Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Lunturnya Rasa Cemburu

Sepekan setelah wisuda, di malam yang terasa berbeda,

Nika ingin Trias menemani di kamarnya hingga tertidur. Belum pernah Nika seperti itu.

“Sebenarnya, aku juga kepingin kamu ada di sini, di ranjang ini, pas bangun tidur besok pagi,” ucap Nika. “Sayangnya, aku udah bersumpah, nggak akan pernah tidur sekamar sama lelaki yang bukan suamiku.”

“Nikah dulu aja,” canda Trias. “KUA bisa digedor, kok!”

“Kamu enak, menikah nggak harus didampingi wali,” ujar Nika. “Lha aku? Kasihan orang tuaku, semalam ini harus meluncur dari Ciwidey!”

Trias terkekeh.

“Kalau besok bisa, Trias,” sambung Nika. “Ibu dan Bapak mau ke Bandung.”

“Mereka bilang besok mau ke sini?” tanya Trias.

“Nggak,” jawab Nika. “Tapi aku yakin, besok mereka pasti ke Bandung.”

“Kok bisa?” kejar Trias lagi.

Nika hanya tersenyum.

“Jadi, besok kita jadi menikah?” seloroh Trias lagi.

Nika melotot. “Ngawur! Kenal sama orang tuaku aja belum, udah mengajak nikah.”

“Yaa… siapa tahu,” Trias nyengir. “Besok aku kenalan sama orang tuamu. Malamnya, kita menikah.”

Nika melotot lagi, kali ini bercampur gemas.

“Kenapa kamu ngotot kepingin menikahi aku?” tanya Nika, menatap Trias lekat-lekat.

“Banyak alasannya,” ucap Trias. “Yang paling utama, adalah karena kita saling menyayangi.”

“Rasa sayang doang nggak cukup, Trias,” timpal Nika.

“Aku tahu,” Trias tersenyum. “Butuh uang juga, ya?”

“Tah, ├ęta,” Nika terkekeh. “Tapi, aku yakin, kamu bakal jadi suami yang bertanggung jawab. Kamu bakal bisa menafkahi aku. Apapun caranya, sebagai wujud tanggung jawabmu sebagai kepala rumah tangga.”

“Semoga,” Trias tersenyum.

“Nah, apa lagi alasanmu?” tanya Nika lagi.

“Alasan berikutnya,” lanjut Trias. “Kondisi kesehatan kamu makin baik. Ketika tahu kamu punya kanker, aku nggak jauhi kamu. Apalagi ketika kamu sembuh?”

“Tapi penyakitku tetap ada, lho!” tandas Nika.

“Lalu?” tanya Trias.

“Artinya, kapan pun aku bisa anfal,” jawab Nika.

“Kalau soal itu, kapan pun aku bisa tewas karena kecelakaan, Nika,” Trias tersenyum. “Jadi, serahkan semuanya sama Yang di Atas.”

Sejenak keduanya saling diam. Nika berbaring telentang di atas ranjang, lalu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Trias pun duduk bersila di atas lantai, tepat menghadapi kepala Nika. Gadis manis itu beringsut, menggeser tubuh ke tepi ranjang, agar lebih dekat dengan Trias. Ia pun berbaring miring, menghadap Trias.

“Aku duluan ya, Trias…” gumam Nika.

“Iya,” Trias tersenyum. “Kamu tidur aja. Nanti aku pulang sendiri.”

“Kamu baik banget,” lirih Nika. “Aku minta maaf, selalu merepotkan kamu.”

“Nggak perlu minta maaf, Sayang,” ucap Trias. “Aku nggak pernah merasa direpotkan, kok!”

“Makasih, Trias,” gumam Nika. “Kamu udah baik banget sama aku. Aku yakin, nggak akan pernah menemukan orang yang lebih baik dari kamu.”

Gestur tubuh Nika menyiratkan keinginan gadis itu untuk memperoleh dekapan. Trias mengerti. Tanpa perlu diminta dengan kata-kata, ia langsung memeluk erat tubuh Nika. Seerat-eratnya.

“Makasih, Trias…” ucap Nika. “Aku sayang kamu.”

Trias tersenyum. “Aku juga sayang kamu.”

Selanjutnya, Nika pun mencoba memejamkan mata agar dapat segera tidur. Trias membantu dengan tanpa henti mengusap dan menepuki punggung sang wanita lembut. Hingga tak sampai sepuluh menit kemudian, Nika pun tertidur dengan lelapnya.

