Yang Pertama Dan Terakhir Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Yang Pertama Dan Terakhir Part 1

” Nak, Mama, Dina dan Haris balik ke Jakarta ya. Kamu hati-hati disini.”

Untaian kalimat yang keluar dari bibir indah wanita paruh baya tersebut menjadi awal pembuka sebuah petualangan yang akan dihadapi seorang pria muda ini. Petualangan yang akan menghamparkan sebuah takdir yang tidak akan pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan kipas angin pun bersahutan pelan dengannya.

Seolah menunjukan sesuatu yang akan ia alami. Entah besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan…….

Atau bahkan ekawindu depan……….

Entahlah!

Wanita paruh baya itu beranjak dari kamar baru yang ditempati pria ini. Saat meninggalkan kamar, aroma mawar putih memanggilnya untuk mendampingi wanita yang merupakan seorang ibu dari pria muda ini. Ia beranjak dari kursi lalu mengambil kunci kamar yang terletak di atas buku yang bertuliskan nama Bimatama Prasetyo.

Ya! Ialah pemilik nama tersebut. Nama yang akan menunjukan cahaya dengan berjuta rasa dan kisah yang terus mengitari kehidupannya.

Wanita tersebut berjalan kaki meninggalkan Tyo, panggilannya. Meninggalkan kehangatan yang selalu ia rasakan saat ia tinggal di Bekasi. Dan pada akhirnya, ia harus melepasnya demi tujuan mulia yang ingin dia raih. Menjadi sarjana terkait dunia kuliner.

Dan ia mulai membuka pintu ketidakpastian. Perlahan, angin sore menyambut dan memberi semangat tiada henti agar bisa memberikan yang terbaik bagi sejarahnya.

Sejarah kehidupan mulai memasuki babak baru. Senyumannya memberi pesona pada situasi yang kelak akan ia hadapi nanti.

***

Tyo berjalan melewati tempat parkiran motor. Lalu menembus kolam ikan yang tidak terpakai. Suasana tahun 80’an membayangi setiap sisi tempat kos ini. Arsitektur, Suasana hingga Aroma memberi dalih yang sangat kuat. Setidaknya Tyo tidak ingin bentuk pertemanan dan wujud fisiknya seperti tahun itu.

Saat Tyo membuka pintu, ada yang menyapanya. ” Hei, kayaknya saya baru lihat kamu.”

Tyo berbalik menghadap pria yang memanggilnya. ” Namamu siapa?”

” Tyo, Bimatama Prasetyo. Panggil aja Tyo. Kamu?”

” Hafiz, Ahmad Hafiz Siddiq. Panggilanku Hafiz.” Lambaian tanggannya mengajak Tyo kepada sesuatu . ” Ayo sini duduk dulu.”

Tyo diajak Hafiz untuk duduk di ruang tamu kosan. Seperti merasakan angin pantai yang hangat, Hafiz membuka obrolan santai. Hafiz berasal dari Batu, kota yang terkenal dengan buah apel. Selain itu, dia anak Kimia 2009. Satu fakultas dengan Tyo namun berbeda jurusan.

Hafiz banyak bercerita tentang pengalaman pertamanya menapaki kota yang oleh banyak orang dijuluki kota pendidikan dan kota budaya ini. Tyo ikut bercerita tentang pengalamannya saat bersentuhan dengan suasana kota yang ia tinggali saat ini. Suasana semakin cair saat mereka saling bercerita tentang ospek yang mereka lakukan.

Meski dalam satu universitas, mereka tidak terlalu banyak mengenal teman-teman baru. Bagi mereka, obrolan itu menjadi obat penawar atas kepenatan yang menghujam mereka saat ospek fakultas yang berakhir jam 2 siang tadi.

Tidak terasa, waktu Maghrib menyapa mereka. Hafiz hentikan obrolan sejenak dan minta izin untuk shalat yang direspon dengan senyuman halusnya. Berjalan secepat angin puting beliung, Hafiz menuju kamar mandi untuk berwudhu dan dilanjutkan shalat. 5 menit berjalan tanpa pemberitahuan, Hafiz menemui Tyo yang sedang membaca surat kabar. Ia menawarkan sesuatu.

” Tyo. Mau nitip makanan ndak?”

