Wanita Idaman Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 3

Start Wanita Idaman Part 3 | Wanita Idaman Part 3 Start

PART III

KENIKMATAN PERTAMA​

“Iya, mama keluar kota nganter pasien harus didampingi. Kakak sama nenek ya ikut jagain adek” ternyata telepon dari anaknya.

Seperti yang sudah kuduga, ini akhir pekan, pasti anak-anaknya terus mencari. Aku tak enak hati. Kubiarkan ia menenangkan anaknya. Andai harus pulang, aku tak akan keberatan. Itu keputusan yang cukup baik buat kami berdua. Ia masih belum menutup telepon. Nafsuku sudah lari. Aku masih berharap kenikmatan ini berlanjut.

“Yaudah Ma, kalau malam bisa langsung pulang aku minta supir buat nganter pulang. Titip anak-anak ya,” ia menutup telepon lalu menuju kamar mandi.

Aku pasrah. Mungkin ia akan merapikan semua. Lalu mengajakku pulang. Atau nafsunya sudah pergi entah kemana. Atau ia sadar, semua ini tak seharusnya terjadi. Aku pasrah. Jodoh tak akan lari kemana, begitu juga rezeki.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.50. Lama juga kami bercumbu. Aku masih telanjang dada, menatap jendela yang tertutup tirai.

Sesuatu yang hangat mendekap tubuhku. Kenyal, tapi terbungkus. Dua buah lengan melingkar di ketiakku. Ada yang menempel di leherku. Lembut sekali. Sedikit basah. “Cuppppp….”

“Kita pulang besok pagi ya. Aku terkesan sama permainanmu, Mas,” ia kembali mengecup tengkukku, lalu menjilati daun telinga.

Aku hanya melenguh. Nafsuku pelan-pelan kembali. Nampaknya ia memang wanita idaman semua pria. Agresif, menggairahkan, menyenangkan, dan tubuh menggoda.

Aku memutuskan tak menjawab ucapan Dokter Ara. Aku menghargai keputusannya dan tak berusaha menanyakan soal anak dan pilihan alasan yang ia buat. Aku ingin menikmati kesempatan ini. Memanfaatkan sebaik-baiknya. Kuingat lagi, kesempatan ini mungkin yang pertama dan terakhir. Aku harus lakukan yang terbaik.

Dokter berusia 32 tahun ini terus bermain di sekitar telingan dan leherku. Nampaknya ia masih memakai bra dan celana dalam. Jilbabnya sudah tanggal. Ia menggerayangi bagian dada dan perutku. Dimainkan jari lentiknya. Bibirnya turun di punggungku. Air liurnya membasahi leher, terasa menetes di punggung. Jemarinya makin turun. Turun. Terus turun. Ia mencoba membuka ikat pinggangku. “Kreeeek” berhasil. Jarinya menuju resleting jins yang kukenakan. Aku melayang. Menikmati tiap prosesnya. Sepertinya ia menerapkan strategiku. Gerakannya lambat sekali. Aku menang. Aku menang.

Tidak. Tidak. Aku diambang kekalahan kalau ia berhasil melolosiku lebih dulu. Aku tersadar. Ia sudah berhasil menurunkan resleting dan membuka kancing jinsku. Ia hendak masuk. Jemarinya sudah diambang pintu. Setengah sadar aku menahan tangannya. Ia terhenyak. Kuarahkan bibirku ke telinganya.

“Tugasku tadi belum selesai Bu Dokter. Aku boleh menyelesaikannya dulu?” aku berbisik, tepat di telinganya.

Ia tersenyum. Berputar. Ia duduk di pangkuanku. Tubuh yang selama ini hanya kulihat terbungkus pakaian lengkap dan jilbab, kini ada di pangkuanku dengan kondisi hampir telanjang. Hanya tersisa bra dan celana dalam. Sumpah! Ia seksi sekali, dan sangat menggairahkan. Ternyata rambutnya cukup panjang. Ini fantasiku. Aku memang berfantasi bahwa ia berambut panjang, dan pirang. Ah. Gila. Ini mimpi yang jadi kenyataan.

