Yang Pertama Dan Terakhir Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Yang Pertama Dan Terakhir Part 9

” Tyo. malam ini kita fitness yuk!”

” Dimana?”

” Di Milo’s Fitness.”

Ajakan Dimas tersebut membuat Tyo semakin semangat. Meski kegiatan menonton TV bersama Indah dan Kasatria sedikit terganggu. Ketika Tyo ingin beranjak, Indah mulai berkelakar padanya.

” Mas Dimas, ajarin Mas Tyo membentuk tubuh seperti Mas Dimas agar penampilannya terlihat menarik.”

Dimas menyetujui sarannya Indah meski hanya becanda. Saat di dalam kamar, Dimas mendekap Tyo dari belakang saat ia merapihkan pakaiannya.

” Tyo. Terima kasih, ya! Kamu sudah bantu Indah dan yang lainnya untuk merayakan ulang tahun ibuku.”

” Sama-sama. Tapi kamu tidak bisa hadir di ulang tahun ibumu.” ucap Tyo dengan nada menyesal.

Perlahan, Dimas mendekatkan bibirnya di telinga Tyo dan berbisik.

” Aku beri kesempatan ke Indah untuk bertanggungjawab.”

Tyo tersenyum kecil. Dan Dimas mendekapnya dengan hangat.

…………………………………………………………………….

Ruangan full music menyambut rombongan Dimas dan teman-teman. Musik yang terdengar penuh energi hingga memacu orang-orang yang senang berolahraga untuk terus melatih dirinya. Tyo memandang setiap sudut ruang yang berisi peralatan treadmill, barbell dan dummble yang terpajang.

Meski gedungnya tidak seluas tempat fitness yang sering Dimas dan Tyo kunjungi di Jogja, namun suasananya terlihat ramai dan seru. Seru karena Tyo dan teman-teman lainnya bisa berkenalan dengan teman-teman Dimas dan Aji saat SMA.

” Dimas, Aji. Piye kabare?” tanya salah seorang anggota tempat fitness tersebut.

” Apik, Kon piye?” tanya Dimas dengan akrab.

” Apik, cuk! Kon Piye, Ji? ”

” Apik. Podho karo Dimas. Wes lali ra ketemu koe, cuk!” ucap Aji dengan akrab. Tyo dan yang lainnya hanya diam menyimak pembicaraan mereka.

” Podho. Koe ki jan makin atletis, cuk!” sapa Aji sembari memegang pundak pria itu.

” Ah! Ora! Masih rung iso koyo koe, cuk!” jawab pria itu akrab hingga ia berkenalan dengan Tyo dan teman-temannya.

Tyo dan lainnya tahu bila pria ini bernama Doni, Doni Ardiansyah. Pria ini adalah teman satu angkatan dengan Aji dan Dimas saat SMA. Bila dilihat dari postur tubuhnya, ia serupa dengan Daniel, namun bentuk ototnya semenawan Aji.

” Tyo, teman-teman, kalian bebas latihan sepuasnya. Kalau kalian mau, nanti tengah malam ada freedom party. Bebas untuk pengunjung, lho!” ucap Aji memberitahu yang lainnya.

Tyo, Aji, Dimas dan teman-teman mulai latihan fitness dengan santai. Khusus Tyo dan Dimas, mereka latihan dummble secara rutin. Dimas dan Tyo latihan angkat benda tersebut secara bersama-sama dengan berat beragam dan pengulangan rutin.

Setelah itu, Dimas mengajak Tyo ikut kelas zumba. Dengan dipandu Doni, kelas itu semakin ramai dan meriah. 50 menit berlalu, dengan penuh peluh dan lelah, Tyo langsung mandi sedangkan Dimas masih terus latihan. Saat menuju loker, Fajri menyapanya sekaligus memberitahu sesuatu.

” Tyo. Teman-teman yang lain, kecuali Aji dan Dimas berencana tidak mau ikut freedom party.”

” Emang kenapa?” tanya Tyo dengan nada penasaran.

” Pesta ini kan khusus kaum belok!”

Tyo terkejut meski setengah tidak percaya. ” Kamu tahu dari mana?”

” Aku dikasih tahu Daniel kalau pesta ini adalah pesta khusus mereka. Orang-orang yang ikut pesta ini harus melepas pakaian mereka. Mereka bebas ikut kelas fitness apapun, bebas olahraga apapun dan bebas bersetubuh dengan orang manapun, asal mereka harus telanjang. Aku tidak mau ikut begituan. Risih sekali.”jelas Fajri dengan logat Minang-nya.

