True Love Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa True Love Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerrita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa True Love Part 5

Maafkan Aku, Membuatmu Menangis, Membuatmu Bersedih

Peristiwa yang terjadi antara aku dan papanya Pipit, sangat membekas dalam hatiku. Aku sangat tersinggung, terlebih lagi aku merasa sangat terluka pada apa yang dikatakannya. Perlakuan fisik yang dilakukannya tak pernah terasa sesakit luka yang aku rasakan dalam hati.

Aku memang sangat tersinggung, tetapi apakah harus aku tumpahkan pada Pipit yang tak tahu apa-apa? Bimbang. Aku merasa sangat bingung. Sampai aku menghindari bertemu Pipit setiap pulang sekolah. Hampir seminggu aku selalu menghindari bertemu Pipit. Ada saja alasan yang aku pakai, walau aku lebih banyak melompati pagar sekolah agar tak perlu melewati gerbang depan.

Namun hari Jumat itu, aku tak bisa lagi menghindar. Pipit sudah menunggu di depan kelasku saat kelas bubar pada pukul 11 siang. Rupanya Pipit sengaja datang lebih cepat dan menungguku, duduk di bangku taman yang ada di dekat kelasku.

Kami berdua menuju kantin, setelah jajan sejenak kami kembali ke kelasku yang saat itu telah kosong dan siangnya tidak dipakai oleh murid yang sekolah siang. Pipit ingin berbicara denganku, dan akhirnya aku terpaksa tidak sholat Jumat.

Aku duduk di salah bangku di bagian belakang, dan melebarkan kaki agar Pipit dapat duduk di pangkuanku. Posisi duduk seperti ini memang menjadi kesukaan Pipit karena aku dapat memeluknya dari belakang sambil ngobrol.

Sepertinya ada yang mencoba menghindar deh, akhir-akhir ini kata Pipit mulai masuk pada permasalahan.

Aku hanya terdiam sambil memeluk Pipit erat. Pipit bersandar pada diriku, sementara tanganku melingkar di perutnya dan pipi kami saling menempel. Sungguh, dalam hatiku sebenarnya aku tak ingin menghindar dari Pipit.

Bagaimana aku mampu, sementara setiap detik aku sangat merindukannya, bahkan saat masih bertemu aku selalu merasakan rindu padanya. Tapi aku sudah seminggu ini menghindar, berusaha tidak bertemu.

Tentu saja ini menjadi pertanyaan besar bagi Pipit, walau seandainya dia tahu yang aku rasakan justru lebih besar lagi. Aku sangat menderita mencoba lari darinya, menahan seluruh rasa rindu hanya karena aku belum bisa menghilangkan ingatanku dari kejamnya perlakuan papanya padaku.

Maafkan Kaka, Pit jawabku akhirnya. Bukan mau menghindar kok. Kaka sedang ada masalah sedikit, jadi harus Kaka selesaikan dulu

Mau cerita?

Gak usah deh Lagian gak penting amat kok. Sudah beres, sudah Kaka telan sendiri masalahnya, hehe

Masalah gak penting kok sampai gak mau ketemu Pipit? kejarnya lagi. berarti Pipit gak penting dong

Bukan gitu sungguh aku merasa terpojok dan bingung mau jawab apa. Bodohnya aku bisa lupa jika Pipit adalah anak yang cerdas.

Makanya cerita geh, ada apa

Pipit bangun dari pangkuanku, dan menarik sebuah kursi dan duduk mengahadap kepadaku. Aku langsung mati kutu dibuatnya. Jelas sudah Pipit memang meminta penjelasan yang sebenarnya atas sikapku yang menghindar darinya, walau harus aku akui cara yang dia pakai untuk menginterogasiku malah seperti orang yang siap menampung curhat. Duh, sungguh baik hati banget kekasihku ini.

Lama aku terdiam, bingung mau bilang apa dan harus mulai dari mana. Apakah aku harus ceritakan apa yang dilakukan papanya padaku? Aku merasa tak tega, Pipit begitu memuja papanya sebagai sosok idola. Atau tidak cerita saja? Tapi apa alasan yang masuk akal untuk menjelaskan kenapa aku menghindar darinya?

Sementara Pipit tetap sabar menunggu penjelasanku, diam sambil menatap lekat padaku yang semakin dalam menundukkan kepala tak berani membalas tatapannya.

Akhirnya

Pit

Iya, Ka

Rasanya Kaka sudah gak bisa lagi meneruskan hubungan kita ini kataku yang rasanya seperti membelah hatiku sendiri dengan pisau. Kaka ingin kita putus saja

Pipit terdiam, menatap tak percaya pada apa yang barusan aku katakan. Aku juga gak yakin pada ucapanku, sayang Tapi papamu itu

Kenapa? Kok tiba-tiba banget Kaka minta itu? Pipit ada berbuat salah ya, Ka?

Gak ada kok, sayang Kamu sama sekali gak punya salah.

Lha terus kenapa Kaka tiba-tiba minta putus?

Aku kembali terdiam. Aku semakin bingung, malah kini semakin sedih karena aku sangat sadar bahwa perkataanku sudah melukai hati Pipit. Melukai hati gadis yang sudah menyerahkan seluruh rasa percayanya padaku untuk mengisi hari-hari dengan mengkhususkan dirinya menjadi kekasihku.

Aku semakin tertunduk, benar-benar gak siap pada pembicaraan dengan topik seperti ini. Aku semakin bingung memilih kata-kata karena aku takut semakin melukai hatinya. Kepalaku mulai berdenyut, sakit sebelah karena rasa frustasi tak mampu memberikan jawaban terbaik yang tidak harus melukai hatinya.

