Wanita Idaman Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 4

Start Wanita Idaman Part 4 | Wanita Idaman Part 4 Start

PART IV

SISI LAIN​

Kami sama-sama terbangun, dengan kondisi langit yang sudah gelap. Ia tersenyum, menatapku. Kami berpelukan, sekali lagi. Belum ada apapun yang membungkus tubuh kami. Setelah kenikmatan pertama tadi usai kami raih, sepertinya tak ada tenaga yang tersisa hingga tak lama kemudian kami terlelap.

“Aku laper, Mas” kumaklumi, karena tak ada makanan masuk ke tubuh kami sejak siang.

“Mau pesan di hotel atau keluar?” kutawarkan pilihan padanya.

“Hmmm. Gimana ya. Keluar saja, yuk. Aku harus beli celana dalam,” ternyata ia masih ingat kalau celana dalamnya basah kuyup oleh aksi kami tadi.

“Berarti kamu keluar nggak pakai celana dalam?”

Dia meringis. Memasang wajah menggemaskan. Ingin rasanya kuterkam dan kujelajahi lagi tubuhnya. Tapi kutahan sebisa mungkin, aku harus tetap elegan.

“Ya sudah ayok keburu tambah malam,” ajakku

“Mandi dulu nggak?” tanyanya

“Enaknya gitu sih, kalau kamu nggak mau mandi ya aku saja yang mandi,” aku memasang wajah menyebalkan.

Dia mencubitku. Lumayan juga rasanya. Lalu bangkit, tanpa sehelai benang pun ditubuhnya, menuju kamar mandi dan mencibirku.

“Awas kamu ngintip!” sambil memasang wajah seram, ia acungkan jarinya ke arahku.

Menggemaskan. Tubuh yang selama ini hanya kulihat dengan kondisi terbungkus rapat, meski pakaiannya cenderung seksi, kini telanjang. Bahkan kunikmati setiap jengkalnya. Perjalanan memang selalu mengejutkan. Aku mulai percaya diri, aku bisa menikmatinya kapan pun aku mau.

Kami sudah selesai mandi. Seperti pembicaraan kami tadi, ia memutuskan tak pakai celana dalam. Aksi yang cukup berani. Aku yakin akan banyak sekali pasang mata yang menelanjanginya. Apalagi ia memakai celana berbahan kain dengan model longgar. Bajunya pun tak panjang-panjang amat. Kita lihat saja bagaimana reaksi orang-orang saat memandangnya.

Dokter Ara juga memutuskan tak memakai jilbab. Rambut panjang pirangnya ia ikat dengan model kuncir kuda. Gairahku bangkit. Ingin rasanya kujelajahi tengkuknya. Tapi sekali lagi kutahan. Aku harus bermain cantik.

Penampilan Dokter Ara malam ini benar-benar menggugah selera. Aku tak bertanya atau protes tentang keputusannya berpenampilan. Selain karena memang tak ada pakaian lain yang ia bawa, aku juga menikmatinya. Dan sepertinya ia pun begitu. Wanita ini memiliki sisi eksebisionis juga ternyata.

Kami tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Ia langsung menuju area pakaian dalam. Aku mengekor di belakangnya. Kulihat sekeliling, nampak beberapa pasang mata laki-laki mencuri pandang ke tubuh Dokter Ara. Jika dilihat dengan seksama, memang nampak bahwa ia tak pakai celana dalam. Celana yang ia pakai sangat mendukung. Dia tiba-tiba memberika isyarat padaku untuk mendekat.

“Laki-laki kaos hitam di arah jam 2 dari tadi kayaknya nelan ludah terus, Mas” wanita ini memang nakal.

Aku tak langsung mencari apa yang ia bicarakan. Beberapa detik kemudian, kuarahkan pandanganku ke objek yang dimaksud. Nampak laki-laki sedikit berumur, ia terus mencuri pandang ke tubuh Dokter Ara, dan dokter seksi ini nampak menikmatinya. Ia kemudian sengaja menggandeng tanganku, ia lingkarkan lengannya. Ia berbisik.

“Aku pengen nih,” ia mengerlingkan matanya.

Gila. Selain eksebisionis, dokter ini juga nakal. Aku tak yakin kalau melakukannya di tempat umum. Tidak lucu kalau nanti kami digrebek dan diarak massa. Aku masih menunggu kalimat berikutnya.