Ia kembali tersenyum. Manis sekali. Kami saling menatap, dan tersenyum.

“Lakukan sesuai dengan instingmu, Mas. Aku akan menikmatinya,” ia berkata dengan diakhiri senyuman yang sangat manis.

Aku mengangguk. Tersenyum.

“Kulakukan semampuku ya, Dok. Namanya juga pemula hehehe” kami tertawa.

Aneh juga. Di tengah kondisi seperti ini, kami malah saling menertawakan. Ia mengecup bibirku. kami berpelukan. Hangat sekali. Entah kenapa aku merasa ini bukan cuma nafsu. Kami melakukannya dengan jiwa.

Dengan dua jari, kulepaskan kaitan bra-nya. Ia menatapku, “jarang ada yang bisa melakukan ini” ia melemparkan bra hitam itu entah kemana. Aku menatap payudara bulat yang tadi penuh dengan air liurku. Nampaknya ia mengering. Aku memegangnya, kupastikan bahwa tingkat kebulatannya memang sempurna. Ia tersenyum. Kudaratkan jempolku, di daging itu, dua-duanya. Tentu saja, ia melenguh. Kuteruskan aksiku, bervariasi. Remas, pilin, usap, tekan. Begitu terus. Berubah-ubah. Kecepatan terus meningkat. Ia menjambak rambutku dan mengarahkan kepalaku menuju mainanku. Mau tidak mau, bibir ini mendarat dengan mulus. Tepat di puting mungil yang nampak kemerahan. Jelas itu karena ulahku tadi. Ada perasaan bangga. Ia tegak dan memerah. Tak lama kemudian, lidahku sudah menjelajah ke setiap sudut gunung kembar nan indah ini. Kombinasi jari-jari, bibir, lidah dan gigi mampu bekerja sama dengan sangat baik. Ia memainkan peran masing-masing.

“Uhhhhh…. Massss…. Massss” tubuhnya meliuk-liuk. Ia menjambaki rambutku dengan lembut. Tak sekasar tadi.

“Ssshhhh Ohhhh, Masss Awaanghh, Uhhhh” nampaknya wanita ini tipe berisik dalam bercinta. Tak henti meracau tiap serangan kulancarkan.

Kupindahkan tanganku ke punggungnya, lalu perlahan-lahan turun ke bawah. Ada gundukan lain di bawah sana yang masih terbungkus celana dalam. Kuremas. Kuremas. Kumainkan jari-jariku. Sesekali kumasukkan ia ke balik celana dalam. Lalu ke lipatan bokongnya yang tak bisa kugambarkan lagi.

Sementara bibirku tetap pada tugasnya. Ia masih belum mau beranjak dari mendaki gunung kembar itu.

Aku harus melangkah ke fase berikutnya. Kurebahkan tubuhkan, kakinya kubuat menjuntai di ranjang. Aku berdiri. Kupandangi tubuh putih muluh yang sedang telentang di hadapanku. Aku masih tak percaya. Kucoba mencubit lenganku sekeras mungkin. Ternyata sakit juga.

Dokter Ara masih terpejam. Ia nampak menunggu. Dan aku tak ingin ia menunggu. Kuarahkan kepalaku ke celana dalam yang membungkus mahkota terakhir yang belum kunikmati. Kuhembuskan nafasku tepat di depannya. Darahnya berdesir. Nafsunya kian meninggi.

Kumainkan lidahku tanpa kubuka kain itu. Ia melebarkan kakinya. Kubasahi ia dengan air liurku.

“Masss.. Shhhh. Aku nggak bawa ganti.” penolakan yang sia-sia. Wong dari tadi celananya juga sudah basah oleh cairan vaginanya. Penolakan macam apa itu.

Kuteruskan aksiku. Kini kain itu kusibak dari samping. Ada bulu-bulu yang cukup lebat, tapi tertata rapi. Kuarahkan lidahku memasuki hutan belantara. Dengan cara berbeda. Tentu dengan bantuan kedua tanganku.

Dokter Ara menggeliat sebisanya. Kadang ke kanan, kadang ke kiri, lalu menaikkan bokongnya tinggi-tinggi.