Tyo langsung menaruh surat kabar disampingnya. ” Boleh!” ucap Tyo dengan wajah sumringah. ” Aku pesen nasi telur ya!”.

***

Rasa kenyang mulai mendekap Tyo dan Hafiz. Nasi telur telah membuai alam pikiran mereka dengan sangat jauh. Sejauh hembusan angin pantai pelan. Tyo beranjak dari kamar Hafiz dengan senang. ” Fiz, makasih atas makanannya ya!”

” Iya.” ucap Hafiz sembari beranjak menuju depan kamarnya.

***

Mentari menyapa Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dengan membawa harapan. Harapan akan bertemu orang-orang baru dan takdir kehidupan yang lebih baik. Sinar matahari tidak dapat menembus kamar Tyo. Hanya alarm HP-nya yang dapat membangunkannya dari dekapan aroma malam.

Tanpa berpikir lama, Tyo menuju meja belajar hingga kitab Yohanes 15: 13 menjadi pembuka atas harapan baiknya. Perlahan, senyuman terangkai indah. Seindah bunga mawar yang mekar di pagi hari.

Langkah menuju luar kamarnya ia lalui dengan nyaman hingga ia bertemu Hafiz yang ikut beranjak dari kamarnya.

” Fiz, Mau kemana?”

” Mau ke tempat temenku e.”

” OK, hati-hati yo.”. Senyum hangatnya melintas dengan anggun. Pandangan Hafiz seperti menemukan permata yang sangat indah hingga teguran Tyo membuyarkan pesona itu. ” Fiz, kamu ndak apa-apa?”

” Iya..iya!. Aku duluan yo”. Hafiz langsung meninggalkan Tyo yang akan segera pergi untuk jalan-jalan.

***

Tyo berjalan kaki menyusuri jalan yang ia tapaki. Ia berencana menuju kampusnya yang kelak akan menjadi dermaga awalnya dalam menuntut ilmu. Sebenarnya, bisa saja baginya untuk meminta motor atau sepeda sebagai kendaraan utama, namun tidak ia lakukan.

Menurutnya, berjalan kaki membuat kita selalu sehat. Alasannya, tubuh dipacu untuk banyak beraktivitas agar lemak-lemak di dalam tubuh dapat terurai sempurna dan tidak gemuk. Bila terus kujelaskan, aku seperti memberi kuliah Biokimia, dong!.

Meski begitu, aku bersyukur, bisa merasakan keindahan ilmu pengetahuan meski penuh rahasia namun dapat membuatku terpukau. Mungkin Tyo ikut merasakannya.

Tapak demi tapak ia susuri. Ia merasa berada di kota antah berantah. Indah, namun misterius. Dimulai dengan melewati beberapa rumah yang dialihfungsikan sebagai tempat kos-kosan; jalan disamping TPU atau kuburan; masjid besar; deretan ruko-ruko kecil yang digunakan masyarakat sekitar sebagai tempat menggantungkan hidupnya hingga sampai di sebuah perempatan jalan besar dengan jalan kecil.

Tepat di depan warung kelontong yang terletak di pinggir jalan, Cinta Pertama dan Terakhir, lagu yang dinyanykan Sherina Munaf ini keluar dari radio kecil bersuara keras sepertimenuntunnya dalam keindahan sanubari hingga membawanya kepada situasi galau berat. Seperti tangan yang memeluk sanubari, ia merasa lagu ini ditujukan kepada sesuatu yang dipijaki.

“Apakah mungkin itu adalah Jogja? Atau tempat asalku? Biarlah itu adanya.”.

Tyo sampai di perempatan jalan dan lanjut menyusuri jalan yang bersebelahan dengan sebuah kali. Menurut masyarakat sekitar, kali ini menjadi saksi bisu atas pengorbanan seorang pemimpin yang mau berkorban menghadapi tentara Jepang yang ingin mengambil penduduk setempat untuk dijadikan pekerja paksa/romusha.

Sejarahnya, Sultan pernah memberikan laporan palsu kepada penjajah Jepang tentang produksi beras yang rendah di daerah tersebut dan memberi saran dengan membangun saluran irigasi yang menghubungkan Kali Progo dengan Kali Opak.

