Wanita Idaman Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 2

Start Wanita Idaman Part 2  | Wanita Idaman Part 2 Start

PART II

SIMBIOSIS MUTUALISME

Aku duduk di meja dengan perasaan tak karuan. Peristiwa di klinik tadi membuat pikiranku acak adut. Suara-suara itu, sampai akhirnya kesempatan untuk berbicara empat mata dengan dokter Ara. Akhirnya aku tau dari mulutnya sendiri kalau affair itu memang ada. Ia memiliki tujuan berbeda dari beberapa laki-laki yang affair dengannya.

Pak Manajer, selain karena ganteng, ia hanya menggunakannya sebagai alat untuk mengamankan posisinya. Beberapa kali memang orang-orang berniat mendepaknya dari perusahaan, tapi dengan cerdik ia dekati pak manajer untuk membuat posisinya aman. Sampai 5 tahun ini, tak ada yang mampu menggeser posisinya sebagai dokter di perusahaan. Ternyata licik juga dokter ini.

Lalu Mas Iwan. Pria berbadan tinggi dan tegap ini jelas memiliki kemampuan berbeda dengan pak manajer. Dokter Ara sedang menjalani long distance marriage dengan suaminya yang menempuh pendidikan di thailand. Sudah bisa ditebak kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi. Sayangnya, pak manajer tak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya dengan baik. “Muka aja ganteng, tapi stamina amburadul,” kata Dokter Ara waktu menceritakan kisahnya. Dari Mas Iwan lah kepuasan itu ia dapatkan. Sebagai atlet bulutangkis, tentu Mas Iwan memiliki fisik yang sempurna. “Tapi kontolnya terlalu besar buat aku,” katanya ketika memasuki bagian itu. Ya. Dia menyebutnya dengan nama kontol, bukan penis, titit, atau kemaluan.

Aku makin yakin dokter seksi ini punya libido yang tinggi, sesuai dengan penampilan fisiknya. Tidak ada yang sempurna memang. Beberapa affair sebelumnya lebih banyak ia lakukan untuk kepuasan materi. Bahkan ternyata hanya 3 orang yang berhasil menikmati tubuhnya. 2 orang tentu kalian tahu, seorang lagi ternyata Pak Hadi, atasanku. Ini yang membuatku syok. Meski hanya cinta 1 malam, ia mengatakan Pak Hadi lumayan dalam urusan ranjang. Mereka sepakat untuk tak mengulanginya karena tahu akan membuat masalah di kemudian hari. Dan Pak Hadi tahu benar risiko itu.

Kami bertemu sekali lagi secara pribadi setelah kejadian di klinik itu. Kami bertemu di kota sebelah, ia sengaja memilih itu agar tak ada seorang pun yang mengetahui kami. Bahaya. Aku jelas setuju. Itulah kenapa aku tahu semuanya. Pada pertemuan kedua itu dia menceritakan kepadaku. Ternyata, dokter juga butuh teman cerita. Itu yang tidak ia dapatkan dari siapapun. Tidak ada yang bisa ia percaya mendengarkan ceritanya. Aku sempat menduga ini hanya triknya mengelabui laki-laki, karena aku memegang rahasianya. Tapi kuputuskan menganggapnya tulus karena raut muka dan ada air mata yang sempat jatuh saat ia bercerita. Aku menepuk pundaknya saat itu. Sungguh, tidak ada syahwat seperti sebelumnya. Entah kenapa aku melihatnya tulus butuh teman bicara dan mendengarkan keluh kesahnya. Kusediakan diriku. Aku percaya, selalu ada sisi lain manusia yang tak pernah bisa ditebak.

Ah Dokter Ara ini memang aneh. Kadang dia bisa begitu menggoda, kadang juga ada perasaan kasian melihat permasalahan yang dia miliki. Kami menjadi lebih dekat setelah itu. Beberapa kali saling berbincang via WhatsApp. Tapi kami belum bertemu lagi. Pembicaraan kami pun tak ada yang berbau mesum, sekadar bercanda dan saling sapa.

Suatu siang, aku sedang istirahat di ruangan. Ada pesan masuk. Dokter Ara.

“:((“

“kenapa dok?”

“:((:((“

“dok?”

“Mas Iwan kayaknya nggak mau hubungannya lanjut”

“butuh cerita langsung?”

“kamu besok pulang?”

