Wanita Idaman Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 6

Start Wanita Idaman Part 6 | Wanita Idaman Part 6 Start

PART VI

BASAH KUYUP

Deeerrtt….. Deeeerttt…. Deeeeerrrt….

Hapeku bergetar, ada panggilan masuk sepertinya. Padahal aku sedang menikmati pemandangan sore di jalanan Kota S. Ogah-ogahan, kuhampiri hapeku, ternyata Dokter Ara. Berarti ia sudah sendirian. Semoga saja.

“Kamu kok jahat sih?” suara manjanya keluar. Aku merinding.

“Kenapa sih Bu Dokter?” aku pura-pura tak tahu.

“Pakai pura-pura segala. Kamu apain tadi Pak Tio sampai dia cepet-cepet mau pulang ini tadi?” ia tertawa. Renyah sekali.

Aku tertawa juga. Puas. Aku berhasil mengirim Pak Tio kembali ke istrinya. Sungguh mulia tindakanku. Menyelamatkan ia dari jerat selingkuh. Aku benar-benar anak baik.

“Loh nggak sengaja ketemu tadi, ya kuajak ngobrol lah. Aku kan anak baik,” aku menggodanya. Dan tetap tertawa.

“Sudah ah. Aku mau beres-beres dulu. Habis itu kesitu. Dilanjut nanti saja cerita Pak Tionya,” ia menutup telepon.

Ah. Akhirnya Dokter Ara jadi milikku 2 hari ini. Kasian juga Pak Tio. Maafkan saya ya Pak. Cuma dua hari ini kok. Senin Bu Dokter sudah jadi milik Bapak lagi.

Aku menjatuhkan diri di ranjang. Tenang. Lega sekali rasanya semua berjalan baik. Tak kuduga hanya dalam waktu satu jam dari perpisahan kami di depan pintu kamar tadi, Pak Tio memutuskan pulang. Aku tak tahu bagaimana pembicaraan mereka. Semoga saja ia tak curiga. Dan hubunganku dengan Dokter Ara tetap baik-baik saja.

Tok. Tok. Tok.

Ini pasti dokter *******. Aku tinggal memakai boxer dan kaos saja. Siapa tahu tiba-tiba ada yang menyerangku secara tiba-tiba. Persiapan harus selalu maksimal.

Kubuka pintu. Sesosok wanita berambut panjang berwarna pirang, memakai atasan kemeja longgar panjang, sepertinya tak memakai bh, dan hanya ada celana dalam di bagian bawah. Ini sih pemandangan sore yang menakjubkan. Pemandangan di luar jendela jelas tak ada apa-apanya. Kuraih tas jinjing di tangannya, tubuhnya dalam rangkulanku, kutuntun masuk. Pintu tertutup dengan sendirinya.

Kami tertawa. Keras sekali. Ia beberapa kali menepuk dadaku. Tak habis pikir, akan ada kejadian lucu sekali sore ini. Kami masih tak bisa berhenti tertawa. Hidup selalu penuh kejutan.

“Awalnya aku sudah pesimis, Mas. Kemungkinan terburuk ya kita nggak jadi ketemu minggu ini, pasrah lah aku,” ia membuka percakapan, jelas saja menceritakan kejadian di kamar 1636 beberapa saat lalu. Kami duduk di sofa, memandang jalanan sore yang padat.

“Terus?” aku tersenyum, memberikan kesempatan padanya untuk menuntaskan cerita.

“Eh tiba-tiba dia masuk dengan wajah yang aneh. Langsung bilang kalau ia pulang habis itu karena tiba-tiba anaknya telepon katanya. Aneh kan. Aku penasaran dong,” ia mulai nerocos tak terkontrol.

“Alasannya dibuat-buat ya. Tapi apa hubungannya coba ketemu aku dengan langsung pulang, kan bisa saja tetap di kamar, aku juga nggak bakal tahu,” aku penasaran juga dengan alasan kepergian Pak Tio.

