Wanita Idaman Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 18

Start Wanita Idaman Part 18 | Wanita Idaman Part 18 Start

PART XVIII

TAMU TELAT DATANG​

Pengalaman pertama orgy membuatku makin yakin kemana arah petualangan seksku. Aku masih tak habis pikir, dalam waktu satu tahun setelah bermain gila bersama Dokter Ara, aku sudah sampai pada tahap ini. Hari ini, aku bergabung bersama perkumpulan birahi setelah diajak wanita yang baru sebulan lalu bersetubuh denganku. Meski aku telah mengenal wanita itu sejak lama.

Pikiranku kemana-mana sambil menikmati dikerjai oleh dua wanita yang sama-sama menggairahkan. Sedang memainkan penisku adalah wanita muda dengan payudara cukup besar dan yang kini bertukar ludah denganku adalah wanita berumur yang masih segar. Kenikmatan apalagi yang mau dinafikan kalau sudah begini.

Mataku masih tertutup saat Tante Maya menuntunku. Aku rebah di sofa. Sepertinya sofa yang tadi. Aku tak tahu dimana keberadaan Anti. Tante Maya menyodorkan payudaranya, kulahap dengan segara. Ia mulai mendesah. Ternyata Anti masih di bawah sana, Ia belum puas memainkan Si Johny.

“Tan, aku masuk ya, udah nggak kuat,” suara Anti terdengar parau

“Go Ahead honey, he’s yours” Tante Maya mempersilakan

Sleb.

“Hmmmmhhh” aku melenguh

Ternyata Anti minta izin untuk mengerjai penisku. Vaginanya mencengkeram kuat. Aku kaget sekaligus keenakan.

“Ini yang bikin Tante teriak-teriak tadi uhhhh” Anti mulai meracau

“Tau kan rasanya? Kecil-kecil cabe rawit,” balasan Tante menambah gairahku

Anti membuka penutup mataku. Dunia kembali terang. Keindahan-keindahan di ruangan ini akhirnya terlihat. Kalau gini aku bisa menceritakan lebih jelas pada kalian. Tapi sungguh, ini rasanya luar biasa.

Beberapa tahun lalu aku tak pernah berpikir akan bisa menikmati hak seperti ini. Hidup memang tak ada yang tahu. Apalagi kenikmatan, siapa pula yang bisa menebak.

Anti terus bergoyang dengan posisi membelakangiku. Payudaranya naik turun. Ternyata besar juga. Aku masih saling melumat dengan Tante Maya. Tanganku mulai ikut bermain. Satu tangan di payudara, satu tangan masuk ke vagina.

“Auuuhhh thats amazing baby ouhhh” Tante Maya berisik juga

Entah karena sudah orgasme sekali atau berkat ramuan dari Tante Maya tadi, aku merasa penisku sangat tegang dan tak ada tanda-tanda akan keluar. Anti masih terus mengayuh, mencari kenikmatannya sendiri.

Sekilas, kulihat Milly sedang bermain dengan Agil di karpet. Ia bersandar pada sisi ranjang, Agil mengerjainya dari belakang. Aku tak tahu di mana Mas Wira dan kedua wanita lainnya, mungkin mereka bermain di ranjang. Pandanganku tak sampai ke sana.

“Galaaang ohhh my god ohhh” Anti meracau, gerakannya makin kacau.

Tante Maya beranjak. Ia nampak ingin membantu Anti mencapai orgasme. Tanganku ini bisa fokus memainkan payudara. Tanganku tak muat ternyata. Putingnya mengacung tegak, menanti sentuhan. Tak kusia-siakan, kumainkan jari-jariku di sana. Tante Maya berlutut, lidah dan tangannya ikut mengerjadi vagina Anti. Aku yakin Anti tak lama lagi akan mencapai puncak.

“Taaan ooohhhhh ssshhh” Anti menjerit, ia tak hanya mendesah

Aku membantu mempercepat dengan memainkan penisku, Tante Maya makin mempercepat gerakan tangannya.

