Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Kenikmatan Tanpa Rasa‚Äč

Rasa gatal mulai menjalari sekujur tubuh Suzie. Hunjaman batang penis keras Ghani di liang vaginanya yang menjadi sumber rasa gatal tersebut. Suzie tahu persis, dirinya akan segera orgasme lagi. Orgasme keenam yang akan diraihnya dalam hampir dua puluh menit persenggamaannya dengan Ghani.

Di lain pihak, Ghani menyadari bahwa wanita yang menungging di hadapannya akan mencapai puncak kenikmatan kembali. Ia pun memfokuskan penetrasi, berusaha sesegera mungkin memberikan orgasme bagi Suzie. Orgasme bagi dirinya sendiri? Itu urusan belakangan.

Tak sampai lima menit, tubuh Suzie menghentak-hentak liar. Jeritan-jeritan nyalang terlantun dari bibirnya, seiring ejakulasi yang memancar dari rongga vaginanya. Andai kedua sisi pinggulnya tak dipegangi Ghani, niscaya tubuh indah itu akan tersungkur di atas ranjang.

Sementara, Ghani pun merasakan remasan kuat pada batang kemaluannya, ketika otot-otot kegel di liang vagina Suzie berkontraksi hebat. Alhasil, tak lama kemudian, Ghani pun menyusul. Meraih orgasme, dengan memuntahkan lahar sperma kental di dalam liang genital Suzie.

Bermenit-menit mereka terkapar di atas ranjang. Menarik napas yang habis, mengumpulkan tenaga yang terkuras, dan meresapi sensasi ekstase yang nikmat. Tak ada kata-kata, tak ada kegaduhan lagi. Hanya sepi, serupa dengan suasana Ciwaruga yang malam ini sunyi, karena siang tadi ada salah satu warganya yang meninggal dunia.

Ghani lebih dulu turun dari ranjang, lalu memungut celana dalam dan mengenakannya. Sementara Suzie masuk kamar mandi. Seiring Ghani yang memakai satu demi satu pakaiannya, terdengar suara guyuran air di kamar mandi.

Ketika Suzie selesai mandi dan keluar dengan tubuh hanya dililit sehelai handuk, Ghani telah lengkap berpakaian. Jaket kulit pun telah membungkus tubuh bagian atasnya.

“Aku pulang, Suzie,” ujar Ghani, seraya menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas meja tulis.

Suzie menghela napas, sambil mengangguk hambar. “Besok ke sini?”

“Lihat sikon,” jawab Ghani.

Iya, lihat sikon, batin Suzie. Kalau cewek itu minta ketemu, kamu nggak akan ke sini.

Ghani melangkah ke arah pintu, lalu membukanya.

“Hati-hati,” ingat Suzie.

“Iya,” Ghani tersenyum. “Aku pulang.”

“Iya,” balas Suzie.

Pintu kamar pun kembali ditutup Ghani.

Sepeninggal Ghani, Suzie langsung mengempaskan tubuhnya telentang di atas ranjang. Tak dipedulikannya handuk yang ikatannya terlepas hingga membuat tubuhnya kembali telanjang. Otaknya penat.

Makin lama, aku merasa jadi pelacur, ujar Suzie di dalam hati. Ketika sange’, Ghani datang ke sini, dan entotin aku. Lalu pergi lagi.

Asumsi tersebut ada benarnya. Meskipun dalam kasus lain, justru terkadang Suzie membuat Ghani seolah menjadi gigolo. Ketika libidonya butuh pelampiasan, ia minta Ghani untuk datang. Hanya untuk bercinta. Setelah kepuasan diraih, Suzie takkan peduli lagi urusan Ghani.

Dulu, hubungan antara Ghani dan Suzie tak seperti itu. Meski seks tetap menjadi menu utama, namun desir-desir asmara tetap menyelimuti mereka. Ada rasa kasih, ada ketenangan batin dan reaksi kimia. Perbincangan mendalam kerap terjalin, menguliti rasa sayang yang tercurah satu sama lain.

Beberapa bulan terakhir, situasinya tidak lagi sama. Jika dulu seks menjadi menu utama, kini seks adalah menu satu-satunya. Jika dihitung kasar, dalam 30 menit pertemuan mereka, porsinya mungkin adalah 7 menit basa-basi, 15 menit foreplay dan penetrasi, serta 8 menit istirahat dan pamit pulang.

Sebuah hubungan yang secara psikologis masuk kategori sangat tidak sehat, tentu saja.