” Waduh! Serem banget! Kalo gitu, gue gak mau ikut deh! Jijik!” ucap Tyo mendukung Fajri.

” Baguslah! Kamu indak mau ikut.”

” Terus yang lain tahu, ndak?”

” Pardi, Astrin, Warno, Hasan, Daniel dan yang lain lagi dikasihtahu Gio. Bahkan Gio setuju kalau kita indak ikut pesta itu. Soalnya ini berbahaya! Cuma kita ngasih tahunya diam-diam agar Dimas dan Aji tidak curiga. Jangan sampai kita ketahuan. Kalaupun nanti, Aji dan Dimas tanya, kita bisa bilang tidak enak badan atau alasan apapun, lah! Asalkan kita tidak ikut acara seperti itu. Yang penting jangan sampai mereka tahu kalau kita berniat tidak ikut acara seperti itu.”

” OK! Kamu kasih tahu yang lain dulu aja. Aku mau mandi dulu!” ucap Tyo hingga langsung meninggalkan Fajri.

Tyo langsung masuk ke kamar bilas. Ketika sedang menaruh pakaiannya di gantungan baju, tirainya sedikit terbuka. Saat hendak menutupnya, ia tidak sengaja melihat Doni bersama dengan seorang pria yang berpenampilan seperti orang militer. Tubuhnya atletis, rambutnya cepak, postur hampir mirip dengan Dimas.

Ia melepas pakaian Doni hingga tidak mengenakan apapun. Pria itu ikut melepas pakaiannya. Perlahan, pria itu mengecup bibir Doni hingga tangannya meraba tubuh Doni. 5 menit terasa terangsang, mereka membawa pakaian mereka dan keluar dari area kamar bilas. Tyo langsung menggeser tirainya lalu langsung mandi.

15 menit berlalu, ia keluar dari bilik. Saat sedang memasukan pakaian kotornya, ia menemukan kartu identitas milik Doni. Setelah itu, ia mencari Doni di berbagai ruang. Saat memasuki ruang sauna, betapa terkejutnya ketika ia tahu kalau Doni sedang bersetubuh dengan pria berambut cepak itu bersama dengan 8 orang lainnya.

” Sorry, aku ganggu kalian! Don, ini kartumu. Ketinggalan di ruang bilas.”

” Iya.”

Tyo lalu masuk ke ruang sauna. Ketika Doni mengambil kartu itu, tiba-tiba pria berambut cepak itu memeluknya dan mengecup lehernya sembari berkata. ” Kamu mau ndak, main sama kita.”

” Aldo! Dia itu pacarnya Dimas. Kamu jangan ganggu deh!”

Pria yang akhirnya dikenal dengan nama Aldo ini terkejut. Tyo langsung bilang kepada Aldo dan orang-orang yang ada di ruang sauna itu. ” Iya! Saya pacarnya Dimas. Maaf ya! Jangan ganggu saya.”

Aldo dan orang-orang yang kemudian diberitahu Doni kalau mereka adalah teman-teman SMA-nya Dimas mulai menghindari Tyo. Doni langsung meminta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih padanya. Dan Doni mengucapkan sebuah kata yang tidak ia duga.

” Kami semua gay. Jadi jangan kamu jauhi kami dan Dimas hanya karena jijik!”

Tyo langsung pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan pengalaman tidak menyenangkan yang mereka sajikan.

***

” Dim, aku kayaknya ndak enak badan e…! mungkin hari ini ndak ikut freedom party dulu ya!”

” Beneran, kamu mau balik duluan?” tanya Dimas hingga anggukan Tyo menjawab semuanya lalu Dimas memberikan kunci mobilnya.

” Lho, maksudnya apa, Dim?”

Dalam keraguan yang menyelimuti pikiran Tyo, Dimas membuka penjelasan. ” Kamu sama Fajri dan anak-anak lainnya bisa numpang mobilku. Jadi kalian ndak perlu cari kendaraan. Di Surabaya, kendaraan umum berhenti operasi pada jam setengah 10.”

Dalam aura tenang dan diam, Tyo sedikit ternoda dengan rasa bimbang. Menerimanya atau tidak. Namun Dimas tetap memaksanya hingga ada suatu waktu ketika ia harus menerimanya.

