Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Wisuda Anna

Layaknya mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan studi, lalu mengalami prosesi wisuda, Anna pun tak henti menyunggingkan raut bahagia. Wajahnya makin terlihat cantik, dihiasi seulas senyum di bibirnya. Make up sederhana namun serasi, sukses memesona mata orang-orang yang menatapnya.

Ia memasuki aula kampus bersama Mama dan Papa di sisi kanan dan kirinya dengan perasaan bangga dan lega. Anna merasa bangga karena telah berhasil menjadi sarjana. Dan juga lega karena telah berhasil menyelesaikan studinya yang sempat tersendat dan terbengkalai akibat terlalu asyik menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri itu.

Sementara Jan dan Suzie menatap ketiga orangtua-anak itu dengan perasaan nyaris sama. Meski bagi Suzie agak berbeda, karena ada tambahan beban baginya untuk segera menyelesaikan kuliahnya, menyusul Anna. Namun Jan tak mampu menyembunyikan kebanggaannya atas prestasi sang istri.

Jan dan Suzie memang tidak bisa memasuki aula karena setiap wisudawan atau wisudawati hanya punya jatah dua undangan. Dan itu jelas menjadi milik kedua orang tua Anna. Alhasil, Jan dan Suzie harus rela menanti di luar hingga prosesi wisuda usai.

Sebelumnya, sempat ada perdebatan antara Papa dan Anna. Papa menginginkan Jan masuk sebagai undangan menggantikan dirinya, mengingat sang suami telah berjasa lewat support-nya. Namun Anna ngotot menginginkan Papa yang mendampinginya bersama Mama.

“Dukungan si Aa cuma dalam setahun terakhir,” alasan Anna. “Dukungan Papa, sejak aku lahir.”

Jan sangat setuju.

Sebenarnya, ada satu sosok lagi yang dinanti kehadirannya oleh Anna. Ialah Trias. Adik sepupu Jan itu telah berjanji akan ikut menghadiri wisuda Anna. Namun, hingga Anna dan Mama-Papanya memasuki aula, lelaki manis itu belum menampakkan batang hidung, apalagi sekujur tubuhnya.

“Mungkin masih berjuang meniti tanjakan,” duga Jan. “Rute jalan ke sini ‘kan lumayan menanjak!”

“Bisa jadi,” tanggap Suzie. “Yah… kita tunggu aja, deh!”

“Kamu nggak sabar menunggu si Adul, ya?” goda Jan.

“Siapa bilang?!” bantah Suzie.

“Aku, barusan,” Jan memeletetkan lidah. “Kalau memang nggak seperti itu, nggak usah ngotot, Suzie. Biasa aja jawabnya.”

Suzie cemberut.

Jan mengajak Suzie untuk duduk-duduk di salah satu bangku kayu panjang yang berjajar di depan gedung perpustakaan. Lokasinya terlihat sejuk karena dinaungi banyak pohon besar. Beberapa pedagang makanan pun ikut memajang penganan yang dijualnya tak jauh dari deretan bangku kayu panjang.

“Kalau mau jajan, bilang aja, ya,” ucap Jan, sambil duduk.

“Oke, Jan,” Suzie tersenyum, sambil duduk di seberang meja. “Anna nggak akan marah?”

“Nggak akan,” Jan tertawa kecil. “Justru ini amanat dari Anna, suruh aku traktir kalau kamu kepingin jajan.”

“Oh,” Suzie mengangguk. “Beruntung banget, kamu. Punya istri pengertian.”

Jan tersenyum. “Begitulah. Aku beruntung jadi suami Anna. Anna sial, dapat suami seperti aku!”

“Jangan gitu, ah!” sanggah Suzie. “Jelas-jelas Anna pernah cerita kalau dia sangat beruntung punya suami sehebat kamu, Jan.”

“Anna pernah bilang begitu?” tanya Jan sedikit tidak percaya.

“Iya,” jawab Suzie. “Sebenarnya Anna berpesan, aku nggak boleh cerita soal ini. Cuma, karena ini bukan menyangkut aib kalian, jadi aku rasa, nggak masalah kalau aku cerita.”