“rencana sih nggak”

“jalan-jalan ke B yuk, aku sumpek”

“nggak apa-apa nih hari libur?”

“aku bilang lembur aja”

“jam berapa? ketemu di mana?

“pagi aja, jam 7. ketemu di pertigaan daerah S”

“oke deh”

“:((:((:((:((“

“nangisnya dilanjut besok aja, nanti matanya bengkak pas ketemu orang-orang”

“udah bengkak”

“wah cantiknya hilang kalau gitu”

“emang aku nggak cantik”

“tapi mempesona ya”

“udah mulai gombalnya”

“:p”

percakapan siang itu selesai. Besok memang hari libur. Dan akan jadi pertemuan kedua kami. Pertemuan lalu kami adakan di kota S, di salah satu cafe disana. Kami memang sembunyi-sembunyi agar tidak ada orang yang tahu. Apalagi karyawan di kantor. Meskipun aku masih lajang, tapi Dokter Ara tidak ingin aku menjadi omongan orang-orang. Seperti yang kubilang, aku mulai menangkap ketulusannya berteman denganku.

Keesokan hari, aku naik bus untuk menuju tempat kami janjian. Hanya sekitar 30 menit dari tempat tinggalku. Turun dari bus, kulihat ada mobil Honda Jazz warna putih sudah terparkir tak jauh dari pertigaan. Aku memutuskan langsung menghampiri. Ia menyadari kedatanganku. Aku masuk di kursi penumpang. Ia yang menyetir. Aku memang belum terlalu mahir menyetir, dan kami akan melalui jalanan berkelok cukup ekstrim. Di dalam mobil, ia nampak langsung memasang wajah sedih.

“duh pagi-pagi sudah lihat wajah ditekuk”

“ya kan emang lagi sedih”

“oke. setelah hari ini Ibu Dokter sudah harus tidak sedih lagi” aku memasang wajah melucu dan memegang tangannya.

Aku tidak tahu dari mana keberanian ini muncul. Aku menggenggam tangannya dengan perasaan ingin menghibur. Tapi tetap saja terasa aneh. Ia kemudian memencet hidungku.

“Buktikan kalau kamu bisa bikin Ibu Dokter nggak sedih lagi” katanya lalu melepaskan tanganku dan memacu mobil.

sekian detik kemudian muncul suasana yang cukup aneh. Tapi segera kami atasi dengan bercandaan yang cukup berhasil. Ia mulai tersenyum lagi. Entah kenapa, aku merasa tak perlu mengancamnya ketika aku tahu semua affair yang ia miliki. Kami kemudian malah menjadi akrab dan berteman dengan baik. Dia orang yang enak diajak bicara sebenarnya. Kalau kita berhasil menghilangkan pikiran mesum kepadanya.

Kami terus bercanda sepanjang perjalanan. Sampai di tujuan, salah satu wisata alam untuk bersantai dan melihat perkebunan kopi dan sayur. Dokter Ara memarkir kendaraan sedikit di ujung, terpisah dari beberapa mobil. Hanya ada 4 mobil saat ini. Hari sabtu memang tak terlalu ramai, karena sekolah juga masih masuk. Dan ini masih pagi sekali. Pengunjung disini juga lebih banyak keluarga.

Entah kenapa kami memutuskan untuk tidak langsung keluar dari mobil. Dokter Ara menurunkan sandaran kursinya. Ia rebah dan menghela nafas panjang. Aku menengok dan mendapatkan pemandangan yang luar biasa. Ini yang kumaksud tadi. Kalau berhasil menghilangkan pikiran mesum atas fisiknya, dia adalah teman yang enak diajak bicara. Tapi dengan pemandangan ini rasanya sulit untuk berpikir jernih.

Kutengok lagi, ia memejamkan mata. Dadanya teihat membusung. Samar-samar tercetak putingnya di baju yang ia kenakan. Nampaknya dia memakai bra yang model tanpa busa dan tipis. Bajunya pun mendukung. Kemeja putih yang berbahan tipis. Aku menghela nafas. Mudah-mudahan aku bisa menghilangkan pikiran ini.

“Sebenarnya apa yang aku cari ya, Mas?” ia memang selalu memanggilku dengan sebutan Mas ketika berbincang.

“Menurut Bu Dokter apa, lho?”

