Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Terbakar Cemburu

What she got that I don’t, what she do that I won’t.
You must be blind take a good look at her.
She’s not your kind.
I don’t’ know what I’d do, if I saw her with you.

I’m jealous,
I’m jealous,
I’m jealous out of my mind.

(Divinyls – I’m Jealous)​

Trias mengayuh sepedanya dengan tempo lambat menyusuri Jl. Cibogo yang agak menanjak. Setiap mobil yang akan menyalipnya terpaksa melambat, karena lalu lintas dari arah berlawanan cukup padat. Seperti biasa terjadi setiap sore, di saat jam pulang kerja.

Ruas jalan yang tak terlalu lebar ini berujung di Perumnas Sarijadi, perumahan nasional pertama yang didirikan di Bandung Raya. Di titik tersebut, Trias biasanya menarik napas karena kontur jalan sepanjang sekira 200 meter itu relatif datar, sebelum kembali disuguhi tanjakan ‘putus asa’ di sepanjang Jl. Sarimanah Raya. Tanjakan yang tidak terlalu terjal, namun cukup panjang hingga tetap melelahkan.

Di ujung Jl. Sarimanah Raya, Trias belok kiri memasuki ruas Jl. Sariasih. Kembali, trek relatif datar membuatnya bisa sejenak menarik napas dan memulihkan tenaga. Menjelang portal masuk Setra Duta, kontur jalan malah menurun mulus. Trias dapat memacu sepedanya dengan cukup laju, tanpa perlu mengayuh pedal.

Jika mengambil jalan arah lurus, kita akan memasuki perumahan elit Setra Duta. Rute yang dipilih Trias adalah belok kanan menuju kampus sebuah politeknik. Begitu membelok, akan terlihat sebuah tanjakan terjal sepanjang kurang dari 200 meter. Namun curamnya kontur jalan membuat jarak sependek itu mesti ditempuh dengan menguras banyak keringat.

Sudah ratusan kali Trias melaluinya, dan ratusan kali pula ia merasa jeri saat menatap ujung tanjakan di atas sana. Namun, inilah salah satu resiko pesepeda, yang teguh dengan tunggangannya dalam berbagai medan itu. Trias dan sepeda lawasnya harus tetap melahap tanjakan tersebut.

Di seperempat akhir tanjakan, ekspresi penuh perjuangan di wajah Trias sontak berganti raut sumringah. Apa pasal? Ia menemukan seseorang sedang menuntun sepedanya hingga akhir tanjakan terjal itu. Trias mengayuh pedal sepedanya, dan melompat turun saat berhasil menjajari pesepeda yang menuntun kereta angin tersebut.

Seseorang yang ternyata berkelamin wanita itu menoleh ke arah Trias, lalu tersenyum senang. “Kamu, Trias. Tumben lewat rute ini!”

“Cari suasana baru,” jawab Trias. “Eh, malah ketemu kamu. Senangnya…”

Wanita yang ternyata adalah Nika itu tersenyum lagi. “Aku juga senang ketemu kamu.”

Gadis manis itu memang terbiasa melewati rute tersebut, setiap hari, saat berangkat dan pulang kerja. Rute yang panjangnya kurang dari empat kilometer, namun hampir 90 persen di antaranya merupakan tanjakan, termasuk tanjakan curam yang saat ini sedang ia lalui dengan menuntun sepedanya. Rute yang melelahkan baginya, terutama saat perjalanan pulang.

Sementara Trias hampir tidak pernah melewati rute ini. Setiap pergi dan pulang kerja, ia biasa melintasi rute Jl. Setrasari dan Jl. Gegerkalong Hilir untuk menuju Ciwaruga. Sore ini adalah pengecualian, karena Trias ingin mencoba suasana berbeda. Tak dinyana, ia malah berjumpa Nika. Dan suasana berbeda pun benar-benar didapatkannya, jauh melebihi ekspektasi.

Tepat di depan gerbang masuk kampus politeknik, mereka menepikan sepeda masing-masing yang sama-sama dituntunnya itu. Sejenak beristirahat dan minum barang satu atau dua teguk air dari bidon, sambil menarik napas. Tak dipedulikannya lalu lalang sepeda motor yang dikemudikan para mahasiswa di sekitar mereka.