Akhirnya pihak Jepang menyetujui dan membangun saluran irigasi yang kelak bermanfaat bagi petani dan masyarakat sekitar kali tersebut di masa depan. Salah satu faktor utamanya adalah petuah leluhur yang mengatakan bahwa Jogja akan maju bila Sungai Opak dihubungkan dengan Sungai Progo hingga kenyataan itu terjadi.

Gedung kampus sudah tepat di depan matanya. Menjulang tinggi namun tetap merendah hati. seperti karakter Jogja. Aroma buku dan klorofil mulai memanggilnya dengan indah. Celah pagar ia lewati. Suasana kampus ia amati. Jalan menuju pintu utama ia tapaki sedikit demi sedikit. Tiba-tiba teriakan satpam memecah rasa penasarannya terkait suasana kampus saat libur akhir pekan.

” Mas, maaf. Panjenengan ndak boleh masuk dengan memakai kaus oblong!”. Satpam itu berlari menghampiriku seperti sedang mengejar penjahat yang sangat berbahaya. Dan ia tiba tepat di hadapannya dengan ekspresi sedingin es batu yang ditaruh di kutub utara.

” Nyuwun Pangapunten, pak. Saya tidak tahu kalau disini tidak boleh memakai kaus oblong walaupun hari libur.”. Tyo bungkukan badannya. Persis seperti orang Jepang. Perlahan, es batu mulai mencair dengan sendirinya hingga airnya membasahi sekitarnya dengan pelan.

” Yo wes, rapopo. Setiap kesini harus memakai pakaian yang sopan dan rapi meski bukan hari kerja.”

Tyo langsung arahkan tatapannya kepada nama yang tertera pada seragam yang dikenakan pria paruh baya berbadan tegap tersebut. ” Baiklah. Pak Paryono bukan?”. Dalam benak awalnya, ia agak ragu untuk berbasa-basi. Namun, ia berusaha cairkan kekakuan ini dengan cepat.

” Ya, nama saya Pak Paryono. Pasti tahu dari tulisan yang tertera disini”. Pak Paryono langsung menunjuk nama yang tertera di seragam. ” Kalau panjenengan?”

” Tyo, Pak. Mahasiswa baru disini. ”

” Yo wes, Mas Tyo. Lain kali jangan lupa yo!”

” OK pak”. Tyo acungkan ibu jarinya sebagai pertanda akan memenuhi nasihatnya. Perlahan, senyum terlepas dari sangkarnya setelah dinginnya es batu memudar total hingga ia menyalami pria yang sudah 25 tahun bekerja di lingkungan kampusnya. ” Kalau gitu saya pamit dulu yo pak.”

” Yo, hati hati!”.

Lambaian tangannya seperti obat penawar atas kekhawatiran yang Tyo alami, terutama saat berhadapan dengan orang-orang baru.

Tyo menuju tempat kosnya dengan menyusuri jalan yang sama. Sepanjang jalan, rasa tidak sabarnya untuk bertemu teman-teman baru sudah menghiasi alam pikirannya dengan dalam. Ayo, Tyo. Tahan rasa itu dulu. Senin nanti, kan kamu bisa ketemu mereka.

***

Naungan siesta atau tidur siang membuai sangat indah. Ditambah semilir angin dari kipas angin ikut mewarnainya. Hingga pada saatnya, alarm HP dapat mengalahkan pesona siesta yang membuainya. Geliat tubuhnya menjadi penanda memulai masa baru meski matahari akan segera menuju tempat istirahatnya.

Ia lalu keluar dari kamarnya. Betapa kagetnya saat mengetahui ada penghuni baru di kamar sebelahnya. Di dalam terlihat Hafiz dan beberapa orang membantunya.Tyo hanya melihat dan bersandar di depan pintu.

Tiba-tiba Hafiz menyapanya sebelum Tyo menyapa mereka. ” Tyo, baru bangun?”

” Iya” Tyo langsung kucek matanya hingga membuat yang lain tersenyum senang. ” Ada tetanga baru nih!” ucap Tyo dengan nada becanda.

” Eh…Iya!”. Hafiz tersentak lalu menarik tangan seorang cowok muda dan mengenalkan kepadanya. ” Ini Sultan, teman SMA-ku. Dia tetangga kamarmu sekarang.”

