng gak?”

” Mau. Aku ingin lihat kemampuanmu memuaskanku!”

” Tenang! Aku akan membuatmu puas, sayang!” ucap Kamal seraya mengecup kening Rino sekaligus mengusap rambutnya.

Kamal dan Rino memasuki kamar mandi. Di bawah guyuran air yang dibawa gayung, Kamal membersihkan tubuh Rino yang sangat ranum ini. Dekapan dan kecupan mewarnai suasana indah ini. Diiringi tawa canda, mereka semakin nyaman dengan situasi ini.

Sejak saat itu, mereka semakin menunjukan keakraban. Kampus, kosan hingga tempat fitness, menjadi saksi yang menguatkan perasaan mereka. Setiap malam, Kamal dan Rino selalu tidur dalam keadaan tanpa memakai pakaian. Dekapan dan kecupan mewarnai hubungan mereka.

Rino mulai bercerita kalau Kamal sering memainkan kemaluannya dengan fleshlight. Selain itu, Kamal selalu memakai sepatu hak tinggi berwarna merah lalu berjalan dengan anggun meski dalam keadaan tanpa busana.

Rino diminta untuk memakai sepatu tersebut hingga Kamal merenggangkan kedua paha Rino lalu mengecup tungkai kaki Rino yang masih mengenakan sepatu itu. Perlahan, kemaluan Kamal tegang lalu menggosokannya pada kemaluannya Rino. Nutfah membasahi tubuh mereka. Permainan itu selalu dilakukan setiap hari. Dibalik itu semua, perasaan mulai tumbuh pada diri mereka.

***

” Tyo. Sekarang kamu cerita, ya!”

Tyo terlihat bingung. Antara bercerita tentang hubungannya dengan Dimas atau merahasiakannya. Rino langsung memegang tangannya.meyakinkan kalau ia akan menerima semua ceritanya dengan lapang dada. Tyo mulai bercerita tentang masa lalu nya. Seperti untaian bunga bertumbuh dalam naungan rumput yang sangat lebat.

Rino terkejut saat Tyo menceritakan hubungannya dengan Dimas. Meski Dimas pernah mewarnai masa lalunya, ia tidak akan cemburu pada Tyo. Rino merasakan rasa yang Tyo miliki pada mantannya. Hingga cerita selesai, suasana perasaan masih membayangi Rino. Yang tidak terduga terjadi. Rino mendekap Tyo.

” Rin, kenapa kamu dekap aku?”

Rino terdiam. Merasakan setiap untaian rasa yang dia rasakan dari Tyo.

” Aku sebenarnya masih punya rasa pada Dimas. Namun, Kamal banyak memberikan apa yang selama ini kuimpikan. Aku hanya berpesan sama kamu. Jangan menyia-nyiakan perasaannya. Aku yakin, hubunganmu dengan Dimas akan langgeng selamanya.”

” Rin. Terima kasih atas harapanmu. Aku juga masih memiliki rasa pada Kamal, namun Dimas banyak mewarnaiku dengan cantik. Semoga Kamal bisa melupakan diriku dan membuka lembaran baru dalam hubungan denganmu.”

Dekapan Rino semakin menghangatkan Tyo di tengah hembusan angin malam dari Gunung Merapi. Memberi hiasan sekaligus menjuntai rasa atas perasaannya.

***

Kau buat aku bertanya

Kau buat aku mencari

Tentang rasa ini

Aku tak mengerti

Akankah sama jadinya

Bila bukan kamu

Lalu senyummu menyadarkanku

Kau cinta pertama dan terakhirku.

***

Cinta Pertama dan Terakhir-Sherina Munaf

Lagu itu mewarnai suasana Tyo yang sedang santai di dekat kolam renang. Disaat asyik mendengarkan lagu, Kamal, Dimas dan Rino menemuinya.

” Wiihh!! Yang sendirian dengerin lagu” canda Kamal sembari merangkul Tyo.

” Iya! Lagi dengarkan lagu apa?” tanya Dimas hingga ia dan Rino mencabut headset dan mendengarkan lagu yang didengar Tyo. Kamal yang penasaran lalu bertanya pada Dimas dan Rino. Rino lalu memberikan headset ke Kamal dan sebuah komentar terlontar dari mulutnya.