“Come baby come, give it to us” Tante Maya menyemangati Anti

“OHHH SHIIIIT”

Anti mendapatkan squirtnya. Kencang sekali semburan itu. Penisku terlepas. Tante Maya nampak belum puas mengerjai Anti, dimasukkan lagi penisku ke sana. Squirt lagi. Masuk lagi, goyang lagi, squirt lagi. Begitu beberapa kali.

“AMPUN TANNN OHHHHHH”

Anti ambruk. Tante Maya tersenyum puas. Aku juga. Puas sekali membikin Anti yang dari tadi pendiam jadi liar begini.

Anti beranjak ke sebelah. Ia merebahkan tubuhnya dengan nafas yang tak karuan ritmenya. Tubuhku basah oleh cairan vagina wanita molek ini. Entahlah. Penisku masih gagah perkasa. Aku juga heran.

Tante Maya menciumku. Kami berciuman. Tanganku mulai nakal membelai bokongnya. Tiba-tiba Ia mundur.

“Bentar, Tante mau ke kamar mandi dulu,” Ia pamit,”Ini para wanita nggak mau memanfaatkan laki-laki satu ini?” Ia berteriak memberi aba-aba

Sialan. Aku bagai barang dagangan yang dijajakan. Tapi tak apa, nikmatnya melebihi segalanya.

“Kayaknya cuma aku yang belum nyobain,” itu suara Putri

Kulihat Putri beranjak dari mengerjai payudara Sari. Mas Wira sedang memompa vagina Sari dengan gaya missionary.

Aku memilih mendekati Putri. Dengan postur yang tak beda jauh denganku, Putri memiliki tubuh yang ideal. Meski bentuknya tak seramping Milly. Payudaranya juga ukuran standar, tak terlalu besar maupun kecil. Pas. Yang paling menggairahkan dari Putri adalah bibirnya. Ingin ku lumat segera.

Kami berciuman. Tepat di sebelah Mas Wira dan Sari yang sedang asyik bersetubuh. Mereka berganti gaya. Putri agresif sekali. Dengan kondisiku yang tanpa sehelai benang pun, tangannya sudah mendarat di penis. Ia memainkan Si Johny yang masih basah karena dihujani orgasme oleh Anti. Gerakan tangannya lincah.

Putri masih mengenakan pakaiannya. Baju bali longgar, tentu celana dalamnya sudah tanggal. Ia masih mengenakan bra. Dengan kondisi begitu, aku mudah mencari di mana letak vaginanya. Hap. Tanganku mendarat dengan mulus disana. Dengan posisi duduk, kami saling menggerayangi alat vital masing-masing. Meski kami sudah sama-sama di puncak birahi, foreplay tetap tak boleh dilewatkan. Ia hukumnya wajib, sebagai pemanasan dan pengenalan.

“Uhhhh” Putri mendesah, wajahnya kian memancing birahi

“Wajahmu memang settingannya begini ya?” iseng saja kugoda

“Kenapa shhh” Ia menjawab sambil mendesah

“Nafsuin banget Put. Apalagi kondisinya begini” kupancing terus birahinya

“Kamu bukan yang pertama ngomong gitu hhmmmh” Putri terus mendesah

Gerakan tangan kupercepat. Ia mulai mengerang. Permainan tangannya di penisku jadi mandek. Wanita ini fokus menikmati rangsangan di vaginanya. Melihatnya diam, aku mulai menambah serangan. Kini, payudaranya juga jadi sasaranku.

“Adduuuhhhh shhhh” Putri mulai tak bisa mengedalikan diri

Kuteruskan. Tempo makin meningkat. Meski tanganku sedikit pegal dengan posisi ini. Putri memiliki tipe vagina yang gemuk dan berbulu lebat namun rapi. Dibanding polos, aku lebih suka wanita yang berbulu. Sensasinya tak ada duanya.

“Ohhh ohhhh ohhh” tangannya mencengkeram kuat punggungku

“Ohhhhh dapet nih ohhhh terussss”

Aku makin semangat. Kutambah kecepatan. Kini dua jari yang bekerja. Mulutku tetap pada tempatnya.

“OHHH SHIIITTTTT OHHHHH”

Putri orgasme. Tubuhnya tersentak. Tapi aku masih ingin mengerjainya. Kuposisikan kakinya menjuntai di ranjang. Ia tak berdaya. Si Johny sudah siap mengambil kuda-kuda.