“Kamu sendiri, gimana hubungan kamu sama Ghani?” tanya Jan.

Suzie menggeleng pelan. “Begitulah, standar hubungan teman dekat kayak apa?”

Saat itu, Jan segera mengerti bahwa hubungan Suzie dan Ghani tidak seindah yang dibayangkan.

“Aku berdoa yang terbaik untuk kamu,” ucap Jan, lalu tersenyum. “Hanya untuk kamu, ya. Semoga kamu dapat lelaki yang terbaik untuk jadi jodohmu.”

Suzie menanggapi dengan senyuman sekilas.

Seorang lelaki menjajakan beragam kue basah.

“Mau, Suzie?” tawar Jan.

“Nggak usah, makasih, Jan,” tolak Suzie.

Jan seolah tidak menggubris penolakan Suzie. Ia menunjuk risoles, kue soes, dan bolu kukus. “Masing-masing lima ya, Kang!”

“Siap,” sanggup lelaki penjual kue basah tersebut, sambil mulai memasukkan kue-kue pilihan Jan ke dalam kantong kresek putih.

“Banyak amat?” tanya Suzie.

“Buat aku, Trias yang mungkin sebentar lagi datang, dan kamu yang mungkin sebentar lagi lapar,” jawab Jan.

Suzie tergelak.

Penjual kue basah menyerahkan pesanan Jan. Jan memberikan sejumlah uang. Setelah proses jual-beli selesai, lelaki penjual kue basah pun pamit dan pergi.

“Si Adul lagi dekat sama perempuan ya, Suzie?” tanya Jan.

Suzie menatap Jan. “Kenapa tanya sama aku? Kenapa nggak tanya sendiri sama orangnya?”

“Belum sempat,” Jan nyengir dengan polosnya.

Suzie menghela napas. “Alasannya nggak relevan. Seolah-olah kamu hidup di dunia yang belum mengenal ponsel dan internet.”

Jan menepuk tangan kiri Suzie yang kebetulan terjulur di atas meja ke arahnya. “Kamu tinggal bilang iya atau nggak. Nggak perlu emosi, Suzie.”

“Siapa juga yang emosi?” protes Suzie, dengan nada yang menyiratkan emosi sedikit naik.

Trias, manusia yang jadi bahan pertanyaan Jan pun tiba. Menghampiri Jan dan Suzie. Trias datang bersama Nika! Jan mengerutkan kening, melihat sosok berwajah manis yang berjalan sedikit di belakang Trias. Sementara Suzie langsung tersenyum, karena memang telah mengenal Nika.

“Maaf kami terlambat,” ujar Trias. “Téh Anna udah mulai prosesi, ya?”

“Iya, Dul,” jawab Jan, sambil mengajak Trias bersalaman.

Trias menyambut uluran tangan Jan. Lalu, selanjutnya menyalami Suzie.

“Kang, kenalkan,” ucap Trias. “Ini Nika. Nika, ini Kang Jan. Kakak sepupuku.”

Nika pun berjabat tangan dengan Jan. Lalu, tak lupa ia pun bersalaman dengan Suzie.

Trias duduk di sebelah kanan Jan. Sementara Nika duduk di sebelah kiri Suzie, tepat di seberang meja, berhadapan dengan Trias.

“Pakai sepeda?” tanya Jan.

Trias menggeleng. “Pinjam motor teman. Kasihan Nika kalau harus gowes lumayan menanjak.”

“Iyalah!” ujar Jan, tertawa. “Kamu tega, kalau sampai menuruh Nika gowes juga, Dul.”

“Aku biasa gowes kok, Kang,” potong Nika. “Berhubung untuk sampai di sini harus lewat tanjakan yang lumayan berat, makanya Trias ngotot menjemput dengan motor.”

“Si Adul pengertian,” ujar Jan. Lalu menatap Suzie. “Iya nggak, Suzie?”

Suzie hanya tersenyum.

Ya, sejak Trias tiba bersama Nika, praktis Suzie telah kehilangan semangatnya. Ia ingin pulang saja. Rasa sungkan terhadap Anna-lah yang membuatnya memaksakan diri untuk tetap berada di kampus ini hingga prosesi wisuda selesai. So, Suzie hanya bisa berharap bahwa acara ini segera usai.

