Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Anna, Sidang Akhir, dan Frigiditas

Pintu ruang kelas 403 yang disulap menjadi ruangan sidang itu terbuka. Jan yang duduk di salah satu dari sederet bangku tunggu, tak jauh dari pintu tersebut, sontak berdiri. Lalu menghampiri pintu itu. Tak lama, sesosok wanita berparas indah pun keluar. Anna, sang istri. Ia menatap Jan lekat-lekat.

“Gimana?” tanya Jan.

Wanita itu tersenyum sekilas. “Kita ke taman. Di sini gerah.”

Jan mengekor.

Bagi Jan, perjalanan menuruni anak tangga dari lantai empat menuju taman fakultas terasa begitu jauh. Hal tersebut terjadi karena ia begitu penasaran terhadap kabar yang akan segera disampaikan Anna perihal hasil sidang kelulusannya. Sementara, bertanya langsung pada sang istri, tampaknya bukanlah pilihan bijak.

Dan tibalah mereka di taman fakultas. Anna mengajak Jan untuk duduk di salah satu bangku beton yang letaknya agak terpencil. Jan nunut saja, membiarkan arah langkahnya mengikuti tarikan tangan Anna.

“Duduk, Aa,” ucap Anna, sambil duduk di atas bangku beton.

Jan pun duduk di sisi kanan sang istri.

Lalu, tanpa Jan duga, Anna langsung memeluk erat tubuh sang suami. Dibenamkannya dalam-dalam wajahnya di dada bidang Jan.

“Aku berhasil jadi sarjana,” lirih Anna. “Aku lulus, Aa.”

Perasaan Jan pun membuncah.

***

Ketika suasana hati sedang bahagia, cuaca seburuk apapun tak akan jadi halangan untuk bisa tertawa. Hal itulah yang sore ini sedang dirasakan Jan dan Anna. Langit mendung, dan air hujan mengguyur alam Bandung nyaris tanpa jeda. Namun, buruknya cuaca tak mampu menghalau raut bahagia di wajah pasangan suami-istri tersebut. Terutama Anna.

“Sejak masih SD, aku sering diajak Papa makan bubur ayam di sini,” cerita Anna, di sela-sela suapan bubur ayam yang tengah disantapnya. “Bertiga, bareng Mbak Verra juga.”

“Berarti si Akang tukang buburnya udah tua, atuh?” bisik Jan lirih.

“Tanya aja sendiri,” ujar Anna. “Aku nggak berani. Pertanyaan soal umur ‘kan sensitif!”

Jan tergelak.

Saat ini, Jan dan Anna memang sedang menikmati bubur ayam di sebuah lapak kakilima yang terletak di Jl. Astanaanyar, yang lokasi berjualannya menumpang di halaman sebuah bank swasta itu. Lapak bubur ayam ini telah eksis sejak tahun 1980-an, bahkan jauh sebelum bangunan bank swasta itu berdiri.

“Dari dulu, penjualnya nggak berubah,” beritahu Anna. “Bedanya, dulu dia berjualan sendiri, sekarang dibantu anak-anaknya. Maklum, konsumennya makin banyak.”

Jan mengangguk, sambil terus menikmati bubur ayam dengan topping standar namun jumlahnya kolosal itu. Terlihat jelas bahwa lelaki itu menyukainya.

“Dari dulu, buburnya nggak berubah,” lanjut Anna. “Tetap berwarna putih.”

“Iyalah!” sontak Jan menghentikan suapannya, lalu menatap Anna. “Informasi soal warna bubur tadi, penting banget dan memberikan tambahan ilmu, Nduk.”

Anna tergelak. “Nggak boleh protes. Aku lagi bahagia, jangan disela.”

“Kamu senang banget bisa lulus sidang, ya?” komentar Jan.

“Begitulah,” gumam Anna, tersenyum. “Setelah sempat mandek, akhirnya rampung juga. Sekarang aku bisa mulai menjalankan rencana ke depannya.”

“Rencana apa?” tanya Jan.

Bola mata Anna berputar-putar jenaka. “Punya anak.”

“Ahh… setuju,” tanggap Jan semangat. “Enam, cukup?”

“Waduh!” Anna tergelak. “Kamu mau bikin dua tim sepak takraw sekaligus, ya?”

Jan tertawa.

Obrolan terhenti sejenak karena ponsel Jan berbunyi. Lelaki itu mengalihkan perhatiannya dari bubur ayam pada layar ponselnya. Sementara Anna tetap asyik menyantap bubur ayam, tak terganggu oleh aktivitas yang dilakukan sang suami.