” Baiklah! Aku pergi duluan, ya!”

Anggukan Dimas membuat Tyo bersemangat meninggalkan loby gedung menuju tempat parkir. Saat menuju jalan, ia dihampiri Fajri. Fajri diberi kunci mobil, diajak juga para ikhwan, Gio dan Defri sekaligus dibawa menuju rumahnya Aji. Ketika mereka sampai di kamar Aji, obrolan mulai membuka semuanya.

” Untung ya! Kita gak ikut acara begitu.” ucap Gio dalam rebahan di tempat tidur.

Defri dan Astrin yang ikut merebahkan diri di tempat tidur mulai berkomentar.

” Entah gimana kalo kita ikut acara begituan.” ucap Astrin seraya memandang Gio.

” Mungkin, kita akan jadi sasaran mereka.” ucap Defri mendukung pernyataan Astrin.

Astrin dan Defri mulai pejamkan mata. Melepas lelah setelah berkutat dengan olahraga yang menjadi makanan rutin mereka. Gio bangun lalu menuju Fajri, Pardi dan Tyo yang akan keluar dari kamar menuju ruang tamu. Disana, mereka membuka obrolan tentang teman-teman mereka.

” Gue gak nyangka. Teman-teman kita mau ikut pesta begituan. Apa bagusnya, coba?” ucap Gio miris.

Tyo dan yang lainnya diam. Sulit memberi pendapat yang membela teman-teman mereka yang ikut pesta tersebut. Tiba-tiba, Tyo alihkan topik.

” Teman-teman, khususnya untuk ketua angkatan, nih. Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan ketika teman-teman kita mulai menjadi penyuka sesama?”

Semua terkejut hingga Fajri berkomentar. ” Kita ndak mau kalau teman-teman kita menjadi seperti itu! Lagipula ini kan dilarang agamayang saya anut. Agamamu juga melarangnya, kan?”

” Iya, Tyo. Aku juga ndak mau seperti itu.” jelas Pardi mendukung ucapan Fajri.

Tyo terdiam sembari menyimak penjelasan mereka hingga Tyo meminta pendapat Gio. ” Kalau kamu, gimana, Gi?”

Gio terdiam sejenak lalu berkomentar. ” Gue juga gak setuju kalo teman-teman kita jadi seperti itu. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati gue. Gimana kalo ada yang memiliki perasaan seperti itu sedangkan ia gagal dalam menahan rasa? Apa kita harus berusaha terus tapi batin kita jadi tersiksa karenanya?”

Fajri langsung berkomentar maksud pertanyaannya. ” Maksudnya apa, Gio? Aku ndak paham.”

” Sebentar! Kayaknya gue nangkep maksud pertanyaannya Gio! Gi, coba lo bilang sama kita! Apa ada teman-teman kita yang punya perasaan kepada cowok!” tanya Tyo seperti orang yang menginvestigasi terdakwa.

” Iya! jangan-jangan, pertanyaan kamu ada kaitannya sama teman-teman kita.” ucap Fajri ikut berkomentar.

” Sudah, kasih tahu saja, Gio. Kita jadi penasaran nih!” ucap Pardi mendukung Tyo mengungkap maksud pertanyaannya.

Tanpa berpikir panjang, Gio membuka semuanya. ” OK. Aku kasih tahu. Kalian ngerasa gak, kalo Damar dan Hasan saling mencintai, begitupun dengan Defri dan Warno?”

Bagai petir di siang bolong, mereka tidak akan menyangka bila Gio memberi sebuah pengakuan mengejutkan. Antara setuju dan tidak. Mereka masih bimbang seperti berada di tengah kapal emas yang akan tenggelam sebentar lagi.

Fajri dan Pardi mulai menyatakan ketidaksetujuannya dengan alasan bahwa Hasan adalah seorang yang taat beragama. Namun, Gio diberi kesempatan Tyo untuk menjelaskan semua yang dia ketahui.

” OK! Kalian perlu tahu. Gue lihat Damar dan Hasan bercumbu di pojok taman dekat tempat bermain anak-anak dekat tempat duduk yang waktu itu kita kumpul disana. Kejadiannya sebelum kita kumpul bareng untuk curhat.”

” Oo…. itu Taman Bungkul. Tapi beneran, mereka melakukan begituan?” tanya Tyo penasaran.

