Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Mendung Lagi

Trias tiba di depan kamar jenazah RS Hasan Sadikin. Dilihatnya Suzie sedang duduk di deretan bangku besi bersama seorang teman wanitanya. Perempuan seksi itu langsung bangkit dan memburu ke arah kedatangan Trias. Tanpa ragu, Suzie memeluk erat tubuh Trias.

“Sabar ya, Dul…” bisiknya. “Semua udah ada yang mengatur.”

Trias mengangguk. “Aku mau lihat Nika, Zie.”

Suzie melepaskan pelukannya. Lalu menatap Rida. Yang ditatap hanya mengangguk. Suzie kembali menghadapi Trias.

“Tapi kamu harus janji,” ujarnya. “Jangan histeris di dalam.”

“Takut jenazah yang lain bangun lagi, ya?” Trias berusaha bercanda. Namun nada bicara yang datar menjelaskan betapa canda tersebut hanyalah usahanya menyembunyikan kesedihan. Dan usaha itu jelas gagal.

Suzie sama sekali tak menanggapi kata-kata Trias. Ia menggamit lengan kiri Trias, lalu mengajak lelaki pesepeda itu memasuki kamar jenazah. Tampak sesosok tubuh yang terbaring ditutupi kain putih. Perlahan, Trias menyingkap kain putih yang menutupi bagian kepala jenazah itu.

Trias nyaris tidak menemukan luka di wajah Nika, kecuali sekadar baret. Ia menatap wajah manis itu dengan heran.

“Kepala belakangnya membentur telak aspal jalan, Dul,” jelas Suzie, seolah memahami keheranan Trias. “Mungkin itu yang bikin Nika tewas seketika.”

“Seketika, Zie?” tanya Trias.

Suzie mengangguk.

Trias menatap lembut wajah Nika, seolah wanita itu sedang tertidur nyenyak. Tatapan lembut yang selalu ia berikan saat menemani Nika hingga tidur di ranjang kamar kost-nya. Tatapan penuh kasih dan sayang, yang dipastikan tidak akan pernah ia berikan lagi.

“Aku sayang kamu, Nika…”

Perlahan dikecupnya kening Nika. Terasa dingin, karena nyawa yang sedianya menghangati tubuh, kini telah pergi. Sekuat tenaga ditahannya air mata agar tak sampai jatuh menerpa raga Nika. Trias tak mau hal tersebut akan menghalangi jalan gadis manisnya menuju alam baka.

“Kita keluar,” ucap Trias.

Suzie dan Trias kembali keluar, lalu duduk di bangku besi, bergabung dengan Rida.

“Mungkin ini jawaban dari ucapan-ucapan ganjil Nika beberapa hari terakhir,” gumam Trias. “Mungkin ucapan-ucapan itu adalah pertanda. Sayangnya, aku nggak mengerti. Aku nggak sadar. Aku nggak sempat minta maaf.”

Suzie mengangguk. “Kemarin, Nika juga minta aku berjanji satu hal. Aku… aku nggak menyangka…”

Wanita bertubuh sintal itu tak kuasa meneruskan kalimatnya. Terdesak oleh air mata yang mengalir deras, seiring kesedihan akibat kehilangan sahabat baru.

Rida mencoba meredakan tangis Suzie, dengan merangkul pundak rekan sekampusnya itu. Sejujurnya, ia merasa serba salah, tak tahu harus berbuat apa. Rida tak pernah mengira akan terjebak di tengah suasana sentimentil seperti ini. Dan ia yakin, situasi ini masih akan berlangsung hingga berjam-jam dari sekarang.

Orang tua Nika belum muncul, batin Rida. Kalau beliau-beliau itu muncul, pasti banjir air mata lagi.

Rida ingin pulang saja, demi menghindari adegan-adegan pilu yang sedang dan akan berlangsung itu. Namun, ia tahu pasti, Suzie membutuhkannya.

Tak lama, Jan dan Anna datang dengan berlari-lari kecil. Anna segera berpelukan dan menangis bersama Suzie, sementara Jan langsung mendekap erat Trias.

“Tabah, Lur…” bisiknya. “Ini yang terbaik buat semuanya.”

Trias tak menjawab sepatah kata pun. Ia bahkan tak membalas dekapan sang kakak sepupu. Ia hanya mengangguk sekilas, dalam gerakan yang nyaris tak terlihat.

Lalu giliran Anna yang memeluk erat Trias. Masih sambil menangis.

“Sabar ya, Trias Sayang…” lirihnya. “Ini udah takdir-Nya. Yang kuat…”

Kembali, Trias tak menjawab ucapan Anna, juga tak membalas pelukan iparnya. Ia hanya mengangguk pelan.

Setelah Anna melepaskan pelukannya, Trias menatap semua rekannya bergantian.

“Aku minta waktu untuk sendiri,” ucapnya.

