Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Interaksi Suzie dan Nika

Trias terbangun akibat tepukan tangan seseorang di pipi kanannya. Tidak keras, namun intensitas repetisinya yang cukup sering membuatnya tak nyaman dan akhirnya tersadar. Suara lembut wanita mengiringi tepukan tangan tersebut.

“Nika…?” gumamnya, menyaksikan bayangan samar wanita di matanya yang masih buram. Dan ketika pandangannya telah cukup jelas, “Eh… kamu, Zie…”

Wanita yang membangunkannya, yang ternyata Suzie, pun tersenyum. Namun senyum itu langsung luruh, saat dilihatnya Trias menunjukkan gestur akan kembali tidur.

“Dul…” rengeknya. “Bangun, atuh!”

Trias mengerang pelan. “Sebentar, Zie. Kalau Nika yang bangunkan, aku pasti langsung semangat.”

“Iya, aku mengerti,” dumel Suzie. “Aku mah bukan siapa-siapa kamu. Nggak usah dibela-belain, ya?”

Trias langsung duduk. Lalu menatap Suzie dalam-dalam. “Kenapa kamu jadi sensitif begitu sih, Zie?”

Suzie tak menjawab. Wajahnya dilipat, cemberut kesal.

“Kalau kamu cemberut, aku tidur lagi,” ultimatum Trias.

“Terserah,” gumam Suzie, menatap tajam Trias dengan gestur kamu-udah-siap-mati,-ya?

“Iya, aku bangun,” ujar Trias jeri.

***

Kenapa Suzie ngotot membangunkan Trias? Ternyata wanita itu ingin diantar Trias menemui Nika. Ia bilang,

“Obrolan tadi malam bikin aku kepingin segera menemui Nika. Aku mau minta maaf.”

Dan kini Trias dan Suzie telah berada di kamar kost Nika. Gadis manis itu baru saja selesai memberesi kamarnya. Meski agak terkejut, namun Nika senang. Karena sepagi ini telah dikunjungi Trias.

“Suzie pengen ketemu sama kamu,” ujar Trias, memberi pengantar perihal kedatangan mereka. “Mungkin mau traktir sarapan.”

Suzie tertawa. “Hayu. Kalian mau sarapan apa?”

“Aku mah nggak pernah sarapan, Zie,” tanggap Trias. “Nika tuh, mau sarapan apa?”

“Aku juga nggak sarapan,” jawab Nika, seraya tersenyum. “Ikut Trias aja.”

Suzie mencibir.

Tak terlalu lama, Trias berpamitan untuk berangkat kerja. Sementara Suzie punya waktu luang sampai tiba waktunya bimbingan skripsi siang nanti, dan Nika libur, hanya akan bepergian menjelang sore. Jadi, selanjutnya Suzie dan Nika akan melewati perbincangan tanpa Trias. Secara umum, Suzie menyukai situasi tersebut, karena bisa mengobrol lebih dalam tanpa kehadiran laki-laki.

Nika sempat mengantar Trias hingga halaman Pondok Trikora.

“Hati-hati di jalan,” pesan Nika. “Lalu lintas penuh sama musuh para goweser.”

Trias tertawa. “Kamu juga nanti hati-hati, ya!”

Nika mengangguk dan tersenyum.

“Oya, orang tuamu jadi ke Bandung?” tanya Trias.

“Jadi,” jawab Nika pendek.

“Beliau udah kasih kabar?” tanya Trias lagi.

“Beliau nggak pernah kasih kabar,” jawab Nika. “Tapi, aku yakin, hari ini mereka pasti ke Bandung.”

“Kok bisa?” tandas Trias heran.

“Kamu mau ketemu orang tuaku?” Nika tak menanggapi pertanyaan Trias. “Kalau udah ketemu, kamu nggak boleh menangis.”

Trias mengerutkan kening. “Menangis kenapa?”

Nika hanya tersenyum.

Sejak tadi malam, Trias kerap kebingungan dengan kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Nika. Dan setiap menanyakannya pada sang gadis, hanya senyum yang diterimanya. Seperti kali ini, hingga tanpa sadar ia hanya bergeming menatap wajah Nika dengan pandangan kosong.

“Kamu jadi berangkat ‘kan, Sayang?” tegur Nika, sambil menyentuh perut Trias. “Kok malah melamun?”

Trias mengangguk. “Aku cuma bingung sama kata-kata kamu.”

“Nggak usah bingung,” Nika tersenyum. “Nggak akan keluar di UN, kok!”

Mau tidak mau, Trias tertawa.

“Yo wis, sana pergi, Trias,” suruh Nika. “Nanti terlambat, lho!”

“Iya,” Trias tersenyum. Lalu merengkuh kepala Nika, dan tanpa segan mengecup kening wanita itu. “Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu,” balas Nika. “Hati-hati di jalan.”

Trias mengangguk, tanpa menghilangkan sungging senyum di wajahnya.