“Kita beli baju dulu sebentar. Makannya di bungkus saja ya,” nampaknya ia benar-benar nafsu akibat banyak laki-laki memperhatikannya. Aku harus benar-benar menyiapkan stamina malam ini.

Proses di pusat perbelanjaan berlangsung cepat, begitu pun dengan makanan yang kami beli. Ia memacu kendaraannya dengan sedikit tergesa-gesa.

“Sabar dong Bu Dokter sayaaang,” aku membelai rambutnya.

Ia memandangku. Senyumnya kali ini nakal sekali.

Sejurus kemudian kami sampai di hotel. Aku masuk lebih dulu. 5 menit kemudian pintu diketuk. Kubuka, sesosok tubuh menerkamku. Nafsunya benar-benar sedang tinggi. Kami berciuman. Sedikit lebih kasar dari apa yang telah kami lakukan tadi siang. Aku harus tetap pada gaya bermainku, jika kuikuti ritmenya aku bisa saja kalah. Kuputuskan untuk mengambil kendali.

Kulepaskan ciumannya. Ia nampak protes. Kukecup bibirnya. Beberapa tas kresek berisi belanjaan kami kuambil alih. Kutaruh bungkusan itu di atas meja. Dokter Ara masih mematung di dekat pintu. Aku duduk di sofa.

“Mau berdiri di situ terus?” kuberi kode mendekat.

Ia memasang wajah manja sekali. Tapi mengundang birahi. Tatapannya sayu, penuh nafsu. Tak menjawab pertanyaanku, ia perlahan berjalan mendekat. Tapi, dia tak hanya berjalan. Ia memberiku kejutan. Dibuka bajunya perlahan. Tetap berjalan pelan, ia gerakkan tubuhnya. Menari. Ya ampun. Pertunjukkan apa lagi ini. Tubuhnya meliuk-liuk. Adegan membuka baju nampak jadi sangat erotis. Ia lolosi baju tipis itu, berlanjut dengan bra-nya. Dan matanya kian sayu menatapku. Satu tangannya bergerak ke belakang. Klik. Lepas sudah kaitan pembungkus payudara bulatnya. Terpampang jelas bagaimana daging bulat itu memanggil-manggil untuk dihabisi. Ia tetap menari. Gerakan seadanya, namun tetap menggairahkan.

Berjarak dua langkah dari tubuhku, ia membalikkan badan. Dibuka celananya perlahan. Pelan sekali. Ia tahu bagaimana memancing birahiku. Ia membungkuk, bokongnya hanya berjarak sekian centi dari wajahku, diturunkan celananya. Perlahan. Ia mundurkan bokongnya. Semakin mundur. Terlepaslah celana tipis itu. Ada yang menempel di wajahku. Hidungku menjadi sasaran pertama. Aku diam. Masih diam. Tak percaya adegan ini akan terjadi. Kesadaranku belum pulih benar. Bongkahan itu masih menempel. Tiba-tiba ia bergoyang. Kekanan Kekiri. Begitu terus hingga beberapa kali. Dengan sangat perlahan. Tak hanya hidungku, seluruh bagian wajahku merasakannya. Kesadaranku pulih. Tanganku bergerak menangkap bongkan itu. Belum dapat, ia menjauhkan diri. Sial. Aku hanya kena gesekannya. Ia menjauh. Bongkahan itu menjauh. Aku mengutuki diri.

Ternyata cobaan itu tak berlangsung lama. Tubuh itu berbalik. Sambil menggoyangkan pinggul, ia mendekat. Yes. Lihat saja, akan kukeluarkan semua kemampuanku untuk membuatnya ketagihan. Semoga saja tenagaku belum habis.

Jantungku berdetak kian cepat. Ia makin mendekat. Tapi, ia justru menaiki sofa, melewatiku. Aku diam. Menunggu kejutan lain. Aku yakin malam ini akan luar biasa. Ada sesuatu yang mendekap tubuhku dari belakang. Dirabanya tubuhku bagian depan. Perut. Dada. Lengan. Lalu leher. Dan wajah. Nafas mendengus menghembusi leherku. Gila. Aku melayang. Aku melayang. Rasanya ingin kuhentikan saja waktu. Ingin kunikmati gairah malam ini lebih lama lagi.