“WA dari si Adul,” ujar Jan, sambil menyorongkan layar ponsel ke atas mangkok bubur ayam Anna.

Mau tidak mau, Anna pun menghentikan kegiatan santap bubur ayamnya. Lalu menatap layar ponsel pintar sang suami.

Aku ikut senang. 🙂
Congrats, ya…
Ditunggu makan2nya heheh.

Anna tersenyum. “Kita wajib traktir Trias.”

“Pasti, Nduk,” tanggap Jan setuju. “Si Adul harus ikut menikmati kebahagiaan kita.”

“Sekalian ajak temannya juga, Aa,” tambah Anna.

“Suzie, maksudnya?” tebak Jan.

“Bukan,” jawab Anna. “Teman dekatnya. Aduh… aku lupa namanya. Tapi, Suzie juga harus diajak, Aa.”

“Sebentar. Si Adul punya teman dekat?” seru Jan tak percaya. “Kamu tahu dari mana?”

“Suzie yang cerita,” jelas Anna. “Trias punya teman dekat wanita. Wajahnya manis, anak sepeda juga.”

Jan tertawa kecil. “Aku nggak bisa membayangkan, gimana cemburunya Suzie ketika si Adul dekat sama perempuan lain.”

Anna pun ikut tertawa. “Suzie pasti nggak akan mengaku, Aa.”

Tanpa terasa, bubur ayam keduanya telah tandas.

“Pulang sekarang?” tanya Jan.

“Hayu,” sanggup Anna.

Jan pun menyelesaikan pembayaran, sementara Anna langsung menuju area halaman bank swasta di mana sepeda motor sang suami terparkir. Dua sekuriti bank melayangkan pandangan ke arah Anna, jelas terlihat mereka terpesona akan keelokan sosok wanita itu.

Tak lama, Jan menghampiri,

“Langsung pulang, Nduk?” tanya Jan lagi. “Atau mau mampir dulu di tempat lain?”

“Langsung pulang aja,” jawab Anna. “Aku kepingin rebahan.”

“Rebahan sambil pelukan?” goda Jan.

Anna menyikut pinggang kiri Jan.

***

Jan dan Anna telah tiba di kediamannya. Lebih jauh, bahkan keduanya telah berada di kamar tidur. Anna merebahkan diri di atas ranjang, seperti keinginannya sejak masih berada di lapak kakilima bubur ayam. Sementara Jan masih berganti pakaian.

Keisengan Jan dimulai. Alih-alih berpakaian lengkap, ia malah hanya mengenakan celana dalam saja.

“Baju bersih kamu habis, Aa?” tanya Anna.

Jan menggeleng, sambil tersenyum.

“Kenapa nggak pakai baju, atuh?” tanya Anna lagi.

“Nanti juga telanjang lagi,” seloroh Jan, menahan tawa.

Anna melotot.

Jan membaringkan tubuh di sisi kanan tubuh Anna. Diletakkannya tangan kanannya di atas perut Anna. Sang istri langsung mengusapi punggung tangan kanan Jan. Diletakkannya kepalanya bersandar di pundak kiri Jan.

“Masih stres?” tanya Jan.

Anna terdiam, lalu menggeleng pelan. “Beban sidang udah hilang, kok!”

“Berarti nggak akan frigid lagi kayak pekan lalu, dong?” goda Jan.

Anna tertawa renyah.

***

Apa yang terjadi antara Jan dan Anna di pekan lalu?

Jan heran dengan reaksi Anna yang terkesan tidak antusias dalam menerima setiap stimulasi yang ia berikan. It’s not a real Anna. Yang ia ketahui tentang sang istri selama usia pernikahannya, adalah gairahnya yang meletup-letup di atas ranjang. Meski kerap bersikap malu-malu di awal percumbuan, namun Anna selalu bisa mengimbangi libido Jan yang tinggi.

Malam itu, Anna hanya bereaksi minim setiap menerima sentuhan rangsangan Jan. Tak ada geliat liar, rintih nakal, jerit binal, apalagi gelinjang orgasme. Anna lebih sering terpaku dalam persetubuhan mereka yang telah berlangsung hampir 15 menit itu. Jelas, Jan merasa cukup terganggu dengan sikap sang istri.

Goyangan pinggul Jan tiba-tiba berhenti, dan praktis membuat batang kemaluannya pun berhenti mempenetrasi rongga vagina Anna.

“Kenapa berhenti?” tanya Anna.

“Kamu nggak menikmati, ya?” tanya balik Jan. “Jujur aja.”

Anna tak menjawab.