Semenit kemudian,

“Lanjut lagi, Trias?” tanya Nika.

“Terserah kamu,” jawab Trias. “Kamu siap?”

Nika mengacungkan kedua jempol tangannya.

Nika mengayuh pedal sepedanya dengan tempo sedang, menyusuri jalan cukup lebar yang mengitari area kampus politeknik tersebut. Kontur jalan yang sedikit menanjak namun secara keseluruhan relatif datar itu akan membawa mereka menuju Ciwaruga, desa tempat bercokolnya rumah kost Nika dan Trias.

Trias membuntuti rapat di belakang Nika. Sesekali ia membarengi laju sepeda gadis manis itu, untuk sekadar melontarkan gurauan kecil. Nika selalu tertawa saat mendengar kelakar tersebut. Alhasil, meski keringat membasahi tubuhnya, Nika tetap merasakan keceriaan.

Selepas portal milik kampus politeknik, terdapat pertigaan jalan. Jalan lurus yang menurun adalah arah menuju Cihanjuang. Nika dan Trias berbelok ke arah kanan yang sedikit menanjak, memasuki Jl. Gegerkalong Girang. Jajaran rumah kost dan warung nasi mulai terlihat di ruas jalan tersebut.

Sekira dua ratus meter kemudian, mereka tiba di pertigaan jalan. Arah ke kanan adalah jalan menuju Gegerkalong dan Jl. Setiabudhi. Nika dan Trias memilih arah lurus, memasuki Jl. Waruga Jaya.

“Nge-juice dulu, Nika?” tanya Trias, sambil membarengi laju sepeda Nika.

“Nge-juice di kost-an aja,” jawab Nika, sambil tersenyum. “Nge-juice daun sirsak.”

Trias tergelak.

“Kok malah ketawa?” protes Nika. “Biar aku sembuh, ‘kan? Buat kamu, lho!”

“Iya, Sayang,” Trias bergumam. “Makasih udah berjuang untuk sembuh, demi aku.”

Nika mengedipkan kelopak mata kirinya.

Mereka tiba di depan kost-an Sejahtera.

“Mampir, yuk!” ajak Trias. “Kita minum teh dulu.”

“Aku mandi dulu, ah!” jawab Nika. “Nanti sehabis mandi, aku langsung ke sini. Kebetulan, aku mau kasih sesuatu buat Téh Suzie. Boleh?”

“Jangan!” larang Trias dengan segera. “Sehabis mandi, pakai baju dulu. Jangan langsung ke sini.”

“Asu!” umpat Nika, sambil lalu tertawa berderai.

***

Sebuah pesan Whatsapp dari Nika,

Aku di depan kost-an kamu.
Jemput…

Trias pun bergegas bangkit, lalu keluar kamarnya.

Di koridor kost-an, Trias berpapasan dengan Suzie, yang tampaknya baru tiba dari kampus. Keduanya sama-sama menghentikan langkah kakinya.

“Eh, baru pulang, Zie?” tegur Trias.

Suzie tersenyum. “Nika di depan, tuh! Tadi kuajak masuk, dia nggak mau. Malu, katanya.”

“Iya,” Trias tertawa kecil. “Dia nge-WA, minta jemput. Kolokan banget, ya?”

“Tapi kamu cinta, ‘kan?” ujar Suzie datar.

Trias terkekeh.

“Yo wis, cepat temui, Dul!” suruh Suzie. “Nanti pundung, lho!”

Suzie pun berlalu, menuju kamarnya. Trias bergegas melangkah ke halaman kost-an.

Di balik pagar, Nika berdiri sambil menatap layar ponselnya. Raut wajahnya tampak cemas. Trias buru-buru menghampirinya.

“Ada apa, Nika?” tegurnya. “Kamu digoda orang?”

Nika tersenyum, lalu menggeleng. “Sedikit risih, Trias. Berdiri di depan kost-an orang, berasa jadi stalker.”

“Lha, tadi kamu diajak masuk sama Suzie,” komentar Trias. “Kenapa nggak mau?”