Kaka merasa gak pantas jadi pacar kamu, Pit jawabku pelan.
Kaka merasa sangat gak pantas jadi pacar Pipit Coba lihat, siapa sih Kaka ini? Cuma cowok biasa aja yang gak punya apa-apa untuk bisa membahagiakan Pipit dan membuat Pipit bangga

Pipit seharusnya bisa dapet cowok yang jauh lebih baik dari Kaka kataku semakin pelan. Pipit bisa punya pacar yang jauh lebih kaya dan lebih ganteng dari Kaka

Tiba-tiba Pipit beranjak dari duduknya, kemudian berlutut di hadapanku yang masih duduk di kursi. Kedua tangannya memegang lututku dan menengadah langsung menatapku.

Jangan, Ka. bisiknya lirih. Pipit gak mau putus dari Kaka Pipit gak peduli pada semua alasan yang Kaka bilang barusan, karena Pipit gak pernah mempermasalahkan itu semua.
Yang Pipit tahu, Pipit sayang banget ama Kaka, Pipit cinta banget ama Kaka karena Pipit merasakan Kaka juga sangat mencintai Pipit

Apapun yang terjadi, Pipit mohon jangan tinggalin Pipit ya, Ka

Pipit mengatakan itu sambil menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Bibirnya bergetar mengatakan itu semua. Segera aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat menumpahkan seluruh perasaanku. Ya Tuhan, terkutuklah aku yang sudah membuat gadis sebaik Pipit sampai memohon padaku untuk tidak memutuskan hubungan ini.

Tak bisa aku ceritakan bagaimana perasaanku saat ini. Aku rasanya tiba-tiba merasa meledak, tapi tak tahu meledak karena apa. Detik itu juga aku sudah mengambil keputusan. Aku tak akan pernah meninggalkan Pipit…! Titik..!

Bayangkan, aku sudah minta putus darinya tanpa pernah mampu mengatakan alasan yang tepat untuknya. Tak mampu menjawab pada semua pertanyaannya. Jangankan marah atau berkata kasar karena kelakuanku itu, Pipit justru berlutut di hadapanku memohon untuk tidak diputusin.

Seorang pangeran tampan dan kaya raya saja, pasti akan tersentuh hatinya pada sikap mulia yang ditunjukkan Pipit saat ini. Apalagi aku si Raka Murdiantoro anak ibu kantin dan mekanik vespa yang mukanya pas-pasan dan duit yang selalu kekurangan

Jujur, aku sangat bingung bagaimana harus bersikap, antara bangga karena perlakuan memohon yang ditunjukkan Pipit, atau harus malu karena sebenarnya aku gak pantas mendapatkan perlakuan itu dari gadis semulia Pipit

Tapi semua sudah jelas, keputusan sudah aku ambil dengan seluruh keteguhan hati. Tidak seharusnya gadis seperti Pipit sampai memohon padaku. Aku merasa sangat tidak pantas mendapatkan kehormatan sebesar itu. Persetan dengan perintah Yang Mulia Bapak T. Agus Ilham, aku sama sekali gak peduli lagi. Turkutuklah engau wahai Yang Mulia Bapak T. Agus Ilham, karena perbuatanmu telah membuat putrimu sampai berlutut memohon padaku.
Bangsat!!!

Lihat ini, anakmu mencintaiku. Persetan dengan semua perintahmu, aku tak akan pernah meninggalkan Pipit dan tak akan pernah melukai perasaannya lagi.

Aku menarik tangannya, membuat Pipit berdiri dan segera aku merengkuhnya dalam pelukanku. Aku benamkan wajahku di perutnya, memeluknya sambil tetap duduk. Tak mampu lagi aku menahan perasaanku, aku sesugukan di perutnya

Maafkan Kaka, Pit Maafkan Kaka

Pipit memeluk kepalaku. Membelai rambutku dengan penuh sayang. Berkali-kali Pipit mengecup ubun-ubun kepalaku.

Kaka gak akan ninggalin Pipit, kan? tanyanya sambil memeluk kepalaku erat.

Aku menggeleng keras dalam benaman lembut perutnya Airmataku sampai membasahi baju seragamnya.

Gak Gak akan Kaka gak akan ninggalin Pipit jawabku disela isakan. Maafkan Kaka karena tadi udah minta putus Sebenarnya Kaka juga sangat mencintai Pipit, tapi kadang Kaka merasa minder karena Pipit sebenarnya bisa dapat yang lebih baik dari Kaka

Itu samasekali gak bisa dijadikan alasan, Ka Pipit menerima Kaka jadi pacar Pipit karena rasa cinta Pipit pada Kaka. Pipit tulus, Ka Pipit samasekali gak peduli pada itu semua Yang Pipit tahu Pipit cinta sama Kaka dan Pipit juga yakin kalo Kaka tulus mencintai Pipit Itu udah cukup buat Pipit merasa bahagia dan merasa beruntung

Tuhan Betapa malunya aku mendapatkan jawaban seperti itu dari Pipit. Aku yang seharusnya merasa bahagia dan bersyukur, aku yang seharusnya merasa jadi manusia yang paling beruntung di dunia karena Engkau telah memberikan padaku cinta dari seorang gadis yang hatinya begitu tulus.
Aku menengadahkan kepalaku, menatap mata Pipit dengan mata masih penuh airmata. Ingin aku mengucapkan jutaan terimakasih padanya, pada cintanya, pada kasih sayangnya yang tulus.