Leherku basah. Setelah aliran syarafku hampir saja putus akibat dengus nafas Dokter Ara, kini lidahnya yang memegang kendali. Tengkuk dan telingaku jadi sasaran. Aku terbang. Rasanya aku ingin menguncinya di kamar ini untuk waktu yang sangat lama.

Ia melanjutkan aksinya dengan melepas kaosku. Tubuhku bagian atas kini bebas. Kulit kami bertemu lagi. Dingin. Tapi hangat. Dan mulai basah. Ia tetap menggeliat, menjelajahi tubuhku.

Tiba-tiba Dokter Ara berdiri. Aku tak rela pelukan dan belaiannya terlepas. Kekhawatiranku nampaknya hanya sebentar, ia memutar. Kau tahu, kini ada bukit kecil dipenuhi pepohonan lebat berada di depan wajahku. Ia subur sekali, tapi terawat dengan baik. Nampaknya usai hujan disana. Bukit itu nampak basah, airnya mengalir. Membasahi sekitar. Lembab. Hujannya membuat baunya kian menyebar. Menyenangkan. Menggairahkan.

Bukit itu mendekat. Ia memosisikan dirinya tepat di depan mulutku. Tahu benar ia letaknya. Ia bergerak keatas, ke bawah. Konstan. Aku harus segera bergerak juga. Kuputuskan menjelajahi bukit itu. Kita akan berpetualang lagi. Kita akan eksplorasi kekayaannya. Mari kita mulai.

Ah. Mimpi apa aku semalam mendapatkan anugerah tak terkira. Jika orang lain hanya membicarakannya. Membayangkannya. Berfantasi. Atau apapun itu. Aku menikmatinya. Aku bahkan melihat sisi lain dari Dokter Ara. Ia liar. Ia binal. Ia nakal. Ia menggairahkan. Dan aku mendapatkannya.

Kulakukan tugasku pada bukit yang sedari tadi memainkan dirinya sendiri. Aku menjulurkan lidah, menangkap gundukan yang lebih besar dibaliknya. Ia diam. Kini giliranku. Kuukur kedalaman menggunakan lidahku. Basah. Basah sekali. Kumainkan, kususuri tiap jengkalnya. Dalam sekali. Lidahku tak menjangkau seluruhnya.

“Ahhhhhh Terussss massss,” siap-siaplah dengan racauannya yang tak terkendali.

Tak kupedulikan, kumainkan terus lidahku. Kucari klitorisnya. Kucari titik lemahnya. Ketemu!. Ia makin menggelinjang. Didorongnya kepalaku. Aku tak bisa nafas. Tapi enak.

“Aduh Massss. Kamu harus tanggung jawab ohhhhhh”

“Shhhh toloooong aaahhhh”

“Aauhhh gimana ini ohhh Masss”

“Lebih dalem… ayoooh… lebih dalemm”

“Ohhhhh ampun masshhh”

Ia menarik tubuhnya. Tergesa-gesa, ia buka celanaku. Semuanya. Aku telanjang bulat. Si Johny sudah dari tadi berdiri tegak. Ia siap. Kapanpun.

Kali ini kuputuskan mengikuti permainannya. Aku ingin melihat seberapa liar Dokter Cantik ini. Doakan aku bisa bertahan lama.

Ia menaiki tubuhku. Digenggamnya si johny, ia tak ingin apa-apa lagi selain bercinta. Mempertemukan si johny dengan bukit lebat nan basah miliknya. Aku belum memberinya nama. Lain kali saja, kami akan membahasnya kemudian.

Digeseknya si johny. Vaginanya basah sekali. Nafsunya sudah tak terbendung. Gerakannya tak karuan. Aku pasif. Kubiarkan ia mengeksplorasi.

“Oooohhhhhhhhhhh Sialaaaan” ia melenguh, mengumpat bersamaan dengan masukknya penisku ke vaginanya.

Hangat. Hangat sekali. Kami diam. Ia menyesuaikan diri. Begitupun aku. Kami jatuh pada kenikmatan masing-masing. Kubelai punggungnya. Mulus. Dan basah. Tubuhnya mulai bergerak. Mencari titik kenikmatannya sendiri. Meliuk-liuk. Ketemu!

“Massss shhh ohhhh” ia bergerak maju mundur. Penisku terasa habis. Masuk seluruhnya.