“Sialan kamu, Laaang” Ia menjerit

Ada tawa Tante Maya dari belakang. Ia nampak baru masuk kembali ke ruangan. Di depanku, Sari sedang kelojotan menghadapi hujaman penis Mas Wira yang berukuran jumbo. Ciut juga nyaliku. Entah berapa kali Sari teriak tadi. Tante Maya menghampiri mereka berdua. Ia ikut bermain di sana. Anti nampak sudah siap untuk ronde berikutnya. Ia mendekati Agil dan Milly yang baru saja menyelesaikan permainan. Anti tak memberi jeda untuk Agil. Aku sih berharap Milly bergabung ke mari.

“Galaaang ohhhh harder pleaseee ohhhhh” Putri mengerang, suaranya bagai singa kelaparan

Aku terus mengayuh, mempercepat sodokan. Penisku mulai gatal. Putri ikut menggerakkan bokongnya.

“Laaang dont stooop baby ohhhh youre crazy shittt ohhh” Putri meracau, mulutnya tak bisa dikontrol

“OHHHHHHHH MYYY OHHHH”

Putri orgasme lagi. Tapi aku tak mau berhenti.

“Laaang pleaseee give me a break shiitttt” Ia memohon

Percuma. Aku masih ingin menghajarnya. Tempo kuvariasikan. Kadang cepat, kadang lembut. Kujatuhkan tubuhku memeluknya sambil tetap menggerakkan Si Johny. Putri masih mencengkeram sprei.

“Give me once more” kubisikkan permintaanku

“Kamu gilaaa. Oktaaa temenmu ini gilaaa” Ia melapor pada Milly

Milly hanya tertawa. Dan mendekati kami. Ia nampak sudah pulih. Tapi itu tak menyurutkan niatku mengerjai Putri. Aku kembali mengayuh dengan kecepatan tinggi.

“Galaaang ampuuuun ooohhh”

“Anjiiing enaakk ohhhh”

“Laaaang sshhhh”

“Aduuuh ohhhh ohhhh ohhh”

Tempo kupercepat. Rambutnya kutarik.

“DAAAAMMMMNNN GOOOOD”

Putri Orgasme. Lagi.

Kulepas penisku. Milly merepat. Ia mengoralnya. Aku sedikit lagi keluar. Mudah-mudahan setelah ini. Milly memasukkan penisku ke mulutnya sambil tangannya ikut bermain. Aku keenakan. Kepalanya maju mundur, lidahnya berputar-putar.

“Miiilll bentar lagi uhhhhh” kujambak rambutnya

Aku memainkan payudaranya yang masih basah. Sepertinya air liur Agil ini. Milly makin mempercepat kocokannya. Aku makin mendesir.

“MIIIILLLL UUHHHH”

Kuhentakkan penisku dalam-dalam. Ia menyemprotkan cairannya. Milly menerimanya dengan baik. Aku lemas.

Pikiranku masih nenerawang setelah orgasme yang baru saja terjadi. Aku tergeletak di ranjang. Yang lainnya masih melanjutkankan permainan. Aku salut dengan kemampuan Mas Wira. Pantas saja ia menjadi andalan Tante Maya. Juga Agil. Kulirik, ia kini menggenjot Tante Maya dari belakang, dan Sari ikut disana. Mas Wira kini saling mengoral dengan Anti yang nampak tak pernah puas. Wanita itu liar juga ternyata.

Melihat bagaimana permainan ini dilakukan dan performa dua orang laki-laki lainnya, aku jelas tak ada apa-apanya. Sepertinya, aku hanya kebetulan beruntung diajak oleh Milly untuk bergabung. Wanita-wanita disini nafsunya tak terbendung. Meski beberapa cepat sekali orgasme, mereka cepat pulih dan terus menerus lapar. Serasa tak ada waktu lain, semua harus dieksekusi saat ini juga.

