Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Tentang Nika

Perasaan harus diungkapkan. Bukan hanya untuk dipendam, tanpa pernah diutarakan. Karena apa gunanya memendam perasaan, jika yang bersangkutan tak pernah tahu apa yang kita rasakan? Hanya mengundang sesak dan kepenasaran. Lalu terkubur waktu yang dengan kejam tak mau berhenti berjalan.

Asumsi semacam itulah yang membuat Trias memutuskan untuk sesegera mungkin mengutarakan perasaannya terhadap Nika. Jika rasa cintanya kepada Suzie hanya bisa disembunyikan karena sang wanita punya seseorang yang membayanginya, rasa cinta terhadap Nika mesti terungkap gamblang seiring status sang gadis yang sebebas merpati.

Lalu ada yang bertanya,
“Apakah ini tidak terlampau cepat?”

Tentu tidak. Sesegera mungkin mengungkapkan perasaan adalah hal yang bijak. Persaingan menemukan pasangan hidup selalu ketat. Trias tak mau kalah dalam persaingan tersebut, lalu beroleh komentar nyinyir,

“Gebetanmu diembat, karena kamu terlalu lambat.”

***

Hari Rabu malam, tiga hari setelah gowes bareng,

Nika sedang rebahan di ranjang sambil menekuri sebuah majalah, ketika Trias mengetuk pintu kamar kost-nya yang terbuka lebar. Gadis hitam manis itu tersenyum riang, menyaksikan sosok lelaki santun itu berdiri di ambang pintu.

“Masuk, Trias,” persilakan Nika, seraya menutup majalah dan menyimpannya di sisi ranjang. “Sengaja ke sini?”

Trias mengangguk, sambil melangkah memasuki kamar Nika, lalu duduk di tepi ranjang. “Udah makan?”

“Kamu bawa makanan?” tanya balik Nika.

Trias menggeleng. “Kalau belum makan, kita cari makan sama-sama. Kamu udah makan?”

“Sayangnya, udah,” Nika tersenyum.

“Alasan aku demi mengajak kamu jalan gagal, dong?” seloroh Trias.

Nika tertawa kecil. “Kamu mau jalan atau sekadar berduaan? Kalau berduaan, di sini juga bisa, ‘kan? Seperti sekarang.”

Trias mengangguk pelan.

Nika bangkit dari rebahannya. Lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kanan Trias. Lengan kanan Trias dan lengan kiri Nika pun bersentuhan, begitu pula paha kanan Trias dan paha kiri Nika. Persentuhan itu menjelaskan betapa mereka duduk begitu dekat.

“How was your day, Trias?” tanya Nika.

“Hmm… not too bad,” jawab Trias. “How about you?”

“Same as yesterday,” jawab Nika. “A little bored, Trias.”

Nika sudah empat bulan bekerja sebagai operator sebuah warnet di Sarijadi. Lokasinya yang berada di tengah kantung permukiman mahasiswa, membuat mayoritas pelanggannya paham internet. Alhasil, rutinitas pekerjaan Nika hanyalah sebagai kasir. A little bored, seperti yang ia ungkapkan kepada Trias.

Ia sendiri berasal dari Ciwidey, sebuah daerah di Bandung Selatan. Tiga bulan pertama, ia memilih untuk menginap di warnet, mengingat betapa jauhnya jarak antara kediaman dan tempat kerjanya. Kebetulan, bangunan warnet memiliki sebuah ruangan kosong yang kemudian disulap Nika menjadi kamar tidur.

Lama-lama, Nika mulai jengah jika terus tidur di kamar tersebut. Suasana warnet yang hampir selalu ingar-bingar, membuatnya tak bisa beristirahat dengan nyaman. Terlalu berisik. Nika kerap menjaga warnet sambil terkantuk, karena kurang tidur di malam hari.

Akhirnya, Nika memutuskan untuk mencari kamar kost. Ia memilih untuk kost di bilangan Ciwaruga, karena rerata tarif sewanya terhitung ekonomis. Setingkat di bawah tarif sewa kamar kost di Sarijadi. Dan pilihan Nika jatuh pada Pondok Trikora, yang secara kebetulan bersebelahan dengan Kost-an Sejahtera, tempat tinggal Trias.

“Meskipun pekerjaanmu sedikit membosankan, aku harap kamu selalu semangat,” ingat Trias. “Nggak lucu, ‘kan, kamu udah berhasil bikin aku jadi bersemangat, sementara kamu sendiri malah nggak semangat?”

Nika tersipu. “Kamu jadi bersemangat gara-gara aku?”