Kini mulutku bekerja. Ia menangkap gunung kembar bulat itu. Tak perlu kuceritakan detilnya, kalian pasti sudah tahu. Ia kelojotan. Bergerak tak beraturan.

“Oh my goddd ohhhh”

“Shhhh enak massss”

“Kenapaa ohhh kontolmu enak sih masss ohhhh”

“Kontolmu enaak ohhhh kecil tapi mantaaap ohhhhh aaaahhh”

Mulutnya mulai tak terkontrol. Pernyataan terakhirnya cukup menghancurkan konsentrasiku. Satu sisi aku sakit hati. Ya memang penisku tak besar dan panjang. Tapi ya tak terima sebenarnya dibilang kecil. Di sisi lain tentu bangga dong. Kecil begini ternyata membuatnya ampun-ampunan.

Anehnya. Tak ada dorongan si johny ingin mengeluarkan isinya. Ini kemajuan pesat. Dengan goyangan dokter Ara yang maha dahsyat, aku masih bisa bertahan.

Dokter Ara tetap asyik dengan pencarian kenikmatannya. Sesekali kubantu dengan sodokan dalam. Atau memutar penisku. Tindakan ini cukup ampuh membuatnya berdesir. Aku tetap fokus menggarap payudaranya. Susah untuk melewatkan benda satu itu.

Tubuh di atasku makin tak terkontrol. Aku tak tahu sudah berapa lama ia memainkan vaginanya. Yang jelas kami cukup berkeringat.

“Massss ohhhhhh”

“Bu dokter shhhh” alu melenguh juga, tak kuasa menahan gerakan memutarnya

“Aku pengen ohhhh shhhh” ia tak menyelesaikannya kalimatnya

Ia memegang pundakku. Tubuhnya mendongak. Gerakannya makin liar. Bokongnya maju mundur. Menggesek penisku dengan kecepatan tinggi. Kini berganti naik turun. Penisku lepas. Sialan.

“Ahhhh shitttt” ia mengumpat lagi.

Terburu-buru, dimasukkannya lagi si johny. Digoyangnya lagi. Naik turun. Cepat. Naik lagi. Turun lagi. Memutar. Ia tak terkontrol. Bokongnya memutar. Penisku terpelintir. Ia tak peduli. Aku juga. Ini nikmat sekali. Lebih nikmat dari makanan apapun yang pernah kumakan. Ini nikmat jenderal. Ia belum selesai. Goyang lagi. Maju lagi. mundur lagi. Oh ini luar biasa. Ia memutar. Cepat sekali. Lebih cepat dari tadi. Memutar lagi. Tangannya menekan dadaku. Kepalanya mendongak. Bokongnya masih berputar. Ia menghentak.

“OOOOOOHHHHHHHH”

Sial. Dadaku dicakar. Ini nikmat. Tapi sakit juga. Posisinya sudah tak karuan. Rambutnya acak-acakan. Dan. Yes. Aku berhasil membuatnya orgasme lebih dulu. Aku berhasil. Ah. Kali ini aku harus sombong. Aku harus sombong!

Tubuh Dokter Ara ambruk. Tak ada tenaga lagi sepertinya. Nafasnya tersengal. Ia memelukku. Erat sekali. Nafasnya masih tak teratur. Kacau. Aku belum orgasme. Tumben. Dan si johny masih tegak sekali di dalam sana. Makin angkuh saja ia dengan keberhasilannya kali ini. Rupanya ia belajar banyak dan cepat.

Kami masih tak bergerak. Aku tak memburu apapun selain kebahagiaannya. Aku memang ingin memuaskannya. Kesanku harus gemilang. Aku tak memiliki kelebihan apapun, maka harus kucari di sisi lain. Dan ternyata, malam ini aku memuaskannya. Kurasa begitu. Nanti kutanyakan pada dokter Ara.

“Aku nggak tahu kenapa bisa kayak tadi, Mas. Aku nafsu banget,” ia bersuara, dengan nafas masih tak teratur.

“Suka?” tanyaku

Ia mengangguk. Tak ada kalimat lagi. Posisi kami masih sama.

“Kamu belum ya?” sempat-sempatnya ia tanya begitu.

Ia bangkit. Tersenyum. Penisku masih di dalam vaginanya.

“Ini kelebihanmu,” ia memujiku lagi.