Lalu, andai yang terjadi adalah seperti itu, mengapa Suzie terus mempertahankannya? Semua karena ia hobi bersenggama. Ia butuh pelampiasan atas nafsu birahinya yang meletup-letup. Dan pelampiasan tersebut hanya bisa ia dapatkan dari Ghani.

Selain itu, Suzie pernah berharap, Ghani akan menjadi pasangan hidupnya kelak. Harapan itulah yang membuatnya berhenti main gila dengan pria selain Ghani. Harapan itu pula yang membuatnya ngotot merekam adegan seks mereka menjadi sebuah video. Suzie berharap, lelaki terakhir yang pernah menggaulinya adalah Ghani.

Belakangan, Ghani mulai belok. Mirisnya, ketika Suzie menyadarinya, Ghani mulai bermain pintar dengan menjadikan video itu sebagai tameng perlindungan diri.

Ketukan seseorang di pintu, mengagetkan Suzie.

“Siapa?” tanya Suzie, sambil bergegas bangkit dan memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, lalu memakainya tergesa.

“Adul, Zie,” jawab orang itu. “Minta air panas, boleh?”

“Sebentar, Dul,” ucap Suzie. “Pakai baju dulu.”

“Mau lihat, dong!”

Suzie tertawa.

Sejurus kemudian, Suzie membuka pintu. Dilihatnya Trias berdiri sambil memegang gelas kosong.

“Makanya, kalau habis ML, buru-buru pakai baju,” seloroh Trias.

Suzie tertawa lagi. “Masuk, Dul.”

Trias pun memasuki kamar Suzie. Kamar yang berbulan-bulan lalu sering disambanginya. Kamar yang menjadi saksi bisu, ketika ia dan Suzie berkelakar sambil makan malam bersama. Kamar yang beberapa waktu terakhir seolah terlarang untuk dimasukinya.

“Tumben, kamu minta air panas,” ujar Suzie. “Dispenser rusak?”

“Air galon habis,” jawab Trias. “Belum sempat isi ulang.”

“Sibuk pacaran,” gumam Suzie. “Sampai nggak sempat isi ulang air.”

Trias menatap Suzie. Entah hanya perasaannya saja, atau memang begitu kenyataannya, ia menatap kilatan duka di mata wanita seksi di depannya.

“Kami nggak pacaran, Zie,” ujar Trias.

“Tapi akan,” tandas Suzie.

“Nggak tahu,” Trias mengedikkan bahu. “Biar waktu yang menjawab.”

“Biar waktu yang menjawab,” Suzie mengulangi ucapan Trias. “Aku pernah berucap seperti itu. Dan sekarang aku menyesal.”

Lagi-lagi, kilatan duka itu hadir di mata Suzie. Malah makin menjadi.

“Butuh air seberapa, Dul?” tanya Suzie, kentara benar bahwa itu hanyalah usaha pengalihan tema pembicaraan.

“Segelas aja,” jawab Trias. “Kalau aku minta segalon, kamu pasti ngamuk.”

“Kalau kamu minta segalon,” tanggap Suzie. “Aku bela-belain antar kamu ke depot isi ulang air minum, Dul!”

Trias tergelak. “Segelas aja, Zie. Aku nggak mau merepotkan kamu.”

“Sama sekali nggak merepotkan,” Suzie tersenyum, sambil mengambil gelas di tangan Trias, lalu mengisinya dengan air panas. “Kalau butuh bantuan, tinggal bilang. Anytime, Dul.”

“Siap,” ujar Trias dengan gestur jenaka.

Suzie menyerahkan kembali gelas yang kini telah terisi air panas kepada Trias.

“Thank a lot, Zie,” ucap Trias, sambil tersenyum. “Aku balik lagi ke kamarku, ya!”

Suzie hanya memberi anggukan sebagai jawaban. Trias pun balik badan, lalu keluar dari kamar Suzie.

“Dul…”

Trias berhenti melangkah, kemudian kembali membalikkan tubuh, menghadapi Suzie. Ia tersenyum lagi. “Apa, Zie?”

“Maafin aku, akhir-akhir ini sering bersikap kasar sama kamu,” lirih Suzie.

Trias mengerutkan kening. “Kamu nggak kenapa-kenapa, ‘kan? Tumben minta maaf!”

Suzie menggeleng pelan. “Aku merasa banyak salah sama kamu. Kamu udah baik sama aku, tapi aku malah jahat sama kamu. Aku minta maaf.”