“Uhhhhh shhhh, ini gilaaa” masih sempat-sempatnya ia bilang begitu.

Kuputuskan untuk melepas celana dalam yang sudah basah kuyup itu. Kini aku bebas mengeksplorasi gundukan indah ini. Kumainkan jari telunjukku. Lalu lidahku membantu. Kucari dimana clitorisnya. Agak tersembunyi. Berhasil kutemukan. Dan, tentu saja kuhajar terus menerus. Tanpa ampun. Tetap dengan lembut. Tidak tergesa-gesa.

“Masss ampun Masss. Ooooohhh” ia meracau. Perasaan bangga menghampiriku. Aku membuat dokter ini kelojotan.

Kuteruskan. Tak ada jeda. Nafasku sudah tak karuan. Nafsuku sudah di ubun-ubun. Tapi aku tahu, aku harus berhasil menahannya. Aku harus memberikan kesan pertama yang menakjubkan.

“Aaaauuuu Ohhhhhn” ia sedikit berteriak.

Tubuhnya melonjak ke atas. Tangannya mendorong kepalaku kian masuk. Aku sedikit tak bisa bernafas. Lidahku tetap pada posisinya, jari telunjukku juga. Badannya jatuh. Nafasnya ngos-ngosan. Tubuhnya melemah. Ada aliran darah yang mulai turun. Kulirik ke atas, matanya terpejam. Tangannya lemas, tak lagi memegang kepalaku. Ia ambruk. Dokter cantik ini ambruk. Aku mengangkat kepalaku dari vaginanya. Aku berdiri. Memandang tubuh telanjang ini lekat-lekat. Tubuhnya basah. Keringat dan air liurku luruh menjadi satu. Wajahku pun begitu. Entah cairan apa saja yang membasahinya.

Perlahan ia buka matanya. Ia tersenyum.

“Aku sekarang nggak sedih lagi,” ia mencoba berdiri. Memelukku.

Aku tau maksudnya. Aku siap mengarungi petualangan bersama dokter yang menggairahkan ini.

Kami berpelukan lagi. Gunung kembar ini terasa tak mengendur sama sekali. Ia melepaskan pelukannya, memagut bibirku. Lembut. Ia menjilati cairan vaginanya sendiri.

Dokter Ara, jika kamu tahu, si johny sudah tak sabar merasakan kehangatan vaginamu, tapi demi memuaskanmu, ia rela tetap di dalam sana. Sabar ya johny, kamu harus melatih kesabaran.

Pelan tapi pasti, dokter Ara beranjak turun. Ia kini berlutut, tepat menghadap si johny. Diturunkannya jinsku yang memang telah terbuka kancing dan resletingnya. Selanjutnya, ia lolosi juga boxer dan celana dalamku. Iya, aku memang terbiasa pakai boxer. Kini si johny, nama yang kusematkan pada penisku, sudah bebas. Ia nampak mengacung ke atas seperti biasanya. Dokter Ara masih memandangi si johny sambil satu tangannya menggenggam dengan lembut. Si johny makin menegang. Ia tersenyum, menatapku dari bawah sana. Ia mainkan jemarinya. Pelan. Perlahan. Lembut sekali. Kepalanya mulai maju. Ia kecup si johny. Diulanginya dari bawah ke atas. Penuh pengertian. Aku berdesir. Menikmati tiap jengkal permainannya.

Pengalaman memang tak bisa berbohong. Permainan dokter Ara jelas beda dengan mantan pacarku. Tapi tak ada gunanya membanding-bandingkan. Aku harus menikmati apa yang ada di hadapanku. Kini Dokter Ara mulai menjilati batang penisku. Ia basahi dengan air liurnya. Sepertinya tak ada satu senti pun yang terlewat. Tak lupa buah zakarku juga jadi sasarannya. Kocokan tangannya perlahan meningkat ritmenya. Sejurus kemudian, secara tiba-tiba, ia melahap si johny. Hangat. Nikmat.

“Uhh Dokk,” aku melenguh akhirnya.