Kali ini, Trias tidak lantas pulang. Ia malah menghabiskan waktu bermenit-menit untuk sekadar menatap lekat wajah Nika yang tertidur. Wajah gadis itu terlihat begitu tenang, seolah aktivitas tidur bisa menghapuskan semua beban pikiran yang ia punya.

Entah kenapa, malam ini ada perasaan berat bagi Trias untuk meninggalkan Nika. Padahal, ini bukanlah kali pertamanya menunggui Nika tidur. Malam ini rasanya lain. Ia merasa begitu merindukan Nika, hingga kebersamaan sejak sore hari tidaklah cukup untuk mengobati kerinduan itu.

Namun Trias tahu, bahwa ia harus pulang. Demi menghormati sumpah Nika yang tak ingin tidur sekamar dengan lelaki yang bukan suaminya.

***

Suzie sedang duduk di salah satu bangku plastik yang berada di depan kamarnya, ketika Trias tiba di kost-an. Wanita seksi itu menyadari kehadirannya, lalu melemparkan senyum.

Tumben malam minggu begini, Suzie sendirian! batinnya. Biasanya, you know lah…

Dan Trias pun memutuskan untuk duduk sejenak di bangku plastik lain, tepat di sisi kiri Suzie.

“Aku baru pulang dari Pondok Trikora,” beritahu Trias.

“Aku nggak tanya, tuh,” tanggap Suzie, sambil kemudian memeletetkan lidah jahil.

“Belum tanya,” ralat Trias. “Tapi pasti bertanya, kalau aku nggak menjelaskan duluan.”

Suzie tertawa.

“Iya, tho?” lanjut Trias, lalu memeletetkan lidah. Membalas perlakuan Suzie, sepuluh detik yang lalu.

Suzie tertawa lagi.

“Semalam ini baru pulang dari Pondok Trikora,” ujar Suzie. “Kalian ngapain aja? ML, nggak?”

Trias tertawa. “Aku nggak seperti kalian, Zie.”

“Memangnya kami seperti apa?” tanya Suzie. “Kamu lihat sendiri, malam mingguan aku sendirian.”

“Ah, kalian mah nggak butuh malam minggu untuk indehoy,” seloroh Trias. “Tiap malam juga bisa, ‘kan?”

Suzie menanggapi dengan sekilas senyum.

“Kami nggak mau ML sebelum resmi jadi suami-istri, Zie,” lanjut Trias, sambil kemudian tertawa kecil. “Kolot banget pemikirannya, ya?”

Suzie menggeleng. “Mestinya semua orang berpikiran seperti kalian, Dul. Hmm… kalian memang cocok.”

Trias tertawa lagi.

“Jadi, tadi kalian ngapain aja?” selidik Suzie.

“Hmm… ngobrol, makan malam bareng…” jawab Trias.

“Kalau cuma begitu doang, sama aku juga udah sering, Dul!” seloroh Suzie, sambil lalu tertawa berderai. “Nggak perlu sama Nika.”

“Akhir-akhir ini nggak pernah, Zie,” bantah Trias.

Tawa Suzie sontak terhenti.

“Aku juga nggak pernah temani kamu sampai tidur,” sambung Trias. “Jelas, rasanya beda.”

“Lebih greget sama Nika?” tebak Suzie.

“Pasti,” jawab Trias pendek, namun tepat sasaran.

Bibir Suzie mendadak kelu.

Obrolan terhenti sejenak, karena Suzie masuk kamar, untuk keluar lagi dengan sekotak plastik berisi keripik pisang, tak lama kemudian. Ia menyuguhkan camilan khas Tasikmalaya itu kepada Trias.

“Hubungan kalian makin serius,” ucap Suzie. “Ada rencana menikah?”

“Pasti ada,” Trias tersenyum. “Tapi, nggak tahu kapan.”

“Kok nggak yakin?” tanya Suzie.

“Nika nggak yakin karena…” ucapan Trias sejenak mengambang. “… punya kanker.”

“Kanker?” nada suara Suzie terdengar tak percaya.

Trias mengangguk. “Kanker payudara stadium awal. Masih bisa disembuhkan. Tapi tetap aja, kapan pun Nika bisa anfal, dan… aku nggak berani membayangkan.”

