Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Antara Aku, Kau, dan Wanita Pujaanku

Trias baru saja menutup pintu gerbang kecil Pondok Trikora, ketika dikejutkan oleh tepukan seseorang di punggungnya. Ia pun menoleh, dan nyengir saat menyadari seseorang yang menepuk punggungnya adalah Suzie.

“Ada urusan apa di Trikora, Dul?” tegur Suzie.

“Sensus penduduk,” jawab Trias asal.

Suzie melotot jenaka.

“Ada temanku yang tinggal di sini, Zie,” jelas Trias, dengan tangan kiri melayang menunjuk ke arah Pondok Trikora.

“Siapa?” tanya Suzie.

“Cari makan, yuk?” ajak Trias sambil mulai berjalan pelan, tak menggubris pertanyaan Suzie.

“Siapa, Dul?” ulang pertanyaan Suzie. Digenggamnya erat lengan kiri Trias.

Trias pun menatap Suzie. “Aku ceritakan sambil makan.”

“Kenapa harus sambil makan?” protes Suzie. “Kenapa nggak cerita sekarang aja? Kenapa nggak…”

“Aku lapar,” potong Trias.

“Itu bukan alasan relevan,” protes Suzie lagi. “Kamu memang nggak…”

“Aku traktir,” sanggah Trias. “Kamu mau makan apa?”

“Nah begitu, dong!” Suzie memeletetkan lidah. “Sate ayam kayaknya enak, Dul.”

Trias melotot sok galak. “Plaketar!”

Suzie terkekeh menyebalkan.

***

Dan kini tibalah Trias dan Suzie di lapak sate ayam.

“Lima belas tusuk, Mas,” pesan Trias. “Nasinya dua porsi, diguyur kuah gule.”

“Monggo,” sanggup si Mas penjual sate ayam, sambil mulai menyiapkan pesanan Trias.

Trias dan Suzie pun menunggu pesanan selesai dibuat dengan duduk bersebelahan di bangku panjang kayu.

“Sekarang kamu cerita,” ujar Suzie. “Soal teman…”

“Aku ke warung dulu,” Trias mendadak berdiri. “Stok kopi habis, euy!”

“Dul,” gumam Suzie, sambil menahan lengan kanan Trias.

“Oh, kamu mau nitip sesuatu?” tanya Trias. “Permen, risoles atau… pembalut?”

“Dul…” gumaman Suzie berubah menjadi rengekan. “Cerita, atuh!”

“Di warung itu nggak jual buku cerita, Zie,” tandas Trias. “Besok kita ke bookstore, gimana?”

“Dul!” rengekan pun berganti jadi bentakan, hingga dua pengunjung lain yang sedang menyantap sate ayam, menoleh ke arah mereka.

Trias mengkeret, lalu kembali duduk di sisi Suzie.

“Cepat cerita,” bisik Suzie, menatap Trias tajam. “Kalau besok masih mau ketemu temanmu itu.”

“Iya,” sanggup Trias.

“Nah gitu, dong!” tatapan galak Suzie sontak berubah menjadi cengiran jahil.

“Cuplador!”

“Sok, kamu cerita,” ucap Suzie. “Siapa temanmu itu?”

“Seseorang,” jawab Trias.

“Siapa?”

“Nika.”

“Siapa Nika?”

“Seseorang.”

“Dul!”

Obrolan terhenti sejenak, saat si Mas penjual sate ayam menyajikan pesanan Trias dan Suzie. Trias bernapas lega. Namun, hanya sesaat, karena Suzie segera mencecarnya lagi. Akhirnya, sambil menyantap nasi dan sate ayam, Trias mulai bercerita, dan Suzie mendengarkan dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Nika,” ucap Trias. “Adalah perempuan yang gowes bareng aku tempo hari.”

“Oh,” gumam Suzie pendek.

“Itu aja, Zie,” sambung Trias. “Aku nggak bisa cerita banyak soal Nika, karena baru sedikit hal yang aku tahu tentang dia.”

“Dan saat ini, kamu lagi dalam proses pengenalan lebih jauh,” tebak Suzie. “Kamu lagi pendekatan sama Nika.”

Trias menjawab dengan senyuman.

“Kamu memang udah berhasil dekat sama Nika,” tambah Suzie. “Atau malah udah pacaran?”

“Belum,” jawab Trias spontan.

“Berarti akan,” tebak Suzie. “Aku ikut senang, Dul.”

Trias kembali tersenyum.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita soal Nika?” tanya Suzie. “Kenapa harus menunggu sampai aku memaksa kamu untuk cerita?”

Trias hanya menggeleng pelan.

“Kamu nggak terbuka,” cetus Suzie. “Aku ini temanmu, Dul. Kamu nggak perlu main rahasia-rahasiaan sama aku kayak gitu.”

“Aku nggak tega,” gumam Trias. “Aku tahu, kamu lagi punya banyak beban pikiran. Aku nggak mau mengganggu kamu dengan cerita nggak penting soal Nika.”

Suzie tersenyum. “Kalau tahu aku lagi banyak pikiran, kenapa kamu nggak bantu aku cari solusi? Kenapa kamu malah menjauh?”