” Kayaknya ada yang menyimpan rasa, nih!”

” Iya! Pasti kamu kangen sama diriku, ya?” tanya Dimas dengan percaya dirinya.

” Ih! Pede banget!” jawab Tyo dengan percaya dirinya hinggga senyuman menguntai nakal dari pikirannya.

Rino, Tyo, Kamal dan Dimas mulai merangkai pembicaraan dengan cantik. Dari urusan pertemanan saat kuliah hingga minat terkait basket. Setelah itu, ide tidak terduga datang dari pikirannya Kamal.

” Teman-teman, kita berenang aja, yuk!”

Kamal, Dimas, Rino dan Tyo mulai melepas pakaian mereka. Dengan mengenakan celana dalam, mereka menceburkan diri di kolam renang. Keceriaan masa kecil mewarnai kegiatan mereka. Khusus Tyo, kecupan indah pada bibirnya diberi Kamal, Dimas dan Rino dengan cantik.

” Rin, kok kamu cium aku juga? Nanti Kamal cemburu, lho!”

Rino langsung menanggapi santai. ” Ah! Ndak pa pa! Kamal ndak cemburu ini!”

Kamal langsung mendekap Rino. Otot lengan Kamal semakin membuai Rino untuk menerima kecupan Kamal di bibirnya.

” Sayang, pasangan kita harus lebih romantis dari mereka!” ucap Kamal setelah mengecup Rino sekaligus memegang wajahnya dengan halus.
Kedipan mata kirinya Rino semakin membuai Kamal hingga kecupan datang menemuinya. Perlahan, Kamal masuk ke dalam air lalu berusaha melepas celana dalamnya Rino. Rino yang berusaha menarik celana dalamnya pun akhirnya gagal. Kamal lalu membuang celana dalamnya Rino di semak-semak. Kamal lalu melepas celana dalamnya dan membuang ke semak-semak. Rino yang berusaha menuju pinggir kolam renang pun dicegat Kamal hingga kecupan mendarat di bibirnya. 1 menit berjalan dengan cantik. Kamal dan Rino menemui Dimas dan Tyo hingga rasa heran menemui mereka.

” Gila, lu! Berani amat bugil begitu!” ucap Tyo dengan ekspresi tidak percaya.

” Koe edan tenan, lo! Ndak malu opo, cuk!” ucap Dimas mendukung Tyo.

Kamal dan Rino hanya tersenyum hingga Kamal menjelaskan sesuatu. ” Ini namanya skinny dipping. Lagi populer, tau!”

” Iya! Tapi ini kan Indonesia, bukan Amerika. Nanti kalau ada yang lihat, gimana?” tanya Dimas dengan penuh kekhawatiran.

” Tenang aja! Kita kan berempat. Lagian, kita bisa bebas lakukan apa aja, kan!”

Dimas dan Tyo hanya gelengkan kepala. Tiba-tiba, Kamal melucuti pakaian dalamnya Dimas dan Tyo sekaligus. Dimas yang awalnya mrasa malu akhirnya semakin menikmati perbuatannya Kamal. Setelah Kamal melempar celana dalam mereka, Dimas langsung mengecup bibir Kamal.

” Mal, hari ini aku mau main sama kamu ya!”

” OK! Berarti Rino main sama Tyo. Gimana?”

Mereka merajut keindahan dalam permainan yang mereka buat. Kolam renang menjadi saksi bisu keindahan yang mereka ciptakan. Menuntun keindahan menuju pesona yang akan membekas hingga nanti.

***

” Dim, Rin, Tyo, udahan, yuk!”

Mereka mengakhiri berenang dengan senang setelah Kamal dan Dimas menikmati Rino dan Tyo. Mereka menuju tempat bilas. Tubuh Tyo menjadi sasaran permainan mereka. Kamal, Dimas dan Rino bebas menjamah tubuh Tyo. Sabun mulai melumuri tubuh mereka hingga mereka saling menjamah satu sama lain. Tidak jarang, kecupan mewarnai untaian persahabatan mereka.

Sore harinya, mereka bermain basket di lapangan serbaguna.