Tyo berkenalan dengan Sultan. Selain itu, Hafiz mengenalkan teman-temannya. Mereka adalah teman-teman satu jurusan dengannya. Yudha, Restu, Mahmud, Alif, Harry dan Iwan; itulah nama-nama mereka.

Ada yang janggal saat berkenalan, yaitu pandangan yang terlihat tidak biasa. Entah Tyo bisa membaca ekspresi wajah mereka atau kecurigaan tanpa dasar, namun feelingseperti menemukan bentuknya.Mereka terus menguntai senyum.

Mungkin mereka merahasiakan apa yang mereka rasakan. Untaian senyum mereka pudar total saat ada yang menyapa Hafiz. Hafiz, Tyo dan teman-temannya berkenalan dengan penghuni lama kosan yang mereka tempati. Dimulai dari Ari, Damar, Yoga dan Panca. Sebenarnya, masih ada satu penghuni lagi, yaitu Genta.

Sayangnya, Ari menjelaskan kalau dia sibuk kuliah dan sedang fokus pada skripsi yang ia lakukan. Saat berkenalan dengan Tyo, mereka tertegun kagum seperti melihat sesuatu yang sangat berharga.

Hafiz langsung memberi usulan. ” Gimana kalau kita buka bareng!”. Tawaran Hafiz langsung disetujui semua yang ada di kosan tersebut.

***

Tyo dan teman-teman kosnya telah menikmati sajian buka puasa di Ambarukmo Plaza. Bagi Tyo, ini adalah makan malam pertama di bulan yang sangat dihormati umat Islam. Tentunya, obrolan menjadi selingan pengantar hingga saat santap.

Mulai dari pertemuan mereka, kenangan saat Ospek hingga masalah pribadi bisa menjadi materi obrolan yang sangat lezat, melebihi makanan yang sudah mereka santap. Sayangnya, ada keganjilan yang ia temui, yaitu cara mereka menatap Tyo. Seperti menatap seseorang yang memiliki paras rupawan.

Tyo mulai membuka keganjilan melalui pertanyaannya. ” Teman-teman. Emang ada yang salah dengan penampilanku?”

Mereka saling berpandangan. Seperti menyembunyikan sesuatu. ” Ndak ada yang salah dengan penampilanmu, Tyo!” ucap Hafiz dengan santai. Hafiz mulai meminta pendapat teman-temannya. Yudha pun ikut berkomentar. ” Iya, ndak ada yang salah. Emang kenapa, Tyo?”

” Ndak ada apa apa. Cuman aku lihat tatapan teman-teman itu seperti tatapan menggoda ya!”. Tatapan Tyo seperti menantang untuk jujur terkait pikiran mereka.

Hafiz langsung memberi sanggahan meski Tyo masih menaruh rasa curiga. ” Ah….Mungkin perasaan kamu aja, Tyo.”. Hafiz mulai arahkan pandangan demi mencari dukungan dari teman-temannya Hingga bantuan Yudha datang padanya. ” Iya, Tyo. Hafiz, aku dan yang lainnya ndak ada apa-apa kok.”

” OK. Aku ndak curiga kok.” Tatapan Tyo menjadi penanda masih adanya rasa curiga dengan ucapan tersebut. Namun ia tidak perpanjang masalah.

***

Hari Senin, hari pertamanya menapaki dunia baru, dunia mahasiswa. Jam enam pagi, mentari menemani Tyo dalam menapaki jalan. Ya! Jalan menuju harapan. Harapan menuntut ilmu dan menemui teman-teman baru. Gudeg menjadi santapan penyemangat terindah hingga pendamping Tyo saat berjalan di lintasan harapan.

Di ruang kuliah, Tyo menemukan keramaian yang tidak ia rasakan sebelumnya. Seperti hutan yang dihuni berbagai macam makhluk hidup. Berhubung kuliah pertama diikuti mahasiswa yang seangkatan dengannya, Tyo dekati mereka demi membuka perkenalan itu.

Dari Medan hingga Jayapura, mereka bersatu dalam satu angkatan bersamanya, Angkatan 2009 S1 Pendidikan Tata Boga, program studi yang dipelajari hingga selesai mengenyam pendidikan S1.