” Iya! Gue lihat dengan mata kepala sendiri! Damar seperti menikmati bercumbu dengan Hasan. Gue awalnya gak percaya. Tapi setelah gue yakinin, gue gak salah lagi. Selain itu, di pohon dekat tempat latihan skateboard, gue juga lihat Defri dan Warno juga lakukan hal serupa.”

” Berarti, mereka ikut terpengaruh dengan gaya hidup kamu juga, Tyo. Kamu sama Dimas mungkin awalnya teman, namun lama-kelamaan jadi saling suka. ” ucap Pardi santai.

” Iya, aku juga seperti yang kamu bilang, Di. Kalian harus tahu kalau aku justru disukai Dimas. Awalnya, aku menolak. Tapi Dimas tetap menaruh rasa sama gue. Daripada jadi perasaan yang menggantung, ya…gue pasrahin aja!” jelas Tyo sembari melipat tangan dan bersandar di sofa.

Mereka terdiam. Perlahan, Gio beranjak dari sofa menuju kamar. Melihat keadaan anak-anak yang tidur. Dan obrolan berlanjut.

” Pardi. Menurutmu, apa kamu punya perasaan sama Aji?”

Pardi terdiam. Berpikir mencari jawaban yang tepat.

” Jujur, aku tertarik dengan postur dan wajah Aji. Tapi aku bimbang! Agamaku sangat melarang hal ini. Aku sulit menentukan keputusan hidup ini.”

Tyo beranjak lalu duduk di dekat Pardi. Dengan merangkul pundaknya, Tyo berusaha memberi saran dengan tenang.

” Pardi. Kalau kamu bingung, ikuti kata hatimu saja. Aku yakin, itulah yang terbaik.”

Pardi langsung menatap Tyo setelah menunduk sejenak. ” Kamu yakin?”

” Iya!” ucap Tyo meyakinkan. ” Lupakan saja batasan-batasan yang menghambat pikiranmu. Biarlah kata hati mengarahkanmu. Maka kamu akan menemukan ketenangan. Kamu perlu tahu, Di. Aku juga merasa terbatasi anggapan umum atas perasaan yang kita miliki. Tapi aku sadar, semakin mencampakan hal itu, semakin sakit perasaan yang tersimpan. Akhirnya, aku biarkan perasaan ini menuntunku. ”

Tiba-tiba, Fajri memberi sanggahan dengan semangat. ” Tyo, bukan berarti perasaan itu berjalan tanpa panduan dan arah. Kamu kan tahu, agama adalah penuntun utama setiap perilaku kita. Kalau kamu terus ikuti kata hati menurut pikiranmu, sama saja membiarkan dosa mengalir. Aku ndak mau itu terjadi pada kita.”

Tyo langsung berurai air mata lalu membela dirinya. ” Kamu benar, Faj! Aku setuju dengan ucapanmu. Tapi ini sulit. Aku sudah membuktikannya. Sekarang terserah Pardi. Dia yang akan menentukan keputusan itu.”

Pertarungan pendapat seperti Baratayudha. Namun, mereka tahu. Jangan sampai perbedaan pendapat ini menghancurkan hubungan persahabatan. Tyo berusaha menenangkan suasana hati Fajri yang tidak setuju atas pendapatnya. ” Fajri, gue minta maaf kalo pendapat gue bikin elo tersinggung.”

Fajri langsung menyanggah anggapan Tyo padanya. ” Ndak perlu minta maaf. Aku hanya memberi saran sesuai agama yang aku yakini. Aku juga tidak menyalahkanmu, kok!”

” OK! Jadi jangan sampai pendapat kita membuat kita berselisih. Benar ndak, ketua angkatan 09″.

Tyo langsung berjabat tangan dengan dengan Fajri hingga kata ” iya” mengalir bebas dengan lancar.

Tiba-tiba, Pardi mengacak-acak rambutnya dan Fajri mencubit hidungnya. Membuka keakraban yang sedikit renggang. Saat keceriaan tersusun cantik, Gio datang membawa kabar mengejutkan.

” Teman-teman, kayaknya yang kita obrolin benar-benar terbukti deh!”

Fajri, Tyo dan Pardi bingung hingga Gio mengajak mereka ke kamar. Betapa terkejutnya ketika melihat Defri dan Warno tidur sambil berpelukan. Mereka terkejut. Terdiam tanpa kata.

” Teman-teman, hati-hati dengan ucapan. Bisa jadi doa lho!”

***

” Beneran, kamu mau pergi ke rumah Astrin?