Aku beranjak, tenggorokanku kering. Dan aku butuh pemandangan selain orang-orang telanjang dan teriakan-teriakan birahi. Sebagai pemula, aku butuh recovery yang berbeda dengan dua senior tadi. Aku memakai kaos dan celana pendekku, turun ke lantai satu mencari minum dan suasana baru.

Di dapur, aku mengambil segelas air minum dingin dan beberapa buah. Meski badan tak terlalu lemas, tapi stamina juga belum pulih benar. Efek ramuan yang diberikan oleh Tante Maya benar-benar manjur. Aku memilih ke luar rumah setelahnya. Melihat pemandangan, menyegarkan otak. Samar-samar, terdengar desahan dan teriakan dari kamar atas. Mereka menikmati sekali.

“Permisi” ada suara dari pintu gerbang utama

Aku merinding juga. Jangan-jangan bukan manusia. Atau manusia yang punya niat jahat. Dari suaranya sih perempuan. Perlahan-lahan aku mendekati gerbang utama.

“Eh iya ada yang bisa dibantu?” aku menjawabkan tanpa membuka gerbang

“Aku temennya Maya, tadi lewat sini jadi mampir,” Sepertinya wanita ini seusia Tante Maya

Dia menyadari ada keanehan. Wajahnya menunjukkan kalau Ia mengenali suara-suara ini.

“Lagi ada party?” Ia bertanya sambil tersenyum menggoda

“Hehe iya di atas ada acara. Mari silakan masuk”

Aku membuka gerbang, Ia kembali ke mobilnya. Nampaknya Ia tak sendiri. Mobilnya memasuki halaman. Wanita itu keluar dari mobil, diikuti oleh tiga orang lainnya. Satu wanita lagi dan ada dua laki-laki juga. Aku sih yakin mereka memang diundang oleh Tante Maya. Kita lihat saja.

“Haloo, Lusi,” Wanita tadi memperkenalkan dirinya, “Ini Joyce, Gerald, yang ini Ketut” Ia juga memperkenalkan pasukannya.

“Galang,” aku menjabat tangan mereka masing-masing

Mereka kupersilakan masuk ke ruang tamu. Gerald dan Joyce sepertinya bukan orang lokal. Entahlah. Terlalu banyak kawin campur di sini jadi sulit membedakan mana orang lokal dan asing.

“Saya panggilkan Tante Maya dulu ya,” aku pamit pada mereka

Mereka hanya mengangguk. Aku buru-buru ke atas. Sampai di lantai dua, kulihat Tante Maya sedang dioral oleh Agil.

“Tan, ada temennya di bawah. Namanya Lusi,”

Kusela saja waktunya yang sedang keenakan menikmati bibir dan lidah Agil.

“Uuhhh Lusi ini emang bangsat, jam segini baru dateng” Ia menghentikan Agil, lalu mengambil baju dan memakainya.

Tante Maya berlalu begitu saja meninggalkanku. Aku hanya membuntuti karena ingin mengambil minuman yang kutinggalkan di dapur tadi. Lainnya sedang mengambil jeda sepertinya. Mereka punya rasa lelah juga.

“Diundang jam berapa datangnya jam berapa say” Tante Maya dan Tante Lusi cipika-cipiki

“Tadi jemput dua bule ini lho. Kenalin dulu ini Gerald dan ini Joyce” Tante Lusi memperkenalkan mereka kepada Tante Maya

Gerald nampak sedikit terkejut dengan baju yang dikenakan Tante Maya. Mereka bersalaman, begitu juga dengan Ketut yang sepertinya sudah mengenal Tante Maya.

“Jadi acaranya sudah selesai?” Tante Lusi melirik nakal

“Lagi pada istirahat. Kami habis main game kecil-kecilan” Tante Maya berusaha menenangkan

Game kecil-kecilan. Padahal aku cukup lelah. Meski tak selelah biasanya. Menangani lebihdari satu wanita ternyata tak mudah. Selain tenaga, konsentrasi juga jadi poin penting. Aku masih mengamati mereka dari dapur, memulihkan tenagaku sebisa mungkin. Setelah ini, permainan berikutnya pasti dimulai. Tante Lusi dan Joyce cukup menarik sepertinya.