Duduk melihat sekitar, itulah kegiatan pertama yang Tyo lakukan. Merasakan aura baru dan tentunya, suasana baru. Hingga sebuah tepukan membuka kesadaran Tyo yang sudah terbuai dalam pesona baru. Adalah seorang wanita berjilbab, meminta berkenalan dengannya. Namanya Safira. Ia berasal dari Muaralabuh.

Ia terlihat seperti muslimah sejati. Mungkin ia berpikir lebih baik tidak terlalu dekat dengannya karena satu alasan, bukan muhrim. Memang, sebagian besar cewek seangkatan banyak yang berjilbab sehingga perlu akrab dengan hati-hati.

Namun berbeda dengan Safira, ia bisa berbaur dengan yang lain. Sapaan teman-teman padanya menjadi bukti kuat. Terasa cair, namun indah dan mengena. Safira cerita padanya tentang teman-teman angkatan 2009 yang berasal dari seluruh indonesia.

Tiap 1 orang mewakili propinsi masing-masing, kecuali Aceh dan Papua Barat yang tidak ada perwakilannya dan DIY yang memiliki mahasiswa terbanyak. Ada 80 orang mahasiswa dalam angkatan 2009, termasuk Tyo yang mewakili Jawa Barat. Perempuan mendominasi jumlah mahasiswa di angkatannya.

Tyo cukup bangga dengan keunikan ini. Baginya, meski angkatannya hanya berjumlah kurang dari seratus orang, mereka memberi warna keunikan yang bisa saja hanya ia temukan di jurusannya. Selain itu, Safira cerita tentang pengalaman pertama saat tiba di Jogja hingga beban moral karena harus membuktikan eksistensinya lewat prestasi.

Mengingat ia satu-satunya perwakilan dari Sumatera Barat di program studi ini. Setidaknya, aku harus bisa ambil inspirasi demi semangatku.

Mata kuliah pertama adalah Ilmu Pangan dengan Pak Doni sebagai pengampu. Hal pertama yang beliau lakukan adalah memperkenalkan diri dan melakukan pemilihan penanggungjawab kelas sekaligus angkatan 2009.

Berdasarkan musyawarah kelas, Fajri ditunjuk sebagai penanggung jawab sekaligus ketua angkatan 2009 dan Eko sebagai wakil ketua mendampingi Fajri. Beliau meminta agar paper/makalah dikumpulkan terpusat kepada Fajri atau Eko.

Pak Doni mulai memanggil nama-nama yang hadir di kelas satu persatu. Setelah menyimak nama-nama yang dipanggil, ternyata Tyo tahu kalau hanya 20 orang cowok di angkatannya. Apalagi mata kuliah ini 100 persen berisi anak-anak 2009 dan ia ikut menghitung ulang hingga kebenaran jumlah tersebut terbukti sesuai daftar hadir.

Hari pertama kuliah diisi dengan pengenalan ilmu tersebut. Beliau melemparkan pertanyaan kepada mahasiswa yang hadir terkait definisi ilmu pangan. Tyo acungkan tangan dan ia jawab menurut yang ia pahami.

Setelah itu, seorang perempuan berjilbab yang kemudian ia kenal dengan nama Ratu menjawab dengan yang wanita itu pahami. Setelah 10 orang menjawab, beliau langsung menjelaskan definisi dasarnya. Cara pengajarannya sangat menarik hingga suasana tawa mewarnai perkuliahan ini.

Ketika kuliah pertama terasa ringan, tiba-tiba berubah saat masuk kuliah kedua. Apa lagi kalau bukan Matematika. Sepanjang sejarah mahasiswa Indonesia, kuliah matematika adalah momok paling menakutkan. Ditambah dengan hadirnya Pak Bayu, dosen yang terkenal killer dan pelit nilai. Suasana menjadi lebih kaku dan membosankan. Maklum saja, dia masih terlalu jadul dalam cara pandangnya.

Setelah terbebas dari zona menyeramkan tersebut, Fajri menahan mereka untuk sebuah pengumuman. Pertama, pengumpulan tugas Ilmu Pangan. Kedua, perkenalan satu persatu. Semua dipanggil dan diminta perkenalan dirinya.

Nama, asal daerah, alamat hingga nomor HP menjadi informasi wajib yang harus diucapkan. Tyo tulis semua informasi tersebut di catatannya sebagai bahan kontak. Setidaknya, ia bisa andalkan mereka bila ada urusan kuliah atau lainnya.