“Malu,” Nika menahan senyum. “Minder, jalan bareng sama perempuan cantik.”

Trias tak mampu menahan tawa. Nika menyikut pinggang lelakinya itu.

“Jangan ketawa, atuh!” protes Nika. “Tega, ih…”

“Iya, maaf,” ucap Trias, sambil menarik tubuh Nika ke dalam rangkulannya, lalu mengecup sekilas ubun-ubun gadis itu. “Hayu masuk.”

***

Yang dilakukan Suzie setibanya di kamar kost-nya, adalah men-charge ponsel pintarnya. Kegiatan yang sangat kekinian, dan bukan perilaku aneh di jaman sekarang. Ia sendiri lalu duduk bersila menghadapi meja tulis berkaki rendah. Menatap permukaan lembar styrofoam yang berfungsi sebagai mading mini itu. Deretan foto dirinya bersama Ghani, terpajang di sana.

Berbagai pose terlihat pada foto-foto tersebut. Semuanya berpangkal pada satu kesimpulan, bahwa Suzie dan Ghani adalah pasangan yang hangat dan penuh kemesraan. Suatu rasa yang kini semakin luntur dari interaksi yang terjadi di antara mereka.

Suzie merasakan kedua matanya memanas. Imbas dari hatinya yang terasa sesak dan pilu. Ia tak pernah mengira, betapa gairah cinta yang dulu membalut kebersamaan dirinya dan Ghani, kini nyaris hilang tak bersisa. Hanya tertinggal nafsu birahi tanpa kedalaman rasa di hati.

Tanpa ia sadari, Trias dan Nika telah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Tétéh…” sapa Nika.

Suzie tersadar dari ketermenungannya. Ia menoleh, lalu melemparkan senyum ke arah Trias dan terutama Nika, yang baru saja menegurnya. “Iya, Nika?”

“Ada ini… sebentar,” Nika melangkah memasuki kamar, sambil mengaduk isi tas selempang hitamnya. Kemudian mengeluarkan dan menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Suzie. “Buat Tétéh.”

“Apa ini?” Suzie menerima kotak kecil itu.

“Buka aja,” jawab Nika. “Kebetulan aku lihat waktu cuci mata di mal.”

“Makasih ya, Nika,” ucap Suzie pelan, sambil meletakkan kotak kecil itu di atas meja tulis.

“Sama-sama,” Nika tersenyum. “Mudah-mudahan Tétéh suka.”

Suzie hanya tersenyum.

“Kami ke kamar dulu, Zie,” pamit Trias.

“Oh iya, Dul,” jawab Suzie. Lalu menatap Nika. “Makasih kado kecilnya, Nika.”

“Iya, Téh,” balas Nika, sambil tersenyum riang.

Trias dan Nika pun berlalu.

Sepeninggal Trias dan Nika, terdorong rasa penasaran, Suzie membuka kotak kecil itu. Dan ia sedikit tertegun saat mengetahui isinya. Sebuah action figure Bart Simpson yang berpose mengendarai sepeda roda tiga.

“Gusti…” gumamnya lirih. “Kamu tahu dari mana kalau aku suka Bart Simpson, Nika?”

Situasi melankolis yang sempat mereda seiring kehadiran Trias dan Nika, mendadak muncul lagi. Tangis pun tercurah dari kedua sudut matanya. Hanya terisak, semata agar tak ada orang lain yang dapat mendengarnya.

Orang yang baru beberapa hari kukenal, udah bisa tahu hal kecil yang jadi kegemaranku, batinnya. Sedangkan kamu, tahu apa tentangku, Ghani?

Kenyataan ini sulit untuk diterima. Pada satu sisi, Suzie menaruh hati untuk Ghani. Namun di sisi lain, ia benci setengah mati akan sikap apatis lelaki itu. Layaknya seseorang yang mencintai orang lain, tentu Suzie pun ingin menerima letupan kejutan dari Ghani. Sayangnya, hal tersebut bagaikan impian belaka.

