Wanita Idaman Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20 ENDTHE END

Wanita Idaman Part 16

Start Wanita Idaman Part 16 | Wanita Idaman Part 16 Start

PART XVI

PERMAINAN BARU​

Setelah bertemu Dokter Ara, aku merasa terus menerus dipertemukan dengan wanita-wanita yang memenuhi syahwat birahi. Sebagai seorang pemula, empat wanita rasanya sudah luar biasa. Apalagi mereka ternyata memiliko tipe yang berlainan. Sebenarnya aku merasa terjerumus tapi ya sudahlah dinikmati saja. Aku belum berusaha untuk berhenti, tapi juga tak getol mencari. Seingatku, hanya Milly yang memang kucari. Lainnya bagai rezeki yang turun tiba-tiba.

Ternyata pertemuan dengan Milly belum bisa diulangi. Aku malah kembali bercinta dengan Tiwi sekitar dua minggu setelah itu. Jangan tanya soal Mbak Rani, Ia seperti menjadikanku suaminya selama di sini. Tentu kami tetap sembunyi-sembunyi dan selalu waspada.

Suatu hari, selepas habis-habisan memeras keringat karena tak bercinta sepuluh hari, kami terlibat pada sebuah perbincangan.

“Aku makin gila bercinta sama kamu, Wang,” sebuah statemen membanggakanku keluar dari mulutnya

“Tapi kamu masih ikhlas melayani suamimu kan, Mbak?” aku khawatir

“Jelas. Kalau ada perubahan bisa-bisa dia curiga,” Ia berbicara dengan wajah yang menggairahkan

“Bagus kalau gitu,” aku tersenyum lega

“Tapi kok aku merasa nggak pernah puas ya” Ia meringis, menggemaskan

“Mau coba nambah laki-laki?” kupancing saja

“Aku masih nggak siap kalau harus ada laki-laki selain kamu sama suamiku. Jangan bilang kamu suruh aku main sama dua laki-laki” Ia langsung menangkap maksud pembicaraanku

Aku tertawa. Ia memukulku. Kami berpelukan.

Tak ada niat untuk bermain threesome dengan laki-laki lain bersama Mbak Rani. Kalau dengan wanita lain baru ada. Dan rasanya, yang paling memungkinkan untuk mewujudkan fantasi itu saat ini adalah Mbak Rani. Jadi, mari kita coba lain kali.

Kami berpisah hari itu, seperti biasa. Ia meninggalkan hotel lebih dulu, aku menyusul kemudian.

“Galaaang lagi dimana?”

Ada pesan masuk. Milly. Hanya dia yang memanggilku dengan nama Galang.

“Lagi di kosan lah. Ada apa nih?”

“Kamu weekend ini ada acara?”

“Belum sih. Why?”

“Aku rencana mau ke B. Ikut yuk?”

“Pasti ada sesuatu yang nggak biasa”

“Ih kamu jangan berpikiran buruk dong HAHAHA”

“Berangkat jam berapa?”

“Aku cuti hari jumat. Jadi berangkat Jumat pagi”

“Aku nyusul malam kalau gitu”

“Deal”

“Soal di sana?”

“Beres. Yang penting kamu nyusul”

“Oke tuan puteri”

“Kabar-kabar lagi ya”

“Oke”

Entah apa yang menggerakkan jariku untuk menyetujui ajakan Milly. Bodo amat. Lihat nanti saja. Kesempatan main keringat sama Milly sayang sekali kalau dilewatkan.

Meski masih terus berpikir tapi aku tak sabar menanti akhir pekan. Hari ini sudah Kamis sih.

Aku sudah di bandara. Siap menuju B menemui Milly si wanita binal.

“Udah boarding Lang?”

“Ini mau naik. Jadi jemput?”

“Jadi. Nanti kamu nyasar lagi”

“Gapapa siapa tahu nemu cewek sana”

“Laki binal”

Percakapan kami melalui pesan instan membuatku sedikit tertawa. Pikiranku masih kacau tentang apa yang akan terjadi di sana.