Pit

Hmmm..

Kaka janji Mulai detik ini Pipit akan mendapatkan seluruh jiwa dan raga Kaka Kaka akan selalu mencintai Pipit dengan cinta terbaik yang Kaka punya, Kaka akan berusaha membahagiakan Pipit dengan seluruh kemampuan Kaka Kaka gak akan ninggalin Pipit, karena Pipit adalah yang terbaik yang Kaka miliki Kaka akan selalu mencintai Pipit selamanya, seumur hidup Kaka

Ucapanku ini, bukan ucapan main-main.

Ucapanku ini sungguh keluar dari dalam hatiku, sebentuk janji yang lebih menjadi sumpah dalam sanubariku. Yang hingga detik ini saat aku menceritakan kisahku ini, cintaku pada Pipit tak pernah padam, justru semakin besar dari hari ke hari walau pun saat ini sudah bertahun-tahun Pipit meninggalkan aku.

Pipit kembali merengkuh kepalaku, memelukku dengan menenggelamkan kepalaku di tengah belahan dadanya.

Janji ya, Ka bisiknya lirih. Kaka harus buktikan semua ucapakan Kaka itu

Kaka janji, Pit. Hanya itu yang bisa aku ucapkan, mewakili seluruh janji tulus yang aku tanamkan dalam hati, dan aku sangat berharap Pipit bisa percaya padaku.

Lama kami berada dalam posisi ini, menumpahkan seluruh perasaan yang ada di hati kami. Mungkin aku tak menyadari saat itu, pelukan Pipit membuat wajahku terbenam di tengah belahan buah dada Pipit. Sampai sekarang, aku masih bisa mengingat betapa harum bagian tubuh Pipit yang satu itu, betapa lembut dan kenyal yang aku rasakan dari buah dada Pipit. Tapi saat itu, semua tak terpikirkan karena kami sangat hanyut pada rasa bahagia kami.

Aku sudah lupa pada sakit hatiku karena perbuatan papanya Pipit padaku. Aku sama sekali gak perduli pada permintaannya. Di otakku saat ini malah timbul pemikiran bagaimana cara terbaik untuk membahagiakan Pipit.

Pipit kembali duduk di pangkuanku, dan aku langsung memeluknya erat. Rasanya ingin meleburkan diriku menjadi satu dalam raga Pipit. Pipit juga semakin manja, terlihat sekali dia pun berusaha menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi pacar yang paling mesra untukku.

Kami mulai ngobrol banyak, tentang kenapa aku menghilang seminggu ini tanpa pernah aku ceritakan kejadian antara aku dan papanya. Lalu kami mengungkapkan semua harapan dan impian kami, tentang cita-cita pribadi kami. Rasanya apa yang kami bicarakan saat ini menjadi sebuah moment di mana kami menjadi sangat terbuka dan jujur apa adanya.

Pipit memahami kondisiku dan keadaan keluarga. Tapi Pipit yakin dan selalu memberikan semangat kepadaku, dengan otak yang encer aku pasti bisa kuliah. Akan ada aja rezekinya, kata Pipit. Pipit bilang dengan menjadi sarjana akan lebih mudah menjadi sukses dari pada sekedar menjadi lulusan SMA. Aku membenarkan ucapannya, walau akan mengakibatkan aku dan orang tuaku harus berusaha lebih keras lagi.

Tapi Pipit percaya ama Kaka katanya memberi semangat. Kaka pasti bisa untuk kuliah

Aamiiiin. Jawabku sambil turut berdoa dalam hati.

Kalo Pipit, pengen banget bisa kuliah di STAN katanya sumringah menceritakan impiannya. Pipit pengen ngambil jurusan Perpajakan, supaya Pipit bisa kayak Papa

Papanya memang bekerja di Kantor Pajak. Memang gak bisa ditutupi kalo Pipit sangat mengagumi papanya.

Kaka kuliah di STAN juga aja katanya sambil menatapku. Supaya kita bisa kuliah bareng di Jakarta

Aku tersenyum mendengarkan permintaannya. Aku memang sangat ingin kuliah di tempat seperti itu, STAN, STPDN, STAIS atau apa pun yang begitu lulus bisa langsung kerja karena ada ikatan dinas. Tapi saat ini saja dari rumahku di Pahoman ke sekolah di Gotong Royong yang berjarak 5 kilometer aku harus berjalan kaki menghindari ongkos angkot. Aku cukup sadar diri tapi tak mau membuat Pipit kecewa

Aamiiin Insya Allah, Pit Kaka juga pengen banget bisa masuk STAN

Pipit kembali menerawang dan berkhayal dalam pelukanku.
Kan asik tuh kuliah bareng Kaka bisa selalu ada di dekat Pipit Kita kuliah bareng, selesai kuliah kan kita bisa nikah Trus hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak dan awet sampe kakek nenek.

Duh, khayalan yang indah sekali Aku rela menukar nyawaku untuk menebus khayalan Pipit itu Hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak dan awet sampe kakek nenek, menjadi kata-kata penyemangat dalam perjuangan hidupku dan terpatri erat dalam otakku, menjadi tujuan dari semua usaha kerasku. Walau kini mengingat itu semua serasa melihat hantu, tak bisa aku ingkari inilah perkataan terbaik dari seorang Pipit. Bayangkan, Pipit masih kelas 1 SMA saat itu dan sudah berkhayal sampai kesitu Dia sudah siap jika harus sampai menikah denganku!!!

Tak ada lagi keraguan dalam hatiku, aku akan mencintai Pipit sampai mati.