Beruntung, Trias cukup tahu diri dengan tidak menunjukkan kemesraannya dengan Nika secara gamblang. Trias dan Nika selalu menggabungkan diri dengan Jan dan Suzie di dalam obrolan. Hampir tak ada dialog personal yang mereka lakukan.

Jan mengerti kegalauan yang dialami Suzie. Maka, lelaki itu pun tak henti melontarkan tema obrolan yang bersifat kasual, agar dapat melibatkan semua rekan yang ada di sekelilingnya. Berusaha netral, dengan menjadikan obrolan tersebut sebagai perbincangan yang seru bagi setiap orang.

Namun, Suzie sudah telanjur merasa tidak nyaman. Hingga usaha yang dilakukan Jan seolah percuma.

Jan bangkit dari duduknya.

“Ke mana, Kang?” tanya Trias.

“Beli rokok,” jawab Jan.

“Aku ikut,” ujar Suzie dengan segera, sambil ikut berdiri.

“Hayu,” sanggup Jan.

Jan dan Suzie berjalan berdampingan menuju suatu titik, yang tampaknya adalah kantin.

“Kamu cemburu,” gumam Jan.

“Aku, cemburu?” tanya Suzie. “Kamu salah.”

“Kamu lebih salah,” balas Jan. “Karena kamu nggak pernah jujur sama hatimu sendiri.”

“Jujur tentang apa?” kejar Suzie.

“Tentang rasa cemburu kamu,” jawab Jan. “Kedekatan si Adul dan Nika, bikin kamu cemburu.”

“Siapa yang cemburu?” bantah Suzie. “Si Adul mau jalan sama siapapun, bukan urusanku, Jan. Mau pacaran sama siapapun, aku nggak peduli. Terserah dia.”

“Iya, kamu cemburu,” Jan tersenyum.

Suzie menekuk wajah.

Tokoh Rose yang telah menjadi renta di film fenomenal Titanic berkata, “Hati wanita adalah samudera terdalam”. Sayangnya, samudera hati Suzie sudah menjadi sedemikian dangkal, hingga Jan mampu menebak isi hatinya dengan mudah.

“Kenapa kamu nggak datang bareng Ghani?” tanya Jan. “Kalau si Adul datang sama Nika, mestinya kamu juga bisa datang bareng Ghani.”

“Anna bilang, aku harus datang,” jawab Suzie. “Tapi Anna nggak bilang, aku dan Ghani harus datang.”

Jan teringat ucapan Anna tempo hari, ketika mencetuskan ide untuk mengajak Trias menghadiri wisuda,
“Sekalian ajak temannya juga, Aa.”

Kini ia mengerti, Anna mungkin memang meminta Trias untuk hadir bersama Nika. Namun sebaliknya, meminta Suzie hadir tanpa mengikut sertakan Ghani di dalam undangan lisannya itu.

Tiga menit kemudian, sebatang rokok telah terselip di bibir Jan. Dan sebungkus rokok mild yang isinya telah berkurang sebatang, sudah berada di saku kanan celana katun yang dikenakannya. Jan pun mengajak Suzie kembali ke deretan bangku kayu di depan perpustakaan kampus.

Dari kejauhan, terlihat Trias sedang bicara dengan kedua tangan sibuk memetakan sesuatu. Sementara di seberang meja, Nika tampak tertawa-tawa. Suzie melihat semuanya dengan jelas. Dan ia tiba-tiba teringat, betapa beberapa bulan lalu kerap mengalami hal yang sama saat berinteraksi dengan Trias. Tertawa-tawa.

Tanpa disadari, Suzie merindukan kebersamaannya dengan Trias. Karena kebersamaan serupa hampir tak pernah ia alami saat berinteraksi dengan Ghani.

Mereka tiba di bangku kayu yang diduduki Trias dan Nika, dan langsung disambut pertanyaan lelaki pesepeda itu,

“WA Téh Anna masuk nggak, Kang?”

“Kenapa memangnya?” tanya balik Jan. “Ponselku di mobil, Dul.”