Keempat rekannya mengangguk serempak, dan bersiap meninggalkan tempat itu.

“Biar aku yang pergi,” cegah Trias. “Kalian tunggu di sini, mungkin sebentar lagi orang tua Nika datang.”

Tiba-tiba Trias teringat ucapan Nika tadi malam,

“Kalau besok bisa, Trias. Ibu dan Bapak mau ke Bandung.”

Dan ya, hari ini, kedua orang tua Nika memang hadir di Bandung. Sayangnya, dalam momen penuh duka, bukan canda tawa.

***

Ketika Trias kembali empat puluh menit kemudian, di depan pintu kamar jenazah telah berada tiga orang berbeda. Sepasang suami-istri berusia separuh baya, mungkin adalah orang tua Nika. Sementara seorang pemuda, entah siapa.

Adik Nika, gitu? batin Trias bertanya-tanya. Dia nggak pernah cerita banyak soal keluarganya.

Trias pun menghampiri mereka.

Sekilas Trias mendengar pemuda itu berkata, “Saya teledor, melanggar lampu merah. Saya minta maaf.”

Jadi, ini orang yang menabrak Nika, simpul Trias di dalam hati.

Dan kesimpulan tersebut membuat tangan kirinya spontan menarik kerah belakang jaket merah pemuda itu, hingga orang tersebut terkejut, lalu menoleh ke arah Trias. Belum sempat pemuda itu berpikir dan bereaksi, kepalan tangan kanan Trias telah bersarang di wajahnya.

Seruan mencegah pun terdengar serempak dari setiap orang yang berada di sekitar. Namun hal tersebut tak cukup menghentikan aksi Trias, yang melanjutkannya dengan mendaratkan tiga pukulan tambahan di titik yang sama. Sang korban terlihat tidak berusaha melawan atau menangkis, mungkin menyadari kesalahan fatalnya.

“Jangan pernah berlalu lintas, kalau nggak bisa menghargai pesepeda!” telunjuk tangan kanan Trias menyentuh kasar kening sang pemuda.

Jan adalah orang pertama yang bereaksi dengan menarik kencang tubuh Trias, menjauhi pemuda itu. Sementara sang pemuda berjongkok sambil memegangi wajahnya yang pegal.

“Apa-apaan kamu?” hardik Jan dengan suara pelan.

Trias mengangkat wajah, menatap Jan dengan pandangan menantang. “Iseng, Kang.”

“Iseng?” Jan melotot. “Memukuli orang, kamu bilang iseng?”

“Orang itu iseng menerobos lampu merah,” tandas Trias. “Dan keisengannya bikin nyawa Nika hilang.”

“Tapi ada hukum yang berlaku, Dul,” ujar Jan. “Kamu nggak boleh main pukul seperti itu. Apalagi, dia punya itikad untuk bertanggungjawab.”

Trias menyunggingkan senyum sinis. “Kamu nggak akan mengerti, gimana rasanya ditinggalkan seseorang yang kamu sayangi, Kang…”

Jan langsung kehabisan kata-kata. Lidahnya mendadak kelu. Ucapan Trias, memang benar adanya. So, yang bisa dilakukannya hanyalah memegangi tubuh Trias erat-erat, mencegah sang sepupu kembali menyerang si penabrak Nika.

Beruntung, Anna menghampiri Jan dan Trias. Dijawilnya pundak sang suami.

“Aku mau bicara sama Trias,” ucapnya.

Jan pun melepaskan pegangannya di tubuh Trias yang berdiri tegang. Sekilas, ditepukinya pundak kiri sang adik sepupu, seolah berusaha memberikan kekuatan bagi Trias untuk menghadapi semua ini.

Anna menarik tangan kiri Trias, mengajak sang ipar untuk sedikit menjauh dari area kamar jenazah. Dimintanya Trias untuk duduk di lantai koridor. Ia sendiri kemudian duduk di sebelah kanan Trias.

“Trias…” gumam Anna. “Nggak ada yang rela Nika pergi. Termasuk aku, Jan, bahkan Suzie. Kita semua sayang sama Nika. Tapi, biar gimana, kita harus rela. Semua udah…”

“Tapi Nika pergi gara-gara kecerobohan orang itu,” potong Trias.

“Orang itu nggak pernah berniat membunuh Nika,” tanggap Anna. “Terlepas dari kecerobohannya, orang itu juga nggak mau celaka, kok! Memang udah takdirnya, Nika harus pergi dengan cara seperti ini.”

Trias menggeleng pelan. “Berat buat aku, melepas Nika, Téh. Aku sayang sama dia…”

“Aku tahu,” Anna berusaha tersenyum, meski sulit. “Seluruh dunia juga tahu kalau kamu sayang Nika. Yah… mungkin jodoh kalian cuma sampai hari ini, Trias.”

