Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Hidup Harus Terus Berjalan

Lewat sambungan telepon, Nika meminta Trias untuk menemuinya di kost-an. Penting, katanya. Trias menyanggupi, dengan satu syarat,

“Siapkan kue buat camilan.”

Nika tergelak saat Trias mengajukan syarat tersebut.

Dan sepulang kerja, Trias langsung mengarahkan kendali sepedanya ke Pondok Trikora. Tidak lebih dulu pulang ke kost-annya. Setibanya di kamar Nika, syarat yang diajukan Trias sudah tersedia. Bahkan juga ditambah sebungkus nasi rames.

“Aku tahu kamu lapar,” ujar Nika. “Makanya kubelikan nasi bungkus di warung Ibu Aan. Langsung dimakan, gih!”

“Apa nggak sebaiknya kita salam tempel pipi dulu?” usul Trias asal.

“Trias…” Nika menghela napas. “Kalau udah resmi, apapun bisa kita lakukan.”

“Kecuali ML,” potong Trias, tersenyum.

“Kecuali ML,” Nika membenarkan. “Tapi, balik lagi, kita belum resmi, Trias.”

“Kenapa nggak diresmikan aja?” tanya Trias.

“Untuk saat ini belum bisa,” jawab Nika.

“Kamu menunggu apa lagi?” kejar Trias lagi. “Aku sayang kamu, dan kamu tahu itu.”

“Aku juga sayang kamu,” balas Nika. “Perasaan itu tumbuh sangat cepat. Terlalu cepat, malah. Aku nggak tahu, kenapa bisa begitu. Tapi, aku sadar, soal perasaan memang nggak bisa dipaksakan atau dihalangi.”

“Lalu, kenapa nggak kita resmikan hubungan ini?” Trias kembali mendesak.

“Karena aku sayang kamu, Trias.

“Aku nggak mengerti,” cetus Trias.

“Untuk itulah aku minta kamu datang ke sini,” jawab Nika. “Supaya kamu mengerti. Tapi, kamu makan dulu, atuh! Biar nggak terbawa emosi.”

Trias pun menuruti permintaan Nika. Ia membuka nasi bungkus itu, kemudian menyantapnya. Entah kebetulan atau bukan, menu pilihan Nika sama persis dengan yang biasa dipilih Trias saat makan di warung nasi Ibu Aan. Nasi plus telor ceplok dan tempe orak-arik.

“Kita berjodoh, karena ini menu favoritku di warung Ibu Aan,” ujar Trias.

“Jangan ngarang, ah!” Nika mencibir. “Cuma kebetulan aja sama.”

“Justru karena kebetulan sama itulah, menguatkan asumsi bahwa kita memang berjodoh,” Trias ngotot.

Nika tertawa. “Hidupmu kebanyakan asumsi.”

“Kamu mau cerita sesuatu?” tanya Trias di sela suapan nasinya.

Nika mengangguk.

“Cerita aja,” minta Trias. “Aku dengarkan sambil makan.”

Nika menghela napas. Tampak memendam sesuatu yang berat. “Kamu mau tahu tentang penyakit aku?”

“Pasti,” jawab Trias, sambil mengangguk semangat.

“Aku mengidap kanker payudara,” ucap Nika.

Trias melongo. Sontak kegiatan makannya terhenti. Matanya menatap Nika dengan gestur kamu-nggak-lagi-stand-up-comedy-‘kan?

“Ketahuan sejak 8 bulan lalu,” lanjut Nika. “Masih stadium awal, dan masih bisa disembuhkan.”

Trias mengangguk pelan.

“Penyakit itu yang bikin aku nggak serta merta meniatkan hubungan kita jadi serius,” tutur Nika. “Padahal, jujur, aku mulai sayang sama kamu, Trias.”

Trias tersenyum. “Kamu takut aku kecewa dan menjauh begitu tahu penyakit kamu, ya?”

Nika menjawab dengan anggukan pelan.

“Kamu salah,” ujar Trias. “Aku nggak akan jauhi kamu, hanya karena penyakit itu. Justru sebaliknya, aku makin kepingin dekat sama kamu. Temani kami melewati masa-masa sulit. Bareng kamu, berjuang sama-sama sampai kamu sembuh.”

“Kamu sungguh-sungguh?” tanya Nika. “Kamu nggak takut aku tiba-tiba anfal, misalnya?”

Trias menggeleng. “Jalan hidup manusia, udah ada yang mengatur. Kalau takdir justru menuliskan aku lebih dulu mati karena kecelakaan, misalnya, kamu mau apa?”

Nika hanya tersenyum.

“Lagipula, tadi kamu bilang, penyakitmu masih di stadium awal, masih bisa disembuhkan,” lanjut Trias. “Aku siap mendukung kamu untuk sembuh. Kasih kamu semangat. Apapun, buat kesembuhan kamu.”

Sejujurnya, selera makan Trias telah sepenuhnya hilang. Nasi bungkus yang disantapnya masih bersisa sepertiganya. Namun ia seolah tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menandaskannya. Kesadaran untuk tidak mengecewakan seseorang yang telah repot membelikan nasi bungkus itulah, yang membuat Trias sekuat tenaga menghabiskannya.

“Kamu benar-benar nggak takut, aku tiba-tiba anfal dan meninggalkan kamu?” yakin Nika.

“Kekhawatiran pasti ada, Nika,” jawab Trias. “Mana mungkin aku bisa rela begitu aja, ditinggalkan seseorang yang udah mulai aku sayangi?”

Nika tersenyum getir.

“Tapi, mana mungkin juga aku meninggalkan orang yang aku sayangi, hanya karena seseorang itu punya penyakit?” lanjut Trias. “Dunia nggak adil, kalau semua orang berpikiran seperti itu.”

