True Love Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 6

Kiamat Personal

Hari itu, di sebuah hari di bulai Mei tahun 2007. Seluruh siswa kelas 3 sekolahku bersorak gembira ketika Kepala Sekolah mengumumkan kelulusan 100% siswanya. Hari itu kami rayakan dengan saling mencoret baju seragam dan mewarnainya dengan pylox. Setelah kegembiraan di sekolah aku dan teman-temanku berencana keliling kota dengan motor. Di jalan, kami juga bertemu dengan rombongan sekolah lain yang juga merayakan kelulusan mereka.

Aku pun gembira dengan kelulusanku. Nilai yang aku peroleh cukup bagus. Aku biarkan diriku larut dalam kegembiraan bersama dengan teman-temanku. Aku sudah mengabari Pipit dengan sms memberitahukan kelulusanku, walau tak di balas olehnya. Walau aku masih belum tahu rencana apa ke depannya setelah lulus SMA, aku biarkan diriku ikut bersama eforia seluruh teman-temanku.

Siang itu kami berkeliling kota, membuat gaduh seluruh kota dengan kegembiraan kami. Sampai akhirnya tujuan akhir kami di sebuah mall di Jalan Kartini. Di sana, kami mulai berpencar sesuai dengan urusan masing-masing, karena sebenarnya perayaan kelulusan sudah selesai. Aku memilih bergerombol di lantai dasar dengan beberapa sahabatku.

Saat itu aku melihat sosok seorang gadis yang turun dari ekskalator yang menghampiri kami setelah seorang temanku memanggilnya. Ternyata dia adalah Ratna, teman sekelas Pipit. Yang memanggilnya tadi adalah temanku si Rusdi, pacarnya Ratna. Rupanya mereka janjian di sini. Rupanya hari ini anak kelas 1 yang masuk siang, tidak ada pelajaran karena pengumuman kelulusan kami sehingga mereka dipulangkan lebih cepat.

Sebelum Rusdi dan Anneke pamit, Anne masih sempat bilang padaku.

Kak Raka, tadi Ratna ketemu Pipit lho, dia di lantai dua bersama Anneke katanya.

Iya, Rat.. Makasih ya jawabku.

Segera aku pamit pada teman-temanku yang masih nongkrong di lantai dasar itu dan disambut dengan omelan dan celaan dari mereka. Aku segera naik ke lantai dua dan mencari Pipit. Aku harus ketemu Pipit, dan menyampaikan kabar kelulusanku langsung padanya. Syukur-syukur Pipit mau jalan denganku seperti tadi Rusdi pergi dengan Ratna.

Benar saja, aku melihat Pipit bersama sahabatnya Anneke sedang berada di salah satu counter sepatu. Aku segera menghampiri mereka.

Pit sapaku. Pipit dan Anne menoleh dan tersenyum melihat penampilanku yang penuh coretan dan warna-warni pylox. Untung aku masih memakai jaket parasut ciri khas kelasku.

Cieee Yang baru lulus kata Anne padaku dan menyalamiku mengucapkan selamat.

Hehe Makasih ya Ann jawabku lalu menoleh pada Pipit yang masih senyum-senyum melihatku.

Mau kuliah di mana, Kak? Atau mau langsung nikah kata Anne menggodaku yang langsung diberi sebuah cubitan pedas oleh Pipit.

Wah belum tau nih Terserah Pipit aja mau gimana candaku garing.

Selamat ya, Ka kata Pipit sambil menyalamiku dan mencium tanganku.

Makasih ya, Pit Ini semua berkat Pipit kok Kan Pipit yang selalu kasih semangat Kaka kataku tulus pada kekasihku.

Lalu aku mengikuti mereka melihat-lihat isi mall itu. Sampai suatu ketika saat Anne agak menjauh padaku, Pipit mengatakan sesuatu padaku.

Ka Ada waktu gak? Kalo boleh ada sesuatu yang ingin Pipit sampaikan pada Kaka kata Pipit.

Selalu ada waktu buat Pipit kataku penasaran. Mau ngomongin apa sih?

