True Love Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 8

Tetaplah Menjadi Bintang Di Langit

Hari ini, 2 bulan setelah pertemuan terakhirku dengan Pipit di rumah Anneke. Selama dua bulan ini aku menempa diriku mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. Aku benar-benar serius mempersiapkan diri. Setelah mendapat restu dari kedua orang tuaku untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, aku belajar dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana pun karena kedua orangtuaku lah yang membuat aku sangat bersemangat mempersiapkan diri. Karena dengan restu itu, aku menyadari bahwa aku memberikan beban tambahan kepada kedua orangtuaku, ditambah lagi kedua adikku juga masih bersekolah. Aku akan memberikan yang terbaik untuk mereka, dan membuat mereka bangga.

Juga karena Pipit. Pipit sangat mengharapkan aku kuliah. Karena dengan menjadi sarjana, aku semakin memperbesar peluangku untuk memperoleh pekerjaan yang baik dibandingkan hanya menjadi lulusan SMA. Katanya, aku akan semakin mudah mengejar seluruh impianku untuk membahagiakan keluarga.

Aku sangat setuju pada ucapannya, walau itu berarti akan membutuhkan perjuangan keras bagi keluargaku. Tapi ini menjadi harga yang harus dibayarkan untuk menebus impianku.

Pagi ini, tanpa terasa airmata haru menetes saat menyadari kenapa sejak jam 6 pagi ayah sudah menghilang sementara aku sibuk mempersiapkan dagangan ibu yang akan di bawa ke kantin sekolah. Jam 7 pagi ayah datang ke kantin, menenteng selembar koran yang berisi pengumuman kelulusan penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri.

Ya. Aku lulus.

Aku di terima di Fakultas Pertanian di universitas negeri di kotaku. Ini memang pilihan pertamaku, setelah aku mengubur impianku untuk ikut test penerimaan STAN, STPDN dan tempat-tempat lainnya di pulau Jawa sana. Aku cukup puas dengan pilihanku untuk memilih universitas yang ada di kotaku ini.

Yang penting bisa kuliah, tak perlu memberikan beban tambahan pada orangtuaku dengan kuliah di Jawa sana. Lagi pula, dengan tetap ada disini aku akan selalu bisa membantu kedua orangtuaku. Hasil ini saja sudah sampai membuat ayah dan ibuku sampai bersujud syukur di kantin sekolah.

Maafkan aku, aku tak bisa menceritakan apa yang terjadi di rumah Anneke dua bulan yang lalu, saat Pipit memintaku bertemu. Apa yang bisa aku ceritakan pada kalian, jika selama 5 jam di sana kerjaku dan Pipit hanya saling berpelukan..?

Ya. 5 jam aku dan Pipit bersama di rumah Anneke yang sehari-harinya memang kosong karena orangtuanya bekerja dan pulang sore. Hari itu aku tiba di rumah Anne meminjam vespa super 64 milik ayah, dan di sana sudah ada Pipit, Anne bersama Harris pacarnya. Sejak pukul 11 pagi hingga jam 4 sore aku dan Pipit hanya duduk di paviliun rumah Anne yang dihiasi oleh seperangkat sofa panjang berbentuk huruf L, sementara Anne dan Harris berdua di ruang tamu.

Pipit memuaskan dirinya dengan meminta aku memangku dan memeluknya dari belakang, kadang tiduran di pahaku, dengan sedikit dipotong saat kami makan mie goreng bersama Anne dan Harris. Kami hanya ngobrol, dan sama sekali tidak menyinggung kejadian seminggu sebelumnya di tempat yang sama, apalagi berbicara tentang cinta, samasekali gak ada.

Tapi aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya menikmati kebersamaanku dengan Pipit, karena entah mengapa aku merasa itu semua akan menjadi yang terakhir. Aku tak mau merusak suasana dengan mulai membahas masalah mengapa dia memutuskan aku minggu lalu. Biarlah Pipit yang memegang kendali.

Kami hanya membicarakan hal-hal lain, tentang persiapan aku kuliah, tentang perguruan tinggi mana yang aku pilih, dan hal-hal lain yang sama sekali gak ada hubungannya dengan masalah kami kemarin. Jam 4 sore kami berpamitan pada Anne, dan Harris juga pulang bersama kami. Aku lihat Harris wajahnya agak suram, tapi aku malas bertanya. Belakangan aku baru tahu ternyata Harris juga diputusin oleh Anne. Aku sampai heran, kenapa dua sahabat ini sampai kompak mutusin pacarnya masing-masing.