Kami terus berbincang-bincang dalam rasa bahagia, hingga suatu saat Pipit menoleh dan menatap mataku sangat lekat. Mata yang bagaikan matahari itu bersinar sangat indah dan sukses membuatku terpesona. Perlahan, Pipit mendekatkan bibirnya ke bibirku, matanya perlahan mulai terpejam hingga akhirnya bibir kami bertemu

eehhhmmmm desah kami bersamaan, saat bibir kami bertemu dan saling mengecup.

Tak sampai 5 detik, Pipit melepaskan ciuman kami dan membuka matanya. Seutas senyum yang paling menawan yang pernah aku lihat menghiasi wajahnya. Aku begitu tersentuh melihatnya begitu bahagia. Inilah cara berciuman yang biasa kami lakukan, seingatku ini adalah ciuman bibir kami yang ke tujuh kalo gak salah.

Pipit merengkuh kepalaku, dengan gerakan yang sangat luwes namun cepat dan pasti, bibirnya kembali menyentuh bibirku. Sekali ini agak berbeda, bibirnya sedikit terbuka dan segera melumat saat bibir kami bertemu. Tak akan aku kecewakan kekasihku, aku pun membalas lumatannya dengan lumatan lembut yang penuh kasih sayang.

5 detik berlalu tanpa kami sadari, bibir kami masih terus saling melumat dan semakin lama semakin dalam. Ada sedikit gairah, namun aku lebih merasakan curahan penuh cinta yang dikemas dalam bentuk sebuah lumatan bibir yang disajikan Pipit. Aku berusaha mengimbanginya dengan baik dan sukses membuat kami terlena karena kami memang melakukannya karena kami saling mencintai.

Kami terus melakukan french kiss ini selama yang kami mampu, tak peduli nafas kami semakin memburu, pelukan kami malah semakin erat. Pipit bergerak mengubah posisi duduknya dari yang membelakangiku hingga akhirnya Pipit berbalik dan naik ke atas kakiku. Kini aku memangkunya berhadap-hadapan, memberikan pelukan yang semakin erat melingkari pinggangnya membalas rengkuhan eratnya di leherku demi menjaga bibir kami terus bersatu. Ciuman kami semakin dalam dan semakin bergelora.

Sekilas aku bisa melihat, karena posisi duduknya yang berpangkuan menghadap padaku, membuat rok seragam abu-abunya tersikap, memperlihatkan seluruh paha padat mulusnya bagi mataku.

Rok seragam itu tersingkap begitu tinggi karena Pipit harus melangkahi kakiku, sehingga aku rasakan penisku yang sudah sedari tadi mengeras, dapat menempel ketat tepat di depan vagina Pipit yang saat itu masih terbalut celana dalam putihnya. Pipit tampak tak perduli, malah semakin erat merangkulku. Desahan Pipit semakin sering terdengar, semakin jelas walau tetap terdengar lembut.

Terasa Pipit mulai menekan pinggulnya, semakin lama semakin ketat membuat penisku yang masih terbungkus seragam sekolah menekan keras vagina Pipit yang terbalut celana dalam putih. Rasa nikmat pada penisku semakin menjadi karena perbuatannya itu, mungkin ini juga yang dirasakan Pipit, terbukti rasanya semakin nikmat saat Pipit mulai memutar pinggulnya dan bergoyang perlahan.

Oohh Hhhh Hmmmmhhh desah kekasihku yang terdengar indah di telingaku. Goyangan pinggulnya semakin intens walau tetap perlahan dan lembut, tetapi menekan dengan mantap.

Aku dan Pipit mendesah berbarengan.

Secara naluriah, aku mulai menekan-nekan penisku ke atas agar semakin bergesekan dengan vagina Pipit. Pipit pun mulai menggoyangkan pinggulnya, membuat alat kelamin kami semakin intens bergesekan. Sementara ciuman kami semakin bergelora, sungguh tak terbayangkan betapa nikmatnya yang kami rasakan saat ini.

Aku mencoba menggeser ciumanku ke arah pipi, kening, mata, telinganya pun tak luput dari ciuman dan jilatan lidahku. Lalu aku mulai menelusuri leher Pipit yang putih jenjang. Pipit menengadahkan kepalanya, menyerahkan lehernya untuk aku nikmati sambil terus memeluk leherku, memberikan remasan lembut pada rambutku.

Aku yang baru pertama kali memperlakukan wanita sampai sejauh ini, hanya mengikuti naluri berusaha memberikan kenikmatan terbaik kepada Pipit. Aku mengecup dan mencium leher putih itu, memberikan jilatan lembut di dekat telinganya, melumat batang tenggorokan Pipit, naik ke arah dagu dan turun ke arah dada, merambat ke samping menyusuri bahunya sejauh bibirku bisa menerobos seragamnya.

Ooohhh Kaaa desah Pipit lembut, matanya tetap terpejam dan tangannya tetap menjambak lembut rambutku. Oohhh Geli, Ka, geli bangeett

Pinggul kami tetap bergerak, memberikan stimulus penuh gelora pada kelamin kami. Aku mencoba menciumi dadanya yang tidak tertutup baju, sejauh lidahku mampu mencapai. Kadang terasa di lidahku lembut kenyalnya pangkal payudara Pipit. Rupanya Pipit mengerti, atau mungkin juga ingin mendapatkan kenikmatan lebih hingga sebelah tangannya bergerak berusaha membuka sebuah kancing yang teratas. Dengan demikian jangkauan lidahku kini semakin luas, semakin banyak bagian atas dari payudara Pipit yang bisa aku ciumi dan aku jilati.