Hmmm kita ngobrolnya di rumah Anne aja yuk ajak Pipit. Kebeneran Pipit memang mau ke rumah Anne setelah dari sini

Tak lama kemudian, kami bertiga sudah berada di angkot menuju rumah Anne di daerah Rawa Laut.

-oOo-‚Äč

Ka sebelumnya maafkan Pipit kata Pipit serius.

Wajahnya tertunduk, tampak jelas jika yang akan di sampaikannya adalah hal yang sangat penting.

Kenapa harus minta maaf, sayangku tukasku sambil tersenyum. Belum ngomong apa-apa kok udah minta maaf

Ada hal yang harus Pipit sampaikan pada Kaka dan ini sangat penting, Ka katanya sambil menatapku sungguh-sungguh.

Aku memperbaiki posisi dudukku dan menatap Pipit dalam-dalam, tanda aku akan serius mendengarkan apa yang ingin Pipit sampaikan.

Setelah menatapku lama, Pipit menghela nafasnya, berusaha melepaskan beban yang ada dalam hatinya. Demi Tuhan, aku mulai cemas pada apa yang akan disampaikan Pipit.

Sebelumnya Pipit mohon maaf pada Kaka Karena selama ini Pipit sudah berbohong pada Kaka kata Pipit lirih. Matanya menatap tepat ke mataku, dan kini tampak mulai berkaca-kaca.

Perasaanku sungguh gak enak

Sebenarnya selama ini, Pipit sudah ngebohongin Kaka kalau kata-katanya menggantung karena sebutir air mata mengalir di pipinya tanpa bisa dia cegah.

Aku semakin gelisah. Aku lihat Pipit mengambil sapu tangannya dan mengusap air matanya. Lalu dia kembali menatapku. Kini lebih dalam menembus ke jantungku.

Pipit sebenarnya selama ini.

Kali ini kalimatnya terputus karena tangisan Pipit pecah. Pipit berusaha menahan perasaannya, setengah mati berusaha mencegah dirinya menangis. Sebenarnya aku sudah tak tahan ingin menghampirinya dan memeluknya. Tapi ini rumah orang bro, walau saat ini cuma ada kami bertiga. Tapi ini tetap bukan kelas kosong seperti biasa aku bebas menumpahkan perasaanku pada Pipit.

Setelah menguatkan hati, dia melanjutkan ucapannya.

Pipit sebenarnya selama ini sudah berbohong pada Kaka katanya di sela isakannya.

Pipit sebenarnya gak pernah mencintai Kaka

Aku tersenyum. Pipit agak heran melihatku yang malah tersenyum, tapi sebenarnya dalam hatiku ingin berteriak, ada apa ini sebenarnya.

Pipit sungguh-sungguh, Ka katanya karena melihatku tersenyum. Pipit minta maaf karena sebenarnya rasa cinta itu gak pernah ada

Aku terdiam, senyum di wajahku seketika terhapus.

Pipit ingin kita gak pacaran lagi Pipit gak mau lagi meneruskan hubungan kita. Karena sebenarnya rasa cinta itu gak pernah ada

Kamu pasti bohong.

Gak Ka Pipit gak bohong Pipit beneran ingin putus dari Kaka Kita gak bisa lagi melanjutkan hubungan kita ini

Ini semua karena Papa kamu, kan

Gak ada hubungannya dengan Papa

Bohong

Sungguh! Ini murni karena Pipit

Aku bisa merasakan rahangku mengeras, aku bisa merasakan mukaku memanas. Aku yakin wajahku sudah semerah kepiting rebus saat ini. Aku mengenal Pipit dengan baik, seluruh sifat dan tabiatnya aku sangat paham. Aku sadar jika apa yang disampaikannya kini adalah sungguh-sungguh.

Pipit pasti bohong aku tak bisa menutupi nada suaraku yang sangat kecewa.
Karena selama ini Pipit yang paling sering bilang cinta pada Kaka Pipit juga yang selalu bilang agar Kaka setia ama Pipit dan jangan pernah ninggalin Pipit

Pipit menatapku dengan pandangan yang tak bisa aku mengerti. Tapi aku belum puas menyampaikan isi hatiku.