Trias mengangguk.

“Aku ini siapa, sih?” tanya Nika retoris. “Sampai bisa memotivasi kamu?”

“Kamu nggak perlu jadi siapa-siapa untuk bisa memotivasi seseorang,” ucap Trias. “Buktinya, kamu jadi diri sendiri, udah berhasil memotivasi aku.”

“Aku tersanjung, Trias,” gumam Nika. “Tapi, aku berharap kamu nggak bergantung sama aku. Aku takut, kamu malah balik drop, begitu tahu bagaimana aku yang sebenarnya.”

“Kamu menyembunyikan sesuatu?” tanya Trias.

Nika menggeleng. “Aku cuma belum siap bercerita. Tapi, kamu berhak tahu.”

“Kapan aku bisa tahu?” tanya Trias lagi.

“Segera,” jawab Nika. “Tapi, yang pasti, bukan hari ini. Kamu bisa mengerti?”

Trias mengangguk.

Sejujurnya, Trias tidak suka dibuat bingung seperti ini. Anggukan kepalanya, hanyalah sekadar kamuflase dari kebingungan tersebut. Namun, ia lebih tidak suka bila harus memaksa Nika untuk bercerita. Ia sadar, Nika belum sepenuhnya percaya pada dirinya. Rasa nyaman yang ditunjukkan Nika saat bersamanya, belum tentu sebanding dengan rasa percaya.

Nika bangkit dan melangkah menuju meja tulisnya. Diambilnya toples plastik berisi keripik pisang. Lalu ia duduk di atas karpet hijau yang melapisi lantai kamar. Mau tidak mau, Trias pun ikut duduk di lantai, berhadapan dengan Nika.

“Mengobrol paling seru, adalah sambil makan keripik,” ujar Nika, sambil membuka tutup toples.

“Karena renyah keripik menghasilkan efek suara yang mengagumkan?” seloroh Trias.

Nika tergelak.

“Suara tawa kamu,” ucap Trias. “Enak didengar, Nika.”

Nika mengerutkan dahi. “Apa hubungannya antara keripik dan suara tawaku?”

“Aku berharap bisa terus mendengar kamu tertawa,” sambung Trias, tampak tidak memedulikan pertanyaan Nika. “Karena aku menyukai kamu.”

Kerutan di dahi Nika makin bertambah. “Apa hubungannya, Trias?”

“Nggak ada,” jawab Trias. “Aku cuma nggak bisa menunggu sehari lebih lama untuk jujur tentang perasaanku.”

Nika terlihat gugup. Terlihat dari caranya mencomot keripik pisang di toples, dengan intensitas yang cukup tinggi. Berkali-kali ia mengambil sepotong keripik, meski mulutnya masih mengunyah keripik yang ia lahap sebelumnya.

“Kamu nggak perlu menanggapi, kalau merasa nggak bisa menanggapi,” ucap Trias, berusaha menetralisir suasana. “Itu cuma ungkapan perasaan aku sama kamu, tanpa berharap jawaban atau apapun, kok!”

“Aku juga suka sama kamu, Trias,” ujar Nika. “Tapi, kalau untuk berhubungan serius, kita sama-sama butuh waktu.”

“Kalau untuk menikah?” goda Trias.

“Apalagi itu!” Nika tertawa, seraya memukul pelan paha kiri Trias. “Tapi, jujur, aku nggak bisa mungkir, kalau peluang ke arah sana memang ada.”

Trias mengangguk. “Kita jalani aja seperti ini dulu ya, Nika?”

“Iya,” Nika tersenyum. “Biar semuanya mengalir apa adanya.”

Suasana menjadi kaku. Namun kegugupan Nika telah sepenuhnya sirna, setelah melihat sikap legawa Trias. Ia kagum dengan keikhlasan lelaki itu. Dan, sejujurnya, sikap besar hati Trias telah membuatnya yakin bahwa lelaki yang duduk di hadapannya ini adalah jodohnya.

“Trias…” gumam Nika. “Kamu pernah membayangkan, kita bakal biketouring bareng?”

“Pastilah,” Trias mengangguk. “Seumur hidup, aku belum pernah touring bareng orang yang aku sukai.”

“Kamu nggak akan ajak aku touring sama kamu?” tantang Nika.

“Kamu ‘kan sakit,” tanggap Trias. “Memangnya kamu kuat gowes jarak jauh?”

“Kata dokter, aku makin sehat,” Nika tersenyum. “Kalau gowes ke Garut, Sumedang atau Cianjur, aku pasti kuat. Meskipun pulangnya harus di-loading.”