Pipit semakin sering mendesah, jambakan tangannya di rambutku pun semakin kuat, membuatku semakin semangat mengeksplorasi dadanya. Dorongan rasa ingin tahuku dan sensasi pengalaman pertama membuatku tak henti menciumi dadanya, bahkan kini sebelah tanganku mulai meremas payudaranya.

Ooohhh Ka desah Pipit mengekspresikan perasaan nikmatnya. Pinggulnya semakin keras menekan penisku. Dibuka aja, Kaaa.

Aku meminta Pipit duduk di meja yang ada di depanku, sementara aku menggeser kursiku mendekatinya, menempatkan diriku di tengah pahanya yang sengaja ia lebarkam memberikan tempat padaku. Perlahan aku menarik keluar kemeja seragam Pipit dari himpitan roknya, dan mulai membuka satu per satu kancingnya hingga kemeja itu terbuka seutuhnya.

Tanpa perlu melepaskannya, aku bergerak mengangkat kaos dalam yang dipakai Pipit, dan tampaklah perutnya yang mulus, ramping dan rata. Indah sekali. Aku segera menciumi perutnya, menjilati pusarnya. Pipit sampai melengkungkan badannya, menunduk memeluk erat kepalaku seakan semakin membenamkan ke perutnya. Kakinya bergerak gelisah, sekilas aku mencium aroma semerbak wangi dari arah kewanitaan Pipit yang tepat berada di bawah daguku karena roknya tersingkap demikian tinggi.

Aku begitu semangan menciumi sekujur perut Pipit hingga ke bagian bawah payudaranya yang masih disangga oleh bra berwarna putih. Tampak sedikit bagian bawah payudaranya terlihat, sebagai tanda bahwa sebenarnya bra itu kurang mampu menutupi ukuran payudara Pipit. Aku semakin semangat menciuminya dengan bibirku, menghirup wanginya dengan hidungku, dan menjilatinya dengan lidahku.

Sebelah tangan Pipit melepaskan pelukannya di kepalaku, bergerak ke belakang melepas pengait bra yang ada di punggungnya. Ctaass. Seketika pengait bra itu terlepas, diikuti dengan pergerakan indah dari payudaranya yang terbebas. Segera aku meraihnya dengan kedua tanganku, mengelusnya penuh kelembutan, dan perlahan meremasnya ringan.

Aku menatap Pipit yang ternyata juga sedang memandangiku, menatapku sambil menggigit bibirnya. Sesekali matanya mengerjap kegelian, dan desahannya yang lembut kembali terdengar. Aku menatap matanya mengungkapkan rasa cintaku dan rasa rasa terimakasihku karena sudah diberikan kesempatan yang begitu indah menikmati payudaranya.

Boleh, sayang.? tanyaku, meminta izin untuk menikmati sajian payudara indah di hadapanku.

Pipit hanya mengangguk, tetap menggigit bibirnya sambil menahan perasaan nikmat dan rasa penasaran karena sebentar lagi payudaranya untuk yang pertama kali akan merasakan sentuhan bibir seorang lelaki. Aku mendekatkan wajahku, mengecup perlahan buah dadanya satu per satu.

Kemudian aku mulai mengecup, menciumi kedua buah dada indah itu. Buah dada Pipit sebenarnya tidak terlalu besar, agak lebih sedikit dari tangkupan telapak tanganku. Tapi bentuknya sangat indah, berdiri kencang tegak menantang dan sangat putih sekali, bahkan urat-uratnya berwarna kehijauan samar terlihat, dan lengkap dengan hiasan puting mungil runcing berwarna merah muda.

Setelah puas menciumi kedua buah dada itu, aku mulai melumat putingnya. Seketika sebuah desahan terlepas dari mulut Pipit.

Aaahhhhh

Aku melumat putingnya lembut, membenamkannya sebisanya ke dalam mulutku sambil terus menjilatinya. Berpindah dari buah dada kiri ke kanan, menimbulkan desahan indah dari mulut Pipit hingga membuatnya tertengadah sambil tetap meremas rambutku dan semakin mempererat pelukannya di kepalaku hingga wajahku semakin terbenam di dadanya. Pipit membiarkan aku melumat payudaranya sepuasku, mungkin sekitar 15 menit aku menikmati indahnya payudara Pipit, hingga agak memerah dan basah karena jilatanku.

Aku melepaskan lumatanku dari dadanya, dan menatap wajah kekasihku yang sedang didera rasa geli dan nikmat. Pipit akhirnya menatapku juga, wajahnya merona merah dan nafasnya agak memburu.

Kaka suka banget ya ama dada Pipit? tanyanya mesra.

Iya sayang Baru sekali ini Kaka merasakan ini semua. Pipit adalah yang pertama buat Kaka jawabku penuh kasih sayang.
Pipit juga, Ka Ini yang pertama buat Pipit Pipit percaya ama Kaka, Pipit serahkan untuk Kaka bisiknya lagi. Sayangi Pipit terus ya, Ka Jangan tinggalin Pipit ya

Aku merengkuh kepalanya dan mencium bibirnya.
Terima kasih, sayangku Kaka janji akan selalu mencintai Pipit, setia selamanya pada Pipit

Pipit kembali memelukku dengan mesra. Tubuhnya masih tetap terbuka, mengekspos buah dada indahnya di hadapanku. Kembali aku menciumi payudara Pipit dengan penuh semangat, apalagi terlihat dari bahasa tubuh Pipit dia mengarahkan lagi wajahku ke payudaranya untuk aku nikmati kembali. Sekali ini, aku menciumi seluruh bagian tubuhnya yang terbuka, dari dada hingga perutnya yang rata. Kembali aroma semerbak dari vagina Pipit yang terasangsang menggoda hidungku, membangkitkan rasa penasaranku.