“Mana aku tahu. Setelah itu dia cuma cerita kalau di lift ketemu kamu, katanya kamu nginep di kamar ini. Aku hampir saja ketawa. Kalau keceplosan gimana coba,” ia tertawa sungguhan setelah bilang seperti itu.

“Laki-laki yang aneh. Anggaplah ini hari keberuntungan kita. Dinikmati saja kalau begitu,” aku mengecup keningnya. Ia mengeratkan pelukan. Ada yang mengganjal.

Kuhilangkan pikiran mesumku. Meski sebenarnya aku sangat bernafsu, apalagi dengan pakaiannya seperti ini. Tak ingin kujatuhkan harga diri dengan terlihat menggebu-gebu untuk menikmati tubuhnya. Semua harus kulakukan dengan elegan. Aku harus berbeda.

Kami tak bersuara hingga beberapa menit kemudian. Hanya berpelukan. Anehnya si johny juga tak cepat menegang. Makin pintar ia. Kami menikmati pertemuan ini, setelah 3 minggu menunggu kesempatan. Peristiwa di Kota J benar-benar mengubah hubungan kami. Lebih dekat, lebih intim, saling menjelajahi kedalam masing-masing. Aku tak tahu bagaimana jika nantinya akan muncul perasaan selain nafsu. Kuikuti saja perjalanan hubungan ini. Terpenting, hubungan kami aman, tak membahayakan keselamatan kami masing-masing. Kami sama-sama tahu itu.

Sore yang syahdu. Tubuh kami tetap menyatu memandang riuh jalanan. Ada kenyamanan dari pelukan ini. Entah kenapa, aku selalu nyaman menjalin huhungan dengan wanita yany lebih tua. Mereka tak pernah merengek, mereka tahu kondisinya. Seperti hubunganku dengan Dokter Ara, meski baru berlangsung 1 bulan, terhitung sejak kami intens berkomunikasi, tak perlu penjelasan macam-macam, ia tahu posisinya. Aku pun begitu. Aku tak pernah menanyakan bagaimana suaminya. Aku juga tak pernah ingin tahu bagaimana anak dan keluarganya di rumah. Semua mengalir bak sungai tenang. Aku menikmati tiap prosesnya, mudah-mudahan ia pun begitu.

Tiba-tiba terlintas pikiran nakal di kepalaku. Selama ini, aku tak pernah menanyakan bagaimana hubungan seks Dokter Ara dan Pak Tio. Dia hanya pernah bilang jika Pak Tio tak dapat memuaskannya. Aku ingin tahu lebih dalam. Tak apalah. Siapa tahu ini bisa menambah bumbu di hubungan kami. Biasanya, segala yang berawal dari cemburu akan berlangsung panas. Hubunganku dengan Dokter Ara tak boleh membosankan.

“Bu Dokter sayang, aku boleh nanya sesuatu nggak?” aku membuka pembicaraan. Tubuh kami tetap berpelukan. Kubelai punggunggnya, ia membelai dadaku.

“Tanya apa sih, Mas?” suara khasnya membangkitkan gairahku.

“Dua malam ini bagaimana? Sudah keluar berapa kali?” aku menggodanya. Kalimat terakhir kubisikkan tepat di telinga.

Ia mencubit lenganku. Aku meringis. Ia merapatkan pelukan.

“Kamu sengaja nggodain aku ya” ia mengulangi cubitannya. Lumayan.

“Loh, aku cuma pengen tahu. Aku ingin memuaskanmu dengan cara yang berbeda dari dia. Kalau ternyata kamu sudah mendapatkan dari dia, kan keinginanku tidak berhasil,” kembali kuarahkan suaraku ke telinganya. Tubuhnya berdesir.

Ia diam beberapa saat. Aku menunggu. Mudah-mudahan ia tak tersinggung dan moodnya menjadi hancur.