Sampai di bandara. Aku langsung menuju tempat yang kami sepakati. Celingak-celinguk, ada wanita cantik dengan rambut panjang berwarna pirang dengan pakaian sedikit terbuka. Kuhampiri wanita itu, terlihat Ia bersama seorang laki-laki dan seorang wanita lain. Perasaanku mulai tak enak.

“Akhirnya datang juga ya”

Kami bersalaman. Milly mengenalkan dua orang yang dibawa bersamanya.

“Agil”

“Putri”

“Oh ini yang namanya Putri” aku tersenyum

Milly mencubitku. Ingin tertawa sekeras-kerasnya jika ingat kejadian pergumulanku dengan Milly dan tiba-tiba ada telepon masuk dari Putri. Si Putri hanya bisa tersenyum kecut menanggapi senyumanku.

Aku tak tahu akan dibawa kemana oleh mereka. Ini sudah jam 20.15, kami mampir ke salah satu resto untuk memesan makan tapi di bawa pulang. Tak ada percakapan yang patut diceritakan. Aku juga belum berani bertanya. Mobil kembali berjalan. Aku makin deg-degan.

“Kamu nggak tanya kita mau kemana?” Milly tiba-tiba bertanya

Aku tertawa. Memandang Milly yang duduk di sebelahku. Putri menengok ke belakang sebentar, sedangkan Agil masih fokus mengemudi.

“Aku percaya sama kamu kok. Kalian nggak akan nyulik aku kan?” Aku melempar senyum

“Ih ngapain” Milly dan Putri kompak mencibir, Agil hanya tertawa, aku juga.

“Sebenarnya agenda ini udah lama kurencanakan sama Putri dan temanku Lang. Tapi entah kenapa aku kepikiran ngajak kamu. Hitung-hitung kangen-kangen sama kamu lagi lah” Milly mulai bercerita sambil menggelayuti tanganku

Aku tahu arahnya kemana ini. Tapi sengaja aku tak bertanya lebih lanjut. Biar kusaksikan di lokasi saja apa yang akan ditunjukkan oleh mereka.

Kami tiba. Sebuah villa yang cukup tersembunyi, sepertinya di tepi pantai. Jalan masuk yang kami lalui tadi juga cukup rumit dan sempit. Kami turun membawa beberapa belanjaan. Aku menenteng tas milikku. Agil membuka pintu.

“Duh lama amat sih” seorang wanita menyambut kami

Dilihat dari fisiknya, sepertinya usianya berada di atasku. Mungkin tiga puluhan atau bahkan empat puluhan. Wanita itu mengambil alih belanjaan yang berada di tangan Putri.

“Ini Galang Tan,” Milly mengenalkanku pada wanita itu

“Hallo Galang selamat datang. Aku Maya” Ia menyodorkan tangan untuk bersalaman

“Galang Tan,” aku menerima tangannya dengan sedikit kaku

“Lama amat kalian pasti main duluan ya” tiba-tiba seorang wanita keluar dari dapur

“Macet buk. Mau main di mobil?” Putri dengan santai menjawab pertanyaan wanita itu

“Ini Ta lelaki itu?” Wanita tadi menatapku dengan sedikit meledek

“Iya doong. Jangan dilihat luarnya, rasain sendiri lho nanti,” Milly alias Okta terlihat membelaku.

Aku hampir lupa kalau Milly namanya Okta. Mungkin hanya aku di sini yang mengenal nama Milly.

“Sari” wanita yang meledekku tadi memperkenalkan dirinya

“Galang” kami bersalaman sebentar, ia berlalu begitu saja.

Sudah ada empat wanita. Milly, Putri, Tante Maya, dan Sari. Aku hanya melihat Agil, laki-laki selain diriku. Nampaknya makin terlihat kemana arah pertemuan ini.