Kurapikan rambutnya. Aku ingin melihat si johny keluar masuk mulut seksi itu. Dan percayalah, pemandangan ini akan kuingat sepanjang hayat. Aku sangat menikmatinya. Mulutnya nampak lihai memainkan si johnya. Tak ketinggalan lidahnya juga aduhai. Entah bagaimana caranya dengan posisi seperti itu, lidahnya bermain di batang penisku. Ini sungguh nikmat.

Aku hanya bisa melenguh. Mendesah tertahan. Ia sama sekali tak melepaskan mulutnya dari sana. Sesekali ia lakukan deep throath. Gila. Rasanya tubuhku mau ambruk. Ini pengalama luar biasa. Terbaik. Entah berapa air liur yang mengalir dari mulutnya. Dan membasahi si johny.

Dokter Ara masih asyik. Mungkin hampir 10 menit ia bermain-main. Ia mungkin heran kenapa aku tak kunjung ejakulasi. Aku memang susah untuk keluar saat di oral. Meski kuakui ini oral terhebat yang pernah kurasakan. Ia melepaskan mulutnya. Sepertinya ia pegal. Ia mendorongku rebah di ranjang.

Gila. Ia memosisikan diri di atasku, menghadap di johny dan memberikan vaginanya ke mulutku. Dokter ini gila. Ia benar-benar menggairahkan. Kami saling memberi kenikmatan di posisi ini. Ia tak henti memainkan si johny. Sepertinya masih penasaran. Aku tak mau kalah, kumainkan lidahku dan jari-jariku. Vaginanya masih basah. Dan makin basah kemudian.

“Ouhhhhh Masss hmmmm,” desahannya tertahan. Ia tetap melenguh.

Tak sabar sepertinya. Ia berdiri dan merebahkan tubuhnya, menarik tubuhku dan mencari-cari si johny. Wajahnya penuh birahi. Nafsunya sudah tak tertahankan. Nafasnya bagai peserta lari 100m yang baru saja sampai garis finis. Ia memosisikan si johny tepat di vaginanya. Digesek-gesek. Ia melenguh. Kubantu memancing birahinya makin liar. Kupagut bibirnya. Aku menekan si johny masuk. Pelan. Pelan. Pelan. Kuhentakkan.

“Ouhhhhhhhh,” ia melenguh panjang, “biarkan dulu, Mas, uhhhh”

Luar biasa. Jika bisa kulukiskan perasaanku saat ini, pasti akan kupajang hasilnya pada pameran tunggal. Tak ada karya lain. Aku mematoknya dengan harga yang sangat tinggi.

Jangan tanya rasanya. Kau akan tahu jika mencobanya sendiri. Kami diam beberapa saat. Ia membisikiku untuk mulai mengayun. Sebenarnya aku paling tak kuat bertahan di posisi ini. Tapi demi Dokter Ara, akan kucoba sekuat mungkin.

Mulai kugenjot penisku menghujam vaginanya. Pelan. Beritme konstan. 4 tusukan dangkal, satu hentakan dalam. Begitu terus. Sambil kualihkan pikiranku ke tempat lain. Terakhir kucoba, ini mampu membuatku bertahan sedikit lebih lama.

“Massss ohh terusss. Ohhh,” ia mulai meracau. Berisiknya keluar sudah.

“Kamuh bohongg sama aku. Ohhh. Shhh… Katanya nggak pengalaman, tapi.. Ohhh pinter gini, uhhhh massss”

Tak kuhiraukan racauannya. Aku fokus pada tugasku. Bertahan selama mungkin.

“Masss lebih cepet ohhhh shhhhh”

“Ohhhh terus massss. Iya gitu ohhhh”

“Jangan keluar dulu ya ohhh Masss kamu ohhhh”

“Mass kamu ohhh harus ssshhh memuaskanku aaauhhh terussss oohhhh”

“kamu shhh harussss tanggung hhhh jawab aaah MASSSSSS”

Ia mencengkeram bahuku. Lalu menggigitnya. Sial. Sakit juga. Tangannya berpindah ke bokongku memberi isyarat untuk berhenti.