Anggukan Tyo memberi kesan bahwa ia ingin pergi ke rumahnya sesuai rencana anak-anak ikhwan itu. Mereka tidak ingin terlibat dalam pergaulan Dimas dan Aji yang menurut mereka menyimpang dengan fitrah. Dimas yang awalnya tidak setuju pun mulai berubah pikiran setelah Tyo terus membujuknya.

Tyo pun pamit pada keluarga Dimas. Dimas sendiri masih ingin melanjutkan party yang sudah disusun teman-teman SMA-nya. Ketika beranjak dari rumah, ibunya Dimas memberi kue nastar sebagai bekal. Lambaian tangan menyambut perpisahan itu. Senja mulai meredup dengan cantik.

Memanggil Tyo dengan nada rindu dan berucap harap agar ia datang kembali ke Surabaya. Taman Pelangi mulai mengibarkan pesonanya. Menyambut Tyo yang sebentar lagi akan meninggalkan kenangan di kota yang penuh kenangan ini.

Deretan kemegahan KBS, Taman Bungkul hingga gedung-gedung pencakar langit di Basra memberi bekas terindah dan pesona yang sudah terukir. Tidak perlu menunggu waktu lama, Stasiun Gubeng sudah menjamunya. Menunggu dimasuki seorang Bimatama Prasetyo ini. Namun, Dimas menahannya dengan sebuah untaian pembicaraan.

” Tyo. selama kita berlibur disini, kamu jangan canggung dengan kehidupanku yang sebenarnya, ya!”

Tyo bingung atas maksud ucapannya hingga Dimas memberi sebuah untaian kata yang tidak ia duga.

” Aku tahu, Doni pernah bilang agar kamu tidak merasa jijik berteman denganku atau teman-temanku. Mungkin saja, kamu dan yang lainnya tidak ikut party karena tidak terbiasa dengan gaya hidupku dan teman-temanku. Dari lubuk hati terdalam, aku bisa menerima alasanmu meski kamu tidak cerita yang sebenarnya. Namun, kalau aku kenalkan kamu ke teman-temanku, kamu jangan menghindar ya! Aku yakin, kamu tidak akan canggung nantinya.”

Dimas langsung mendekap Tyo dengan tenang. Aroma maskulin membuai perasaannya. Menetralkan kesalahpahaman yang sudah terbentuk atas yang ia lihat.

” Iya. Sediakan aku waktu untuk bisa menerima semua ini.”

Dimas langsung mengecup wajahnya dengan hangat. Perlahan, Tyo turun dari mobil setelah Dimas membantu menurunkan tasnya. Di depan pintu masuk stasiun, Dimas mengingatkan agar hati-hati hingga anggukan Tyo menenangkannya. Lambaian tangan memberi keindahan tercantik di sanubarinya.

Di dalam stasiun, para ikhwan, Gio dan Defri sudah menunggunya. Tidak butuh waktu lama, kereta api yang ditunggu telah datang.

Di dalam kereta, mereka banyak cerita. Pengalaman organisasi para ikhwan, kampung halaman Hasan, pengalaman mereka di Kampung Ampel hingga cerita persahabatan Gio dan Astrin ikut mewarnai perjalanan mereka. Menjelang subuh, kereta sudah sampai di Pasar Senen. Para ikhwan ini minta izin ke Tyo, Defri dan Gio untuk shalat. 20 menit berlalu, mereka yang sudah menunaikan ibadahnya menemui Defri, Tyo dan Gio yang sedang ngemil di pojok peron.

” Maaf ya. Bikin nunggu lama!” ucap Astrin menyesal.

Tyo dan teman-temannya menaiki bis menuju Terminal Pulogadung. Dari Terminal Pulogadung yang mulai menampakan keramaian khas Jakarta, mereka menaiki bis menuju Tanggerang. Saat di perjalanan, mereka mulai bertanya pada Astrin terkait rumahnya dan izin orang tuanya. Astrin sudah meminta izin ke orang tuanya karena mereka sedang berada di Medan untuk menghadiri pernikahan sahabatnya.

Beruntung, bis yang mereka naiki melewati Serpong hingga mereka turun di Alam Sutera, kompleks perumahan tempat tinggal Astrin. 20 menit dengan berjalan kaki, mereka sampai di rumahnya. Suasana new europe menghiasi rumahnya. Ukuran rumahnya tidak terlalu beda dengan rumahnya Tyo.