“Malam ini kamu frigid,” sambung Jan. “Lain daripada biasanya. Ada apa, Nduk?”

Anna masih terdiam.

Perlahan Jan mencabut penisnya, keluar dari liang kemaluan Anna. Lalu menggulingkan tubuhnya di sisi tubuh Anna.

“Kamu marah, Aa?” tanya Anna, menatap Jan.

Jan balik menatap Anna. “Marah, karena kamu nggak terbuka.”

Anna makin terpojokkan. Ia hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa.

Hingga lima menit kemudian,

“Aku stres, Aa…” ucap Anna lirih. “Itu yang bikin aku nggak enjoy.”

“Stres?” tanya Jan. “Stres gara-gara apa?”

“Stres memikirkan sidang,” jawab Anna.

“Oh,” gumam Jan, lalu tertawa kecil.

Anna sedikit terganggu oleh tawa Jan. “Nggak wajar, ya? Maafin aku…”

Anna menggulingkan tubuh, memunggungi Jan. Namun sang suami langsung merengkuh pundaknya, hingga Anna kembali berhadapan dengan Jan. Wajah istrinya yang menyiratkan kedongkolan, membuat Jan terenyuh.

“Sini, Sayang,” ucap Jan, sambil lalu menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya. Dikecupnya kening sang istri dengan lembut. “Maksud aku bukan seperti itu. Aku tertawa, karena kamu nggak cerita soal stres kamu. Kamu tetap melayani ajakan ML. Padahal aku mengerti, gimana nggak enaknya ML dalam keadaan otak yang stres.”

Anna tak menanggapi kata-kata Jan.

“Makanya, kamu harus cerita kalau punya unek-unek,” sambung Jan. “Terbuka aja, nggak usah disembunyikan.”

“Aku nggak mau kamu kecewa,” alasan Anna. “Masa’ suami minta jatah, nggak aku kasih? Istri macam apa, coba?”

“Aku nggak pernah berpikir seperti itu, kok,” Jan tersenyum. “Aku malah nggak mau memaksakan kehendak. Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Aku nggak akan memaksa.”

Anna terdiam.

“Mulai malam ini sampai sidang skripsimu, aku nggak akan minta jatah,” lanjut Jan. “Kecuali kalau kamu lebih dulu minta.”

Jan merasakan Anna makin melekatkan tubuh dengan tubuhnya. Ia pun merespons dengan mendekap tubuh telanjang sang istri makin erat.

“Semoga sidangnya lancar, Sayang,” bisik Jan. “Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu, Aa…” balas Anna.

***

Kembali ke malam ini.

“Jadi sekarang kamu mau nagih jatah yang nggak pernah aku kasih selama seminggu, gitu?” canda Anna.

“Iya,” Jan menahan tawa. “Mmm… tujuh hari libur, berarti malam ini tujuh ronde.”

“Iya, hayu,” Anna merengut. “Besok kita sakit tifus.”

Jan tergelak.

Sebenarnya, selama sepekan terakhir, sikap Anna tidak sedingin yang dibayangkan. Situasi kamar tidur tetap hangat. Mereka tetap saling umbar kemesraan di atas ranjang. Hanya saja, kehangatan tersebut tidak berlanjut dengan persetubuhan seperti biasanya. Jan cukup mengerti dengan keadaan psikis sang istri yang sedang tidak siap.

So, meski secara seksual tidak mampu saling memuaskan, namun Jan dan Anna tetap bisa memenuhi kebutuhan batin satu sama lain.

“Kamu serius, mau cepat-cepat punya anak?” tanya Jan. Tangan kanannya tak henti mengelusi perut Anna.

Anna mengangguk semangat. “Anak itu buah cinta, Aa. Kita saling cinta, udah semestinya berbuah anak.”

“Iya, sih,” gumam Jan.

“Sebenarnya, dari awal kita menikah, aku udah kepingin cepat-cepat punya momongan,” ucap Anna. “Tapi, berhubung aku belum naik sidang, keinginan itu ditunda dulu. Hari ini aku udah lulus sidang, niat itu langsung muncul, Aa. Kamu nggak kepingin punya anak?”

“Yaa… pengen, lah!” Jan tersenyum. “Kalau kita udah punya anak, bakal ada dua orang yang selalu aku kangeni. Selalu aku sayangi.”

“Makanya, ayo kita fokus bikin anak,” cetus Anna.

“Lha, selama ini kita nggak fokus, gitu?” tukas Jan. “Hampir tiap malam, lho!”

“ML-nya memang fokus,” Anna tertawa kecil. “Tapi tujuannya bukan untuk bikin aku hamil, ‘kan?”

