Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
(…….)​

Pondok Trikora, pukul 10.27,

Suzie sudah pulang sejak satu setengah jam yang lalu. Wanita bertubuh indah itu harus bersiap untuk berangkat ke kampus, menemui dosen pembimbing skripsinya. Nika pun kembali sendiri di kamarnya. Menanti sore, waktunya untuk bepergian.

Ia tersenyum sendiri, mengingat obrolannya dengan Suzie. Tetangga kost Trias itu secara jujur mengutarakan isi hatinya. Mengungkapkan rasa cemburunya, yang belakangan ia sadari sebagai sebuah kekhilafan. Juga membeberkan perasaan cintanya terhadap Trias, secara gamblang.

Dengan penuh kedewasaan, Nika mendengarkan dan bisa mengerti perasaan Suzie. Tak ada emosi atau kekesalan karena mencintai lelaki yang sama. Yang hadir di hatinya justru perasaan hangat dan akrab, yang membuatnya merasa bahwa Suzie adalah seorang sahabat, bukan musuh dalam selimut.

Ponsel pintar di atas meja berdering. Sebuah panggilan masuk, dari Trias. Segera dijawabnya,

“Iya, Dul?”

“Sejak kapan kamu ketularan Suzie?” seloroh Trias di ujung sana.

Nika tertawa. “Cuma coba-coba, Trias. Tapi rasanya aneh, ah! Lebih enak panggil nama asli kamu aja.”

“Atau panggil ‘Sayang’, ya?” goda Trias.

Nika tergelak.

“Kamu jadi pergi, Nika?” tanya Trias.

“Jadi,” jawab Nika.

“Ke mana?”

“Nggak tahu.”

“Lho, kok nggak punya tujuan, sih?”

“Pasti ada tujuan, Trias,” Nika bergumam. “Tapi aku belum tahu.”

“Gimana kalau kita ketemuan?” usul Trias. “Biar tujuanmu jelas.”

“Hmm… boleh,” sanggup Nika. “Kapan dan di mana?”

Trias diam beberapa detik, sebelum kemudian menjawab, “Kedai susu murni Jl. Pungkur, jam empat. Gimana?”

“Kamu ‘kan baru selesai kerja jam setengah empat,” ujar Nika. “Setengah jam perjalanan ke Pungkur, kamu bisa?”

“Bisa,” jawab Trias terdengar yakin. “Aku ‘kan strong!”

Nika tergelak. “Iya, aku percaya.”

“Ya udah, sampai ketemu nanti sore,” pungkas Trias. “Nanti hati-hati di jalan.”

“Iya,” Nika tersenyum, tentu saja tak terlihat oleh Trias.

“Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu.”

***

Fakultas Ekonomi, pukul 12.26,

“Beres, Ceu?” tegur Rida.

Suzie yang baru saja keluar dari ruang dosen setelah menemui pembimbing skripsinya, tersenyum riang. “Bab 3 beres. Bisa lanjut ke Bab 4, deh!”

“Syukurlah…” gumam Rida dengan wajah sumringah. “Tinggal aku, masih harus berusaha sampai judul bisa tembus seminar.”

“Semangat, Say!” seru Suzie, sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.

“Semangat!” balas Rida, seraya melakukan hal sama seperti Suzie. “Tapi, sekarang kita lupakan skripsi.”

“Maksudnya?” kening Suzie berkerut.

“Kita ke kantin,” jawab Rida. “Lupakan skripsi, utamakan makan.”

Suzie tertawa berderai.

***

Sesiang ini, banyak jam perkuliahan yang telah usai. Praktis banyak pula mahasiswanya yang telah pulang. Suasana kantin kampus pun menjadi cukup lengang. Situasi ini menguntungkan bagi Suzie dan Rida, karena bisa memilih posisi meja paling strategis dan nyaman.

Dan yang dipilih Suzie dan Rida adalah meja yang letaknya di sayap kiri kantin. Lokasi tersebut adalah wilayah yang berbatasan dengan dinding berjendela. Hawanya tentu sangat sejuk, karena terlewati semilir angin. Berlawanan dengan sayap kiri yang cenderung panas akibat terimbas hawa kompor.

“Kamu kelihatan ceria,” ujar Rida. “Lagi bahagia?”

Suzie tersenyum. “Yaa… begitulah.”

“Karena Bab 3 udah di-ACC?” tanya Rida. “Atau ada penyebab lain?”

Suzie mengangguk.

“Ghani?” tebak Rida.

Suzie menggeleng.

“Udah kuduga,” gumam Rida.

Suzie tertawa kecil.

“Laki-laki itu nggak pernah bisa bikin kamu bahagia,” ujar Rida. “Kalau bikin kamu kecewa, itu memang hobinya!”