Kelincahan Dimas dan Kamal semakin membuai pesona mereka hingga Rino dan Tyo sulit membendung pertahanan mereka. Bagiku, kehebatan pemain basket bertubuh kekar dan berwajah tampan semakin memberi peluang untuk mengalahkan lawan sekaligus membuai pandangan lawan mereka.

Setidaknya, kupu-kupu mengepakan sayapnya sekaligus memberi pesona yang dapat membuai yang melihatnya.
…………………………………………………………….

Selama liburan, mereka mengunjungi berbagai objek wisata. Ketep Pass, Candi Borobudur, Candi Mendut, Kaliurang, Monumen Jogja Kembali, Candi Prambanan, Candi Sewu, Malioboro, Keraton Yogyakarta, Keraton Pakualaman, Pantai Parangtritis, Waduk Sermo dan Pantai Glagah.

Keceriaan dan kebersamaan seperti pelangi yang mewarnai perasaan mereka. Tentunya, kecupan dan dekapan menjadi pewarna indah meski harus mencuri kesempatan demi menjaga rahasia mereka.

Pada malam hari keempat, sebuah peristiwa akan menjadi pengantar sebuah cerita atas eratnya hubungan mereka. Mereka masuk ke kamar. Melepas lelah setelah mengunjungi Malioboro, Keraton Yogyakarta dan Pantai Parangtritis.

30 menit melepas lelah yang diisi obrolan tentang pengalaman liburan, kenangan masa kecil Dimas dan oleh-oleh yang akan Rino dan Kamal bawa ke Bandung, tiba-tiba Kamal dan Dimas melepas pakaian mereka hingga telanjang. Mereka lalu berbaring di tempat tidur. Hawa AC mulai membungkus tubuh atletis mereka.

” Kamal, lo itu seneng banget sama hal kayak gini ya?”

Kamal lalu memandang Tyo lalu mengedipkan mata kirinya. Dimas membantu Kamal menanggapi ucapan Tyo.

” Kamal dan aku saja senang dengan hal seperti ini. Kamu dan Rino pasti ikut senang, tho!”

” Iya! Tapi aku ndak habis pikir. Apa rasanya ndak ada malu gitu?” ucap Tyo sembari menggelengkan kepalanya.

Kamal yang ingat dengan percakapan Tyo ketika pertama kali berpacaran lalu mengajak Dimas untuk melucuti pakaian Tyo dan Rino. Setelah mereka telanjang, mereka saling menyetubuhi satu sama lain. Tyo banyak disetubuhi Kamal, Dimas dan Rino.

Dimas yang sedang menikmati tubuhnya Tyo dengan mengecup bibir dan lehernya cukup terkejut ketika mengetahui kalau Kamal melakukan oral sex pada Rino. Rino semakin mengerang dengan penuh nafsu seperti ayam betina yang menunggu disetubuhi ayam jantan. Dimas yang ingin menghentikan perbuatan itu lalu dicegah Tyo.

” Dim. Biarkan saja.”

Dimas yang menoleh ke arah Kamal dan Rino lalu mempertanyakan hingga jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut Tyo.

” Dim, Rino pernah cerita kalau ia sering diperlakukan seperti itu. Namun ia sangat senang dengan hal itu. Kamal selalu melakukan itu demi menunjukan bahwa Rino adalah miliknya. Biarkan mereka lakukan hal itu.”

Air mata Dimas meluncur bebas dari pipinya. Tidak tega dengan yang Kamal lakukan pada mantannya. Dia yakin kalau Kamal mengetahui akibatnya. Namun, mereka bisa membuktikan ekspresinya meski melalui hal yang sangat terlarang. Dimas lalu melanjutkan persetubuhan disaat Kamal melakukan anal sex dengan Rino.

***

” Dimas,Tyo. Makasih ya! Kalian sudah mau nenenin kami liburan!”

” Sama-sama. Gue sama Dimas seneng banget liburan sama kalian. Nanti kalau liburan lagi, aja-ajak kita, ya!”

” OK! Semoga sukses ya!”

Ucapan Kamal mulai membuka perpisahan di Stasiun Lempuyangan. Kamal dan Rino memasuki kereta yang akan membawa mereka ke Bandung. Perlahan, kereta meninggalkan stasiun. Meninggalkan semua kenangan yang sudah membentuk rasa dan kasih mereka.