“Pantas,” Trias terkekeh. “Barusan Téh Anna kirim WA, katanya sebentar lagi acara selesai.”

“Oh, gitu?” seru Jan. “Yo wis, ayo kita ke pelataran aula!”

***

Jan sengaja membiarkan Suzie, Trias dan Nika untuk lebih dulu menyambut Anna yang baru saja keluar dari aula bersama Mama dan Papa. Ia berjalan lebih lambat, hingga tertinggal beberapa meter di belakang ketiga rekannya itu.

Kepada Suzie, Anna memberikan salam tempel kedua pipi serta pelukan erat dan hangat, layaknya sepasang sahabat.

“Cepat menyusul ya, Say,” ucap Anna memotivasi.

Trias menyalami dan mencium punggung tangan kanan Anna dengan takzim, sebagai wujud sikap santun seorang adik terhadap kakaknya.

“Selamat ya, Téh.”

“Iya. Makasih udah datang, Trias.”

Tibalah giliran Nika, yang menyalami Anna dengan penuh hormat. Anna mengerutkan dahi.

“Temannya Trias?”

“Iya, Téh. Aku Nika.”

“Trias pintar cari teman, ya?”

Nika tersipu.

Setelah ketiga rekannya selesai mengucapkan selamat, Jan pun menghampiri Anna. Tanpa diduga, sang istri langsung menomprok dan memeluk tubuhnya. Jan balik mendekap tubuh Anna tak kalah erat, bahkan sedikit mengangkatnya hingga kedua kaki istrinya tak lagi menginjak bumi.

“Selamat ya, Sayang,” bisik Jan. “Aku benar-benar bangga sama kamu.”

“Semua berkat kamu, Aa,” jawab Anna. “Makasih buat semuanya…”

Anna mulai terisak. Pelukannya di tubuh Jan makin erat.

“Udah, jangan nangis…” lirih Jan, sambil menepuk dan mengusap punggung sang istri. “Masa’ lagi bahagia, kamu malah menangis?”

“Justru aku menangis bahagia, Aa…” jawab Anna di sela isak tangisnya. “Makasih, Aa…”

Mama dan Papa, juga Suzie, Trias dan Nika menatap takjub pemandangan tersebut. Bahkan Mama terlihat ikut menitikkan air mata. Terharu.

Saat isak tangis Anna mereda, Jan melonggarkan dekapannya. Lalu mengecup lembut kening sang istri. Kedua telapak tangannya beralih pada dua sisi pipi Anna.

“Jangan menangis lagi,” ujar Jan, seraya menatap lekat-lekat kedua mata Anna. “Sekarang saatnya kita bersenang-senang.”

Anna bergeming, hanya balas menatap Jan.

“Oke, Sayang?” sambung Jan. “Senyum dulu, atuh!”

Anna tersipu.

“Emh… cantiknya istriku kalau senyum,” goda Jan.

Anna merajuk manja, sembari mencubit pinggang kiri sang suami.

***

Setelah puas berfoto-foto di sekitar aula, mereka meninggalkan kampus. Tujuan berikutnya adalah kediaman Mas Reno dan Mbak Verra. Karena satu dan lain hal, keduanya memang tidak bisa menghadiri acara wisuda Anna.

Anna bisa mengerti, namun tetap ingin berbagi kegembiraan dengan kakak dan kakak iparnya. So, ia pun mencetuskan ide untuk menjadikan kediaman mereka sebagai lokasi acara makan-makan.

Rombongan dalam mobil Jan yang ditumpangi Mama, Papa, Anna, Suzie dan Jan sebagai sopir, serta Trias dan Nika berboncengan dengan sepeda motor, pun tiba di kediaman Mas Reno dan Mbak Verra. Mereka disambut Remy, yang sedang diasuh sang ayah, bermain di halaman rumah.

Remy mencium punggung tangan semua tamu orang tuanya. Namun bocah berusia tiga tahun itu agak ‘mogok’ saat melihat Suzie, Trias dan Nika.

“Belum kenal, jadi malu-malu,” ujar Anna. “Salim dulu dong, Sayang!”

Remy pun menuruti perintah bibinya itu.