“Si bule bisa bahasa Indonesia?” Tanya Tante Maya

“Bisa kok Tan. Mamaku orang sini, kalo Joyce sudah tiga tahun di sini” Gerald langsung menyela

“Oh sorry Gerald. Wajah kalian bule banget loh” mereka semua tertawa

Mereka kemudian saling berbincang. Aku tak peduli lagi. Kudengar, Gerald peranakan Indo-Inggris sedangkan Joyce asli dari Belanda. Aku tah tahu apa hubungan mereka. Bisa jadi pacar atau hanya teman senang. Mereka paham betul tujuan ke sini, dan aku siap menikmati Joyce dan Tante Lusi.

Tante Maya mengajak mereka ke atas. Aku yang belum ingin menyusul karena stamina belum pulih benar tetap di dapur menikmati minuman. Ternyata Joyce tak ikut ke atas, Ia malah ke dapur.

“Sorry, aku pikir tidak ada orang” dia menyapaku dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar meski logatnya masih kaku

“Santai saja. Nggak ikut ke atas?” aku membalasnya sesantai mungkin

“Mau ambil minum dulu. Tenggorokan agak kering dari tadi” Ia mengambio air putih dan meneguknya

“Sering ikut party begini?” aku langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling

“Nggak kok. Hanya beberapa kali swinger sama Gerald. Itu pun tidak rame banget” Joyce santai saja menjawab

“Ada 7 orang di atas,” aku memberi tahu, entah dia sudah tahu atau belum

“Wow. Ini jumlah paling banyak yang pernah kuikuti. Sudah selesai?” Ia balik bertanya

“Baru selesai ronde pertama. Dan sepertinya masih panjang” aku bergurau, Ia tertawa

“Aku tak begitu suka seks terlalu banyak orang sebenarnya. But it looks fun sometimes” Ia tersenyum

“Mee too” aku menyetujui pendapatnya

Kami kemudian terlibat pembicaraan ringan seputar kehidupan masing-masing. Joyce orang yang menyenangkan. Ia tipe periang. Terlihat sudah biasa sekali mengahadapi orang lokal. Kulitnya juga mulai kecoklatan, mungkin efek sering berjemur di sini. Dia sudah membumi.

“Jadi kamu baru pertama kali ikut seperti ini?” Ia kaget ketika kusampaikan begitu

“Yes. Its my first time. Kelihatan amatirnya kan?” kami tertawa bersama

“Lalu selama ini?” Ia terus mengulik

“Tidak lebih dari satu orang,” Joyce hanya geleng-geleng kepala

“But yeah, Im in Indonesia, I forgot” Ia menyadarkan diri, bahwa hal seperti ini tabu di sini

“Sepertinya di atas sudah mulai lagi. Mau nyusul?” Aku menawarkan padanya

“Not now. Aku ingin coba sama kamu, and private,” aku kaget juga

Tambah satu lagi pengalamanku hari ini. Setelah orgy dengan beberapa wanita, kini aku harus meladeni wanita asal Belanda. Aku sering nonton film porno, ada sih perasaan ingin merasakan bercinta dengan wanita mancanegara, tapi tak kepikiran juga bahwa itu akan menjadi kenyataan. Dan itu datang sekarang.

Joyce menyadari kekagetanku. Ia tersenyum. Kini di pikiranku, berbagai adegan dalam film porno yang pernah kutonton terbayang. Adegan itu menjadi kenyataan.

“Sama bule belum pernah juga?” Joyce bertanya

“Menurutmu?” aku balik bertanya

“I’ll give you the best sex experience ever” Ia berkata dengan sangat meyakinkan

Kami masih saling memandang. Aku baru sadar bahkan, Joyce sedang memakai busana yang cukup menantang. Outer tipis yang di dalamnya hanya ada bra serta celana yang sangat pendek membentuk tubuh. Tuhan. Mimpi apa aku semalam dapat sesuatu seperti ini. Aku tak memikirkan bagaimana nantinya, kurasa Joyce paham bagaimana kemampuan laki-laki lokal. Ia terlihat seorang petualang.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 18 | Wanita Idaman Part 18 – END

(Wanita Idaman Part 17)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 19)