“Galang nggak mau mandi dulu?” tanya Tante Maya tiba-tiba

“Boleh Tante. Saya bisa mandi dimana ini?” badanku sudah lengket semua memang.

“Di kamar depan aja deh Lang. Nggak ada siapa-siapa kan tadi Sar?” Ia bertanya pada Sari memastikan kamar yang ia sarankan kosong.

“Kayaknya kosong Tan,” Sari menimpali

Tante Maya mempersilakan aku memakai kamar yang letaknya di bagian depan Villa ini. Aku masuk setelah sebelumnya berpamitan pada mereka.

“Oh Sorry kata Tante Maya tadi kamarnya kosong” aku kaget, ternyata di dalam kamar ada wanita lain lagi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk.

“No problem. Aku juga minta maaf nggak kunci kamarnya” Ia membalas dengan santai.

Cantik sekali wanita ini. Putih dan lumayan tinggi. Bahkan lebih tinggi dari Milly. Aku merasa makin kecil. Sepertinya, diantara semua wanita yang posturnya lebih kecil dariku hanya Sari. Tante Maya? Seukuran lah denganku.

“Temennya Okta?” Ia melempar pertanyaan padaku sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer

“Iya. Galang” Aku menyodorkan tangan untuk bersalaman

“Anti” Ia menyambut.

“Aku permisi ke kamar mandi dulu ya,” Aku memilih pamit

Akhirnya tubuhku terguyur di bawah shower. Menenangkan. Setelah perjalanan darat dan udara yang cukup melelahkan. Juga setelah berdesakan di tenganh macet di kota wisata ini. Pikiranku kembali melayang-melayang. Jika yang kupikirkan benar, artinya aku sudah masuk ke dunia ini. Tahapanku makin meningkat. Pengalamanku makin beraneka macam. Aku tak tahu apakah nanti bisa keluar dari dunia ini atau tidak. Sedari awal, aku hanya ingin menikmati perjalanannya. Kuanggap sebagai mainan baru yang selalu kumainkan terus menerus hingga bosan. Kalau bosan ya berarti cari mainan baru lagi. Aku tak tahu dan tak ingin tahu perihal hitam dunia ini. Aku hanya ingin menikmati. Itu saja. Mudah-mudahan langkah yang kuambil tak salah. Agar aku bisa dengan mudah keluar, kapan pun aku mau.

Keluar dari kamar mandi, Anti sudah tak ada di kamar. Lekas ku berpakaian dan keluar ke ruang tengah, di mana orang-orangtadi berkumpul.

“Seger?” Milly menyambutku dengan senyuman menenangkan

“Lumayan. Setelah bermacet-macet tadi” aku membalas dan segera berada di sampingnya, kami duduk di sofa

Terlihat ada seorang lagi laki-laki yang sepertinya berusia diatasku. Aku hanya melempar senyum. Aku tak menemukan keberadaan Agil di antara mereka.

“Lang, ini Mas Wira, keponakan Tante Maya,” Milly mengenalkanku pada laki-laki tadi

“Galang, Mas” aku memperkenalkan diri

“Masih bingung, Lang?” Ia memahami kebingunganku, “Kamu nggak ngasih tahu apa-apa, Ta?” lalu ia bertanya pada Milly

“Belum, Mas. Aku cuma minta dia nyusul kesini dan dia mau. Galang juga nggak tanya apa-apa sih” Milly tersenyum tak mau disalahkan

Aku makin bingung. Semoga ini bukan perkumpulan jahat atau apapun itu yang mengancam keselamatanku. Pikiranku mulai macam-macam.

“Jangan mikir aneh-aneh dulu, Lang” Mas Wira tertawa, disusul oleh Milly, Putri, dan Anti.

“Iya Galang. Tante bukan bandar narkoba kok, apalagi mafia,” tiba-tiba Tante Maya muncul entah dari mana, Ia langsung duduk di sebelahku.