Di dalam, Mbak Verra sedang berkutat di dapur. Namun suara riuh di bagian depan rumah tak urung membuatnya sejenak menunda kegiatan memasaknya. Lalu beranjak ke depan, menyambut para tamunya.

“Aih… sarjana kita udah datang!” serunya, sambil memburu ke arah Anna.

Anna berdiri terpaku di tempatnya, sambil tersenyum lebar. Dan ketika sang kakak tiba, ia langsung memeluknya erat-erat.

“Selamat, Nduk…” bisik Mbak Verra. “I’m so proud of you.”

“Makasih support-nya ya, Mbak,” balas Anna. “Aku nggak akan jadi sarjana tanpa dukungan kalian.”

Selanjutnya, Mbak Verra kembali ke dapur untuk merampungkan aktivitas memasaknya. Anna mengekor. Selain Mama, sang kakak memang menjadi guru memasak Anna. Jadi, Anna selalu bersemangat membantu Mbak Verra di dapur. Hitung-hitung menambah ilmu kuliner, untuk dipraktekkan bagi Jan, suami tersayang.

Sementara Anna dan Mbak Verra sibuk di dapur, ketujuh orang dewasa dan satu balita duduk-duduk di atas karpet ruang tengah. Bercengkrama seru, tentu diselingi canda dan tawa. Sesekali Anna menimpali dengan teriakan dari arah dapur.

Kalau sudah begitu, Jan berseru, “Yang lagi masak, nggak usah ikutan!”

Anna pun membalas, “Yang protes, nggak usah ikut makan!”

Momentum agak berbalik arah, ketika Remy tiba-tiba menghampiri Nika, lalu duduk manja di pangkuan gadis itu. Kelakuan bocah lucu itu pun mengundang perhatian sang nenek.

“Nika sudah pantas jadi seorang ibu,” komentar Mama. “Remy saja bisa apét!”

Nika hanya tersenyum.

“Wah… Trias senang, tuh!” timpal Papa. “Pacarnya pintar ngemong anak. Calon istri yang baik.”

Trias tertawa kecil, seraya menatap Nika, yang kebetulan pula sedang menatapnya. Reaksi berlawanan ditunjukkan Suzie, yang hanya menatap kosong ke arah pintu rumah.

Jan tahu, Suzie tidak sedang melamun. Suzie dapat mendengar komentar Mama dan Papa dengan jelas. Tatapan kosong itu, menurut penafsiran Jan, adalah wujud kekosongan hati Suzie, yang tersayat oleh kebersamaan Trias dan Nika.

Trias pun menyadari itu. Sejak di kampus, ia melihat sikap Suzie yang kelu. Tetangga kost-nya itu bagaikan batu bacan yang kehilangan kilapnya akibat lama diabaikan dan disia-siakan di dalam kotak laci oleh pemiliknya. Suzie yang cantik tampak keruh dan kehilangan pesonanya. Dan Trias tahu persis apa yang jadi penyebabnya.

Nika pun serupa Jan dan Trias. Ia tahu, Suzie mencemburuinya. Dan rasa cemburu membuat Suzie menjelma jadi sedingin biang es. Sesaat, Nika merasakan penyesalan karena telah menyanggupi ajakan Trias untuk menghadiri wisuda Anna.

Situasi diperparah oleh celetukan tanpa dosa dari bibir Mas Reno,

“Aku baru sadar, terakhir ketemu Trias waktu pernikahan Anna, datang bareng Suzie,” ujarnya. “Hari ini Trias keren, mengajak dua perempuan sekaligus.”

Tak ada yang tertawa. Sebaliknya, kecanggungan melanda tiga orang sekaligus. Trias, Suzie dan Nika.

Beruntung, kehadiran Anna dan Mbak Verra dengan membawa kabar bahwa makan siang telah siap disajikan di atas meja makan, sedikit menyelamatkan situasi. Meski bagi Trias, Nika dan Suzie, situasi siang ini telah sepenuhnya berantakan.

***

Pondok Trikora, selepas Isya.

“Aku jadi nggak enak hati,” ucap Nika. “Gara-gara kehadiran aku, situasinya jadi rikuh.”