Tanganku mulai mengelus pahanya yang mulus, begerak kesana kemari meresapi rasa lembut dan halus yang terpancar dari kulit pahanya. Perlahan aku mulai menciumi pahanya, mengelilingi hingga bagian dalam pahanya.

Aroma semerbak itu semakin membuatku bernafsu, begitu wangi dan membangkitkan gairahku. Mengecupi dan menjilati lututnya hingga ke betisnya, naik lagi atas mengarah ke bagian dalam hingga ke tengah diantara kedua pahanya.

Pipit mengubah posisi duduknya, tubuhnya mundur dan kedua tangannya menopang tubuhnya yang kini condong ke belakang. Kedua kakinya bergerak memberikan ruang untukku menikmati celah di tengah pahanya. Kakinya kini terangkat dan aku sangga dengan lenganku sekaligus memeluknya, sementara lidah dan bibirku mulai menciumi bagian yang tidak tertutup celana dalamnya. Pinggul Pipit bergetar karena rasa geli yang teramat sangat.

Oooohhh. Ssshhh. Aduh diapain itu Kaaa desahnya.

Aku tak menjawab, aku terlalu sibuk menikmati hidangan yang tersaji di depanku. Aku menciuminya bertubi-tubi, lidahku berusaha menerobos masuk ke celana dalam yang dikenakan Pipit. Pipit semakin menggelinjang, kadang kepalanya sampai mendongak dengan mulut terbuka dan mengerang penuh nikmat.

Ooohhh Hhhmmmm. Aaahhh.

Tangan Pipit bergerak, menyingkap celana dalamnya yang langsung aku sambut dengan gembira. Segera lidahku membelah vaginanya yang mulus tak berbulu, membelai lembut dengan penuh intimidasi pada bagian yang muncul sebesar kacang tanah.

Aaaahhhh Kaka Pipit mendesah tertahan. Kepalanya terlempar ke atas menengadah berupaya menghirup oksigen. Suara kenikmatan yang dibuat Pipit tidak terdengar keras, tetap terdengar lirih namun jelas di telingaku.

Sungguh luar biasa rasa yang kini aku rasakan saat mulai memberikan kenikmatan pada vagina Pipit. Aku sangat menyukai aktifitas ini, dan hingga kini memberikan sex oral selalu menjadi bagian yang aku suka saat bersetubuh. Semua ini pertama kali diperkenalkan oleh Pipit. Begitu banyak pengalaman pertama yang aku lalui bersama Pipit, yang pada akhirnya membuat aku tak pernah bisa melupakannya.

Pinggul Pipit berkali-kali bergetar, kadang terangkat, dan pahanya menjepit erat kepalaku. Desahan lirihnya terus terdengar, membuat aku semakin bersemangat memberikan kenikmatan maksimal padanya.

Saat itu aku sama sekali belum tahu bahwa wanita bisa orgasme hanya dengan sex oral. Aku hanya terus melakukannya karena aku suka melakukannya, karena aku ingin memberikan yang terbaik pada Pipit. Hanya itu. Hingga pada akhirnya aku kaget ketika paha Pipit menjepit kepalaku erat, betisnya melingkari leherku dan menekan wajahku semakin dalam ke vaginanya.

Pinggulnya begetar hebat, memberikan efek mengusap seluruh permukaan wajahku dengan vaginanya. Kepalanya tertengadah, matanya membelalak namun hanya terlihat bagian putihnya, dan mulutnya terbuka menjerit lirih menyuarakan sebuah puncak kenikmatan.

Oooohhh Aduuuh Aduuuh Kaaaaa. Aaaahhhhhh..!!!

Aku merasakan sebentuk cairan melesat keluar dari vaginanya dan langsung dengan lahap aku telan. Rasanya seperti menelan bubur aci yang lembut dan sedikit asin. Aku menyedot cairan yang keluar dari vaginanya itu, dan ternyata sedotanku itu mampu menambah sensasi yang dirasakan Pipit.

Tangannya tak mampu lagi menopang tubuhnya, dan rebah di atas meja kelas dengan kondisi baju terbuka memperlihatkan payudara indahnya. Tanganku bergerak meremas payudaranya sambil tak henti menjilati vagina Pipit. Pipit meraih tanganku, seakan mencari pegangan agar tak jauh terhanyut pada puncak nikmat yang seakan tak bertepi. Badannya terus bergetar dan kadang agak sedikit terlonjak.

Hari itu, di ruang kelasku. Aku pertama kali berkenalan dengan tubuh wanita. Langsung berkenalan dengan dalam hingga memberikannya sebuah hadiah orgasme.
Aku dan Pipit yang setengah telanjang dengan baju seragam yang kini acak-acakan, terbaring penuh nikmat di atas meja yang biasanya dipergunakan untuk belajar. Pelajaran ini pun kami jalani dengan sungguh-sungguh, karena begitu menarik dan sangat menyenangkan.

Aku tak pernah lupa pada peristiwa ini, terlalu dalam membekas dalam hatiku sebagai salah satu kenangan terbaikku dengan Pipit. Terbaik, karena hanya sekali itu dalam hubungan kami, Pipit memberikan kesempatan padaku begitu jauh memberikan tubuhnya. Setelah hari itu, semua serba terjaga.