Aku ingat, saat sampai di depan komplek perumahan Pipit, kami sempat makan bakso. Kemudian aku menitipkan vespaku di warung bakso itu dan mengantarkan Pipit dengan berjalan kaki. Biar bisa lebih lama, kata Pipit saat itu. Nah, saat kami berjalan kaki perlahan ke rumah Pipit itulah, Pipit mulai membahas masalah kami yang sebenarnya.

Ka, mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bertemu, dan semua yang terjadi pada kita tadi di rumah Anne juga adalah yang terakhir kata Pipit perlahan. Setelah Kaka pulang nanti, anggap saja kita sudah resmi putus ya, Ka

Lhoo Kok gitu? tanyaku bingung. Kaka kira tadi kita berpelukan terus itu karena Pipit menganggap kita gak jadi putus

Pipit hanya tersenyum sambil menatapku. Tapi tadi Kaka juga gak nanya, kan?

Iya Kaka pikir buat apa ditanya. Pipit tadi minta peluk terus, minta dimanja terus Kaka pikir itu adalah tanda kita gak jadi putus kataku lirih. Kaka bingung, Pit Jadi yang tadi itu artinya apa?

Pipit tadi gak membahas masalah itu, dan juga Pipit tadi manja banget ama Kaka, itu semua karena perkataan Pipit terputus, matanya tampak berkaca-kaca. Itu semua karena mulai besok Pipit akan kehilangan itu semua Kehilangan Kaka dan semua kasih sayang Kaka

Sebutir airmata mengalir di pipinya. Aku berhenti dan menahan bahu Pipit dan memutar tubuhnya menghadap padaku. Aku memegang pipinya dengan kedua tanganku, aku usap airmata itu dengan jariku, walau semakin banyak butir airmata Pipit yang mengalir.

Jika ini semua membuat Pipit jadi sangat sedih, kenapa kita harus putus, Pit? Jika Pipit izinkan, Kaka akan selalu ada buat Pipit, menjadi pacar Pipit yang akan selalu mencintai Pipit dengan seluruh jiwa dan raga Kaka

Gak bisa, Ka jawab Pipit sambil tersedu. Gak bisa Gak boleh

Kenapa gak bisa dan siapa yang bilang gak boleh, Pit?

Untung saja saat itu suasana komplek perumahan sangat sepi, aku gak bisa membayangkan jika ada yang melihat keadaan kami saat ini. Pipit yang tetap terisak, sementara aku tetap memegang kedua pipinya berusaha mengusap airmatanya yang jatuh.

Gak bisa, juga gak boleh Pipit gak bisa menjelaskannya, tapi Pipit percaya ama Kaka, Kaka akan mengerti dan memahami Pipit kata Pipit disela isakannya.

Jangan buat Kaka semakin bertanya-tanya, Pit Jelaskanlah Kaka akan mencoba mengerti apa yang Pipit maksudkan

Pipit menatapku dalam-dalam, seakan memohon pengertianku. Akhirnya aku menyerah, tak akan mungkin memaksa Pipit sekarang ini, disaat seperti ini.

Maafkan Pipit ya, Ka… katanya lirih sambil menatapku. Kaka mau menolong Pipit, kan? Pipit mohon ama Kaka, tolong luluskan permintaan Pipit ini Asal Kaka tahu, ini juga sangat berat buat Pipit

Aku terdiam, hanya mampu mengusap pipinya penuh kasih sayang. Dalam hati aku berkata, jangankan hanya minta putus, jika saat ini Pipit meminta nyawaku akan aku berikan asal bisa membuatnya bahagia.

Jadilah lelaki yang terbaik, Ka Berjuanglah, berusahalah yang keras, jadilah seperti yang Kaka impikan selama ini kata Pipit lagi sambil menatapku. Tangannya bergerak menggenggam tanganku yang masih mendekap pipinya.

Pipit akan selalu mendoakan Kaka Pipit sangat berharap Kaka bisa menjadi yang terbaik, agar kelak Kaka bisa menjadi pemimpin yang baik bagi wanita yang akan jadi istri Kaka

Kaka inginnya Pipit yang jadi istri Kaka

Itu nanti akan terjawab bila kita memang berjodoh, Ka Sekarang Kaka harus berusaha mewujudkan semua impian Kaka Jika kita berjodoh, maka Pipit berharap Kaka sudah menjadi lelaki terbaik bagi Pipit, yang akan menjadi pemimpin bagi Pipit, yang akan membawa Pipit pada kebahagiaan lahir bathin kata Pipit sambil mempererat genggamannya padaku.

Aku terdiam, berusa mencerna semua ucapan Pipit. Begitu dalam dan luas makna dari kalimat yang disampaikannya.

Pipit akan sangat kehilangan Kaka, itu pasti Pipit sangat bersedih karena itu, Ka Tapi Pipit percaya ini adalah yang terbaik bagi kita, suatu saat Kaka akan memahami dan mengerti

Gak bisakah dengan Pipit selalu ada di samping Kaka untuk meraih semua impian itu, Pit?