Menyusul Tante Maya, Agil dan Sari juga bergabung. Mereka mengambil tempat masing-masing. Di ruang tamu yang cukup besar ini sudah ada delapan orang. Lima wanita dan tiga laki-laki. Sebagai laki-laki normal, aku jelas berpikir ke arah sana. Mungkin kalian juga. Tapi tak ada yang buka suara yang mengatakan secara gamblang soal itu. Aku belum tenang.

“Jadi kami sering ngadain acara kumpul-kumpul begini dua atau tiga bulan sekali. Personilnya sih bisa ganti-ganti sesuai siapa saja yang bisa. Sekadar melepas penat dari kerjaan,” Tante Maya mulai bercerita

“Okta ini juga dulu awalnya diajak Putri kesini. Putri diajak Wira. Mereka semua kenalnya ya di sini,” Ia melanjutkan dengan cerita yang meyakinkan.

Aku masih belum menangkap benar maksudnya. Mau tanya juga tak enak.

“Kamu tahu kan semua orang punya kebutuhan yang kadang nggak bisa dipenuhi sama pasangan masing-masing. Dan kami mewujudkannya di sini,” Tante Maya masih belum selesai

“Jadi nikmati saja, Lang. Okta sudah cerita sedikit soal kamu. Dan, Tante Maya tuh yang paling penasaran,” Sari ikut menimpali

“Awas lho ya Sr nanti kalau kamu yang jadi ketagihan” semua tertawa, aku juga.

Benar. Dugaanku benar. Acara ini jelas untuk memuaskan nafsu semua orang yang ada di sini. Aku tak menyangka petualangan seks Milly sampai seperti ini. Dia tak bilang apa-apa dan anehnya aku nurut saja. Insting petualangku kian terasah nampaknya. Ini pengalaman pertama, kalau aku tak berhasil menunjukkan penampilan yang memuaskan rasanya ini akan jadi yang terakhir juga. Mari kita lihat, sampai mana aku bertahan. Sebenarnya agak canggung juga bercinta ramai-ramai dan ada laki-laki lain selain diriku. Aku memang punya fantasi threesome tapi dengan dua wanita. Aku hanya takut kemampuanku tak ada apa-apanya dibandingkan dua laki-laki disini. Secara fisik, jelas mereka lebih baik. Aku harus mengingat kalimat yang diucapkan Milly kepada Sari tadi, “Jangan dilihat luarnya, rasain sendiri lho nanti.” Aku harus bikin Sari ketagihan. Dan tentu Tante Maya sebagai pemegang kendali, sepertinya.

Kami menuju ruang makan. Tante Maya mengajak kami mengisi tenaga sebelum pertempuran. Aku sebenarnya tak terlalu lapar. Tapi nampaknya malam ini akan berlangsung lebih panjang, dan membutuhkan tenaga ekstra.

“Buat para laki-laki, karena kalian kalah jumlah, kayaknya tenaga kalian harus dobel-dobel. Minum ini dulu,” Tante Maya meminta kami minum semacam ramuan.

Rasanya manis, tak seperti yang kubayangkan. Sepertinya Ia yang paling berpengalaman dan mengendalikan permainan ini.

“Apalagi malam ini ada Sari dan Anti. Duh Mas Wira bakal kerja berat ini,” Putri mulai aktif berbicara

Semua tertawa. Anti, dia tak banyak bicara. Tampaknya wanita ini menyimpan sesuatu yang sangat menarik. Dan Mas Wira sepertinya adalah jagoan di sini. Kurasa begitu.

“Agil sama Galang juga dong. Bisa pingsan aku kalau kalian hajar sendirian,” Mas Wira menatap aku dan Agil. Kami tersenyum.

“Sari makin penasaran sama Galang nih kayaknya,” Milly kali ini ikut memojokkan Sari

Aku yang berasa di seberangnya melemparnya dengan kacang. Kami tertawa, Sari menggelitiki Milly. Suasana mulai cair. Makanan juga sudah tandas.