Kami saling menjaga agar cumbuan kami tak lagi melewati batas. Aku sangat mencintai Pipit, bisa memberikan kasih sayang yang terbaik dan dibalas dengan cinta yang tulus dari Pipit, sudah cukup bagiku untuk selalu merasa bahagia. Tak masalah tak pernah petting lagi, karena setelah hari itu kasih sayang Pipit semakin tercurah padaku.

Setelah orgasme Pipit berlalu, dengan nafas yang masih turun naik Pipit segera menghambur dalam pelukanku.

Ooohhh Kakaaaaa tadi itu Pipit diapain siih katanya penuh rasa malu.

Memangnya kenapa, Pit. Tanyaku. Aku bukan pura-pura gak tahu ya, tapi beneran masih cupu bin nubie banget saat itu.

Gak tauuu. Tapi rasanya luar biasa banget, sayang. Rasanya begitu dahsyat Nikmaaat banget Rasanya kayak terlempar ke surga. Jawab Pipit semakin malu dan tersipu.

Tak bisa di pungkiri, aku dan Pipit sama-sama nubie dalam hal beginian. Kami sama sekali gak tahu pada apa yang sebenarnya terjadi, pada apa yang baru saja Pipit rasakan.

Tapi Pipit suka, gak.? Tanyaku polos.

Pipit semakin tersipu dan membenamkan wajah meronanya karena malu kedalam pelukanku. Suaranya yang mendengus jengah menandakan tak ada masalah, mungkin Pipit menyukai rasanya. Aku cukup merasa lega.

Kami kembali berpelukan erat, memberikan kesempatan bagi Pipit untuk beristirahat karena aku tadi melihat wajahnya berkeringat dan nafasnya masih memburu. Aku membelai punggungnya, rambutnya, sambil mendekapnya erat.

Ka.

Hmmm.

Kaka mau ngerasain juga gak kata-kata Pipit terhenti.

Maksudnya?

Eh.. ehmm itu.. Kaka mau juga gak Pipit agak bingung memilih kata-kata. Nada suaranya terdengar jengah dan sangat malu untuk menyampaikan maksudnya.

Mau apa? tanyaku dungu.

iiiih Kaka maah. Pipit merajuk malu kembali mempererat pelukannya.

Oooo Ya ampuun.. Aku baru paham maksudnya. Hehe.

Gak usah, sayang Gak apa-apa kok kataku lembut penuh kasih sayang. Lagian Pipit kayaknya masih cape banget tuh Gak apa-apa kok, sayang

Aku masih kasihan melihat Pipit yang begitu habis energinya setelah perbuatanku padanya tadi. Aku sungguh tak tega untuk menuntut dia memberikan balasan padaku. Tapi rupanya Pipit punya pikiran lain. Setelah terdiam sejenak, tubuhnya merosot hingga berjongkok di lantai. Tangannya bergerak cepat membuka ikat pinggangku dan berusaha membuka celana seragamku.

Aku berusaha mencegahnya. Sungguh, aku tak mempermasalahkan pada keadaanku yang kini dikenal dengan istilah kentang. Bagiku sudah puas bisa memberikan kenikmatan pada Pipit. Lagi pula, Pipit masih kelihatan cape banget

Sayang beneran kok Kaka gak apa-apa. Pipit cape banget tuh Udah istirahat aja, Kaka gak apa-apa kok beneran kataku berusaha mencegahnya.

yang beneeerrr? tanya Pipit dengan lirikannya yang menggoda.

iya beneran gak usah juga gak apa-apa kok, sayangku

Tapi kalo Pipit mau lihat aja boleh kan, Ka rajuknya. Kaka tadi udah lihat semua punya Pipit

Aku kehabisan kata-kata. Serba salah bener dah. Akhirnya aku menyender di kursi, tersenyum mempersilahkan Pipit melakukan apa saja sesukanya pada diriku. Pipit menatapku dan tersenyum senang. Segera dia melanjutkan membuka celanaku, dan dengan perlahan menggapai benda bulat panjang yang sudah sangat menegang yang tersembunyi di balik celana dalamku.

Penisku menggeliat keluar, menyerah dalam cengkeraman tangan lembut Pipit.

Mata Pipit terbelalak, antara kaget, malu, jengah, dan tak tau lagi apa namanya, karena ini adalah pertama kalinya ada sebuah penis dari lelaki yang sudah akil baliq yang tergenggam di tangannya. Satu lagi sebuah kejadian yang sama-sama menjadi kejadian yang pertama yang kami alami dalam hidup kami. Pipit pertama kali memegang penis cowok, dan aku baru pertama kali merasakan penisku di pegang cewek.

Seperti yang sudah aku bilang, apa kenangan yang tak pernah bisa dilupakan?

Kita banyak melupakan hal-hal penting dalam hidup kita, tapi tidak pada yang pertama. Selalu saja ada tempat khusus yang membuat kita ingat pada apa yang pertama terjadi pada diri kita, dan dengan siapa

Inilah mengapa aku tak pernah bisa melupakan Pipit karena begitu banyak kenangan yang pertama kali aku lalui bersama Pipit, dan semuanya adalah yang terbaik.
Gadis ini Tak akan pernah hilang dari hatiku.