Lembayung membasahi langit dengan cantik. Menanti harapan datang dengan bunga yang sangat indah. Dan teman lama telah menorehkan tinta emas pada hati mereka, selamanya.

***

Subuh menghampiri mereka. Dalam pesona tidur yang membalut Tyo dan Dimas, udara dingin merasuk hangat dalam sanubari. Mengingatkan mereka untuk segera memulai aktivitas pagi. 4 bulan setelah liburan dengan Kamal dan Rino telah membangkitkan harapan dalam hubungan mereka. Harapan untuk percaya diri tanpa merasa ditekan siapapun. Dan hari minggu ini, mereka harus membuktikannya.

” Tyo. Sudah siap semuanya kan?” tanya Dimas sembari merapatkan motornya di depan pintu kosannya.

Anggukan Tyo memulai perjalanan baru. Hari itu, Tyo dan Dimas diundang Aji untuk menonton Grand Final Milo Body Contess yang diselenggarakan di Yogyakarta. Dimas menjelaskan bahwa yang mewakili dari kampus Tyo dan Dimas adalah Angga, Dylan, Aji dan Daniel.

Tyo dan Dimas tiba di lokasi. Mereka bertemu dengan Astrin, Pardi, Rico dan Ivan. Selain itu, teman-teman Tyo di kampusnya juga hadir. The Fitness, nama kelompok yang beranggotakan teman-teman Tyo di jurusan serupa ini semakin menyemarakan acara ini.

” Astrin, Daniel mana?” tanya Tyo sembari merangkul pria yang sangat mencintai Daniel ini.

” Daniel lagi ganti pakaian.”

Astrin lalu mengajak Tyo dan Fajri ke tempat ganti pakaian peserta. Disana, Kevin dan Eko membantu Daniel memberi riasan.

” Wow! Daniel makin cakep, nih!” canda Tyo sembari merangkul Astrin.

” Ah! Ndak juga!” ucap Daniel merendah. ” Ngomong-ngomong, Astrin kan milikku!”

Ucapan Daniel semakin membuat Tyo semangat mengusili Daniel.

” Ih! Selagi kamu bertanding, aku bisa pacaran dulu sama Daniel. Iya, ndak, Trin?”

” Iya, dong.”

Candaan Tyo semakin membuat Daniel semangat memberi canda serupa.

” Oh! Gitu ya, my baby! Aku ndak mau ngasih goyangan panas lagi, lho!”

Fajri langsung keluar dan meningalkan mereka tanpa pamitan dahulu. Kevin mulai memancing canda pada Astrin.

” Hayoo! Astrin. Nanti kamu ndak akan disedot lagi sama Daniel.”

Tyo mulai mempertanyakan maksud ucapan Kevin. Akhirnya, Daniel cerita kalau ia sering melakukan oral sex dan anal sex dengan Astrin. Astrin sangat senang dengan perilaku yang dilakukan adanya. Astrin juga sering lakukan hal serupa sama Daniel.

Yang lebih mencengangkan, semua personil The Fitness pernah melakukan praktek seksual yang sangat berisiko tersebut, kecuali Fajri, Lukas, Tyo, Dimas dan Pardi. Khusus Aji, dia sering menusukan dildo pada semua personil.

Ketika Tyo dan yang lainnya merajut obrolan, ia disapa seseorang yang sudah tidak asing lagi. Ya! Dylan dan Angga menemui Tyo dan yang lainnya.

” Hey, Dude! Kamu ikut mendukung mereka?”

” Iya! Kamu ternyata cukup menarik, ya!” ucap Tyo menghibur Dylan yang telah menyapanya meski masih memakai logat American-nya.

Angga langsung menyela dan berkomentar.

” Iya, dong! Dylan dan Aku memang menarik. Lagipula, orang ganteng ini ndak boleh kalah dong!”

Ucapan Angga yang terlalu percaya diri semakin membuat Tyo bersemangat memberi komentar usil.

” Iya deh! Aku yakin, orang ganteng ini pasti menang asalkan bisa berani menggoyang di tempat tidur dengan memeras susu, dong!”

” Tenang saja! Aku sudah biasa seperti itu. Nanti kalau Aku, Dylan atau temanmu menang, aku akan melakukan itu pada 10 cewek sekaligus.” ucap Angga percaya diri hingga membuat Tyo gelengkan kepala sembari tersenyum.