Pipit akan selalu mendoakan Kaka Selalu berdoa agar yang terbaik selalu terjadi pada diri Kaka

Kedua tangan Pipit mengusap pipiku, menatapku dalam-dalam dengan senyum berhias airmatanya.

Doa Pipit yang akan selalu mendampingi Kaka katanya lembut menatapku sambil tersenyum. Sekarang berjanjilah pada Pipit, Ka Berjanjilah Kaka akan selalu berusaha mewujudkan impian Kaka, berjanjilah akan selalu menjadi lelaki terbaik yang akan siap menjadi pemimpin bagi wanita yang akan menjadi istri Kaka dan juga panutan bagi anak-anak nanti.

Aku menatapnya, menyampaikan bahwa aku akan berjanji akan menjadi seperti yang dia minta dengan sepenuh hatiku, walau aku juga mencoba menyampaikan bahwa aku masih belum mengerti maksud semua ucapannya.

Kaka berjanji, Pit Demi Pipit Kaka akan berjuang dengan seluruh kemampuan Kaka

Salah Bukan demi Pipit Sementara ini demi Kaka sendiri dulu

Tapi Pipit kan yang jadi istri Kaka nanti

Kalau kita berjodoh potong Pipit sambil mengusap pipiku. Pipit akan bersedia jadi istri Kaka bila Kaka sudah bisa memenuhi janji Kaka untuk mengejar semua impian Kaka

Aku sampai gak bisa ngomong lagi.

Ingat, Ka Wanita yang baik akan mendapat jodoh lelaki yang baik pula kata Pipit sungguh-sungguh sambil menatapku, mengusap pipiku.

Berusahalah menjadi lelaki terbaik, yang akan bisa menjadi panutan bagi Pipit katanya lagi seakan memohon padaku. Berjanjila, Ka.

Kaka berjanji, sayang Kaka berjanji

Pipit tersenyum menatapku. Tangannya tetap mengelus pipiku dengan penuh kasih sayang.

Pipit percaya ama Kaka katanya sambil tersenyum padaku, mengguncangkan wajahku penuh harapan.

Yuk katanya mengajak melangkah lagi, melepaskan genggaman tangannya dari pipiku. Kami beriringan langkah menuju rumah Pipit yang tak jauh lagi, hanya tinggal satu belokan lagi.

Tangan Pipit meraih tanganku, menggenggamnya erat seakan menyerahkan seluruh harapannya pada genggamanku. Dengan bercanda, kami melangkah sambil berpegangan tangan, kadang mengayunkannya dengan riang.

Sekali ini, Kaka boleh anterin Pipit sampai rumah kata Pipit membuatku terkejut.

Nanti Pak Boss marah gak, Pit aku khawatir pada papanya.

Biar saja katanya tersenyum penuh arti. Wah, aku jadi pede nih, gak peduli mau papanya seribu kali lebih galak aku menyambut bahagia izin mengantarkan Pipit sampai ke rumah. Ini akan menjadi yang pertama aku mengantar Pipit sampai kerumah, Saudara-saudara., hehe

Kami berbelok di tikungan terakhir, dan melangkah ke rumah Pipit yang sudah tampak dari tempat kami saat ini.

Jadi, kita tetap putus ya, Pit tanyaku. Bodoh.

Iya jawab Pipit tersenyum. Gak apa-apa kan, Ka?

Rasanya akan sangat berat buat Kaka, Pit

Buat Pipit juga, Ka kata Pipit. Tapi Pipit percaya Kaka akan memahami Kaka juga jangan pernah bersedih, Kaka ingat kan kalo Pipit akan selalu berdoa untuk Kaka?

Iya deh Kaka akan berusaha Doakan Kaka agar selalu kuat ya, Pit

Pasti, Ka kata Pipit sambil mempererat genggaman tangannya. Wajahnya terlihat bahagia walau baru saja memutuskan aku. Sekilas, aku melihat wajahnya menunjukkan betapa Pipit sangat berharap padaku, berharap aku akan bersungguh-sungguh mewujudkan semua impianku.

Juga impian bisa bersama Pipit dan membahagiakannya seumur hidupku, bisikku dalam hati.

Tak terasa, kami sampai di rumah Pipit, aku mengantarnya sampai Pipit masuk ke dalam pagar rumahnya. Kini, tiba saatnya bagiku untuk pamit. Pamit pada mantan kekasihku, pamit untuk maju berjuang di kehidupan nyata.

Kaka pamit pulang ya, Pit

Iya, makasih ya sudah nganterin Pipit. Kaka hati-hati di jalan ya jawab Pipit.