“Jadi, kamu nggak mau seperti ‘semua orang’ itu?” tanya Nika.

Trias mengangguk.

“Sini, Trias,” gumam Nika, sambil menggerakkan tangan kiri dengan gestur mengajak.

“Ada apa?” tanya Trias, sambil meletakkan nasi bungkusnya di lantai, lalu beringsut mendekati Nika.

Nika tiba-tiba mendekap erat tubuh Trias. Dibenamkannya wajahnya dalam-dalam di dada sang lelaki. Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya, sementara Trias masih cukup terkejut dengan reaksi Nika.

“Makasih untuk semuanya,” lirih Nika. “Aku sayang kamu.”

***

Hidup harus terus berjalan. Jika setelah menerima kenyataan pahit, hidup kita jalan di tempat, dunia akan meninggalkan kita. Apa peduli dunia? Mereka tak akan menanti kita, karena kitalah yang harus membarengi mereka.

Hal itulah yang coba dicamkan Trias. Ia tak mau dunia meninggalkannya, hanya karena menerima kabar tentang penyakit Nika. Meski berat, namun Trias harus tetap menjaga semangat. Karena ia yakin, semangat yang ia tunjukkan akan berimbas pada semangat dalam diri Nika.

Setibanya di kamar kost-nya, Trias langsung menekuri ponsel pintarnya. Membuka aplikasi browser, untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya perihal penyakit kanker payudara yang diderita Nika. Andai memungkinkan, ia sangat ingin menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Dan Trias berhasil. Sebuah artikel menjelaskannya,

Berikut adalah tumbuhan yang memiliki khasiat untuk anda dalam membantu pengobatan kanker payudara :

1. Daun sirsak
Hasil penelitian di Eropa meyakini bahwa daun sirsak bisa mengobati penyakit kanker payudara lebih dari kekuatan kemoterapi. Anda dapat membuat teh daun sirsak dengan cara merebus 10 lembar daun sirsak tua dengan 3 gelas air kemudian sisakan menjadi 1 gelas. Minum 2 kali sehari.

2. Bunga rosella
Bunga rosella mengandung vitamin C, vitamin D, B1 dan B2, serta kalsium yang begitu tingg. Selain itu juga mengandung Magnesium, Omega 3 , Vitamin A, Iron, Potasium, Beta Caroteen & Asam Esensial. Melihat kandungannya saja sudah terlihat begitu besar manfaat yang akan didapat.

3. Kulit manggis
Buah manggis memiliki kandungan xanthone yang mampu menghambat perkembangan sel kanker payudara. Ekstrak yang dihasilkan dari kulit manggis bersifat antiproliferasi yang dapat menghambat perkembangan sel-sel kanker, termasuk kanker payudara. Dan juga bersifat apoptosis, yaitu mampu menghancurkan sel kanker.

4. Kunyit
Kunyit memiliki kandungan curcumol yang dapat membantu melawan kanker payudara. Caranya, anda dapat menggunakan rimpang kunyit putih yang dikupas kemudian direbus dengan 4 gelas air hingga menjadi 2 gelas. Kemudian diminum secara teratur dua kali sehari.

5. Tapak dara
Mengandung 70 jenis alkaloid yang dapat membantu anda dalam pengobatan kanker payudara. Anda dapat merebus 15 gram daun tapak dara dengan 3 gelas air sampai mendidih, kemudian disaring dan diambil airnya. Anda dapat meminumnya dua kali sehari.
Click to expand…

Ini patut dicoba, Nika! seru Trias di dalam hati.

Ia pun meng-copy link artikel tersebut, lalu mengirimkannya via Whatsapp kepada Nika. Beruntung, gadis manis itu tidak sedang beristirahat atau tidur, karena tak lama kemudian terlihat tanda bahwa pesan dari Trias telah dibacanya.

Setengah menit kemudian, balasan Nika tiba,

Nanti kucoba.
Makasih,Sayang… :*

Trias pun menjadi sedikit lega.

***

Di kamar Nika, sepeninggal Trias,

Kejujuran itu indah, meski terkadang imbasnya dapat menjadi begitu menyakitkan. Dan Nika berhasil meyakinkan hatinya untuk jujur tentang penyakitnya kepada Trias. Meski mungkin terasa menyakitkan, namun Nika berharap akan ada sisi indah dari kejujurannya itu.

Sampai detik ini, Nika merasakan sisi indah tersebut. Trias tampak tabah dan tidak menganggap penyakit kanker yang diidapnya sebagai sebuah masalah. Lelaki itu justru ngotot berusaha mempertahankan hubungan mereka. Jujur, Nika merasa terenyuh dan sekaligus bahagia dengan sikap Trias tersebut.

Selain kamu, belum pernah ada laki-laki yang bersikap seperti itu sama aku, batin Nika. Hatiku meleleh, Trias…

Ponsel Nika berbunyi, sebuah pesan Whatsapp masuk. Dari Trias. Isinya hanyalah link address sebuah situs blog. Nika langsung membuka link tersebut, yang nyatanya memaparkan resep obat alami untuk mengobati penyakit kanker payudara.

Nika tersenyum. Tak dibacanya lebih lanjut artikel kesehatan tersebut. Ia malah mengetik pesan balasan,

Nanti kucoba.
Makasih,Sayang… :*

Kejujuran memang indah, dan saat ini Nika sedang merasakannya. Bahkan jauh lebih indah daripada yang dapat dibayangkannya. Dan satu lagi, ia kian merasakan bahwa perasaan Trias terhadap dirinya jauh lebih besar daripada yang pernah ia kira.

Aku janji, bakal terus berusaha untuk sembuh, tekad Nika di dalam hati. Aku pasti sembuh. Demi kamu, Trias…

Bersambung