Trias mengangguk.

“Kamu harus tabah, Trias,” sambung Anna. “Nika udah tenang. Kamu juga lihat sendiri ‘kan, betapa tenangnya wajah Nika? Kenapa kamu harus sedih?”

Trias tak menjawab.

Diam beberapa jenak.

“Téh…” gumam Trias.

“Iya, Sayang?” tanggap Anna, menatap lembut kedua mata Trias.

Trias menjawab dengan menampakkan gestur bahwa dirinya butuh dekapan hangat nan menenangkan. Dan Anna sangat mengerti, karena sejurus kemudian ia menarik kepala Trias terbenam di pundaknya. Didekapnya erat-erat sang adik ipar.

Imbas bagi Trias adalah runtuhnya pertahanan diri. Setelah berjam-jam ditahannya, akhirnya tangis pilu pun membuncah.

Hampir lima belas kemudian, tangis Trias barulah mereda.

“Temui orang tua Nika dulu, yuk?” ajak Anna lembut. “Beliau-beliau harus tahu, bahwa kamu adalah laki-laki yang selama ini dekat dengan putrinya.”

Trias mengangguk.

Dan adegan tangisan kembali terjadi. Kali ini, pihak yang menangis adalah ibunda Nika. Meski belum pernah bertemu, namun beliau tahu bahwa lelaki manis yang berdiri di hadapannya adalah Trias, teman dekat sang putri. Nika ternyata beberapa kali bercerita tentang kedekatannya dengan Trias.

“Maafkan anak Ibu ya, Cép…” lirih Ibu, saat memeluk Trias.

Trias hanya bisa mengangguk, sambil tak henti mengusap lembut punggung wanita separuh baya itu dengan kedua telapak tangannya.

“Nika pernah cerita, kalau Cép Trias baik pisan,” lanjut Ibu. “Terima kasih ya Cép, sudah mau direpotkan.”

Lagi-lagi, Trias tak berkata apa-apa. Dan ia pun tak mau menangis, karena teringat kata-kata yang diucapkan Nika kemarin malam,

“Kamu mau ketemu orang tuaku? Kalau udah ketemu, kamu nggak boleh menangis.”

***

Singkat cerita, Trias dan Suzie, plus Rida, telah kembali ke kost-an, setelah ikut mengantarkan jenazah Nika ke kampung halamannya di Ciwidey. Kesedihan yang mendalam membuat Trias enggan menghadiri pemakaman Nika, dan memilih untuk langsung pulang. Pemakaman memang tetap dilaksanakan, meski saat itu hari telah beranjak malam.

Di perjalanan menuju dan dari Ciwidey tadi, seisi mobil Jan menjadi saksi betapa terpukulnya Trias. Lelaki yang duduk di sebelah kursi pengemudi itu benar-benar tak bicara sepatah kata pun. Trias hanya diam dan menatap ke arah jalan dengan pandangan kosong. Dan tak ada satu orang pun yang berani bicara dengannya.

Kini, Trias sudah berada di kamarnya. Suzie sejenak menemani, dan menyuruh Rida untuk masuk kamarnya lebih dulu. Wanita bertubuh molek itu masih tak berani bicara kepada Trias. Ia pun hanya diam, menanti inisiatif Trias untuk memecah keheningan.

Dan inisiatif itu pun akhirnya muncul setelah kebekuan melanda mereka selama hampir 20 menit.

“Aku merasa nggak akan bisa tegar menghadapi ini, tanpa kamu,” gumam Trias lirih.

“Hmm?” Suzie menoleh dan menatap Trias.

“Makasih udah mau temani aku,” ucap Trias, dengan nada setengah putus asa.

Suzie tersenyum. “That’s what friends are for, Dul.”

Trias hanya mengangguk lirih.

“Aku tahu, bakalan beda rasanya,” sambung Suzie. “Tapi, aku akan ada saat kamu butuh seseorang untuk menghibur kamu.”

“Makasih, Zie,” Trias tersenyum, yang terasa hambar di mata Suzie. “Aku udah cukup terhibur dengan tadi kamu ikut ke Ciwidey.”

Suzie bangkit.

“Aku ke kamar, ya,” pamitnya. “Mandi dulu.”

Trias mengangguk pelan.

“Kalau butuh apa-apa, panggil aku,” lanjut Suzie. “Jangan sungkan.”

“That’s what friends are for, Zie?” Trias tersenyum pahit.

Sepeninggal Suzie,

Terkadang kehadiran seorang teman nggak cukup untuk menghibur hati yang sedih, gumam Trias di dalam hati. Aku butuh lebih. Tapi aku sadar, aku ini bukan siapa-siapa.

Ya, Trias hanya seorang pesepeda, yang kerap dipandang sebelah mata dan dianggap tak punya apa-apa.

Bersambung