“God…” gumam Suzie. “Nika punya kanker? Dengan segala sikapnya yang manis dan riang, Nika punya kanker?”

“Kamuflase, Zie,” ujar Trias. “Nika nggak mau kelihatan menderita di depan orang-orang, termasuk aku. Tapi, akhir-akhir ini, penyakitnya mulai berkurang, kok!”

“Iya,” Suzie tersenyum. “Aku lihat tubuhnya makin gemuk.”

“Mudah-mudahan itu pertanda baik,” imbuh Trias.

Mereka sempat cukup lama saling diam. Baik Trias dan Suzie sama-sama larut dalam jalan pikirannya masing-masing. Trias makin teringat akan Nika. Sosok dan wajah gadis manis itu terpatri di hati dan otaknya. Ia sendiri tak mengerti, kenapa malam ini begitu merindukan Nika.

Sementara, Suzie menekuri betapa beratnya beban yang dipikul Trias dan Nika. Dua sejoli itu berjuang dengan cara dan jalannya masing-masing. Nika berjuang melawan penyakitnya, dan Trias berjuang untuk tabah menerima kenyataan bahwa seseorang yang disayanginya bisa pergi untuk selamanya, kapan saja.

“Kamu takut Nika akan meninggalkan kamu, Dul?” tanya Suzie.

“Aku khawatir,” jawab Trias, sambil tersenyum. “Tapi nggak takut. Karena aku udah beberapa kali ditinggalkan orang yang kusayangi.”

“Aku nggak bermaksud meninggalkan kamu,” ujar Suzie. Sisi melankolik membuatnya merasa bahwa dirinya adalah salah satu dari beberapa orang yang meninggalkan Trias.

“Aku selalu ada di dekatmu, dengan caraku sendiri. Tanpa kamu sadari, Dul.”

“Kamu nggak termasuk orang yang pernah meninggalkan aku,” tanggap Trias, masih tersenyum. “Yang aku maksud tadi, adalah keluargaku, Zie. Kecuali Kang Jan.”

“Dul…” gumam Suzie.

“Iya?” tanggap Trias.

“Boleh aku jujur?” tanya Suzie.

“Jujur tentang apa?” tanya balik Trias.

“Aku cemburu sama Nika,” jawab Suzie. “Aku cemburu karena Nika dekat sama kamu, dan bikin kita nggak seakrab dulu lagi.”

“Aku tahu, Zie,” Trias tersenyum. “Perasaan itu selalu kentara, setiap kamu bertemu kami berdua.”

“Satu lagi, Dul,” ucap Suzie. “Selain cemburu, aku juga sekaligus merasa berdosa sama Nika.”

“Berdosa?” Trias mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Iya,” gumam Suzie. “Nggak seharusnya aku merasa cemburu sama Nika. Mestinya, aku menghargai sikapnya yang baik. Apalagi sekarang, setelah tahu soal penyakit Nika, harusnya aku kasih support, bukan malah dengki.”

Trias tersenyum lagi.

“Aku nggak tahu, harus bersikap gimana sama Nika, Dul…” lirih Suzie.

“Coba kamu datangi Nika, tanpa aku,” saran Trias. “Ngobrol-ngobrol sama dia, minta maaf. Gampang, tho?”

“Nika masih mau ngomong sama aku?” Suzie sangsi.

“Kenapa Nika mesti nggak mau, Zie?” Trias tersenyum. “Santai aja, Nika nggak sepicik itu.”

“Kamu yakin?” tanya Suzie.

“Yakin,” tegas Trias. “Aku cukup tahu bagaimana Nika. Dan karena itu juga, makanya aku cinta dia.”

“Dasar!” umpat Suzie, lalu tertawa kecil.

Trias pun ikut tertawa. Menertawakan dirinya yang terlalu polos mengakui perasaannya kepada orang yang belum tentu sudi mendengarnya.

“Coba kamu temui Nika,” Trias mengulangi sarannya. “Aku yakin, dia bakal senang, Zie. Dia juga pengen bersahabat dan dekat sama kamu.”

“Iya,” Suzie tersenyum. “Aku coba.”

Entah mengapa, mendadak rasa cemburu di hati Suzie meluntur. Berganti menjadi rasa sayang dan kasih terhadap gadis manis yang sempat ia anggap sebagai rivalnya itu.

***