***

Nika kembali ke kamarnya. Dilihatnya Suzie sedang melihat-lihat situasi kamar kost-nya itu. Sangat minimalis, karena hanya terdapat sebuah ranjang kayu dan meja tulis yang merupakan jatah bagi semua penghuni, lemari pakaian plastik, sebuah mini compo dan kompor listrik kecil. Situasi di kamar Suzie jelas lebih lengkap.

Suzie menoleh dan tersenyum saat Nika muncul di ambang pintu. “Si Adul udah berangkat?”

“Udah,” jawab Nika, seraya tersenyum jenaka. “Sejak kapan Trias dipanggil Adul?”

Suzie tertawa, lalu mengangkat bahu. “Aku nggak tahu. Pertama kali dengar Jan panggil dia kayak begitu. Akhirnya aku ikut-ikutan.”

“Mungkin panggilan sayang Kang Jan buat Trias,” tanggap Nika.

Sejenak, tak ada obrolan. Nika sibuk menjerang air dan membuat teh manis. Sementara Suzie asyik melihat-lihat koleksi foto Nika yang dipajang di atas permukaan selembar styrofoam putih, yang latar belakangnya berada di berbagai tempat dan mayoritas bersama sepeda. Kalau pun tanpa sepeda, di kepala Nika pasti bertengger helm sepeda.

“Kamu pernah gowes ke Jogja, ya?” Suzie mengomentari foto Nika dengan background Benteng Vredeburg.

Nika menjawab dengan senyuman.

“Kamu hebat!” puji Suzie.

“Masih kalah sama Trias, kok!” Nika merendah. “Dia udah pernah ke gowes ke Lombok.”

“Beda konteks, atuh!” Suzie tertawa kecil. “Jangan dibandingkan sama si Adul. Itu orang udah jadi goweser kahot.”

Nika pun ikut tertawa.

“Sebelum kenal, aku udah sering dengar cerita tentang Trias,” cerita Nika. “Rekan-rekan satu komunitasku yang cerita soal pengalaman touring Trias. Aku nggak pernah mengira, akhirnya bisa kenal dia secara personal.”

“Bahkan saling jatuh cinta, ya?” goda Suzie, menahan senyum jahil.

Nika tertawa. “Mungkin udah jodohnya, Téh.”

“Si Adul memang pantas dicintai, Nika,” ucap Suzie pelan. “Kamu beruntung, udah dipilih dia.”

“Maaf sebelumnya,” gumam Nika. “Tétéh menyukai Trias?”

Suzie tersenyum. “Perempuan mana yang nggak menyukai dia? Jaman sekarang, sulit cari laki-laki yang sikapnya semanis si Adul.”

“Trias juga bersikap manis sama Tétéh?” tanya Nika antusias.

“Sama semua orang,” jawab Suzie. “Aku ingat, waktu pertama kali tinggal di kost-an Sejahtera, dia memanggil semua penghuni lama dengan ‘Tétéh’ dan ‘Akang’, termasuk aku dan Anna. Padahal, usiaku dan Anna lebih muda darinya. Setelah makin akrab, baru dia memanggil nama.”

“Waktu baru kenalan, Trias juga panggil aku dengan sebutan ‘Tétéh’,” cerita Nika, sambil tersenyum. “Dia memang santun, tanpa kesan dibuat-buat.”

Suzie dan Nika kembali saling diam. Nika menatap Suzie, seolah menanti kata-kata yang akan keluar dari bibir wanita bertubuh sintal itu. Ia tahu, ada sesuatu yang ingin disampaikan Suzie. Kalau tidak begitu, mana mungkin wanita itu sengaja menemuinya?

Sementara itu, Suzie terlihat memikirkan sesuatu. Meski Nika bersikap santai dan menerima kedatangannya dengan baik, namun belum tentu serta merta bisa menerima apa yang ingin disampaikannya. Hal itulah yang membuat Suzie masih saja memikirkan susunan kata yang tepat.

“Tadi malam, Adul cerita tentang penyakitmu,” ucap Suzie berhati-hati.

Terlihat kedua bola mata Nika agak membelalak. Namun sejurus kemudian sorot ramah itu kembali.

“Cerita Adul bikin aku tersadar akan satu hal,” lanjut Suzie. “Bahwa nggak semestinya aku cemburu sama kamu, karena dekat dengan si Adul.”

Nika menahan senyum.

“Kamu bikin aku belajar banyak hal, Nika,” sambung Suzie lagi. “Tentang ketabahan, optimisme, berpikir positif, atau berinteraksi sama orang lain. Jujur, aku kagum sama kamu.”

Nika tetap tersenyum. “Aku cuma berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada. Kalau penyakit kanker ini akhirnya bikin aku mati muda, aku kepingin sisa usia ini dipakai untuk sesuatu yang berguna. Buat aku dan orang lain.”

Suzie terdiam sejenak. Kata-kata yang baru saja diucapkan Nika, memberinya tambahan pelajaran. Tentang kejelian dan efektifitas memanfaatkan peluang. Sesaat ia teringat pada sifat oportunis yang mesti dimiliki setiap penyerang dalam dunia sepakbola. Memanfaatkan celah sekecil apapun untuk mencetak gol ke gawang lawan. Bahkan dengan cara curang.