Selama ini Pipit selalu mendorong Kaka supaya belajar yang tekun, Pipit juga yang minta Kaka kuliah agar setelah Kaka bekerja nanti kita bisa menikah dan hidup bahagia bersama anak kita kelak dan awet sampai kakek nenek

Aku menyerang Pipit dengan kalimat yang biasa dipergunakan Pipit.
Tapi Pipit hanya menatapku dengan pandangan yang dalam yang sungguh aku tak mengerti maknanya

Ka kata Pipit perlahan. Cinta itu gak pernah ada

Emosiku seketika meledak.

Pipit mau kita putus??? Boleh! kataku agak membentak. Tapi tolong cari alasan lain, jangan pake alasan karena kamu gak pernah cinta ama Kaka!

Wajah Pipit berubah menjadi dingin. Aku paham biasanya jika sudah begini ekspresinya, biasanya karena lawan bicaranya itu tak juga memahami maksud Pipit yang sebenarnya. Ekspresi ini, adalah ekspresi Pipit dimana dia sudah sampai pada malas bicara lagi, dan tak akan ada yang bisa mengubah keputusan yang dia buat.

Ekspresi ini, mengerikan

Gak ada alasan lain katanya dingin. Pipit sudah bilang kita putus karena sebenarnya Pipit gak pernah cinta pada Kaka

Aku terdiam.

Aku tatap matanya dalam-dalam, berharap ada kalimat tambahan yang membatalkan semua yang sudah dikatakan Pipit.

Tapi Pipit tetap diam.

Tak ada lagi airmata dan tangisnya.

Diam.

Tanpa ekspresi.

Bilang Pit. Kataku memelas.

Pipit cuma bohong kan? Pipit cuma ngebecandain Kaka, kan?

Maafkan Pipit, Ka

Lama aku menatap matanya, menatap eskpresi wajah dari gadis yang selama ini aku cintai sepenuh hati.

Selama ini Pipit selalu memintaku untuk mencintaiku sepenuh hati.
Selama ini Pipit selalu meyakinkan aku bahwa dia pun mencintaiku sepenuh hati.

Kamu sangat jahat desisku sangat kecewa.

Pipit sempat terkesiap dengan perkataanku, dengan nada bicaraku.

Kaka bener-bener gak nyangka kataku masih dengan nada penuh rasa kecewa.

Maaf, salah bukan kecewa.

Aku terluka. Sangat terluka.

Ternyata selama ini kamu hanya mempermainkan perasaan Kaka Kamu selalu meyakinkan Kaka kalo kamu gak akan pernah ninggalin Kaka Kamu selalu meyakinkan Kaka kalo kamu cinta dan sayang ama Kaka Tapi sekarang, lihat

Pipit melengos, membuang muka menatap ke luar jendela.

Aku benar-benar terluka.

Setelah kamu berhasil meyakinkan Kaka dan setelah kamu buat Kaka mencintai kamu setengah mati, sekarang kamu bilang kamu gak pernah mencintai Kaka

Kamu sangat jahat, Pit

Pipit menoleh dan menatapku, seperti ada yang ingin dia katakan tapi tak jadi dikatakannya. Kini aku bisa melihat Pipit kembali menangis.

Kamu telah melukai hati Kaka, Pipitku sayang desisku lagi.

Lihatlah hasil perbuatan kamu. Kamu memang berniat menghancurkan Kaka, kan? Sekarang lihat, Pit! LIHAT.!

Pipit benar-benar menangis, tapi aku sudah tak peduli lagi.

Kamu berhasil, Pit lanjutku.

Kamu berhasil menghancurkan Kaka!. Kamu berhasil melukai hati dan perasaan Kaka!. KAMU PUAS KAN SEKARANG??!

Aku berdiri. Tak ada gunanya lagi aku disini. Aku melangkah meninggalkan Pipit.

Ka Pipit memanggilku.

Tapi hatiku terlalu sakit Hatiku sangat terluka.

Kaka! Pipit menjerit memanggilku dan aku tak mau lagi peduli.

Di teras, aku berpapasan dengan Anne, yang heran menatap ekspresi wajahku.

Ann, aku permisi ya Makasih banyak dan maaf udah merepotkan kataku lemas.

