Untuk waktu Yang Lebih Baik Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Tamat
The Harder times
(Nobody at all)

Yaaaaaa!!!
Emutiinnnn tookkeeettt aaakkuu saaayyy!!

Iihhhh!!!

Geelliiiii yyaaannngggg!!

Aaahhhhhh!!!! Eeeehuuuhhhhh!!

Ahhhh!

Terusssss ssaaayyaaannnggg! Kkaaammmuuu makinn harrii makkiinn bissaaa mmuuaaasssiinn aaakuuuu ssaaaayyaaaaannggg aaahhh!!
Desahan cindy begitu renyah.

“Iiiyyaaaa ssaaayyyaaannggg!! Kkaaammuu jjuuggaaa maaakkiinnn hharrrii
maaakkkiin eenaaakk ssaaayyaaangg!!” Jawab fadli yang tengah dalam kecepat tinggi untuk segera mencapai garis finish, mungkin!

“Ccooobbbaaaa kkaammuuu ccummaa miiliikkk aakuu sseeoorraaanng!” Tambah fadli di tengah-tengah gempuranya.

“Nniikkmmaatttiinnn aajjjaaa saaayyy, yaaanngg penntinnngg kitaaa saaammaaa ssaaammaaa ennaaak!
Uggghhh!”
Jawab cindy dengan lenguhanya.

Aaaahhhh! Tterrruuusssss aaaaaaa!!!

Mereka saling melenguh menikmati permainan mereka.

Sssaaaayyynnggg aaakkuuu mmaaauuu keeelluaarrr!!!

teriak fadli!

Diii ddaaalleeemm aajjaaa yyaaannngggg!

Bbiiiaaarrr aanngggeeetttt
aaaaaaa!!!

Sahut cindy.

Anjing! Mereka pastinya sedang menikmati klimaks hasil dari pertempuran mereka batin saya yang sambil memainkan sebatang roko ditangan. Saya masih berdiri didepan pintu kamar kostnya fadli yang tertutup rapat.

Memang saya jarang main ke kostnya fadli tapi entah kenapa dari tadi siang pingin banget untuk main kesini. Sekalian santai atau membicarakan bisnis saya niat awal ku sebelum tahu ada adegan menyakitkan ini. Mungkin juga ini adalah nasib yang mendorong saya untuk mengetahui perselingkuhan mereka, terima kasih dewa marmut! Ini
sakit!!!

Berselang beberapa menit setelah itu saya mendengar suara fadli, “Say aku beli roko dulu ya ke domart depan, mau nitip?” tanya fadli ke cindy tapi saya tidak mendengarkan jawaban apapun dari cindy. Cklek!

Pintu kamar kost fadli terbuka.

Heh! Bangsat! Mau ngeroko? Nih!! Ujarku sambil melemparkan roko saya yang masih menyala ke arah badannya, fadli sontak kaget dan terdiam didepan pintu kamarnya. “Lain kali kalo ngentot suaranya pelanin dikit biar kagak ketahuan, oke!” tambah ku kepada fadli.

Mungkin cindy mendengar suara ku yang langsung keluar dari kamar fadli “EH! Ko disini sih say, dari kapan?” tanya cindy dengan mimik muka yang panik.

“eeeuuuu, gw bisa jelasin rey” sahut fadli.

“Halah! Basi cok! Tai semuanya, gw cabs yak, sory nih ganggu acara ngentotnya kalian lanjuat ajalah ya, eh gw cindy pamit yak!” sahut saya kepada mereka yang mematung, emosi? Sudah pasti tapi saya masih mencoba untuk tetap terlihat santay.

“Yaaaaannnngggg!! Aku mau jelasin!!” ucap cindy sambil meraih tanganku dan menahan saya untuk pergi.

“Sayang? Hahaha… udahlah mending kamu lanjut aja tuh sama si anak anjing itu tuh” jawab ku sambil melempar tangan cindy, “Tapi saaaayyy….”

“say say tai kucing lah!” potong ku sambil kembali berjalan menuruni tangga untuk keluar dari tempat hina ini dan mereka masih mematung  saja,.

Kamar fadli ada di lantai dua dengan pemandangan parkiran kost.
Saat berjalan menuju mobil ku, saya melihat tumpukan batu bata karena memang kost ini baru saja di renovasi mungkin ini sisa-sisa bahan bangunan pasca renov.

I will show you a little anarchy mate! Batin saya dalam hati, “Eehh fad! Liat nih gw punya kado buat lu!” dan saya mengambil satu batu dari tumpukan itu, dan…

CRAAKKKK!

Saya melemparkan batu bata itu ke kaca mobilnya fadli,

kaca mobil fadli langsung hancur dan retak seperti hati ku! Saya langsung menoleh ke arah mereka dan tersenyum manis, terlihat raut wajah fadli yang menahan emosi, cindy? Cindy Cuma mematung kebingungan.

***

Trust me i know
when you look at me
You see nobody at all!
And for the first time i can say that im proud to be
Nobody att all!

Teriak ku menyanyikan sebuah lagu band hardcore asal eropa ini, biarinlah orang lain dengar juga batin saya.

Saya mengendarai mobil dengan cukup cepat yang tapi entah mau kemana karena masih kaget dengan adegan perselingkuhan tadi.

Ya cindy adalah pacarku sudah hampir setahun ini ia menjadi wanita yang menemani hari-hari saya dan fadli adalah sahabat saya sekaligus orang kepercayaan saya untuk
mengurusi masalah keuangan ditoko saya, “dua orang ini? Anjing!!!

Tanpa gw manabisa si fadli tai itu punya mobil kaya sekarang, tanpa gw juga mana bisa cindy jadi ala-ala wanita sosialita bau pipis!” gerutu
ku sambil menyetir mobil. Wahay dewa marmut tolong saya! Ucapku.

Bersambung