“Kamu yakin?” tanya Trias lagi.

Nika kembali mengangguk. “Kamu kepingin touring sama aku, ‘kan?”

“Iyalah, pasti,” Trias mengangguk.

“Pilih Garut, Sumedang atau Cianjur?” tanya Nika. “Trek ke tiga kota itu, konturnya relatif ramah. Aku yakin kuat, asalkan pulangnya di-loading.”

“Gimana kalau ke Cianjur?” usul Trias. “Banyak pilihan wisata alam dan kuliner di sana.”

“Boleh,” Nika tersenyum penuh semangat. “Aku juga kepingin mencicipi bubur ayam Cianjur yang katanya enak itu.”

“Akhir pekan depan, gimana?” cetus Trias. “Berangkat hari Sabtu subuh, pulang hari Minggu sore, di-loading ke dalam bus.”

“Oke,” Nika mengedipkan kelopak mata kirinya. “Jadi, aku punya waktu sepuluh hari buat persiapan fisik.”

Segera setelah obrolan soal touring tersebut, suasana menjadi cair kembali. Kekakuan sontak hilang, berganti antusiasme karena telah berencana melakukan duo touring.

Nika malah menangkap Trias yang melamun sambil sesekali tersenyum sendiri.

“Jangan bilang kalau kamu lagi membayangkan kita pacaran sambil touring,” godanya.

Trias nyengir. “Bayangan ke arah itu pasti ada, Nika. Namanya juga touring bareng orang yang disukai!”

“Iya, sih…” gumam Nika. “Jujur, aku juga nggak sabar.”

Trias hanya tersenyum.

“Aku berharap bisa sehat lagi, Trias,” ucap Nika lirih. “Bisa [itouring[/i] jauh lagi. Ke Jogja, Semarang atau bahkan ke Bali.”

“Semua bergantung pada semangat kamu untuk sembuh,” tanggap Trias, yang masih terus bertanya-tanya perihal sakit apa yang diderita Nika. “Percuma rajin berobat, kalau kamu nggak yakin bisa sembuh.”

“Iya,” Nika tersenyum. “Kamu mau, kasih aku semangat?”

“Pasti, Nika,” tangan kanan Trias terulur, menggenggam telapak tangan kiri Nika. “Kalau kamu merasa kehadiranku udah bikin semangatmu terjaga, aku janji, nggak akan tinggalkan kamu.”

“Makasih, Trias,” gumam Nika pelan.

Nika menunjukkan gestur aku-ingin-dipeluk. Trias mengerti. Ia pun memajukan duduknya, menjadi lebih dekat dengan posisi tubuh Nika. Wanita itu pun langsung memeluk tubuh Trias hangat. Trias membalas pelukan itu, tak kalah hangat.

“Makasih, Trias,” bisik Nika. “Makasih udah rela temani aku.”

“Sama-sama, Nika,” balas Trias. “Makasih karena kamu udah mau kutemani.”

Bermenit-menit, keduanya saling berpelukan. Tanpa gerakan lain, tanpa kata-kata. Namun, mereka yakin, bahwa keduanya sama-sama menikmati kedekatan ini.

Hingga kemudian Nika berusaha melepaskan diri dari pelukan Trias. Trias pun melonggarkan rangkulan kedua tangannya.

“Kamu sayang aku, Trias?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Trias. “Karena rasa sayang biasanya muncul belakangan. Seperti kedua orang tua kita yang awalnya saling suka dan cinta. Tapi, seiring usia, yang membuat mereka tidak cantik dan tampan lagi, rasa cinta secara fisik akan hilang. Berganti rasa sayang yang abadi. Ketika rasa sayang bicara, kekurangan fisik jadi tidak berarti lagi.”

“Kalau tubuhku makin kurus, rambutku rontok, kamu masih bakalan sayang sama aku?” tanya Nika.

Tubuh makin kurus, rambut rontok, gumam Trias di dalam hati. Kamu sakit apa, Nika?

“Kalau wajahku nggak segar lagi,” lanjut Nika. “Kamu masih bakalan sayang sama aku?”

“Aku berharap seperti itu,” jawab Trias. “Jadi, tolong bantu aku, untuk bisa menumbuhkan rasa sayang terhadap kamu, Nika.”

Nika pun kembali memeluk Trias.

***

Trias memutuskan untuk menunggui Nika, hingga gadis itu tertidur.

“Nanti, kalau kamu pulang, kunci pintunya dari luar,” ujar Nika, sesaat sebelum mencoba memejamkan mata. “Lalu, lempar kuncinya ke dalam, lewat lubang angin di atas jendela. Oke?”