“Aku semacam punya ambisi yang sangat besar”

“Dalam hal?” aku penasaran kemana arah pembicaraan ini.

“Semuanya. Materi. Jabatan. Sampai seks,” dia masih menatap ke langit-langit mobil.

“Lalu?”

“Padahal sebenarnya suamiku juga orang yang baik. Kesalahannya cuma sekolah ke luar negeri, dan itu tidak sebentar. Dipikir aku tidak butuh kepuasan batin apa,” ia mulai menggerutu.

“Tapi apa itu bisa dijadikan alasan, dok?”

“Bisa. Wanita itu juga punya nafsu birahi, Mas,” ia menghela nafas, “Dan aku jenis wanita yang punya nafsu tinggi.” aku makin bingung kemana arah pembicaraan ini.

Aku diam. Tak ada kata yang layak untuk keluar dari bibirku. Aku hanya menatapnya. Sesekali.

“Itulah kenapa aku sedih waktu Mas Iwan bilang seperti itu kemarin. Dia bahkan nggak ngomong langsung, tapi lewat WA. Katanya dia habis didudukkan oleh manajernya,” raut wajahnya membingungkan. Antara sedih dan menahan nafsu.

Aku makin bingung. Jangan-jangan ini kode. Tidak, tidak. Aku masih belum siap. Apalagi aku sama sekali belum berpengalaman. Salah satu tujuanku memang menaklukannya. Dan ini bisa saja terjadi saat ini, melihat gelagatnya. Tapi, tidak secepat ini juga. Aku memang sudah pernah berhubungan seks. Dengan mantan pacarku. Tapi frekeuensinya masih minim. Dan aku merasa kemampuanku tidak terlalu bagus. Kalau aku yang memulai dan hasilnya memalukan tentu harga diriku langsung jatuh. Aku harus memosisikan diri dengan baik. Aku harus tenang. Tapi susah sekali. Nafsu dan rasa takut bercampur jadi satu. Gila. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Jantungku berdetak sangat kencang. Mungkin lebih kencang dari kecepatan mobil formula 1. Sial.

“Kalau Si Tio bisa memuaskanku sih nggak masalah. Dia baru 3 menit udah keluar. Kalau aku keluar juga gitu enak, lah ini nanggung. Baru mulai panas,” omongannya makin tak karuan. Aku makin bingung.

Dia kemudian menatapku. Aku bingung itu tatapan apa. Mungkin nafsu. Mungkin meminta pendapat. Mungkin berharap. Mungkin. Mungkin. Mungkin. Semua kemungkinan berlomba mengisi pikiranku.

Aku berkeringat. Rasa malu mulai ingin masuk melihat aku tak bisa melakukan tindakan apapun. Aku takut Dokter Ara tahu keadaanku. Bisa jatuh harga diriku. Suasana ini ingin cepat kuakhiri.

“Kamu berpikiran sama denganku nggak, Mas?” ia bertanya sambil menatap mataku. Tajam.

“Maksud Bu Dokter,” bodoh. Kemampuanku menghadapi wanita memang payah.

Dia mendekatkan wajahnya. Aku hanya diam. Menatap matanya dalam-dalam. Aku kikuk. Aku tak bergerak. Ada perasaan takut kalau-kalau ada orang yang memergoki kami di dalam mobil. Bisa-bisa kami diarak ke kantor polisi. Aku harus memutuskan.

“Jangan disini Bu Dokter. Kalau kita digrebek gimana?” aku menangkap wajahnya. Kutahan wajahnya dengan memang dagunya dengan lembut. Lalu kuarahkan tanganku ke pipinya. Dengan lembut. Gila. Kulit wajahnya halus sekali. Aku mengelusnya dengan jempolku. Aku tak tahu dari mana datangnya keberanian ini. Aku mengalahkan segala kemungkinan yang ada di kepala dengan tindakan yang sangat brilian. Aku menang. Aku adalah pemenang di situasi ini. Aku tak peduli apakah nanti akan mendapatkan tubuhnya atau tidak. Aku jelas menunjukkan diri bukan lelaki gampangan. Tapi sepertinya aku berlebihan. Ah biarlah. Euforia atas keberanian ini harus dirayakan.

Dia memelukku. Mungkin hanya 10 detik. Gila. Kesempatan ini datang juga. Aku memeluk Dokter Ara. Aku mendapatkan pelukannya. Aku menang.