Satu ironi baru saja terjadi. Letupan kejutan justru ia terima dari Nika, seseorang yang –dalam tanda kutip– telah ‘merebut’ hati lelaki yang juga disukainya. Seseorang yang –secara hiperbolis– patut ia benci karena telah menyita perhatian lelaki yang sebelumnya begitu dekat dan akrab dengannya. Seseorang yang telah membuatnya terbakar cemburu.

Benarkah kamu mencintaiku, Ghani…? tanya hati Suzie. Atau kamu hanya ingin tubuhku?

Sesaat, Suzie ragu akan kesungguhan cinta Ghani. Terlebih, akhir-akhir ini, sang lelaki menunjukkan gelagat memiliki orang lain selain dirinya. Namun, sejurus kemudian, keraguan tersebut berbalik, menjadikan dirinya sebagai subyek.

Benarkah aku mencintai kamu, Ghani? batin Suzie bertanya. Atau aku hanya butuh penismu?

Ujung dari kekecewaannya terhadap Ghani, selalu bermuara pada sosok Trias. Suzie selalu terjebak dalam situasi yang membuatnya harus membandingkan antara Ghani dan Trias. Membandingkan dua lelaki yang sama-sama dekat dengan kesehariannya, namun memiliki sifat yang sangat berlainan.

Inti perbedaan antara kedua pria tersebut hanyalah dua hal: hati dan birahi. Ghani mampu memuaskan secara birahi, namun nyaris patah saat bicara soal hati. Sementara Trias, meski nol dalam urusan seks, tetapi punya kedalaman hati untuk membuat Suzie gembira.

Pikiran Suzie makin mumet. Dan itu membuat air matanya benar-benar tertumpah, tanpa mampu dibendungnya lagi.

***

“Kamu kasih apa sama Suzie?” tanya Trias, setibanya di kamar.

“Figurine Bart Simpson,” jawab Nika.

“Hmm… kamu tahu dari mana kalau Suzie suka Bart Simpson?” tanya Trias lagi, sambil duduk di tepi ranjang.

“Kamu lupa ya, waktu kita bertiga lagi di kamarku, kamu bilang kalau Téh Suzie agresif dan tengil kayak idolanya?” Nika balik bertanya. “Bart Simpson, ‘kan?”

“Kamu perhatian banget sama Suzie,” Trias terkekeh. “Pacari, gih!”

“Asal!” tukas Nika, lalu tergelak.

Trias menepuki permukaan ranjang di sebelahnya. “Sini, duduk.”

Nika tersenyum. Lalu melangkah pelan menghampiri ranjang, kemudian duduk di sisi kiri Trias. Tubuhnya sedikit bersandar pada tubuh sang lelaki.

“Kamu agak gemukan, ya?” tebak Trias. “Atau aku salah lihat?”

“Berat badanku memang naik satu kilogram,” beritahu Nika.

“Serius?” Trias begitu antusias. Ditatapnya kedua mata Nika lekat-lekat.

Nika mengangguk semangat. “Aku pasti sembuh, Trias.”

“Aku ikut senang,” Trias merangkul bahu Nika.

“Berkat dorongan semangat dari kamu,” Nika menepuki paha kiri Trias.

“Berkat kemauan kamu,” ralat Trias. “Percuma aku kasih semangat, kalau kamu nggak punya semangat.”

“Justru semangatku terjaga karena kamu nggak pernah berhenti kasih semangat,” balas Nika, sambil membaringkan kepala di pundak kiri Trias. “Aku nggak tahu, apa jadinya aku kalau kamu nggak ada.”

“Sebaliknya juga aku, Nika,” lirih Trias. “Makanya, janji, kamu harus sembuh. Aku nggak mau kehilangan kamu.”

Nika mengangguk pelan.

Trias tiba-tiba berdiri. “Aku buat sirup dulu, ya.”

Namun, Nika malah menahan lengan kiri Trias. Lalu, sambil membaringkan tubuh, ia menarik kuat-kuat lengan Trias hingga lelaki itu pun ikut meluruk di atas ranjang. Posisi yang berdekatan membuat tubuh Trias akhirnya menimpa dan menindih tubuh telentang Nika.

“Eh… maaf, Nika,” ujar Trias, seraya dengan polosnya menolakkan tangan kanannya ke permukaan ranjang. Berusaha kembali berdiri.