Ketika memasuki rumahnya, suasana islami terasa hidup. Astrin pun menuju dapur untuk menyiapkan minuman. Dibantu Tyo, segelas es sirup jeruk mulai menyambut mereka sekaligus melepas penat yang sudah mereka jalani.

” Astrin, terima kasih ya. Kamu sudah capek-capek menyajikan minuman ke kita.” ucap Pardi membalas perbuatan baiknya.

Astrin menyangkal pendapatnya dan justru ia anggap ini adalah kewajiban. Ucapan terima kasih mengalir indah dari bibir mereka. Mereka pun tidur di ruang keluarga setelah minum meski Astrin sudah menawarkan kamarnya untuk ditempati.

Saat Tyo memasuki kamarnya, terlihat rapi dan bernuansa maskulin semi feminin. Hal ini bisa dilihat dengan keanggunan cat berwarna putih yang berpadu dengan coklat, lukisan pemandangan alam, lukisan kaligrafi surat Al Ikhlas, tempat tidur yang terasa luas dan empuk hingga tumpukan majalah kuliner dan bisnis. Ketika memasuki kamarnya, seperti menikmati hotel bintang 4. Bila mereka tidak memakai etika bertamu dan menginap, semua itu bisa saja dinikmati.

Matahari menampakan sifat aslinya. Terik dan melelahkan. Namun, ini menjadi waktu baru bagi Astrin dan teman-temannya. Setelah menunaikan shalat zuhur, Fajri, Zain, Astrin, Gio, Tyo, Pardi, Warno, Defri dan Hasan bersiap-siap berkeliling Jakarta dengan menaiki mobil ayahnya Astrin. Pada kesempatan itu, Gio yang mengendarai mobil itu menawarkan saran.

” Teman-teman, mumpung di Jakarta, gimana kalo kita main ke rumahku dan rumah Tyo!”

Ucapan setuju bersuara merdu membelah angkasa. Namun, Tyo mengingatkan bahwa rumah kosong di siang hari dan baru bisa dikunjungi pas malam. Tanpa keraguan, Gio membawa mereka ke rumahnya. Disana, ibunya sudah menyambutnya dengan baik.

Meski ibunya mempertanyakan sebab tidak menginap di rumahnya, namun ibunya bisa menerima. Kue Nastar yang diberikan Dimas pun menjadi oleh-oleh untuk ibunya Gio. Pada kesempatan itu, ibunya berkesempatan berkenalan dengan Astrin.

Kenangan itu membawa ibunya menuju pada masa lalu ketika Astrin selalu dilindungi Gio dari kejahatan anak-anak geng sekolahnya. Cerita berlanjut hingga mereka banyak bertanya tentang masa kecilnya.

2 jam bertamu ke rumah Gio, mereka lanjutkan perjalanan ke Kota Tua. Sepanjang perjalanan, gedung-gedung pencakar langit menyambut mereka. Dihiasi kemacetan tiada ujung. Mereka sampai di Kota Tua. Disana, mereka mengabadikan momen melalui foto. Keanggunan alun-alun balaikota Batavia hingga sisi estetis Batavia Cafe semakin membuai untai pandang mereka.

Setidaknya, mereka sudah mengenal Jakarta, tempat dimana semua manusia Indonesia, dari Sabang sampai Merauke berkumpul demi mencari sesuap nasi.

1 jam mengitari kawasan pusat Kota Tua, mereka lanjutkan perjalanan ke rumah Tyo. Disana, Ibunya Tyo, Dina dan Haris menyambutnya. Pada kesempatan itu, mereka banyak bercerita tentang masa kecilnya kepada ibunya. Suasana keakraban terus menyinari setiap sudut rumah.

Bahkan, semakin terang ketika adik-adiknya bertanya tentang kehidupan Tyo di kampus.
2 jam berlalu, mereka menuju rumah Astrin. Melepas lelah setelah berkeliling Jakarta. Sampai di dalam rumah, Astrin memberitahu sesuatu.

” Teman-teman, kalau kalian mau tidur, kalian bisa tidur di kamarku!”

Tiba-tiba, Pardi menyatakan sesuatu. ” Terima kasih, Trin. Tidak apa-apa kalau kami tidur disini. Lagipula itu kan kamarmu. Aku dan teman-teman tidak mau merepotkanmu.”

” Ih! Gak apa-apa lagi! Lagipula kalian kan udah kuanggap teman sendiri.”