“Kita keluar yuk. Jalan-jalan dulu,” ia mengajakku menikmati pemandangan di luar.

Aku hanya mengangguk. Kami keluar bersamaan. Berjalan beriringan seperti sepasang kekasih. Kami memutuskan untuk tidak bergandeng tangan. Ada beberapa orang menatap langkah kami. Persetan. Aku masih dalam euforia. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan tubuh Dokter Ara. Soal apakah aku mampu meladeni nafsu besarnya itu urusan nanti. Strategi itu bisa disusun kemudian. Aku ingin menikmati momen ini dulu.

Tak ada yang menarik selama kami berjalan menikmati area wisata. Kami lebih banyak diam. Dia fokus menikmati pemandangan. Sebenarnya aku juga. Tapi pikiranku lebih banyak untuk menyiapkan strategi setelah ini. Ah, entahlah. Biarkan ini mengalir seperti seharusnya. Aku harus siap.

Setengah jam berlalu, dokter Ara mengajak pergi. Aku mengiyakan. Kami cabut dari tempat itu dan menuju pusat kota B.

“Kita mau kemana, Dok?” aku memberanikan diri bertanya.

“Udah nurut aku aja,” ia tersenyum. Manis sekali.

“Dokter bilang pulang jam berapa?”

“Nggak bilang, cuma pamit lembur saja,”

“Ya sudah aku manut,” aku makin deg-degan.

Ia memacu mobil menuju kota J. Aku yakin ia akan membawa kami ke hotel. Setahuku, di Kota B tidak ada hotel yang mau menerima pasangan bukan suami istri, sedangkan di kota J lebih bebas. Kami memang tak banyak bicara sepanjang perjalanan kali ini. Sesekali kuberanikan diri memegang tangannya. Ia selalu tersenyum dan merespon dengan menggenggam tanganku. Hangat. Aku sedikit tak percaya kami sampai pada tahap ini.

Benar dugaanku. Ia mengarahkan mobilnya ke salah satu hotel di kota J. Ini hotel menengah, mungkin bintang 3. Cukup baru sepertinya dengan bangunan yang didominasi oleh kaca. Setahuku hotel ini masih dalam tahap pembangungan ketika aku masih sering berkunjung di kota J. Ia memintaku tetap di dalam mobil, ia yang keluar memesan kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.

“Di kamar 327 ya. Kunci mobilnya dan langsung ke kamar. Aku udah di dalam,”

aku membaca pesan itu dengan perasaan tak karuan. Mudah-mudahan saja aku tak mengecewakannya. Aku yakin tak akan sehebat Mas Iwan. Semoga aku lebih baik dari Pak Tio, manajer itu.

Keluar dari mobil, aku langsung menuju kamar yang dimaksud. Aku berhenti di depan pintu. Aku ragu. Kuyakinkan lagi bahwa ini memang tujuanku. Menaklukkan Dokter Ara. Menaklukkan wanita yang paling banyak dibicarakan di kantor. Wanita yang selalu menggugah syahwat untuk bangkit. Wanita yang selalu berpenampilan menggoda. Wanita yang memiliki suara sangat menggairahkan. Inilah waktunya. Berikan pengalaman yang luar biasa. Aku menyemangati diriku sendiri.

Kuketuk pintu kayu itu tiga kali. Pintu terbuka. Wanita itu tersenyum dari baliknya. Oh Tuhan, kenapa dia jadi lebih cantik dari biasanya. Dan tentu lebih menggairahkan.

Waktu rasanya berputar lambat sekali. Setelah mengunci pintu, Dokter Ara duduk diujung ranjang putih, menghadap ke jendela. Ia membelakangiku yang duduk di kursi. Kami saling diam beberapa saat. Suasanya ini seperti saat aku memergokinya di klinik. Seaneh itu. Aku bingung harus memulai dari mana. Nampaknya ia pun begitu. Kami sepertinya saling ragu, apakah ini memang benar-benar tindakan terbaik dari hubungan ini.

“Mas Awang….”

“Bu Dokter…”

Kami menyapa bersamaan. Kami tertawa. Aneh sekali. Dan syukurlah, suasana kembali mencair.

Aku memutuskan untuk melangkah. Kututup tirai jendela yang sebelumnya ia biarkan terbuka. Lalu duduk disampingnya. Aku harus menjadi laki-laki yang sesungguhnya hari ini. Soal apa yang terjadi nanti atau kemudian hari, biarlah menjadi risiko yang kutanggung.