Ia beranjak. Dilepaskannya pelukan kami, lalu ia mendudukiku. Siapa yang tak nafsu dengan tindakan yang ia lakukan. Apalagi kalian tahu, pakaian yang ia kenakan benar-benar memancing birahi. Tangannya dilingkarkan di leherku. Ia nampak bersiap-siapa berbicara.

“Cuma sekali!” nadanya cukup tinggi, ia pasang wajah murung. Ini akan menjadi pembicaraan yang menarik.

Aku tak menjawab, hanya memasang wahah penasaran. Menunggu ia melanjutkan.

“Padahal dia keluar 5 kali. Lima kali!” wajahnya kian ditekuk.

Aku tersenyum. Aku yakin ia sangat bernafsu. Ia memendam birahi yang tak tersalurkan dengan maksimal.

“Mainnya banyak juga ya,” aku memasang wajah menyebalkan.

Ia memukuli dadaku. Nampak kesal sekali ia dengan respon yang kuberikan. Kupeluk tubuhnya. Sedikit tenang. Kami rebah. Ia masih diatasku.

“Kayaknya dia sedang birahi tinggi. Untung aku juga. Jadi meskipun hanya keluar sekali, aku masih melayaninya dengan nafsu,” ia mulai nerocos.

“Kamu pasti pura-pura orgasme ya?” kugoda lagi Dokter seksi ini.

“Jelas laaaah. Kalau tidak, dia pasti murung dan merasa bersalah. Kadang malah marah-marah” nadanya kian kesal. Aku makin semangat.

“Kok gitu?” aku terus memancingnya.

“Dia merasa kalau dia harus memuaskanku, padahal kenyataannya kan nggak selalu bisa. Dari pada ia marah-marah, kan lebih baik kupalsukan saja. Harusnya kan dia sadar kondisiku dan kemampuannya. Dasar laki-laki egois!” ia nampak makin kesal.

Kubelai punggungnya. Lalu rambutnya. Kami tak saling memandang. Kukecup tengkuknya. Ia nampak berdesir. Sekali lagi. Sengaja kumainkan nafsunya. Aku ingin mendapatkan sisi binalnya lagi. Dengan cara yang berbeda.

Tiba-tiba, Dokter Ara beranjak. Ia gulingkan tubuhnya, menelungkup membelakangiku. Reflek, kupeluk tubuhnya. Kami kembali lekat. Nafsunya mulai naik nampaknya. Kukecup lagi tengkuknya, lalu kujilati belakang telinganya.

“Terus, pakai gaya apa saja kemarin?” aku meneruskan pertanyaanku.

Ia melenguh. Diam beberapa saat. Aku masih menunggu jawaban. Mudah-mudahan saja ia tak tersinggung.

“Hmmm. Lebih banyak konvensional sih. Aku nggak mau gaya aneh-aneh, wong hasilnya sama saja,” jawabannya kurang memuaskanku.

“Maksudnya?” kupancing lagi.

“CEPET KELUAR!” Ia berbalik, memagut bibirku.

Dokter Ara tak tahan juga. Kami berciuman lagi. Kali ini cukup panas. Nampaknya ia terbawa suasana percakapan kami barusan. Lidahnya lebih lincah. Menjelajah seluruh permukaan mulutku. Sesekali, lidah kami bertemu. Lalu lepas. Disapunya bibirku, kami tak tahu lagi berapa air liur yang tertukar.

Kami terus memagut. Di luar sana, matahari mulai jatuh. Langit kemerahan, suara klakson tetap bersahutan. Sore yang indah, jendela belum kami tutup. Ada pancaran cahaya sore yang menyerang tubuh kami. Entahlah, apakah pergumulan kami bisa dilihat oleh orang-orang di luar sana. Aku hanya peduli pada tubuh di pelukanku. Ia yang selalu menggairahkan. Sudah tiga minggu tak kujamah. Dan kini ia sepenuhnya milikku.