“Bukan salah kamu, kok,” tenang Trias, tersenyum.

“Jadi salah siapa?” tanya Nika. “Jangan bilang salah tukang rujak, akuarium malah dipakai menyimpan buah-buahan!”

Trias tergelak.

“Nggak ada yang salah dalam kasus ini, Nika,” ujar Trias. “Kalau ternyata Suzie menyukai aku, dia nggak bisa disalahkan, karena itu soal hati. Kalau Suzie cemburu akibat kehadiran kamu dalam hidup aku, kamu juga nggak bisa disalahkan, karena kamu dekat dengan aku, yang bukan siapa-siapanya Suzie.”

“Mungkin kamu yang salah, Trias,” gumam Nika.

“Mungkin,” tanggap Trias. “Tapi aku juga punya argumen, bahwa aku bukan siapa-siapanya Suzie. Jadi, aku bebas mendekati kamu, seperti juga kamu yang bebas didekati.”

Terjebak dalam cinta segitiga memang selalu membuat pelik siapa pun yang terlibat di dalamnya. Jika dibuat survey, mungkin hasilnya adalah 100% responden tidak mau terlibat cinta segitiga.

“Kadang aku berpikir, ternyata selama ini aku udah jadi pengganggu dalam hubungan kalian,” gumam Nika. “Sebelum aku datang, interaksi kalian mungkin baik-baik aja. Ketika aku muncul dalam kehidupan kalian…”

“Hidupku pun membaik,” potong Trias.

“Maksudmu?” Nika mengerutkan kening.

“Yaa… membaik,” jawab Trias. “Dari awalnya buruk, menjadi tidak buruk.”

“Memangnya apa yang udah aku lakukan, sampai bisa bikin hidupmu membaik?”

“Kadang seseorang nggak perlu melakukan apapun untuk bisa mengubah hidup orang lain.”

Nika beringsut, mendekati Trias. Kini mereka duduk rapat sekali. Trias berinisiatif untuk melingkarkan tangan kirinya di pinggang Nika.

“Trias,” lirih Nika. “Kalau aku pergi…”

“Kamu makin sehat, ‘kan?” potong Trias. “Hasil check up terakhir kamu, menjelaskan semuanya, ‘kan?”

“Aku bisa pergi kapanpun, Trias,” Nika tersenyum. “Dan dengan cara apapun. Kematian, atau keinginan untuk menjauh darimu. Kita nggak akan tahu, apa yang akan terjadi di masa depan.”

“Aku nggak mau kamu pergi,” sanggah Trias.

“Aku juga nggak mau pergi dari kamu,” Nika tersenyum. “Tapi, kalau aku harus pergi…”

Trias menatap Nika dengan tatapan yang menyiratkan keterpurukan. Hingga Nika pun iba.

“Kamu nggak pernah menyakiti hati Téh Suzie, ‘kan?” tanya Nika, secara drastis membelokkan arah obrolan. “Apa kamu pernah, misalnya, kasih Téh Suzie harapan, sehingga dia sakit hati ketika kamu dekat sama aku?”

“Seingatku, nggak pernah,” jawab Trias. “Entah yang nggak disengaja.”

“Yakin?” Nika menatap lekat-lekat mata Trias, seolah mencari kejujuran di sana.

Trias mengangguk. “Kalau boleh jujur, justru Suzie yang menyakiti aku, karena terlalu asyik sama Ghani. Sampai kadang menganggap aku nggak ada. Lalu sekarang, ketika aku dekat sama kamu, Suzie ujug-ujug cemburu. ‘Kan nggak lucu. Kemarin-kemarin, dia ke mana aja, coba?”

“Ternyata kamu juga cemburu sama Ghani,” Nika menahan senyum. “Meskipun aku nggak tahu, cemburu dengan porsi kayak gimana.”

“Iya,” Trias tak mencoba menampik dugaan Nika. “Kehilangan sahabat yang keasyikan sama pacarnya, lumayan menyakitkan, lho!”

Nika mengangguk setuju.

***

Kost-an Sejahtera, di waktu yang sama.