***

Acara pun segera dimulai. Perlahan, semua peserta memasuki arena panggung. Memamerkan semua pesona keindahan yang ada pada diri mereka. Kupu-kupu terus menebarkan pesona ketika menghinggap pada bunga yang cantik. Memberi manfat sekaligus menciptakan untaian pandang yang sangat menakjubkan. Semua mata tertuju pada pesona hingga siang.

Matahari terik menyinari langit Yogyakarta dengan anggun dan menawan. Memberi kesan sebuah keindahan yang harus dinikmati bagi yang melihatnya. Tyo dan Dimas keluar dari ruang menuju gedung bagian belakang. Melihat persiapan finalis untuk menunjukan keindahan lainnya.

Alangkah terkejutnya ketika melihat Angga, Dylan, Aji dan Daniel berdiri santai meski tanpa kain yang menutupi tubuh mereka. Rico yang sedang menutupi tubuh Angga dengan kain emas pun kesulitan karena Angga sering bertindak iseng dengan memeluk Rico.

Kevin yang saat itu membantu memasang kain penutup pada Dylan, Aji dan Daniel sedikit terganggu meski ia bisa menangani 3 orang sekaligus. Untungnya, Angga bisa serius dan Rico tidak merasa kesulitan.

” Rico, sepertinya aku lagi horny, nih! Makanya, aku sering memelukmu. Aku ingin gosokan punyaku ke punyamu!” ucap Anga dengan nada usil.

” Haduh! Kalau mau begituan, nanti saja di kamar. Disini ndak enak, lho!”

Dimas pun ikut memberi komentar. ” Iya, Mas! Nanti kan acara terakhir. Selesai ini, masnya silahkan melakukan sama Mas Rico!”

” OK, Ganteng. Kalau aku mau cicipi pacarmu, boleh?”

Dimas langsung menunjukan kepalan tangan. Tanda kalau ia sangat marah pada Angga. Kata maaf keluar santai dari bibir indah Angga.

Segmen kedua telah dimulai. Para finalis maju satu persatu menuju panggung. Aturan kontes yang menyatakan bahwa semua finalis dilarang memakai celana dalam pun menjadi sebuah keharusan mutlak. Aku yakin, sebagian besar finalis tidak ingin menaati aturan itu.

Namun, aturan itu adalah kunci untuk membuka kemenangan yang ingin mereka capai. Meski mereka tidak memakai celana dalam, namun mereka harusnya tidak perlu takut malu karena sudah tertutupi dengan kain emas yang mereka gunakan.

Model pakaian bergaya Yunani Kuno tersebut mulai membuai penonton dengan sangat cantik. 2 jam berlalu, pengumuman mulai membuka jatidiri. Yang mendapat juara pertama adalah Jimmy Kurniawan. Juara kedua adalah Sandy Haryanto dan juara ketiga adalah Marvin Sulistyanto.

Aji, Angga, Dylan dan Daniel mendapatkan nominasi sebagai the most photogenic, sedangkan nominasi the most athletic cute child diraih Febrian Akbar Heryawan.

***

” Fajri, aku suka sama kamu. Apakah kamu mau terima aku?”

Fajri terdiam. Bingung untuk menguntai kata-kata. Setelah Lukas memegang tangannya, Fajri pun mengakui sesuatu.

” Lukas, aku juga suka sama kamu. Tapi aku sulit menunjukan rasa ini.”

Perlahan, Lukas mendekap Fajri. Kehangatan mengalir indah dari rasa yang ia miliki. Fajri ikut membalas dekapan dengan hangat. Dalam keramaian acar kontes yang telah berakhir, mereka meresapi setiap untai rasa yang mereka miliki. Dan teman-temannya mengetahui yang mereka lakukan.

” CIEEE!!!!!!!!!!”

Ucapan itu menjadi pembongkar rasa yang selama ini mereka simpan. Personil The Fitness sangat kagum dengan mereka.

” Fajri, Lukas, selamat ya! Kalian sekarang sudah jadian!” ucap Tyo terharu sekaligus bangga.

” Iya. Sekarang kalian bisa bersatu dalam kisah yang sama!” ucap Aji yang sangat senang.