Wajahnya tersenyum. Terasa sekali kasih sayangnya, sama besarnya dengan harapannya yang seakan dipercayakannya padaku seutuhnya.

Kaka sangat mencintai Pipit

Pipit tersenyum, dibelainya pipiku sebelum kemudian diraihnya tanganku dan menciumnya.

Percayalah, Ka Ppit akan selalu mendoakan Kaka katanya lirih sambil menatapku dalam.

Aku tersenyum samar, sedih rasanya karena menyadari begitu aku melangkahkan kaki pulang dari rumah ini, maka resmilah usai hubungan cintaku dengan Pipit.

Akhirnya aku dan Pipit berpisah saat itu, aku kembali berjalan ke arah warung bakso tempat aku menitipkan vespaku. Saat itu lah aku menyadari, bahwa ada yang aneh seharian ini. Aku memang sudah seharian bersama Pipit, entah kenapa baru sekarang aku menyadari.

Seharian ini, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Pipit, kata cinta atau pun kata sayang. Walaupun seluruh sikap dan bahasa tubuhnya mengungkapkan itu semua, tapi yang aku tahu Pipit sangat sangat suka mengungkapkan perasaan cintanya dengan kata-kata. Tapi hari ini, semua lenyap. Walau Pipit masih aku peluk dan aku cium, dan tak terhitung juga berapa kali Pipit menciumku hari ini, tapi kata cinta dan sayang darinya telah hilang

Dan sejak saat itu, hatiku bagai terombang ambing pada pahitnya kenyataan yang aku hadapi kini. Aku kehilangan Pipit dengan alasan bahwa selama ini dia berbohong padaku, sebenarnya tidak pernah mencintaiku. Kadang aku menjadi sangat marah setiap ingat hal itu, ditambah lagi kenyataan pada hari terakhir pertemuan kami tak sepatahkatapun terucap cinta darinya. Aku marah karena merasa Pipit benar-benar tidak mencintaiku. Tapi kadang aku menjadi ragu, mengingat sikap Pipit yang tetap penuh mesra saat itu.

Perasaan ini, perasaan terombang-ambing antara rasa marah dan benci pada Pipit, yang bisa sekejap berubah menjadi percaya sepenuhnya Pipit akan selalu mendampingiku dalam doanya, bertahun-tahun selalu menghantui diriku, bolak balik melemparkan aku pada dua sisi antara benci dan masih cinta. Seandainya bisa aku ceritakan betapa merusaknya perasaan seperti ini. Ditambah lagi, sejak saat itu Pipit sangat susah di hubungi, apalagi ditemui.

Dan hari ini disaat pengumuman aku lulus diterima di universitas negeri.
Aku berencana mengunjungi Pipit ke rumahnya, sekedar menyampaikan kabar gembira ini padanya.

-oOo-‚Äč

Sore itu, aku duduk di ruang tamu rumahnya Pipit. Setelah dua bulan tak bertemu sejak mengantarnya pulang hingga sampai ke rumahnya itu, aku tak pernah bertemu Pipit lagi, telponku tak diangkat, sms ku tak di balas. Maka kini aku nekad datang, hanya untuk menyampaikan kabar gembira bahwa aku lulus diterima di universitas negeri padanya walau mungkin saja Pipit sudah tahu.

Karena bagiku bagaimanapun, ini adalah langkah awal dalam aku mewujudkan impianku dan Pipit juga sangat terlibat dalam hal ini.

Maka di sinilah aku kini, duduk di ruang tamu menunggu Pipit menemuiku. Tadi saat datang, aku bertemu dengan mamanya Pipit dan aku dipersilahkan menunggu di ruang tamu. Sambil menunggu Pipit, mataku berkeliling menatap keadaan ruang tamu rumah Pipit, memperhatikan foto keluarganya yang terpampang besar di dinding.

Assalamualaikum, Ka

Aku menoleh pada suara salam itu sambil tersenyum.
Ya Tuhan Aku sangat merindukan suara itu.
Suara Pipit.

Waalaikum salam

Namun aku terkejut setengah mati saat menatap si pemilik suara itu. Aku terkejut dan menatap tak percaya ke arah Pipit yang saat ini sudah berada di ruang tamu menemuiku, berdiri sambil wajahnya tertunduk dan tidak menatapku.

Pipit yang sangat aku cintai.
Pipit yang cantik dengan keteduhan tatapan matanya.
Pipit yang selalu ada dalam hatiku dan selalu aku rindukan disetiap detak jantungku.

Pipit berdiri dihadapanku, namun telah sangat berubah sejak terakhir aku bertemu dengannya dua bulan yang lalu.

Detik itu juga, aku mulai bisa mengurai semua, mulai bisa memahami dan mengerti, mengapa semuanya bisa terjadi

Bersambung