Hasan pun memberi dukungan pada Pardi. ” Sudah, tidak apa-apa. Kami lebih enak disini. Kalau ada teman-teman yang mau tidur di kamar Astrin, kami tidak akan melarangnya.”

Gio, Tyo dan Astrin masuk ke kamarnya. Sebelum tidur, mereka menguntai pembicaraan. Dari pengalaman jalan-jalan, rencana liburan esok hari hingga rencana kuliah semester 2. Setelah itu, tiba-tiba Astrin bertanya sesuatu yang mengejutkan.

” Tyo, kamu kan pernah berpacaran dengan laki-laki. Aku cuma pengin tahu. Gimana sih rasanya becumbu sama cowok? Apa kamu juga menikmatinya dengan nyaman?”

Tyo yang sedikit terkejut pun mulai menjawab pertanyaannya.

” Ya…. Gimana ya! Sebanarnya kalo dibilang enak, itu sesuatu yang tidak mungkin. Tapi aku juga pernah cerita ke kalian ketika aku diperkosa laki-laki hingga salah satu pemerkosanya menyatakan rasa padaku. Sedikit banyak, dia banyak mengajarkanku rasa cinta walau hakikatnya, hanya nafsu yang tertulis. Tapi aku sadar, ketika cinta ………………”

Saat Tyo asyik menjawab pertanyaannya, Astrin menyebut salah satu nama sembari melihat seseorang yang berdiri didekat pintu kamarnya. ” Zain!”

Gio dan Tyo langsung melihat Zain. ” Kamu belum tidur, Zain?” tanya Gio membuka sapaan.

Zain langsung duduk di depan Gio dan membuka pembicaraan ” Aku ndak bisa tidur. Sepertinya ado yang aku harus katakan.”

Mereka bersiap mendengarkan penjelasan Zain. ” Sebenarnya………..”. Mereka terus menunggu ucapannya hingga sesuatu tidak terduga mereka dengar. ” …..Aku suka sama Gio.”

Gio, Tyo dan Astrin terkejut dengan pengakuannya. Gio pun mulai mendalami ucapannya. ” Maksudnya, kamu menyukaiku. Kenapa?”

” Karena kamu terlihat cantik di mataku. Aku tidak bisa membohongi perasaan ini. Sejak aku mendengar curhat Aji, Tyo, Dimas dan Astrin, aku punya keyakinan kalau cinta harus diperjuangkan. Memang, aku seperti ini sejak dikeluarkan dari organisasi KMFT.

Aku merasa hidupku tidak berharga pada saat itu. Namun semua berubah saat aku menemukan seorang teman yang sangat peduli dan selalu memberi nasihat untukku, yaitu Gio. Bahkan saat aku terpuruk sekalipun, ia tetap membantuku keluar dari kemelut pikiran yang menghantuiku.

Semakin berjalannya waktu, aku semakin menemukan rasa padamu. Sayangnya, agamaku menghalanginya. Aku bimbang, akankah mengikuti kata hatiku meski harus agnostik atau aku akan mengikuti agamaku meski harus mengorbankan perasaan ini. Apalagi, kamu adalah takdirku!”

Gio berurai air mata. Bangga dengan pengakuan jantannya. Zain ikut berurai air mata. Dalam suasana mendung hujan yang menyelimuti hati mereka, Gio langsung mengecup bibirnya Zain. Meresapi rasa yang akan ia beri. Zain langsung membalas kecupan Gio dengan tenang.

5 menit berlalu sementara Astrin dan Tyo terus mengamati mereka, mendadak Gio melepas kausnya dan kaus Zain lalu melanjutkan kecupan manis yang saling beri. 1 menit berlalu, Gio menyampaikan sesuatu pada Astrin.

” Astrin, kalo gak keberatan, boleh aku pakai kamarmu?”.

Astrin yang mengetahui maksud Gio tersebut akhirnya mengizinkan. Tiba-tiba, Gio melepas celana pendek dan celana dalamnya Zain hingga ia menutup kemaluannya. Gio ikut melepas celana pendek sekaligus celana dalamnya. Ya! Gio dan Zain telanjang. Tidak ada yang menutupi mereka kecuali mereka saling berpelukan. Tyo dan Astrin cukup terkejut.

” Trin, kayaknya kita keluar kamar deh. Gak enak gangguin mereka.”