Suzie membiarkan kedua telapak tangan Ghani menggerayangi tubuhnya yang kini hanya tertutupi sehelai celana dalam hitam. Ia membiarkan Ghani memuaskan dirinya sendiri. Suzie sendiri menerima setiap perlakuan Ghani nyaris tanpa hasrat. Hati kecilnya menolak percumbuan ini, namun ia tak punya kekuatan untuk menolak.

Ucapan dengan maksud canda yang dilontarkan Mas Reno tadi siang, benar-benar telah merusak harinya. Hatinya miris, membayangkan fakta bahwa dirinya justru merasa patah hati di hari yang bagi Anna, sang sahabat, adalah salah satu hari terindah dalam hidupnya. Semua terasa menjadi begitu kontradiktif dan ironis.

Dan segala kepatahhatian itu berimbas pada hilangnya libido Suzie yang biasanya meledak-ledak itu. Hingga sentuhan stimulasi Ghani pada titik-titik sensitif, tak sedikit pun memengaruhi gairah birahinya.

Kenapa aku jadi kayak gini, sih…? ratap Suzie di dalam hati.

Hatinya makin sesak, karena Ghani, pria yang kini tengah menggumulinya, tampak sama sekali tidak peka akan gestur tubuh Suzie yang jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Hingga ketika Ghani mengarahkannya untuk menungging di atas ranjang, lalu buru-buru melesakkan penisnya ke dalam rongga vagina dari arah belakang, air mata pun menetes dari kedua sudut mata Suzie.

Ya, tak ada rasa sakit di rongga kemaluan Suzie. Rasa sakit malah melanda batinnya, yang justru begitu kesepian di kala seorang pria tengah menyebadaninya.

***

Kediaman Jan dan Anna, pukul sepuluh lewat.

“Kamu memang minta si Adul datang bareng Nika, Nduk?” tanya Jan, sambil mencomot sepotong pisang molen, lalu melahapnya.

Anna mengangguk. “Aku kepingin kenal sama teman dekatnya Trias. Ternyata anaknya manis dan asyik.”

“Cocok sama si Adul,” Jan tersenyum.

“Iya,” Anna pun ikut tersenyum.

“Nah, kamu juga sengaja minta Suzie datang tanpa Ghani?” tanya Jan lagi.

“Aku nggak bilang begitu secara langsung,” jawab Anna. “Aku bilang, ‘Kamu harus datang’. Memang beda dengan ketika aku undang Suzie di acara makan-makan ulang tahunmu. Waktu itu aku kasih penekanan, ‘Ajak Ghani’.”

“Dan Suzie cukup mengerti kalau kamu memang nggak mengundang Ghani,” simpul Jan.

Anna hanya tersenyum.

“Kalau ada Ghani, mungkin tadi nggak akan terjadi kekakuan antara Nika dan Suzie,” asumsi Jan. “Setidaknya, Suzie nggak akan terlalu merasa cemburu, karena dia punya pasangan juga.”

“Kalau ada Ghani, justru makin banyak kekakuan,” tandas Anna. “Kamu pasti ingat kejadian waktu syukuran ulang tahun kamu itu, ‘kan?”

“Iya, sih…” gumam Jan. “Kamu nggak nyaman sama Ghani ya, Nduk?”

“Iyalah!” tukas Anna cepat. “Gimana aku bisa nyaman, kalau mata Ghani terus menggerayangi aku? Kenapa waktu itu kamu nggak damprat dia, sih?”

“Karena kita lagi di tempat umum,” Jan tersenyum. “Aku nggak mau dibilang sok jantan sama orang-orang.”

“Kamu memang jantan, kok!” ujar Anna. “Buat aku doang…”

Jan tergelak.

“Kalau bisa, aku kepingin menjauhkan Suzie dari Ghani, Aa,” gumam Anna. “Tapi aku tahu, rasanya itu nggak mungkin.”

Jan mengangguk. “Dulu, harapan kita ada di tangan si Adul. Sekarang, itu anak terlanjur dekat sama Nika.”

“Nah, itu masalahnya,” Anna mengedikkan bahu. “Salah Suzie juga, terlalu meremehkan Trias. Sekarang, mungkin Suzie menyesal.”

Bersambung