“Kenapa kamu menolak cerita, ketika aku minta?” Trias balik bertanya. “Aku pikir, kamu udah nggak butuh aku. Jadi, aku jauhi kamu.”

Iya, aku sadar benar, udah pernah bersikap kasar sama kamu, Dul… batin Suzie. Aku minta maaf.

“Sesibuk apapun, aku bakal usahakan meluangkan waktu buat dengar curhat kamu, Zie,” ujar Trias. “Dengan satu syarat, kamu mau bercerita. Aku nggak mau mendesak kamu untuk cerita, karena mungkin itu privasi. Tapi, kapan pun kamu mau, aku pasti ada untuk jadi telinga yang baik.”

Sejenak Suzie terpaku. Ia teringat saat dirinya datang ke workshop konveksi milik Jan dan Anna, hanya untuk menangis. Trias rela menjemputnya, bahkan hingga meminjam sepeda motor adiknya. Apa yang diperoleh Trias? Hanya kebungkaman dan sikap lesu Suzie.

Aku bersikap seolah Trias cuma seorang tukang ojek, sesal nya di dalam hati. Wajar kalau dia memilih untuk jauhi aku.

“Jangan melamun, Zie,” goda Trias, menjawil ujung hidung Suzie. “Makan lagi, atuh!”

Suzie menatap Trias. Lalu tersenyum.

“Cuci mulutnya apa?” tanya Trias. “Kamu yang pilih. Oke?”

Suzie melayangkan pandangan ke arah deretan lapak kakilima di seberang jalan. Lalu menunjuk lapak yang menjual roti bakar aneka rasa.

“Mau blueberry, keju, atau coklat?” tanya Trias lagi. “Atau kombinasi ketiganya?”

“Memangnya enak?” Suzie mengernyit.

Trias mengangkat bahu. “Kamu yang makan, ‘kan?”

Suzie mencubit paha kanan Trias.

***

Trias dan Suzie berjalan beriringan menuju kost-an. Tangan Suzie menjinjing kantong plastik berisi roti bakar dengan topping kombinasi blueberry dan coklat, sesuai pilihannya. Trias benar-benar menyerahkan semuanya kepada Suzie, kecuali urusan pembayaran.

“Makasih traktirannya ya, Dul,” ucap Suzie tulus. “Aku senang, setelah semua hal buruk yang aku lakukan sama kamu, kamu masih mau bersikap baik.”

“Nggak usah dipikirkan,” Trias tersenyum. “Aku udah nggak pernah mengingat soal itu lagi, kok!”

“Sekali lagi makasih, Dul…” gumam Suzie. “Makasih banyak.”

“Iya, Zie,” tanggap Trias.

Ketika melewati Pondok Sejahtera,

“Aku kenalkan sama Nika, ya,” cetus Trias. “Biar ke depannya nggak ada salah paham di antara kalian.”

Suzie menggeleng cepat. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, yang membuatnya enggan berjumpa dengan Nika.

“Kenapa?” tanya Trias. “Kamu pasti nggak akan cemburu lagi sama Nika, setelah kenal dia.”

“Siapa yang cemburu?” bantah Suzie, meski hatinya berkata, Iya, aku cemburu. Dan itu wajar.

“Mungkin Nika yang bakal cemburu, kalau tahu ada sosok Suzie yang selama ini akrab sama aku,” ujar Trias. “Makanya, aku pengen kalian saling kenal.”

Suzie bergeming.

“Come on,” paksa Trias. “Percaya, semua akan baik-baik aja.”

***

Suzie sangat ragu untuk memasuki kamar Nika. Lain hal Trias, yang langsung masuk, kemudian duduk di sisi ranjang tempat Nika terbaring. Tega meninggalkan Suzie yang hanya mematung di ambang pintu. Terlihat lelaki itu membisikkan sesuatu di telinga Nika. Lalu sang wanita melayangkan pandangan ke arah pintu, dan tersenyum.

Masuk aja, Téh,” seru Nika, yang menyadari kehadiran Suzie. “Silakan.”

Sedikit rikuh, Suzie masuk, lalu mengambil posisi tepat di sebelah Trias. Ia tersenyum pada Nika.

Trias mengenalkan mereka satu sama lain. “Zie, ini Nika. Nika, ini Suzie. Suzie ini satu-satunya tetangga kost yang akrab sama aku.”

Nika dan Suzie berjabat tangan. Tepatnya, Suzie mengulurkan tangan, sementara Nika sedikit mengangkat tangan. Karena sulit baginya untuk mengangkat tangan lebih tinggi lagi.

“Maaf, aku temani sambil rebahan, Téh,” ucap Nika, tersenyum. “Aku lagi capek banget, nggak kuat duduk terlalu lama.”

Sesaat, terbersit rasa malu dan bersalah dalam diri Suzie, mendapati Nika yang bersikap ramah terhadapnya.
Mestinya Nika yang cemburu sama aku, bukan sebaliknya, batinnya. Kok jadi aku yang rikuh, ya? Nika malah santai.