Kini, gadis manis itu sudah terlelap. Dengan gerakan perlahan, Trias mengambil dan mengakui ponselnya, lalu mengenakan jaket Persib-nya. Mengendap-endap, ia melangkah menuju ambang pintu yang tetap sedikit terbuka selama mereka berduaan.

“Trias…”

Trias menoleh ke arah Nika yang terbaring di atas tempat tidur. Dilihatnya kelopak mata gadis manis itu terjaga. Ia pun balik badan, menghampiri Nika. “Kenapa bangun lagi?”

“Nggak apa-apa,” jawab Nika lirih. Tangan kanannya menarik tangan kiri Trias, hingga lelaki itu terpaksa berlutut. “Sini…”

Trias mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nika. Dan ia terkejut ketika bibir Nika mendarat mulus di pipi kirinya.

“Sekali lagi, makasih, Trias…”

Wajah Trias pun memerah.

***

Trias sudah kembali ke kost-annya, dengan perasaan berbunga-bunga. Langkahnya ringan, bahkan seolah melayang. Berjalan satu meter di atas bumi, akibat kecupan sekilas nan lembut yang diberikan Nika. Sulit bagi Trias untuk percaya, namun ini benar-benar nyata.

Satu jam sebelumnya, Nika tak menanggapi ungkapan perasaan Trias dengan semestinya. Gadis itu menyiratkan keinginan untuk menjalani semua apa adanya. Namun, di akhir perjumpaan, perlakuan Nika menegaskan bahwa ia pun sesungguhnya memiliki perasaan sama, seperti yang dirasakan Trias.

Alhasil, ia kembali ke kost-an diiringi ratusan peri Cupid yang menari-nari riang di sekitarnya.

Suasana Ciwaruga tampak sepi. Heran, padahal biasanya daerah kantung mahasiswa dan pekerja ini cukup ramai hingga tengah malam. Malam ini anomali, sunyi meski jam di ponsel Trias baru menunjukkan waktu pukul 22.09. Malam masih cukup muda.

Ketika melintasi gerbang kost-an, Trias bertemu Mia dan Dewa, tetangga kost-nya yang telah berstatus suami-istri.

“Ke mana?” tanyanya.

“Cari makan,” jawab Dewa. “Mau titip sesuatu.”

“Nggak usah, makasih,” tolak Trias sambil tersenyum. “Oya, Ciwaruga tampak sepi. Ada apa, ya?”

Dewa dan Mia sama-sama tersenyum.

“Biasalah, baru ada warga yang meninggal,” beritahu Mia.

“Oh,” bibir Trias membulat.

Mereka pun berpisah.

Inilah dinamika kehidupan di Ciwaruga. Meski banyak dihuni oleh para pekerja dan mahasiswa yang kost, namun pola pikir para warga asli tidak lantas mengikuti gaya hidup para pendatang. Terutama dalam hal mistis dan klenik. Mereka masih memercayai hal-hal berbau takhayul.

Di malam-malam tertentu, kerap tercium aroma kemenyan. Terkadang, ada yang menjumpai bola api melayang, yang diyakini sebagai kiriman santet, atau dalam bahasa Sunda disebut dengan teluh. Juga cerita-cerita seram daerah tertentu, yang hampir selalu dikaitkan dengan arwah penasaran.

Khusus mengenai fenomena sepinya Ciwaruga di malam ini, mesti dikaitkan dengan kematian seorang warga. Setiap ada warga Ciwaruga yang meninggal, meskipun dengan jalan wajar, suasana desa di malam hari akan menjadi sunyi. Warga enggan berkeliaran di luar rumah. Dan fenomena tersebut akan bertahan hingga sepekan, atau bahkan lebih.

Suasana di kost-an sejahtera tak kalah sunyi. Namun untuk urusan ini, Trias tahu alasan logisnya. Semua penghuni kost-an ini adalah pekerja, baik kantoran atau nonformal. Mereka harus cepat masuk kamar, karena harus bangun pagi keesokan hari. Tak ada alasan mistis untuk fenomena sepinya suasana kost-an.

Namun, saat melintasi kamar Suzie, Trias mendengar sayup kegaduhan di dalam. Kegaduhan yang cukup familiar di telinga para penghuni lain di kost-an ini. Kegaduhan yang berasal dari lenguh dan rintih nakal sang pemilik kamar yang tengah digumuli pria.

Seperti biasa, batin Trias. Suzie versus Ghani. Klise.

Trias mempercepat ayunan langkahnya menuju kamar.

Bersambung