Kami berbincang kesana kemari. Saling bercerita bagaimana aktivitas masing-masing. Aku yang duduk dekat Tante Maya mendapatkan sedikit cerita soal bagaimana permainan ini bermula. Di bagian lain saja akan kuceritakan.

Ruangan ini penuh canda tawa. Kalau dilihat sekilas, tak ada tanda-tanda ini merupakan perkumpulan birahi. Kami seperti kawan lama yang jarang bertemu. Aku juga mulai akrab dengan Mas Wira dan Agil. Mas Wira adalah idola di perkumpulan ini. Karena ia berdomisili di sini bersama Tante Maya, mereka nyaris tak pernah absen. Dan benar memang Ia keponakan Tante Maya. Semua ini juga bermula dari hubungan gelap mereka berdua. Kisah ini panjang sekali dan cukup kompleks sepertinya. Aku jadi ingin menggali lebih banyak nanti.

Di meja seberang, Putri nampaknya sudah mulai on. Ia dan Mas Wira mencuri start. Mereka sudah berciuman.

“Eits stop dulu. Bukan di sini tempatnya. Ayo kita ke atas,” nampak raut kekecewaan di wajah Putri da Mas Wira ketika adegan mereka dihentikan Tante Maya.

Tante Maya mengajak kami ke lantai dua. Putri nampak ingin memuli semuanya dengan Mas Wira. Mereka berjalan sambil berpelukan. Milly berjalan di sampingku.

“Gimana? Menegangkan atau menyenangkan?” Milly berbisik di telingaku

“Gila kamu Mil,” aku mencubit bokongnya

Ia sedikit menjerit tertahan. Matanya melotot, lidahnya mejulur.

“Semangat ya, buktikan ceritaku memang benar,” Ia kembali berbisik menggodaku

Kini giliranku melotot. Sialan Milly. Aku tak tahu apa yang sudah Ia ceritakan tentangku. Kalau terlalu tinggi, bisa-bisa mereka juga berekspektasi tinggi. Itu yang bahaya.

Kami sampai di sebuah kamar yang cukup besar. Ada ranjang ukuran besar, satu set sofa, televisi ukuran besar, dan balkon. Permainan akan segera dimulai.

“Selamat datang semuanya. Terutama buat Galang yang baru pertama kali bergabung. Tante kangen sama kalian semua. Dan kali ini kita akan bikin sedikit permainan,” Tante Maya membuka permainan dengan manis sekali

“Wira tolong ambilkan kainnya. Masing-masing satu ya. Kain ini harus kalian pakai. Buat tutup mata ya buka yang lain. Kita akan main gelap-gelapan” Ia ternyata menggairahkan.

“Permainannya, tiap putaran hanya ada satu orang yang matanya terbuka. Dia akan memilih gambar dan adegan secara random. Dan itu harus dipraktekkan ke nama-nama yang juga dipilih secara random. Tetap ya laki ke wanita dan sebaliknya. Tante nggak suka ada adegan gay disini,” ucapan Tante Maya disambut gelak tawa kami semua

“Tapi kalo lesbi nggak apa-apa, jumlah wanitanya kan lebih banyak,” Ia tersenyum melanjutkan.

“Dan terkahir, yang mendapat jatah enak haru menebak siapa orang yang sedang mengerjainya. Kalau salah, ada hukumannya dong,” belum selesai arahan dari Tante Maya

“Hukumannya apa dong Tan?” Sari langsung protes

“Tidak dapat giliran satu putaran”

“Yaaah” semua kompak dengan nada kecewa

Jadi?

“Mulaaiii” kami koor bersamaan

Sepertinya menantang. Dan menegangkan.

Bersambung

END – Wanita Idaman Part 16 | Wanita Idaman Part 16 – END

(Wanita Idaman Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(Wanita Idaman Part 17)