Lho, kok buru-buru sih, Kak Aku baru beli minuman nih Jangan pulang dulu dong, minum dulu kek

Gak usah deh, Ann Makasih Kayaknya aku lebih baik pamit sekarang aja

Anne melongok ke ruang tamu dan dia melihat Pipit sedang menangis.

Ada apa sih, Kak katanya panik.

Gak tau deh, Ann Tanya aja ama Pipit kataku sambil melangkah ke pagar. Aku permisi ya, Ann, Assalamualaikum

Waalaikumsalam Anne yang masih kebingungan masih sempat menjawab salamku.

Aku melangkah keluar pagar rumah Anne, menyeberang jalan kecil dan mulai menyusuri rel karena rumah Anne memang terletak di daerah pinggiran rel kereta api. Sepanjang kakiku melangkah, aku tertunduk untuk menyembunyikan mataku yang basah oleh airmata.

Aku melangkah menjauhi rumah Anne, meninggalkan tempat dimana di sana ada seorang gadis yang selama ini aku aku cintai yang baru saja menghancurkan hatiku. Aku melangkah dengan airmata membasahi wajahku, berharap aku tak berpapasan dengan orang lain. Pipit sudah menghancurkanku, hati dan jiwaku, bahkan juga menghancurkan seluruh mimpi dan harapanku. Meninggalkan Pipit yang kini sedang menangis di sana. Kenapa dia yang menangis sih..??? kan dia yang mutusin aku dan dia yang menghancurkan hatiku???

Aku masih bisa mendengar teriakan Anne memanggilku.

Kak Rakaaa! Kembali dulu!

Tapi aku sudah tak peduli lagi

Biar aku sampaikan saja disini, supaya ada hikmah dan manfaat yang bisa coba untuk kalian renungkan.
Bagiku, semua sudah terjadi dan ini menjadi pelajaran hidupku, dan menjadi sebuah penyesalan terbesar.

Begini ceritanya

Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku bertemu dengan Anne di sebuah tempat. Dari pembicaraan kami, Anne sampai mengatakan aku sangat bodoh dan egois yang meninggalkan Pipit yang menangis di rumahnya, dan terlebih lagi Anne menyesalkan tindakanku karena tidak menghiraukan panggilannya agar aku kembali ke rumahnya.

Demi menghormati sahabatnya, Anne tidak mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi setelah aku meninggalkan rumahnya dahulu. Tapi saat itu, aku malah tidak peduli pada panggilan Pipit dan teriakan Anne yang menyuruhku kembali.

Anne hanya bilang, jika saat itu aku tidak meninggalkan Pipit dan mau kembali saat dia memanggilku, maka persoalannya mungkin saja bisa berubah, tak perlu sampai serumit ini.
Mengapa Anne bilang rumit? Karena saat aku bertemu Anne, aku dalam kondisi kacau karena sedang berusaha menemukan Pipit yang menghilang tak aku ketahui dimana keberadaannya karena aku masih sangat mencintainya dan sangat berharap Pipit bisa aku miliki kembali.

Begitulah

Anne malah menyalahkan aku karena terlalu terbawa emosi saat itu. Dia tidak ceritakan apa yang terjadi karena kata Anne, sekalipun dia ceritakan tetap tak akan ada yang bisa diubah. Semua sudah terjadi dan biarlah seperti itu. Malah jika aku diberitahu apa yang terjadi, Anne takut aku akan menyalahkan diriku sendiri.

Pelajaran hidup yang sangat mahal, aku peroleh setelah pembicaraan aku dengan Anne hari itu.

Seberat apa pun masalah itu, hadapi dan selesaikan dahulu. Jika semua sudah terjadi, tak ada gunanya lagi untuk disesali. Sekalipun masalah itu tidak kita tinggalkan namun tetap tak membuahkan hasil yang kita harapkan, setidaknya kita sudah berjuang dan berusaha.

Menyesali hal yang tidak pernah kita perjuangkan adalah perbuatan seorang pecundang.

Jangan pernah meninggalkan pergi sebuah masalah, betapapun beratnya masalah itu

Bersambung