***

Suapan Nasi Uduk menemani Tyo yang sedang menikmati suasana rumah makan yang sengaja ditutup. Kesendirian yang menjadi teman utama mendadak pupus saat datang orang yang sudah ia kenal, Ratu dengan membawa 4 cowok yang tidak ia kenal.

” Ratu, kamu ndak puasa?” .

Dagu Tyo yang tertopang tangannya menjadi penanda ada yang tidak lazim dengan wanita ini.

Pandangan Ratu seperti mendelik padanya dan pria itu. ” Aku lagi halangan.”

” Halangan?”. Kebingungan melingkari pikirannya. Ia berharap Ratu jelaskan lebih nyata. Karena dalam agamanya, haram bila makan di siang hari. Pernyataan itu yang ia yakini meski tidak seagama dengannya.

” Iya. Kondisi ketika seorang perempuan mengalami haid atau istilah lainnya “dapet”. Umumnya, perempuan selalu alami ini. Dalam agama kami, jika ada kondisi seperti ini, dilarang berpuasa.”.

Penjelasan Ratu akhirnya membuatnya yakin.

Dalam benak terdalam, ia masih ragu. Namun ia sadar, ia tidak menganut agamanya. Dan Ratu mulai membuka topik lain.

” Tyo, masih ingat mereka kan?” tanya Ratu sembari menunjuk 4 cowok itu.

Tyo berada dalam posisi antara ingat atau tidak ingat. Mereka langsung memperkenalkan diri. Pertama, Daniel, cowok Medan ini memiliki nama lengkap Claudius Daniel Darmaputrajaya. Kedua, Gio, cowok Jakarta Timur ini bernama lengkapAloysius Giovanni Panji Widyajaya Putratama. Ketiga, Damar, cowok Jogja ini bernama lengkap Alfonsus Damarwangi Priatama. Keempat, Aji, cowok Surabaya ini bernama lengkap Gregorius Damian Ajisaka Purwanto.

Saat melihat mereka, ada kesamaan yang terekam. Mereka terlihat seperti perpaduan orang Tionghoa dengan Indo Eropa. Bahkan, mutiara kalah bersinar dalam memancarkan pesonanya. Namun, Tyo sadar, ia tidak boleh menyatakannya. Dari keempat orang itu, yang terlihat sangat Indo hanya Aji.

Santapan makanan sudah mereka dapatkan. Dan tentunya, obrolan menjadi pendamping utama. Mulai dari kuliah pertama hingga asal daerah. Ratu juga ikut memeriahkan obrolan ini. Tiba-tiba pertanyaan Gio seperti membuka pintu terkecil dalam kehidupanku.

” Tyo, Bekasinya dimana?”

” Aku di Rawalumbu. Kamu?”

” Aku di Pinang Ranti.”

” Ndak jauh dari Taman Mini dong?”

” Iya. Kapan-kapan, main ke tempatku dong! Aku seneng banget kalo ada temen baru.” rayu Gio dengan semangat hingga acungan ibu jari menandai janji yang harus ia tepati.

Tiba-tiba, Ratu menyela pembicaraan. ” Cieee…..sepertinya, Gio mau akrab sama Tyo nih!”

” Iya dong! Sekali-kali akrab. Kan satu daerah ini.” tanggap Gio santai hingga seporsi Nasi Uduk habis secepat angin puting beliung.

Tiba-tiba, Damar melihat pesan SMS hingga memberitahu kepada yang lain. ” Teman-teman, Besok ada pertemuan pertama IKMK, kamu ada waktu luang ndak?”

Tyo dan teman-temannya tidak ada waktu sibuk sehingga sanggup untuk hadir. Tiba-tiba Gio bertanya pada Ratu. ” Ratu, mau ikut gak?”

Ratu langsung tanggapi ajakan dengan satu kata. ” Ndak!”.

” Besok kumpul dimana, Gio?” tanya Daniel penasaran.

” Di Ruang Auditorium Universitas, Gedung Rektorat lantai 3.”

Aji langsung memantik api semangat yang tidak diduga. ” AYO!! Sampai jumpa di Audit!”