Suzie tertawa lagi. Beruntung, ia sudah sangat hapal dengan tabiat Rida yang ceplas-ceplos dan kerap berkata seolah tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya itu.

“Kamu mau makan apa?” tanya Suzie, berharap dengan menawari Rida makan, akan mengalihkan tema obroan. “Aku sih, nasi soto ayam.”

Rida terlihat berpikir sejenak. Lalu, “Kwetiau goreng, Ceu. Kebetulan lapaknya bersebelahan sama lapak soto ayam. Biar kamu nggak usah jauh-jauh pesannya.”

Suzie tertawa renyah. Lalu berdiri. “Aku pesan dulu.”

Rida mengacungkan ibu jari kedua tangannya.

Pesanan nasi soto ayam Suzie tiba lima menit lebih cepat daripada kwetiau goreng yang dipesan Rida. Logis, karena soto ayam telah masak di dalam panci. Lain halnya dengan kwetiau goreng yang harus terlebih dahulu dimasak di dalam wajan.

Di sela-sela makan,

“Kapan kamu bakal jauhi Ghani?” tanya Rida.

Pertanyaan tanpa tedeng aling-aling itu sukses membuat Suzie tersedak. Segelas air putih pun tandas dalam sekali tegukan. “Nggak ada pertanyaan lain?”

“Nggak ada pertanyaan lain yang lebih penting dari itu,” jawab Rida.

“Itu tadi pertanyaan penting, ya?” Suzie tertawa renyah.

“Penting, Ceu,” tegas Rida. “Kamu harus segera jauhi Ghani, sebelum terlanjur masuk IGD.”

“Apa korelasi antara Ghani dan IGD?” Suzie mengerutkan kening. “Sejahat-jahatnya Ghani, nggak mungkin dia tega pukuli aku sampai harus masuk IGD.”

“Kamu masuk IGD, gara-gara nekat potong urat nadi,” ujar Rida lugas. “Nggak kuat menerima perlakuan kurang ajar Ghani.”

“Amit-amit,” gumam Suzie, sambil mengetuk-ketuk permukaan meja.

“Yah… aku yakin, kamu nggak akan sampai bertindak seekstrim itu,” ucap Rida. “Tapi, aku juga yakin, kamu udah nggak tahan sama sikap Ghani.”

Suzie tidak mengiyakan dengan bibirnya. Namun ia membenarkan asumsi Rida di dalam hatinya.

“Lupakan dulu soal Ghani,” cetus Rida. “Cerita atuh, apa yang bikin kamu bahagia?”

Suzie tersenyum. “Aku punya sahabat baru.”

“Siapa?” tanya Rida.

“Aku nggak bisa bilang siapa orangnya,” jawab Suzie. “Yang pasti, dia seorang perempuan. Awalnya aku menganggap dia sebagai ancaman. Setelah tahu lebih banyak, akhirnya aku sadar, dia terlalu baik untuk dianggap begitu.”

“Kenapa kamu sampai menganggap dia sebagai ancaman?” kejar Rida.

“Aku juga nggak bisa jelaskan soal itu,” gumam Suzie. “Itu privasi.”

“Oke, hakmu untuk menjaga privasi,” Rida tersenyum. “Aku nggak akan mendesak kamu buat cerita.”

“Makasih…” bisik Suzie pelan.

“Cuma satu hal yang disayangkan, Ceu,” sambung Rida.

Suzie menatap Rida dengan gestur bertanya.

“Sahabat barumu itu seorang perempuan,” ujar Rida. “Coba kalau laki-laki…

“Kalau laki-laki, gimana?” kejar Suzie.

“Bisa jadi media buat melarikan diri dari Ghani,” jelas Rida. “Hmm… sahabat perempuan juga bisa, sih. Tapi…”

Kembali, Suzie menatap Rida dengan gestur bertanya.

“Aku nggak bisa membayangkan kalau kamu jadi lesbian,” lanjut Rida.

Suzie tergelak. “Pemikiran kamu memang inovatif dan visioner.”

Tanpa terasa, makan siang di piring Suzie dan Rida telah tandas. Tak mau berlama-lama, Suzie pun bangkit.

“Kamu jadi ikut ke kost-anku?” tanyanya. “Jadi menginap?”

“Hayu,” jawab Rida, sambil ikut berdiri. “Aku takut, tinggal sendirian di rumah, Ceu!”

Suzie tergelak. “Ya udah, kamu tidur di tempatku aja. Tapi, aku harus ke Cikutra dulu. Gimana, kamu mau ikut atau duluan ke kost-an?”

“Waduh… mesti memutar, dong?” protes Rida.