Terdorong rasa bersalah, Suzie mencoba untuk mencairkan suasana,

“Nggak kuat duduk lama?” cetusnya. “Kalau dipangku lama, kuat nggak?”

Trias memelototi Suzie, sementara Nika tertawa kecil.

“Kalau dipangku lama, sakit punggung, Téh,” jawab Nika.

“Tapi sehat hati,” seloroh Suzie. “Apalagi kalau yang pangkunya Trias.”

Nika tertawa lagi. Dan Trias melotot lagi.

Selanjutnya, suasana menjadi lebih rileks. Interaksi di antara ketiganya menjadi cair. Penerimaan Nika yang ramah membuat Suzie lambat laun merasa nyaman berada di tempat itu, meski sebelumnya mati-matian menolak.

“Kamu nggak supel bergaul, Trias?” tanya Nika, yang kini sudah duduk di atas ranjang dengan punggung disangga tumpukan bantal. “Kok cuma bisa akrab sama Téh Suzie doang?”

“Trias selalu diam di kamar,” Suzie yang menjawab. “Gimana mau akrab sama penghuni kost yang lain?”

“Nah, gimana ceritanya Trias bisa akrab sama Téh Suzie?” tanya Nika lagi.

“Suzie mah agresif, gampang kenal sama siapa pun, Nika,” sambar Trias. “Persis tokoh kartun idolanya, Bart Simpson. Tengil dan agresif.”

Suzie memelototi Trias. Trias nyengir.

Obrolan terhenti saat ponsel Suzie berdering.

“Sebentar,” Suzie mengangkat tangan kanannya, lalu keluar kamar.

Nika dan Trias mengangguk.

Dua menit kemudian, Suzie kembali.

“Ada apa, Téh?” tanya Nika.

“Temanku datang ke kost-an,” jawab Suzie.

“Ghani?” tebak Trias.

Suzie memberi anggukan sebagai jawaban.

***

Sepeninggal Suzie,

“Trias…” gumam Nika.

“Iya, Nika?” tanggap Trias.

“Téh Suzie cantik,” celetuk Nika.

“Hmm?” Trias agak heran dengan arah kata-kata Nika.

“Téh Suzie cantik,” ulang Nika.

“Iya, cantik,” Trias tersenyum. “Lalu?”

“Enak ya, punya tetangga kost cantik!” goda Nika.

Trias tertawa ringan.

“Kamu dekat banget ya, sama Téh Suzie?” tanya Nika, terdengar menyelidik.

“Kamu cemburu, ya?” goda Trias.

“Justru Téh Suzie yang cemburu sama aku,” bantah Nika. “Iya, ‘kan?”

Trias tak menjawab. Namun ia membenarkan di dalam hati.

“Tolong bilang sama Téh Suzie,” minta Nika. “Cewek penyakitan kayak aku mah nggak usah dicemburui, gitu.”

Trias hanya tersenyum.

Setelah diam agak lama,

“Kalau aku udah nggak ada,” ucap Nika dengan nada sendu. “Kamu temani Téh Suzie, ya… seperti kamu temani aku sekarang.”

Trias menatap Nika. “Dia punya pacar, Nika.”

“Tapi hati Téh Suzie buat kamu,” ujar Nika. “Bukan pacarnya.”

“Kok bisa?”

Nika mengangkat bahu.

“Maaf kalau aku saklek,” ucap Trias. “Kamu, hmm… kamu masih punya keinginan untuk sembuh, ‘kan?”

Nika menatap tajam Trias. Namun sejurus kemudian tatapannya melunak, lalu tersenyum. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh pipi kiri Trias.

“Aku nggak mau kamu kehilangan semangat hidup, Nika,” lanjut Trias.

Nika mengangguk. “Aku mengerti maksud kamu, Trias. Tenang aja, aku masih kepingin sembuh. Makanya aku tetap rajin minum obat. Rajin minum ramuan herbal yang resepnya kamu kasih tempo hari.”

“Bagus,” Trias tersenyum sumringah.

“Meskipun kadang harus kamu yang menyuapi,” sambung Nika. “Aku minta maaf, karena selalu bikin kamu repot.”

Trias menempelkan telunjuk tangan kanannya di bibir Nika. “Aku nggak pernah merasa direpotkan.”

“Makasih…” Nika tersenyum.

Nika memberi isyarat dengan gesturnya, bahwa ia minta Trias untuk memperbaiki posisi bantalnya. Trias sangat mengerti, dan langsung membenahi alas kepala sang teman dekatnya itu.

“Trias…” gumam Nika. “Kalau aku udah sembuh, kita touring ke Cirebon, yuk?”

“Cirebon?” tanya Trias mencoba meyakinkan.

Nika mengangguk pelan. “Aku mau mencicipi tahu gejrot, langsung di kota asalnya. Pengen lihat Keraton. Dan aku pengen, emh…”

Trias menatap Nika dalam-dalam.

“Pengen touring berdua sama kamu,” lanjut Nika. “Gimana?”

“Hayu,” Trias tersenyum. Lalu merengkuh pipi kanan Nika. “Yang penting, kamu sembuh dulu. Kalau udah sembuh, kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau. Aku pasti temani kamu.”

Bersambung