Usai adegan gigit menggigit itu, kulahap bibirnya agar tak meracau, sambil si johny. Kali ini kunaikkan temponya. Ia melingkarkan kakinya di pinggangku. Si johny masuk lebih dalam. Tangannya ikut menekan bokongku sesuai ritmen yang kumainkan. Lenguhannya tertahan. Racauannya tak keluar. Ia memainkan lidahnya, menari-nari di dalam mulutku.

Tiba-tiba ia mendorongku. Aku telentang. Ia mengambil kendali. Ditindihnya tubuhku. Diarahkan si johny ke vaginanya. Seperti biasa, digeseknya beberapa kali. Sedang asyik menggesek, kutekan penisku tiba-tiba.

“Aawwww Masss nakal ohhhhh” ia mencubitku.

Tak kuhiraukan, kupompa vaginanya dari bawah. tangannya menekan dadaku. Aku berhasil menahan untuk tidak ejakulasi di posisi tadi. Tapi dengan kondisi ini, sebentar lagi aku bisa rubuh. Dan sepertinya pengalaman kembali berbicara. Dokter Ara mengambil alih kendali. Ia menahanku dan ganti memainkan goyangannya.

Ini sih tak ada bedanya. Aku bisa saja keluar beberapa menit atau bahkan detik. Variasi goyangannya benar-benar gila. Maju, mundur, kanan, kiri, tekan, lepas, berputar-putar. Gila. Aku harus berikan nilai 10 untuk ini.

“Dok ohhh aku bisa kalah ini,” akhirnya aku jujur.

Dia tersenyum. Menyodorkan payudaranya. Tanpa babibu, kulahap kedua gunung itu. Aku mengalihkan pikiranku penuh kesana. Kujilat, kugigit, kupilin, kuremas. Aku tak peduli apa yang ia lakukan dengan pinggul dan vaginanya. Ah. Permainannya benar-benar gila.

“Ohhh masssss Aku mau keluar ohhhh mass massss shhh” ia mulai mendekati orgasmenya.

Tak ada penurunan tempo. Yang terjadi malah makin cepat. Makin tak beraturan. Dokter Ara makin liar. Ia menegakkan tubuhnya. Meremasi payudaranya sendiri. Pinggulnya tetap bergoyang. Aku berusaha menahan pinggulnya. Kutarik lagi tubuhnya. Ia makin kacau. Gerakannya amburadul. Kumainkan juga si johny. Suara tubuh kami yang bertemu sudah tak karuan. Temponya makin cepat. Ia berputar. Aku menekan. Ia menekan. Kuhentakkan. Kami berpelukan.

“Oooooohhhhhhhh Massssss”

“Ahhhhhb dooook ahhhhh”

Kami limbung. Kami ambruk. Kami rubuh. Dunia gelap. Tak ada apapun. Aku terpejam. Aku tak tahu apa yang ia lakukan.

Aku membuka mata. Tak ada tenaga yang tersisa di tubuhku. Dokter Ara masih di atasku. Ia tak bergerak sama sekali. Tak kuganggu. Kubiarkan ia menikmatinya. Si johny mulai mengecil di bawah sana.

“Ini salah satu yang terbaik, Mas” ia memujiku.

Aku hanya tersenyum. Kubelai rambutnya. Ia masih belum menatapku. Aku memeluknya. Meneruskan membelai rambutnya. Kukecup keningnya. Hanya itu yang bisa kujangkau.

“Aku maluuuu,” ia merajuk

Aku tersenyum lagi, “kan wanita juga punya nafsu birahi,” kuulangi omongannya beberapa waktu lalu.

Ia bangkit. Memagut bibirku. Dalam sekali. Dan lembut. Kami berciuman lagi. Dengan posisi yang sama. Berpelukan. Tubuh penuh keringat. Dan ada yang menetes di bawah sana, jatuh ke sprei sepertinya.

Kami diam. Tetap diam bersama pikiran masing-masing. Bibir kami terlepas. Tubuhnya tetap telungkup di atasku.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 3 | Wanita Idaman Part 3 – END

(Wanita Idaman Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 4)