Astrin dan Tyo keluar kamar. Saat menuju dapur, mereka terkejut ketika melihat Defri dan Warno sedang bercumbu. Mereka langsung hentikan cumbuannya setelah Astrin dan Tyo melihat mereka. Dan pengakuan mengejutkan keluar dari mulut Defri.

” Tyo, Astrin, maafkan kami. Aku dan Warno sebenarnya sudah saling mencintai. Tapi kami rahasiakan ini karena aku tidak mau ini jadi aib bagi angkatan 09 ini.”

Tyo langsung memberi komentar. ” Kamu gak perlu bicara. Kami semua sudah tahu.”

” Yakin?” tanya Defri pada Tyo hingga anggukan kepalanya meyakinkan dirinya. Defri lalu bertanya balik pada Tyo dan Astrin. ” Lalu, kenapa kalian ada disini?”

Astrin lalu menjawabnya.

” Aku sama Tyo mau tidur di tempat lain. Soalnya kamarku lagi dipakai Zain dan Gio untuk making love.”

Defri dan Warno terkejut. Mereka tidak sangka bila Gio dan Zain melakukan hal seperti itu. Ketika akan menuju kamarnya, Astrin dan Tyo melarangnya. Defri dan Warno pun mematuhi larangan itu. Mereka lalu melanjutkan kegiatan yang tertunda. Astrin dan Tyo pindah ke ruang tamu. Disana, Astrin lanjutkan obrolan kembali.

” Tyo, kamu kan masih ada hutang penjelasan sama gue. Gue nunggu nih!”

Tyo mencoba ingat tentang penjelasan yang ia katakan. Ia pun mulai merangkai kata demi memuaskan hati Astrin.

” OK! Ketika cinta terhalang aturan-aturan yang menghambat ekspresi rasa yang kita miliki, kelak ia akan menjadi racun yang sangat mematikan. Maksudnya, bilakamu memiliki cinta, maka ungkapkanlah dan abaikan segala aturan yang membuatmu tidak bisa mengungkapkannya. Bila kamu menahan perasaan itu, sama saja kamu menyimpan rasa sakit selamanya. Padahal, rasa sakit itu harus segera diobati. Salah satu cara mengobati rasa sakit pada perasaan ini adalah dengan mengungkapkan rasa yang selama ini kamu simpan.”

Astrin yang menganggukan kepala mulai menyatakan sesuatu. ” Tyo, kalau gak keberatan, kamu mau nggak ciumin bibir gue?”

Tyo terkejut lalu bertanya pada Astrin. ” Aduhhh….! gimana ya? Gue gak bisa, Trin. Itu kan haknya Daniel. Gue gak mau ambil risiko itu.”

Meski Tyo menolak dengan halus, tapi Astrin tetap memaksanya. Tyo pun menuruti keinginannya. Perlahan, Tyo mengecup bibir indahnya. Astrin sangat menikmati sajian itu meski ia tahu, hanya Daniel yang berhak melakukannya. Namun ini hanya sebuah latihan.

Kecupan Tyo pada Astrin memberi sebuah rasa yang kelak akan mereka hadapi di waktu nanti. Beruntung, rumah yang terasa damai dan indah memberi semangat pada mereka akan kekuatan rasa sesungguhnya.

Mereka pun menyukainya.

Hingga semuanya…………..

Terjadi……………………….

***

” Tyo, hari ini gue sama teman gue mau liburan ke Ketep. Lo ikut ya! Lo boleh ajak teman lo!”

Ucapan Kamal pada Tyo menjadi pembuka hadiah yang sangat menakjubkan. Menjelang liburan semester 2 ini, banyak kejutan yang sudah Tyo rasakan. Yang paling mengejutkan, semua mata kuliah yang dia ambil mendapat nilai A. begitupun dengan Dimas. Rasa syukur tidak berhenti mengalir dari bibir indahnya.

Ketika Kamal mengutarakan keinginannya, Tyo sangat menyambutnya laksana menyambut tamu kehormatan yang sangat dinantikan. Rasa senang mulai terpancar dari perasaannya. Dimas yang melihatnya pun lalu mulai bertanya padanya. Tyo pun menerima izinnya Dimas meski dengan syarat, ia harus ikut. Perlahan, dekapan dan kecupan mengalir bebas di tubuhnya.

***

” Tyo. Aku ingin menikmatimu lagi!”

” Iya! Aku juga mau!”

Bersambung