“Iya,” jawab Suzie. “Terserah kamu, mau duluan ke kost-an atau…”

“Ikut kamu aja,” potong Rida, tanpa berpikir lagi. “Udah lama aku nggak jalan-jalan, Ceu.”

Suzie tertawa lagi. “Kasihan banget, ini anak orang!”

Rida merengut.

***

Kantor Storm Advert, pukul 13.34,

Tubuh Trias mendadak terasa dingin. Perasaannya jadi tak menentu. Entah apa penyebabnya. Dan Rengga, rekan kerja Trias, menyadari itu.

“Kamu kenapa, Trias?” tanyanya. “Nggak enak badan.”

“Nggak tahu,” Trias mengedikkan bahu. “Tiba-tiba terasa nggak nyaman.”

“Lapar, mungkin?” duga Rengga.

“Lha, ‘kan tadi kita makan siang bareng,” bantah Trias. “Masa’ udah lapar lagi?”

“Cuci muka dulu, Bro,” saran Rengga. “Mungkin, kalau wajah segar, jadi lebih nyaman.”

Trias melakukan apa yang disarankan oleh Rengga. Ia beranjak masuk toilet, untuk sekadar membasuh wajah dengan air. Setelah dirasakan cukup, Trias pun kembali ke cubicle-nya.

“Gimana?” tanya Rengga. “Agak enakan?”

Trias hanya mengangkat bahu.

Selanjutnya, Trias menghabiskan waktu selama bermenit-menit hanya untuk mengutak-atik ponsel, tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Sejenak, pekerjaannya terbengkalai. Ia tak mau memaksakan diri dengan bekerja dalam kondisi gamang seperti ini.

Malah bikin pegal, batinnya.

Trias mulai membuka satu demi satu koleksi foto di memori ponselnya. Dan ia tersenyum, saat tiba giliran foto Nika yang ditampilkan. Satu-satunya imaji sang gadis manis yang dimilikinya. Rasa rindu pun sontak merasuki hati dan pikirannya.

Sadar, Dul! ingat batinnya. Baru tadi pagi kamu ketemu Nika, masa’ udah kangen lagi?

Namun peringatan tersebut dengan mudah dikalahkan rasa kangen. Secara sadar, jemari Trias bergerak mencari nomor kontak Nika. Lalu menghubunginya.

“Iya, Trias?” sapa Nika, segera setelah menerima sambungan tersebut.

“Kamu di mana?” tanya balik Trias.

“Masih di kost-an,” jawab Nika. “Nanti aku berangkat jam tiga.”

“Oke, hati-hati di jalan,” ucap Trias.

“Iya,” terdengar Nika tertawa kecil.

Diam sejenak. Lalu,

“Sayang…” ucap Trias.

“Iya… Sayang?” balas Nika.

“Kamu baik-baik aja, ‘kan?” tanya Trias.

“Iya, aku baik-baik aja,” jawab Nika. “Kok kamu tanya begitu?”

“Nggak apa-apa,” gumam Trias.

“I feel alright, Trias,” ucap Nika. “Kamu tenang aja.”

Trias mengangguk pelan, yang tentu saja takkan mungkin terlihat oleh Nika.

“Trias…” gumam Nika. “Jaga diri baik-baik, ya?”

“Iya, kamu juga,” jawab Trias. “Sampai ketemu nanti. Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu, Trias,” balas Nika. “Sayang banget…”

Sambungan telepon pun diakhiri Trias.

Rindu di hati Trias sirna? Tidak. Malah makin menjadi. Ingin rasanya ia cabut dari kantor, dan menemui Nika sesegera mungkin. Namun Trias paham, ada skala prioritas dalam hidup. Dan skala prioritas tertinggi baginya detik ini, adalah menyelesaikan pekerjaan yang dilimpahkan atasan kepadanya.

***

Persimpangan antara Jl. Pasirkaliki dan Jl. Dr. Djundjunan, pukul 15.23,

“Yah… tercegat lampu merah lagi,” keluh Rida, yang dibonceng Suzie.

“Sabar atuh, Say,” ujar Suzie. “Semua pasti dapat giliran jalan, kok!”

“Tapi di sini ‘kan lampu merahnya lama,” Rida masih mengomel.

“Iya, sih…” Suzie tersenyum. “Ini lampu merah kedua terlama di Bandung.”

“Memangnya, yang paling lama, di mana?” kejar Rida.

“Cari aja sendiri,” jawab Suzie asal. “Aku ‘kan bukan petugas sensus lampu lalu lintas.”

“Kopl*k!” umpat Rida.

Lalu lintas dari arah Jl. Dr. Djundjunan mendapat giliran untuk melaju. Suzie mulai bersiap. Ia tahu, setelah ini, giliran arus dari arah Jl. Pasteur-lah yang akan melaju. Beberapa sepeda motor malah memajukan kendaraannya melewati marka jalan, bersiap di atas zebra cross. Apalagi, arus dari arah Jl. Dr. Djundjunan terbilang lengang, tak seperti biasanya.