Ciuman kami terlepas. Kami berpandangan, tajam sekali. Nafas masih tak beraturan. Rambut mulai acak-acakan. Jangan tanya bagaimana birahi kami, pasti sudah memuncak. Kami tersenyum, ia mendekat. Kami berpelukan.

“Selama ini kebanyakan aku orgasme dengan posisi aku di atas. Kamu harus bisa melakukannya di semua posisi,” ia tiba-tiba membisikiku kalimat yang cukup intimidatif.

“Apapun akan kulakukan untuk memuaskanmu, Bu Dokter sayang,” kuterima tantangan itu.

Soal hasil dipikir nanti saja. Ia butuh keyakinan itu. Dan pertemuan sebelumnya, aku berhasil membuatnya kelojotan. Dia masih penasaran, aku pun sama. Kami sama-sama menginginkan kenikmatan itu.

Kami kembali berciuman. Kali ini lebih lembut. Tanganku sudah bergerilya kesana kemari tak beraturan. Kami nampak sama-sama menahan birahi. Apalagi, 2 hari ini nafsunya tak tersalurkan dengan baik. Semua pasti menumpuk, menunggu penyelesaian. Aku memutuskan membiarkannya memegang kendali.

Dokter Ara nampak tergesa-gesa di pergumulan kali ini. Tanpa terasa, ia sudah berhasil membuka ikat pinggang dan resleting celanaku. Jangan tanya tangannya berada dimana. 5 jari sudah nyaman di batang yang tegak di bawah sana. Aku kecolongan. Tapi kubiarkan, aku memberikan kesempatan penuh kepadanya.

“Kontol ini yang bikin aku kangen” bicaranya memang ngawur kalau sudah birahi.

Aku diam. Kusenyumi wanita cantik di pelukanku ini. Mulut kami sudah tak lekat, ia menelusuri leherku, dan tentu memainkan si johny di bawah sana. Tak puas, ia berdiri, dengan tatapan nakal, ia lolosi celana yang kupakai. Si johny kini bebas. Mengacung menunjukkan keperkasaannya. Ia nampak angkuh. Dengan tetap memandangku, Dokter Ara menurunkan kepalanya. Tentu kalian tahu kemana ia akan mendarat.

Si johny yang tak disentuh wanita selama 3 minggu nampak kegirangan. Dokter Ara tahu itu. Jemari lentiknya mulai bekerja. Digenggamnya si johny, dimainkan dengan penuh kasih sayang. Aku tau ia bernafsu, tapi hebatnya semua dalam kontrol. Aku harus belajar banyak dari wanita ini.

Ditengah gerakan jemarinya, mulutnya mulai turun gunung. Basah. Ia menelan seluruh bagian dari si johny. Gerakan ini tak kuduga. Biasanya, ia akan memainkan lidahnya terlebih dahulu. Tapi tak apa, kenikmatan itu memang perlu variasi. Dan Dokter Ara tahu benar itu. Aku tak tahu lagi bagaimana harus mengungkapkan kenikmatan ini. Kalian tentu tahu bagaimana aku dibuat kelojotan dengan teknik oralnya. Dan hari ini, ia ulangi lagi. Satu-satunya orang yang bisa membuatku orgasme hanya dengan oral seks adalah Dokter Ara, aku mengakui kemampuannya yang satu ini.

“Shhhh Dokkkk” aku hanya bisa merem melek menikmati pekerjaannya sambil memainkan rambutnya.

Dokter Ara memandangku. Dengan mulut tersumpal si johny, ia masih berusaha tersenyum. Tanganya bermain dian buah zakarku, ngilu-ngilu sedap. Aku tak tahu bagaimana perasaannya tapi aku sadar, aku harus melakukan sesuatu. Ditengah aksinya, kutarik tubuhnya. Ia nampak protes. Kubiarkan. Aku membawanya ke ranjang. Telentang, kutarik tubuhnya diatasku, kepalanya menghadap si johny, dan aku siap menjelajahi vaginanya. Kami siap bertempur.