“heh?” aku mengonfirmasi pekataannya.

“Penismu keras banget. Dan bentuknya pas,” dia mengatakannya sambil tersenyum dan bangkit dari tubuhku.

Kini aku mulai membanggakan bentuk penisku yang mengacung ke atas jika ereksi. Dulu kupikir ini kelainan. Ternyata ini bisa jadi kelebihan. Aku bangga padamu johny.

Dokter Ara berlutut di depanku. Pertunjukan belum selesai. Dan memang harusnya begitu. Berlumur lendir miliknya, ia masukkan si johny ke mulutnya. Shit. Rasanya luar biasa. Ia keluarkan seluruh kemampuannya. Sepertinya ia cukup penasaran untuk bisa membuatku ejakulasi dengan oral. Mari kita lihat.

Lidahnya terus bermain-main. Aku tak tahu bagaimana ia belajar sampai memiliki kemampuan sehebat ini. Sebagai dokter, jelas ia mempelajari titik-titik sensitif alat vital. Tapi tekniknya sungguh luar biasa. Variasi gerakannya juga bermacam-macam. Ia tak menggunakan tangannya sama sekali.

Lidah itu terus bermain. Menyokong bibir yang juga tak kalah lihai. Keluar masuk penisku. Dijilati ujungnya. Lalu ke bawah. Buah zakar tak ketinggalan. Ke atas lagi. Masuk lagi. Mulut itu mengayun lagi.

“Dokkk shhhh” aku mulai kebingungan mencari cara menahan ejakulasi

Ia tak bergeming. Terus saja bermain-main.

“Oooohhhhhhhh” kujambak rambutnya. Tanpa aba-aba, ia melakukan deep throat. Dalam sekali. Penisku habis dimakannya.

Selesai mengejutkanku. Ia mainkan lagi. Mulutnya naik turun lagi. Ampun. Aku sepertinya tak kuat lagi. Ia makin cepat. Tanpa tangan. Hanya dengan bibir, dan lidah. Aku kian tak tenang. Ia membaca itu. Temponya dipercepat. Keluar. Masuk. Jilat. Deep throath. Lebih cepat. Makin cepat. Kupegang kepalanya. Kujambak rambutnya. Kutekan. Ia melakukan deep throath lagi. Dan…

“OHHSSSS DOOOKKK”

Aku melayang. Jantungku lepas. Tubuhku entah ada dimana. Gila. Ini tak bisa digambarkan. Aku tak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Aku ambruk. Aku hanya memperdulikan kenikmatanku. Aku melayang.

Sekian detik kemudian. Penisku ngilu. Bibir itu belum beranjak dari sana. Diperasnya, hingga tak ada sisa, mungkin.

“Auwww ngilu dokk” aku meringis.

Ia menatapku. Tersenyum. Sialan. Kini ia yang menang. Kita 1-1.

Dokter Ara bangkit. Berdiri dengan jari telunjuk di mulutnya. Nakal sekali. Ia tersenyum. Matanya menatapku. Kalau tak lemas, sudah kuterjang tubuhnya. Sambil menggoyangkan tubuhnya, meliuk-liuk bak model papan atas, ia mengambil minum. Diteguknya air di botol untuk menghilangkan dahaga dan sisa spermaku. Ia telan semua. SEMUA! Kulirik si johny, tak ada sisa disana. Ia berbalik, nampak puas sekali. Menghampiriku, menyodorkan botol. Kutenggak hingga habis.

“Capek ya, Pak? Habis ngapain?” sialan. Ia menggodaku.

Kubalas dengan wajah geram. Tenagaku masih belum cukup untuk membalasnya.

Dokter Ara mendekat. Ia menelungkup, memeluk tubuhku. Kami tetap tanpa sehelai benang pun. Kubelai rambutnya yang masih tak karuan bentuknya. Kami puas. Kami sama-sama puas.

Tiap manusia sepertinya punya beberapa kepribadian. Atau apalah namanya. Tadi, kulihat sisi lain dari Dokter Ara. Ia ternyata seliar itu. Entah ketika denganku saja atau dengan orang lain ia juga seperti ini. Nanti saja kutanyakan. Aku masih ingin menikmati momen ini. Dan entah bagaimana nasib makanan yang sudah kami beli tadi.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 4 | Wanita Idaman Part 4 – END

(Wanita Idaman Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 5)