Kami tersenyum. Ia memelukku. Lama sekali. Tanpa kata. Hanya terdengar nafas kami berdua. Yang sepertinya makin lama makin cepat. Aku merasakan tekanan pada area dadaku. Kenyal sekali. Begini ternyata tekanan dari dada yang sering jadi bahan bercandaan teman-teman di kantor. Benar-benar kenyal. Pikiranku tak bisa kualihkan. Selama ini memang dada inilah yang selalu membuatku penasaran. Tampaknya ada yang mulai bangun di bawah sana. Si Johny tau saja kalau ia sedang dekat dengan wanita yang menggairahkan.

Dokter Ara melepaskan pelukannya. Kami bertatapan. Entah kenapa proses ini lambat sekali. Aku memang tak ingin membuat ritmenya menjadi cepat. Aku ingin menikmati tiap prosesnya. Aku tak tahu bagaimana pengalamannya dengan laki-laki lain, yang kuyakini ia harus mengingatku dengan pengalaman yang lain.

“Kamu mau bantuin aku?” ia tiba-tiba bertanya.

“Aku tidak sehebat Mas Iwan, Bu Dokter,” shit. Apa yang kukatakan.

“Aku tidak sedang mencari Mas Iwan. Atau yang seperti dia” ia tersenyum, meyakinkanku.

Kami berciuman. Bibirnya lembut sekali. Ia sama sekali tak menunjukkan wanita dengan birahi tinggi, yang bisa saja agresif dan tergesa-gesa. Ciuman kami lambat sekali. Menikmati tiap proses. Menjelajahi tiap sudut bibir kami masing-masing. Aku tak ingin melepaskan bibirnya. Begitupun ia, sepertinya.

Tangannya jadi dingin sekali. Kugenggam ia. Tak lama kemudian, aku memeluknya. Kukeluarkan saja semua apa yang kutahu. Sambil mengikuti insting sebagai laki-laki. Kami berdiri. Tinggi kami yang setara membuat proses ini jadi menakjubkan. Dengan bibir yang saling memagut, kami melangkahkan kaki pelan-pelan menyusuri area kosong. Kami menikmatinya. Ia memejamkan mata. Kami terlena. Ini ciuman terbaik yang pernah kulakukan, dan kudapatkan.

Kami tiba di ujung pintu kamar. Kusandarkan tubuhkan di pintu kayu itu. Bibir kami tetap bersatu. Aku tak tahu bagaimana caranya kami bernafas dengan posisi seperti ini sedari tadi. Yang kutahu kami tetap hidup. Dan jantung kami berdetak sangat kencang. Aku melepaskan bibirnya. Nafas kami tersengal. Ngos-ngosan. Kuulangi, ini ciumam terbaik yang pernah kulakukan.

Entahlah berapa lama kami berciuman. Nafas kami benar-benar tak teratur. Kami mengaturnya. Bertatapan, dan tersenyum.

“Kamu beda, Mas,” Suaranya makin menggairahkan dengan kondisi seperti ini.

Kujawab kalimatnya dengan senyum. Kupagut lagi bibirnya. Kami berciuman lagi. Kali ini, tangannya mulai merabai punggungku. Kulakukan hal yang sama. Ia tiba-tiba melepaskan ciuman kami. Ia ingin membuka bajuku. Kutahan. Aku tak ingin secepat itu. Kugenggam tangannya. kuarahkan ke pundakku. Kami berciuman lagi. Kami menyusuri ruang kosong lagi.

Gila. Aku bisa menaklukkannya. Aku mendapatkannya. Wanita yang paling dibicarakan di kantor kini memeluk tubuhku. Menjelajahi bibirku. Ada perasaan bangga. Tapi jangan takabur, Awang. Kamu belum tentu bisa memuaskannya.

Kami sudah sampai di ranjang. Aku berada di atasnya. Tetap dengan bibir yang terikat. Tak lama, kulepaskan pagutan itu. Matanya sayu sekali. Nafsu. Birahi. Syahwat. Apapaun namanya, ia telah menguasai kami. Dokter Ara makin binal raut mukanya. Aku mesih menindihnya. Ia melanjutkan yang kutahan tadi, kali ini kubiarkan. Kaosku dilolosi. Tubuh kurusku terpampang. Jangan dibandingkan dengan Mas Iwan, jelas seperti langit dan bumi. Aku terduduk di tubuhnya, ia bangkit. Wajah, leher, telinga, pundah, dada, hingga lenganku jadi sasaran amukan bibirnya. Dan lidahnya yang panjang itu.