Celana dalam masih membungkus vaginanya. Tidak kulepas, kusibakkan saja benda segitiga itu, kumainkan bukit lebat itu dari samping. Dokter Ara masih tak menghiraukan permainanku. Ia fokus padasi johny. Sebenarnya aku tak tahan dengan permainan oralnya, tapi demi harga diri pertahanan harus dikuatkan semaksimal mungkin. Aku mengalihkannya dengan terus memainkan vagina Dokter Ara. Kini jari tengahku mulai bertugas. Memasuki goa yang gelap, aku mulai dengan menggosok bagian luarnya. Basah. Lembab. Namun aromanya memabukkan. Sejak tiga minggu lalu, ini menjadi salah satu tempat favoritku.

“Uhhh Massss. Kok jadi aku yang keenakan shhhh” ia mulai tak kuat menerima seranganku

Tanpa bicara, jari dan mulutku terus bekerja. Dokter Ara nampak menghentikan aktivitasnya pada si johny. Ia mulai kelojotan. Tubuhnya mulai bergerak tak karuan. Aku sama sekali tak menghentikan seranganku, justru temponya kutambah. Gerakan jariku kupercepat. Lebih cepat. Kuganti dengan lidah. Kini lidahku berpetualang memutari vaginanya. Kanan. Kiri. Putar. Sedot. Ah. Rasanya aneh tapi menggairahkan.

“Aaauuuuuww” gestur Dokter Ara ingin mengangkat tubuhnya, namun kutahan.

Kutambahkan serangan dengan kembali menugaskan jari-jariku. Kini jari tengah bekerja dibantu jempol. Mereka pada perannya masing-masing. Jari tengah menjelajah ke dalam, jempol bagian luar, memainkan klitoris bu dokter.

“Masss Ohhhh ampun Mass Ahhhh” Dokter Ara mulai sedikit berteriak.

Aku tak peduli. Jika terdengar oleh orang di luar kamar, anggap itu sebagai bonus dari kami.

“Kamu ini ohhh Masssss hmmmm” ia tiba-tiba melahap si johny, aku sedikit terkejut.

Ia berusaha mengalihkan kenikmatannya pada penisku. Ia nampak melancarkab serangan balik. Aku tak mau kalah. Kunaikkan temponya lagi. Makin cepat kugosok klitorisnya, dibantu dengan lidahku. Rasakan kau!

Dokter Ara ingin teriak, mulutnya tersumpal penisku. Teriakannya tertahan. Tubuhnya bergerak tak tentu arah. Ia menggenggam si johny, lumayan juga rasanya. Tapi tak kuhiraukan. Gosok terus. Jilat terus. Tekan terus. Begitu terus menerus. Kami seperti musuh yang sedang berperang. Ini puncak. Senjata kami keluarkan semua. Habis-habisan. Aku tetap pada aksiku. Dokter Ara tak mau kalah. Makin cepat. Makin cepat. Aku hampir tersedak. Ia pun sepertinya sama. Makin cepat. Tubuh Dokter Ara menegang. Ia angkat tubuhnya. Terlepas penisku dari mulutnya.

“AAAAAHHHHHH SHIT OHHHHHHH” ada cairan yang keluar banyak sekali dari vaginanya. Deras, menyembur ke wajahku. Aku tak punya waktu untuk menghindar. Basah kuyup. Wajahku tak karuan bentuknya. Beberapa ada yg masuk ke mulutku. Cairan apa ini. Gila. Baru kali ini aku mendapatkannya dari wanita.

Ah. Aku hampir tak bisa nafas. Bu Dokter segera ambruk di sebelahku. Ia ngos-ngosan. Aku juga. Dan basah kuyup.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 6 | Wanita Idaman Part 6 – END

(Wanita Idaman Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 7)