Namun kedua tangan Nika segera merangkul bahu dan punggung Trias erat-erat. Lelaki itu pun tak mampu berbuat apa-apa. Alhasil, ia pun membalas perlakuan Nika dengan balik memeluk sang wanita. Nika tersenyum.

“Biarkan seperti ini, Trias,” lirihnya. “Udah lama aku kepingin sedekat ini sama kamu.”

Trias melepaskan rangkulan kedua tangannya. Lengan bawah kirinya ia gunakan untuk menumpukan tubuh, hingga kini tubuh atasnya agak terangkat. Memiliki jarak dengan tubuh Nika. Kini Trias dapat menatap kedua mata Nika dengan jarak yang cukup, tidak terlampau dekat.

Telapak tangan Trias bergerak lembut di wajah Nika. Meraba setiap milimeter bagian wajah manis gadis itu. Tak ada bagian yang istimewa di wajah Nika, namun semuanya berpadu menjadi kesatuan yang indah. Hingga semua orang pun sepakat mengakui betapa manis wajah Nika.

“Trias…” gumam Nika, dengan raut tersipu, menyadari lelakinya sedang mengamati setiap lekuk di wajahnya.

“Iya, Sayang?” tanggap Trias.

Nika merengkuh kedua sisi pipi Trias dengan kedua telapak tangannya. “Makasih buat semuanya.”

“Mulai sekarang, kamu harus berhenti bilang terima kasih untuk semua yang aku lakukan buat kamu,” tanggap Trias, sambil mengusap kening Nika lembut.

“Kenapa?” tanya Nika. “Aku cuma berterimakasih, karena kamu udah berbuat banyak hal untuk aku.”

“Semua hal itu aku lakukan karena aku sayang kamu,” jawab Trias. “Jadi, nggak usah berterimakasih, karena semua itu udah selayaknya aku lakukan untuk orang yang aku sayangi.”

Nika tersenyum.

“Dengan kamu sembuh,” lanjut Trias. “Itu udah jadi ucapan terima kasih paling indah buat aku.”

“Trias…” Nika makin erat menyentuh kedua pipi Trias. “Setelah Papa, kamu adalah laki-laki dengan sikap paling manis yang pernah aku temui.”

“Kamu bohong,” ujar Trias. “Aku nggak percaya, perempuan semanis kamu nggak dikerubuti lelaki.”

“Tapi nggak ada yang sikapnya semanis kamu,” sanggah Nika. “Aku… aku beruntung bisa dekat sama kamu.”

“Kamu bikin aku tersanjung, Nika,” tanggap Trias.

“Itu balasan, karena kamu juga nggak pernah berhenti bikin aku tersanjung,” balas Nika.

Suasana kian hangat. Trias dan Nika sama-sama terikat oleh situasi penuh cinta. Keduanya tak lagi canggung mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Keduanya tak sungkan menguliti perasaan satu sama lain. Saling balas pujian, berimbas pula pada saling sentuh penuh rasa kasih. Baru kali ini, Trias dan Nika berinteraksi sedekat ini.

Hingga ketika Trias mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Nika, gadis berkulit agak gelap itu langsung menarik kepala Trias dengan kedua tangannya. Saling lumat bibir pun terjadi, terbalut gelora asmara dari lubuk hati terdalam. Gelora asmara yang terlampiaskan dalam pertautan bibir di antara mereka.

Mereka berciuman, lama. Keduanya meresapi getaran cinta di antara mereka. Trias dan Nika seolah tak ingin terpisahkan lagi.

“Dul…!” suara panggilan seseorang, yang terdengar seperti seorang anak memanggil temannya untuk mengajak main kelereng, membuyarkan pagutan mereka. Trias dan Nika saling melepaskan dekapan satu sama lain, kemudian berguling ke dua arah yang berlawanan.

Nika menutup wajah, dengan tubuh berbaring miring membelakangi pintu. Sementara Trias, yang sudah hapal pemilik suara panggilan itu, melayangkan pandangan ke arah pintu.

“Iya, Zie?” tanya Trias, bergumam.