Benar memang, wanita ini sangat agresif kalau tak dikontrol. Ia berani mengambil inisiatif. Ia berani menguasai permainan.

Aku membalasnya dengan menghajar dadanya. Akhirnya kupegang dada ini. Gila. Ini benar-benar gila. Diluar ekspektasiku. Dadanya bulat sekali. Tanganku sepertinya tak cukup menggenggamnya. Kuremas, kumainkan dengan ritmen sedang. Sengaja aku tak masuk. Ia memakai baju dengan kancing di belakang, itu pun jumlahnya cuma dua.

Kami masih asyik dengan permainan kami masing-masing. Aku memutuskan memasukkan tanganku dari bawah bajunya. Lalu masuk lebih dalam dari bawah bra. Bulat sekali. Kenyal. Menggairahkan.

“uhhhhhh” ia melenguh. Menghentikan aktivitasnya menjilati telingaku.

Kujelajahi dua daging bulat itu. Aku tak percaya ini dada milik ibu dua orang anak. Rasanya tak mungkin masih sesempurna ini. Tapi sepertinya ia tahu kalau ini adalah daya tarik utamanya, ia jaga dengan sempurna. Jempolku sampai di aksesoris utama. Putingnya tegang sekali. Dan sedikit lebih kecil dari yang pernah kurasakan. Kulakukan tugasku sebagaimana mestinya. Ia melenguh. Terus melenguh. Diselingi dengan desah dan suaranya yang menggairahkan itu. Sial. Aku tak percaya ini jadi kenyataan.

Kuputuskan mengangkat bajunya. Kurebahkan tubuh itu. Kupandangi lekat-lekat. Ia tersenyum, manis sekali. Ia memberikan isyarat untuk rebah. Kami berciuman. Lagi. dan lagi. Tanganku tentu bergerilya di pusaka kembar miliknya. Anugerah ini harus dinikmati dengan baik. Siapa tahu ini tidak terulang.

Ritme tetap kami jaga selambat mungkin, terutama aku. Ia mulai mengikuti ritmeku. Aku menang. Kulepaskan ciumanku, kuangkat bra hitam miliknya. Kalian tentu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gunung kembar itu menjadi santapanku siang ini. Kuarahkan lidahlu menjelajahi gundukan indah itu. Aku tak menyentuh putingnya sama sekali. Payudara itu basah. Keduanya. Gantian kunikmati. Ia terus mendesah. Ia terus melenguh. Ia arahkan kepalaku menuju putingnya. Kuturuti kemauannya. Kulahap puting kanan, kumainkan lidahku. Tanganku menjalankan tugasnya di bagian kiri. Begitu terus, bergantian. Sedikit variasi kugigiti puting mungil itu. Kusedot, kuitari, kujilati. Kukeluarkan semua kemampuanku.

“Masssss…..” ia melenguh, menjambak rambutku.

Aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan dua buah membusung ini.

“Masss.. Shhhh…. Masshhh…” Ia menarik kepalaku ke atas. Diciuminya bibirku. Tanganku tetap menjalankan tugasnya. Sebentar saja, kuturunkan lagi kepalaku, kali ini hanya mampir di payudaranya, terus kebawah, kujelajahi perutnya. Pusarnya. Lalu bawah pusar. Ku bermain disana. Tanganku tetap di atas sana. Tak beranjak.

Ia makin menggelinjang. Ia gusar. Ia meremasi kepalaku. Aku makin asyik dengan lidah dan bibirku. Ia mendesah. Sesekali mengangkat tubuknya, lalu meremas lagi. Aku makin ke bawah. Ke bawah. Lalu….

“Titititit…. Titititit….. Titititit…..” Anjing. Hape ini menghancurkan semuanya. Kami bangkit. Bertatapan. Ia berdiri menemui suara itu. Ia mengangkat telepon. Aku tercenung. Perasaanku kacau. Antara nafsu dan kesadaran saling bertempur. Gila. Ini gila.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 2 | Wanita Idaman Part 2 – END

(Wanita Idaman Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 3)