Tiba-tiba, Pardi mengamati Aji dengan serius. Setelah ia melihat penampilan Aji di panggung hingga selesai, ia merasakan pesona yang sulit ditampik. Di tempat parkir, Pardi terus mengamati Aji yang memakai kaus A-shirt hitam ketat hingga memperlihatkan lekukan tubuh indahnya. Saat Lukas selesai mengecup bibirnya Fajri, Tyo mulai bertanya pada Pardi.

” Pardi. Ada yang ingin kami katakan sama Aji?”

Pardi terdiam. Sulit mengungkapkan kata-kata. Dimas lalu membisikan sesuatu pada Aji. Aji menghampirinya lalu mendekap hangat seorang Pardi. Pardi sulit melepas dari dekapannya Aji hingga sebuah kejujuran datang menghampirinya ketika ia menatap wajah Pardi dengan anggun.

” Aji. Aku ndak bisa menahan perasaan ini. Kamu mau menerimaku, kan?”

Tanpa berpikir panjang, Aji langsung mengecup bibir Pardi. Kilauan rasa memendar dalam sanubarinya. Menerima sentuhan cahaya hatinya Aji meski ia sadar, prinsip itu tidak boleh dilanggar. Namun dia memilih jalannya.

Aji dan Pardi mulai mempertautkan rasa meski hanya dari sebuah kecupan yang semanis gula. Perlahan, Aji memberi pandangan eang yang sangat memesona. 2 menit berlalu dengan hening, Angga menyapa personil The Fitness dengan cantik.

” Kalian belum pulang?”

“Belum” jawab semua personil dengan serempak.

” OK. Teman-teman, aku mau kenalkan temanku.”

Angga lalu memanggil seorang wanita cantik. Alangkah terkejutnya bagi Aji dan Dimas ketika ia melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya.

” Amelvi!” ucap Aji dan Dimas bersama-sama.

” Aji! Dimas!” ucap wanita yang kemudian dipanggil Amel ini.

Angga yang mengetahui suasana ekspresi Amel pun ikut bertanya.

” Kalian kenal juga dengan Amel?”

Aji dan Dimas mulai bercerita kalau Amel adalah teman SD-nya. Tidak ia sangka, Amel yang dulunya adalah wanita dengan bentuk tubuh yang terlihat tambun saat SD lalu berubah menjadi wanita bertubuh sintal dengan payudara yang sangat berisi dan berlekuk layaknya gitar Spanyol.

Saat menemui mereka, Amel hanya mengenakan kaus A-shirt ketat yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya dan celana pendek yang hanya memperlihatkan paha dan tungkai kakinya.

Di depan Angga dan para personil lainnya, Amel cerita kalau ia satu SD dengan Dimas dan Aji. Dia merupakan rekan kerja Angga di Porsche Cafe and Bar Club. Mereka terkejut ketika mengetahui kalau Angga dan Amel adalah penari striptease.

Dalam setiap pertunjukan, Angga selalu memeragakan adegan persetubuhan pada saat pertunjukan. Meskihanya pura-pura, namun tidak ia sangka ketika mengetahui kalau Amel hamil. Amel yang awalnya ingin aborsi lalu dilarang Angga. Selama 10 bulan, ia absen dari pekerjaannya hingga ia melahirkan.

Warga sekitar kosannya tidak tahu tentang hal itu karena kosannya tertutup sehingga aman dari sanksi sosial. Amel lalu menjual anaknya pada lelaki hidung belang dengan imbalan satu miliar rupiah. Setelah itu, ia lanjutkan pekerjaannya bersama Angga.

Para personil yang awalnya miris mendengarnya lalu berubah simpatik saat menceritakan tentang keluarganya yang terbelit masalah ekonomi setelah ayahnya Amel meninggalkan keluarganya. Pada masa ia sekolah, ibunya menjadi tulang punggung keluarganya.

Sejak saat itulah, ia bertekad untuk membiayai keluarganya meski cara yang ia lakukan tergolong sangat bertentangan dengan moral. Lagipula, di dunia yang sangat liberal seperti ini, semua pekerjaan harus dilaksanakan selama bisa menghasilkan uang meski moral dan nilai agama tergadaikan.

Bersambung