Jan ikut tertawa ringan.

“Nah, mulai sekarang, kita tancap gas, ya!” sambung Anna. “Nggak usah pakai sistem kalender, pakai pil KB. Apalagi sampai orgasme di luar!”

“Iya, Nduk,” tanggap Jan. “Orgasme di luar itu nggak enak!”

“Pastilah…” Anna menahan tawa. “Berasa kayak ML anak SMA, orgasme di luar biar nggak hamil.”

“Nggak tahunya telat mencabut,” timpal Jan. “Si cewek putus sekolah, deh!”

Anna tergelak, seraya mencubit pelan punggung tangan kanan Jan yang sedari tadi mengusapi perutnya itu.

Jan beringsut. Kini tubuhnya setengah menindih tubuh Anna. Anna menatap kedua mata sang suami lekat-lekat.

“Kamu udah kepingin ngentotin aku, ya?” tebak Anna.

Jan mengangguk jujur.

“Telanjangi aku, atuh,” minta Anna.

Dan tak perlu diminta hingga dua kali, kedua tangan Jan pun dengan cekatan menanggalkan setiap helai kain yang menempel di tubuh sintal Anna. Sepekan puasa bercinta, membuat libidonya memuncak secara signifikan. Sebaliknya, Anna terus tersipu saat Jan membuat tubuhnya semakin terbuka.

“Berdoa dulu, Aa,” ingat Anna. “Semoga usaha kita malam ini berhasil.”

Anna terus memasang raut wajah tersipu. Khas wanita cantik itu, saat akan memulai persetubuhan. Namun, Jan sangat menyukai sikap malu-malu ala Anna tersebut. Di matanya, rona tersipu itu membuat sang istri terlihat menggemaskan. Alhasil, Jan terus menggoda Anna, demi memancing sifat polosnya itu.

Hingga ketika kedua tangan Jan mulai menggerayangi dan menyentuh titik sensitif di tubuhnya, Anna pun melenguh. Raut malu-malu pun perlahan hilang, digantikan ekspresi birahi yang berharap dipenuhi.

“Puaskan aku…” lirih Anna.

***

Satu jam kemudian, setelah Jan dan Anna melewati kebersamaan dalam persetubuhan yang panas dan penuh gairah. Tentu diakhiri dengan orgasme yang nikmat, seiring kepuasan yang mereka raih. Sepekan tanpa seks membuat keduanya begitu menggebu ‘merayakan’ kehangatan yang tertunda berhari-hari.

“Terbukti, ‘kan?” cetus Jan. “Ketika stres hilang, gairah kamu kembali lagi.”

Anna menanggapi ucapan Jan dengan senyuman.

“Kamu lain malam ini,” komentar Jan. “Lebih gimana, gitu.”

“Binal, ya?” tebak Anna, seraya tersenyum malu.

Jan mengangguk.

“Kamu suka kalau aku binal?” tanya Anna.

“Nggak masalah, selama binalnya di depan aku,” jawab Jan. “Jadi aku punya lawan seimbang.”

Anna tertawa. “Iya, aku pasti cuma binal di depan kamu. Lagipula, mana pernah aku pergi tanpa kamu, Aa?”

“Iya, ih!” tanggap Jan. “Kamu manja, ke mana-mana harus sama aku.”

Anna merengut. “Sama kamu, aku selalu merasa aman, Aa. Makanya, aku kepingin ke mana-mana selalu sama kamu.”

“Iya, aku mengerti,” Jan tersenyum. “Kamu aman, sama aku.”

Anna tak sanggup membayangkan, apa jadinya dia andai tak ada lagi Jan di sisinya. Mungkin dunianya akan jungkir balik. Anna ngeri membayangkannya, betapa Jan telah berarti segalanya. Ia tak mau begitu. Namun, hati wanita mana yang tak akan meleleh saat menerima perlakuan Jan yang sangat laki-laki?

Jan bangkit, dan duduk di tepi ranjang. Anna nunut, dengan duduk di sisi kanan Jan. Lelaki itu langsung melingkarkan lengan kanannya di bahu sang istri.

“Apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah biarkan kamu jalan sendiri,” ucap Jan.

“Makasih, Aa…” tanggap Anna lirih. Dibaringkannya kepalanya di bahu sang suami. “Aku bahagia, benar-benar bahagia, punya suami sehebat dan sebaik kamu.”

Jan mengusap lembut ubun-ubun Anna. “Aku juga bahagia, punya istri yang selalu bisa menghargai setiap usaha yang aku lakukan untuk membahagiakan kamu.”

Bersambung