Kembali kepada Pipit yang sedang dengan penuh penasaran menatap penisku yang kini tak berdaya dalam genggamannya. Mimik mukanya menatap dengan khusuk, lucu sekali aku melihatnya. Penisku bukan penis ukuran filem bokep, guys. Standar saja untuk orang di kampungku. Hanya berlebih tiga jari dari genggaman Pipit sebelum helmnya yang membulat. Diameternya pun pas dengan genggaman Pipit, tidak membuat Pipit sampai harus berhimpitan jari. Pas laaahh

Tapi cara menatapnya itu lho Ah bukan kagum mungkin ya Mungkin cuma karena ini penis pertama yang dia pegang

Sambil melirik ke mataku, tiba-tiba Pipit mencium kepala penisku, tepat di lehernya dekat lubang kencingku. Tanpa melepasnya, Pipit terus mencium dan menghisap bagian itu.

Aaaahhhh seketika kepalaku terlempar kebelakang dengan desahan kaget yang penuh nikmat. Rasanya geli sekali, sangat nikmat.

Pipit melepaskan ciumannya. Menatapku geli, gak nyangka efek ciumannya barusan begitu dahsyat bagiku. Aku menegakkan kembali padaku dan menatapnya, namun belum sempat aku mengatakan nikmat yang baru saja aku rasakan, bibir Pipit kembali menyerang. Kali ini bibirnya mencaplok dan melumat seluruh bagian helm penisku dan menjepitkan bibirnya tepat di leher penisku. Lidahnya segera memberikan belaian tepat di lubang kencingku.

Duhai, nikmatnya tak terbayangkan.

Kali ini bukan hanya kepalaku yang terlempar, tapi juga sukmaku seakan tercabut pada kenikmatan dahsyat yang baru pertama aku rasakan.
Lidah Pipit berputar memberikan belaian yang lembut dan terasa basah. Aku semakin terlena dalam kenikmatan yang tak terperi ini.

Pipit mulai menaik turunkan kepalanya, menghisap penisku dengan lembut tapi penuh ketelatenan. Tujuannya memberikan kenikmatan padaku, dapat aku rasakan dengan sempurna

15 menit aku membiarkan Pipit berusaha memberikan kenikmatan padaku, tapi rasanya penisku tak mau juga menyerah. Wajah Pipit kembali berkeringat, pipinya sampai kempot berusaha memuaskan aku.

Aku jadi gak tega melihatnya begitu berusaha.

Sudahlah, sayang,. Gak apa-apa kok gak sampe selesai kataku sambil merengkuhnya kembali dalam pelukanku, agak memaksa karena aku tak tega membiarkannya kecapean.

Pipit tampak tak rela, tapi aku bersikeras bahwa tak masalah aku tak sampai ejakulasi. Bagiku sudah cukup pengorbanannya. Aku sudah merasa sangat bahagia.
Akhirnya kami berpelukan, saling mengucapkan kata cinta dan saling mengucapkan terima kasih. Kembali janji tulus dan setia terucap jujur dari bibir kami.

Aku membantu Pipit membenahi pakaiannya. Setelah semua rapih kembali, kami keluar dari kelas itu menuju ke arah kantin sambil berpegangan tangan. Tepat waktunya dengan orang-orang yang pulang dari sholat Jumat.

-oOo-

Siang itu, Pipit memilih membolos sekolah dan ikut aku pulang ke rumah. Walau baru pertama kali Pipit ke rumahku, segera saja dia mampu akrab dengan Ibu. Bersama adik perempuanku, bersama-sama menyiapkan makan siang untuk kami sekeluarga. Tampak ibu menyukai Pipit, mereka tampak riang bercanda di dapur. Sementara ayahku tidak berkomentar apa-apa, beliau hanya menatapku sambil menggelengkan kepala.

Jam 4 sore, dengan meminjam vespa super tahun 64 kesayangan ayah, aku mengantarkan Pipit pulang. Sepanjang jalan, lengannya melingkar mesra di pinggangku. Lumayan juga jarak yang kami tempuh dari daerah Pahoman ke daerah Way Halim. Sengaja aku melewati daerah Pasar Tugu agar jalan yang kami lalui tidak terlalu ramai.

Sampai akhirnya sebelum masuk ke komplek Pipit di BTN 3, kami berhenti sejenak di PKOR sambil minum es dugan. Kami berbincang dari hati ke hati, mengikhlaskan hati kami yang kini terikat semakin erat dan dalam. Sampai akhirnya aku benar-benar harus mengantarkan Pipit pulang, dan menurunkannya satu blok sebelum blok rumahnya.

Pipit menggenggam jemariku. Matanya menatapku sayu, seakan tak ingin hari ini segera berakhir dengan perpisahan kami di dekat pos ronda komplek perumahan itu.

Kaka sangat mencintai Pipit

Pipit juga, Ka Cintaaa banget ama Kaka

Janji ya, sayang Kamu akan selalu baik-baik saja

Pipit mengangguk, aku hampir saja tak mampu menahan diriku untuk tidak memeluknya.

Eeiitss Jangan aneh-aneh ya kata Pipit lucu. Mau digebukin orang sekomplek? Hehe

Iya deeh Ya udah sana, pulang Lama-lama nanti Kaka peluk beneran nih

Pipit menggapai tanganku dan menciumnya tanda ia akan pamit pulang

Jaga selalu ya, Ka

Pasti Sampai kakek nenek?

Iya bersama anak kita kelak

Pipit pun melangkah pulang. Sebelum berbelok ke arah rumahnya, Pipit menoleh menatap ke arahku dan memberikanku sebuah senyuman yang indah, lalu melambaikan tangannya diam-diam.

Aku berjanji dalam hati, akan mencintai Pipit selamanya.

Cinta pertamaku, kini telah menjadi cinta sejatiku.

Bersambung