Daniel seperti mematahkan pemantik api atas ucapan Aji. ” Ji. Harusnya sampai jumpa di kuliah Ilgiz! Besok kan cuman mata kuliah itu aja.”

” Iya, nih. Langsung main ke audit dulu. Kuliah dulu dong!” sanggah Ratu dengan semangat hingga suasana tawa memenuhi seisi ruangan rumah makan yang sengaja tidak dibuka lebar.

Mereka beranjak dari rumah makan setelah menikmati sajian makan siang yang diselingi canda tawa yang indah. Tyo diantar Gio ke kosannya. Di atas motor Gio, Benak Tyo memberi petunjuk tidak enak hati seperti kerupuk yang termuai udara. Di perjalanan, Gio cerita kalau ia ngekos di Karangbendo.

Begitu juga Daniel, Damar dan Aji. Setelah sampai di kosan, Tyo berterima kasih pada Gio. Gio langsung meninggalkannya secepat angin puting beliung. Saat berjalan menuju kamar, tanpa melihat jalan, ia hampir menabrak laki-laki yang sedang lewat .

” Maaf, saya tak sengaja menabrak masnya.”. Tyo menyesal akibat rasa tergesa-gesanya.

” Tidak apa-apa.” Pria itu bicara santai seperti tidak ada rasa kesal hingga sebuah pertanyaan dugaan keluar ringan seperti angin yang sangat lembut. ” Kamu yang tinggal di kamar kos ujung ya.”

” Iya.”

” Boleh kenalan, namamu siapa?”

” Tyo, masnya siapa?”

” Genta, Genta Mardika Widyatama.”

Tyo dan Genta saling berjabat tangan. Pertanyaan Tyo menjadi pembuka awal persahabatan yang akan ia jalin selama di kosannya. ” Mas Genta tinggal di kamar yang mana?”

” Saya tinggal di kamar itu.” ucap Genta sambil menunjukan kamarnya, di sebelah pintu masuk menuju kamar kos di dalamnya. Tanpa ada rasa curiga, Tyo ditawari olehnya sesuatu yang tidak ia duga. ” Kalau gitu ayo masuk ke kamarku.”.

“Terima Kasih.”

Setelah menaruh tas di kamarnya, Tyo bergegas ke kamar Genta. Betapa terkejut saat melihat banyaknya foto-foto yang ia pajang di dekat pintu masuk kamarnya. Ketakjuban terasa kental saat melihat aura fotonya yang selalu terlihat cerah hingga ia melihat foto bersama yang dilakukan Genta pada masa SMA.

Aura wajahnya seperti untai mutiara bening bersilauan kaca dalam kerang bertembus pandang bersirat emas. Tyo seperti melayang dalam pesona tanpa batas. Mengalun tenang, namun indah . Tepukan bahunya seperti pematah aliran pesona indah yang ia rasakandemi menuju dunia nyata yang ia pijaki.

” Lagi apa?”

Tyo yang menuai kejutan langsung memberi jawaban.

” A…Aku lagi lihat foto ini.” Tyo langsung tunjukan foto yang ia lihat.

Akhirnya Genta menceritakan tentang foto itu dengan perasaan yang cukup berat seperti membawa beban 20 kg. ” Foto itu adalah foto kesukaanku. Dalam foto itu, aku bersama teman-teman SMA-ku. Di sebelahku ada sahabat yang kusayangi. Dia orang yang sangat baik. Namun sayang…….”

Tiba-tiba Genta ditelepon temannya untuk berkumpul terkait menyelesaikan tugas kelompok. Genta tundukan kepala, seperti ada rasa tidak enak saat harus ucapkan yang sebenarnya.

” Oh…Iya, aku ada tugas makalah di kampus. Kalau begitu kita sama-sama keluar ya.”

“Ya sudah, aku juga mau ke kamarku.” ucap Tyo seperti kapas yang diterbangkan dengan sangat lembut. “Mas Genta hati-hati ya”.

” OK, hati-hati juga buatmu!” ucap Gentabeserta simpul senyum sangat indah diberikan sebagai ucapan terima kasih. Meski Tyo tidak tahu atas kelanjutan ceritanya, ia yakin. Sepandai-pandainya menyimpan wewangian, ia akan tercium meski berjarak sangat jauh.

Bersambung