“Aku, emh… aku…” jawab Suzie gelagapan, kentara dirinya salah tingkah. “Aku mengganggu, ya?”

“Nggak kok, Zie,” Trias tersenyum datar. Lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang. “Ada apa?”

“Aku boleh minta tolong?” tanya Suzie.

“Boleh,” jawab Trias. “Ada masalah?”

“Nggak,” gumam Suzie. “Aku pinjam obeng. Kunci selot pintu kamarku longgar.”

“Oh,” Trias segera berdiri. Lalu beringsut menuju tas handlebar, tempat ia biasa menyimpan perkakas. Sejurus kemudian, disodorkannya dua obeng berjenis mata berbeda pada Suzie. “Perlu bantuan, nggak?”

“Nggak usah, Dul,” tolak Suzie. “Bisa sendiri, kok!”

“Oke, deh…” Trias mengacungkan kedua ibu jari tangannya dengan gaya jenaka.

“Maaf, aku mengganggu,” ujar Suzie penuh penyesalan.

“Nggak masalah,” Trias tersenyum.

“Makasih, Dul. Obengnya dipinjam dulu,” ucap Suzie. Lalu menatap Nika, yang masih berbaring miring membelakangi pintu. Hayu, Nika.”

Nika membalikkan tubuh dengan wajah sedikit memerah. “Iya, Téh…”

Suzie pun berlalu.

Sepeninggal Suzie,

“Makanya, kalau mau ciuman, pintunya jangan lupa ditutup,” seloroh Nika. “Jadi wéh kepergok!”

Trias tergelak. “Lupa, Nika. Maklum, kita sama-sama terhanyut.”

“Téh Suzie jadi makin jealous sama kita, deh!” ujar Nika.

“Husssh…! Nanti Suzie dengar, lho!” ingat Trias.

Nika pun buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan kirinya, sambil tersenyum simpul.

***

Memergoki orang berciuman, bukanlah hal baru bagi Suzie. Tiga tahun lalu, ia bahkan pernah memergoki kekasihnya saat itu, sedang bercumbu dengan wanita lain. So, mestinya, memergoki percumbuan antara Trias dan Nika bukanlah sesuatu yang luar biasa baginya.

Namun, kali ini hati Suzie merasakan hal yang jauh berbeda. Ia cemburu. Sangat cemburu. Dan rasa cemburu itu berimbas pada sendi-sendi tubuhnya yang tiba-tiba menjadi lemas, hingga sedari tadi nyaris tak ada yang dilakukannya, selain duduk terpaku menatap dinding kamar di hadapannya.

Terdapat dua hal mendasar yang menyebabkan Suzie merasa cemburu.

Pertama, ia melihat betapa hangat dan mesranya percumbuan yang dilakukan Trias dan Nika. Suzie nyaris tak melihat adanya nafsu birahi yang membalut pertautan bibir mereka. Ia cemburu, karena akhir-akhir ini hampir tak pernah lagi merasakan indahnya kecupan mesra bersama Ghani.

Dan yang kedua, percumbuan yang baru saja dilihat Suzie tanpa sengaja itu, melibatkan laki-laki yang dekat dengan kesehariannya. Siapa yang tak akan cemburu? Bahkan Suzie merasakan sakit hati yang lebih dalam, dibandingkan saat memergoki kekasihnya bercumbu dengan wanita lain, bertahun-tahun lalu. Entah kenapa.

Pikiran Suzie makin ruwet. Dan ia tak tahu kepada siapa harus mencurahkan isi hati.

Curhat sama kamu, Dul? Nggak mungkin, batinnya. Nggak mungkin aku cerita, ‘Aku cemburu, Dul. Sama kamu’. Nggak mungkin.

Rasa ini berkembang cepat, bahkan terlalu cepat. Hingga Suzie pun tergagap untuk menerimanya. Kepayahan menahan beratnya dipermainkan rasa cemburu. Dan makin tak mengerti ketika menyadari betapa rasa cemburu itu tidak selayaknya ia terima dari seseorang yang hanyalah berperan sebagai sahabatnya.

Mama… ratap Suzie di dalam hati. Tolong aku…

Bersambung