“Nggak usah dipikirkan,” Trias tersenyum. “Aku juga nggak pernah mengingat-ingat sikap kasar kamu, kok! Santai aja, Zie.”

Suzie tersenyum, meski terlihat dipaksakan.

“Aku balik lagi ke kamar, Zie,” pamit Trias, sekali lagi.

Kembali, Suzie hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.

Trias pun melangkah menuju kamarnya.

***

Sepeninggal Trias,

Aku pengen kamu temani aku, Dul… batin Suzie. Aku butuh teman, yang mana nggak bisa aku dapatkan dari Ghani.

Ya, Ghani hampir selalu bisa memberikan kepuasan birahi bagi Suzie. Tapi, kepuasan batin? Setelah meraih puncak kenikmatan bersama Ghani, jelas Suzie merasakan kehampaan di hatinya. Kosong, hingga kenikmatan bercinta yang baru dirasakannya seolah menguap begitu saja.

Berbeda dengan kehadiran Trias. Meski hanya sekadar meminta segelas air panas, dan diselingi canda sesaat, namun Suzie merasakan kegembiraan. Merasakan nikmatnya tertawa lepas. Batinnya justru terasa ‘penuh’ hanya oleh interaksi singkat dengan Trias.

Tuhan… kenapa aku seperti ini? ratap Suzie di dalam hati. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Suzie merasakan kegamangan tak terhingga. Dan rasa gamang itu dibawanya hingga jatuh tertidur.

***

Belasan meter dari kamar Suzie,

Aku tahu, kamu memendam beban pikiran, Zie, ujar Trias di dalam hati. Tapi, maaf, aku nggak bisa membantu apa-apa.

Trias sadar, meski sejak lama menaruh hati untuk Suzie, pada hakikatnya wanita itu bukanlah siapa-siapa baginya. Ia tak punya hak untuk mencampuri urusan Suzie. Bahkan jika Suzie meminta, ia takkan serta merta membantunya.

Kamu punya Ghani, gumam hati Trias. Silakan minta bantuan sama dia, jangan aku.

Tanpa disadari, ada kegeraman di hati Trias, saat ingat sosok Ghani. Kegeraman karena tahu betapa lelaki itu telah mengkhianati Suzie. Mengkhianati wanita yang selayaknya dicintai sepenuh hati. Mengkhianati wanita yang dikasihinya.

Tapi kini ada Nika, Dul! Untuk apa kamu geram saat Suzie diperlakukan tak adil oleh Ghani?

Ya, kini ada Nika, hati Trias berkata. Ya, aku pun menyukai Nika. Tapi, ah… Suzie tetap menempati ruang besar di hatiku.

***

Belasan kilometer dari Kost-an Sejahtera,

Aku tahu, hatimu bukan untukku, meskipun tubuhmu sepenuhnya kunikmati, Suzie, batin Ghani. Kamu memikirkan goweser miskin itu.

Ghani sadar, meski setiap jengkal tubuh Suzie telah berhasil ia jelajahi, namun ada bagian di hati wanita itu yang tak pernah bisa direngkuhnya. Bagian hati yang menjadi batu sandungan dalam hubungan yang mereka jalin. Bagian hati yang justru dimiliki Trias, pria yang sesungguhnya hampir tak pernah menyentuh secuil pun tubuh Suzie.

Ghani ingin memiliki bagian hati tersebut. Sejak lama, ia memuja Suzie. Sekian lama pula, ia harus rela menatap nanar sang pujaan yang silih berganti dihinggapi banyak lelaki. Kekecewaan dan sakit hati adalah hal yang biasa ia rasakan selama bertahun-tahun mengidolakan sosok Suzie.

Lalu kekecewaan dan sakit hati pun berganti rasa bahagia, tatkala sang pujaan berhasil ia dekati. Lebih dari sekadar hati, Ghani bahkan bisa merengkuh tubuh indah Suzie, melebihi semua yang pernah ia angankan di masa lalu. Ia mampu menjadi sosok penting dalam keseharian wanita itu.

Hingga Trias hadir dalam kehidupan mereka, mencemari indahnya hidup Ghani. Meski Suzie tetap membutuhkannya sebagai pelampiasan atas gairah birahi dan libidonya yang meledak-ledak, namun hatinya makin terbagi. Sosok Trias terus merasuki relung hati Suzie.

Apapun yang terjadi, Suzie harus tetap kumiliki, tekad Ghani. Meskipun harus dengan cara culas dan main kotor, aku nggak peduli. Kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku, Suzie…

Bersambung