Nika melakukan itu. Memanfaatkan sisa waktu hidupnya yang mungkin tak lama itu, untuk berbuat baik dan bersikap manis kepada setiap orang. Menjadi pribadi menyenangkan. Bedanya dengan penyerang dalam sepakbola, Nika melakukannya dengan wajar. Oportunis dalam skala normal, tanpa ada pihak yang merasa dicurangi.

“Aku minta maaf, Nika…” lirih Suzie.

“Maaf untuk apa, Téh?” tanya Nika.

“Aku minta maaf, karena udah cemburu sama kedekatanmu dengan Adul,” jawab Suzie. “Maaf, karena udah menganggap kamu sebagai pesaing, sebagai musuh. Kamu terlalu baik untuk kuanggap seperti itu.”

“Justru aku yang harus minta maaf, Téh,” balas Nika. “Karena kehadiran aku, Tétéh harus kehilangan kedekatan sama Trias.”

Suzie menggeleng cepat. “Cepat atau lambat, si Adul pasti menjauh. Karena kami memang nggak punya hubungan apa-apa, selain sahabat. Yah… meskipun sebenarnya aku…”

Suzie tak melanjutkan kata-katanya. Namun Nika sudah kadung tahu, lanjutan dari kalimat menggantung tersebut.

“Tétéh mencintai Trias,” ucap Nika yakin. “Dan Tétéh cemburu sama aku, karena dekat dengan laki-laki yang Tétéh cintai.”

“Bukan… aku nggak…” Suzie tergagap. “Maksudku, aku cinta… eh, kami cuma bersahabat, Nika.”

“Iya, aku tahu, kalian bersahabat,” Nika menahan senyum. “Tapi aku juga tahu, wajar kalau kita jatuh cinta sama sahabat sendiri.”

Sikap Suzie makin rikuh.

“Nggak ada yang tahu, apa yang akan terjadi nanti, Téh,” ujar Nika. “Mungkin aja, akhirnya Tétéh dan Trias bersatu.”

Suzie menggeleng. “Kamu pasti sembuh, Nika. Kamu pasti bakal terus sama-sama Adul. Kalian pasangan serasi.”

“Kita nggak akan pernah tahu,” Nika mengangkat bahu. “Aku yakin bakal sembuh, karena hasil check up terakhir menjelaskan tentang itu. Kanker di tubuhku makin berkurang. Kalau tetap rajin berobat dan gowes, dokter bilang, aku bisa sembuh.”

“Nah, berarti kamu bakal tetap sama Adul,” Suzie tersenyum. “Kamu sembuh, dan itu artinya, kamu nggak akan pernah meninggalkan Adul.”

Nika tersenyum. “Kalau ternyata Trias yang meninggalkan aku, gimana?”

“Nggak mungkin,” tukas Suzie.

“Mungkin aja, Téh,” ucap Nika. “Karena, sekali lagi, kita nggak pernah tahu, apa yang akan terjadi nanti.”

“Kalau tujuan kalian sama,” ujar Suzie. “Rasanya nggak ada alasan untuk kalian berpisah.”

Nika tersenyum. Lagi-lagi tersenyum. “Setiap manusia punya tujuan yang sama, Téh. Tapi, jalannya berbeda-beda.”

Nika menyeruput teh manis yang tadi dibuatnya. Obrolan dengan Suzie membuatnya melupakan teh manis tersebut, hingga akhirnya kini minuman itu tidak lagi panas.

“Lucu, ya?” cetus Nika, segera setelah meletakkan gelas teh manisnya.

“Lucu apanya?” tanya Suzie tak mengerti.

“Kita bisa akrab, padahal mencintai laki-laki yang sama,” jawab Nika.

“Iya,” Suzie tergelak. “Jangan bilang-bilang Adul soal perasaanku, ya.”

Nika mengangguk.

“Janji?” tegas Suzie. “Jangan cerita apapun tentang obrolan kita.”

“Percaya sama aku,” Nika tersenyum. “Aku bakal pegang janji, kalau perlu sampai dibawa mati, Téh.”

“Kamu lebay,” seloroh Suzie.

Namun Nika sama sekali tidak tertawa.

“Satu lagi janji yang harus kamu pegang,” ucap Suzie. “Kalau kamu benar-benar mencintai Adul, tolong jaga dia. Jangan sampai kamu bikin dia kecewa.”

Nika menahan senyum. “Mana ada orang yang punya niat mengecewakan seseorang yang dia cintai, Téh?”

“Iya, sih…” Suzie nyengir.

“Sekarang giliran Tétéh yang berjanji,” lirih Nika.

“Janji apa?” tanya Suzie.

“Kalau aku lagi nggak ada di sini, titip Trias, ya,” jawab Nika. “Bikin dia bahagia.”

“Kamu mau mudik ke Ciwidey, gitu?” tanya Suzie.

Nika tersenyum. “Janji, Téh?”

Mau tidak mau, Suzie mengangguk.

Bersambung