Kedua bola mata Suzie tiba-tiba berbinar. Ia tersenyum. Namun sejurus kemudian, binar itu meredup, ketika sepeda motor yang bersiap tepat di sebelahnya tiba-tiba melaju, meski lampu lalu lintas masih menyala merah.

Dan sedetik kemudian sepeda motor yang tak sabaran itu menghantam sepeda yang melaju dari arah Jl. Dr. Djundjunan. Sepeda yang ditunggangi seseorang, yang sempat membuat bola mata Suzie berbinar.

“Ya Tuhan!” jerit Suzie, seiring jerit dan pekik dari para pengendara lain di sekitarnya.

Suzie masih cukup tersadar untuk menstandarkan sepeda motor matik-nya, lalu berlari memburu ke arah pesepeda yang baru saja tertabrak dan terkapar di tengah jalan itu. Beberapa orang lain pun melakukan hal yang sama.

Dan segera, Suzie tak mampu lagi membendung jerit tangisnya.

***

To a place I recall, I was there so long ago.
The sky was bruised, the wine was bled, and there you led me on.

In your house I long to be;
Room by room, patiently,
I’ll wait for you there like a stone.
I’ll wait for you there alone, alone.

(Audioslave – Like a Stone)​

***

Kedai susu murni Jl. Pungkur, pukul 16.43,

Lantunan suara Chris Cornell itu terdengar samar di telinga Trias. Berasal dari speaker di sudut ruangan kedai, yang memang sengaja dipasang pemiliknya. Yang agak aneh mungkin pilihan lagunya. Trias tahu persis, biasanya kedai ini memutar lagu-lagu Sunda atau dangdut.

Tumben kali ini beda, batinnya. Seolah tahu banget, kalau aku mulai membatu menunggu seseorang.

Ya, lebih dari 40 menit telah berlalu dari jam yang disepakati. Namun Nika belum juga menampakkan sosoknya. Lain dari kebiasaannya, karena Trias tahu persis, bahwa Nika adalah seseorang yang sangat komitmen terhadap janjinya. Terlambat terhadap janji sangatlah ‘bukan Nika’.

Trias makin kebingungan, karena sepanjang 40 menit ini, Nika sama sekali tidak menjawab 18 panggilan telepon dan 24 pesan via Whatsapp darinya. Kekhawatiran mulai menghinggapi hati Trias. Pikiran macam-macam mulai menyerang otaknya.

Jangan-jangan dia anfal? batinnya bertanya-tanya. Ah… nggak mungkin!

3 jam lalu, Nika baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda bahwa penyakit kanker payudara yang diderita mengganggu kondisi fisiknya. Asumsi itulah yang membuat Trias yakin bahwa Nika tidak mungkin anfal.

Mungkin ban sepedanya bocor, duga Trias, mencoba berpikir positif. Menunggu dengan sabar aja, lah…

Trias pun bangkit sambil membawa piring kecil yang seperempat jam lalu masih berisi empat potong kue basah, lalu menghampiri etalase.

“Susu stroberi satu lagi, Kang,” pesannya, sambil kemudian mencomot tiga potong kue basah aneka jenis dan meletakkannya di atas piring kecil. “Nggak apa-apa aku pesan susu dua kali, ‘kan?”

“Nggak apa-apa atuh, Kang!” pemilik kedai tertawa, tanpa berhenti meracik susu pesanan Trias. “Yang penting bayar.”

Trias terkekeh.

Lelaki pesepeda itu kembali ke mejanya semula. Sejujurnya, Trias merasa risih berada di tempat tersebut. Sementara pengunjung datang dan pergi, ia terus duduk, tak beranjak dari tempatnya semula. Yang lebih menggiriskan, ia duduk sekian lama dalam keadaan sendiri.

Kamu ke mana sih, Sayang…? lirihnya di dalam hati.

Trias merasa sangat kesepian. Tak ada Nika yang menemaninya, membuatnya hanya duduk sendiri di tengah khalayak yang semuanya datang dengan teman atau kekasihnya.

Inikah yang dimaksud Dewa 19 di dalam lagu yang judulnya ‘Kosong’? batin Trias lagi. ‘Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu…’

***

Ponselnya berbunyi. Trias buru-buru merogoh tas pinggang kecilnya. Sebuah pesan via Whatsapp, dari Suzie.

Kok malah Suzie, sih?

Namun tak urung dibacanya pesan pendek tersebut. Dan mendadak jiwanya kosong. Kehilangan pijakan.

Bersambung